Semuanya Sudah Terencana.
Kejeniusan Shinichi Kudo dalam memecahkan misteri memang di atas Ai Haibara, namun firasat ilmuan muda itu jauh lebih tajam. Gelagat dan perkataan Shinichi tadi siang adalah hal-hal yang membuktikan bahwa firasatnya benar. Tidak salah lagi, kemunduran Shinichi memang berkaitan dengan dirinya. Masalah terbesarnya Haibara tidak tahu alasan apa atau siapa yang memaksa Shinichi mengundurkan diri, dan karena itu juga ia tidak dapat memutuskan cara apa yang harus diambilnya untuk membantu.
Shinichi Kudo adalah orang yang keras kepala, akan sangat sulit bagi Haibara untuk memaksanya mengatakan dengan jujur tentang apa yang terjadi. Satu-satunya cara untuk mencari tahu adalah dengan mengawasi setiap gerak-gerik lelaki itu yang berarti mereka harus lebih sering bertemu. Bahkan jika memang perlu, ia rela hubungannya dengan Shinichi terbongkar asal lelaki itu dapat kembali menggenggam impiannya. Lagi pula, sejak awal hubungannya dengan Shinichi memanglah sebuah dosa. Sangsi sosial yang akan Haibara dapatkan setelahnya adalah karma yang harus ia terima. Dan ketika suatu hari karma itu datang, tidak ada jalan lain baginya kecuali meninggalkan negera ini.
Pada akhirnya, mimpi semu yang pernah Ai Haibara sentuh dengan ujung jarinya tetap menjadi sebuah mimpi. Takdir yang sudah Tuhan tentukan untuknya tidak dapat dihindari.
Dengan senyum pahit Haibara mengalihkan mata dari pemandangan rumah Shinichi yang terang, menghentikan pemikiran tentang pemiliknya seperti ia menghentikan dirinya sendiri dari mimpi yang sempat membuatnya terlena. Kemudian ia menutup gorden jendela, berjalan pergi menuju tempat dimana seharusnya ia berada setiap malam menjelang. Bukan kamar maupun ruang keluarga, tempat yang paling sesuai untuknya adalah laboratorium bawah tanah yang dingin dan sepi, yang lebih akrab dengan takdirnya.
Sebuah mobil abu-abu yang Haibara yakin betul milik Shinichi, berhenti di depannya setelah membunyikan klakson yang menarik perhatian semua siswi di sana. Dengan mata memincing gadis berambut coklat kemerahan itu menatap jendela mobil yang perlahan-lahan terbuka, membuktikan siapa pengemudinya. Tentu saja, tidak ada yang lain selain Shinichi Kudo sendiri.
"Tuan Kudo!"
Teriakan girang teman-teman Haibara yang berjalan pulang bersamanya mendengung di telinga. Tiba-tiba saja trotoar di depan sekolah menjadi ajang jumpa fans dadakan, dan Shinichi beserta senyum sumringahnya malah menanggapi siswi-siswi tersebut.
"Selamat siang, bolehkah aku menculik salah satu teman kalian?"
Perkataan bodoh itu disambut teriakan yang saling berebut. Haibara adalah satu-satunya sosok yang tidak membuat suara di antara mereka. Ia menghela napas dan berjalan mendekat, lalu menarik pegangan pintu mobil. Suasana jadi hening seketika ketika Haibara masuk dan duduk di dalamnya.
"Eh? Haibara-san!"
Siswi-siswi SMP itu terkejut dengan kompak, sementara Shinichi tertawa kecil sambil melambaikan tangan dan memberi salam.
"Sampai jumpa, semuanya!"
Mobil abu-abu itu melaju cepat dijalanan dengan kejam, dengan tidak mengidahkan kekecewaan para penggemar yang ditinggalkan.
Haibara yang duduk menyandar sambil melipat kedua tangan di depan dada melirik senyum Shinichi. Ini untuk yang pertama kali lelaki muda itu menjemputnya sepulang sekolah. Terlepas dari kenyataan bahwa Shinichi sudah tidak bekerja di kepolisian dan membuatnya memiliki banyak waktu luang, kejadian ini tidak mungkin tidak memancing kecurigaan. Bahkan Haibara juga sudah melarang agar pria itu tidak datang.
