Tidak Perlu Khawatir.

Dua minggu setelah Shinichi dan Haibara menjalin hubungan secara rahasia. Satu minggu setelah kembalinya mereka dari Okinawa. Dan sehari sebelum Shinichi Kudo diangkat sebagai kapten kepolisian jepang termuda, sebuah paket misterius datang.

Paket itu tidak bernama dan merupakan amplop coklat besar berukuran A4. Dan yang paling mengejutkan, foto-foto mesra Shinichi bersama Haibara merupakan isinya. Hanya berjeda lima menit setelah paket itu diterima, ia mendapat telpon dari nomer rahasia. Shinichi langsung bisa menebak orang yang menelponnya ini adalah orang yang mengirimkan paket, sekaligus yakin akan mengalami pemerasan dengan foto-foto tersebut sebagai senjata. Maka dari itu ia tidak terkejut sama sekali ketika suara lelaki yang ia yakini disamarkan dengan alat elektronik langsung berkata tanpa lebih dulu menyapa,

"Apa kau terkejut Tuan Detektif? Aku yakin keluargamu dan wartawan akan lebih terkejut lagi."

Mendengar hal itu, Shinichi memejamkan mata. Tidak sampai dua detik matanya kembali dibuka, lalu dengan suara tenang membalas seperti ini,

"Tidak usah berbasa-basi, katakan saja apa yang ingin kau dapatkan dariku."

"Baiklah, kita langsung saja mulai negosiasinya."


Mata Ai Haibara mengerling dari buku yang sedari tadi ia baca untuk menatap ke arah jendela. Suara ketukan beberapa kali terdengar dari sana, bernada tenang dan pelan, lalu tidak lama kemudian terdengar bisikan yang memanggil namanya. Mengenali suara itu adalah milik Shinichi Kudo, wanita bertubuh remaja ini menghembuskan napas manual sembari menutup buku di hadapannya. Ia berdiri perlahan dan berjalan, menyibak gorden jendala lalu membuktikan bahwa memang detektif itu berdiri di sana.

"Kau benar-benar anti mainstream sampai-sampai tidak mau lewat pintu." Gumamnya setelah membuka jendela.

Shinichi Kudo terlihat tidak dalam selera humor yang sama dari raut wajahnya yang datar dan absennya komentar atas sindiran tersebut. Tanpa sebuah kata pria berusia 24 tahun itu memanjat naik ke jendela lalu masuk ke kamar Haibara, berdiri mematung dengan mata menatap matanya dalam-dalam.

"Ada apa?" Tanya Haibara sedikit gugup.

Pancaran cahaya di mata Shinichi Kudo tidak seperti biasanya, kecuali jika mereka dalam keadaan saling mengacuhkan seperti lima tahun belakangan, tapi sekarang mereka tidak. Ada kebimbangan serta emosi membayang di mata biru langit itu. Mengingat semua hal telah berjalan sesuai keinginannya, tidak seharusnya mata Shinichi Kudo diselimuti kegusaran, terlebih besok pagi adalah hari pengangkatannya sebagai seorang kapten polisi.

"Kudo, apa kau ada masalah?"

Hening yang terus berjalan membuat Haibara melempar pertanyaan kedua. Akan tetapi sosok lawan bicaranya masih diam terpaku dalam tukar pandang mereka, sampai akhirnya keheningan itu dipecah oleh pembuatnya sendiri melalui satu tarikan napas manual yang terdengar berat.

"Katakan, Haibara..."

Mata Shinichi mengerling ke sudut ruang untuk sesaat, dan saat kembali menatap Haibara ia melanjutkan,

"Apa kau benar-benar tidak mau orang lain tahu tentang hubungan kita?"

Secara spontan, kelopak mata Haibara memincing tajam. Mau sampai kapan Shinichi membahas hal ini? Ia pikir masalah mereka sudah selesai dan tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan. Membahas masalah ini untuk yang kesekian kali cukup menggoyahkan emosi Haibara. Ia jadi tidak bisa tidak berpikir bahwa Shinichi Kudo sangat egois dalam kasus asmara tanpa mau perduli akibat apa yang akan pasangannya dapatkan.

"Kalau kau tetap memaksa, tidak ada pilihan lain bagiku kecuali pergi jauh darimu."

Nada bicara Haibara berubah drastis, kali ini terdengar jelas ancaman dan keseriusan di sana. Shinichi cukup pintar untuk menyadarinya, sehingga pria muda itu memutuskan memejamkan mata dan menarik napas, semuanya itu ia lakukan seraya mengubur dalam-dalam tawaran yang hendak ia ajukan andai saja Haibara bersedia mempublikasikan hubungan mereka.

"Aku mengerti."

