Mimpi Buruk.
Jarum jam terus berputar. Shinichi hanya bisa melihat rumah di seberang rumahnya melalui jendela kamar. Sedikit menggelap, dan kadang pandangannya samar.
Sebelum ia pergi, selagi bayang sosok gadis dari rumah sebelah berjalan di antara cahaya lampu-lampu terang, ia menatap dengan sorot mata yang tajam, dan meneguhkan, ia tidak membutuhkan harga diri. Karena, rasa sakit yang ia rasakan membuatnya yakin bahwa ia akan mati sebentar lagi.
Shinichi pergi, dari realitas dan egonya sendiri, ia memang bukan dirinya lagi sejak itu. Sejak Haibara mendatanginya dalam sosok wanita dewasa, mengelabuinya. Tapi itu tendensi. Memeluknya, salah satu contoh.
Ia mendobrak pagar untuk menghancurkan takdir, pikirnya. Takdir apa yang menjerat orang dalam derita? Karena Shinichi adalah orang yang selalu berjuang. Dan kini pun, ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan. Kaki-kakinya hampir sampai di rumah tetangga, dan menerobosnya. Dan Shinichi bersumpah, tidak perduli akan seperti apa lagi Haibara berusaha mempermainkannya, ia akan melawan. Karena hanya satu tujuannya sekarang, yaitu menang.
Pintu kamar berayun terbuka, memperlihatkan isinya berupa dua ranjang yang masing-masing berukuran satu badan, berjejer di tengah-tengah ruangan. Salah satu ranjang itu kosong, sementara satunya ditempati seorang wanita yang tengah tertidur pulas (terlihat dari cara wanita itu bernapas).
Musim panas sudah berjalan setengahnya dan rembulan bersinar terang tanpa dihalangi awan, cahayanya menembus jendela kaca di kamar itu lalu menampilkan sosok Shinichi Kudo sebagai satu-satunya pelaku yang membuka pintu, yang kini telah berjalan masuk tanpa menimbulkan suara sedikit pun sehingga wanita di atas ranjang tidak terbangun.
Tapi pemandangan ini memuakan bagi Shinichi. Seorang wanita tidur di bawah cahaya rembulan, bukan sebuah pemandangan indah. Wanita yang sudah mencampakannya, yang sudah menolak dan mempermainkannya, serta yang telah mendorongnya ke ambang batas hingga terpojokan dan tidak dapat menemukan jalan keluar, saat ini sedang tidur nyenyak tanpa memiliki beban maupun rasa bersalah.
Rasanya... Shinichi ingin sekali mencekiknya.
Tangan pemuda itu pun terangkat perlahan menggantikan gerak kakinya yang kini berhenti. Ia menyisir rambut wanita tersebut, yang masih tertidur lelap. Shinichi lalu memandang susunan wajah yang membentuk satu keindahan yang sangat ia rindukan: wajah Ai Haibara dalam bentuk wanita dewasa.
Niatan ingin menyakiti itu hilang dari benak Shinichi, terganti perasaan sakit di dalam dadanya sendiri. Ia bahkan tidak tahu mengapa bisa merasa sangat putus asa sehingga begitu saja menyetujui persyaratan dari Haibara. Ia tidak tahu mengapa begitu ingin membuktikan bahwa apa yang ia rasakan adalah cinta, bukan sekedar napsu belaka. Ia sama sekali tidak tahu, bahwa Haibara mampu mendorongnya ke ambang batas sehingga merasa tidak memiliki jalan keluar selain memakan umpan yang gadis itu berikan.
Ia benar-benar tidak tahu...
