Quest: 90 Days
[Sub-Quest: Clout]
Kegiatan sehari-hari Kakashi selalu diawali satu hal yang sama: mengumpati bunyi alarm yang mengusirnya dari negeri mimpi. Hal ini sering kali diikuti menutup kepala erat-erat menggunakan bantal, berharap kiamat terjadi agar alarm nomor 2 tak bisa membangunkannya lagi.
Bukannya Kakashi membenci bangun pagi. Hanya saja, dia termasuk manusia yang tak dapat beroperasi baik sebelum menyentuh kopi di pagi hari.
Namun, pagi itu bukan alarm nomor 2 yang memaksa Kakashi membuka mata. Tetapi, cahaya dari tirai jendela yang terbuka lebar disertai senyum cerah sang Mentari.
"Pagi, Mas!"
Oh, tunggu. Itu bukan senyum cerah mentari pusat Tata Surya di Galaksi Bima Sakti. Itu sih Mentari di masa depan Kakashi. Uhuk.
"Ayo bangun! Katanya ada rapat penting jam 8 kan?"
Kakashi meringis saat badannya ditarik tanpa permisi hingga dibuat duduk di atas kasur. Kepalanya sedikit pening dan pandangannya sempat menggelap.
"Kurang darah?" tebak Naruko—sang mentari masa depan Kakashi. Matanya menyipit tajam. "Jarang sarapan nih, pasti!"
Kakashi mengangkat bahu. "Kalau sempat, ya comot buah."
"Sudah tahu sering begadang, harusnya sarapan jangan dilewat." Kakashi mengangkat sebelah alis mata. Ada yang salah dan benar dengan semua ini. "Jangan menatapku begitu. Sana mandi! Aku sudah buat sarapan untukmu."
Kakashi mengernyit. "Kopi?" tanyanya.
"Akan kubuatkan sekarang." Naruko mengekeh. Dia berlalu meninggalkan kamar. "Kau harus cepat siap-siap jika tidak mau kopinya dingin."
Kakashi mengangguk patuh. Dia beranjak memasuki kamar mandi untuk memulai ritual pagi membersihkan diri.
Beberapa menit kemudian, masih dalam kondisi mengantuk, Kakashi duduk di meja makan. Matanya mengerjap saat Naruko menyajikan segelas kopi di hadapannya. Aroma yang menguar sudah cukup membuat persentase kesadarannya meningkat pesat.
Satu teguk nikmat, Kakashi menghela. Ini tidak adil. Kakashi menyeduh kopi yang sama tiap pagi, tetapi kenapa rasanya kali ini enak sekali?
"Naru, menikahlah denganku."
Naruko mendengkus. "Bicara apa kau ini, Mas? Kita memang akan menikah sebentar lagi."
Kakashi menggeser gelas kopi nikmat—mengamankan minuman keramat tersebut—lalu menempelkan keningnya pada pinggiran meja. Dia menghela napas lebih dalam.
"Majukan jadi besok, bisa? Aku tidak yakin bisa bertahan hidup tanpa kopi buatanmu."
Tawa lepas dari sang pembuat kopi membuat Kakashi melengkungkan senyum. Dia kembali duduk tegak, lanjut menikmati suguhan kopi dan makan pagi. Dadanya terasa hangat kala Naruko mengambil tempat di hadapannya, sama-sama menyantap sarapan.
Kalau beta version-nya seperti ini, Kakashi tidak keberatan dengan full version yang tersedia.
"Ah, iya. Hampir lupa!" Kakashi lirik, Naruko sedang menggaruk pipi. "Maaf tidak izin dulu. Aku pinjam baju Mas lagi, ya."
Semalam, baju Naruko menjadi korban kejahilan para bocah. Terkena noda kue dan spaghetti. "Bajumu belum kering?" tanya Kakashi.
"Sudah, sih."
"Hm?"
"Ini … nyaman. Aku masih betah pake sweter punya Mas. Gak apa-apa?"
Kakashi meneguk ludah. Kalau saja dia belum selesai mengunyah, pria itu pasti sudah tersedak. Sejak tadi, dia berusaha mengabaikan bisikan kampret di kepalanya yang terus mengingatkan busana macam apa yang sedang dipakai sang tunangan. Sedari malam.
