Keputusan, Penelitian, Pergerakkan.
Dari akhir musim panas yang ditandai gemercik hujan di malam hari, sampai pada malam pertama musim panas dimulai lagi, Shinichi Kudo sering terbangun tiba-tiba, merasa gelisah, tak tenang, dibayangi rasa bersalah, sakit hati, dan rindu. Matanya sendu menatap rumah Profesor Agasa dari balik jendela hanya untuk menemui beberapa lampu yang masih menyala, dan bukan Ai Haibara yang ingin dilihatnya. Padahal sekedar bayangannya saja, Shinichi merasa sudah cukup. Cukup...
Butuh beberapa waktu baginya agar bisa kembali tenang dan membiarkan diri tidur di samping wanita yang disahkan negara sebagai istrinya setahun lalu, saat itu, yang sebenarnya tidak pernah ia anggap istri dan sebagai cara menghormatinya Shinichi tidak pernah menyentuhnya sama sekali. Sekali dua kali ia berpikir tidak apa-apa untuk mencari pelarian dari sosok Haibara yang bahkan menganggapnya tidak ada, sekaligus belajar memperlakukan istrinya sebagaimana tanggung jawab seorang suami, akan tetapi, Shinichi tetap tidak bisa.
Jika Shinichi melakukannya, tanggung jawabnya akan bertambah dan ia tidak akan bisa menjawab jika ada yang bertanya, mengapa seorang suami yang sudah menjadi ayah masih mencintai dan mengejar wanita lain seperti orang gila, dan kegilaan itu akan membuatnya terlihat seperti pria sakit jiwa karena bagi mereka Ai Haibara bukan wanita dewasa, bukan Shiho Miyano yang setahun lebih tua darinya, melainkan sosok gadis kecil dengan usia sepuluh tahun lebih muda dari Shinichi. Yang ironisnya, atas semua dalih itu, Shinichi justru benar-benar jadi gila dan melakukan kesalahan tepat setahun setelahnya.
Siapa juga yang tidak gila setelah bertahun-tahun lamanya tidak bisa tidur dengan tenang, dan masih harus menanggung kewajiban yang tidak diinginkan, sementara hari-harinya dipenuhi kasus pembunuhan selama menenggelamkan diri dalam pekerjaan seraya menahan rasa sakit hati pada cinta mendalam pada seorang wanita yang kejam?
Bukan Shinichi Kudo jawabannya.
Bahkan Shinichi Kudo masih menatap rumah di sebelah melalui jendela dengan perasaan yang sama sampai tujuh tahun kemudian. Karena meski sudah membuat Shinichi jadi gila, wanita kejam itu tetap mempersulit keadaannya. Barusan Haibara bilang, 'Jika kau tetap memaksa tidak ada pilihan lain bagiku kecuali pergi jauh darimu.' tanpa tahu impian dan kehidupan Shinichi sedang terancam oleh kasus pemerasan.
Tapi sudah ia putuskan, wanita sekejam Haibara harus ditangani dengan cara yang kejam juga. Ai Haibara adalah orang yang memulai kegilaan ini, sementara Shinichi Kudo hanya meniru caranya. Besok pagi, kekejaman versi Shinichi akan dimulai. Mulai dari berpura-pura mengundurkan diri sebagai kapten polisi, sampai menuntun Haibara untuk menemukan sendiri kasus pemerasan ini. Haibara pasti akan termakan rasa bersalah sehingga mengambil tanggung jawab penuh atas apa yang terjadi karena sifat kritisnya, bahkan rela mengorbankan diri. Dan sifatnya yang paling dibenci Shinichi itulah yang akan membuat Haibara kalah kali ini.
Tidak diragukan lagi, semuanya akan sesuai dengan perhitungan Shinichi...
"Jika kau minum penawar rancun dan kembali ke usia 25 tahun, kasus ini akan berhenti hanya pada kasus pemerasan, tidak akan bisa lagi menjeratku atas hukum perlindungan anak. Kemudian aku bisa menggunakan kasus ini di pengadilan untuk kembali menjadi polisi."
Shinichi Kudo melihat bagaimana imbas dari perkataannya membelalakkan mata Haibara. Tapi ini belum selesai. Tujuan utama dari semua omong kosong itu adalah untuk mengikat Haibara selama-lamanya.
"Dan jika kita menikah sebelum Ran menikah, hak asuh Ichigo dengan mudah bisa aku dapatkan."