Saat masih memikirkan semua itu, Shinichi melihat bagaimana kelopak mata Haibara berhembus perlahan, lalu terbuka sepenuhnya sehingga memperlihatkan mata sebiru samudera di dalamnya. Warnanya sedikit lebih gelap karena Shinichi menghalangi cahaya rembulan yang seharusnya menerangi wajah Haibara, dan mungkin itu juga menjadikan sosok Shinichi sendiri sempat tidak dikenali oleh lawannya, sehingga sempat terlihat raut ketakutan di wajah itu sebelum menyebut namanya di antara tarikan napas yang menderu, "Kudo-kun."
Kedua tangan Shinichi langsung melesat untuk memegangi kedua tangan Haibara, disusul dengan kedua kakinya yang merangkak naik ke atas ranjang. Tanpa memberi jeda, pemuda ini kemudian menyerang lawannya dengan ciuman bertubi-tubi. Penolakan dan perlawanan Haibara tidak membuat satupun ciuman Shinichi berhasil mempertemukan bibir mereka. Namun ia terus menyerang, dan kali ini lebih memilih badan Haibara sebagai sasaran.
"Kudo! Hentikan!"
Mendengar bentakan berisi perintas itu, Shinichi semakin memperkuat tenaganya untuk mengunci kedua tangan sang lawan. Di sela hisapan dan gigitan yang ia berikan pada leher Haibara, kedua kakinya merangsek di antara kedua paha di bawahnya. Pemilik marga Kudo ini sudah tidak lagi perduli dengan harga diri dan ego, ia telah membiarkan semua itu hancur sehingga membiarkan gadis itu tahu apa yang tengah ditahannya, memberitahunya melalui tubuh ke tubuh mereka yang berhimpitan. Shinichi menekan tubuh itu semakin kuat, membuat Haibara merasakan betapa besarnya hasrat yang telah ia pendam.
"Kudo!" Teriakan Haibara kali ini bukan teriakan memerintah, Shinichi dapat dengan jelas merasakan adanya ketakutan dan permohonan di sana.
Ketimbang merasa iba, ia justru merasa hasratnya semakin membuncah.
Shinichi melepaskan salah satu tangan Haibara hanya untuk menarik tubuh gadis itu sekuat tenaga sehingga dapat merubah posisi mereka, lalu memeluknya dari belakang. Ia memerangkap tubuh Haibara dengan satu tangan selagi tangan kirinya menelusup masuk ke dalam gaun tidur melalui bagian bawah, menarik celana dalam gadis itu dan kembali merapatkan tubuh mereka.
"Kudo! Kumohon hentikan!"
Pemilik marga Kudo itu yakin Haibara merasakan bagaimana kuat dan kerasnya hasrat yang ia rasakan saat ini. Ia terus mendorong tubuhnya maju, selagi menekan tubuh Haibara mundur agar tidak dapat menjauh sedikit pun.
"Kudo-kun..."
Setelah akhirnya merasakan tubuh dalam dekapannya lemas serta tidak mampu memberi lagi perlawanan berarti, Shinichi menyentak tubuh itu hingga terbaring terlentang. Sekali lagi pemuda ini merangkak naik ke atas tubuh Haibara, namun kali ini seraya menarik lepas gaun tidur yang gadis itu kenakan.
Ia memandangi tubuh telanjang di bawahnya kemudian menarik dagu pemiliknya dan membuat wajah mereka berhadapan. Di bawah helaian rambut pirang dan keringat, juga napas yang tersenggal-senggal, kelopak mata Haibara terpejam rapat. Shinchi menikmati apa yang ia lihat cukup lama, sebelum merendahkan wajahnya untuk mendekatkan bibir mereka.
Namun ia berhenti.
Tepat di antara cairan air mata yang bukan miliknya dan napasnya sendiri, Shinichi berhenti. Ia menarik diri untuk menegakan punggung, namun masih dengan tetap duduk di atas paha Haibara. Menatapnya dalam-dalam.
"Kau takut?" Untuk pertama kalinya semenjak menginjakan kaki di kamar itu, Shinichi bersuara. "Merasa jijik?"
