Transmisi Kehidupan.
Ai Haibara menemuinya setelah penyergapan berakhir, di rumah Kudo yang tepat bersebalahan dengan tempat tinggalnya. Waktu itu matanya masih sembab dan berkabut di bawah pandangan mata yang tak jauh berbeda. Selama berlari, ketakutan telah menutup kepekaan batin dan fisiknya, kakinya bergerak gemetaran dengan rasa dingin, Haibara hanya berpikir untuk menyanpaikan hasil penelitian secepatnya, menuntut Shinichi untuk membuka pintu yang ia ketuk, dan ketuk, lagi.
Namun di hadapannya ini bukan dia. Mata coklat sembab yang terbelalak di antara sesenggukan tangis yang nyaris reda, pipinya pucat. Rambutnya kusut dan tidak seperti biasanya orang itu hadir, karena orang itu merupakan gambaran sosok ibu muda yang ceria dan penuh kehangatan. Tapi Haibara hanya menatap sosok wanita itu, dengan bibir sedikit terbuka hendak menyapa. Ia tidak tahu harus berkata apa, karena ia tahu, entah bagaimana ia tahu bahwa ia adalah orang yang bertanggung jawab atas ini semua.
Dan ketika Haibara telah sedikit mengumpulkan keberaniannya yang kocar-kacir, ia melihat Shinichi membuyarkan tekadnya. Pegangan Haibara di kusen pintu lepas, tepat bersamaan dengan namanya dipanggil dalam cemas. Sementara mata wanita itu menggelap dan menatap mereka, sedikit bersembunyi, yang sebenarnya adalah hal-hal yang membuat Haibara ingat mengapa ia tidak seharusnya terburu-buru menemui Shinichi.
Dengan kesadaran yang untungnya tersisa sedikit, Haibara mundur menjaga wanita itu sebelum melihat langsung bagaimana dunia selama ini berjalan di belakang punggungnya. Akan tetapi yang terjadi selanjutnya di rumah Kudo malam itu, tidak dapat ia hindari sama sekali. Shinichi Kudo membawa Ai Haibara masuk ke dalam rumah (rumah tangganya) di hadapan istrinya.
Disinilah semua itu berakhir, atau... berawal, bayang-bayang wanita itu berkeriap hilang. Ketika Haibara berdiri di antara rak-rak buku, berdua bersama Shinichi, dan mata-mata menggelap, kegusaran. Kenyataan itu tidak hanya mengerikan baginya, sampai-sampai punggung Shinichi ambruk ke belakang menubruk meja kerja. Dan Shinichi tidak sendiri, Haibara telah menahan tubuhnya untuk tidak jatuh sejak pertama kali mendengar bahwa pelaku pemerasan itu sudah ditangkap polisi.
"Lalu..." Shinichi bertanya dengan suara yang terasa menyakitkan bahkan bagi pemirsanya. "Apa yang akan kau lakukan? Kau akan meninggalkanku?"
Kepala pria muda itu terangkat perlahan, menemui pandangan Haibara dalam keremangan lampu yang hanya menyala dari meja kerja. Haibara sebagai penerimanya tidak kunjung menjawab karena baginya yang terpenting bukan apa yang akan ia lakukan, melainkan apa yang akan Shinichi lakukan. Apapun yang akan Haibara lakukan sekarang tergantung Shinichi sendiri. Di dalam keadaan seperti ini sudah tidak mungkin baginya melarikan diri.
"Yang lebih penting adalah pekerjaanmu, Kudo. Bagaimana kau akan mendapatkannya kembali?" Haibara berusaha untuk tidak menangis, meski bayangan akan masa depan Shinichi menghantui. Pekerjaan, nama baik, bahkan keluarganya, semua itu hancur di tangan Haibara.
"Tidak ada harapan." Perkataan Shinichi yang sejernih kristal sekali lagi menyakiti Haibara.
Haibara sampai tidak sanggup sekedar menatap mata sebiru langit itu. Langit itu sekarang mendung dan bergemuruh, badai akan segera datang menghancurkan mereka. Kepalanya menunduk dan matanya terpejam, mencoba untuk tidak menangis.