"Tidak mungkin..." Suara gadis itu yang bergetar menjadi bukti bahwa keterkejutan masih menguasai perasaan pemiliknya. "Aku tidak bisa, Kudo..."
Shinichi menarik napas sebelum mendudukkan diri di atas meja. Sambil tersenyum ke arah Haibara, ia kemudian membalas,
"Maka dari itulah, aku menyembunyikannya. Karena meski pun kau tahu, tidak akan ada penyelesaian dan pada akhirnya kasus ini malah membebanimu."
Haibara memalingkan muka dan memejamkan mata. Melihat hal itu, Shinichi memutuskan untuk mengakhiri perundingan mereka hanya sampai di sini. Ia berdiri dan meraih foto-foto di atas meja untuk dimasukkan lagi ke amplop, lalu menyimpannya di dalam saku baju.
"Tidak usah dipikirkan lagi, aku akan menahan kasus ini sampai kau menemukan tempat untuk pindah." Ucap Shinichi sambil berjalan menuju satu-satunya pintu di ruangan itu.
"Pindah tempat?" Haibara menghentikannya hanya dengan sebuah pertanyaan.
"Kau tidak akan bisa menahannya saat semua orang menudingmu sebagai selingkuhanku, bukan?" Ia melirik sekilas dan melanjutkan. "Atau kau pikir, setelah aku kehabisan uang pemerasan ini akan berhenti? Tujuan pemerasan ini yang sebenarnya adalah untuk menghancurkan hidupku, dan menguras uangku hanya salah satu caranya. Setelah aku tidak punya apa-apa, orang itu akan tetap membongkar perselingkuhan kita."
"Mungkinkah, sebenarnya kau... sudah tahu siapa pelakunya?"
Kali ini Shinichi memilih tidak membalasnya lebih dulu, melainkan kembali melangkah. Ia meraih dan memutar gagang pintu, membuka lalu melewatinya. Setelah sampai di luar ruangan, ia menatap wajah Haibara yang saat ini menghadapnya.
"Sudah aku bilang, jangan dipikirkan lagi. Aku sendiri yang akan menanganinya."
Pintu ruangan itu kemudian ditutup dari luar oleh Shinichi, menyisakan Haibara seorang diri di dalam laboratorium bawah tanah. Kontras dari beberapa detik lalu, suasana di sana menjadi sangat sunyi. Suhu ruang yang dingin pun tiba-tiba terasa. Haibara tidak tahu, apakah alat pendingin ruangan yang membuat bulu kuduknya meremang, atau justru tatapan terakhir Shinichi yang dipenuhi kekecewaan. Ia sungguh ingin membantunya, hanya saja pengorbanan yang harus dilakukan sangat besar, sebesar pengorbanan Shinichi sendiri.
Akan tetapi...
Ai Haibara berpegangan pada meja yang merupakan tempatnya bersandar sejak tadi, dan berdiri. Dengan langkah pelan yang lama-kelamaan bertambah cepat, ia keluar ruangan mengejar Shinichi. Shinichi benar, ia harus meminum penawar racun APTX-4869 untuk kembali menjadi Shiho Miyano sehingga kasus ini dapat diselesaikan. Karena meski menjadi Ai Haibara sekali pun, ia tidak akan bisa melanjutkan kehidupannya yang sekarang. Yang mana pun pilihannya, menjadi Ai Haibara maupun Shiho Miyano, ia akan berakhir meninggalkan kota ini selama-lamanya. Akan tetapi jika ia memilih meminum penawar racun, Shinichi Kudo tidak akan kehilangan terlalu banyak.
"Kudo!" Haibara menemukan pemilik nama itu di ambang pintu utama, membuatnya berlari demi untuk meraih tangannya dan menghentikannya.
Shinichi menatapnya penuh pertanyaan, begitu pula dengan Profesor Agasa yang berdiri di depan pintu bagian dalam ruangan. Haibara tidak ingin pria yang sudah ia anggap sebagai ayah itu tahu dosa besar apa yang sudah ia dan Shinichi lakukan, sehingga melepaskan pegangan seraya meluruskan ekpresinya.
"Masih ada yang ingin aku bicarakan." Ia melirik Profesor Agasa sebagai kode untuk lawan bicaranya.
"Kita bisa bicara di dalam mobil." Katanya sambil berjalan lebih dulu, sementara Haibara menarik napas sebelum mengikutinya tanpa lupa menutup pintu.