Dilihatnya mata Haibara terbuka perlahan setelah pertanyaan itu ia selesaikan. Aliran air mata gadis itu kembali jatuh, sebuah pemandangan yang cukup menyakitkan bagi pemirsanya.
"Saat seseorang yang tidak kau inginkan menyentuhmu, bukankah kau merasa tidak nyaman?" Shinichi berusaha membuat suara sejernih mungkin supaya tidak terdengar menyedihkan. Namun jika pendengarnya jeli, mereka masih akan menemukan rasa pedih yang tergambar di dalamnya. "Apa kau bisa membayangkan sekarang bagaimana rasanya menikahi seseorang yang tidak kau inginkan?"
Giliran Haibara yang tidak menjawab kali ini, kecuali deru napasnya yang memburu. Itu pun telah berangsur normal seiring berjalannya waktu. Mungkin gadis itu telah lebih pintar untuk membaca situasi sehingga memilih tidak mendebat selagi tahu Shinichi sedang menahan emosi, atau mungkin ia masih terlalu terkejut dengan apa yang pemuda jenius itu sempat lakukan tadi. Namun yang manapun, Shinichi sudah tidak memerlukan jawaban, karena sejak awal ia memang bertujuan untuk sekedar memberikan ancaman. Dengan begini, mereka telah sama-sama merasakan rasa tertekan.
Shinichi kemudian turun dari atas tubuh telanjang Haibara sekaligus dari atas ranjang. Dipungutnya gaun malam yang sempat ia jatuhkan tadi, lalu melemparkannya ke atas tubuh sang pemilik. Seraya membelakangi satu-satunya sosok itu yang bersamanya, Shinichi menerawang kaca jendela. Ia mendengar saat itu pergerakan Haibara yang tengah mendudukan diri di atas ranjang seraya berusaha mengenakan gaun malam kembali.
"Apa kau tahu mengapa aku berencana melangsungkan pernikahan secepat mungkin meski sangat tidak ingin?" Di antara kesunyian, Shinichi berkata, dengan masih menatap hal yang sama. "Itu karena aku telah memperhitungkan kapan obat penawar yang kau minum akan berhenti bekerja."
Pandangannya mulai tidak fokus ke arah bulan yang kini dilintasi helaian awan tipis. Meski cahayanya masih bisa mencuri celah, namun perhatian Shinichi telah melayang jauh ke awang-awang.
Setelah mengantongi kedua tangannya ke dalam saku celana, ia pun meneruskan, "Kau yang sudah memaksaku menikahinya, jadi sudah sewajarnya kau yang bertanggung jawab."
Tepat setelah ia berhenti untuk mengambil napas, ia mendengar napas Haibara tersentak dan diikuti sebuah tarikan tangan pada lengan tangannya. Shinichi mencegah diri untuk mencari tahu bagaimana raut wajah gadis itu, dan bergeming di tempat.
"Aku tidak akan pernah menganggap bahwa aku menikah dengannya, sebaliknya, aku akan menganggap itu adalah pernikahan kita." Suara Shinichi bernada final, dilengkapi dengan langkahnya yang terangkat serta lengannya yang menyentak pegangan Haibara.
Shinichi Kudo berjalan keluar dari kamar tanpa menengok. Ia juga tidak mendengar apapun keluar dari mulut Haibara setelahnya. Ia tahu, sejak malam itulah peperangan mereka dimulai. Sebuah peperangan yang mengharuskannya mengorbankan banyak hal setelah ini.
Hari pernikahan itu datang dengan cepat, sesuai rencana Shinichi. Ia telah menghitung antara hari pernikahannya dengan hari dimana Haibara mendatanginya di restoran dalam wujud wanita dewasa, yang mana hanya berjarak dua minggu saja. Artinya, masih ada dua minggu tersisa sampai gadis mantan ilmuan jahat dan licik itu kembali ke tubuh anak-anak.
