Musim panas, 2013.

Shinichi membuka matanya dengan rasa kantuk. Ia tidak bisa tidur juga meski sudah mencoba begitu keras. Pagi tidak datang dengan cepat, rasanya telah ribuan jam ia menunggu.

Dengan memaksakan tubuhnya, ia mendudukan diri. Lalu memandang ruang tamu tempatnya berada. Shinichi sedikit berharap Ai Haibara akan datang ke rumahnya seperti waktu itu, entah dalam bentuk wanita dewasa maupun anak-anak. Ia berharap setidaknya Haibara sedikit berusaha memperjuangkannya.

... Kriet...

Shinichi tersentak!

Diteruskan dengan menengok, melihat pintu utama rumahnya tiba-tiba bergeser terbuka. Cahaya matahari pagi menyilaukan helaian rambut pelakunya. Coklat kemerahan. Jantung Shinichi berdegup kencang. Yang anehnya, tiba-tiba terasa sakit seiring tatapan matanya yang tanpa sadar telah bersinar, berubah berangsur datar.

"Shinichi?"

Bukan Haibara seperti apa yang dilihatnya sedetik lalu yang ada di sana. Sebagai pemilik nama, ia juga menurunkan pandangannya. Mungkin rasa kantuk dan lelah telah membentuk imajinasinya. Atau mungkin malah harapannya yang terlalu besar penyebab itu semua.

"Shinichi, kau baik-baik saja? Dasar! Kenapa kau tidak mengangkat telpon atau membalas pesanku?"

Sosok itu menghambur masuk. Sosok Ran Mouri yang merupakan satu-satunya pelaku yang telah membuka pintu rumah Kudo dan kini sedang melewati pintu itu seraya menyemburkan kalimat penuh kekesalan dan kecemasan.

Wajah Shinichi yang masih menghadap lantai, menyamping sedikit. Menghindari pertemuan mata dengan tamunya sembari menahan rasa sakit.

"Aku tidak sempat." Jawabnya nyaris tanpa tenaga.

Mendengarnya, Ran berhenti sejenak, sebelum benar-benar menghapus jarak di antara mereka.

"Apa kau sakit?" Gadis itu bertanya dan meraih kedua belah pipi Shinichi.

Sementara, Shinichi tidak menjawab dengan suara, melainkan dengan gelengan pelan sebelum berdiri dari duduknya, melepaskan diri dari kedua tangan Ran yang membingkai wajahnya. Ia telah mengambil satu langkah menjauh saat menengok dan berkata menggunakan nada datar,

"Aku mau mandi, sebaiknya kau cepat berangkat kuliah sebelum terlambat."

"Aku sengaja berangkat lebih pagi untuk membuatkanmu sarapan lebih dulu." Ran menyahut cepat sambil memasang senyum.

Sebuah senyum yang mengingatkan Shinichi pada hal-hal yang harusnya ia selesaikan lebih cepat. Hanya saja tenaganya tidak cukup untuk memasuki sebuah permasalahan baru saat ini. Alih-alih, pemuda itu pun sekedar bergumam, lalu melangkah pergi.

Shinichi menyadari ia telah berlaku bodoh dan jahat. Ada Ran yang terus setia bersamanya, namun ia masih mengharapkan Haibara. Bahkan dengan penuh kesadaran ia membiarkan diri menengok ke arah jendela begitu sampai di kamarnya pada lantai dua. Matanya memandang jauh seolah ingin menembus dinding rumah tetangga dan melihat apakah Haibara bisa menjalani pagi sama seperti biasanya, ataukah sepertinya, yang seolah telah kehilangan seluruh dunia.


Ketika akhirnya Shinichi kembali ke bawah, satu jam setelahnya, ia menemukan Ran sudah menyiapkan makanan berupa roti isi di meja makan. Shinichi menghampirinya dengan menjaga wajahya tetap datar, kontras dari gadis itu sendiri yang tersenyum lebar.

"Lihat dirimu? Apa kau benar-benar akan berangkat seperti itu?" Ran terkikik kecil sambil berjalan mendekat.

Demi menyambung pandangan, Shinichi mengangkat wajahnya. Ran berjinjit dan mengusap rambutnya yang masih berantakan saat itu. Secara tiba-tiba Shinichi melihat bayangan sosok dewasa Haibara, persis melakukan hal yang sama. Hasratnya membuncah dan ia tidak menahan diri untuk meraih tubuh gadis di depannya dalam dekapan. Shinichi menatap mata gadis itu dalam-dalam, menyadari betul iris coklat sebagai pemandangan, alih-alih warna biru seperti apa yang ia inginkan.