Kakashi tak termasuk pria berotot besar. Namun, badannya tetap ideal. Ukuran pakaian sehari-harinya standar ukuran pria dewasa.
Naruko yang mungil di mata Kakashi tampak semakin menggemaskan dibalut sweter kebesaran milik pria itu. Kakashi jadi sedikit benci pada kemampuan otaknya dalam mengingat sesuatu. Belasan paragraf menyebalkan tak mau menyingkir dari kepalanya saat ini.
Bukankah adegan semacam ini biasa terjadi setelah … ?
"Tak apa, pakai saja. Udara pagi ini juga agak dingin." Itu yang diucap lisan. Tenang dan tenteram. Tak seperti kondisi batin yang sudah menjerit tak karuan.
Bawa semua, bawa! Apa pun untukmu, Adinda! Kolor polkadot pun akan kupersembahkan!
"Tak aneh kupakai, kan?"
"Kau—" Kakashi menarik napas dalam-dalam. Dia memalingkan pandangannya kembali pada sarapan di depan mata. "Tak aneh, kok. Kau juga biasa pakai hoodie longgar kalau sedang streaming, kan?"
"Mungkin aku salah bertanya. Apa kau suka melihatnya?"
Kali ini Kakashi benar-benar tersedak.
"Naru! Apa kau sengaja menggodaku?" tuduh Kakashi tanpa basa-basi begitu tersedak berhasil diatasi.
Naruko bersiul pendek. "Apa aku berhasil?"
Ya. Sangat.
"What prompted this?" Kakashi bertanya, sedikit curiga. Ada ketimpangan aneh.
Naruko menghela. "Apa aku membuatmu tidak nyaman?" tanyanya.
Kakashi tak keberatan dengan perkembangan ini. Justru keberanian Naruko membuatnya—oke, stop di sini, Kakashi tak mau terdengar seperti predator mesum.
"Jangan menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan, Naru." Kakashi mengusap wajah. Rasanya terlalu tiba-tiba. "So?"
"Tapi jangan marah, ya?" Ekspresi Naruko netral, tetapi Kakashi bisa merasakan kekalutan dari nada bicara gadis itu. "Aku … hanya memastikan?"
Kakashi menopang dagu dengan sebelah tangan. Matanya menatap Naruko datar. "Kau sedang bertanya atau menjelaskan padaku?"
"Sabar! Waktu bangun tadi … aku tiba-tiba kepikiran cerita Om Sakumo kemarin. Kau terdengar benar-benar menyayangiku waktu masih bayi. Mungkin ini terdengar bodoh, tapi aku sedikit merasa takut? Bagaimana kalau kau menerima perjodohan ini karena sisa rasa sayangmu untuk bocah itu?" Naruko tertawa hambar. "Kemungkinan itu ... membuatku sebal."
Kakashi melipat tangannya. "Dan, untuk memastikan aku tidak menganggapmu bayi kontet itu, kau memutuskan untuk menggodaku? Begitu?"
"Bersyukurlah aku cuma menggoda. Bunda mengusulkan untuk menyerang mumpung kau masih tidur, kau tahu?"
Kakashi mengangkat sebelah tangan, isyarat agar Naruko berhenti berbicara. Sementara sebelah lagi ia gunakan untuk menutup wajah. Di dalam hati, Kakashi mengumpati diri yang bisa-bisanya terpikir—
"Lain kali—" Kakashi mengatur napas. Dia paksa kepalanya untuk mulai mengabsen sintaksis berbagai bahasa komputer. Apa saja, asal tak membayangkan yang tadi. "—ingat lagi pada kesepakatan awal kita. Kalau ada yang mengganggu, mengganjal, apa pun itu yang bisa mempengaruhi hubungan kita, tolong bicarakan denganku."
"Ini aku sedang membicarakannya, Mbah."
"Seharusnya bicara dulu sebelum—" Kakashi mengerang. Kenapa Naruko malah mengedipkan sebelah mata dan tersenyum seperti itu?
Apakah ini sebuah karma untuk Kakashi karena telah mengusili Obito habis-habisan saat yang bersangkutan otewe menikah?
"Aku ingin memastikan dulu sebelum membicarakannya." Naruko lagi-lagi menggaruk pipi. Matanya tak menghindari tatapan Kakashi. Masih menetap dengan kilat usil yang sama. "Maaf, Mas."
Kuatkan Hamba, Tuhan.
