Satu-satunya Jalan.

Di balik pintu salah satu kamar di Haido City Hotel, senja di langit yang cocok dengan remaja-remaja dimabuk cinta tersisih oleh perdebatan yang kembali dialami mereka, mereka tidak lagi remaja. Kakinya bergerak dan melangkah mundur di sela-sela tekad yang membara, yang memojokkannya. Kemudian di atas sofa, pria yang memiliki warna mata mirip, mirip dengan kedua mata biru samudra yang menatapnya, berhenti bicara mengenai rumah tangga, perceraian, dan anak, dengan membuka kedua lengan sambil berdiri, dengan pelukan yang hangat, menghentikannya.

"Tidak perlu khawatir, Haibara. Semuanya pasti akan baik-baik saja. Kau percaya padaku, kan?" Ucap pria itu, membuat ingatan Haibara berputar ke masa lalu.

Shinichi Kudo bukanlah orang yang dapat dipercaya sepenuhnya. Tidak terhitung seberapa banyak detektif muda itu membohongi Ai Haibara, baik sekedar untuk menghindari perdebatan, maupun untuk mencegah Haibara menghadapi bahaya. Mereka sudah saling mengenal selama tujuh tahun sehingga dapat dengan mudah menyadari saat salah satunya menyembunyikan rahasia. Ketika hari itu Shinichi menyangkal bahwa pengunduran dirinya berkaitan dengan Haibara, ia sudah tahu itu adalah sebuah kebohongan. Dan ketika hari ini Shinichi mengakuinya, ia juga tahu bahwa alasan yang pria itu katakan bukanlah hal yang sebenarnya. Tapi justru karena itulah Haibara tidak dapat lagi mempertanyakan tentang apa yang membuat Shinichi mengundurkan diri.

Kebohongan yang ditutupi dengan kebohongan lain membuat ilmuan muda ini menyadari bahwa Shinichi Kudo sedang menghadapi situasi yang sulit. Jika pria itu tahu bahwa Haibara masih curiga, dia akan berusaha semakin keras untuk menyembunyikannya. Yang masih menjadi misteri justru alasan bodoh seperti rencana mengenai rumah tangga mereka yang Shinichi katakan, karena seharusnya pria itu tahu dengan mengatakannya Haibara akan memikirkan cara untuk memutuskan hubungan mereka.

Bertahun-tahun lalu sebelum mereka dipisahkan dengan janji saling melupakan demi menjaga perasaan semua orang, kepiawaian detektif muda itu dalam memecahkan kasus serta bagaimana cerdik caranya menyusun rencana membuat Haibara selalu kagum. Masih bisa Haibara ingat dengan jelas pada tahun-tahun itu ada salah satu hari dimana ia mengira bahwa seorang Kudo akhirnya menemui kegagalan dalam memprediksi sesuatu, kemudian pemikiran itu dipatahkan oleh Shinichi sendiri yang ternyata masih memiliki rencana dibalik rencana pertamanya. Namun disaat seperti ini, Haibara merasa kejeniusan pria itu sangat merepotkan. Bukti bahwa Shinichi Kudo selalu memperhitungkan segala hal bahkan jika rencananya gagal, membuat Haibara takut masih akan ada rahasia lain setelah ia berhasil mengungkap alasan apa yang membuat Shinichi mengundurkan diri.

Ai Haibara tidak boleh gegabah kali ini. Meski terdengar berlebihan, akan tetapi tidak ada salahnya jika ia mulai memperhitungkan kemungkinan sekecil apapun mengenai apa yang Shinichi rencanakan. Hal pertama yang harus Haibara lakukan adalah berpura-pura mempercayai perihal rencana rumah tangga mereka yang Shinichi katakan sebagai alasan, kemudian setelah tahu apa yang membuatnya mengundurkan diri, ia akan memancing Shinichi untuk mengakui rahasia dibalik alasan bodoh itu.

"Untuk kali ini saja, aku akan mempercayaimu."