"Shin—"

Dengan penuh kesadaran Shinichi mempertemukan bibir mereka, membungkam panggilan pemiliknya tanpa celah. Kali ini, tidak ada yang menghalanginya, dan tidak ada penolakan. Ia mencoba merasakan sensasi imajinatif dari dalam benaknya. Mungkin seperti inilah rasanya mencium Haibara. Terasa... hambar, dan sedikit menyesakan dada.

Semakin ia berusaha, semakin hilang hasrat dalam dirinya. Bayangan Haibara kian memudar, kemudian perlahan-lahan menghilang.

Shinichi melepaskan Ran nyaris seketika ketika imajinasinya tidak dapat lagi menggambar sosok Haibara. Ia kemudian menatap wajah gadis itu yang memerah sebelum memejam dan membuang muka.

Kenapa?

Bahkan bersama Ran pun, hasratnya pada Haibara tidak dapat sirna. Yang Shinichi rasakan pada Ran justru rasa bersalah, karena ia telah menjadikan gadis itu sebagai pelampiasan semata.

"Maaf..." ucap Shinichi pelan, nyaris bergumam.

Kontras, Ran terkikik kecil sebelum membalas, "Kenapa kau minta maaf?"

Kemudian gadis itu kembali mendekat dan mengecup pipi Shinichi.

Untuk beberapa saat Shinichi terdiam. Ia memandang wajah Ran lekat-lekat, dan rasanya ia semakin tidak kuasa menahan rasa bersalah dalam dadanya. Memejam sesaat, Shinichi lalu mengalihkan muka sebelum mengambil langkah ke dekat meja makan dan meraih salah satu roti isi di sana. Ia memandang dalam diam sebelum meletakkannya kembali, lalu menengok Ran yang masih berdiri di belakang.

Shinichi Kudo bukan penjahat seperti Haibara, ia tidak dapat lagi berpura-pura.

"Ran?" Panggil Shinichi pelan.

"Ada apa?" Jawab Ran sambil mendekat.

Shinichi memutar langkahnya, menghadap Ran secara langsung. Kini jarak mereka hanya tersisa satu langkah, begitu dekat sampai-sampai pemuda ini dapat melihat dengan jelas ketulusan, garis bahagia, dan juga sirat haru yang terangkum menjadi satu membentuk ekspresi di wajah lawannya. Keyakinan dan tekad Shinichi sedetik lalu tiba-tiba sirna, teralihkan ke dalam telapak tangan yang kini ia genggam erat, seerat ia menggenggam egonya.

Ia memang bukan orang yang jahat seperti Haibara yang dapat berpura-pura hanya demi meraih ambisi pribadi. Namun ia juga bukan pria yang benar-benar tega membuat wanita menangis. Ternyata meski mendapat kesempatan, Shinichi pun tidak memiliki keberanian untuk menyakiti seseorang. Ia tidak tega mematahkan hati Ran dan membuat wanita yang pernah dicintainya itu merasakan sakit yang sama.

"Ada apa, Shinichi?" Ran mengulang, menyadarkan pemuda ini dari kebimbangan.

Sedikit tersentak, Shinichi mengambil gestur natural seperti ini: mengantongi kedua tangannya ke dalam saku celana seraya menatap ke arah jendela dapur.

"Ini sudah terlalu siang," ia berkata di antara rasa pusing pada kepalanya dan juga perasaan marah pada diri sendiri yang ditahan mati-matian. "... aku akan memakannya di kantor saja."

Shinichi menyelesaikan satu kalimat itu tanpa menatap Ran sedikit pun. Justru setelah gadis itu mengangguk dan tersenyum, ia baru meliriknya. Saat itu Ran melangkah ke sudut ruang untuk mengambil sebuah kotak bekal, kemudian memindahkan potongan roti isi-roti isi dari atas piring ke dalamnya.

Mata Shinichi berpaling saat kembali mendapati susunan ekspresi yang sama di wajah Ran, dan baru setelah menerima kotak bekal dari gadis itu dan melihatnya berjalan lebih dulu, Shinichi mampu mengangkat pandangan.

