Semua Orang Menyerah.

Ada hal-hal yang tidak dapat dirubah oleh manusia seberapa pun besar keinginan mereka. Dan bagi Ran, hal itu adalah hati Shinichi Kudo. Katakanlah ia sangat egois karena tidak mau melepaskan suaminya atas dasar cinta, meski keinginannya untuk menyelamatkan Shinichi dari jebakan Haibara bukan sekedar alasan, bahkan sepenuh hati ia juga berjuang demi anak mereka, akan tetapi yang membuatnya masih bertahan dengan semua tingkah laku kasar pria itu tidak lain hanya satu.

Selama 24 tahun hidup, hanya Shinichi yang mengisi hati Ran. Mereka adalah contoh pasangan paling serasi bagi semua orang, yang sudah ditakdirkan berpasangan oleh Tuhan, sejak sebelum dilahirkan. Wajar saja jika ia tidak ingin menyerah hanya karena satu atau dua tamparan, karena semua itu tidak bakal lebih sakit dari pada perpisahan. Hanya sendainya, dirinya sendirilah yang merasakan itu semua, bukan anak mereka. Karena Ran bisa menahan rasa sakit dari ratusan tamparan sekali pun, tapi tidak dengan rasa sakit saat melihat anaknya mendapat perlakuan kejam yang notabene dilakukan oleh suaminya sendiri, sekaligus pria yang merupakan ayah kandung dari Ichigo Kudo.

Kedua tangan Ran memeluk buah hatinya yang masih menangis tersedu-sedu akibat perlakuan kasar Shinichi beberapa menit lalu. Pintu mension yang bergeming dan dingin di depan keduanya menjadi saksi bisu atas kelakuan di luar nalar pria itu. Hati Ran sakit, terasa pilu seolah diiris-iris menjadi seribu. Ia tidak dapat lagi menahan air matanya, untuk tidak terjatuh.

Rasa bersalah Ran pada Ichigo dalam batas tidak dapat digambarkan sekarang. Ini semua salahnya karena masih terus memperjuangkan Shinichi tanpa berpikir bahwa anaknya akan ikut terluka. Ia begitu buta sehingga tidak dapat melihat bahwa Ichigo pun tidak berharga bagi pria itu. Ran masih saja mengira dengan memiliki Ichigo, Shinichi akan kembali padanya.

Seandainya, ia melepaskan Shinichi sejak lama, maka anaknya tidak akan sampai merasakan hal seperti ini. Bahkan ia sendirilah yang sengaja membawa Ichigo datang ke Osaka karena berpikir Shinichi akan menahan diri di depan anak mereka.

Yang rupanya salah...

Seraya menarik udara dalam dari dalam paru-parunya yang sesak, lalu menghembuskannya perlahan, Ran menguatkan diri untuk berdiri dengan menggendong Ichigo di depan dada. Ditepuk-tepuknya punggung bocah empat tahun itu sebelum berjalan, sementara Ichigo mengusap-usapkan wajah ke pundaknya.

Ran memasuki lift dan memutar langkah lalu berdiri diam sambil meluruskan pandangan ke arah pintu mension yang ditinggali Shinichi, memberi kesempatan bagi suaminya untuk yang terakhir kali. Jika pria itu keluar untuk mengejar mereka sebelum pintu lift tertutup, ia akan berusaha memaafkan suaminya tersebut. Namun jika tidak, ia bersumpah pada diri sendiri hanya akan hidup bersama Ichigo setelah ini. Ia bersumpah demi langit dan bumi, tidak akan membiarkan pria kejam itu bertemu dengan anaknya lagi.

Sampai akhirnya, denting lift berbunyi sebelum pintunya menutup dan bergerak turun, Ran tidak pernah melihat Shinichi membuka pintu sedikit pun.

Ia tidak lagi menangis dengan tubuh gemetar selagi mempererat pelukannya pada tubuh Ichigo, melainkan membagi kekuatan bersama putranya tersebut. Mulai detik itu juga, mereka hanya memiliki satu sama lain untuk bertahan hidup. Dan langkah pertama yang wanita ini ambil dalam takdir barunya setelah pintu lift terbuka, diiring tatapan matanya yang penuh tekad dan punggung yang tegak.


