Kenyataan.
Shinichi Kudo dilarikan ke ruang operasi malam itu, dalam keadaan tubuh kejang dan demam. Ran beserta kedua orang tuanya, dan juga Kazuha serta Heiji, melepaskannya pada batas akhir yang dapat dilewati untuk mengantar pasien yang akan melakukan operasi. Dokter harus mengambil keputusan besar ini demi bertaruh dengan keberuntungan agar dapat menyelamatkan Shinichi.
Jika dibandingkan dengan pasien lain dalam kasus serupa, operasi Shinichi Kudo memang tidak seberapa. Akan tetapi kondisinya dan obat bius yang telah diterima berkali-kali, memperparah keadaannya.
Di bawah lampu putih operasi yang terang, pisau bedah membelah dada Shinichi secara perlahan, memperlihatkan hatinya yang berdarah-darah dan terluka parah. Dokter berhasil mengeluarkan potongan kaca dari sana, lalu menjahit lukanya.
Semua seperti akan berjalan lancar ketika tiba-tiba tubuh pasien yang sudah dibius itu kejang, membuat jahitan baru di tubuhnya koyak dan kembali mengeluarkan darah. Suara-suara orang dalam kecemasan, detektor jantung yang berbunyi nyaring, dan beberapa alat bedah yang berdencing, berlomba dengan napas Shinichi yang terdengar sesak dan menyakitkan. Dokter-dokter saling memberi aba-aba selagi salah satunya menyuntikan obat bius ke lengan Shinichi yang langsung membuat tubuh pria itu lemas tanpa tenaga. Tekanan jantungnya turun perlahan, secara pasti, dan berakhir hilang sepenuhnya.
"Dokter!"
Mata-mata yang seolah putus asa saling berpandangan. Salah satu dari mereka meraih alat pemompa jantung dan yang lainnya menyiapkan peralatan pendukung. Mereka menghitung sebelum mengejutkan Shinichi dengan sengatan yang bahkan mampu membangunkan orang dari kematian. Kemudian alat detektor jantung itu berangsur berbunyi normal, sehingga para dokter kembali ke formasi awal.
Setelah berjam-jam bergelut dengan ketidakpastian, akhirnya napas lega dapat berhembus di dalam ruangan. Dua orang suster yang berada di sana membersihkan darah di badan Shinichi dan menggantikan bajunya, sebelum sosok pria yang masih tidak sadarkan diri itu di bawa keluar di atas ranjang beroda.
Ran berserta kedua orang tua Shinichi, dan juga Heiji serta Kazuha, menyambutnya dengan kekalutan dan pertanyaan-pertanyaan yang harus lebih dulu ditelan. Tubuh Shinichi kembali dimasukan ke dalam ruang ICU selama menunggu kesadarannya kembali. Ia sudah melewati masa kritis, mereka bilang. Namun mata sebiru langit tanpa awan itu tidak kunjung terlihat juga.
Dokter menceritakan kecelakaan di dalam ruang operasi yang mana merupakan penyebab Shinichi tidak akan sadarkan diri selama beberapa hari. Obat bius yang telah digunakan secara berlebihan membuat beberapa sistem syaraf pria itu berhenti bekerja untuk sementara. Ia koma, satu minggu lamanya.
Ran serasa tidak punya hati, selagi menunggu dan memegangi tangan Shinichi dengan penuh kasih dan rasa ingin melindungi. Wajah suaminya pucat pasih, dan hanya dapat mengigau berkali-kali. Sampai, yang terakhir kali, Shinichi menyebut nama yang sama selama ini, dan membuka mata di siang hari itu.
"Shinichi?! Kau sudah bangun? Apa kau masih merasakan sakit?"
Rasa perih menyerang seluruh tubuhnya, terutama pada bagian dada sebelah kanan. Seraya memegangi bagian tersebut, pria muda ini terus berjalan menyusuri trotar jalan raya dengan langkah lemah dan pelan. Ia mengabaikan orang-orang yang menatapnya heran, yang mungkin disebabkan oleh seragam pasien yang ia kenakan.
Setengah perjalanan dan Shinichi merasa pandangannya mulai kabur dengan napasnya terengah, membuatnya berhenti sejenak untuk mencari sandaran pada dinding-dinding bangunan sebelum meneruskan perjalanan. Selagi menguatkan langkah, ia meyakinkan diri sendiri bahwa semua hanya sebuah mimpi buruk. Tidak mungkin Haibara kembali meninggalkannya setelah Shinichi berkorban begitu banyak. Haibara tidak akan sejahat itu padanya. Haibara mencintainya, sebesar Shinichi mencintai Haibara.