Ia tidak tahu akan sampai kapan mampu menjaga perasaan gadis itu selagi perasaannya sendiri tengah terluka parah, sementara ia pun tahu dengan hanya diam juga salah. Shinichi berharap setidaknya mampu menghilang dari hati Ran secara perlahan, sehingga tidak perlu membuat gadis itu terluka.

"Ai-chan?"

Saat panggilan Ran menyebut nama yang tidak ingin Shinichi dengar itu menggema, ia tengah menarik pintu utama rumah menggunakan tangan kanannya yang juga memegang kotak bekal, sementara tangan kirinya menarik kunci dari dalam saku. Namun dengan semua itu, ia masih saja menengok dengan spontan sehingga menemui sepasang mata biru yang sedang menatapnya lurus-lurus. Dan dari semua jenis tatapan mata, Shinichi Kudo paling benci tatapan datar dan bosan dari mata mengantuk milik Haibara. Ia sangat benci sampai-sampai tidak mampu bertahan menatapnya lebih dari satu detik.

"Ohayou?"

Dengan tangan yang menggenggam erat Shinichi mengunci pintu rumahnya, lalu ia bertahan menghadap daun pintu seraya mendengar percakapan dua gadis di belakangnya itu.

"Ohayou."

"Baru mau berangkat?"

"Ne. Aku bangun sedikit kesiangan."

Shinichi bersumpah saat itu ia menengok bukan untuk mencari tahu apakah Haibara bangun kesiangan karena tidak bisa tidur gara-gara memikirkannya. Ia juga bersumpah tidak berharap apapun. Namun entah mengapa ia merasa kecewa ketika menemukan sosok gadis kecil berambut pirang itu telah berjalan melewati gerbang rumahnya, bertolak belakang dari Ran yang justru sedang menghadapnya dengan gestur menunggu.

Beikutnya, toh, mereka berjalan beriringan di belakang gadis berbadan anak kecil itu, menatap punggungnya, yang teramat dekat, akan tetapi bagi Shinichi, sangat jauh.

Amat sangat jauh.

Ia tidak dapat meraihnya meski begitu ingin.

"... chi? Shinichi?" Panggilan itu menghentikan langkah Shinichi sekaligus membuatnya mampu mengalihkan mata ke arah lain selain punggung Haibara. "Kau akan naik kereta?"

Butuh beberapa saat sampai pemuda ini benar-benar mampu mencerna pertanyaan sederhana tersebut, sekaligus menemukan jawabannya yang hanya terdiri dari satu suku kata.

"Ya."

"Kalau begitu kita berpisah di sini." Ran menyampaikan sambil tersenyum, membuat Shinichi memiliki kesempatan untuk menyadari tempat mereka menghentikan langkah adalah di depan zebracross.

Ia juga menyadari saat itu bahwa Haibara masih di sana, tepat berdiri di sampingnya.

"Sampai jumpa." Sambung gadis yang sama.

Dan sama seperti sebelumnya, Shinichi memerlukan waktu tambahan untuk membalas. Ia mempergunakan waktu itu untuk menengok Haibara yang seolah tidak mengenalnya, atau bahkan, menganggapnya tidak ada di sana. Memikirkan ini semua, membuat suasana hati Shinichi semakin buruk.

Seraya meremas genggaman tangan, ia menatap Ran dan berkata, "Malam ini, bisa kita bertemu?"

Ran terkesiap sejenak, Shinichi sempat memperhatikan sebelum menatap cermin lalu lintas di atas kepala gadis itu, menemukan bayangan Haibara di sana yang bergeming di tempat.

"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu." Tambahnya masih dengan menatap hal yang sama.

Kali ini Shinichi mengakui, ia berharap. Ia berharap bukan hanya dirinya yang merasa terganggu dengan keadaan mereka yang seperti ini. Ia berharap dapat meruntuhkan ketenangan Haibara meski hanya sedikit saja.

Shinichi Kudo berharap, Ai Haibara menunjukkan tanda bahwa keberadaannya saat ini disadari.

"Aku ingin membicarakan tentang hubungan kita." Tepat setelah ia menyelesaikan satu kalimat terakhir itu, Shinichi memergoki Haibara menengok.

Ia terpaku, seketika. Sebelum merasakan dunia seolah melebur menjadi satu warna abu-abu, dan berjalan lambat seiring Haibara bergerak maju bersama orang-orang yang menyeberangi jalan. Shinichi bahkan tidak memperhatikan apakah Ran sempat membalas perkataannya sebelum gadis itu juga menyeberang.

