Air Mata.

Ia terkejut, dan diteruskan mendongak dan melangkah mundur ketika melihat gambar sel darahnya sendiri melalui mikroskop, dan mengetahui kenyataan tak terduga. Bahkan sebagai seorang ilmuan ia tidak memikirkan kemungkinan seperti ini, terlepas dari keputusan yang diambilnya dalam keadaan terpaksa, untuk merealisasikan rencana Shinichi keluar dari masalah yang melanda mereka itu, ia tidak bisa kembali ke usia yang sebenarnya, yang sudah terjangkit racun secara permanen, sel-sel di dalam tubuhnya melebur menjadi satu dengan APTX-4869 karena bertahun-tahun terkontaminasi. Haibara tidak sadar hingga melihat sel darahnya tidak bereaksi dengan penawar racun, kalau ia sudah kebal. Dan rencana Shinichi yang juga ia yakini akan berjalan lancar, bakal hancur oleh kunci penyelesaian itu sendiri.

Tangan Haibara sedikit gemetar ketika ia meraih ponsel dari dalam saku jas, dan menghubungi Shinichi yang mungkin sudah mulai menjalankan rencana penyergapan malam ini. Mendengar bunyi tersambung begitu lama, ia merasa semakin gugup dan ingin berlari keluar mencari Shinichi untuk menghentikannya. Haibara tahu takdir tidak dapat ditentang oleh manusia, tahu mengenai hukum karma bahwa semua yang berbuat dosa akan mendapatkan balasannya. Akan tetapi ia tidak ingin hidup Shinichi yang menjadi tumbal.

Nada sambung yang terus berdengung tidak kunjung berganti sapaan juga. Haibara berhenti ketika durasi telpon telah habis dan mendengar suara operator menggantikannya. Ia mencoba sekali lagi, dan lagi-lagi mendengar nada sambung yang berulang-ulang.

Suara operator yang kedua kali. Panggilan diulang ketiga kali. Telpon kembali tersambung, namun kali ini terputus dengan cepat dan tidak ada suara operator yang menandakan bahwa telpon terputus karena durasinya telah habis. Ia berusaha tenang, mengulanginya lagi dengan tangan masih gemetaran dan ponsel memproses perintahnya kemudian suara tut-tut-tut dan operator itu berbeda dari yang sebelumnya.

KAMI-SAMA—

Ponsel Shinichi Mati!

Ai Haibara tidak menjerit dengan bibir tergigit. Ketika menyadarinya ia mengusap wajah dengan frustasi dan jatuh terduduk di atas lantai. Sunyi dan dingin ruang membuat keadaannya semakin buruk, terpuruk dalam kegelisahan, tidak dapat menyelamatkan hidup Shinichi dari kehancuran.

Ia menutup mata dan menahan air yang nyaris keluar dari pelupuknya, untuk tidak menangis.


Di dalam gudang yang berseberangan dengan taman Beika, Shinichi menatap Kenji melalui senyum penuh percaya diri. Sementara, Kenji sendiri berwajah pucat tanpa mampu berkata apa-apa. Gudang penuh papan-papan kayu yang tersusun rapi dengan tinggi mencapai dua meter itu sebenarnya diterangi lampu, namun pandangan mereka terbatas sehingga Kenji Shintaro tidak dapat melihat dimana keberadaan pria bermasker yang katanya telah dilumpuhkan Shinichi, maupun tidak mengetahui apakah benar pria itu telah ditangkap oleh pimpinannya ini.

"Apa maksud Anda, tuan Kudo?" Sanggahannya sedikit terbata meski ia berusaha menutupinya melalui senyuman. "Aku hanya berpikir untuk melumpuhkannya agar tidak dapat kabur lagi."

"Dengan memasang peredam suara di senjatamu?" Shinichi tidak menatap lawan bicaranya lagi, pandangannya dialihkan ke ponsel yang baru ia ambil dari saku baju. "Bukankah kau berpikir untuk membunuhnya di sini dan beralasan bahwa dia melawan sehingga kau tidak punya pilihan? Kau memasang peredam suara agar tembakanmu tidak memancing perhatian yang lain, sehingga setelah membunuhnya kau memiliki waktu untuk mengambil bukti yang dibawanya."