Tubuh Shinichi terus mengeluarkan keringat dingin dan rasanya ia sudah sangat lelah. Sekali lagi tangan kanannya meraba dinding terdekat untuk mencari sandaran, sedangkan tangan kirinya memegangi bagian dada sebelah kanan. Diangkat kepalanya untuk mendongak langit siang yang cerah tak berawan, tidak ada tanda-tanda akan datangnya hujan. Firasat Shinichi juga berkata hanya akan ada hal baik pada hari secerah ini. Bahkan, musim semi seolah mendukungnya dengan menghembuskan angin segar beserta wangi bunga-bunga sakura yang mulai mekar, memberinya sedikit kekuatan untuk kembali berjalan.
Ketika akhirnya ia dapat melihat pohon cemara yang menjulang tinggi di depan rumah Kudo, Shinichi menarik napas lega selagi mempercepat langkah. Ia mendorong gerbang rumah di sebelah rumahnya, membuat suara keriat pelan lalu masuk ke dalam. Adalah Profesor Agasa yang pria muda itu temukan pertama kali setelah membuka pintu utama, menatap Shinichi terkejut dari tempatnya berdiri seraya menjatuhkan handuk mandi, sebelum setengah sadar berlari mendekat seraya berseru terbata-bata, "Shi... Shinichi!"
Shinichi Kudo melepaskan diri dari bantuan yang Profesor berikan untuk memapahnya, sedikit mendorong pria tambun itu.
"Dimana Haibara?" Ia bertanya dengan suara yang terdengar lelah, juga napas yang terengah.
"Ai-kun?" Jawaban Profesor adalah jawaban ketakutan yang bercampur rasa terkejut, Shinichi dapat merasakannya.
Ia tidak menunggu sampai pria paruh baya itu menjelaskan, lebih memilih melangkah lurus ke kamar Haibara dan menemukan kekosongan di sana. Membawa diri masuk semakin dalam, Shinichi kemudian membuka satu per satu lemari di dalam kamar dan membuktikan bahwa tidak ada baju-baju favorit Haibara yang tertinggal, kecuali baju-baju lama dan beberapa seragam sekolah yang tidak lagi gadis itu kenakan.
Rasanya, Shinichi sudah tidak bisa lagi merasakan apa-apa tepat saat itu juga. Pandangannya kosong, dan bola matanya melirik tanpa kesan tertarik. Ia menutup kembali pintu lemari, kali ini pelan-pelan. Ketika berbalik dan bertemu pandangan dengan Profesor lagi, ia membuang muka dengan mulut bungkam.
"Shinichi?" Profesor mencoba meraih pundaknya untuk mengajaknya bicara jika mungkin.
Namun Shinichi mengabaikannya dan terus berjalan. Meninggalkan rumah Profesor Agasa, ia pulang ke rumahnya sendiri dan melangkah lurus ke dalam kamar di lantai dua. Meski serasa de javu, Shinichi mencegah dirinya untuk menatap ke arah jendela, menghentikan diri sendiri untuk memcari keberadaan Haibara.
Karena, Ai Haibara telah meninggalkannya, sekali lagi gadis itu menipunya dan menghancurkan hatinya. Ini semua bukan mimpi belaka, semua ini... nyata.
Memahaminya, rasa marah mengambil alih seluruh tubuh Shinichi. Tangannya mengepal geram diikuti pandangannya yang terangkat perlahan. Ia menatap ke arah depan yang merupakan ranjang dan satu meja kecil di dekatnya dimana dua buah kotak perhiasan bertumpuk rapi, dan sebuah kartu tergeletak di sampingnya. Benda-benda itu bagai bukti konstan atas kepergian Haibara. Hubungan mereka benar-benar berakhir. Ini memanglah akhirnya. Shinichi bersumpah, ia tidak akan memaafkan Ai Haibara setelah ini. Selamanya.
"Shinichi?"
Panggilan itu tidak membuat Shinichi bergerak. Ia mendengar, tapi seperti tidak dapat mendengar apa-apa.
"Shinichi..." Sebuah tarikan halus pada lengan kanannya mengikuti panggilan itu kali ini, sehingga Shinichi mengalihkan pandangan dan menemui sosok wajah yang membuat kemarahan di dalam tubuhnya semakin membara. "Kau harus kembali ke rumah sakit untuk—"
"Tinggalkan aku." Shinichi menepis tangan Ran dan berkata dengan nada dingin. Atau malah lebih terasa tidak bernada sama sekali.
Pria muda itu kemudian mengalihkan pandangan sampai menemui satu titik di atas meja dekat jendela, tepat pada vas kaca yang berisi bunga aster putih alih-alih mawar merah seperti yang biasa Haibara bawa pulang untuk menghias kamar mereka. Langkah Shinichi ringan mendekatinya, dan hanya berjeda satu detik dari kakinya yang berhenti, ia mencengkram vas kaca itu erat-erat kemudian menumbuknya di atas meja.
PRANK!
"Shinichi!"
Untuk satu ini, Shinichi menengok sosok pemilik suara, mengabaikan tangannya yang berdarah. Ran melangkah cepat bermaksud meraih tangan suaminya, akan tetapi sesuatu yang ingin diselamatkannya itu telah melesat dan berakhir mencekik lehernya tanpa ampun.