Kali pertama Ai Haibara membuka mata dari tidurnya yang panjang tanpa mimpi, ia meraba meja di dekat ranjang mencari keberadaan ponsel. Tidurnya tidak nyenyak sama sekali karena gelisah sampai-sampai langsung teringat ia berada di hotel dari sepulang sekolah tanpa mengabari Profesor Agasa. Rasa kantuk Haibara belum hilang saat melihat tidak ada pemberitahuan panggilan tak terjawab sama sekali di layar ponselnya, yang terasa janggal setelah mengetahui ini jam satu dini hari. Tapi setelah ia melihat daftar riwayat telpon, ia justru menemukan nama profesor berada di barisan teratas panggilan masuk, yang sekaligus berada di daftar kedua sebagai panggilan tak terjawab sebanyak tujuh kali, dengan keterangan waktu empat jam lalu.

Kecurigaan Haibara langsung mengarah pada Shinichi Kudo yang tidur pulas di sebelahnya. Ia mengembalikan ponsel ke meja untuk kemudian mengguncang tubuh pria muda itu.

"Kudo-kun!" Ia menghardik cukup keras setelah beberapa kali mendorong tubuhnya.

"Nani?" Dengan mata masih terpejam sosok lain di ranjang itu bergumam.

"Kau menjawab telpon dari Profesor kan? Kenapa kau tidak membangunkanku?"

Suara Haibara dibuat pelan mengingat ini sudah cukup malam untuk membuat keributan, namun nadanya dipenuhi amarah dan ketegasan. Ketimbang menjawabnya, Shinichi yang menjadi lawan bicara justru berbalik memunggunginya. Dengan cepat Haibara menarik pundak pria itu untuk mencegahnya kembali tidur.

"Tunggu, kita harus pulang sekarang juga!"

Kebisingan yang wanita itu buat akhirnya membuat Shinichi membuka mata. Dari posisinya yang sekarang terlentang, ia menguap sebelum membalasnya dengan malas-malasan.

"Aku sudah bilang pada Profesor kalau kau bersamaku."

"Apa yang kau pikirkan, dasar idiot!"

"Bodoh!" Shinichi memaki balik Haibara yang memakinya lebih dulu. "Tentu saja sebelumnya aku sudah membuat alasan. Aku bilang kita tidak sengaja bertemu di jalan dan memberimu tumpangan, tapi karena ada sebuah kasus jadi kita akan pulang terlambat."

Untuk beberapa alasan, Haibara merasa ada yang Shinichi sembunyikan. Ini aneh karena ia tidak terbangun oleh dering ponselnya yang menerima panggilan sebanyak delapan kali. Terlebih jika Shinichi menjawab panggilan terakhir dan bicara di sampingnya. Meski selalu kurang tidur, Haibara mudah terbangun jika mendengar suara-suara. Bahkan suara serangga sekali pun. Sayangnya untuk saat ini ia tidak memiliki waktu untuk berdebat.

"Tetap saja kita harus pulang sekarang." Ia berkata dengan lebih tenang sambil turun dari ranjang.

"Pulang besok pagi juga tidak masalah kan?"

Sanggahan Shinichi terdengar saat Haibara mengenakan sepatu. Ia duduk di sofa di dalam ruangan yang sama dengan menahan diri untuk tidak memakinya sekali lagi, sementara pria muda itu masih berbaring tenang di atas ranjang.

"Profesor akan mengerti kalau kita bilang kasusnya baru selesai malam hari, dan karena sudah terlalu malam kita menginap di suatu tempat."

Haibara berdiri tanpa ragu-ragu seraya membawa tas sekolahnya. Dengan menatap Shinichi dari ekor mata, ia kemudian membalas tegas.

"Kalau kau tidak mau mengantarku, aku akan pulang menggunakan taksi."

"Oi, Haibara! Tunggu!"

