Chapter 2

Bruk!

"Ups, salahmu karena jalan gak pake mata," kata seorang siswa. Teman-teman yang ada di sampingnya tertawa mengejek.

Taufan melihat tumpukan buku yang ia bawa jatuh berantakan. Berkat kaki seseorang yang diletakkan sembarang tempat. Laki-laki itu menghela napas, segera ia mengambil bukunya. Setelah berhasil ia kumpulkan, Taufan berjalan menuju siswa yang secara sengaja meletakkan kakinya di tengah koridor sekolah.

Bruk!

"Akh!"

Taufan menendang kaki siswa tersebut, mengakibatkan tubuh siswa tersebut jatuh terduduk. "Ups, salahmu karena menaruh kaki di tengah koridor," Taufan membalas kalimat siswa tadi. Murid-murid yang berlalu-lalang tidak mempedulikan keributan tersebut. Mereka tidak ingin terlibat dengan siswa yang katanya punya pengaruh besar di sekolah yang mereka tempati.

Dua murid yang bersama siswa tersebut langsung menolongnya berdiri. Sedangkan Taufan beranjak pergi menuju perpustakaan.

"Kau! Kau tidak tahu siapa aku hah?!" bentak siswa tersebut.

Taufan berhenti, menoleh ke hadap siswa tersebut tanpa beranjak dari posisinya. "Siapa? Artis bukan, teman bukan, apalagi saudara. Berhentilah menggangguku anak manja. Seharusnya kau sudah puas menggangguku selama 2 minggu. Aku gak bakalan tahu apa yang akan terjadi padamu jika lebih dari itu," kata Taufan dingin. Dia langsung pergi ke perpustakaan sebelum bel masuk berbunyi.

"TAUFAN! LIHAT SAJA KAU NANTI! AKAN KUBUAT KEHIDUPANMU DI SEKOLAH INI TIDAK TENANG!" ancam siswa tersebut.

"Ya ya ya, terserah kau," tanggap Taufan enteng.

Malah sebaliknya, hidupmu bakalan gak tenang karena menggangguku.


The Truth © LiTFa

BoBoiBoy © Animonsta Studios/Monsta

Language: Bahasa Indonesia

Rating: T

Genre: Family, Mystery

Warning: AU, Typo(s), No Power, No Alien, No Robot, No Pairing, drama about family and friendship, press "back" if you don't like this story


"TaAAUuFAaAN!" laki-laki yang baru saja keluar dari perpustakaan tersebut menoleh ketika namanya dipanggil. Terlihat seorang perempuan berlari kecepatan penuh ke arah laki-laki tersebut.

"Oh shit..." Taufan mengutuk.

Pasalnya, perempuan yang tengah berlari itu tidak berniat untuk mengurangi kecepatan larinya dan Taufan tahu kalau itu memang sifat dari perempuan itu. Sengaja berlari dengan cepat hanya untuk menabrak orang yang tengah disapa dengan antusias oleh perempuan tersebut.

Dengan pengalamannya selama bertahun-tahun, Taufan menghindar saat perempuan itu berjarak beberapa meter di depannya. Laki-laki itu tidak merasa bersalah ketika perempuan yang merupakan teman masa kecilnya itu hampir menabrak dinding sekolah karena tempat perpustakaan berada diujung koridor.

"Mari abaikan anak hyper itu dan kembali ke kelas."

Taufan membatin tanpa sadar bahwa dirinya juga termasuk anak hiperaktif. Remaja laki-laki itu langsung meninggalkan si perempuan karena bel masuk sebentar lagi berbunyi.

"Kenapa tidak menangkapku?" protesan yang telah diduga oleh Taufan setelah perempuan itu kembali ke kelas.

Dengan mata yang masih fokus dengan smartphone-nya, Taufan menjawab, "aku tidak tahu kalau itu kamu."

"Kenapa tidak menangkapku?" perempuan berkacamata bulat itu mengembungkan pipinya.

"Entah kenapa tubuhku secara reflek menghindar melihatmu lari kesetanan," Taufan membalas dengan jawaban yang berbeda.