Kepala Shinichi mengangguk samar diikuti langkah kaki pria itu yang menuju arah kedatangannya. Ia memanjat jendela dan keluar dari kamar Haibara. Langkah yang Shinichi ambil berhenti pada gerakan pertama hanya untuk menatap Haibara dalam diam. Matanya memancarkan keragu-raguan dan jelas sekali ada kekecewaan yang tertoreh di sana. Akan tetapi Shinichi berjalan pergi begitu saja, tanpa sebuah penjelasan, meninggalkan lawan bicaranya berdiri dalam kebingungan.

###

Kebingungan yang Shinichi Kudo tinggalkan kemarin malam tidak kunjung terjawab, justru bertambah dengan berita mengejutkan siang ini. Ai Haibara membeku di bangku kelas melihat siaran berita melalui internet di ponselnya. Shinichi yang seharusnya dilantik menjadi kapten polisi, dua jam lalu telah mengadakan jumpa pers untuk memberikan pengumuman mengenai kemunduran dirinya. Tidak hanya itu, detektif jenius tersebut juga memutuskan keluar dari kepolisian. Tidak ada alasan jelas yang disampaikan. Tidak ada tanda-tanda bahwa Shinichi mengambil keputusan itu dengan sengaja maupun tanda adanya perencanaan jauh-jauh hari. Ini semua terlalu tiba-tiba.

Dengan mata terpejam Haibara menutup jendela internet di layar ponselnya, kemudian membuka mata seraya menekan satu angka pada menu panggilan. Selama nada sambung berdengung di telinganya, ia mengingat bagaimana wajah Shinichi saat meninggalkan kamarnya semalam. Dan mengingatnya membuat Haibara tidak dapat menepis kecurigaan bahwa kemunduran Shinichi berkaitan dengan dirinya.

"Moshi-moshi..." nada sambung yang keluar dari speaker ponsel Haibara berganti sapaan khas milik Shinichi seolah tidak terjadi apa-apa pada pemuda tersebut.

"Kau dimana? Bisa kita bertemu?" Haibara membalas seraya menjaga suaranya untuk terdengar tenang.

"Aku di kantor, hari ini sibuk sekali. Tapi kalau ada hal yang penting kau bisa datang ke cafe di depan kantor, akan aku usahakan menemuimu."

Haibara diam untuk berpikir. Tidak akan bagus kalau mereka bertemu di tempat umum. Sebisa mungkin ia ingin menghindari publik saat bersama Shinichi, terlebih lagi di Tokyo dimana ketenaran seorang Kudo setara selebriti. Selain itu firasatnya cukup meyakini bahwa kemunduran Shinichi berkaitan dengan dirinya.

"Jam berapa kau pulang? Bisakah kita bertemu di rumah Profesor saja?"

"Aku sibuk dan akan pulang larut malam. Kalau bukan sesuatu yang gawat, kita bisa bertemu besok."

Jawaban Shinichi yang terlalu tenang dan biasa membuat kecurigaan Haibara bertambah. Namun jika harus menunda sampai besok, rasanya ia juga tidak bisa.

"Aku baru saja melihat berita soal kemunduranmu dari kepolisian." Haibara menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan. "Apakah mungkin... keputusanmu ini ada hubungannya denganku? Kemarin kau tiba-tiba datang dan menanyakan hal itu, aku jadi berpikir bahwa terjadi sesuatu padamu."

Berbagai kemungkinan muncul dalam benak Haibara saat ini, mulai dari kemungkinan yang paling sederhana sampai yang paling buruk. Pasti bukan sebuah kebetulan mengapa semalam Shinichi kembali mengajukan penawaran atas hubungan mereka, sementara keesokan harinya pemuda itu mundur dari kepolisian secara tiba-tiba.

Mungkinkah...

Mata Haibara terpejam rapat akan sebuah kesimpulan yang dicapai oleh pemikirannya. Mungkinkah seseorang telah mengetahui hubungan mereka dan dengan suatu alasan tertentu Shinichi mengundurkan diri dari kepolisian untuk melindunginya?

"K-Kudo?" Haibara terbata memanggil lawan bicaranya yang tidak kunjung memberi balasan. "Kudo? Kau masih di sana?"

"Maaf Haibara, aku tadi bicara dengan inspektur Shiratori. Aku benar-benar sibuk, nanti aku telpon lagi."

"Ku—" Panggilan Haibara terhenti bersamaan dengan nada putus yang berdengung di telinganya.

Shinichi Kudo mematikan panggilan telpon secara sepihak bahkan tanpa mendengar apa yang Haibara katakan. Dengan perlahan ia menjauhkan ponsel dari telinga dan menbawa benda itu ke depan pandangan, menatap gelisah pada layarnya yang redup.

Apa yang terjadi sebenarnya?

"Ai-chan?"