"Kalau begitu apa yang harus kita lakukan?"
Bahkan Shinichi Kudo yang terkenal jenius itupun sampai tidak memiliki jawaban, suaranya absen cukup lama, mengizinkan jam dinding memgambil peran sebagai pembicara. Di sisi lain, Haibara mulai mengangkat kepala memandangnya, menunggu, dan menunggu, akan adanya harapan karena Shinichi memiliki rencana cadangan. Akan tetapi, ketika detektif muda itu memalingkan mata dari Haibara, menundukkan kepala, ia paham. Mereka resmi hancur hari ini.
"Aku akan segera mengurus kepindahanmu," Shinichi masih tidak menatapnya saat bicara, dan kemudian langsung melanjutkan perkataannya, "Dan bersiaplah untuk menjadi saksi di pengadilan, sebagai Ai Haibara."
Perkataan itu cukup jelas dan mudah dipahami, namun Haibara tidak terkejut sama sekali. Sejak pertama melihat penelitiannya sendiri, jalan seperti itu sudah menjadi salah satu isi gambarannya. Ia pun sudah belajar meneguhkan hati sejak pertama menginjakkan kaki masuk ke rumah Kudo lima menit yang lalu. Hanya saja ia tidak dapat menyembunyikan kesedihan dari bayang matanya, terlebih melihat Shinichi Kudo sekarang ini.
Ai Haibara menarik napas yang menyesakkan dadanya, semenjak itu mencoba menjadi salah satu yang lebih kuat di antara mereka. Ia berjalan menghampiri Shinichi untuk meraih tangannya dan digenggam. Jika dikatakan hidup Shinichi Kudo hancur sepenuhnya, hidup Ai Haibara tidak sampai setengahnya. Asalkan Haibara memeganginya dengan erat, Shinichi pasti akan bisa bangkit kembali.
"Aku berjanji, Kudo," Haibara menarik pandangan lawan bicaranya untuk kembali bertemu hanya dengan sepenggal perkataan itu. "Akan kulakukan apapun agar kau bisa mendapatkan semuanya kembali."
Mendengar semua itu, Shinichi bangkit berdiri dari tempat bersandar untuk beralih memeluk dan membekapnya erat, sebelum menarik seulas seringaian yang tidak bisa Haibara lihat.
Kesunyian di malam penyergapan, dan sekaligus malam dimana Haibara memulai penelitian, hingga dini hari pertemuannya dengan Shinichi, hanya sebuah transmisi sebelum badai menyerang. Berita itu menyebar dengan cepat, memenuhi media, dan mengejutkan semua kalangan. Media telah lebih dulu mendapatkan bocoran informasi dari pihak Kenji, dengan kesaksian beberapa anonim yang mengkonfirmasi.
Haibara sendiri telah menceritakan semuanya pada Profesor Agasa tepat sebelum semua itu terjadi, termasuk menceritakan perihal rencana kepindahannya setelah persidangan, beserta bagaimana ia dan Shinichi memulai semua ini. Namun reaksi yang profesor keluarkan tidak seberapa dibandingkan reaksi keluarga Ran ketika desas-desus perselingkuhan Shinichi mulai disebar luaskan. Kogoro Mouri bersama istrinya mendatangi rumah Shinichi dan mereka nyaris terlibat perkelahian. Sementara Ran sendiri... dia masih bertahan untuk saat ini, karena dia meyakini Shinichi akan berubah setelah kasus ini selesai. Sebuah keyakinan yang sia-sia, sebenarnya, jika dihadapkan dengan kenyataan.
Kenyataannya, tidak akan ada yang berubah, Haibara tahu itu. Terlebih ia telah berjanji akan melakukan apapun yang Shinichi perintahkan, dan bahkan salah satunya sedang ia laksanakan sekarang. Sekarang ini ia berdiri di ruang sidang sebagai pusat perhatian, tak sekalipun berkedip menyaksikan perpindahan statusnya sebagai saksi menjadi tersangka utama dalam lingkup sosial, dan membiarkan kedua matanya mencari salah satu wajah di antara mereka. Mata sebiru samudranya mengarah pada titik penyesalan. Tepat di sebuah titik dimana Ran menatapnya dari balik air mata. Mungkin wanita itu mengutuknya di dalam hati, namun entah bagaimana ia satu-satunya di bagian ruang itu yang tidak berbisik-bisik.