Kali ini Shinichi yang menciptakan kegaduhan di kamar itu. Melihat Haibara berjalan ke pintu, ia buru-buru menyahut ponsel dan kunci mobil di atas meja, lalu turun dari ranjang dan menggunakan sepatu. Dengan setengah berlari Shinichi mengejar Haibara yang sudah berada di luar. Diraih dan ditariknya tangan wanita berwajah remaja itu menggunakan tenaga yang cukup kuat sehingga tubuhnya jatuh ke pelukan Shinichi.

"Maaf kalau aku membuatmu marah." Shinichi melepaskan pelukkannya dan ganti meraih salah satu wajah Haibara. "Akan aku antar kau pulang."

Perkataan sopan dilengkapi nada suara lembut itu cukup mengejutkan sampai-sampai pendengarnya terpaku di tempat. Namun kejutan kedua yang Shinichi berikan melalui sebuah ciuman mesra membuat Haibara spontan mendorongnya.

"Apa yang kau lakukan!" Suara Haibara yang berbisik justru terdengar cukup menakutkan.

"Tidak ada siapa-siapa, kan?" Shinichi tersenyum lebar sembari membalasnya.

Tidak ada waktu bagi Haibara untuk berdebat dengan pria itu membuatnya memutuskan untuk berbalik badan dan berjalan. Shinichi mengikutinya dari belakang tanpa menghapus senyuman, sebuah senyum yang semakin lama semakin lebar sampai akhirnya mereka memasuki lift di ujung lorong. Tepat setelah keduanya berada di dalam lift dan pintu lift tertutup rapat, pintu di depan kamar yang Shinichi sewa justru terbuka, dan bayangan hitam menyeringai dari baliknya.

###

"Aku ikut senang,"

Pernyataan di balik senyum Profesor Agasa itu memancing Haibara mendongak dari sarapan berupa roti isi yang disiapkannnya sendiri. Ia bangun terlambat sehingga tidak dapat menyajikan sarapan berupa bubur maupun lauk beserta nasi. Namun alasan Profesor senang sepertinya bukan ini. Sembari menekan pinggiran roti, gadis berseragam SMP itu kembali mendengarkan.

"Akhirnya kalian berbaikan." Kata Profesor Agasa sebelum menghela napas lega. "Aku benar-benar khawatir saat itu karena kelihatannya pertengkaran kalian serius sampai-sampai Shinichi tidak pernah bertamu kemari. Meski aku tidak tahu alasannya, tapi jangan bertengkar dengannya lagi, Ai-kun. Shinichi sudah banyak membantumu."

"Maaf sudah membuatmu khawatir." Haibara membalas seraya mengangkat rotinya ke depan mulut.

Namun niatannya melanjutkan sarapan tertunda setelah ingat kejadian beberapa jam lalu. Ia menatap lagi pria di depannya dan menunggu beberapa saat untuk memanggil,

"Ne, Hakase?" Haibara sedikit ragu-ragu. "Semalam saat Kudo menerima telponmu, apa dia mengatakan sesuatu yang aneh?"

"Tidak ada." Gumam Profesor dilengkapi gelengan kepala. "Dia hanya bilang kasusnya cukup sulit jadi mungkin kalian akan pulang malam. Apa terjadi sesuatu?"

"Tidak." Haibara kembali menundukkan kepala setelah menjawabnya.

"Oh iya, aku baru ingat." Tiba-tiba Profesor kembali menarik perhatian gadis itu. "Saat itu sepertinya Shinichi ada di dalam lift karena terdengar denting tanda lift berhenti, aku heran kau ada dimana saat itu sampai-sampai Shinichi yang membawa ponselmu, tapi aku tidak menanyakannya."

Mendengar penjelasan itu, mata Haibara memincing curiga. Menurut riwayat panggilan di ponselnya, Shinichi menjawab telpon Profesor sekitar pukul sembilan malam. Di waktu itu Haibara sudah tidur, dan seharusnya Shinichi juga tidur di sampingnya.

"Apa kasus semalam ada hubungannya dengan masalah Shinichi di kepolisian?" Timpal Profesor Agasa.