"Shin—!" suara wanita itu tercekat oleh tenaga Shinichi yang bertambah kuat.
"Kenapa kau melakukannya?" Pertanyaan yang sulit dipahami itu keluar penuh amarah di bawah tatapan tajam sang pemilik. "Siapa yang memberimu hak menyentuh barang-barang DI KAMAR INI!"
"SHINICHI!"
"SHIN-CHAN!"
Dua seruan yang nyaris bersamaan itu datang secara tiba-tiba, dari muka pintu kamar, lalu diikuti dua sosok pemiliknya yang berlari masuk dan menarik Shinichi mundur. Tubuh Shinichi di dorong sampai ke dinding oleh kedua orang tuanya, sementara Ran jatuh terduduk dengan tubuh lemas serta napas tersenggal-senggal.
Namun, semua itu sama sekali tidak membuat Shinichi Kudo merubah tatapan matanya yang tajam, maupun ekspresi wajahnya yang kejam.
Jari-jari tangan Shinichi membuka kaleng bir untuk kesekian kalinya, mengangkatnya ke depan mulut, kemudian menengguk isinya dengan cepat. Ia ingin bisa cepat tertidur agar berhenti merasakan api amarah yang membakar seluruh tubuhnya, yang menjadikan darahnya mendidih dan membuatnya ingin menghancurkan segala hal yang terlihat. Alih-alih, kesadarannya terus terjaga seolah-olah semua alkohol yang telah diteguknya itu justru memberinya energi.
Dengan melempar kaleng bir terakhir yang ia punya, pria muda ini kemudian berdiri masih sambil menatap jendela kaca yang menembus pemandangan rumah Profesor Agasa. Shinichi memalingkan muka menentang keinginannya untuk tetap mengawasi rumah itu kalau-kalau seseorang yang ia tunggu datang sewaktu-waktu, lalu beralih menatap tumpukan kotak perhiasan di atas meja dekat ranjang. Seraya menjaga tubuhnya yang terasa berat agar tidak jatuh, diraihnya dua kotak itu beserta sebuah kartu di dekatnya. Ia kemudian memasukan semuanya ke dalam satu tas besar, ditambah beberapa baju dan benda lain.
Saat itu juga Shinichi meninggalkan rumahnya, mengejar pesawat terakhir yang terbang ke Osaka malam ini, dan berakhir di depan mesion Heiji yang baru ia tinggalkan tiga minggu yang lalu. Ruang tamu mension begitu gelap ketika pertama kali Shinichi masuk. Ia cukup ingat dimana letak sakelar lampu sehingga menekannya sambil berlalu, lalu mendongak ruangan yang telah diterangi lampu itu untuk menatap sosok yang jelas-jelas berdiri di depan jendela kaca, yang membuatnya terbeku seketika.
"Haibara..."
Shinichi berkedip dan sosok Haibara hilang sepenuhnya. Ia terkejut akan pandangannya sendiri yang tertipu halusinasi. Seraya menjatuhkan tas yang dibawanya, Shinichi kemudian mengambil langkah maju sekali lagi. Kini ia berdiri tepat di samping bar dapur yang terdapat vas kaca berisi bunga mawar layu nyaris membusuk, menengoknya dan ingat bagaimana cantiknya sosok Haibara saat mengisi vas itu.
Cukup lama terdiam, Shinichi mengangkat tangan untuk menarik vas itu jatuh ke lantai. Ia menbiarkan air dari dalam vas membasahi kakinya yang terbalut kaus kaki, dan menginjak serpihan-serpihan kaca beserta bunga busuk yang menjadi isinya sambil berjalan masuk ke kamar.
Kamar yang juga gelap dan baru Shinichi terangi itu tidak menipunya kali ini. Ia sadar diri bahwa Haibara tidak akan pernah kembali, dan meski kembali sekalipun, ia juga tidak akan sudi menerima wanita kejam itu.
Shinichi menjatuhkan diri di atas ranjang kemudian. Bau begitu familiar yang seketika tercium oleh hidungnya ketika membaringkan diri membuatnya merasa tenang secara tiba-tiba. Secara perlahan-lahan ia menggenggam seprei yang menutupi ranjang, lalu menariknya untuk menciumnya lebih dekat.
Aroma ini, mirip dengan aroma tubuh Haibara, dan Shinichi tidak dapat berbohong bahwa ia sangat merindukannya.
Ia begitu merindukannya sampai-sampai kerinduan itu menjadi rasa sakit yang menyakiti dadanya. Gigi-gigi Shinichi mengerit mencoba menahan kesakitannya yang makin menjadi-jadi, hingga ia akhirnya tidak tahan lagi dan memutuskan melepaskannya sebelum membangunkan diri.
