Disclaimer: Semua karakter punya Masashi-sensei. Author cuma pinjem. Boyxboy, typo everywhere.
CHAPTER I
.
.
Pagi itu suasana di kota nampak lebih ricuh dari biasanya. Para pria yang biasanya disibukkan dengan berbagai macam pekerjaan justru pagi itu mereka bergerombol, mengobrol lebih heboh daripada kumpulan wanita-wanita yang biasa bergosip di sepanjang jalan. Sungguh pemandangan yang tak lazim.
"Kau lihat, kan? Kau lihat, kan? Sepertinya pesta nanti malam akan lebih heboh dari tahun-tahun sebelumnya. Buktinya semua orang sibuk membicarakannya sekarang," celetus teman sebayaku, Kiba. Tampaknya ia sangat antusias dengan ketidak laziman, terlihat sekali dari sorot matanya yang berbinar-binar.
"Pesta apa sampai merubah semua situasi menjadi seperti ini?"
"Huh! kau tidak tahu?" Kiba bertanya dengan pandangan anehnya, seakan-akan mengejekku 'dasar kuper!'
"Aku baru pindah ke tempat ini setengah tahun yang lalu. Jadi mana mungkin aku mengenal tradisi kota ini."
"Ah! Ya ya… aku lupa. Maaf sobat!" ucapnya sambil menepuk pundakku cukup keras. 'Shit!'
"Jadi pesta apa?" kuulangi pertanyaanku lagi.
"Pak Tua kaya itu. Kau tahu kan yang kumaksud siapa?", Aku mengangguk, karena hanya ada satu Pak Tua yang sangat kaya dan berkuasa di tempat ini, Zaizen-sama. Tapi jujur saja, aku tak menyukai orang sombong itu. "Setiap akhir tahun, dia akan mengadakan pesta besar-besaran, dan semua pria di kota ini bebas menghadirinya, tua ataupun muda.
"Oh!" balasku yang tak begitu tertarik.
"Jangan Oh! Oh saja! Perlu kau tahu kalau pestanya benar-benar istimewa! Penuh makanan-makanan kelas atas yang pastinya sangat lezat. Kau bahkan bisa mencicipi sake terbaik yang biasanya hanya bisa dinikmati kalangan elit. Dan satu hal lagi yang paling istimewa. Akan ada ratusan wanita penghibur pilihan yang siap menemanimu~" jelas Kiba dengan sangat bersemangat.
"Huh?" bagian terakhir membuatku sedikit terkejut. Ratusan wanita penghibur? Uso ka? seperti tempat perdagangan wanita saja.
"Kenapa? Kau terkejut kan?" sepertinya reaksiku tadi justru membuat Kiba merasa bangga.
"Oh ya! Kau masih perjaka, kan?" apa-apaan dengan pertanyaan itu?
"Iya, memangnya kenapa?" tanyaku sedikit jengkel.
"Kau harus datang ke pesta itu, Naruto! Kau bisa mencari satu atau lebih wanita sexy untuk melepas keperjakaanmu itu!" celetuknya yang membuat telingaku sakit.
"Aku bukan lelaki seperti itu! Kau tahu, aku hanya akan melepas keperjakaanku dengan orang yang kucintai!"
"Pft…b-bwahahahahah," Kiba tertawa keras dan aku benar-benar ingin memukul kepalanya yang mesum.
"Pemikiran kuno macam apa itu, Naruto? Kau bisa menikah dengan orang yang kau cintai. Tapi sebelum itu, kau juga bisa bercinta dengan gadis manapun. Ingat itu!"
"Tapi aku –
"Pokoknya kau harus datang malam ini!" tanpa membiarkanku menyelesaikan ucapanku, dengan seenak dengkulnya dia memaksakan keinginannya itu.
"Mendokusai!"