"Aku juga tidak tahu." Haibara buru-buru menundukkan kepala untuk menghindari pertemuan pandang mereka. "Aku sudah hampir terlambat, tolong rapikan meja ya, Profesor."

"Hati-hati, Ai-kun."

Pria paruh baya itu menghimbau ketika Haibara sudah berdiri sambil menggenggam tas sekolah. Hanya anggukkan pelan yang ia berikan sebagai jawaban sebelum berjalan pergi. Pikirannya kembali disibukan dengan masalah pengunduran diri Shinichi, dan Shinichi lagi.

"Shinichi baru pulang sekitar jam satu pagi dan barusan sudah pergi lagi."

Dan lagi-lagi, Shinichi.

Langkah Haibara berhenti dengan kepala mendongak, menemui Ran dan Sonoko yang berdiri di depan pagar rumah keluarga Kudo. Mereka pun sepertinya dibuat pusing oleh detektif muda itu.

"Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi padanya, Sonoko, dia sama sekali tidak mau cerita.—oh, Ai-chan? Baru berangkat?"

Haibara sedikit tersentak saat Ran tiba-tiba memandangnya dan menyapa.

"Ne..." Tanpa diduga, suaranya bergetar. "Sampai jumpa." Ia membalas salam itu sambil berjalan.

"Hati-hati..." Kata Ran ceria dan melambaikan tangan padanya.

Ai Haibara bukannya tidak senang mendapat sapaan dari wanita yang merupakan istri Shinichi tersebut, melainkan merasa bersalah dan takut. Dengan kejam ia sudah menikam wanita sebaik itu dari belakang. Bahkan sekarang Haibara juga merupakan sumber masalah dari pengunduran diri Shinichi.

Langkah wanita itu yang seharusnya berbelok ke kanan, justru berputar ke kiri. Haibara merasa tidak dapat mengikuti pelajaran dengan pemikiran berat seperti ini. Tujuannya berganti ke taman kota yang masih sepi pagi itu, duduk di salah satu bangku dengan mata terpejam dan mulutnya menarik napas berkali-kali.

Tidak bisa lega juga perasaanya. Jika masalah soal Shinichi belum selesai, memang tidak mungkin ia bisa merasa lega.

Dengan gerakan pelan Haibara mengambil laptop di dalam tasnya. Saat mengeluarkannya, struk-struk yang ia ambil dari mobil Shinichi kemarin jatuh dari dalam tas. Ia memangku laptop itu terlebih dahulu sebelum memungut struk-struk yang berserakan di tanah, menggenggamnya di tangan kanan selagi tangan kirinya menyalakan laptop, dan... gerakan Haibara berhenti seketika.

Ia bergerak lagi hanya untuk melihat struk ke dua. Menemui hal yang sama dengan alamat berbeda, Haibara melihat keterangan di struk ke tiga yang masih merupakan bukti penarikan uang dari mesin ATM. Sampai semua struk itu selesai ia periksa, ada sekitar 30 juta yen jumlah dari seluruh penarikan yang Shinichi lakukan dalam sehari.

Belum ada yang bisa Haibara pikirkan sedikit pun tentang apa yang Shinichi gunakan dengan semua uang itu, ia masih terkejut, dan pada saat yang sama gambar gelombang suara di layar laptopnya bergerak naik secara cepat. Haibara nyaris lupa alasanya membuka laptop adalah untuk mengintai Shinichi melalui penyadap yang dipasangnya. Dengan cepat ia merogoh headset mini dari dalam tas dan membuatnya tersambung ke laptop untuk kemudian mendengarkan apa yang sedang terjadi di dalam mobil Shinichi. Ia berharap tidak terlambat karena gelombang suara dilaptopnya pun tidak terlihat membuat gerakan signifikan sejak tadi, sebuah tanda bahwa baru ada suara lain yang lebih tinggi dari suara mesin mobil itu sendiri.

"Moshi-moshi..."

Suara Shinichi, Haibara membatin dalam hati.