Shinichi menyetak seprei itu dengan kasar, lalu melemparnya ke lantai sebelum berjalan keluar. Ia membuka kulkas untuk menemukan bir-bir yang masih tersimpan disana, yang telah ia beli saat pertama kali dirinya dan Haibara pindah ke mension ini. Diraihnya salah satu kaleng bir itu dan segera membukanya, menengguknya dengan cepat, mengosongkan isinya satu persatu, hingga tidak satu pun tersisa. Kali ini kaleng bir terakhir itu berhasil melumpuhkan kinerja otak Shinichi. Matanya terasa berat dengan tubuh yang tidak lagi mampu berdiri. Kaleng bir di tangannya terjatuh, diikuti dengan tubuhnya sendiri yang ambruk, kehabisan energi.
Heiji Hatori dikejutkan oleh telpon tengah malam yang membangunkan tidurnya, telpon dari salah satu teman lamanya dari SMA, yang kini telah bekerja di kantor polisi, salah satu bawahannya. Temannya itu mengabarkan bahwa Shinichi Kudo saat ini tengah berada di kantor polisi cabang Osaka, setelah tertangkap di dalam klab malam yang tidak jauh, karena menyebabkan kegaduhan serta terlibat perkelahian. Fakta satu ini benar-benar mengejutkan Heiji sampai pria berkulit hitam itu meloncat dari atas ranjang dan segera berlari.
Heiji telah mendapat kabar tadi pagi dari Ran bahwa Shinichi meninggalkan rumah dan kemungkinan kembali ke Osaka, dan ia memang berencana menemui temannya itu esok pagi karena pekerjaannya hari ini begitu banyak pasca cuti menikah yang diambilnya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa rencananya itu justru harus dipercepat karena pria yang dimaksud berkelahi di klab malam. Shinichi Kudo bukan orang yang biasa mengunjungi tempat-tempat seperti itu kecuali ada sebuah kasus yang menuntutnya untuk datang. Akan tetapi berkelahi pasti bukan sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan. Bahkan Shinichi masih belum kembali bekerja saat ini.
Mobil yang Heiji kendarai akhirnya sampai di depan kantor polisi cabang. Ia segera turun dan setengah berlari masuk ke dalamnya. Ditemuinya seorang teman yang telah menelpon Heiji tadi, lalu ia diantarkan ke tempat Shinichi berada.
"Kudo..." Heiji terkejut melihat keadaan temannya yang setengah sadar berbaring di atas kursi tunggu. Segera diraihnya pria itu, lalu menuntunnya mendudukan diri. "Hei? Kau bisa mendengarku?"
Secara perlahan, mata Shinichi terbuka. Pria yang pernah ia anggap sebagai rival terberatnya itu, kini mendongak dan menatapnya balik. Namun sehembus napas setelahnya, Shinichi menepis tangan Heiji.
"Lepaskan aku." Kata Shinichi seraya menghembuskan napas yang bercampur bau alkohol.
Heiji masih cukup terkejut sehingga sedikit terlambat mengikuti temannya yang sudah berdiri dan berjalan pergi. Ia baru berdiri lima detik setelahnya, lalu menahan langkah Shinichi dengan cara menarik kerah belakang kemeja pria itu. Seraya menahan perlawanan tidak berarti dari Shinichi, Heiji menatap pria lain yang bersama mereka, yang berdiri di depannya dengan seragam kepolisian yang lengkap.
"Tolong lepaskan dia kali ini saja, aku yang akan bertenggup jawab." Katanya dengan pelan dan sedikit sungkan.
"Siap, Kapten!" Jawaban itu diikuti penghormatan formal sebelum pelakunya berbalik dan berjalan meninggalkan mereka.
Tidak lama, Heiji juga melepaskan kerah Shinichi dan membiarkan pria itu pergi dengan kondisi mabuk berat, terbukti dari caranya berjalan yang terhuyung beberapa kali. Ia mendesah napas sebelum akhirnya mengikuti pria muda itu keluar. Heiji hendak memasuki mobilnya untuk mengejar Shinichi yang sudah berada di tepi jalan, sekalian bermaksud mengantarnya pulang. Akan tetapi tepat saat itu pria mabuk ini malah menyeberang begitu saja tanpa perduli lampu penyeberangan yang masih merah.
Dengan segera Heiji berlari untuk mencegahnya, menariknya mundur kembali ke trotoar jalan.
"Kau mau mati, Kudo!" Heiji memaki sepenuh hati.
Alih-alih berterima kasih, pemilik marga Kudo itu justru mendorong Heiji sebelum menyeberang lagi. Dengan kesal kali ini Heiji menariknya sekuat tenaga, lalu mendorongnya hingga jatuh ke trotoar. Ia menatap heran pada sosok itu. Apakah bahkan benar sosok itu adalah Shinichi temannya?
"Ada apa denganmu, Brengsek?!" Rasanya tidak pernah sama sekali Heiji sekesal ini pada Shinichi.