Kazuha Tomoya, yang kini telah berganti nama sebagai Kazuha Hatori, berjalan masuk ke bangunan di depannya, melewati pintu kaca sebelum menemui sosok Shinichi yang telah duduk di balik sebuah meja. Ia berhenti di jarak tiga meter yang memisahkan mereka, menatap kondisi pria muda itu yang terlihat mengenaskan, sebelum kembali berjalan dengan menggenggam erat sesuatu di tangannya.

Wanita itu duduk di hadapan Shinichi yang terlihat menatap kosong arah depan, bukan padanya yang baru saja datang. Ekspresi kesal istri Heiji ini tidak tersembunyi saat matanya menatap mata biru yang tidak memiliki gairah hidup itu. Kekesalan Kazuha bukan lagi karena Shinichi adalah penyebab sahabatnya menderita, kali ini ia kesal karena pria itu yang membuat suaminya uring-uringan. Bahkan, satu minggu yang lalu Heiji sampai tidak pulang ke rumah setelah pergi di tengah malam untuk menjemput Shinichi.

"Apa kau tahu kalau istri dan anakmu meninggalkan rumah?" Kazuha melewatkan sapaan karena ia yakin lawan bicaranya juga tidak memerlukan hal itu. "Ran dan Ichigo pindah ke apartemen yang dulu ditinggali ibunya, tadi pagi, tepat setelah mereka kembali dari Osaka."

Suara Kazuha berhenti untuk memberi kesempatan pada Shinichi kalau-kalau pria itu ingin menjawab, karena ekspresi wajah di depannya ini tidak menunjukan reaksi apa-apa sehingga ia tidak dapat menebak. Meski mendongak dengan dagu sedikit terangkat, namun Shinichi seolah tidak memperhatikan apa yang dikatannya, atau malah menganggapnya tidak ada.

"Siapa yang akan membantumu sekarang, Kudo?" Emosi Kazuha mulai keluar kendali, membungkus suaranya yang terdengar dibalut emosi. "Apa kau akan tetap seperti ini? Tidakkah kau merasa bersalah pada anakmu meski hanya sedikit? Jika kau mau meminta maaf, aku yakin Ran akan memaafkanmu. Dia akan kembali padamu dan membantumu."

Ia menunggu cukup lama kali ini, hanya untuk menemukan semua pertanyaannya dibalas dengan sebuah dengusan. Shinichi yang merupakan pelakunya mengangkat tangan kanan, diikuti tangan kirinya yang juga terangkat karena sebuah borgol mengunci kedua belah bagian tubuh itu menjadi satu. Pria di depan Kazuha ini kemudian mengusap ujung hidung menggunakan punggung tangan, sebelum memalingkan wajah ke arah samping mereka yang merupakan meja kerja para polisi, yang kini hanya terisi dua di antara lima meja di sana.

"Siapa bilang aku perlu bantuan." Shinichi mengucapkannya, akhirnya menjawab dan menandakan bahwa perkataannya sejak tadi didengar.

"Lalu kau benar-benar mau dipenjara?!" Kazuha meninggikan suara dengan sengaja untuk memperlihatkan betapa kesal ia. "Heiji sudah tidak bisa membantumu lagi kali ini, pria yang kau pukuli itu nyaris mati!"

Tangan Kazuha mencengkram sekuat tenaga, selagi terus mengawasi Shinichi yang bersikap tak acuh. Kebalikan dari lawan bicaranya itu, ia kemudian menengok sebelah kirinya di mana terdapat dua sel penjara yang berjajar, yang salah satunya terisi sedangkan sisanya kosong. Kantor polisi cabang Osaka ini terbilang rapi dan bersih karena hanya merupakan tempat singgah sementara bagi para tersangka kasus kejahatan. Namun keadaannya akan sangat berbeda ketika nanti Shinichi dipindahkan ke kantor polisi pusat. Pria itu pasti akan dijadikan satu dengan para penjahat. Meski, untuk sekarang ini Kazuha mulai sangsi bahwa Shinichi juga berbeda dari mereka.

