One Act

Present by weyyy

Kim Jongin

Do Kyungsoo

GS/Mature Content/Some Typo's


Meresap nikotin ke dalam paru-paru untuk kesekian kali, menjatuhkan puntungnya ke bawah dengan bebas ketika target terlihat di kejauhan datang tepat dalam waktu yang telah di perhitungkan. Bising mesin pesawat berlalu lalang tak begitu mengganggu konsentrasi secara gamblang. Satu mata tertutup sedang mata yang lain lebih dominan terfokus pada telescope K89K Mouser terarah sesuai sasaran.

Seorang pria keluar dari mobil hitam yang berhenti dekat private jet yang siap lepas landas, kala tak menyadari kematian tak terelakan tepat di depan mata.

Kim Jongin bersiap menarik pelatuk senjata laras panjang kebanggaannya, sesaat sebelum kemudian retinanya menemukan sesuatu yang menarik berhasil melumpuhkan seluruh pergerakan dalam waktu kurang dari satu detik.

Dilihatnya seorang gadis menyusul keluar dari mobil untuk memeluk si "target" sebagai salam perpisahan.

Senjata di tangan telah turun perlahan bersamaan dengan napas tertahan, mendadak ketidak normalan berlangsung dalam pola pikir Jongin, terlebih matanya memandang kelu pada Do Kyungsoo yang masih setia mengantar ayahnya yang hendak melalui penerbangan ke suatu pulau. Sosok bayangnya bersinar mencuri antensi membawa ingatannya menyelami fragmen manis di halte saat hujan sepulang sekolah.

Rasa bibir Kyungsoo masih terasa.

Jongin berpikir betapa ia menginginkannya lagi. Sebab Jongin telah memastikan segala tak tersurat terjadi di antara mereka. Tetapi sebaliknya ia justru berusaha untuk tidak melanjutkan asa dan membiarkannya menjadi kenangan. Karena Jongin tidak akan bisa. Dilihat dari segi apa pun, ia tidak pantas jika di sandingkan dengan seorang Kyungsoo. Seluruh bagian hatinya terseok menyedihkan oleh rasa tertahan kala tak mungkin memiliki kesempatan.

Dapat di pastikan Kyungsoo tengah mencari keberadaannya yang tiba-tiba memutuskan undur diri di tengah-tengah semester. Dan ia menyesali hal itu. Menyesal karena telah membuat Kyungsoo bingung.

Satu-satunya hal yang dapat Jongin lakukan adalah membiarkan "target"nya tetap hidup agar Kyungsoo terus berdamai, karena hubungan ayah dan anak itu nampaknya sangat dekat layaknya sahabat. Ia tak bisa menebak apa jadinya jika tetap melanjutkan tugasnya, melihat Kyungsoo histeris menemukan sang ayah berubah menjadi mayat di depan matanya sendiri.

Tidak. Jongin tidak bisa melihat Kyungsoo menangis.

Matahari begitu terik menyapu bandar udara siang itu, Jongin mengemas kembali K89K Mouser-nya lalu menggendongnya di punggung. Keluar dari tempat persembunyian di balik tiang beton seraya atensi tak lepas dari mobil hitam yang membawa Kyungsoo melaju menjauh.

Ia memutuskan untuk kembali ke kediaman yang dia sendiri enggan menyebutnya rumah. Bangunan tua selayaknya gudang bekas di sudut desa kumuh di pinggir distrik. Secara visual dari luar lebih pantas di sebut gudang tak terpakai, namun begitu masuk ke dalamnya kesan klasik nan gelap menyambut serta properti mewah terjejer rapi di tiap sudut.

Jongin masuk ke dalam membawa kegamangan yang menyiksa tatkala fakta bahwa targetnya kali ini adalah ayah dari Do Kyungsoo. Bibirnya menyungging sedih, menggeleng frustasi selagi mendengus keras.

"Oh, kau datang."

Diantara pria-pria berbadan tegap yang berjaga bak ornamen di ruangan penuh aura hitam itu, satu-satunya pria yang berani basa-basi dengannya adalah Park Chanyeol, tangan kanan ayah Jongin. Jongin tidak menjawab apa-apa. Kakinya melangkah gontai menjajaki anak tangga menuju ruang kamar miliknya.

"Sudah selesai?" cerca Chanyeol repot-repot menyusul ke tempat pribadi yang ia sendiri tahu putra satu-satunya sang bos mafia tidak menyukai kamarnya di injak orang lain sekalipun ayahnya sendiri.