"Seratus juta yen lagi? Seberapa banyak yang kau inginkan sebenarnya?"

Haibara memincingkan mata. Ia bertanya-tanya dengan siapa Shinichi bicara saat ini, dan apa maksud dari nominal uang yang disebutkannya.

"Baiklah aku mengerti, tidak perlu sampai mengirim fotoku bersama wanita itu pada istriku. Beri tahukan tempat dan waktunya."

Setelah suara Shinichi dari dalam headset berhenti dan berganti deru mesin mobil, ia melepas alat transmisi suara itu dari telinga. Haibara kemudian menundukkan kepala sehingga bayangan kelam menutupi pengelihatannya. Dari balik bayangan itu, ia seperti bisa melihat kenyataan buruk yang selama ini Shinichi sembunyikan.

Pengunduran dirinya. Bagaimana wajah pria itu saat datang ke kamarnya lewat jendela. Struk tanda penarikan uang. Dan telpon barusan.

Setelah Haibara menghubungkan semua teka-teki itu, ia bisa melihat dengan jelas bahwa Shinichi Kudo sekarang sedang mendapat ancaman dan pemerasan, dan hubungan gelap antara Haibara dan Shinichi digunakan sebagai senjata.

Dengan gerakkan berat Haibara menyimpan laptop dan struk tersebut ke dalam tas, memilih ponsel sebagai penggantinya. Setelah menekan salah satu angka di layar, ia menempelkan ponsel itu ke telinga.

"Moshi-moshi, Haibara?"

"Ada alat penyadap di bawah dasbord mobilmu."

Haibara tidak menjawab salam Shinichi yang keluar dari speaker ponsel. Karena ini bukan lagi waktunya berpura-pura. Haibara tidak perduli lagi apa yang Shinichi rencanakan, yang ia perdulikan hanya bagaimana cara menghentikan pria itu melakukan hal bodoh lainnya.

"Aku yang memasangnya." Ia menimpali tanpa memberi waktu pada Shinichi untuk berkomentar. "Dan aku baru saja mendengarkan percakapanmu di telpon."

"Kau melanggar privasiku." Jawaban Shinichi itu memantik amarah yang Haibara pendam.

"Jangan lagi mengirimkan uang, Kudo. Ini perintah."

"Aku menolaknya." Shinichi menjawab dengan cepat kali ini.

"Kudo!"

"Kita bertemu nanti untuk membahasanya, sekarang aku tidak punya waktu. Aku harus mengumpulkan uang secepatnya."

Perkataan itu diikuti nada panggilan terputus. Haibara melihat layar ponselnya untuk membuktikan bahwa mereka tidak lagi terhubung dalam telepon. Namun Haibara tidak membiarkannya kali ini, sekali lagi ia menghubungi Shinichi—

"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau—"

Haibara mematikan panggilan itu secepat ia mendialnya. Shinichi Kudo mematikan ponsel menghindari perdebatan. Sambil meremas benda itu Haibara berdiri. Mau tidak mau ia yang harus mendatangi Shinichi.

Ia terlalu gegabah karena emosi. Setelah mengetahui ada penyadap di mobilnya, Shinichi pasti sudah membuang benda itu. Tapi sepertinya Haibara tahu kemana detektif tersebut pergi. Penyadap yang dipasangnya menunjukkan keberadaan terakhir pria itu di pusat kota. Shinichi belum melakukan check-out di kamar hotel yang dipesannya kemarin, dan dari jalan yang diambilnya, kemungkinan pria itu sedang menuju kesana.

###

Dan setelah sampai di kamar yang sama dengan kamar yang mereka tempati kemarin, lima belas menit setelahnya, Ai Haibara tidak menemukan detektif gila itu, melainkan sebuah amplop coklat dan sepucuk surat di atasnya.