Deduksi dari Shinichi diikuti getaran ponsel di dalam kantong celana Kenji. Matanya terbelalak saat melihat Shinichi kembali menatapnya. Kali ini seraya berdiri tegak, pria muda itu mengangkat ponsel untuk menunjukkan layarnya yang memproses panggilan keluar. Bersamaan dengan jari Shinichi mengakhiri panggilan, getaran ponsel di saku Kenji juga berhenti. Satu detik kemudian ponsel Kenji bergetar lagi, tepat setelah pria yang merupakan pimpinannya itu mendial nomer yang sama.

"Ini ponsel orang itu, dan barusan aku menghubungi nomer yang berada di riwayat panggilan masuk terakhir dalam ponsel ini." Shinichi mematikan panggilan lalu menurunkan tangan. "Sejak mengetahui bahwa aku akan melakukan penyergapan, kau berencana membunuhnya malam ini juga untuk menghilangkan jejak keterlibatanmu. Karena meski dia mati, tujuanmu untuk membongkar rahasiaku pun akan tercapai bersamaan dengan diprosesnya kasus ini."

"Kau salah paham, tuan Kudo... Aku tidak mengenal pria itu. Pasti ada seseorang yang menjebakku!"

Senyum Shinichi turun dan bibirnya membentuk garis tipis nyaris melengkung ke bawah. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana setelah itu. Setelah mengetahui bahwa Kenji Shintaro lebih pengecut dari yang ia sangka, antusiasnya jadi berkurang.

"Masih ada bukti lainnya." Ucap Shinichi dengan suara pelan. "Ada alat penyadap disemua handy talkie yang aku berikan pada kalian. Saat kau menelpon orang itu di dalam mobil tadi, aku sudah mendengar dan merekamnya."

Mendengar hal itu, Kenji spontan meremas pistol di tangannya. Dengan tangan gemetar ia menarik handy talkie dari balik jasnya, lalu tiba-tiba melemparkannya ke lantai dan menginjak-injak benda itu.

"Sial! Padahal semuanya sudah berjalan lancar! Sial! Sial!"

"Tanpa menyadap pembicaraanmu pun, aku sudah tahu dari awal." Shinichi menyela makian frustasi Kenji dan berhasil membuat pria itu menatapnya. "Hanya tujuh dari kalian yang tahu aku mengajukan cuti di hari kemerdekaan, dan hari itu hanya kau yang pergi ke Okinawa. Tentu saja, awalnya kau mengikutiku tanpa tahu yang akan kau temukan adalah perselingkuhanku. Maka dari itu kau tidak memiliki persiapan menyembunyikan keberangkatanmu, dan untuk membuat alibi di setiap transaksi, kau menyuruh orang lain menggantikanmu. Sayangnya, orang yang kau suruh itu sangat ceroboh, dia bahkan tidak sadar aku sudah mengintainya sejak dua hari yang lalu."

Perkataan Shinichi dihentikan oleh dirinya sendiri untuk memejamkan mata sejenak. Ketika kembali menatap lawan bicara di depannya, ia menimpali,

"Kenapa kau melakukannya, Kenji-san?"

"Kenapa?" Ulang Kenji penuh cemoohan. "Sebagai seorang senior yang harus rela diposisikan dibawah juniornya, dan sebagai seseorang yang sudah berkorban lebih banyak, mana mungkin aku bisa menerimamu sebagai pimpinan! Kau hanya bocah kemarin sore yang masuk ke kepolisian dan langsung naik jabatan! Aku ingin menunjukkan pada semua orang bahwa kau sama sekali tidak pantas!"

Kebencian yang begitu terasa di setiap perkataan Kenji diterima Shinichi dalam diam sambil memincingkan mata.