Yang pemuda ini tahu hanya satu, ketika ia menengok sekali lagi, saat itu Ai Haibara berdiri diam di sisi lain trotoar seraya membalas tatapannya.


Putus asa mungkin adalah kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan Shinichi saat ini, meski kata itu tidak pernah ada dalam kamusnya, sebelumnya. Sebelum ia mengenal Haibara yang penuh dengan pesimisme. Sebelum ia jatuh cinta pada gadis dingin dan kejam yang merupakan mantan anggota organisasi itu. Sebelum ia merasakan sendiri sakitnya dicampakan. Sebelum... ia tahu, ada hal yang tidak bisa ia dapatkan meski sudah begitu keras mencoba. Seperti hati Ai Haibara, salah satu contoh.

Melepas pegangannya pada kemudi mobil, Shinichi kemudian menjatuhkan punggungnya di atas sandaran kursi. Matanya terpejam dan membiarkan isi hatinya mengutuk diri sendiri.

Apa yang telah ia lakukan hanya untuk menarik perhatian Haibara? Ia telah memanfaatkan Ran lagi, bahkan begitu saja memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka malam ini juga, bahkan tanpa memikirkannya, hanya demi... membuktikan bahwa Haibara menyadari keberadaannya.

Egois. Dan memalukan.

Shinichi merasa harga dirinya benar-benar hancur sekarang. Ia sungguh menyesali pekataannya. Namun ia juga tidak dapat mencabut itu semua. Lagi pula, mungkin ini adalah satu-satunya kesempatan yang ia punya untuk mengakhiri hubungannya dengan Ran sehingga ia pun dapat mulai fokus pada pekerjaannya. Setelah semua ini berakhir, Shinichi tidak ingin terlibat hubungan asmara dengan wanita mana pun. Tidak lagi.

Pemilik marga Kudo ini kemudian memutuskan untuk berhenti memikirkan semua itu, lalu memandang tempat parkir di kantor polisi tempatnya menjalani trainee. Ia mendorong pintu mobil terbuka, berjalan keluar dari dalamnya sebelum menutup pintu, dan menyalakan alarm sambil berlalu.

Shinichi mengembalikan kunci mobil patroli pada petugas piket sekalian berpamitan pulang. Sambil merogoh ponsel dari dalam saku, ia berjalan melewati pintu utama kantor polisi itu, lalu tanpa menghentikan langkah ia menekan beberapa ikon di layar ponselnya sampai menemukan salah satu nama, bertepatan dengan langkahnya yang berhenti di tepi jalan tidak jauh dari kantor polisi.

Shinichi mengangkat ponselnya kedekat telinga setelah itu.

"Moshi-moshi... Ran?" Mata Shinichi menatap jauh ke ujung jalan yang panjang, yang diterangi lampu jalan dan lampu-lampu kendaraan yang berlalu-lalang. "Apa kau sudah sampai?"

"Shinichi? Aku sedang menuju ke sana, masih di dalam taksi. Apa kau sudah menunggu lama?"

Shinichi mengalihkan pandangan hanya untuk menatap kosong ke arah sebuah taksi yang baru melintas, menatapnya sampai tidak terlihat, kemudian memandang ke arah satu taksi lain yang juga melewatinya.

"Belum. Aku sedang menunggu taksi." Ia menjawab dengan nada yang tanpa sadar telah ia turunkan.

"Kalau begitu aku akan menunggumu di depan. Aku sudah akan sampai."

"Tidak." Untuk satu ini, Shinichi menjawabnya tanpa membuat jeda. "Tunggu saja di dalam."

Shinichi mendengar dengusan ceria sebelum mendapat jawaban pendek dari Ran, "Baiklah."

"Sampai jumpa." Sahut Shinichi dengan nada final.

Lamat-lamat selagi menurunkan ponsel dari telinga, ia bisa mendengar Ran menyalin perkataannya, namun dengan nada yang lebih ekspresif. Dikantonginya kembali alat komunikasi itu setelah ia menekan mode sleep pada pinggiran ponsel, selagi matanya kembali memandang salah satu taksi yang melintas, yang juga menghilang dari pandangan di ujung jalan sana.

Shinichi menarik napas dan membuangnya dalam hembusan halus sebelum akhirnya memutuskan mencegat salah satu taksi yang entah sudah keberapa kali melintas di depannya. Ia memasuki taksi itu, mengatakan tempat tujuannya, lalu menjatuhkan punggung ke sandaran kursi taksi sambil memejamkan mata. Dengan tangan kanan, Shinichi memijit keningnya yang saat ini terasa pening.