Shinichi sudah membaca gerakan Haibara terlebih dahulu sehingga membatalkan check-out atas kamar itu dan justru membayar untuk satu kali 24 jam ke depan, lagi. Bahkan sepucuk surat di atas amplop coklat tersebut sengaja ditujukan padanya. Dalam surat itu Shinichi mengatakan bahwa ia akan menebus foto-foto yang menjadi bukti perselingkuhan mereka seberapa pun besar harganya, demi Haibara. Dan ketika Haibara melihat isi dari amplop di meja, apa yang Shinichi tulis dalam suratnya bukan kebohongan.

Kaki Haibara lemas dan ia berakhir jatuh terduduk di atas sofa. Melihat foto-foto itu dengan kedua matanya sendiri, guncangan yang didapatkannya lebih besar ketimbang saat mengetahui pemerasan yang Shinichi alami.

Pada akhirnya, Ai Haibara tetap tidak dapat melakukan apa-apa setelah tahu apa yang terjadi. Jangankan membantu seperti apa yang direncanakannya, mencegah agar Shinichi tidak membayar uang pemerasan itu saja ia tidak mampu. Sebelum mengukur kemampuannya, Haibara telah berkhayal terlalu tinggi untuk menjadi sedikit berguna bagi seseorang yang ia cintai.

###

Mobil Shinichi yang tiba di blok 2, kota Beika, justru masuk ke garasi rumah Hiroshi, bukan rumah Kudo yang berada tepat di sebelahnya. Sambil tersenyum lebar pria muda itu masuk ke rumah Profesor Agasa tanpa repot-repot memencet bel pintu. Langkahnya yang belum mendapat izin dari tuan rumah malah sudah mencapai ruang tengah, mengejutkan pria paruh baya itu yang sebelumnya menyelami internet, yang kini menatapnya sambil berseru,

"Shinichi!"

"Yo, Profesor. Dimana Haibara?" Ia tidak berusaha menyembunyikan suasana hatinya yang sedang bahagia.

"Di lab bawah tanah, dia berpesan agar kau menemuinya disana." Profesor menjawabnya tak kalah semangat untuk pertama, namun detik berikutnya wajah pria itu berubah. "Tapi tolong jangan bertengkar lagi, suasana hati Ai-kun sepertinya kurang baik hari ini."

"Tenang saja, pertengkaran itu biasa dalam rumah tangga." Balas Shinichi ambigu sebelum pergi meninggalkan ruangan itu beserta lawan bicaranya yang kebingungan.

Sesampainya Shinichi Kudo di depan ruangan lain dimana Haibara menunggu, ia mengetuk pintunya lebih dulu kemudian masuk tanpa menunggu dipersilahkan. Senyumnya yang lebar bertemu dengan tatapan tajam Haibara yang langsung mengarah padanya, lalu tanpa aba-aba sebuah amplop coklat tidak asing dilempar ke atas meja yang biasanya menjadi tempat bagi Haibara mencampur bahan-bahan kimia, tapi saat ini bahan-bahan itu sedang tidak berada di sana.

"Aku merindukanmu."

Shinichi berujar setelah sebelumnya mengerling apa yang Haibara lempar, lalu mendekat dan hendak memeluknya. Hanya saja sebuah tamparan keras mengenai pipinya terlebih dahulu sehingga Shinichi mundur seketika.

"Apa kau pikir aku masih bisa menanggapi leluconmu!" Gigi Haibara bergertakan sebagai tanda bahwa keadaan emosinya saat ini kontras dari suara rendah yang dipergunakannya. "Kenapa kau tidak memberitahuku hal ini, Kudo? Dan kenapa kau terus mengirimkan uang padanya? Hal bodoh apa lagi yang ada di otakmu?"

"Sudah puas?"

Tanggapan dari amarah Haibara yang menggebu-gebu hanyalah dua kata itu yang disebut oleh pemiliknya dengan tenang, sambil mengusap pipinya yang membekas tamparan tangan.

"Puas katamu?" Haibara mengulang seperti menertawakan. "Aku benar-benar tidak tahu lagi apa yang ada dipikiranmu, Kudo. Seberapa sulit bagimu menemukan pelakunya? Bahkan organisasi hitam sebesar itu bisa kau hancurkan, tapi kenapa kau menyerah pada kasus sekecil ini?"