Pria muda itu sudah menunggu Haibara di dalam mobil pada bagian bangku pengemudi, ketika saat itu ia masih berusaha meyakinkan diri sendiri. Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya Haibara membuka pintu mobil di bagian lain, lalu duduk di bangku sebelah Shinichi. Pintu mobil yang tertutup kemudian diikuti suara pelakunya yang datar dan tenang, yang sebenarnya berbanding terbalik dengan perasaannya sendiri.
"Aku setuju." Ia berhenti bicara hanya untuk menarik napas sebelum melanjutkan, "Tapi dengan beberapa syarat."
"Katakan?" Shinichi Kudo menuntut tanpa sangsi maupun antusias tinggi, terbukti dari nada suara yang sama datarnya dengan Haibara.
"Yang pertama, kau tidak boleh menceraikan istrimu."
Perkataan yang sekedar awal dari persyaratannya itu langsung terjawab oleh dengusan remeh Shinichi.
"Tanpa aku menceraikannya sekalipun, dia pasti akan mengajukannya sendiri setelah tahu aku sudah berselingkuh."
"Itu pengecualian." Haibara menyahut sama cepatnya. "Jika memang dia ingin bercerai denganmu, kau bisa mengambil keputusan seorang diri. Tapi jika tidak, kau tidak boleh menceraikannya dengan alasan apapun."
"Yang kedua?" Shinichi menuntut lawan bicaranya mengatakan syarat lainnya sekaligus menyudahi pembahasan soal perceraian itu, yang jika dilanjutkan mereka akan berakhir dengan perdebatan.
"Yang kedua, aku akan meninggalkan kota ini setelah semuanya selesai. Kalau bisa aku ingin tinggal di luar negeri." Syarat berikutnya di akhiri tanpa sanggahan maupun tanggapan, sehingga gadis ini kembali bicara, "Yang ketiga, kita harus berpisah."
Untuk syarat satu itu, Shinichi perlu waktu untuk bereaksi meski setelahnya hanya sebuah seringaian tajam yang ia berikan. Haibara menengok dan menatapnya karena merasa janggal tidak mendengar penolakan. Akan tetapi senyum di depannya ini familiar, sebuah senyum percaya diri khas Shinichi yang seolah-olah memberi tanda bahwa tidak akan ada orang yang mampu menghalangi keinginannya.
"Kau tidak perlu meminum penawar racunnya. Langsung saja kita bawa kasus ini ke pengadilan dan membiarkan semua orang tahu apa yang terjadi di antara kita." Mata Shinichi menatap balik dengan penuh keyakinan. "Kita hancurkan saja semuanya, tidak perlu tanggung-tanggung."
Sudah Haibara duga bahwa persyaratannya yang ketiga tidak akan diterima. Bahkan jika ia diam-diam pergi, Shinichi akan dengan mudah menemukannya, lalu orang gila itu akan melakukan hal yang lebih buruk dari sekedar menceraikan istrinya. Alasan yang mendasari Haibara tetap mengatakan syarat itu sebenarnya sekedar untuk mencoba keberuntungan, di sisi lain, ia sudah menyiapkan syarat berikutnya.
"Yang terakhir." Haibara memutus pertemuan pandang mereka, menatap ke depan seraya berkata, "Jika kau masih ingin melanjutkan hubungan kita, kau harus merahasiakannya dari semua orang, terutama istrimu."
"Aku mengerti."
Shinichi mengucapkannya tidak seperti benar-benar mengerti apa yang berusaha Haibara lindungi. Dari sudut mata ia bisa melihat pria detektif itu mengalihkan pandangan dan mengikuti gesturnya yang menatap ke depan.
"Bahkan di saat hidupku dipertaruhkan sekalipun, kau tidak bisa merendahkan keegoisanmu." Katanya sambil menyandarkan kepala ke sandaran kursi. "Aku jadi ragu, apa kau benar-benar mencintaiku..."
Hati Haibara rasanya sakit mendengar kalimat terakhir itu. Dengan memejamkan mata ia berusaha menahan emosi. Jika wanita lain ada di posisi Haibara saat ini, dia pasti sudah menangis karena setelah membulatkan tekad untuk membuang kehidupannya yang berharga, satu-satunya pria yang berusaha ia lindungi justru tidak dapat mempercayainya. Bukan sekedar impian dan nama baiknya, Haibara juga ingin melindungi Shinichi dari dosa yang terus mereka buat. Ia tidak tahu lagi bagaimana cara agar pria ini paham bahwa Ai Haibara adalah pengorbanan terkecil di dalam hubungan mereka. Karena jika Haibara yang terluka, tidak akan ada orang lain yang ikut menderita bersamanya, tidak akan ada keluarga yang mencemaskan masa depannya, juga tidak akan ada seorang anak yang harus dipisahkan dari orang tuanya.