Ia masih saja, memikirkan Haibara.

Tiba-tiba helaan napas Shinichi tidak tertahan begitu sampai pada pemikiran ini. Kali ini, ia menarik napas dan mengeluarkannya dalam satu kali hembusan. Matanya pun terbuka perlahan. Sembari berlalu, ia melihat ke seberang jalan, sebuah usaha untuk mengalihkan pemikirannya sendiri.

Perjalanan lima belas menit dari kantor polisi ke sebuah restoran di salah satu hotel di Beika itu ia habiskan untuk membaca nama-nama papan di depan toko maupun sekedar mengamati kendaraan lain di jalan. Meski tidak berhasil membuatnya melupakan sosok Ai Haibara, setidaknya pemikiran Shinichi tidak berlarut-larut, sehingga ia cukup tenang sewaktu melangkah keluar dari taksi, maupun saat berjalan menuju restoran di mana Ran telah menunggu.

Shinichi langsung mendapati siluet Ran saat masuk ke dalam restoran itu karena gadis tersebut menempati salah satu meja di dekat jendela yang sama dengan yang pernah mereka tempati dulu. Langkah Shinichi yang tegap pun tanpa jeda memperpendek jarak di antara mereka. Namun justru tepat satu langkah di belakang Ran, ia berhenti. Meremas kepalan tangan dan membukanya, pemuda ini kemudian baru mengambil satu langkah yang tersisa.

"Maaf aku terlambat."

Ran menengok dari pemandangan lampu-lampu kota di balik jendela kaca untuk membalas tatapan Shinichi, dan tersenyum.

"Tidak apa-apa, aku juga baru sampai." Jawaban gadis itu kontra, Shinichi tahu.

Namun Shinichi berpura-pura tidak tahu dan lebih memilih mengambil duduk di seberang meja Ran. Ia tidak punya hati langsung membawa percakapan mereka ke persoalan mengakhiri hubungan sehingga lebih dulu memesan makanan. Ia bahkan juga tidak tahu bagaimana harus mulai mengatakannya. Apakah... ia harus memberitahukan mengenai adanya orang ketiga, ataukah, akan mampu menekan egonya demi berbohong untuk kebaikan semua orang.

"Jadi," Ran membuka suara menjelang pelayan pergi meninggalkan meja mereka sehabis mencatat pesanan. "... apa yang ingin kau katakan?"

Senyum di depan Shinichi ambigu, antara sedih atau haru, ia tidak tahu. Yang ia tahu Ran cukup peka untuk menyadari perilakunya yang telah berubah, akan tetapi ada kemungkinan juga gadis itu tidak tahu sehingga menganggap lain dari pertemuan mereka ini.

"Sesuatu yang penting." Untuk saat itu, hanya pengalihan yang bisa Shinichi berikan sebagai jawaban.

Ia pun menghindari pandangan mata Ran setelahnya. Meski jika dipikirkan kembali, Shinichi bertekad tidak akan mundur kali ini.

Ya, ia harus mengakhiri semuanya.

Dengan menarik tangannya dari dalam saku, ia kembali mempertemukan pandangan mereka. Semua itu Shinichi lakukan dalam satu tarikan napas, kemudian membuka mulutnya untuk merangkai kata-kata. Semua ini akan selesai andai ia tidak lebih dulu melihat sosok yang baru saja masuk ke dalam restoran itu. Sosok wanita dewasa berambut pirang kemerahan yang tengah berdiri di muka pintu masuk seraya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan seolah sedang mencari seseorang. Sosok yang pada akhirnya membalas tatapan mata Shinichi sebelum menyeringai sesaat dan kemudian berbalik dan pergi. Sosok bergaun merah darah..

Sosok... Ai Haibara...

Shinichi tanpa sadar sudah berdiri dari duduknya, dan begitu menyadari sosok itu adalah Haibara, ia tidak membuang waktu lagi untuk mengejarnya. Perlahan, langkah Shinichi berlari saat melihat Haibara menyelinap masuk ke dalam lift. Gadis itu membalas tatapan matanya sebelum sosoknya tertutup pintu lift yang mengatup.

"Haibara!" Ia memanggil seraya menumbuk pintu lift sekuat tenaga. Shinichi terlambat mengejarnya.