Ia membungkuk untuk mencengkram kerah baju depan pria itu, lalu menariknya seraya mengambil ancang-ancang untuk menyarangkan tinju. Heiji tidak berakhir memukul lawannya bukan karena tidak tega, melainkan karena Shinichi telah lebih dulu menutup mata bersamaan dengan kesadaran pria itu yang hilang.
Merasa kekesalannya tidak dapat tersampaikan, ia melepaskan tubuh Shinichi dengan sedikit mendorongnya sehingga tergeletak mengenaskan di sana. Heiji kemudian memutar langkah ke arah parkiran untuk mengendarai mobil, menghentikan mobilnya di dekat Shinichi sebelum turun untuk membantu pria itu masuk.
Heiji meninggalkan Shinichi di bangku belakang lalu dirinya sendiri masuk ke bagian depan dan menduduki kursi kemudi. Ia menstater mobil, dan langsung mengendarainya di jalan raya, setelah itu meraih ponselnya dari dalam saku celana untuk dipindahkan ke dashboard di depannya. Ditekannya beberapa menu pada layar ponsel itu sebelum memasang headset ke telinga, yang terhubung dari ponselnya. Seraya mengawasi jalanan dan melirik spion tengah untuk memperhatikan Shinichi, kapten kepolisian Osaka ini mendengar nada sambung telpon yang tergantikan sapaan sebuah suara milik wanita.
"Moshi-moshi?"
"Moshi-moshi, Ran-neesan." Heiji memanggil nama lawan bicaranya sambil menahan diri untuk tidak menghela napas.
"Heiji? Apa kau sudah menemukan Shinichi?"
Mendengar pertanyaan itu, spontan Heiji melirik pemilik nama yang saat ini tengah menggumam tidak jelas, masih dalam keadaan tertidur pulas.
"... ya, Neesan. Saat ini aku sedang bersamanya."
"Syukurlah kalau memang dia ada di sana." Heiji dapat mendengar nada sendu dari suara Ran yang pelan itu. "Apa dia baik-baik saja?"
Akhirnya Heiji tidak kuat menahan helaan napas juga. Ia menghela satu kali sebelum membalas seperti ini, "Aku tidak yakin."
"Apa terjadi sesuatu padanya?" Sahutan Ran sangat cepat kali ini, disertai keterkejutan serta kecemasan.
"Dia..." Heiji menghentikan suaranya sendiri hanya untuk mencari kata-kata yang lebih halus. "... terlihat sedikit aneh."
Untuk yang pertama Ran membuat jeda panjang dalam sambungan telpon mereka. Heiji menunggu dengan sabar seraya menduga-duga bahwasannya Ran sudah tahu perilaku aneh Shinichi. Meski memang perilaku Shinichi Kudo sudah banyak berubah sejak berhubungan dengan Haibara, namun keanehannya kali ini seperti dua kali lipat lebih aneh.
"Aku rasa dia masih terkejut karena Haibara menghilang." Akhirnya suara lawan bicara Heiji kembali terdengar, meski kedengarannya ragu-ragu. "Tolong jaga dia Heiji, dia belum memeriksakan kesehatannya sejak kabur dari rumah sakit tiga hari yang lalu. Aku khawatir akan terjadi sesuatu."
"Tidak perlu cemas, aku pun tidak merasa tega meninggalkannya dalam keadaan seperti ini." Kata Heiji setulus hati.
"Terima kasih."
Heiji seperti bisa melihat Ran tersenyum saat mengatakannya, sehingga ia pun menarik senyum kecil tanpa sadar.
"Heiji?" Tiba-tiba nada suara wanita itu berubah sehingga membuat pendengarnya terkesiap sedikit. "Kalau tidak terlalu merepotkan, tolong sampaikan pada Shinichi bahwa pengadilan mengirimkan surat. Lusa Shinichi harus menghadiri sidang disiplin polisi, dan persidangan untuk membahas uang pemerasan yang Kenji lakukan akan dilaksanakan satu minggu lagi. Lalu..."
Heiji tertegun pada satu kata terakhir yang Ran ucapkan dengan nada menggantung. Ia menunggu cukup lama sebelum memutuskan bertanya seraya menutupi rasa penasarannya, "Lalu apa lagi?"
"... itu saja." Balas Ran setelah beberapa detik. "Dia tidak mau menerima telpon dari siapa pun, aku takut dia juga tidak membuka e-mailnya, maka dari itu tolong sampaikan padanya."
"Baiklah, Neesan, pasti akan aku sampaikan." Heiji memendam rasa penasarannya karena merasa sungkan untuk mendesak Ran. "Kalau tidak ada hal lain lagi akan aku tutup. Ini sudah terlalu malam."
"Iya, Heiji. Terima kasih banyak sekali lagi."
"Tidak masalah." Untuk yang terakhir kali Heiji menjawabnya, lalu menutup sambungan telpon mereka.