"Tidak bisa kah kau datang tanpa membuat kehebohan?" Gumam Haibara untuk yang pertama kali tanpa melihat sosok di depan kemudi.
"Kau cemburu ya?" Dengan bercanda Shinichi membalasnya.
Akan tetapi senyum di bibir pria itu justru menghilang setelah berhenti bicara, sementara Haibara lebih memilih tidak menanggapi, membuat suasana di dalam mobil kembali hening suara kecuali deru mesin mobil itu sendiri. Di dalam angan-angan Haibara sedang sibuk memperdebatkan apakah ia benar-benar siap dengan konsekuensi yang bakal diterimanya jika hubungan mereka terbongkar. Karena setelah hari ini, besar kemungkinan orang-orang akan mulai mencurigai interaksi keduanya.
Sebenarnya Haibara sendiri kesulitan mengajukan penawaran dengan Shinichi mengenai pertemuan mereka. Rumah Profesor Agasa yang tepat berada di sebelah rumah Shinichi tidak mungkin menjadi tempat pertemuan, karena Ran dan Profesor Agasa sendiri ada di rumah masing-masing saat ini. Sementara, Shinichi bersikeras tidak akan pergi jika Haibara menolak tempat yang sudah pria itu pilihkan. Masalah lain yang membuatnya benar-benar terpojok tanpa memiliki pilihan adalah batas waktu pencabutan surat pengunduran diri Shinichi. Jika dalam 24 jam pria itu tidak mencabut surat pengunduran dirinya, maka pengadilan akan memrosesnya.
Memikirkan itu semua, kepala Haibara terasa penat seketika. Matanya memejam diikuti jari-jari dari tangan kanannya menekan kedua sisi pelipis secara bersamaan. Adalah laju mobil yang memelan yang pada akhirnya membuat Haibara membuka mata. Perjalanan mereka selama sepuluh menit ternyata telah berlalu tanpa disadarinya.
Mobil Shinichi berhenti di area parkir bawah tanah dari sebuah gedung. Pria muda itupun telah keluar dan saat ini sedang berdiri di samping pintu mobil sambil menatap ke arahnya. Namun menyadarinya, dengan sengaja Haibara justru kembali menyandarkan kepala.
"Apa kau menungguku membukakan pintu untukmu?"
Mendengar pertanyaan itu, Haibara menarik napas dalam dari dalam paru-parunya. Dengan gerakan pelan ia menengok Shinichi, memberikan selayang pandang padanya sebelum menatap ke depan.
"Pergi saja dulu, beri tahu aku nomer kamarnya melalui telpon."
"Kalau bergitu aku taruh kuncinya di sini, jangan lupa menguncinya saat pergi." Shinichi meletakkan kunci mobil di kursi kemudi, kemudian berjalan tanpa sebuah balasan.
Haibara menunggu sampai satu menit setelah pria itu memasuki lift untuk bergerak dari posisinya. Tangannya merogoh penyadap mini di dalam tas sekolah selagi matanya mengawasi keadaan. Ia menempelkan benda itu di bawah dashboard kemudi pada bagian yang tersembunyi, dan kemudian memeriksa beberapa barang yang tersimpan di dalam laci. Sayangnya selain uang kecil, hanya struk-struk yang menjadi isi dari laci itu. Sepertinya memang mustahil bagi seorang Shinichi Kudo meninggalkan petunjuk untuk sebuah rahasia yang disembunyikannya.
Haibara sedang mengumpulkan semua struk ketika tepat saat itu ponselnya mengusik dengan dering panjang yang menandakan adanya sebuah panggilan masuk. Seraya menyimpan struk-struk tadi di dalam tas, ia merogoh ponselnya lalu melihat nama pemanggil yang tertera di layar.
"Ya, Kudo?" Sapanya untuk menjawab panggilan itu dengan suara yang dibuat sedatar mungkin.
