CHAPTER 3
.
.
Terhanyut dalam melodi yang dimainkan olehnya, tanpa sadar membawaku mendekat ke panggung. Mataku tak hentinya menatap sosok manisnya yang lihai memainkan koto. Sementara jantungku ikut memainkan irama lain yang tak kalah memukaunya.
Tak lama kemudian, melodi terhenti. Ia kembali mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk fokus ke alat musiknya. Saat itu juga mata kami bertemu...dia tersenyum padaku, iie...pada semua orang. Lalu, dengan anggunnya berjalan meninggalkan panggung, mendekat ke arahku. Saat itu jantungku berdegup amat keras. Akankah dia mendatangiku, menyapaku, dan mengajakku berdansa? Mana mungkin... tentu saja tidak mungkin, karena dia terus berjalan melewatiku.
Ah...rupanya si kakek tua sudah menunggunya di belakang sana.
"Subarashii!" ku dengar kata itu keluar dari mulut si kakek tua sebelum bibir keriputnya mencium bibir lembut si dia. Aku bisa melihat dia nampak memaksakan diri untuk menerima ciuman menjijikkan itu. Rasa mual pun tiba-tiba menjalar di kerongkonganku saat menyaksikan pemandangan itu. Dan aku kembali merasa lega saat dia menyudahi ciuman itu dengan sedikit paksaan.
Setelah membisikkan sesuatu di telinga si kakek tua, dia berlalu meninggalkan ruangan. Tanpa babibu, aku yang sedari tadi berdiri sendiri di antara para tamu yang kembali menikmati kesenangan mereka sendiri, diam-diam mengikutinya keluar dari aula besar itu.
Aku pun harus menyelinap menyusuri lorong-lorong rumah sampai berhasil menemukan sosoknya lagi. Aku melihat ia sedang berdebat dengan seseorang.
"Jangan ikuti aku! Aku tidak akan kabur kemanapun! Harusnya kau tau itu, brengsek!" dia membentak seorang laki-laki bertubuh tegap yang berdiri di hadapannya. Ekspresi wajahnya saat itu jauh berbeda dari saat ia berada di atas panggung. Kesal, benci, tak ada lagi kelembutan dan kehangatan yang tergambar di wajah manisnya.
"Aku hanya ingin kembali ke kamarku. Aku lelah," lanjutnya. Kali ini suaranya keluar lebih pelan. Memelas.
"Maafkan saya, Gaara-sama. Saya hanya menjalankan perintah, Zaizen-sama," jawab laki-laki yang dibentaknya tadi seraya menundukkan kepalanya dengan hormat.
"Aku ingin sendiri. Aku pastikan akan tetap di ruanganku. Jadi kumohon..." pintanya dengan raut muka memelas.
"B-baiklah... saya akan pergi sekarang. Silahkan anda beristirahat," akhirnya laki-laki itu pun mengalah dan meninggalkan si merah sendiri. Sementara aku masih bersembunyi di balik tembok agar tak terlihat keduanya.
Kini dia sendiri, terus berjalan lurus menyusuri lorong, lalu berbelok ke kanan. Semakin menjauh dari ruangan utama tempat pesta diadakan.
Aku yang mengikutinya dengan perlahan kembali kehilangan jejaknya saat aku menyadari ada dua jalan terpisah di depan belokan. 'kemana dia? Jalan yang mana?' tanyaku dalam hati. Bagaimana bisa ia yang mengenakan kimono menghilang begitu cepat.
Kupejamkan mataku seraya kutarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya kembali. Sebuah kebiasaan saat aku ingin memantapkan pilihan dalam hatiku.
"Yosh, kesini saja!" ujarku pelan namun cukup bersemangat. Aku memilih jalan sebelah kiri dimana di ujung jalan itu terpantul cahaya lampu lebih terang dari jalan satunya. Tapi sepertinya semakin aku jauh melangkah semakin aku menyadari bahwa aku telah memilih jalan yang salah. Di ujung jalan sana hanya terbentang dinding kecoklatan, sementara pintu ruangan di kanan kiri jalan masih tertutup rapat, tak ada tanda-tanda habis dibuka, bahkan gesekan pelan pun tak terdengar sama sekali. Dengan cepat aku berbalik, berniat untuk menuju jalan satunya. Namun, pemandangan di depan sana membuatku terdiam kembali.
Di ujung yang lain dari tempatku terpaku, sosoknya terlihat sedang berdiri menghadap ke arahku. Menanti.
'Yabai! Ternyata dia sadar aku mengikutinya,' keluhku dalam hati. 'Doushita?'
Mungkin karena tak sabar menungguku yang hanya terdiam di tempat, ia berjalan mendekat. Semakin dekat, wajah manisnya yang mengeras makin terlihat jelas. Sepertinya ia benar-benar kesal sudah diikuti sejauh ini.
"Kau siapa? Kenapa kau mengikutiku?," tanyanya dengan nada yang amat dingin saat ia sudah berada tepat di depanku. Matanya mendelik menatapku sinis.
"A...a..aku...aku..." Aku harus jawab apa? Shit! Kami-sama...berikanlah aku keberanian, jangan malah kau ambil sisa keberanianku!