"Aku memang sayang pada bocah kontet itu. Tapi itu sama sekali tak kupikirkan saat menimang-nimang lamaran Om Minato. Yang membuatku mengiyakan itu Naruko yang ini, bukan bocah kontet itu." Kakashi ingin menangis frustrasi. Ia malu berat. Obrolan ini membuatnya tidak nyaman. "Aku ini pria normal yang sehat dan biar kutegaskan—kalau ciuman semalam tak cukup sebagai bukti—aku sangat tertarik padamu. Jangan lakukan ini lagi."
"Jadi … kalau sudah menikah, boleh kulakukan?" Kakashi bersumpah melihat tanduk iblis imajiner tumbuh di kepala Naruko.
"I have a very important meeting in an hour." Kakashi meratap menatap langit-langit apartemen. "Naru, stop memancingku. Bagaimana kalau candaanmu ini kuterjemahkan sebagai lampu hijau?"
"Memang iya." Mendengar jawaban ini, Kakashi merasa menyesal sudah menganggap Naruko gadis yang harus ia lindungi.
Kalau begini jadinya, Kakashi yang butuh perlindungan, sialan!
"Aku ada rapat yang sangat-sangat penting." Kakashi beranjak dari meja makan. Buru-buru melangkahkan kaki ke kamarnya untuk menenteng jaket dan tas kerja. Dia langsung memicingkan mata saat berhadapan lagi dengan Naruko.
"Ini aku buatkan makan siang," ujar sang gadis pirang sambil memasukkan kotak bekal ke tas Kakashi. "Sekali lagi maaf, Mas."
Kakashi melipat tangan, melempar tatapan menuding. "Kau sadar, kan? Kau sama sekali tidak terlihat pun terdengar menyesal."
"Maaf aku terlalu mempesona, maksudnya."
Kakashi tergelak mendengar itu. Sebal sekaligus gemas, rasanya. Biar begitu, tangannya meraih gadis itu, mendekapnya erat.
"Wih!" Naruko bersiul. "Jantungmu beneran gak nyelow."
Kakashi mendengkus. "Dan, menurutmu itu salah siapa?"
"Salahku." Naruko tersenyum lebar. "Guilty as charged."
Benar-benar pagi yang luar biasa.
"Terima kasih sudah menginap." Kakashi melonggarkan dekapan, mencubit gemas pipi Naruko. Yang kemudian dibalas cubitan hidung oleh gadis bersangkutan. "Kau serius mau pulang sendiri?"
"Hm-mm! Mas berangkat duluan aja. Nanti aku langsung pulang kalau udah kelar cuci bekas masak dan makan tadi."
"Kabari aku kalau sudah sampai di rumah."
"Oke!"
" … "
" … "
Kakashi menghela napas. "Naru, bagaimana aku bisa berangkat kerja kalau kau masih memelukku?"
"Kiss me first."
" … I told you to stop, goddamnit, girl!"
Ini masih pagi, tolonglah!
.
Saat melihat sofa di depan TV rumahnya kosong melompong, Naruko merasa heran. Dicek di kolongnya pun tak ada siapa-siapa. Di-pspspspsps juga tak ada yang muncul ke permukaan. Di manakah gerangan keberadaan Nyonya Uzumaki yang sangat dicintai?
Mungkin sedang memasak bersama Tante Mikoto atau gibah bersama ibu-ibu komplek? Naruko mengangkat bahu. Pikirnya, siapa peduli sang Bunda sedang apa dan di mana. Yang terpenting, situasi dan kondisinya aman sentosa.
Setidaknya begitu yang Naruko kira, sampai dia mendapati penampakan makhluk mengerikan berambut merah di studionya.
"Apa saja yang kau lakukan dengan Kakashi semalam?" Serangan pertama dilemparkan, disertai seringai menyeramkan.
Naruko menduduki sofa bean bag yang tak berpenghuni, langsung menyalakan perangkat konsol. Pura-pura tidak terpengaruh. "Tak ada, Bun," jawabnya kalem.
Bunda langsung melempar bantal sofa, tepat mengenai punggung Naruko. Tanpa memberi waktu untuk protes, wanita itu menguyel-uyel pipi sang putri dengan beringas.