"Aku sudah di kamar, nomer 27-A lantai sepuluh."
"Wakata." Haibara membalas singkat.
Sembari memutuskan panggilan, tangannya yang lain meraih kunci di atas kursi. Ia keluar tanpa lupa mengunci pintu dan menyalakan alarm mobil itu. Perlahan-lahan kaki Haibara berjalan menuju lift di ujung ruang sampai akhirnya berhenti sesaat untuk menunggu pintu lift itu terbuka, lalu melangkah masuk sehingga sosoknya diantarkan ke lantai lain dimana Shinichi menunggu.
Alasan sebenarnya Haibara menunggu di mobil bukan hanya untuk mencari kesempatan menaruh penyadap. Sejak awal ia juga tidak ingin berada di dekatnya ketika Shinichi memesan salah satu kamar di hotel ini. Pengunduran diri yang pria itu lakukan cukup menghebohkan Jepang, dan karena hal itu saat ini sosoknya mudah menyita perhatian. Meski Haibara rela mempertaruhkan hubungan mereka demi membatu Shinichi, bukan berarti mereka bisa bersama secara terang-terangan.
Kemudian Haibara sampai di lantai sepuluh dan pintu lift kembali terbuka. Sambil berjalan ia mengirim email pada Shinichi untuk menyuruhnya membuka pintu. Hanya berjeda dua menit dari email itu, kaki Haibara berhenti tepat di depan kamar hotel berlabel angka 27, lalu dalam waktu yang nyaris bersamaan seseorang membuka pintunya dari dalam.
Shinichi Kudo yang tak lain adalah seseorang itu, menyambutnya dengan senyum penuh percaya diri, seolah-olah menertawakannya yang terlalu bersikap waspada. Tanpa menanggapi, Haibara masuk ke kamar itu dan langsung meletakkan tasnya di sofa, bersebelahan dengan sebuah jas yang sudah lebih dulu tergeletak di sana. Sementara Shinichi memasang tanda di pintu sebelum menutupnya. Kemudian pria muda itu menghempaskan diri di sofa seraya mengendurkan dasi.
Melihatnya dalam posisi ini, Haibara baru menyadari bahwa ada lingkaran hitam di bawah mata Shinichi. Wajahnya yang lelah bahkan tidak dapat ditutupi dengan senyum palsu. Sepertinya kesibukan yang dibilangnya kemarin bukan sekedar alasan.
"Biar kubantu." Kata Haibara sambil mendekat, kemudian membungkuk di depan Shinichi untuk membantu melepaskan dasinya.
Namun pekerjaan sepele itu tidak menjadi lebih cepat ketika pria yang sama melingkari tubuhnya dengan kedua lengan, menariknya mendekat dengan cepat sehingga tubuh mereka menyatu. Bibir Shinichi yang menempel di leher Haibara menanamkan cumbuan bertubi-tubi saat itu. Dari pada menolak, kali ini Haibara justru merendahkan tubuhnya untuk membuat bibir mereka bertemu, bertemu dalam sebuah ciuman yang panjang dan penuh perasaan.
"Kudo..."
Dengan tubuh yang masih berada di pelukan Shinichi, Haibara memanggil nama itu setelah melepaskan diri dari ciuman yang menyatukan mereka. Ia menatap lurus pada mata biru di depannya, dan berkata,
"Aku minta... batalkan pengunduran dirimu..."
Alih-alih, Shinichi justru membebaskan tubuh Haibara dari kedua lengannya. Ia menghela napas sambil membuang muka, sementara kedua tangannya beralih melepaskan dasi yang semula Haibara jadikan alasan untuk mendekatinya.
"Surat pengunduran dirimu yang resmi baru ditanda tangani hari ini, kan? Masih ada waktu sampai besok pagi sebelum surat itu dikirim ke pengadilan."
"Aku tidak akan membatalkannya. Sudah cukup, jangan dibahas lagi." Shinichi membalas dengan cepat, dengan tidak mengizinkan jeda mengambil tempat di antara suara mereka.