Kali ini Shinichi tidak menjawabnya. Ia berbalik untuk meraih amplop yang tadi dilemparkan Haibara dan kemudian mengeluarkan isinya, melampiaskannya di atas meja.

"Apa kau tahu, senjata adalah barang bukti." Dengan masih memunggungi Haibara, Shinichi bicara. "Mudah bagiku menangkap pelakunya, tapi menyerahkan barang bukti atas kejahatannya, sama saja dengan membongkar hubungan kita. Bukan aku kan yang tidak mau itu terjadi?"

"Sudah aku bilang kan?" Haibara meremas erat kepalan tangannya. "Jika memang ada hubungannya denganku, biar aku yang menanggungnya."

"Lalu kau akan kabur, begitu?" Tanya Shinichi sambil menengoknya dan menyeringai. "Bagaimana denganku yang tidak lagi punya pekerjaan? Bagaimana reputasi seorang Shinichi Kudo menghadapi hukum perlindungan anak dibawah umur mengingat statusmu saat ini adalah pelajar berusia 14 tahun? Bagaimana nasib seorang suami yang sudah tidak memiliki apa-apa digugat keluarga istrinya yang tidak terima dengan skandal ini? Bagaimana, Haibara?"

Haibara terperangah. Perhitungannya tidak sejauh itu. Kasus ini bukan hanya mengenai Haibara, tapi juga Shinichi. Karena menurut surat negara dan hukum, Ai Haibara masih dibawah umur. Akan terlalu naif jika ia berpikir bahwa orang-orang tidak tahu sejauh mana hubungan mereka. Apalagi pelakunya membututi mereka saat berada di Okinawa. Dan mengingat siapa Ayah dan Ibu Ran, kemungkinan yang Shinichi katakan bukan sesuatu yang mustahil terjadi.

"Kalau pun aku bisa bertahan hidup sebagai detektif swasta, dan bisa menanggung malu atas aib yang sudah aku lakukan, bisakah keluarga Ran mengizinkanku mendapat hak asuh dari Ichigo?"

Perkataan Shinichi membuat Haibara kalah telak. Dari pada dirinya, yang menanggung akibat lebih buruk adalah Shinichi sendiri. Tidak mungkin ia kabur begitu saja jika semua itu terjadi.

"Lalu apa yang harus aku lakukan, Kudo? Aku tidak mungkin membiarkanmu terus-terusan diperas seperti ini. Apa kau pikir orang itu akan berhenti? Bahkan mungkin dia masih menyimpan foto kita."

"Bukan mungkin lagi." Kata Shinichi setelah berbalik dan mempertemukan pandangan mereka secara lurus. "Dia memang masih menyimpan semuanya, dan masih akan memerasku sampai aku tidak punya apa-apa."

Haibara sudah tidak tahu lagi harus berkata apa. Ia melangkah mundur sampai menemukan meja untuk tempatnya bersandar. Tangannya menyisir rambut ke belakang dengan pelan, berharap sakit di kepalanya bisa reda meski hanya sedikit saja.

"Tapi masih ada satu jalan keluar." Perkataan Shinichi memberi harapan bagi pendengarnya. "Itupun kalau kau bersedia membantuku."

"Katakan." Haibara membalas cepat meski tidak bertenaga, seolah-olah sudah putus asa.

"Jika kau minum penawar rancun dan kembali ke usia 25 tahun, kasus ini akan berhenti hanya pada kasus pemerasan, tidak akan bisa lagi menjeratku atas hukum perlindungan anak. Kemudian aku bisa menggunakan kasus ini di pengadilan untuk kembali menjadi polisi."

Mata Haibara terbuka lebar-lebar mendengarnya.

"Dan jika kita menikah sebelum Ran menikah, hak asuh Ichigo dengan mudah bisa aku dapatkan."

8.