Dengan lelah Kazuha menarik napas melalui mulut dan menghembuskannya dari tempat yang sama, kemudian ia kembali menatap Shinichi yang masih memalingkan muka ke kiri. Melihat penampilan pria yang biasanya rapi itu berubah acak-acakan begini, menyulut rasa iba dari dalam hatinya. Amarah Kazuha berangsur berganti. Ia menarik salah satu tangannya yang sejak tadi memegang kain penutup kotak makan. Diletakannya benda itu di atas meja dan dibukanya.

"Makanlah dulu, kau pasti belum makan dari pagi." Ia berkata seraya menaruh sumpit di atas kotak bekal yang sudah terbuka, mengarahkan pangkalnya ke arah Shinichi.

"Aku tidak tertarik." Akhirnya pria muda itu mempertemukan pandangan mereka, meski sedetik setelahnya membangunkan diri dan berdiri. "Sebaiknya kau pergi dari pada membuang waktuku."

Ketika Shinichi berbalik, salah satu polisi langsung berdiri untuk mendekat. Polisi pria itu akan mengiringi langkah Shinichi untuk kembali ke dalam sel, akan tetapi Kazuha merasa belum selesai sehingga buru-buru berkata untuk mencegah teman suaminya itu pergi.

"Seandainya Haibara dapat ditemukan," Wanita ini mengangkat pandangan karena yakin nama yang disebutkannya akan menarik perhatian Shinichi, dan terbukti dari pandangan mereka yang langsung bertemu, juga tatapan tidak terputus pria itu yang seolah menunggu. "... apa kau akan kembali menjadi dirimu sendiri?"

Kazuha cukup peka untuk mengetahui bagaimana pertanyaan itu sangat berpengaruh terhadap seorang Shinichi Kudo. Kedua tangan dalam belenggu borgol itu menggenggam erat kekosongan, Kazuha meliriknya. Ia menunduk beberapa saat kemudian, berusaha mengumpulkan keyakinan untuk dapat melanjutkan.

"Aku akan mencarinya untukmu, dan membawanya kemari." Ucapnya dengan nada suara yang menurun, berbanding terbalik dari kepalanya yang kembali terangkat. "Asal kau berjanji untuk berubah."

Ditemukannya saat itu Shinichi menggertakan gigi dengan geram, dan wajahnya yang tanpa ekspresi sejak tadi, kini dinodai kemarahan. Kazuha tertegun melihatnya, sampai pemilik ekspresi itu sendiri yang menghilangkannya dari pandangan mata wanita ini. Shinichi berbalik, membelakanginya, lalu terdengar nada benci yang kuat membalut satu kalimat.

"Dia adalah orang yang paling tidak ingin aku lihat."

Shinichi kemudian meninggalkannya dalam kebingungan. Saat mendongak kembali, ia kini menemukan pria yang sempat menjabat sebagai Kapten Kepolisian Tokyo itu telah berada di dalam sel penjara.

Kazuha meluruskan kembali pandangannya hanya untuk memejamkan mata, berusaha mengubur dalam-dalam belas kasihan dalam dirinya. Ia kemudian merapikan meja dan membawa pergi kotak bekal di sana, berjalan keluar dari kantor polisi menuju sebuah mobil berwarna silver yang telah menunggunya sejak tadi.

Sehabis masuk ke dalam mobil itu dan mendudukan diri di kursi yang dekat dengan pengemudi, ia menjatuhkan punggungnya ke sandaran, sementara tangan kanannya mengulurkan kotak bekal berbalut kain yang ia pegang. Heiji Hatori sebagai sang pengemudi menerima benda itu untuk kemudian dibuka. Tepat saat suaminya menemukan makanan di dalamnya yang masih utuh, Kazuha membuka suara.

"Dia terlihat sangat menyedihkan."

Sambutan dari pemberitahuan itu adalah gerakan kasar Heiji untuk menutup kotak bekal. Ketika meliriknya, Kazuha menemukan wajah sang suami yang menunjukan kesan tidak kalah kesal.

Heiji Hatori jelas lebih mengkhawatirkan Shinichi lebih dari siapapun saat ini, namun suaminya tidak dapat menemui Shinichi, sehingga mengirimnya sebagai ganti. Heiji merasa malu dan kecewa, juga marah pada kelakuan pemilik marga Kudo itu. Setelah meminta anak buahnya untuk melepaskan Shinichi, teman mereka ini justru kembali tertangkap dan masuk ke kantor polisi yang sama dengan kasus yang lebih serius. Kazuha tahu semua itu karena mereka sempat bertengkar sepulangnya Heiji ke rumah setelah menginap di mension yang Shinicihi tempati.