Tubuh Haibara berjengit pelan mendengar panggilan diikuti dengan sebuah tangan yang memegang pundaknya dari belakang. Saat ia menengok, pandangannya menemui mata Ayumi Yoshida yang menatap khawatir.

"Daijobu desu ka?"

"Ne..." balas Haibara dengan suara yang bergetar. "Aku hanya sedikit pusing."

"Mau aku antar ke ruang kesehatan?"

Ayumi melepaskan pundaknya seraya menghambur ke samping. Dalam diam Haibara mempertimbangkan keputusan apa yang harus diambilnya. Ia jelas tidak dapat menunggu besok untuk bertemu dengan Shinichi, ia ingin tahu saat ini juga tentang apa yang terjadi.

"Tidak usah, aku bisa pergi sendiri."

Haibara menggelengkan kepala, lalu memasukan ponsel ke dalam tas, diikuti buku serta peralatan sekolah lain yang ia masukan ke sana. Ia berdiri mensejajarkan posisinya dengan Ayumi yang masih menatap khawatir. Diraihnya tangan kanan gadis SMP itu sambil membentuk senyum manis pada bibirnya.

"Sebagai gantinya, bisakah Yoshida-san bilang pada guru kalau aku sakit dan tidak dapat mengikuti pelajaran?"

###

Cafe di depan kantor polisi tempat Shinichi bekerja terlihat ramai siang ini. Haibara salah memilih waktu untuk pertemuan mereka. Ini adalah jam makan siang, dan bagian terburuknya nyaris semua pelanggan adalah polisi.

Shinichi Kudo yang mendapat kabar tentang kedatangannya melalui email yang Haibara kirim sewaktu perjalanan kemari, sudah duduk di salah satu set meja dalam cafe itu. Bahkan detektif bodoh tersebut sedang melambai-lambaikan tangan padanya saat ini. Seraya berusaha mengabaikan beberapa pasang mata yang menatap padanya, Haibara berjalan mendekat. Kalau mungkin ada lubang rahasia di sana, ia ingin sekali memasukan Shinichi ke dalamnya lalu memukulinya.

"Ada hal penting apa?" Kata Shinichi dengan wajah datar seolah-olah tidak ada hal yang dikhawatirkannya.

Haibara terlebih dulu mengambil duduk di sofa yang berseberangan dengan tempat duduk pemuda itu, sementara matanya melirik dua cangkir kopi yang bersanding dengan kue keju di atas meja. Gelagat Shinichi yang terlalu biasa ini justru membuatnya semakin curiga.

"Apa kau benar-benar mengundurkan diri, atau ini hanya sebuah lelucon?" Tanpa basa-basi Haibara melemparkan pertanyaan dingin itu.

"Aku memang mengundurkan diri, kok. Maka dari itu hari ini aku sibuk menyelesaikan berkas di kantor dan berencana mengosongkan mejaku." Shinichi tidak mengubah gelagat maupun nada bicaranya. "Ngomong-ngomong aku hanya bisa menemanimu selama lima belas menit karena aku harus segera menyelesaikan berkas yang harus diserahkan besok pagi-pagi sekali. Kalau kau mau pesan makanan berat, kau bisa memesannya sekarang. Tadinya aku ingin memesankannya, tapi biasanya kau sedang diet jadi aku hanya memesankanmu kue ini."

"Serius, Kudo!" Haibara hilang kesabaran mendengar hal bodoh yang Shinichi katakan, tanpa sadar ia berdiri sambil menggebrak meja yang membatasi tempat duduk mereka.

Alih-alih serius, lawan bicara Haibara justru menyeringai, membuat emosinya semakin tinggi. Kedua tangan Haibara yang berada di atas meja terkepal, dengan tatapan mata tajam yang mengancam.

"Apa kau sadar kau baru saja membuat kita menjadi pusat perhatian?" Kata Shinichi dengan tenang sebelum meraih cangkir kopi dan meneguk isinya. "Jadi kau tidak keberatan ya kalau orang lain curiga?"

Secara spontan Haibara mengedarkan pandangan ke sekitar. Semua orang benar-benar menatap ke arah mereka. Satu hembusan napas diambilnya untuk menenangkan diri, kemudian ia kembali duduk dalam waktu yang sama dengan gerakan Shinichi yang meletakkan cangkir di meja.

"Kenapa kau mengundurkan diri? Apa alasannya, Kudo? Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?" Haibara bertanya dengan sabar, dengan suara rendah dan nyaris datar.

"Tidak perlu khawatir, Haibara. Apa pun yang aku lakukan sekarang tidak akan merugikanmu. Bahkan walau aku keluar dari kepolisian, aku akan tetap bisa membelikan barang-barang mahal untukmu."