Namun gelak tawa sumbang mengalun diantara raut wajah Jongin yang kusut.

"Kau tahu kenapa aku sampai menyusulmu kemari?" Chanyeol kembali bicara, heran mendapati pertanyaannya di balas dengan tawa layaknya orang gila.

Jongin masih tertawa dengan ekspresi menyedihkan. Melepas topi dan jaket kulitnya membiarkan benda itu tergeletak sembarangan di lantai dingin.

"Kau seperti tidak melakukan pekerjaanmu dengan baik. Ada masalah?"

"Siapa klien kita kali ini?" Akhirnya bersuara setelah mengambil napas. Jongin menggelengkan kepala berusaha meraup kembali kewarasannya yang mengawang.

"Kau tak pernah tertarik membahas klien." Balas Chanyeol seraya merogoh saku celana mengambil sesuatu, menyalakan satu batang rokok, asap keluar dari mulutnya.

"Jelaskan saja padaku siapa klien itu dan mengapa dia ingin orang itu mati." Perintahnya.

Dan Chanyeol berpikir ada sesuatu yang ganjil dari sikap Jongin. "Katakan. Apa ini soal asmara?"

"Apa?" tanggap Jongin responsif. Sorot mata mencerminkan gugup sehingga Chanyeol dengan cepat menyimpulkan sesuatu yang aneh itu.

Kim Jongin tidak pernah tertarik kepada wanita sekalipun seorang bidadari muncul dengan tubuh telanjang. Namun yang terjadi kali ini, Chanyeol menemukan gelagat tak terduga dari tingkah pemuda yang bahkan menjadikan dirinya misterius di antara orang sekitarnya, Kim Jongin tidak pernah merasa putus asa atau semu muncul di garis wajahnya yang keras kecuali kalau bukan sedang tertarik pada seorang gadis.

"Apakah orang yang harus kau bunuh itu kekasihmu?"

"Dia ayahnya." Balas Jongin serta merta. Tidak tahan untuk menutupinya lagi, ia berjalan ke sudut membuka refrigerator meraih botol tequila, menenggak beringas berharap tingkat stressnya menurun. "Aku tidak bisa melihat dia pingsan karena ayahnya terbunuh."

"Itu sudah menjadi tugasmu sebagai pembunuh bayaran." Ujar Chanyeol kembali mengingatkan akan kenyataan pahit itu.

"Aku putus sekolah dan berakhir menjadi assassin. Menarik sekali."

"Kadang hidup tidak selalu sama, Jongin. Kita membutuhkan kemampuan menembakmu di situasi sekarang." Chanyeol mendekat hanya untuk menepuk bahu Jongin. "Tenangkan dirimu. Segera bunuh pria itu setelah kau siap. Ingat, tugas selanjutnya masih banyak menantimu di luar Korea."

Jongin mendengus. Sakit kepalanya bertambah parah sesaat pintu kamar tertutup.

.

.

Meski status Kyungsoo masih menjadi dokter baru di salah satu rumah sakit di Seattle, kota yang terletak di negara bagian Washington. Pengalaman minggu pertamanya bekerja menjadi begitu sulit karena Woo Jiho, teman satu angkatannya dulu semasa kuliah, memilih melamar pekerjaan di tempat yang sama.

Sampai saat ini Kyungsoo masih tak percaya, setelah susah payah penuh perjuangan masuk fakultas kedokteran Harvard University yang tidak mudah, ia malah bertemu sesama orang Korea dengan gaya layaknya bad boy namun berprofesi dokter. Sialnya, Jiho terlalu terus terang menunjukkan eksistensi sebagai penaksir Do Kyungsoo.

Jujur saja, dari sekian banyak departemen kesehatan kenapa mereka harus kembali berada di tempat yang sama. Lama Kyungsoo berpikir menimbang-nimbang apakah seharusnya dia kembali ke Korea saja, alih-alih mengorbankan kesukaannya pada suasana Amerika selepas fakta dia memang dibesarkan di negara itu.

Tetapi Kyungsoo masih menanggapi Jiho dengan sopan dan senyum bersahabat, membawa suasana itu sendiri menjadi lebih santai serta menganggap Jiho sebagai teman yang suka bercanda. Jiho tidak pernah mengajaknya berkencan atau bertanya seperti "maukah kau menjadi kekasihku?", hanya saja pujian-pujian serta perhatian yang Kyungsoo terima agak membuatnya bingung.