"Tidak bisa!" Haibara berdiri tegak saat itu juga, dengan kepala tertunduk yang membuat sorot matanya tersembunyi. "Seberapa banyak pun kau menyangkal, aku sudah tahu bahwa keputusanmu ini ada hubungannya denganku. Maka dari itu, tidak akan aku biarkan kau mengambil keputusan seorang diri."
Tekad gadis itu tergambar jelas di kedua tangannya yang mengepal erat, Shinichi dapat melihatnya. Mereka sama-sama keras kepala sehingga tidak mungkin ada yang akan mengalah. Dalam situasi seperti ini tidak ada cara lain baginya selain melangkah mundur untuk sementara.
"Ya, memang ada hubungannya denganmu." Ia mengakui sambil menyandarkan kepala ke sofa, kemudian melanjutkan setelah menutup mata. "Dengan memiliki jabatan yang tinggi, situasi yang akan kita hadapi nantinya juga semakin sulit. Jika kita menikah dengan perbedaan usia sejauh ini, akan ada banyak komentar buruk. Aku hanya tidak ingin semua itu kau jadikan alasan untuk menjauhiku."
Perkataan itu berhasil membuat Haibara mengangkat kepala seketika. Shinichi mengintip dari sela kelopak matanya yang terbuka sedikit untuk melihat sorot mata gadis itu yang diselimuti kekalutan. Kini tidak hanya Haibara yang menggenggam erat kepalan tangan, ia pun melakukannya. Suasana hati mereka sama-sama dalam keadaan paling buruk. Jika Shinichi ragu-ragu, ia akan kalah dari ilmuan muda itu.
"Kalau begitu, tidak kah lebih baik aku menjauh sekarang saja?"
Shinichi sudah memperkirakan balasan semacam itu yang akan didengarnya, sehingga dengan tersenyum percaya diri ia mempertemukan pandangan mereka.
"Tentu saja, karena dengan tidak lagi bekerja di kepolisian aku bisa mengejarmu kemana pun. Jangan meremahkan kemampuanku."
"Kudo, kau..."
"Ini bukan hanya untukmu, Haibara." Ia menyela gumaman gadis itu dengan cepat. "Ketika aku bercerai nanti, aku akan membawa Ichigo bersamaku. Dan dengan menjadi seseorang yang tidak dikenal siapapun, Ichigo juga tidak akan pernah tahu apa yang terjadi. Aku sudah merencakan semuanya untuk rumah tangga kita. Tidak ada yang bisa menghalanginya, bahkan kau sekalipun."
Haibara mengambil langkah mundur seolah-olah mengaku kalah. Shinichi yang menyadari hal itu dengan cepat berdiri untuk meraih tangan Haibara, kemudian menariknya ke dalam pelukan.
"Tidak perlu khawatir, Haibara. Semuanya pasti akan baik-baik saja." Bibir Shinichi membentuk seringaian di balik mata lawan bicaranya. "Kau percaya padaku, kan?"
###
Suara desahan Haibara dan Shinichi saling bersautan disela hembusan napas berat mereka. Dengan tidak bertenaga tubuh telanjang pria itu jatuh di atasnya. Haibara merasa panas dan sesak. Tangannya mencakar punggung Shinichi untuk memberikan protes atas cumbuan nakal pria itu yang mulai menyerang lehernya.
"Aku tidak bisa bernapas." Ia kesulitan menyelesaikan satu kalimat pendek itu.
"Kalau begitu akan aku berikan napas buatan." Balasan tersebut diikuti tindakan pemiliknya yang membungkam mulut Haibara dengan sebuah ciuaman, yang justru membuat napasnya semakin sesak.
Shinichi tertawa setelah menghentikan ciuman itu dan menyadari bahwa Haibara benar-benar kesulitan bernapas. Ia kemudian melemparkan diri ke sisi ranjang sambil menarik udara dalam-dalam. Sebenarnya Shinichi sendiri hampir mati karena merasa napasnya sesak sejak tadi. Mereka melakukan hubungan badan dalam waktu yang cukup panjang setelah makan malam.