Setelah melepas headset dari telinga, pria muda ini kemudian menarik kopling tangan. Ia memelankan mobil hingga akhirnya berhenti di area parkir salah satu mension mewah di Osaka. Namun alih-alih segera keluar, Heiji Hatori justru menengok ke belakang untuk menatap sahabat karipnya.
Saat itulah, ia baru menyadari apa yang Shinichi gumamkan sejak tadi, yaitu, nama marga Ai Haibara.
Shinichi Kudo terjaga dari tidurnya yang gelap tanpa mimpi, lalu merasakan hangat di sisi ranjangnya seolah bagian itu telah terisi. Ia mengerjab setelah menyiapkan diri untuk menemui siapa sosok di sampingnya, meski di dalam hati ia tahu tidak ada kemungkinan lain selain Ai Haibara yang bakal berada di sana. Karena, hanya wanita itulah yang selalu menyambutnya di pagi hari ketika fajar menjelang.
Kemudian, saat membuka mata, Shinichi justru menemukan sosok paling tidak terduga yang tidak pernah ada dalam mimpi buruknya sekalipun, bahkan jika sosok itu adalah Ran atau Ichigo, rasanya masih sedikit masuk akal. Akan tetapi, sosok itu adalah... Heiji Hatori.
"Brengsek!" Shinichi melompat bangun seketika, gerakan refleknya ini juga yang membuat bahunya membentur kepala Heiji yang begitu dekat dengannya, sekaligus membangunkan sosok lain di ranjang itu. "Sedang apa kau di sini!"
Heiji masih setengah sadar saat mendudukan diri dan menguap lebar. Dengan wajah bingung pria muda itu menengok ke kanan dan ke kiri, sebelum akhirnya membalas tatapan Shinichi.
"Sudah siang, ya?" Pria Osaka itu bertanya balik seolah tidak mendengar perkataannya. "Gawat, aku terlambat..."
Shinichi memandang Heiji yang berlaku santai, kontras dari perkataan pria itu. Ia berdecak kesal sebelum turun dari ranjang dan berjalan ke luar menuju kamar mandi. Baru satu menit pria ini di dalam dan menurunkan celananya untuk buang air kecil, Heiji tiba-tiba menerobos masuk ke kamar kecil yang memang tidak tertutup itu.
"Aku menumpang mandi di sini, ya? Aku sudah terlambat." Katanya, basa-basi.
Heiji jelas-jelas tidak meminta izin karena sebelum selesai bicara pun pria itu sudah melepas baju-bajunya. Shinichi hanya memberikan selayang pandang dengan sorot mata tajam sebelum pergi setelah ritual kecilnya selesai. Ia tidak repot-repot menutup pintu kamar mandi saat melewatinya, dibiarkannya pintu itu terbuka sementara dirinya sendiri berjalan menuju kulkas untuk mengambil air mineral dingin di dalamnya.
"Kudo, Ran-Neesan kemarin menelpon dan bilang kalau pengadilan mengirimkan surat padamu." Shinichi mendengar suara Heiji yang menggaung di dalam kamar mandi, diiringi gemercik air dari shower yang menyala. "Persidanganmu untuk kasus disiplin polisi akan dilakukan lusa.—Ah, segarnya! Lalu minggu depan persidangan untuk pengembalian uang pemerasan."
Dengan pelan seraya menelan air, Shinichi mengembalikan botol kaca di tangannya ke dalam kulkas, lalu beralih meraih satu kaleng bir. Ia menutup kulkas, berbalik, dan berjalan ke dekat jendela sambil mengabaikan semua yang Heiji katakan.
Dibukanya kaca jendela geser di depannya, kemudian ia keluar untuk berdiri di beranda. Suara Heiji yang masih bicara terdengar samar sehingga Shinichi tidak dapat mendengar lagi kelanjutannya. Seraya membuka kaleng bir di tangannya, pria ini menatap jauh ke horizon langit muda. Warna kemerahan matahari pagi di atas laut Sakishima mengingatkannya pada hal-hal yang ingin ia lupakan. Tanpa sadar pandangan Shinichi sendu dengan bayang-bayang rindu. Suasana hatinya yang memburuk dengan cepat membuat pria ini menengguk habis bir dalam satu kali gerakan.
Melempar kaleng yang sudah kosong itu ke sudut beranda, Shinichi memejamkan mata dan menyisir rambutnya ke belakang dengan gerakan frustasi. Ingin rasanya ia berlari keluar untuk mencari minuman yang lebih keras sehingga dapat membuat otaknya berhenti bekerja, karena hanya dengan begitu ia tidak akan lagi mengingat Haibara.
"Oi!" Seruan itu mengganggunya dari samping, dari Heiji yang berjalan mendekat seraya mengancingkan kemeja putih yang sepertinya milik Shinichi. "Kau tidak mendengarku?"
Shinichi justru berjalan melewatinya alih-alih memberikan tanggapan. Ia sekali lagi menuju kulkas untuk mengambil sekaleng bir dari sana. Namun kali ini membuka dan meminumnya di tepat.