"Heiji..." Kazuha menyentuh punggung tangan suaminya yang masih berada di atas kotak bekal, dan mempertemukan pandangan. "Kalau memang kau begitu yakin bahwa Haibara bukan wanita sejahat itu, kau bisa membantu Kudo untuk mencarinya."

Mata Heiji terkesiap karena tidak menyangka akan mendengar hal itu. Kemudian Kazuha merasakan tangan suaminya membalas genggaman dengan erat, sebelum mendekat untuk membekap tubuhnya ke dalam pelukan yang hangat.

"Terima kasih, Kazuha!" Heiji membalas dengan nada semangat.

Kazuha sendiri hanya mengangguk di sela ruang pundak suaminya. Sebenarnya ia memutuskan mengalah dan membuang jauh-jauh kecemburuan serta rasa curiga dari hatinya bukan hanya karena Heiji atau karena telah lelah mendebat pria itu yang sering meminta izin untuk mencari Haibara. Ia melakukannya juga karena tidak berhasil membuang belas kasihannya terhadap Shinichi.

Bahkan, seorang Kazuha Hatori yang berhati keras pun merasa tidak tega setelah melihat langsung keadaan Shinichi Kudo yang mengenaskan.


Shinichi Kudo merasa lelah, lelah dan hanya ingin menyerah. Punggungnya tidak dapat lagi ditegakan sehingga terjatuh lemah di dinding penjara tempatnya terkurung. Rasanya seperti tidak nyata kejadian semalam dimana dua orang masuk ke dalam apartemen dan menyeretnya dari atas ranjang, menangkapnya dengan tuduhan penyerangan kepada seorang pria di klab malam, lalu dengan setengah sadar ia melihat Heiji Hatori berdiri di muka pintu utama, memandangnya tanpa melakukan apa-apa.

Akan tetapi yang membuatnya ingin menyerah bukan karena tidak ada seorang pun yang kini membantunya, melainkan karena tidak ada seorang pun yang membuatnya ingin berjuang. Shinichi kehilangan harapan, juga tujuan. Tidak ada gunanya ia keluar dari penjara karena tidak ada seorang pun di luar sana yang ingin ditemuinya. Tidak ada hal apapun juga yang ingin dilakukannya. Jika pun ada, hal itu hanya satu, yaitu pergi ke bar-bar kota untuk menengguk bir sampai ia tidak memiliki tenaga sekedar untuk membuka mata.

Jari-jari Shinichi menahut menjadi satu di antara kedua kakinya yang menekuk ke atas, selagi menatap lantai dingin yang menjadi tempat duduknya itu. Bahkan saat ini pun seolah tidak nyata karena segala di depannya nampak kabur dengan pendengarannya seperti tidak mendengar apa-apa. Ketika menengok ke arah dua polisi yang duduk di meja kerja, gambaran dua orang itu memblur dan telinganya hanya dapat menangkap suara kemersak dari radio polisi di atas salah satu meja.

Shinichi mencoba menggelengkan kepalanya sebelum kembali memperhatikan hal-hal yang sama, namun tetap saja tidak ada yang berbeda. Diluruskan pandangannya setelah itu, sebelum membenturkan kepalanya ke dinding di belakang dengan keras. Ia menutup mata setelah menyadari semua ini disebabkan oleh efek alkohol yang perlahan memudar. Namun hanya satu detik berselang dari kegelapan, ia melihat sosok Haibara dalam balutan gaun putih berjalan menjauhinya.

Mata Shinichi seketika terbuka, diikuti gigi-giginya yang bergertakan. Amarah dan benci menyelimuti hatinya sehingga membuatnya merasa tidak tahan. Ia ingin meledak, ingin berteriak, dan ingin menghancurkan dunia.

Kenapa?

Kenapa Haibara terus menipunya?! Kenapa Haibara tidak pernah memikirkan perasaaannya sedikitpun?