Shinichi tidak perduli jika harga dirinya sebagai seorang pria akan hancur di sini. Meski harus memaksa, kali ini ia akan menjadikan Haibara miliknya, sepenuhnya, tanpa keraguan, dan dengan jaminan. Waktu sepuluh tahun yang gadis itu janjikan tidak akan berlangsung cepat, apapun bisa terjadi di dalamnya. Shinichi Kudo hanya butuh sebuah jaminan dalam perjanjian mereka. Karena setidaknya, jika ia dan Haibara telah berhubungan badan, gadis itu tidak akan pernah bisa lepas dari cinta yang mengikat mereka berdua.
"Sudah waktunya kau ke altar."
Shinichi mengangkat pandangannya sehingga bertemu mata dengan pemilik suara, merangkum sosok dewasa Ai Haibara yang terbalut dalam gaun berwana biru tosca. Dirinya sendiri telah mengenakan tuxedo putih pernikahan, lengkap dengan sepatu berwarna sama.
Sebuah seringai membentuk bibir pemuda ini ketika kakinya melangkah, menghapus jarak di antara mereka. Tangan kanannya terangkat dan berakhir di helaian rambut Haibara yang tergerai, diikuti wajahnya yang bergerak maju.
Seperti yang sudah Shinichi duga, Haibara menghindari ciumannya. Namun kali ini ia hanya menarik seringaian lebih tinggi. Pemuda itu sedang dalam keadaan hati yang bagus sehingga tidak mudah terbakar emosi.
"Tenang saja, aku tidak terburu-buru." Shinichi menimpali seraya mundur satu langkah. "Kita punya banyak waktu setelah menikah."
Haibara sekedar membuang muka menanggapinya. Wajahnya datar tidak mengekspresikan apa-apa. Semua itu membuat Shinichi semakin senang karena ia telah menang.
"Tapi." Satu kata itu Shinichi ucapkan dengan nada tanggung sehingga menarik perhatian sang lawan bicara. "Jika kau tidak muncul di altar saat aku mengucapkan sumpah pernikahan, aku akan membatalkannya tanpa ragu sedikit pun."
"Aku mengerti." Haibara menjawabnya singkat sebelum kembali menatap arah lain. "Itulah mengapa aku berada di sini."
Shinichi menatapnya cukup lama untuk yang terakhir kali, setelah itu baru berjalan keluar dari ruang ganti. Ia berjalan lurus menuju altar pernikahan yang berada di lantai yang sama pada gedung itu, memasuki ruangan dan membiarkan diri menjadi pusat perhatian semua orang.
Musik yang mengalun kemudian menjadi tanda bagi acara ini telah dimulai, dan ia bersiap untuk mengorbankan segalanya hari ini. Shinichi berdiri tegap di depan pendeta yang berdiri di belakang podium, sama-sama menunggu calon mempelai wanita memasuki ruangan yang sama. Hanya saja bagi Shinichi Kudo, mempelainya bukanlah seseorang bergaun pernikahan yang saat ini sedang berjalan melewati pintu masuk itu. Mempelai Shinichi adalah Haibara.
Shinichi menghentikan pemikirannya ketika telah merasakan kehadiran seseorang di samping kanannya. Alih-alih memperhatikan seseorang itu, pemuda ini justru menengok ke sebelah kiri untuk mengabsen wajah-wajah orang yang menempati kursi di dalam ruangan. Tidak mendapati wajah yang dicarinya, Shinichi kemudian menengok sebelah kanan. Ia sempat yakin tidak akan menemukan Haibara dimana pun dalam ruangan itu sampai akhirnya melirik ke arah sosok bergaun putih yang berada di belakang mempelai wanita, sedang berjalan mundur ke arah kursi setelah melepaskan ekor gaun pengantin itu, bersama seseorang yang terlihat sebaya.
Ia telah menemukan, Ai Haibara... dalam tubuh kanak-kanak.