"Bohong! Pasti ada sesuatu! Kau sampai menahan senyum begitu!" Naruko hanya menghela napas saat sang Bunda tertawa macam penyihir gila. Sudah biasa, sih. "Ayo, jujur sama Bunda! Habis ngapain kalian sampe nginep gitu!?"
"Gak usah heboh, Bunda." Naruko menggerutu. "Cuddle doang."
"Cuddle?" Kehebohan reda. Diganti cekikikan tak kalah menyeramkan. "Tak apa-apa, step by step. Kemarin cuddle, besok-besok ninuninu—"
Naruko melepaskan diri dari bundanya, langsung memberi jarak di antara mereka. Bibirnya mengerucut kekanakkan. "Bunda macam apa yang ngotorin otak anaknya sendiri!" protesnya.
"Heh! Sembarangan kamu!" Jika Naruko terlambat memberi jarak, dia yakin sang ibu akan menjewer telinganya. "Bunda gak ngapa-ngapain juga otakmu udah kotor duluan!"
APA MAKSUDMU WAHAI IBUNDA TERCINTA?
"Naru."
Naruko mengerjap. Perhatiannya langsung berpindah. Sejak kapan Ayah ada di studio?
"Ayah gak ngantor?"
"Ngantor tidak penting. Apalagi saat anak perempuan sematawayangku semalam tiba-tiba mengirim pesan singkat tak akan pulang, mau menginap, tanpa persiapan apa-apa."
"Persiapan?" Naruko mengernyit. Memangnya sleepover bocah, harus persiapan segala?
"Iya, persiapan. Kalian tak lupa pakai pengaman, kan?"
Wajah Naruko terbakar rasa malu. "Sudah kubilang, kami hanya cuddle!"
"Tak masalah. Kita harus mendiskusikan hal ini. Ini penting, Naru." Minato berujar dengan nada menggurui. Seolah sedang menasehati Naruko agar tidak pilih-pilih sayuran yang sang ibu masak untuknya. "Bundamu mungkin memang ingin cepat dapat cucu. Tapi, bukankah kau sendiri yang bilang tidak mau terburu-buru? Pengaman itu penting. Tak boleh salah ukuran. Juga—"
Naruko mengerang panjang. "Yah, aku sudah tahu semua itu! Aku bukan remaja polos yang belum dapat edukasi seks!"
"Mengingatkan kembali, Naru. Dan mana tahu kau butuh rekomendasi—"
Naruko angkat kaki seketika itu juga. Kaki melangkah asal, yang terpikir hanyalah enyah dari hadapan kedua orang tuanya yang tertawa puas. Naruko tak akan terkejut jika Bunda melapor pada Ayah soal curhat dadakannya tadi pagi. Mereka pasti sengaja mengusili. Sialan, memang.
Entah berapa kali berlari mengelilingi komplek, Naruko berakhir ngos-ngosan. Strategis di depan rumah Sasuke. Jangan heran kalau gadis itu langsung mengetuk pintu dan masuk sambil mengucap permisi saat sadar pintunya tidak terkunci.
"Loh, Naru?" Suara lembut menyambut. Itu adalah Sakura, istri Sasuke sekaligus teman mereka.
"Yo, Sak." Naruko melambaikan tangan sejenak, kaki tak berhenti melangkah menuju dapur. "Izin kokop botol ya, haus, habis lari keliling komplek."
Sudah terbiasa dengan ulah Naruko, wanita berambut merah muda itu tertawa geli. "Ngapain lari keliling komplek?"
"Melampiaskan rasa frustrasi." Naruko bergabung bersama Sakura di ruang tengah, duduk di sebelah sang kawan. "Si Sasu kerja, ya? Miki aman? Kondisimu gimana?"
"Kebiasaan! Tanya satu-satu lah!" Sakura memeluk Naruko sambil tertawa. "Iya, Sasuke kerja. Miki lagi tidur di atas, Ibu yang jaga. Kodisiku sudah membaik. Cuma, Ibu sama Sasuke belum bolehin ke mana-mana. Kau tahu sendiri bagaimana protektifnya mereka, Nar."
Naruko meringis. Ya, Naruko sangat tahu.
"Aku rindu sekali padamu! Kapan terakhir kali kita bertemu? Saat baby shower? Padahal rumah kita berdekatan begini!"