Tubuh Shinichi bangkit dengan kedua tangannya mengepal erat. Ia berjalan mendekati besi-besi sel yang mengurungnya, lalu mencengkram beberapan bagiannya dengan kedua tangan. Ditariknya besi-besi itu sekuat tenaga, ingin meremukannya kalau bisa. Tidak dapat melakukannya juga, Shinichi kemudian melayangkan tinju berkali-kali ke besi-besi itu.

Brak! Brak! Brak!

"Hei! Apa yang kau lakukan!" Teriak seorang polisi pria sebelum berlari mendekat, diikuti rekannya yang merupakan seorang wanita.

Shinichi tetap melayangkan tinjunya berkali-kali tanpa perduli pria berseragam di depannya menarik pistol dan menodongnya. Buku-buku jarinya mulai berdarah, namun ia tidak merasakan apa-apa.

"Berhenti!" Polisi itu berteriak, dengan kedua tangan menggenggam pistol seolah siap menembak.

Polisi wanita yang tidak disadarinya juga mendekat, kini membuka pintu penjara dan langsung meberobos masuk. Shinichi baru menengok sosok itu ketika tiba-tiba merasakan salah satu tangannya ditarik ke belakang dan dikunci dalam borgol, diikuti tangannya yang berdarah ditarik ke arah yang sama. Ia mencoba menarik kedua tangannya yang kini terbelenggu di belakang namun tidak bisa. Malah tidak sampai satu menit kemudian tubuhnya di dorong sampai jatuh ke lantai dengan seseorang menduduki punggungnya dan membuatnya tidak bisa bangun.

"Cepat telpon kantor pusat agar segera menjemput orang ini! Dia sepertinya sangat berbahaya!"

"Siap!"


"Tidak." Adalah jawaban Ran untuk Kazuha, bernada tegas meski suaranya pelan, seraya menghadap dua sosok wanita di ruang tamu apartemen itu.

"Kalau kau memang tidak mau membantu, setidaknya jenguk dia." Kata Kazuha masih berusaha membujuknya.

"Tidak, Kazuha..." Ran menambahkan gelengan beberapa kali pada jawabannya kali ini. "Bukankah aku sudah mengatakannya kemarin melalui telpon? Aku belum siap bertemu dengannya karena apa yang telah dia lakukan pada Ichigo."

Sebenarnya, Ran bukan seseorang yang mampu memendam dendam, maupun tega membiarkan orang lain dalam kesusahan, apalagi jika seseorang itu adalah pria yang pernah ia cintai. Shinichi, salah satu contohnya. Ia hanya tidak sanggup menahan rasa sakit jika mengingat bagaimana suaminya itu telah berlaku kejam pada anak mereka.

"Dia dipindahkan ke kantor pusat hari ini. Aku tidak bisa membayangkan akan seperti apa keadaannya nanti." Kazuha bergumam pelan sebelum memalingkan muka.

Mendengarnya, Ran tidak bisa lagi berpura-pura untuk tetap terlihat kuat. Kepalanya menunduk, membayangkan hal buruk apa yang bisa terjadi pada Shinichi jika disatukan dalam satu ruangan dengan para penjahat. Terlebih jika suaminya itu sampai dijatuhi hukuman berat sehingga harus dipenjara dalam kurun waktu yang lama.

Ran memilin jari-jarinya dan menarik napas berat sebelum mengangkat pandangan, menatap Kazuha dan Sonoko secara bergantian dengan pikiran bimbang.

"Aku akan mencoba menghubungi pengacaranya." Kata wanita ini pada akhirnya, membuat dua orang pendengarnya menatap balik saat itu juga.

"Apa kau yakin? Kau akan memaafkannya begitu saja?" Suara Sonoko menyahut lebih dulu, dengan kesal.

Ran memberikan gelengan disusul sebuah sanggahan lima detik kemudian, "Aku hanya akan membantunya, tapi aku tetap tidak akan menemuinya."

"Heiji bilang..." Keluar dari keheningan, suara Kazuha kembali sehingga dua sosok lain itu memberikan perhatian secara bersamaan. "... akan lebih baik untuk menyewa pengacara lain agar pengacara Shinichi bisa fokus pada sidang disiplin polisi. Selain itu dua hari lagi akan ada persidangan untuk pengembalian uang. Pengacara itu pasti sangat sibuk sekarang."