Mata Shinichi berkilat, bertemu dengan mata Haibara yang balas memandangnya dalam sesaat. Gadis dengan tubuh anak-anak itu meluruskan wajah dan memandang bukan pada dirinya yang sudah siap meledak. Satu kali lagi, Shinichi Kudo telah masuk ke dalam perangkap.
Shinichi menanggalkan dasinya dengan kasar, melamparnya, diteruskan dengan melepas tuxedo putih dari tubuhnya sehingga hanya menyisakan kemeja berwarna sama yang ada di dalamnya. Semua itu ia lakukan di bawah pandangan mata wanita yang telah resmi menjadi istrinya satu jam yang lalu. Tanpa berusaha menutupi raut mukanya yang dipenuhi kemarahan, ia kemudian berbalik dan berjalan ke pintu.
"Shinichi? Kau mau kemana?"
Pemilik nama itu tidak menggubrisnya dan terus melangkah, bahkan seolah melampiaskan amarah ia membanting pintu hotel itu keras-keras sebelum menghilang. Jika bisa, ia juga ingin meruntuhkan gedung yang sempat menjadi tempat pernikahannya ini. Ia telah berlaku terlalu baik selama ini, dan semua yang telah dilakukannya itu salah untuk menghadapi wanita licik seperti Haibara.
Seraya terus melangkah Shinichi merogoh ponsel dan menekan angka satu pada menu panggilan di layar benda itu. Tidak mendapati jawaban, tidak membuatnya berhenti berjalan. Bahkan begitu sampai di luar gedung, ia segera mencegat taksi pertama yang melintas di depannya.
Kedua tangan Shinichi terkepal erat-erat hingga kuku-kuku jari itu melukai pemiliknya sendiri. Wajahnya masih dipenuhi kemarahan, dengan gigi-gigi menggertak geram. Jika ada kata yang mampu menggambarkan suasana hatinya, itu bukan hanya satu, karena ia merasa marah dan kecewa, juga benci serta merasa tersiksa.
Begitu sampai di tempat tujuannya, Shinichi segera turun dari taksi dan mendorong gerbang rumah di depannya sekuat tenaga. Ia bahkan tidak merepotkan diri untuk melepas sepatunya saat memasuki rumah itu, langkahnya tidak berhenti sampai menemukan sepasang manula yang sedang duduk berdekatan di meja bar pada ruang tengah. Kehadirannya tentu mengejutkan dua sosok berambut putih itu. Segera setelah melihat Shinichi, mereka meletakan cangkir teh masing-masing, lalu berdiri.
"Shin—"
"Dimana Haibara?" Shinichi memotong suara Profesor Agasa dengan suara tegas dan kejam.
"Ai-kun?" Profesor Agasa menaikan alisnya sejenak pertanda bingung. "Bukankah dia kembali ke rumah perlindungan saksi? Dia datang ke Beika hanya untuk menghadiri pernikahanmu. Sewaktu aku—"
Shinichi tidak mendengarkan lebih lanjut karena sudah memutar langkah ke depan pintu kamar. Ia mendorong daun pintu kamar itu dengan kasar lalu masuk ke dalamnya. Setelah melihat tidak ada satu pun baju yang tersisa di dalam lemari milik Haibara, ia berlari keluar seketika.
Kembali Shinichi berusaha mempergunakan ponselnya, namun nomor yang terakhir kali ia hubungi masih tidak menjawab. Kali ini ia berputar ke rumahnya sendiri, mengambil kunci mobil dan mengendarai mobilnya untuk pergi. Secepat mungkin Shinichi mengemudi, hingga perjalanan yang seharusnya memakan waktu dua jam itu dapat ia singkat setengahnya.