Namun Shinichi tidak menyerah, ia menatap layar petunjuk arah lift setelah itu. Setelah tahu lift menuju ke atas, pemuda ini langsung berlari ke arah tangga darurat untuk mengejar. Ia menuju lift pada setiap lantai untuk memastikan dimana Haibara keluar, sampai akhirnya berada di lantai paling atas pada gedung itu dimana dinding dan atapnya terbuat dari kaca, dan juga, dimana sosok yang sangat dikenal Shinichi berdiri menghadapnya, seolah-olah memang sedang menunggu kedatangannya.

"Haibara..." Shinichi mengucap nyaris tanpa suara selagi melangkah keluar dari lift, menghampiri pemilik nama.

Perlahan-lahan jarak mereka berkurang. Semakin dekat mereka, semakin Shinichi yakin ini bukan imajinasinya semata, semakin yakin pula bahwa sosok di depannya ini adalah Ai Haibara dalam bentuk dewasa. Sampai akhirnya Shinichi mampu menyentuhnya, mencengkram kedua belah pundaknya yang telanjang.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Amarah, dendam, dan juga rasa sakit terdengar jelas di dalam kalimat itu. "Permainan apalagi yang sedang kau mainkan, Haibara?" Shinichi membeo geram dengan pelan.

Haibara menatapnya lurus-lurus dengan raut wajah datar, meski begitu Shinichi tahu gadis di depannya menahan rasa sakit akibat cengkraman tangannya yang terlalu kuat.

"Bukankah kau sendiri yang mengundangku kemari?" Jawab gadis itu pada akhirnya, menggunakan suara yang senada dengan Shinichi.

Shinchi tidak menyangkal bahwa tadi pagi saat mengundang Ran, ada sedikit harapannya Haibara akan datang untuk mencegahnya. Ia tahu, Haibara pasti tahu apa maksud Shinichi dengan ingin membicarakan hubungan antara dirinya dengan pemilik marga Mouri itu. Alasan yang sama, yang membuat seorang Shinichi Kudo merasa egois dan mempermalukan diri sendiri. Hanya karena ia merasa putus asa, ia mempergunakan Ran sebagai alibi agar Haibara mau mendatanginya lagi.

Namun Shinichi berkhianat dari dirinya sendiri, dengan melepaskan kedua pundak Haibara dan memalingkan muka. Kakinya berputar dengan cepat, kemudian tubuhnya berbalik untuk melangkah pergi dari sana, menyelamatkan sisa-sisa harga dirinya.

"Kita harus bicara, Kudo."

"Tidak ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Shinichi tidak menghentikan langkahnya yang lurus menuju pintu lift.

"Kalau begitu dengarkan aku."

Ia mendengar suara Haibara mendekat, sementara dirinya sendiri berdiri di depan pintu lift dan memencet tombol lift di dinding.

"Aku akan memberimu kesempatan sekali lagi." Lanjut gadis yang sama.

Shinichi menatap tanda arah lift yang menuju ke atas, yang juga memberitahukannya bahwa lift masih berada di lantai satu. Menyadari ia tidak dapat pergi secepatnya, pemuda ini pun memutuskan menengok Haibara, kemudian mendapati gadis itu telah berada di sampingnya.

Haibara berdiri di depan jendela kaca yang persis berada di sebelah lift, menatap jauh ke horizon malam, bukan dirinya.

"Buktikan bahwa yang kau rasakan padaku benar-benar cinta, bukan napsu."

Amarah Shinichi yang telah di tahan tersulut semakin besar mendengarnya. Ia menatap Haibara tanpa menyembunyikan amarah itu, terlebih ketika akhirnya pandangan mereka bertemu.

"Kau pikir aku akan masuk ke dalam tipuanmu lagi?" Shinichi tidak bertanya, ia menggertakan giginya.

Kedua tangan pemuda ini juga terkepal erat-erat seolah bersiap melakukan kekerasan fisik pada lawannya. Sebuah keberuntungan bagi Haibara karena ada banyak orang di lantai itu, terlebih hadirnya beberapa orang yang ikut menunggu lift, sehingga Shinichi menahan diri. Namun Shinichi juga memiliki keberuntungan ketika akhirnya pintu lift terbuka. Ia masih bertahan menatap Haibara selagi gerombolan orang dari dalam lift merangsek keluar, lalu mengalihkan pandangan setelah beberapa orang di sampingnya ganti merangsek masuk ke dalam.