"Haruskah aku membantumu mencari Oneesan?" Entah sejak kapan Heiji sudah berada di belakang Shinichi saat menanyakan hal itu. "Aku bisa memeriksa catatan orang-orang yang pergi ke luar negeri kalau kau mau?"
Lebih dulu Shinichi meneguk habis bir keduanya sebelum menemui pandang Heiji. Suasana hatinya yang sudah buruk bertambah, dan itu terlihat jelas dari sorot mata dan wajahnya.
"Aku tidak ingin mencarinya." Ia menjawab dengan suara dingin, juga amarah yang sangat terasa.
"Maka dari itu aku menawarkan diri." Tandas Heiji yang berjalan lebih dekat. "Aku akan mencarinya untukmu."
Rasa-rasanya darah di dalam tubuh Shinichi mendidih, kemarahan dan kebencian mengambil alih. Seraya membanting kaleng bir sekuat tenaga, ia membalas dalam satu tarikan napas sebelum pergi, "Aku tidak perduli pada wanita itu!"
Suhu ruangan rasanya telah naik secara signifikan, membuat Shinichi tidak nyaman sehingga ia turun dari tempat duduknya di depan bar dan seorang bartender yang memunggunginya, lalu berjalan sembari membawa satu botol vodka kecil yang saat ini isinya sedang ia teguk beberapa kali.
Dunia seperti berputar sangat cepat hari ini sampai-sampai Shinichi bisa merasakannya setiap melangkah. Kakinya goyah dan tidak dapat berjalan di dalam satu garis, bahkan ketika berjalan di lorong klab menuju pintu keluar, ia menabrak dinding beberapa kali. Tubuh Shinichi condong ke samping dengan mata memincing sebelum mundur dari sesuatu yang di tabraknya tadi. Ia mencoba memfokuskan pandangan saat mendengar keluhan kesal yang seperti tertuju padanya.
"Sial! Aku sedang punya banyak masalah dan kau membuat suasana hatiku semakin buruk!" Seorang pria bertindik dengan rambut pirang adalah pemilik suara itu, mengatakan hal yang seharusnya dikatakan oleh Shinichi.
Pria tidak dikenalnya itu menatap tajam sebelum kembali berjalan, namun kekesalan Shinichi dalam gambaran yang berbeda sehingga tidak ingin membiarkan kejadian ini berakhir begitu saja. Pada langkah ketiga yang pria pirang itu ambil, Shinichi berjalan cepat mengejarnya, lalu setelah jarak mereka tinggal sejengkal, ia melayangkan botol vodka di tangannya ke kepala sang lawan.
PRANK!
"AARHG!" Pria itu jatuh seketika seraya memegangi kepalanya yang berdarah.
Melihatnya membuat tatapan marah Shinichi berubah semakin tajam. Ia menekuk lutut dan kemudian meraih kerah kaos pria pirang tersebut. Berikutnya tanpa jeda, Shinichi melayangkan tinju berkali-kali ke wajah lawannya.
"Kenapa kau," suara teriakan kesakitan terdengar di sela perkataan Shinichi. "... menghalangi jalanku, Brengsek!"
"Ah! Maafkan aku! Maafkan aku!" Pria itu memohon sambil menempelkan kedua tangannya menjadi satu di depan dada, namun tanpa rasa iba Shinichi terus memukulinya.
"Panggil penjaga, cepat!"
Suara lain kembali mengganggu Shinichi dan membuat pria ini semakin marah. Hanya saja saat ia menengok, pemilik suara dan seseorang yang bersamanya sudah berlari. Shinichi berdecak geram sebelum berdiri sekaligus melepaskan pria di lantai itu yang sepertinya sudah pingsan. Ia kembali berjalan ke arah yang sama dengan tujuan awalnya, yaitu pintu keluar untuk mencari udara segar.
Setelah mencapai bagian luar bangunan klab malam yang baru ditinggalkannya, Shinichi berhenti dan menatap jalan raya yang dipenuhi kendaraan. Kepalanya terasa pusing melihat mobil-mobil yang melintas cepat di jalanan, membuat perutnya mual diikuti isi lambungnya yang serasa ingin keluar. Tubuh Shinichi terhuyung ke belakang dan ia muntah pada waktu yang tepat. Air bening dan lendir beserta asam lambung mengucur deras dari mulutnya, sampai akhirnya tidak ada lagi yang tersisa. Namun justru itu yang membuat Shinichi merasa dunia telah berhenti berputar. Ia dapat melihat segala sesuatu di depannya dengan jelas meski tubuhnya terasa lemas seolah tenaganya telah terkuras.
Menegakan badan, pria ini kemudian mengusap keringat dingin dari kening. Shinichi lantas berjalan ke dekat jalan raya seraya menarik napasnya secara manual, setelah itu menghentikan salah satu taksi yang melitas di depannya. Tubuh Shinichi yang nyaris kehabisan tenaga langsung ambruk di bangku belakang taksi.