Menuju sebuah kamar di gedung apartemen tempat mobilnya berhenti, pemuda ini nyaris berlari. Dengan dipenuhi amarah ia kemudian menyentak salah satu pintu apartemen yang terletak di lantai dua. Shinichi sudah siap menemui Haibara di dalamnya, sehingga tidak menghentikan langkah begitu mendapati gadis berbadan anak-anak itu berdiri di dekat jendela. Bahkan tanpa jeda dari langkahnya yang berhenti, tinju Shinichi melayang menghantam kaca jendela di belakang Haibara sekuat tenaga.
PRANK!
Napas panas Shinichi yang keluar tersenggal-senggal melanjutkan suara pecahan kaca itu. Ia menatap Haibara penuh kebencian dalam gambaran tak terbatas. Karena rasa benci itu jugalah, rasa sakit yang berasal dari tangannya tidak terasa.
"Kenapa kau—!"
"Kalau kau tetap seperti ini aku akan pergi."
Suara Shinichi tercekat, kalimatnya terhenti hanya sampai kerongkongan. Kepalanya menunduk perlahan untuk menatap puncak kepala milik anak kecil yang berdiri di depannya, anak kecil yang merupakan perwujudan lain dari bentuk Ai Haibara.
"Aku memutuskan untuk tinggal di sini mulai sekarang. Tapi jika kau tidak bisa berhenti menemuiku, aku akan meninggalkan Jepang."
Shinichi menarik tangannya yang masih berdarah-darah itu, membiarkannya terkulai lemas sebelum menjatuhkan diri di atas kedua lututnya. Tindakannya itu juga membuat tinggi mereka menjadi sama, dan ia dapat melihat mata Haibara yang menatap lurus namun kosong.
"Bukankah aku sudah melakukan semuanya?" Tanya Shinichi dengan suara pelan karena sudah kehabisan tenaga. "Bukankah kau bilang kita masih memiliki hubungan yang sama meski aku menikahinya? Kenapa kau masih menipuku, HAIBARA!"
"Bagian mana yang kau sebut menipu!" Haibara membentak Shinichi sepenuh hati, tatapan matanya yang tajam juga membuktikan bahwa gadis itu tengah menahan emosi. "Aku tidak sedang berusaha melarangmu melakukannya. Jika kau ingin menyetubuhiku, kau bisa melakukannya sekarang juga. Bukankah tidak akan ada bedanya jika kau benar-benar mencintaiku?!"
Napas Shinichi terasa sesak secara tiba-tiba sehingga ia perlu menarik udara melalui mulut, lalu menghembuskannya keluar dengan perlahan melalui tempat yang sama. Berjeda satu detik setelahnya, pemuda ini memalingkan wajah dari tatapan mata anak-anak itu, yang menatapnya penuh tantangan.
"Awalnya aku tidak berniat melakukan ini. Tapi kau membuatku sadar, selama kita masih bertemu, kau tidak akan pernah bisa memandang wanita itu sebagai istrimu." Ada helaan napas tipis yang terdengar di antara kalimat itu. "Aku akan tetap menepati janjiku. Kita hanya perlu tidak bertemu untuk sementara waktu."
Shinichi bukannya tidak memiliki keberanian, ia memutar tubuhnya dan membenturkan punggung ke dinding di sebelah Haibara hanya karena tidak mau lagi menatap sosok itu, yang secara kebetulan bersamaan dengan seluruh tenaganya yang menghilang. Satu-satunya yang tersisa pada Shinichi saat ini hanya perasaan benci.
Tidak perlu berdebat lagi, sejatinya Haibara sendiri juga tahu bahwa apa yang gadis itu lakukan adalah sebuah penipuan, permainan licik untuk menjebak Shinichi lagi, dan lagi. Shinichi telah kalah karena memang ia terlalu ragu-ragu untuk berbuat kejam. Andaikan malam itu ia tidak merasa kasihan dan benar-benar memperkosa Haibara, mungkin sekarang ia sudah menang. Namun ia tidak bisa. Shinichi merasa tidak tega melakukannya.