"Aku akan meninggalkan Jepang jika kau mengakhiri hubunganmu dengan gadis itu."

Kaki Shinichi berhenti seketika, tepat di depan pintu lift yang terbuka lebar-lebar, menunggunya.

"Aku akan meminum penawar permanennya." Suara Haibara melanjutkan. "... dan meninggalkan Jepang untuk selamanya."

Jika Shinichi Kudo adalah pria berselera humor tinggi, ia akan tertawa mendengar lelucon itu. Namun ia tidak. Bertolak belakang, Shinichi justru menengok Haibara dengan wajah merah padam, memendam kemarahan. Bersamaan itu juga, pintu lift di depannya tertutup dan menutup kesempatannya untuk pergi lebih cepat.

"Aku tidak tahu kau punya selera humor yang bagus." Katanya seraya melangkah ke dekat Haibara, berdiri di jarak satu langkah dari gadis itu dengan menyimpan kedua kepalan tangannya di dalam saku celana. "Kau menolakku karena ingin menjalani hidup yang baru. Tapi sekarang kau bilang akan meminum penawarnya agar bisa meninggalkan Jepang? Lucu sekali."

"Aku tidak punya pilihan." Haibara melepaskan tangannya dari pembatas dinding kaca lalu memutar badan, menghadap Shinichi lurus-lurus. "Jika aku menjadi penghalang bagi hubungan kalian, maka lebih baik aku pergi."

Kali ini, Shinichi gagal menahan emosi. Salah satu tangannya melesat dengan cepat dan kemudian menarik lengan kiri Haibara, meremasnya erat.

"Kenapa?" Satu kata itu keluar dari mulut Shinichi dengan pelan, namun dipenuhi kemarahan. "Kenapa kau terus menyuruhku mempertahankannya? Kenapa kau bahkan tidak memikirkan bagaimana perasaanku?"

Haibara tidak langsung menjawab dan membiarkan waktu berlalu dalam kediaman selama lima detik sebelum menjawab Shinichi dengan tenang, "Karena aku belum membayar hutangku padanya, sementara hutangku padamu sudah lunas."

Cengkraman Shinichi semakin erat, sampai akhirnya ia melepaskan Haibara secara tiba-tiba dengan sedikit mendorongnya. Ia berjalan ke dekat dinding kaca dan ganti menatap ke horizon langit malam. Jika ia tahu bahwa menyelamatkannya dan menemukan penawar racun akan Haibara hitung sebagai melunasi hutang, Shinichi berharap ia tidak pernah diselamatkan dan tidak pernah meminum penawarnya. Ia berharap Haibara masih memiliki hutang padanya sehingga ia bisa menagihnya saat ini.

"Aku tidak akan menipumu, Kudo." Suara Haibara kembali terdengar di telinganya, setenang sebelumnya. "Sepuluh tahun lagi, perbedaan usia di antara kita tidak akan ada artinya. Aku berjanji akan menjaga hatiku hanya padamu, kita bahkan masih bisa memberikan nama pada hubungan kita jika kau mau. Sekaligus, kau bisa membuktikan padaku, bahwa kau benar-benar mencintaiku."

Shinichi diam selagi mendengar semua itu, dan juga berpikir. Tentu saja ia tidak ingin menerima keadaan Haibara begitu saja. Hanya saja ia juga sangat ingin membuktikan bahwa tuduhan gadis itu adalah salah. Salah! Apa yang Shinichi rasakan pada Haibara bukan sekedar napsu, ia benar-benar mencintainya.

"Tapi jika kau tidak sanggup..." Haibara mengambil kesempatan untuk melanjutkan selagi Shinichi masih belum bisa menentukan pilihannya. "... aku akan pergi malam ini juga, dan aku pastikan kau tidak akan pernah bisa menemukanku."

Rasanya, ada sayatan tipis menoreh hati Shinichi mendengarnya. Untuk saat ini ia sangat yakin sepuluh maupun 20 tahun mendatang ia masih akan mencintai Haibara, akan tetapi ia tidak yakin Haibara mampu menepati janjinya selama itu. Ia hanya seperti sedang bertaruh jika memilih pilihan yang pertama. Sementara jika ia memilih yang kedua, saat ini ia tidak akan bisa mengejar Haibara. Shinichi bahkan tidak dapat ke luar kota dengan statusnya yang baru menjadi trainee polisi.