Kali ini emosi Haibara tidak terpancing meski ada pemikiran untuk meraih cangkir di atas meja dan menyiram kepala Shinichi menggunakan isinya. Bukan tidak mungkin perkataan bodoh yang terus-terusan pemuda itu keluarkan adalah hal yang sengaja dilakukan agar dapat mengalihkan pempicaraan.

"Ada hubungannya denganku, iya atau tidak, Kudo?"

Untuk suatu alasan, Shinichi terlalu banyak mengulur waktu sekedar memberi jawaban yang notabene hanya terdiri dari satu kata. Sang detektif muda menggerakkan jari-jari di tangan kanannya, menggunakannya untuk memilin gagang cangkir. Matanya yang secerah langit berkabut sedikit. Haibara berani bertaruh ada masalah besar yang sedang dipendam oleh pemilik mata itu.

"Kudo..."

Pada akhirnya Haibara tidak sampai hati melihat pemuda yang dicintainya itu menunjukkan kegelisahan. Dengan tangan kanannya yang bergerak ragu-ragu, Haibara meraih dan menggenggam erat tangan Shinichi.

"Aku tidak lebih berharga dari pada impianmu. Selain itu, kerugian yang akan terjadi jika kau keluar dari kepolisian tidak sebanding dengan keberadaanku di dekatmu. Maka dari itu..." Perkataan Haibara dihentikan oleh dirinya sendiri selagi tangannya melepaskan tangan Shinichi. "Maka dari itu, jika memang ada hubungannya denganku, biarkan aku yang menanggungnya, apapun itu."

"Kau terdengar sangat romantis barusan." Senyum kembali membentuk bibir Shinichi saat itu juga. "Tapi sayangnya, memang tidak ada hubungannya denganmu, Haibara. Kau saja yang terlalu paranoid."

"Apa kau jujur padaku?" Pertanyaan itu ia ajukan sambil menatap mata Shinichi secara lurus. "Kalau memang tidak ada hubungannya denganku, beri tahu aku apa alasanmu mengundurkan diri. Kenapa begitu tiba-tiba? Apa yang kau rencanakan?"

Dengan sengaja Shinichi melihat jam tangannya sebelum membalas,

"Sudah lima belas menit, aku harus kembali."

"Kudo?" Haibara memanggilnya dengan putus asa.

"Kenapa kau tidak mencoba percaya padaku? Kalau memang ada hubungannya denganmu, aku pasti memberitahumu, kan?" Shinichi Kudo bangkit dari duduknya. "Lagi pula aku selalu bisa menyelesaikan masalah dengan caraku, tidak sepertimu yang hanya bisa menghindar dan berlari."

Pemuda itu berjalan pergi sementara Haibara masih menatap lurus ke arah depan, ke arah sofa kosong yang ia tinggalkan. Bisa dibilang, justru kali ini Shinichi adalah satu-satunya orang yang sedang menghindar dan berlari. Namun hal itu ia lakukan karena tidak ada pilihan. Jika Haibara tahu alasan sebenarnya mengapa Shinichi mengundurkan diri, tidak diragukan lagi ilmuan muda itu akan kembali membuat jarak di antara mereka. Kemungkinan terburuknya, Ai Haibara akan melarikan diri ke tempat yang tidak dapat Shinichi temukan. Ia tidak bisa membiarkannya dan tidak akan pernah membiarkannya.

"Maaf, Haibara..."

Ketika langkah kakinya mencapai seberang jalan di depan gedung kantor polisi, Shinichi menengok sosok pemilik tubuh remaja itu yang masih duduk diam di dalam bingkai kaca jendela cafe. Langkahnya yang kembali bergerak jadi sedikit berat saat memikirkan bagaimana cara menghadapi Haibara setelah ini, karena dia bukanlah wanita yang akan berhenti mencari tahu hanya karena Shinichi menyuruhnya. Namun dering ponsel yang tiba-tiba, mengusik dan memecah pemikiran itu. Ia berhenti berjalan setelah melihat adanya panggilan masuk dari nomer rahasia pada layar ponsel. Dengan satu tangan tersimpan di dalam saku, satu tangannya yang lain membawa ponsel itu ke dekat telinga.

"Luar biasa, kau benar-benar mencintai gadis itu, bukan? Kalau begitu pengunduran dirimu bukanlah harga yang sebanding."

"Apa lagi yang kau inginkan?" Shinichi menjawab panggilan telpon dari seseorang yang memerasnya tanpa merasa terkejut sedikitpun.

"Dia sangat cantik dan juga masih muda. Bagaimana kalau kau menghargainya dengan seratus ribu dolar?"

Mendengar itu, Shinichi langsung menyeringai dan berkata tanpa mengambil jeda,

"Akan aku berikan asal kau memusnahkan semua buktinya."

6.