"Aku juga mengerti sekarang, Kudo." Haibara membuka mata dan memperlihatkan tatapan tajam dipenuhi kemarahan miliknya. "Seberapa besar pun aku mencintaimu dan seberapa besar pun aku berkorban, kau hanya bisa memikirkan kebahagianmu sendiri."
Kepalan tangan Shinichi melesat cepat tanpa jeda waktu dari perkataan itu, menumbuk kaca mobil yang menjadi titik pandang Haibara saat ini. Ia terkejut oleh tindakan tiba-tiba itu. Tubuhnya dingin seketika dari ujung jari tangan sampai ujung kaki.
"Kau tidak paham juga apa yang sedang aku perjuangkan! Bahkan saat aku hampir gila aku masih menahan diri untuk menjaga jarak darimu!" Shinichi membentaknya tanpa ampun. "Tujuh tahun, Haibara... selama tujuh tahun aku tidak bisa tidur dengan nyenyak karena memikirkanmu. Dan tanpa perasaan kau malah menghukumku selama lima tahun, mengikatku dengan janji-janji omong kosongmu demi ambisimu membahagiakan orang lain... Bagian mana dariku yang kau bilang memikirkan kebahagiaanku sendiri?"
Detekan jantung Haibara yang melompat-lompat seakan mau keluar dari tubuhnya, perlahan-lahan mereda seiring suara Shinichi yang semakin rendah. Akan tetapi ia masih diam terbeku dan tidak bisa mengatakan apapun.
"Hanya karena hidupmu selama ini menderita, bukan berarti kau tidak boleh bahagia..." Shinichi melanjutkan, namun kalimat selanjutnya tidak lagi berbunyi pelan. "Yang berusaha aku perjuangkan adalah kebahagianmu!"
"Haruskah aku bahagia dengan cara mencuri kebahagiaan orang lain?"
Akhirnya emosi Haibara pun tidak terbendung lagi. Kemarahannya meluap mengalahkan keterkejutan atas bentakan Shinichi. Tapi tempramental Shinichi sendiri jauh lebih tinggi. Dengan kasar ia menarik pundak kiri Haibara dan meremasnya.
"Jangan membuatku membahasnya lagi, Haibara." Suara dingin itu adalah sebuah ancaman yang serius.
"Kau yang memulainya—akh!" Usahanya untuk menyelesaikan satu kalimat pendek itu berhenti karena Shinichi mendorongnya, melepaskan pegangan dan membiarkan siku beserta punggungnya membentur pintu mobil dengan keras.
"Keluar!" Perintah pria itu tanpa melihat Haibara lagi. "Ada urusan penting yang harus aku selesaikan."
Haibara terlebih dulu menegakkan duduknya, lalu mengusap sikunya yang memar.
"Itu yang sedang kita bahas saat ini, Kudo." Katanya dengan menatap Shinichi dalam-dalam.
"Seperti yang aku katakan, kita hancurkan saja semuanya." Shinichi kekeuh tidak mempertemukan pandangan mereka. "Aku tidak perduli lagi. Bahkan jika pada akhirnya aku tidak bisa bertemu dengan Ichiho aku juga tidak perduli, karena sejak awal aku juga tidak menginginkan anak dari Ran."
Sama seperti cara Shinichi menghentikannya bicara, Haibara juga mempergunakan tangannya. Dengan keras ia menampar pipi pria itu yang bahkan masih membekas tangan dari tamparan terakhir. Hanya saja kali ini tamparan Haibara berhasil menyadarkan Shinichi seolah setan yang sempat menguasai pemikirannya langsung pergi.
Tidak ada lagi suara. Tidak ada lagi interaksi mata. Haibara telah membenarkan duduknya, sementara Shinichi masih terbeku di tempat. Sebenarnya ia sendiri terkejut telah mengatakan hal sejahat itu tentang darah dagingnya. Meski tidak pernah berkeinginan memiliki anak dari Ran, tetapi Shinichi menyayangi Ichigo sepenuh hati.