"Kau benar-benar tidak pantas, Shinichi Kudo! Seorang polisi tidak bermoral yang bisa berselingkuh sepertimu! Dan apa kau pikir kau bisa menyembunyikannya? Aku melihatnya sendiri, dia mendatangimu di depan kantor polisi dengan masih memakai seragam SMP! Kau juga mengajaknya menginap di hotel sampai jam satu pagi! Kau menjijikkan!"

Frustasi, ketakutan, dan amarah, bercampur menjadi satu di wajah Kenji saat mengatakan semua itu, diakhiri dengan tawa menyedihkan yang membuat Shinichi sebagai pemirsanya merasa muak. Tanpa sebuah tanggapan ia terus mendengarkan sampai pria 30 tahun itu puas memakinya.

"Kalau kau menangkapku, kau akan hancur bersamaku! Tidak akan aku biarkan kau lolos begitu saja!"

Pada akhirnya Shinichi Kudo tidak pernah menanggapi satu pun makiannya. Ia mendongak menatap lampu yang menyilaukan pandangannya ketika Shiratori dan Chiba datang menyergap Kenji yang masih terus memaki. Melalui handy talkie milik Shinichi yang menyala sejak tadi, semua polisi yang ikut dalam penyergapan mendengar pengakuan Kenji secara langsung. Kenji Shintaro dan orang suruhannya yang terborgol di sudut gudang, kemudian dibawa ke kantor polisi malam itu juga.

Berakhirnya mereka di penjara menjadi tanda satu lagi kasus diselesaikan oleh Shinichi. Namun kemenangannya kali ini terasa hampa. Bukankah benar perkataan Kenji tadi, seorang polisi tidak bermoral sepertinya tidaklah pantas menyandang status sebagai pimpinan. Ia telah menghancurkan hidupnya sendiri, demi cinta butanya kepada Haibara, sementara wanita kejam yang telah diperjuangkannya mati-matian itu tidak paham sedikitpun apa yang Shinichi harapkan.

Apa yang Shinichi harapkan hanya membebaskan Haibara dari penderitaan, membuatnya merasakan bagaimana bahagianya saat dia bisa memiliki seseorang, dan menghancurkan takdir yang Haibara percaya mengutuknya seumur hidup untuk berpisah dari orang-orang yang dicintainya.

Maka, jika setelah semua ini Haibara tetap pergi darinya, Shinichi benar-benar akan membiarkan hukum menjeratnya juga, menghancurkan segalanya bersama dengan hubungan mereka.

###

"Shinichi?"

Ruang tamu yang terang itu mendengungkan namanya dari keheningan pekat sejak ia menginjakkan kaki ke dalam rumah. Dengan berat hati Shinichi menatap pemiliknya yang saat ini membangunkan diri di atas sofa seraya mengusap kelopak berselimut subtansi air mata itu. Ia tidak menyadari istrinya sekurus ini hingga sekarang, wajahnya pucat dan dinodai kesedihan, dan bekas susu di bajunya menunjukkan belum lama anak mereka menangis kelaparan dan dialah satu-satunya yang siaga membuatkannya susu formula di tengah malam.

"Kenapa kau baru pulang? Aku cemas sekali padamu, kau bahkan tidak menjawab telponku."

"Ada kasus yang aku tangani." Shinichi menjawabnya sambil berlalu.

Ia berjalan menaiki anak-anak tangga untuk pergi ke kamarnya yang terpisah dari kamar anak dan istrinya sejak tiga tahun lalu, sejak pertama menyentuh dan menanamkan benih Ichigo di rahim wanita itu, menjaga diri untuk tidak mengkhianati cintanya pada Haibara, pikirnya, yang justru mengabaikan kewajibannya sebagai seorang kepala keluarga.

"Shinichi, ada yang ingin aku tanyakan..."

Ran ternyata mengikutinya. Dari belakang wanita itu menatap punggung Shinichi yang berada di ambang pintu kamar, yang berhenti untuk menantikan apa pertanyaannya.