Sang sopir harus rela kerepotan untuk turun dan membantunya membenarkan posisi.
"Permisi tuan, apa Anda ingat alamat Anda?" Sopir itu berucap sopan dari depan pintu.
Shinichi masih bisa membaca situasi karena ia hanya sedang kehabisan tenaga, bukan mabuk. Dengan mata terpejam ia memberi jawaban, "Sakishima Mension."
Tidak ada jawaban di dengar oleh Shinichi setelahnya, selain suara pintu mobil yang ditutup, diteruskan dengan pintu lain yang dibuka dan ditutup kembali dalam menit yang sama. Shinichi kemudian mendengar mesin taksi menyala, dan tidak butuh waktu lama sampai taksi itu berjalan membawanya membelah jalanan malam.
Perjalanan sepuluh menit ia habiskan untuk menyimpan semua energinya yang tersisa, sehingga saat telah sampai ia tidak memerlukan bantuan untuk turun. Shinichi membayar taksi tanpa mencari tahu berapa nominal yang harus dibayarnya. Tdak mendengar adanya protes apapun, pria ini lantas berjalan masuk ke dalam gedung. Ia menaiki lift dan memencet tombol-tombol angka di dindingnya, sehingga tubuhnya di antarkan ke lantai lima.
Shinichi tidak membuang waktu untuk keluar dari lift dan berjalan ke depan salah satu pintu mension. Dengan sekali hentakan dibukanya pintu itu dan ia masuk sebelum mendorong pintu untuk kembali tertutup. Lalu pada langkah ketiga, ia mendongak karena menyadari lampu ruangan telah menyala. Bersamaan dengan itu juga, pandangan Shinichi terarah ke dapur dan menemukan sosok Ai Haibara di sana.
"Shinichi?"
Mata Shinichi terkesiap, dan sosok itu telah berganti dari Haibara menjadi Ran.
"Kau dari mana?" Sosok Ran yang nyata dan jelas mendekatinya, membuat Shinichi mulai mempertanyakan kewarasannya sendiri karena setiap kali ada sosok lain di dalam mensionnya, ia selalu melihat sosok itu sebagai Ai Haibara.
"Aku cemas sekali padamu, Shinichi. Apa kau bahkan sudah makan?"
"Keluar." Balasan dari rentetan pertanyaan itu hanya satu kata bernada dingin.
"Aku kemari karena mengkhawatirkan keadaanmu." Ran meraih tangan Shinichi ragu-ragu sambil melanjutkan, "Kau tidak datang ke pengadilan dan mengirimkan surat keterangan sakit. Aku pikir sesuatu telah terjadi padamu."
Shinichi menarik tangannya begitu suara Ran berhenti, melepaskan diri, diikuti telapaknya yang berbalik dengan cepat dan penuh tenaga yang berakhir menampar wanita itu.
PLAK!
"Keluar." Ia membeo selagi Ran mengangkat pandangan untuk dipertemukan dengan miliknya, dengan wanita itu memegangi pipi yang membekas tamparan.
"Kenapa kau seperti ini, Shin—"
Kali ini Shinichi tidak menunggunya menyelesaikan perkataan, melainkan langsung menyeret wanita itu ke pintu. Namun sebuah suara yang berasal dari sosok yang tidak disadarinya, menghentikan itu semua, seketika.
"Papa..."
Mengikuti sumber suara, Shinichi menemukan Ichigo berdiri di atas sofa sambil mengusap-usap mata dan menguap kecil. Ia menggertakan gigi-giginya sejenak hanya untuk berpaling dan membuka pintu. Kembali diseretnya Ran setelah itu, kemudian mendorong istrinya tersebut ke lantai di luar mension.
"Aah!" Seruan kesakitan Ran terdengar ketika Shinichi kembali masuk.
Ia berjalan lurus ke arah Ichigo yang terlihat terkejut dan ketakutan, mengangkat bocah lelaki yang baru berusia empat tahun itu dengan kedua tangan, kemudian berjalan mendekati Ran. Shinichi tidak berusaha menyembunyikan apapun yang dipancarkan oleh matanya ketika pandangan mereka bertemu. Bahkan tanpa ragu, ia menghentak tubuh Ichigo dari gendongannya dan membiarkan putranya itu berakhir jatuh di atas tubuh Ran yang masih bersimpuh di lantai.
"SHINICHI!"
Shinichi berbalik dari tangisan anaknya yang menyusul seruan marah Ran, lalu membanting pintu keras-keras.
23.
A/N: halo bertemu kembali! Selamat tahun baru semua! Wah, tidak terasa fic ini sudah berusia 8 tahun. Saya terharu untuk yang masih setia membaca dan berkomentar :')
Special thank to yoshugamaru and Zaleha2005 yang masih setia mereview