"Intruksi Yang Mulia, saya meminta izin untuk mengajukan beberapa pertanyaan kepada Haibara-san."
Sadar oleh suara penasehat hukum dari pihak Kenji, Haibara menoleh dan mengamati Hakim dalam diam. Inilah babak pertarungan utama mereka, ia dan Shinichi sudah memperkirakan bahwa Kenji akan memutar balikkan keadaan pada saat Haibara bersaksi.
"Dipersilahkan."
Ketika Hakim memberikan izinnya, Haibara menarik napas secara diam-diam. Penasehat hukum dari Kenji mengurai pertanyaan panjang-lebar, sementara Shinichi di bagian penuntut umum memperhatikan dalam diam bagaimana detail hubungannya dengan Haibara diumbar. Belum lagi bagian tuduhan balik yang berisi bahwa Shinichi telah menjebak Kenji karena Kenji Shintaro menolak merasiakan perselingkuhannya. Sesaat Shinichi menatap tanpa berkedip, sampai matanya mengarah pada Haibara. Dari jarak yang tidak terlalu jauh, ia dapat melihat perasaan terluka tersirat di mata biru yang biasanya dipenuhi rahasia itu. Hatinya goyah, dan terasa sakit. Cukup terganggu, Detektif muda ini pun berdiri secara perlahan.
"Jika benar Anda adalah sosok di foto itu, dan Anda juga yang bersama Kudo-san di Okinawa, apa yang sedang kalian lakukan bersama? Apa kalian menginap di kamar hotel yang sama?"
"Intruksi." Shinichi menyela sebelum Haibara menjawabnya. "Saya keberatan, Yang Mulia. Pertanyaan penasehat hukum tidak ada hubungannya dengan kasus ini dan telah menyimpang terlalu jauh." Lanjutnya dengan suara cukup tegas dan keras.
Namun Hakim tidak langsung menjawab, justru berdiskusi bersama. Satu menit berikutnya, Shinichi Kudo ternyata harus menerima bahwa rencana Kenji berjalan lancar.
"Keberatan di terima, akan tetapi pertanyaan dan keterangan penasehat hukum barusan akan dimasukkan ke dalam agenda Sidang Disiplin Polisi."
Suasana sidang kembali sunyi setelah keputusan hakim tersebut. Akan tetapi kegusaran justru mengambil alih Ai Haibara. Ia tidak paham mengapa hakim menyinggung sidang disiplin polisi ketika status Shinichi Kudo telah mengundurkan diri. Sampai akhirnya ia menyadari bahwa peran Shinichi saat ini bukanlah sebagai seorang korban sekaligus saksi kunci, melainkan sebagai penyidik umum.
Tapi bagaimana bisa?
"Saksi dipersilahkan meninggalkan persidangan."
Haibara masih tertegun, untuk beberapa saat. Perlu dua kali hakim memanggilnya sampai akhirnya ia mengundurkan diri dan meninggalkan ruang sidang menuju ruang tunggu.
Dengan posisi tangan terlipat di depan dada ia bersandar pada salah satu sudut dinding di ruangan itu. Entah mengapa, ia langsung merasa janggal saat menyadari kebohongan Shinichi yang satu ini. Kenapa Shinichi harus berbohong soal statusnya sebagai polisi?
Haibara mendesah napas berat seraya memijit kepalanya. Ada sesuatu yang masih tersembunyi, sesuatu yang berkaitan dengan rencana Shinichi. Ia sepertinya tahu rencana itu, tapi entah kenapa ia juga lupa. Sekeras apapun ia mencoba, ia tetap tidak bisa ingat sama sekali. Kegagalan untuk menghadirkan Shiho Miyano di persidangan dan semua kejadian buruk akhir-akhir ini menguras semua konsentrasi Haibara.
"Bocah kurang ajar satu ini!"