"Sonoko bilang, kau menginap di hotel kemarin, apa itu benar?" Suara itu berhenti dengan bimbang, dan berlanjut lagi dalam keragu-raguan. "Kau... bersama seseorang, seorang wanita... Pelayan di hotel itu yang bilang pada Sonoko..."

Butuh waktu bagi Shinichi untuk membiarkan ingatannya menggambarkan kejadian malam itu, tepat ketika seorang pelayan mengantarkan makan malam ke kamar hotel yang disewanya bersama Haibara. Ketika itu pelayan tidak benar-benar melihat sosok Haibara, melainkan hanya melihat siluetnya yang baru keluar dari kamar mandi sementara mereka melakukan transaksi pembayaran di depan pintu.

"Itu benar."

"Shinichi!"

Jawaban Shinichi yang bernada tenang justru membuat Ran berteriak seketika.

"Aku sudah bersabar dengan sikapmu selama ini, tapi kenapa kau masih mengkhianatiku! Apa kesalahan yang aku buat padamu!"

Shinichi tahu, tanpa melihatnya, Ran saat ini menangis. Ia melepaskan handle pintu seraya menarik napas dalam-dalam sebelum membalikkan badan untuk mempertemukan pandangan. Bahkan melihat air matanya secara langsung seperti ini hanya dapat menyentuh sedikit dari bagian hatinya. Bukan hanya cinta, rasa iba pada Ran pun tidak dapat Shinichi rasakan lagi.

"Bukan kau yang salah, akulah yang salah. Jadi kenapa kau tidak mengajukan percerian saja?"

Setelah Shinichi mengucapkan semua itu, ia seperti melihat Haibara lima tahun lalu mengatakan hal yang kurang lebih sama kejamnya, dan baru memahami seperih apa luka yang Ran rasakan selama ini. Ia melihat wanita yang masih menangis itu mendekat, lalu menamparnya, dan ia paham, paham jika ia pantas mendapatkannya. Dalam waktu kurang dari 24 jam ia telah mendapat tamparan dari dua wanita, yang ironisnya kedua wanita itu adalah sosok yang paling dekat dengan Shinichi sendiri, sebuah deklarasi bahwa Shinichi Kudo telah berubah menjadi seorang pria bajingan sejati.

"Aku benar-benar sudah tidak tahu lagi siapa kau sebenarnya..." Ran menatapnya nanar dari pandangan yang tidak berhenti meneteskan air mata. "Sejak menikah sampai hari ini, kau bukan Shinichi. Kemana kau menyembunyikan Shinichi-ku? Kembalikan dia padaku! Kumohon kembalikan Shinichi padaku!" Sambil berteriak Ran jatuh berlutut di depan Shinichi, menggenggam erat ujung baju suaminya itu dan menangis terisak.

Mereka adalah dua contoh manusia yang baru pertama kali kehilangan sosok yang dicintai, dimana sosok itu masih hidup dan masih bisa dilihat keberadaanya, dan mengalaminya untuk yang pertama kali membuat mereka menjadi gila. Di sisi lain Shinichi mati rasa akan simpatinya terhadap orang lain, Ran tidak berdaya sekedar mempertahankan harga dirinya. Shinichi tidak bisa membayangkan kegilaan macam apa yang selama ini Haibara rasakan setelah kehilangan begitu banyak orang yang dicintainya dan masih menjalani hidup seperti di neraka sejak lahir, bersama penjahat-penjahat yang notabene pembunuh keluarganya, sehingga ilmuan muda itu masih dapat merelakan Shinichi untuk orang lain selama ini. Shinichi dan Ran yang memiliki segala jenis kebahagian sejak lahir saja, masih mati-matian memperjuangkan cinta. Gila, Haibara benar-benar sudah gila.

"Maaf, Ran." Perkataan Shinichi menyela tangisan Ran untuk sesaat, saat ia melanjutkan, tangisan itu kembali memenuhi lorong lantai dua rumah mereka. "Shinichi-mu itu sudah lama mati ditangan wanita lain."

10.