Naruko tertawa singkat. Sebenarnya Naruko beberapa kali berkunjung ke rumah ini untuk membantu Sasuke atau dimintai tolong Bunda mengirim sesuatu. Namun, tiap kesempatan, Sakura sedang beristirahat. Alhasil, mereka memang belum bercengkerama lagi.
"Denger-denger kau lagi ehem-ehem sama orang, nih?" Sakura menyikut Naruko.
Naruko memutar bola mata. "Sasuke bilang apa aja noh?"
"Sasuke tahu? Lah! Aku tahu dari Ino, kok!"
Sementara Sakura sibuk menyentuh layar ponsel pintarnya—meminta konfirmasi dari sang suami—Naruko terpaku. Matanya membola. Dari manakah gerangan biang gosip masa kuliah dulu bisa tahu kalau Naruko sedang—apa tadi kata Sakura?—ehem-ehem pada seseorang?
"Doimu ikut mampir sewaktu aku dibawa ke IGD, katanya?" Sakura melipat tangan, melotot pada Naruko. "Sasuke lupa karena terbawa panik kondisiku. Kau? Kenapa tidak memberi tahu mau menikah? Ino hanya bilang ehem-ehem!"
"Ah." Naruko tertawa hambar. "Kalian ada dalam daftar tamu, kok. Nanti juga dapat undangan … ?"
Pantas saja rasanya adem-ayem. Rupanya berita ehem-ehem ini belum sampai pada teman-temannya yang tak tahu soal Kurama. Naruko tak tahu harus protes atau berterima kasih pada Sasuke atas hal ini.
"Jangan marah!" Naruko meringis. Marahnya Sakura itu seram! "Aku kira Sasuke sudah memberi tahu!"
"Sasuke mengira kau akan memberi tahu kami langsung. You know, girl's talk."
Giliran Naruko yang melotot. "Sejak kapan aku melakukan girl's talk?"
"Iya juga. Kau lebih banyak ikut nongkrong dengan laki-laki daripada outing kami."
Bagaimana mungkin Naruko mau ikut berkumpul? Bertemu satu lawan satu seperti ini, Naruko tak masalah. Keroyokan dengan banyak perempuan? Terakhir kali terjadi, Naruko dijebak kencan buta! Yang lebih kampret, alasannya adalah: agar kau bisa cepat move on dari Sasuke, Naruko. Siapa juga yang belum move on! Naruko sudah ikhlas lahir batin dari hari pernikahan mereka, oi!
Atau … outing mengobrol dan menggibah bersama selalu berakhir menjadi hari spa. Naruko sudah cukup tersiksa diseret oleh Bunda!
"Ceritakan padaku!"
Kalau Sasuke ada di sini, Naruko yakin pria berbuntut satu itu akan menyembunyikan wajah di punggung Naruko sambil berbisik betapa indahnya sang istri tercinta. Senyumnya yang manis memang giung disatukan dengan tatapan berbinar-binar. Naruko mengakuinya seratus persen, tanpa ada gengsi maupun rasa iri.
Namun, jika konteksnya masalah ehem-ehem … ekspresi ini membuat Naruko bergidik ketakutan.
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Sakura dari Naruko. Sayang sekali, itu bukan pertanda bebas. Justru sebaliknya.
"Yaw, Jidat, aku bawa donat pesenan—weh? Naru … !?" Itu biang gosip yang baru saja dibicarakan: Ino. "Kebetulan banget ketemu di sini! Aku punya banyak pertanyaan untukmu, Sis!"
Ino duduk di sisi lain Naruko. Tangannya cekatan mengeluarkan dan mengutak-atik ponsel pribadi, kemudian menunjukkan layarnya pada Naruko.
"So. Semalem abis ngapain sama tetanggaku yang hot ini, Sis?" Ino bersiul.
"Tetangga? Kau tinggal di apartemen X juga?"
"Yup!"
Naruko sangat bersyukur Kakashi mengajaknya membeli rumah baru, bukan tinggal di apartemen itu. Ino itu teman yang baik, sungguh. Tetapi Naruko bisa gila kalau bertetangga dengannya. Hobi menggosip Ino selalu membuatnya merasa ngeri. Tak seperti Sakura yang terbiasa—dan cenderung tertarik—mendengarkan Ino membagi gosip pemerintah A punya skandal B dengan oknum C, Naruko tidak pernah bisa terbiasa.