Kedua alis Haibara meninggi, sekejab, ekspresi keterkejutannya akan suara tinggi yang tiba-tiba masuk menerjang pintu ruang tunggu, diikuti sosok familiar seorang wanita. Memutuskan untuk melihat apa yang akan dilakukan wanita muda berambut pendek itu, sang ilmuan muda hanya berdiam diri.
"Sonoko! Hentikan!"
Ran, batin Haibara dalam hati saat sosoknya menghambur dari belakang. Tidak salah lagi, ia akan dilibatkan dalam percekcokan. Mengingat saksi yang lain lebih memilih menunggu sambil menonton jalannya persidangan, Ai Haibara adalah satu-satunya penghuni ruang tunggu ini. Selain itu, saksi mana lagi yang akan mendapat amukan seperti ini jika bukan dirinya yang berstatus sebagai selingkuhan Shinichi Kudo?
"Kurang baik bagaimana Ran padamu sampai kau menikamnya dari belakang?!"
Sonoko berusaha melepaskan diri dari Ran yang terus menariknya mundur, hendak mencakar Haibara. Walau pun jika Ran tidak menghentikannya, ia sendiri juga tidak berniat menghindarinya.
"Sonoko! Aku bilang hentikan! Ai-chan tidak tahu apa-apa, dia hanya anak kecil!"
Pertunjukkan yang menarik andai kata Haibara sedang dalam suasana hati yang bagus, dan andai ia bukan obyek utama. Tapi tidak tentu saja. Sonoko tidak henti-hentinya menuding Haibara, sementara Ran menyertakan kebaikan, kebaikan yang tidak pada tempatnya. Haibara tidak ingin seperti ini, karena ia memang salah. Salah! Inilah takdirnya, karma memang harus ditanggungnya.
Ai Haibara melangkahkan kaki untuk dengan sengaja mendekati mereka berdua. Nyatanya setelah Ran melepaskan Sonoko, wanita berambut pendek itu tidak juga menerjangnya kecuali makian yang menjadi-jadi. Entah bagaimana kasarnya, ia tidak perduli. Karena jika bukan dari Ran sendiri, hukuman itu tidak setimpal bagi Haibara.
"Aku benar-benar minta maaf." Ia menyela dengan suara datar dan tenang.
Bagi yang melihat, ekspresi Haibara saat ini mungkin terlihat tidak menyesal sama sekali, karena ia sendiri juga tidak tahu bagaimana cara merubah bentuk wajahnya yang terlanjur kaku. Akan tetapi di balik perilaku dingin itu, kesakitannya dalam batas tidak dapat digambarankan. Seraya menahan air matanya ilmuan muda ini berharap jika semua adalah hutang, ia dapat membayarnya sekarang.
"Aku dan Kudo sudah menjalin hubungan yang tidak sepantasnya di belakangmu selama ini." Haibara menatap Ran dan mencoba mencari kemarahan atau rasa benci di mata coklat itu, namun yang ia temui bukan apapun kecuali rasa terluka. "Aku tahu kau mengalami situasi yang sulit, tapi aku harap kau bisa menerima keberadaanku sementara waktu. Karena untuk saat ini, akulah yang paling Kudo butuhkan."
Buah dari perkataan Haibara adalah sebuah tamparan yang nyaris mengenainya, hanya saja dengan reflek Ran sebagai atlit karate, tamparan Sonoko berhasil ditepis oleh wanita itu. Saat ini, Ai Haibara dapat melihat percik kemarahan di mata istri Shinichi.
"Yang paling dibutuhkan oleh seorang suami adalah istrinya, bukan orang lain." Ran menjawabnya, meski gagal menahan air mata.
Wanita itu kemudian menarik Sonoko pergi bersamanya tanpa berkata apa-apa lagi. Padahal hal jahat yang telah Haibara lakukan padanya belum terbayar, setidaknya ia pantas mendapat dua sampai tiga kali tamparan. Dan penyesalan terbesar Haibara adalah absennya kebencian dari dalam mata Ran sendiri.
Memang benar takdir itu, Ran selamanya adalah malaikat, sementara Shiho Miyano sejak terlahir pertama kali sampai terlahir kembali sebagai Ai Haibara, ditakdirkan untuk menjadi jahat.