"Yang berusaha aku lindungi bukan hanya kau, tapi juga keluargamu... Itulah mengapa aku bersikeras ingin menyembunyikan hubungan kita." Haibara menjadi sosok yang pertama kali angkat bicara, seraya kembali mengusap sikunya dan menatap arah berlawanan dari tempat Shinichi. "Bukannya aku tidak tahu seberapa besar kau menderita selama ini. Tapi selama kita bersama, itu lebih dari cukup. Kau tidak perlu meninggalkan anak dan istrimu."
"Sudah cukup kita membahasanya. Kalau kau bicara lagi," Napas Shinichi tertarik dengan kasar sampai-sampai sosok lain di dalam mobil itu dapat mendengarnya. " ...kali ini aku yang akan menamparmu."
Ai Haibara memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya sejak saat itu, menahan diri untuk tidak mendebat Shinichi. Kali ini ia benar-benar telah kehilangan kendali atas tempramental pria yang ia cintai. Namun Haibara tidak bisa melarikan diri dari tanggung jawabnya, maupun diam melihat hidup Shinichi hancur begitu saja.
"Baiklah kalau begitu, karena aku yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi, jadi akulah yang harus menebusnya." Ia berkata masih tanpa membuka mata. "Lagipula, jika hidupmu hancur, keluargamu juga akan hancur. Jika memang perceraian tidak bisa dihindari, dan aku harus menikah denganmu untuk membantumu mendapatkan hak asuh Ichigo, akan aku lakukan. Setidaknya, ada satu hal yang berhasil aku selamatkan."
Haibara membuka pintu mobil setelah menyelesaikan perkataannya. Ia berdiri di luar dengan menatap Shinichi sambil menimpali,
"Lakukan tugasmu, aku akan membuat penawar racunnya."
###
Matahari terbenam dan malam yang sibuk menjelang. Malam itu juga Ai Haibara memulai penelitian untuk membuat penawar racun di laboratorium bawah tanah yang sepi tanpa seorang teman. Sementara, Shinichi Kudo duduk di bagian ujung meja rapat bersama tujuh polisi yang menempati masing-masing kursi di bagian sisi meja, dalam ruang kantor polisi pusat, Beika.
Sejak kehadirannya satu menit yang lalu, belum ada suara terdengar di sana. Matanya tajam dan serius menatap satu per satu wajah orang-orang di dalam ruangan, menyaksikan ketegangan dan kebingungan melanda semua orang. Sampai akhirnya suasana itu dipecah oleh pembuatnya sendiri dengan membuka suara untuk yang pertama kali.
"Aku berada di sini untuk memberikan pengumuman," Shinichi Kudo berhenti mengedarkan pandangan dan membiarkan matanya menatap lurus tanpa menaruh fokus pada seorang pun. "Sejak tanggal 18 Febuari 2019 yang lalu, aku telah menjabat sebagai Kapten Polisi Pusat Beika, dan berhubungan dengan berakhirnya masa cutiku, mulai hari ini aku akan kembali bekerja."
Tidak ada seorang pun yang menjawab meski wajah-wajah di depan Shinichi telah berubah penuh pertanyaan. Ia mengambil waktu setengah menit dari perkataan terakhirnya untuk memberikan penjelasan.
"Upacara pelantikanku yang resmi hanya ditunda selama ini, namun menurut surat perintah kepolisian aku sudah menjadi kapten yang baru. Aku mendapat telpon ancaman yang menyuruhku mengundurkan diri, itulah mengapa aku melakukan jumpa pers dan mengaku telah mengundurkan diri hari itu. Tentu saja semua itu aku lakukan atas persetujuan dari Tuan Juzo Megure selaku pimpinan tertinggi kepolisian Jepang." Ia berhenti hanya untuk memejamkan mata sejenak, lalu melanjutkan, "Namun ancaman itu tidak berhenti, sejak dua hari yang lalu aku mengalami pemerasan uang dari orang yang sama, dan malam ini pelakunya kembali memintaku untuk memberikan sejumlah uang. Aku berencana menangkap pelakunya malam ini juga dengan bantuan kalian. Akan tetapi kasus ini cukup rahasia dan ada kemungkinan aku akan mendapat sangsi setelahnya, maka dari itu hanya orang-orang yang aku percaya yang aku undang ke rapat ini."
Kali ini Shinichi berhenti untuk menunggu reaksi orang-orang. Ia paham akan butuh waktu bagi ketujuh polisi yang ada di sana untuk menghadapi keterkejutannya. Sampai Wataru Takagi memecah keheningan untuk yang pertama kali melalui gesturnya yang kaku. Pria 33 tahun itu menggaruk pipi dengan ujung jari sambil bergumam memancing perhatian.