Terlebih bertahun-tahun Kyungsoo tak tertarik untuk menjalin hubungan dan hanya fokus pada karir.

Ia memilih Seattle dengan intensitas hujan lebih sering turun di kota itu, juga menjadi salah satu kota terbasah di benua Amerika. Alasan konyol saat ayahnya mendengar ia memutuskan mencari pekerjaan disana. Tetapi Kyungsoo memang sengaja sebab baginya hujan dapat meredakan pening dan lelah. Meski terkadang membangunkan sepenggal kenangan lama bertahun-tahun yang lalu—yang membuat pria-pria lain menjadi tidak menarik.

Pintu unit apartemen sederhana itu Kyungsoo buka dengan gerakan tanpa minat. Kekacauan di UGD hari ini membuat Kyungsoo lebih letih daripada biasanya. Ia menggantung jasnya dan menaruh tas tangan di meja sudut.

Menyuguhkan secangkir kopi untuk dirinya sendiri, Kyungsoo berjalan mendekat jendela, membuka tirai sehingga suasana malam hari Seattle masuk retinanya. Cukup nyaman tinggal sendirian di sebuah unit berdesain klasik yang lumayan luas, terdapat counter, sofa panjang, juga rooftop kecil guna melepas penat sambil memandang hujan lewat jendela. Terutama harga sewa yang terjangkau mengingat Kyungsoo kini hidup mandiri.

Gerimis mulai turun selang beberapa detik menghabiskan setengah kopi, Kyungsoo sudah menutup tirai jendela untuk pergi bersih-bersih dan tidur sambil mendengar suara hujan, tetapi berisik-berisik dari luar mendadak membuat jantungnya bertalu.

Suara terengah-engah seseorang terasa jelas dari arah rooftop, Kyungsoo mengendap guna mengintip. Dilihatnya pria asing berpakaian serba hitam terduduk di lantai menyender pada pagar besi, lampu yang temaram mengundang rasa waspada kala Kyungsoo berlari kecil ke counter untuk meraih pisau. Unitnya berada di lantai dua, cukup mudah bagi perampok demi menghindari cctv yang hanya terdapat di halaman depan.

Menggulung lengan kemeja lebih dulu, Kyungsoo benar-benar bertekad melawan sendirian seseorang yang di duga penjahat alih-alih menelepon pihak berwajib. Pikirnya dalam situasi yang begitu mendesak, penjahat itu sudah tepat di depan mata dan kemungkinan besar menerobos sebentar lagi.

Sebelum itu terjadi Kyungsoo sudah mengacungkan pisau, membuka pintu kaca lalu menempatkan ujung pisau yang tajam mengilap tepat di depan wajah si perampok. Posisi kuda-kuda yang ia pelajari dari berlatih anggar waktu sekolah menengah pertama, butuh waktu sedetik pisau itu melukai bagian wajah jika saja berani bergerak.

"Pergi dari sini atau kupanggil polisi." ujar Kyungsoo dalam bahasa inggris, intonasinya terdengar tegas tapi bergetar karena sejujurnya ia sendiri kalut.

Kyungsoo mengagumi ketenangan pria itu ketika di todong pisau dalam jarak dekat, terutama sesaat kemudian bergumam, "Sorry. Izinkan aku menumpang untuk beristirahat sebentar."

Tunggu.., suara itu terasa tidak asing di telinga meski terdengar lebih berat. Kyungsoo menurunkan pisau perlahan lalu memberanikan diri membuka paksa topi hitam si pria. Dia sedikit meringis ketika Kyungsoo berjongkok memperhatikan apa yang terjadi di balik pinggang yang di tekan satu tangan.

Dia terluka cukup parah.

Aroma darah menguar yang seharusnya terbiasa tercium oleh Kyungsoo justru rasanya membuat pening nan tercekat, saat matanya bertemu dengan tatapan sendu si pria. Keduanya sama-sama terkejut kala fragmen manis masa lalu memaksa menjajaki ingatan.

"Kim Jongin.., kau—"


TBC


Makasih ya teman-teman yg udah infoin di review, wey senang sekali masih ada satu dua orang yang baca. Huhu. Akhirnya eps ini bisa update, tunggu eps selanjutnya yaa (:

xoxo