Malam belum berjalan separuhnya saat Shinichi pulang, ke rumah Profesor Agasa. Dengan dalih menghindari pertengkaran melawan Ran, ia berhasil diizinkan masuk. Pria tambun itu belum terbiasa akan hubungan Shinichi dan Haibara yang telah menyimpang jauh mengingat mereka seperti anjing dan kucing saat bersama, sehingga memilih tidak ikut campur saat mereka masuk ke dalam kamar berdua.
Koper Haibara yang telah siap di atas ranjang adalah hal pertama yang Shinichi temukan, kemudian paspor di atas meja, yang sebenarnya adalah pengingat apa tujuan utama Shinichi kemari. Akan tetapi pria muda ini memilih mengkesampingkan perihal kepindahan itu untuk langsung bertanya,
"Jadi, apa yang Ran dan Sonoko lakukan padamu?"
Haibara meletakkan koper yang baru diangkatnya dari ranjang, menempatkannya lebih dulu di lantai, kemudian duduk sembari menatap Shinichi yang berdiri di depan pintu. Meski ia mau mengelak, itu tidak akan berhasil karena seusai sidang tadi pagi Shinichi menemuinya dan berpapasan dengan Ran serta Sonoko yang baru meninggalkan ruang tunggu.
"Kau sendiri, kenapa tidak mengatakan padaku sejak awal bahwa pengunduran dirimu itu palsu?" Haibara menyilangkan kedua tangannya sebagai kamuflase sehingga Shinichi tidak dapat membaca kesedihannya. "Masih ada yang kau rencanakan?"
"Kau serius mau berdebat denganku disaat seperti ini?" Shinichi jelas tidak pernah mau kalah dalam perdebatan, matanya telah menatap lebih tajam ketimbang Haibara sendiri.
"Aku tidak suka dibohongi, Kudo."
Mendengar nada suara Haibara yang mutlak, detektif muda itu menghembuskan napas secara terang-terangan. Mereka akan berdebat semalaman jika ia terus menanggapi, dan jujur, saat ini Shinichi sangat lelah karena menghadiri dua persidangan dalam waktu sehari.
"Tidak ada maksud apapun, aku hanya tidak berpikir bahwa kau perlu tahu." Ia menjawab dengan pelan dan tidak lagi memberi tatapan tajam. "Lagi pula, pada akhirnya aku benar-benar sudah kehilangan pekerjaanku. Pengadilan memutuskan untuk memberiku sanksi, salah satunya memecatku secara tidak hormat."
Haibara perlu satu detik untuk memahami dan bertanya balik.
"Salah satunya?"
Shinichi mengangguk seketika, dengan pelan. Ia meraih kursi belajar di dekat meja untuk diduduki, bersandar nyaman di sana sebelum menjelaskan.
"Satunya lagi penjara selama lima tahun atau denda sebanyak 70 juta yen."
Mendengar nominal yang Shinichi sebutkan, Haibara nyaris ternganga. Lipatang lengannya mengendur dan ia tidak dapat berkata apa-apa, semua itu jelas sekali bagi pemirsanya sehingga cepat-cepat menambahi.
"Aku mengajukan banding." Suara Shinichi terdengar lebih yakin kali ini. "Dan maka dari itu, kita belum bisa keluar negeri. Selain karena kita harus menghadiri beberapa sidang lagi, aku perlu mempergunakan uangnya untuk membayar denda. Jadi sementara kita akan tinggal di Osaka."
Haibara cukup lega, tapi ada juga perasaan tidak puas di hatinya. Ia menarik napas supaya emosi tidak menguasai dirinya saat ini. Keadaan Shinichi sudah cukup buruk, ia tidak bisa mengedepankan kemauannya sendiri.
"Sampai kapan kita tinggal di Osaka?"
"Sampai aku punya cukup uang untuk tinggal di Amerika." Jawab Shinichi sedikit ragu.
Namun kali ini Haibara justru sekedar mengangguk menanggapi jawabannya. Ia juga sama lelahnya dengan Shinichi meski tidak sampai dua kali mengikuti sidang. Lelah yang Haibara rasakan lebih banyak diakibatkan oleh tekanan sosial, belum lagi memikirkan perihal ia yang akan menjadi saksi untuk persidangan Shinichi minggu depan.