"Itu... Sebenarnya ancaman seperti apa yang kau hadapi? Dan kenapa kau malah bisa kena sangsi?" Tanya Takagi ragu-ragu.
"Map di depan kalian itu berisi berkas-berkas dari kasus ini."
Jawaban Shinichi membuat semua orang bergerak membuka map masing-masing. Namun ia buru-buru menimpali sebelum ada yang benar-benar melihat isinya.
"Tapi seperti yang aku bilang, kasus ini cukup rahasia dan aku minta tidak ada yang membocorkannya." Ia menyudahi seraya meyangga kedua sikunya di atas meja lalu membiarkan kedua tangannya yang mengatup menutupi muka.
Ketika mereka semua melihat berkas-berkas di dalam map, Shinichi bisa melihat wajah-wajah lawan bicaranya kembali dipenuhi keterkejutan. Reaksi itu tidak mengherankan mengingat salah satu fotonya bersama Haibara menjadi lampiran bukti di dalam map itu. Satu per satu kemudian mereka menatapnya, sebagian menuntut penjelasan, dan yang lain sekedar menatap seolah tidak percaya.
"Aku mengerti, itulah mengapa kau bilang kemungkinan akan mendapat sangsi." Ucap Ninzanburo Shiratori yang merupakan rekan Shinichi sebelum ini. "Kau berselingkuh dan pelakunya mengancammu dengan foto ini."
"Aku seperti mengenalnya... mungkinkah, dia Ai Haibara?" Miwako Sato yang duduk di dekat Takagi menimpali perkataan itu.
"Eh?!"
"Bukan." Shinichi menyela seruan kaget yang berasal dari Takagi. "Namanya Shiho Miyano. Tapi bagian berselingkuh itu benar, dan karena itulah aku mengulur waktu untuk memikirkan cara menyelesaikan kasus ini tanpa menimbulkan kehebohan."
"Tapi itu mustahil, Tuan Kudo..." Pria di sebelah Shiratori menyanggahnya.
"Itulah mengapa akhirnya aku menyerah dan memutuskan membuka kasus ini, Kenji-san." Shinichi membebaskan tangannya untuk membuka map selagi menatap pria bernama lengkap Kenji Shintaro tersebut. "Seberapa keras pun aku menutupinya, hal ini tidak mungkin lagi menjadi rahasia. Bahkan meski aku terus mengirimkan uang, tidak ada jaminan pelaku akan berhenti."
Mata Shinichi kemudian beralih pada map yang telah ia buka untuk melihat fotonya bersama Haibara. Meski terpotret jelas interaksi mesra keduanya, namun wajah Haibara tidak benar-benar terlihat dengan jelas karena sudut pengambilannya berasal dari belakang. Setelah ia memeriksa semua foto yang dikirimkan pelaku pemerasan, ia juga menyadari bahwa tidak mungkin bagi pelakunya untuk mengambil potret wajah Haibara dengan jelas karena sewaktu foto-foto itu diambil, Shinichi dan Haibara berada di pantai dimana bagian depan dari tempat itu hanyalah lautan.
"Jadi, apa kau punya petunjuk siapa pelakunya, Shinichi?" Kazunobu Chiba memberanikan diri ikut bicara meski tidak benar-benar yakin bisa membantu atasannya kali ini.
"Masih belum. Tapi itu bukan masalah besar, karena saat melakukan transaksi nanti kita akan langsung menyergapnya." Shinichi menarik napas seraya menatap lagi wajah-wajah orang di sana. "Setelah mengetahui apa yang terjadi, adakah di antara kalian yang berniat mengundurkan diri dari tugas ini?"
Mendengar pertanyaan itu, Sato menatap Takagi dengan bimbang, sementara Chiba dan Kenji menunduk pada map masing-masing. Tomokawa Toshio dan Nubunaga Heizo dari divisi tiga pun lebih memilih diam meski kasus ini adalah bagian dari tugas mereka. Hanya Shiratori yang masih menatap Shinichi lurus-lurus sampai saat ini.
"Bagaimana pun, ini adalah tugas pertama yang diberikan oleh pimpinan, mana mungkin aku mundur." Shiratori menyeringai sambil melambai-lambaikan foto di tangannya seolah-olah mengejek. "Walaupun Pimpinan ternyata pria seperti ini. Aku benar-benar terkejut."