Ran nyaris melupakan dua fakta itu. Padahal ia kemarin datang ke Osaka setelah mengetahui sidang disiplin polisi yang Shinichi hadapi telah kembali ditunda karena suaminya mengirimkan surat keterangan sakit.

"Kalau begitu..." ia berkata ragu-ragu, lalu meremas genggaman tangan sambil melanjutkan, "Aku akan coba bicara pada ibuku."

Sonoko mendesah kesal bercampur rasa putus asa mendengarnya, kontras dari Kazuha yang tersenyum tipis. Ran memperhatikan kedua temannya yang memberi tanggapan jauh berbeda itu, yang membuatnya semakin ragu apakah keputusan yang diambilnya ini sudah benar.

"Ran..." lagi-lagi Kazuha menjadi satu-satunya sosok pertama yang memecah keheningan di antara mereka. "Sebenarnya... ada hal lain yang membuatku datang kemari..."

Ditemukannya istri Heiji menunduk dalam kegelisahan. Ran bisa melihat tingkah ganjil dari Kazuha sejak tadi wanita itu datang, namun ia pikir semua karena Kazuha terlalu cemas padanya yang telah meninggalkan rumah.

"Alasanku datang bukan hanya karena ini." Kata wanita yang sama dengan senyum yang berangsur turun diikuti titian matanya yang redup. "Sebenarnya aku ingin minta maaf padamu mewakili suamiku. Karena saat ini, Heiji sedang berusaha mencari keberadaan Haibara."

Mata Ran yang terbelalak menunjukan dengan jelas keterkejutannya. Bahkan tubuhnya menegang dan ekspresi wajahnya mengeras. Ia mungkin memang wanita yang pengertian sampai-sampai membenci Shinichi pun tidak mampu, akan tetapi ia tidak memiliki hati seluas itu hingga mampu menerima keberadaan Haibara. Dan mendengar pengakuan Kazuha, Ran tidak bisa tidak merasa dikhianati.

"Kenapa kau membiarkannya?" Sonoko adalah orang yang mampu mendebat di saat seperti ini, Ran sangat bersyukur karena suara hatinya terwakili.

"Karena aku juga mengkhawatirkan keadaan Kudo."

Brak!

Sonoko menggebrak meja di depan Ran, sekaligus yang menjadi arah depan bagi Kazuha dan wanita itu sendiri.

"Apa kau tidak mengkhawatirkan keadaan Ran?!" Setelah menengok sang lawan bicara, Sonoko melanjutkan.

Kazuha melirik wanita berambut pendek tersebut dengan mata tajam dan menjawab dengan tekad yang tidak kalah kuat, "Maka dari itulah aku datang untuk meminta maaf."

Ran masih terdiam menatap kedua temannya itu, masih merasa terkejut. Namun ia tidak ingin perdebatan mereka berlanjut, sehingga mau tidak mau ia memaksakan diri untuk membuka suara saat itu juga.

"Tidak apa-apa, Sonoko." Ia mendongak pemilik nama sebelum meluruskan pandangan dengan Kazuha. "Aku mengerti Kazuha maksud baik."

Kepala Ran menunduk setelah menyelesaikan kalimat terakhir sembari tersenyum. Tidak lama kemudian ia melihat pergerakan Sonoko yang kembali mendudukan diri di sofa dengan kesal dan melipat tangan di depan dada. Kazuha pun sepertinya juga tidak ingin lagi berdebat sehingga wanita berkuncir satu itu hanya diam. Merasa tidak ada lagi yang memperhatikan, Ran menghapus senyum yang sedari tadi ia paksakan.

Ia benar-benar mengerti bahwa Kazuha adalah teman yang baik, yang tidak ia mengerti justru Heiji. Meski pria itu juga sering membantunya, akan tetapi Heiji seolah tidak memihaknya. Malam itu saat menelpon, pria Osaka tersebut bahkan berbohong demi menutupi kesalahan Shinichi. Ran baru mengetahui apa yang terjadi dari Kazuha keesokannya bahwa Shinichi berkelahi di klab malam sampai dibawa ke kantor polisi.

Dalam keadaan sunyi yang menyelimuti mereka, tiba-tiba suara dering ponsel terdengar dan menarik perhatian ketiganya. Kazuha yang berada di dekat sumber suara buru-buru merogoh tas yang terletak di sudut sofa. Wanita itu sejenak memandang pada layar sebelum berdiri dan berjalan menjauh. Dari tempat yang sama, Ran memperhatikan itu semua.