"Aku minta maaf, Haibara."
Permintaan yang terlalu tiba-tiba itu menarik kembali konsentrasinya. Mata Haibara menatap mata Shinichi dengan pandangan menuntut penjelasan, akan tetapi detektif muda itu menundukkan kepala seolah menyembunyikan cerminan rahasia dibalik tatapannya.
"Aku kehilangan pekerjaan, dan tidak punya uang. Padahal seharusnya aku bisa memberikan apapun yang kau inginkan."
Mendengar perkataan itu, Haibara baru menyadari bahwa ia telah membuat mimik di wajahnya terlalu jelas, sehingga Shinichi salah memahami artinya. Tapi ini hal yang cukup lucu sampai-sampai perasaan tertekan yang ia rasakan beberapa saat lalu langsung memudar, dan kini bahkan dapat tersenyum. Haibara mengangkat tangan kanan dengan keadaan menengadah dan menunggu Shinichi untuk meraihnya. Tepat saat tangan mereka saling menggenggam, ia menepuk-nepuk kepala Shinichi menggunakan tangannya yang satu lagi.
"Kau terlihat jinak sekarang," Kata Haibara sambil menertawai sosok lawan bicaranya. "Anjing pintar. Kemarin kau hampir saja menggigitku."
Shinichi menepis kedua tangan Haibara, seketika, lalu mendengus sebal. Ekspresinya yang seperti itu malah membuat ilmuan muda ini semakin puas. Haibara menyeringai seraya mengacak-acak rambut Shinichi sekali lagi.
"Aku serius, Haibara."
Namun sepertinya Shinichi tidak ikut bersenang-senang bersamanya, nada suara pria muda itu masih terdengar datar. Pergelangan tangan Haibara digenggam dan ditarik oleh Shinichi supaya ia berhenti. Keadaan mereka yang saat ini dipenuhi berbagai masalah memang dapat menyebabkan perasaan menjadi sensitif, Haibara mengerti.
"Dasar bodoh." Haibara melepaskan tangannya dari Shinichi kemudian menyelipkan rambut ke belakang telinga untuk meredakan selera humornya, tapi tetap menjaga diri untuk tersenyum. "Kita tidak dalam keadaan untuk memilih. Kalau aku bisa memilih, aku tidak mau hidup miskin bersamamu. Tapi ini hanya sementara, Kudo. Aku tahu kau bisa mengembalikan semuanya seperti semula."
Shinichi tersenyum meski sedikit, selebihnya ia bangkit untuk mengambil tempat lebih dekat dengan Haibara. Ia mengecup bibirnya. Mengingat kembali kapan terakhir kali mereka sedekat ini tanpa harus melewati berdebatan, membuat Haibara tidak ingin menghindar kali ini. Sosok Shinichi Kudo selayaknya udara, sangat sulit untuk mengendalikannya. Namun, itulah yang selalu membuatnya menyadari bahwa pria ini memberikannya kehidupan seperti udara, membawakannya hawa panas dan dingin, bahkan terkadang menjelma menjadi angin dan memporal-porandakan kehidupannya.
"Kali ini, aku percaya padamu sepenuhnya, Kudo-kun."
11.
Note: Pertama, maaf updatenya yang super lama, dan yang kedua, ada perasaan janggal saat saya mengedit chapter ini, mungkin dari diksi atau plotnya, atau bahkan kedua-duanya. Tapi mumpung ada feel jadi saya selesaikan secepat mungkin. Kalau mungkin kejanggalannya cukup mengganggu pasti akan saya edit kedepannya.
Thank for read and review, and i read all the review! Im so happy you guys enjoy this fiction! :)
Dan oh, kalau ada yg berkenan bisa dukung saya juga di trakteerdotid dengan cara membelikan saya 'cendol'. Visit trakteer (titik) id (garis miring) Ikanteri43kg. Ganti semua yg di dalam kurung dengan simbol dan hilangkan spasinya.
Sekali lagi terima kasih!