"Apa yang harus aku lakukan?" Meski berat, Shinichi memaksakan diri untuk bertanya. Ia menengok Haibara samar, tidak benar-benar ingin mempertemukan pandangan mereka kecuali mengawasi gelagat gadis itu. "Jika aku memilih yang pertama, apa yang harus aku lakukan?"

Waktu yang Haibara gunakan untuk diam membuat Shinichi takut. Tanpa sadar genggaman tangannya menguat di dalam saku.

"Menikahlah dengannya, dan setelah sepuluh tahun, kau bisa memutuskan seorang diri hal apa yang mau kau lakukan. Bahkan jika pada akhirnya kau tidak lagi mencintaiku, aku tidak akan keberatan." Perkataan Haibara yang berintonasi cepat namun dengan suara pelan dan tenang menyentak Shinichi.

Ia seperti tersambar petir di siang bolong. Secara spontan bersamaan itu juga Shinichi menatap Haibara tepat di mata. Pemilik mata berwarna biru sebiru samudera yang saat ini ada di hadapannya ini tidak sedang bercanda. Tentu saja tidak. Ia tahu betul selera humor Haibara.

"Tidak." Ucap Shinichi pelan dengan nada tegas. "Aku tidak akan melakukannya." Ia mempertegas jawabannya seraya melangkah pergi.

Kali ini, Haibara meraih lengan Shinichi untuk mencegahnya.

"Ini juga sulit bagiku, Kudo. Aku pun juga ingin bersamamu."

Tanpa melihat, pemilik marga Kudo itu menarik lepas tangan Haibara sehingga bisa melepaskan diri, seraya berkata, "Kau hanya berusaha menipuku."

Shinichi menyentak tombol lift sekali lagi, dan kali ini tidak butuh waktu lama untuknya menunggu pintu lift terbuka. Ia melangkah masuk ke dalam lift, meninggalkan lantai itu sekaligus Haibara, lalu beralih ke lantai dua dimana restoran berada.

Ketika Shinichi berjalan keluar dari dan telah mengambil lima langkah, ia merasakan seseorang kembali meraih lengannya, menahannya. Kemudian saat seseorang itu berjalan ke depannya untuk memblok jalan, Shinichi sama sekali tidak terkejut saat menemukan bahwa Haibara adalah pelakunya.

"Aku hanya ingin kau membuktikan kalau kau mencintaiku." Untuk pertama kalinya, ada emosi di suara Haibara, dilengkapi juga dengan tatapan matanya yang tajam.

Shinichi mengamatinya untuk mencari kejujuran disana. Belum juga ia mampu membaca apa yang sebenarnya Haibara rasakan, ia telah merasakan tangan yang menggenggamnya, melepaskannya.

"Ternyata kau tidak." Perkataan itu masih terasa sama sampai sebuah dengusan menghapus tatapan tajam Haibara, tergantikan senyum pahit yang terlihat jelas bagi pemirsanya. "Kau bahkan menunjukan dengan jelas, seberapa besar perbedaan caramu menghadapiku saat aku menjadi anak-anak, dan saat aku menjadi wanita dewasa."

Shinichi ingin menyangkalnya dengan tegas dan berani, namun menahan diri. Ia benar-benar muak dan hanya mampu membuang pandangan sambil kembali berjalan setelah Haibara berhenti bicara. Ditinggalkannya gadis itu tanpa ia pernah menengok sedikit pun. Langkah Shinichi lurus dan tegap, berjalan masuk ke dalam restoran dan langsung menghampiri Ran yang masih duduk di tempat yang sama. Saat gadis berambut panjang itu menyadari keberadaannya, Shinichi tidak memberi waktu bagi lawannya untuk berkata apapun. Dengan suara keras dan tegas ia berkata dalam satu tarikan napas.

"Menikahlah denganku, Ran!"

21.


A/N: Halo, akhirnya saya bisa update. Selain karena HP saya yang rusak sehingga tidak dapat mengetik, saya juga sakit cukup lama, salah satunya sakit mata yang lumayan parah sampai gak boleh ngelihat layar lama-lama. Jadi mohon dimaklumi. Tapi selama berhenti nulis saya selalu membaca review teman-teman, dan kadang membaca ulang semua review agar termotivasi menulis lagi. Bener-bener terima kasih untuk semua yang sudah meninggalkan jejak. Semoga saya bisa menlanjutkan lagi secepatnya. See you!