"Ya, Heiji?" Kazuha terdengar memberikan sapaan sebelum terdiam beberapa lama, lalu raut wajahnya berubah dengan cepat. "Apa kau tahu dia pergi kemana?"

Firasat Ran saat mendengar perkataan itu langsung tertuju pada dua orang sebagai obyeknya, di antara Shinichi... atau Haibara. Ia menahan rasa penasaran yang semakin besar setelah melihat Kazuha menghela napas seolah putus asa.

"Kalau kau sudah selesai kau bisa menjemputku sekarang. Aku juga sudah selesai bicara dengan Ran." Ucapan Kazuha satu ini membuat Ran menyiapkan diri. "Sampai jumpa."

Ketika akhirnya istri Heiji itu menutup telpon, Ran berdiri dari duduknya dengan pandangan menunggu. Ia yakin hanya dari gesturnya itu Kazuha paham. Sonoko pun sepertinya tidak kalah penasaran sehingga mengikuti tindakannya. Mereka bertiga berdiri sejajar ketika akhirnya langkah Kazuha berhenti di samping sofa.

"Haibara sudah meninggalkan Jepang dua minggu yang lalu." Wanita itu mengabarkan dengan suara pelan. "Dia pergi ke Amerika."

Nada final mengakhiri perkataan Kazuha sebelum sang pemilik merendahkan pandangan dari kedua mata yang menyorotnya. Melihatnya, Ran kemudian melirik Sonoko yang menyeringai seolah telah memenangkan sesuatu. Ia sendiri memalingkan muka tidak lama setelah itu, mencoba menyembunyikan senyumnya yang sulit ditahan.

Tidak dapat dipungkiri Ran, bahwasannya ia merasakan kelegaan yang begitu besar sekarang.


Sirine mobil polisi memekakan telinga, membelah jalanan padat di Osaka siang hari itu. Setelah melewati tengah kota, Shinichi sebagai salah satu penumpangnya yang menduduki bangku bagian belakang, menengok ke arah jendela untuk melihat bunga-bunga sakura yang mulai bersemi. Secara bersamaan ia merasakan benci dan rindu saat itu, pandangan matanya nanar seperti sendu.

Apakah sudah seribu tahun berlalu?

Shinichi bertanya-tanya di dalam hatinya sudah berapa lama sejak Haibara meninggalkannya. Disaat-saat tertentu kesadarannya mulai absen sehabis menenggak bir-bir kaleng atau minuman lain yang lebih keras, ia kesulitan membedakan antara kenyataan dengan halusinasi, bahkan terkadang ia mengira mimpinya benar-benar terjadi. Semalam ia seperti melihat Haibara datang menemuinya, dua hari yang lalu juga. Bahkan, seminggu sebelumnya. Rambut Haibara merah seperti kuncup bunga sakura, bola mata yang biru, dan kulitnya yang putih bersih, membentuk satu kesatuan yang konstan.

Shinichi menutup mata dan berpaling ketika semua itu mulai mendominasi isi kepalanya. Ia berharap dapat membuat dirinya mabuk, dan terus mabuk, sehingga berhenti memikirkan Haibara. Akan tetapi yang berhenti berikutnya justru mobil polisi yang ditumpanginya, membuatnya kembali bisa mendengar sirine kecang di atas kepalanya, diikuti pintu mobil yang terbuka dan tubuhnya yang ditarik oleh seseorang.

Begitu keluar dari mobil, pandangan Shinichi dihalangi oleh kamera-kamera beserta para pemiliknya. Ia hanya memberi selayang pandang ketika pertanyaan-pertanyaan diajukan. Dengan seorang polisi yang mendorong tubuhnya maju, dua orang lagi membuatkan jalan untuk mereka agar bisa melewati para wartawan yang memblok jalan.

"Tuan Kudo, benarkah Anda memukuli seseorang?"

"Tuan Kudo, tolong berikan tanggapan?"

"Apakah Anda akan menerima hukuman penjara?"

"Tuan Kudo?"

"Tuan Kudo!"

24.


A/N: wah sudah hampir tidak ada yang tertarik dengan fic ini ternyata :l