"Kalau kau tidak mau memakai pengaman, setidaknya jangan mengeluarkannya di dalam. Bisa repot kalau aku hamil di usia segini."
Suara Haibara membuat Shinichi kembali memberikan perhatian. Dilihatnya gadis itu yang kini sedang berusaha turun dari ranjang dengan sisa-sisa tenaganya. Mau seberapa sering pun, Shinichi masih bisa dibuatnya terpesona dengan tubuh telanjang Haibara. Padahal secara fisik ilmuan itu masih SMP, tapi lekuk pinggangnya sudah terbentuk. Payudaranya yang kecil justru sesuai dengan tinggi tubuhnya saat ini. Dan kulitnya yang putih menambahnya jadi sempurna.
"Itu tidak mungkin kan, karena kau sudah minum pil?" Ia akhirnya membalas setelah Haibara menutupi pemandangan indah itu dengan kemeja sekolah.
"Dari mana kua tahu?" Tanya gadis itu dari balik matanya yang memincing tajam.
"Saat aku masuk ke kamarmu lewat jendela kemarin, aku melihatnya di atas meja." Shinichi merubah posisi menjadi terlentang, kemudian mebambahkan setelah menguap, "Sebaiknya kau tidak menaruh obat itu sembarang. Profesor akan curiga kalau menemukan obat kotrasepsi di kamarmu."
"Lebih baik kau menasehati dirimu sendiri untuk tidak mengeluarkan spermamu sembarangan."
"Hei, perkataanmu itu terlalu fulgar!"
Haibara sudah pergi ke kamar mandi saat Shinichi memprotesnya. Ia menguap dan diam beberapa saat sebelum akhirnya ikut turun dari ranjang, memakai baju kemudian kembali berbaring.
Saat Haibara keluar dari kamar mandi, pria itu terlihat sudah tidur pulas. Karena merasa lelah, ia memutuskan untuk tidur juga. Tidak sampai lima menit kamar hotel yang mereka tempati menjadi benar-benar hening tanpa suara. Namun tepat saat itu Shinichi justru membuka mata.
Shinichi Kudo terlebih dulu memastikan bahwa Haibara sudah tidur nyenyak sebelum turun dari ranjang. Dengan langkah pelan ia berjalan ke sofa untuk memakai sepatunya. Setelah meraih kunci di atas meja, pria itu meninggalkan kamar hotel menuju tempat parkir untuk mengambil sebuah tas besar dari dalam bagasi mobil.
Sorot mata Shinichi yang selalu cemerlang itu hilang, berganti kelam dan dipenuhi keseriusan. Ia berjalan keluar dari lift sambil membawa tas di tangan kanannya. Kakinya berjalan tegap memijak anak-anak tangga yang mengarah ke atap bangunan. Sesampainya di sana, kepalanya langsung menengok pada cerobong asap di bagian sudut tempat itu. Mendapati sebuah amplop coklat tergeletak di atas pinggiran cerobong asap, Shinichi bergegas mendekat dan mengambilnya. Dikeluarkannya isi amplop itu yang merupakan beberapa lembar foto cetak dan sebuah memory card, lalu kembali memasukkannya untuk kemudian ia simpan dibalik jas.
Saat itu, bibir Shinichi yang dingin menyeringai. Ia melemparkan tas bawaannya ke dalam cerobong asap sebelum pergi meninggalkan atap.
Isi tas yang dibawanya itu adalah uang berjumlah seratus juta yen, sesuai dengan permintaan seseorang yang memerasnya. Bagi seorang Shinichi Kudo itu jumlah yang kecil jika dibandingkan dengan harga Ai Haibara di dalam hidupnya. Tapi sekecil apapun, kejahatan tetaplah kejahatan yang tidak mungkin akan ia biarkan meraja lela. Ini hanya bagian dari rencananya. Benar-benar seperti sudah ditakdirkan, jalan untuk menyelesaikan masalahnya dengan Haibara tiba-tiba terbuka begitu saja. Setelah ia berhasil mengurus Haibara beserta tingkah kekanak-kanakan wanita itu, ia baru akan meringkus pelaku pemerasannya.
7.