Shinichi tidak bisa berkata apa-apa sehingga memalingkan muka pada yang lain untuk menghindari ejekan itu.
"Maaf, tapi ini bukan bidangku, aku mengundurkan diri."
"Sa-sato... san..." Takagi terpaku menatap wanita itu.
"Kau seharusnya juga menolak, Takagi. Meski dia sekarang pimpinan kita, tapi yang dia lakukan itu tidak bisa dimaafkan." Kata Sato dengan tegas.
"Tapi, aku tidak bisa menolak tugas dari pimpinan." Jawabnya sambil tertawa kaku. "Meski bukan bidang kita, kalau pimpinan yang memberi perintah..."
"Masalah terbesarnya bukan siapa yang memberi perintah, tapi apa kasusnya!"
"Tidak masalah kalau ada yang mengundurkan diri." Shinichi menengahi perdebatan suami-istri tersebut. "Anggap saja ini bukan perintah, tapi aku sedang meminta bantuan pada kalian, jadi kalian bebas mengambil keputusan. Hanya saja aku meminta pada kalian untuk tetap merahasiakannya."
"Aku akan membantu!" Kenji berseru tanpa ragu.
"Aku juga." Kata Chiba, menambah suara. "Kau sudah banyak membantuku, mungkin ini satu-satunya kesempatanku untuk membalas budi."
Shinichi tersenyum mendengarnya, kemudian menatap dua orang yang tersisa untuk mendengar keputusan mereka.
"Tidak ada alasan bagi kami untuk menolak perintah pimpinan, bukan begitu, Toshio?"
"Aku siap kapan pun!" Ungkap Toshio yang sepaham dengan Heizo.
Dengan lima persetujuan itu, suasana di ruang rapat berubah cukup drastis dan membuat terpaku Miwako Sato yang semula berwajah dingin. Wanita tersebut melihat wajah bersemangat yang lainnya sebelum melirik Takagi yang diam dalam kebimbangan. Membantu Shinichi sebenarnya bertentangan dengan nurani Sato sebagai seorang istri, akan tetapi profesionalitas dan solidaritas menuntutnya untuk membantu kali ini.
Satu-satunya wanita di ruangan itu akhirnya menghela napas setelah melihat Shinichi menutup map seperti tanda bahwa pria muda itu akan menutup rapat. Sambil menunduk ia kemudian berkata pelan,
"Baiklah, aku berubah pikiran. Aku akan ikut."
Takagi langsung tersenyum. Pria yang merupakan suami Sato itu mengangguk semangat untuk menunjukkan bahwa ia sepaham dengan istrinya. Melihat itu semua, Shinichi juga tersenyum senang. Ia merasa lega karena tidak salah telah mempercayai mereka.
"Kalau begitu kita berangkat sekarang." Tuntasnya mengakhiri rapat penuh kejutan itu tepat 30 menit sejak dibuka.
Setelah itu juga mereka berangkat menuju taman Beika yang menjadi lokasi transaksi antara Shinichi dan pelaku pemerasan malam ini. Dengan mobil pribadi masing-masing delapan orang itu membelah jalanan malam yang gelap dan sepi, sesepi keadaan di dalam laboratorium bawah tanah tempat Haibara melakulan penelitian. Di saat yang sama dengan perjalanan mereka, Ai Haibara dikejutkan oleh hasilnya. Ia mundur dari hadapan kaca mikroskop yang memperbesar gambaran sel-sel darahnya sendiri. Ternyata tanpa siapapun sadari, telah terjadi sesuatu diluar rencana selama ini, yang tidak diprediksi mereka dan terlalu terlambat untuk dapat dicegah, seolah-olah mengingatkan kembali bahwa garis takdir tidak dapat dirubah seberapapun keras mereka berusaha.
###
Hanya sepuluh menit setelah meninggalkan kantor polisi, mereka telah tiba di taman kota. Shinchi memarkirkan mobilnya di depan gerbang, sementara tujuh polisi yang dibawanya berjalan kaki dari halte bus ke tempat itu, dan sekarang sudah siap di posisi masing-masing untuk melakukan penjagaan dari tempat yang tersembunyi.