Lalu, sekarang apa yang masih ingin ia kejar? Hal terakhir yang ia punya hanya janji Haibara yang kebenarannya juga belum bisa dipastikan. Tanpa jaminan, tanpa bisa ia tentang. Haruskah ia bertaruh kembali?
Mata Shinichi memejam sebelum ia membenturkan kepalanya ke dinding dengan keras meski tidak cukup keras untuk meremukan tengkorak, kemudian bertahan dalam diam selama yang ia bisa.
"Mungkin memang sebaiknya, aku menghilang supaya kau bisa melupakanku meski sebentar." Perkataan Haibara adalah hal yang memecah keheningan panjang di antara mereka. "Maafkan aku, Kudo."
Shinichi membuka mata dan meraih tangan kecil Haibara, memeganginya dengan lemah dan hati-hati. Ia menatap tangan itu seraya merasakan dingin dari suhu tubuh lawannya, kontras dari suhu tubuhnya sediri yang panas. Shinichi paham di sini, hanya dirinya sendirilah yang terbakar. Ia telah kalah, dan sudah sangat lelah.
"Kau hanya ingin aku berhenti menemuimu, kan?" Ia bertanya sambil melepaskan tangan Haibara secara perlahan. "Aku tidak akan pernah lagi datang ke rumah Profesor mulai sekarang. Apakah itu cukup?"
Tidak ada yang menjawab perkataannya meski lawan bicaranya masih di sana, berdiri di tempat yang sama. Sebenarnya Shinichi pun tidak berharap mendengar suara Haibara lagi. Ia sangat membencinya sampai merasakan sakit hanya dengan berada di dalam satu rungan yang sama.
"Kau bisa kembali ke Beika dan meneruskan hidupmu yang berharga." Tambahnya sebelum berusaha berdiri menggunakan sisa-sisa tenaganya yang terakhir. "Bahkan jika kita bertemu di jalan, aku akan berpura-pura tidak melihatmu."
"Kudo-kun?"
Shinichi sudah berjalan sampai di tengah ruangan saat mendengar panggilan itu. Panggilan yang hanya mampu membuatnya menghentikan langkah, namun tidak membuatnya memiliki keinginan untuk menengok sang pemanggil.
"Sampai jumpa."
Meski dua kata itu membuatnya penasaran akan artinya, Shinichi tidak mempertanyakan dan lebih memilih meninggalkan tempat itu. Ia berjalan keluar, kemudian berhenti di beranda gedung apartemen untuk menatap langit senja yang merah, nyaris semerah darah yang masih terus menetas dari tangannya.
Tiba-tiba Shinichi dapat merasakan perih dan sakit, yang anehnya bukan berasal dari tangan, melainkan dari dadanya. Napas Shinichi tercekat, rasanya sulit untuk ia bernapas. Dipegangi dadanya dan meremasnya sekuat tenaga. Dengan cepat ia telah kehabisan stok oksigen dari paru-parunya, lalu terjatuh ke tanah.
Shinichi sempat merasakan napasnya berhenti sesaat, sesaat sebelum membuka mata dan tidak mengenali tempatnya berada.
"Shinichi?!"
Shinichi melirik, lalu menemukan Ran di atara ruangan yang serba putih, alat detektor jantung, dan juga selang infus.
"Kau sudah bangun? Apa kau masih merasakan sakit?"
Saat rentetan bertanyaan itu terdengar, ia menyadari satu hal lagi, bahwasannya ia mengenakan masker oksigen saat ini.
"Aku akan memanggil Dokter, tunggu sebentar."
Dan ketika akhirnya ia mampu menggerakan kepala untuk menengok, ia menyadari hal yang paling penting, yaitu, semua yang telah dilihatnya satu detik lalu adalah gambaran masa lalunya yang menjelma menjadi sebuah mimpi.
22.
A/N: Halo, selamat natal untuk yang merayakan! Terima kasih untuk yg masih setia membaca dan meninggalkan komentar!