Naruko ingin jajan nasgor, cilok, dan bakso dengan tenang; oke? Naruko tidak mau dihantui rasa cemas atas informasi berbahaya tak sengaja ia dapatkan itu.
(Terkadang Naruko bertanya-tanya. Jangan-jangan Ino ini seorang agen intelejen negara? Entah berapa banyak gosip yang terkumpul, dia tidak pernah menghilang!)
"Aku gak ngapa-ngapain."
"Begitukah? Aku jelas ingat baju yang kau pakai itu punya Pak Hatake."
Naruko menggeram, menegaskan ulang, "Aku gak ngapa-ngapain." Cuma godain dikit aja. Dan itu bukan urusanmu!
"Masaaa?"
"Serius! Semalam kami merayakan ulang tahunnya. Waktu bubar jalan, aku diminta menginap."
"Diundang menginap, di apartemen seorang laki-laki dewasa? You sure nothing happened?"
"Shut up!" Naruko merasakan wajahnya memanas. "Aku tidak bodoh! Aku tahu pertanyaan itu terdengar seperti apa! Tapi Mas Kakashi gak gitu!"
"Mas? Aw, manis banget panggilannya! Sasuke aja dulu pas pacaran dipanggil 'Oi' atau 'Si Kampret' aja!"
"Gak usah bahas-bahas mantan di rumahnya dan di depan istrinya kaya gini!" Naruko menjambak kesal kuncir kuda Ino. "Terserahku dong mau panggil apa! Dia tunanganku!"
Hening sejenak. "Tunangan!? HAH!? DAN KAU TIDAK BILANG PADAKU, BULOK!?"
"SESAMA BULE LOKAL TAK USAH SALING MENGATAI!"
"Ini berita besar! Aku harus mengabari anak-anak Angkatan!"
"INI ALASANKU TAK MEMBERITAHUMU, LAMBE TURA KAMPRET! Untuk apa disebar-sebar!?"
"Semua orang harus tahu mantan dari primadona kampus yang pernah menolak asdos pujaan sejuta umat akhirnya berhasil dijinakkan juga!"
"KAU PIKIR AKU BINATANG BUAS!? SAKURA! BANTU AKU HENTIKAN SOHIB PERGIBAHAN KAMPRETMU INI! PRIVASIKU DALAM BAHAYA!"
Sakura, Kampret Nomor 2, malah tertawa terpingkal-pingkal.
"Aku butuh informasi tambahan untuk penghuni apartemen. Apakah dia hebat seperti yang digosipkan, Naru?"
Naruko menganga. "Mana kutahu! Sudah kubilang, kami tidak melakukan apa-apa, Ino!"
"Oh ho? Perlu tips dan trik kah Sis?"
"TIDAK, TERIMA KASIH!"
"Ayolah, kau tak mau performamu mengecewakan, bukan?"
PENGUMUMAN DARURAT!
DICARI: TEMAN BARU YANG TIDAK KAMPRET SEPERTI PARA BEDEBAH INI!
Bersambung
(A/N)
Mungkin sekilas chapter ini seolah si saya tarik dirty jokes doang wkwk. Tapi, jokes aside, hal ini juga penting untuk dibicarakan dengan pasangan. Persetujuan atau consent dalam berbagai hal, berlaku untuk kedua belah pihak. Yang belum nikah harus tahu hal ini.
Untuk kasus Naru, sebelumnya saya tunjukkin awalnya dia agak waswas. Tapi Kakashi liatin kalau dia menghargai consent Naru, dengan begitu, Naru merasa dia bisa percaya sama Kakashi, bahwa mereka bisa sama-sama menjaga batas. Komunikasi selalu jadi kunci, gaesssss!
Wkwk udah kek konsultan pernikahan abal-abal belom?
jangkryx. scene luar biasa? Apa itu :) WKWKWKWK. Bagaimana yang ini bro?
QuasoHehe. AKU PEGEL KOKORO NULIS YANG INI! MASIH CENGENGESAN KEK ORGIL JUGA SELAMA NGETIKNYA! BAGAIMANA KONDISIMU WAHAI SAUDARIKUUUU
Terakhir. Pertanyaan yang gak pernah bosen kutanyakan pada diri sendiri. KENAPA AKU NULIS ROMANCE SIH ANJIRRRRRR
Sekian terima gaji.
Salam Petok,
Chic White