Ponsel Shinichi yang berdering di dalam mobil tidak terdengar karena pria muda itu kini berjalan masuk ke taman untuk menaruh tas berisi uang tebusan di dalam wahana rumah seluncur. Ia meninggalkannya di sana dan kembali ke mobil saat ponselnya sudah tidak berdering lagi, bahkan tidak menyadari bahwa benda itu sudah mati karena kehabisan batrai saat ini. Dengan cepat Shinichi meninggalkan taman hanya untuk kembali beberapa menit kemudian sambil berjalan kaki, lalu mengambil tempat bersembunyi yang dekat dengan Kenji.
Selama bermenit-menit mereka semua mengawasi taman dan sekitarnya. Mereka juga melakukan komunikasi melalui walkie-talkie untuk bertukar informasi tanpa bicara, dan sebagai gantinya mereka akan mengetuk benda itu sebanyak satu kali pertanda intruksi agar melihat arah utara, dua kali sebagai tanda arah selatan, tiga kali untuk timur, dan ketukan sebanyak empat kali berarti arah barat.
Sampai hampir satu jam berlalu, suara ketukan sebanyak dua kali terdengar oleh mereka. Shinichi menatap arah selatan dimana pintu gerbang utama taman berada, dan di sana seseorang berjalan masuk ke taman dengan memakai masker penutup wajah. Dari postur tubuhnya, seseorang yang adalah pria itu memanjat naik ke wahana rumah seluncur dan berada di dalam cukup lama. Shinichi mengangkat tangan untuk memberi tanda agar semua orang tetap diam di posisi masing-masing, hingga satu menit kemudian akhirnya pria yang sama keluar dari dalam rumah seluncur sambil berlari membawa tas yang Shinichi tinggalkan tadi.
"Tangkap." Bisik Shinichi memberi aba-aba sehingga semua orang mengejar pria tersebut.
Namun suara langkah mereka juga yang membuat pria bermasker itu menyadari keberadaan polisi di sana dan berlari lebih cepat. Sosoknya menghilang di kegelapan sehingga tidak mudah ditemukan meski ada delapan orang yang mencari. Melalui walkie-talkie, Shinichi lalu memberi perintah agar semua orang berpencar.
Sato dan Takagi mencari di jalan yang berlawanan arah dari tempat Chiba dan Shiratori, sementara Toshio dan Heizo mencari di sekitar taman. Kenji hanya seorang diri menyeberangi jalan menuju gudang kayu di depan taman saat itu. Ia yakin sekali melihat pria bermasker yang tadi berlari ke arah sana sehingga mengejarnya. Seraya memasang peredam suara pada pistol, polisi dari divisi dua ini melangkah masuk ke dalam gudang. Baru lima langkah ia berjalan ketika mendengar suara dari sebelah kanan, suara yang cukup mengejutkan dan membuatnya menarik pelatuk pistol dengan spontan.
"Tas..." Gumam Kenji saat menemukan sumber suara itu adalah sebuah tas, sekaligus merupakan benda yang ia tembak.
Mengenali tas tersebut adalah milik Shinichi yang dibawa pria bermasker tadi, Kenji semakin yakin pelakunya berada di sini. Matanya menatap setiap sudut dengan waspada selagi melangkah semakin dalam ke dalam gudang. Papan-papan kayu yang bertumpuk rapi di sekitarnya dengan tinggi melebihi tinggi tubuhnya sendiri bisa jadi tempat persembunyian pelaku.
Langkah Kenji berhenti tiba-tiba dengan bibir membentuk seringaian ketika melihat bagian punggung pelaku dari sela-sela tumpukkan kayu. Dengan hati-hati pria itu memasukkan ujung pinstolnya di antara sela itu, lalu tanpa pertimbangan menembakkan peluru.
Namun, Kenji diam terbeku seketika setelahnya. Matanya terbalak lebar-lebar menyaksikan bahwa tidak ada darah yang keluar dari punggung pelaku, justru yang keluar adalah sebuah suara aneh tepat saat pelurunya bersarang pada sasaran.
"Sayang sekali, rencanamu gagal, Kenji-san."
Suara Shinichi memancing Kenji menengok. Ia semula tidak menemui siapa-siapa, sampai pria muda yang merupakan pimpinannya tersebut keluar dari balik salah satu tumpukan kayu dan kini berdiri menyandarkan punggung di sana.
"Yang kau tembak itu hanyalah jaketnya saja, sementara orang suruhanmu sudah aku lumpuhkan." Shinichi tersenyum melihat wajah pucat milik Kenji Shintaro. "Bagaimana? Mau menyerah sekarang? Atau, masih ada hal lain yang bisa kau gunakan untuk mengancamku?"
9.