"Kenapa. Tidak. Menangkapku." perempuan itu menekankan pertanyaannya. Dia bahkan memajukan kursinya. Posisi tempat duduknya tepat dibelakang laki-laki yang masih bermain smartphone-nya.

Game Over!

"Tsk," Taufan berdecak ketika game yang ia mainkan berakhir. Dengan wajah kesal yang begitu kentara, dia menaruh smartphone-nya di meja. "Dengar," Taufan mengambil napas, "menyapa orang dengan sengaja berlari seperti orang kesurupan itu tidak wajar. Sebagai atlet, harusnya kamu tahu resiko menangkapmu yang sama saja dengan ditabrak banteng."

Kedua pipi gadis itu mengembang layaknya pipi hamster, "semangatku dua kali lipat ketika bertemu dengan teman yang dekat dan tanpa sadar kakiku berlari. Aku melakukannya pada yang lain. Kau tahu itu," gerutunya.

"Ya ya ya. Terserah. Dari kecil sampai sekarang kamu tidak berubah sama sekali Ying. Aku ingat tubuh Blaze hampir lebam karena sapaanmu," balas Taufan menampilkan cengirannya.

Ying ikutan tersenyum, "kau sendiri juga tidak banyak berubah. Saudaramu yang lain juga."

Cengiran Taufan menghilang digantikan senyuman kosong. "Ah... Hm. Tidak terlalu..."

Ah. Aku memencet tombol yang tidak seharusnya aku tekan. Bodoh kau Ying!

"Emm... Tau—"

Secara tiba-tiba Taufan berdiri, masih mempertahankan senyuman kosongnya tersebut. "Mau kemana? Pelajaran akan mulai sebentar lagi," tanya Ying.

"Ada yang ketinggalan di perpustakaan tadi."


Membara.

Semangat.

Panas.

Meledak.

Kesenangan.

Kemarahan.

Semua itu menjadi arti namanya dan menjelaskan dengan terang sifatnya.

Blaze.

Siapa sih yang gak kenal sama anak ceria dan semangat ini? Kalau marah ngalahin hewan buas di hutan. Meskipun masih kalah sama kemarahan si kakak sulung. Dia merupakan anak keempat dari lima bersaudara.

Cerianya sebelas-dua belas sama Taufan. Marahnya hampir menyamai Halilintar. Tidak bisa diam barang semenit saja. Terlalu banyak tingkah dan menjadi magnet dari semua masalah.

Beruntungnya hanya masalah yang biasa terjadi di usianya. Waktu untuk menyelesaikannya pun tidak butuh waktu lama.

Batas kesabaran Blaze tidaklah sebesar kesabaran saudaranya yang lain. Tidak heran kalau dia selalu "terbakar" karena suatu masalah meskipun itu termasuk masalah kecil . Makanya, ketika dia mendapat suatu masalah, di hari itu juga Blaze berusaha untuk menyelesaikan masalahnya. Meskipun itu tidak termasuk dengan masalah yang Blaze dapat ketika ia dan saudaranya masih kecil.

Masalah ini hanyalah satu dan solusinya tidaklah sulit ditemukan. Kunci masalahnya juga sudah ada di depan mata. Tapi, Blaze dan saudara kembarnya yang lain tidak dapat menyelesaikan masalah tersebut. Hal itu membuat Blaze kesal dan kekesalannya terus menumpuk sampai sekarang.

Entah sudah berapa tahun Blaze menahan kekesalannya karena pihak yang terkait terus menutup mulutnya. Pihak satunya lagi juga tidak bisa diharapkan meskipun dia tetap membantu menyelesaikan masalah tersebut. Kalau dipikir-pikir ini merupakan rekor terbaru bagi Blaze untuk menahan diri. Kurang lebih 10 tahun Blaze mencoba untuk tidak "meledak".

Blaze akui, dia bukan termasuk orang yang peka. Blaze selalu berbicara menurut apa yang ia pikirkan. Dia lebih suka berterus terang daripada memendam emosinya. Tidak heran Blaze langsung berusaha untuk membuat si Sulung untuk membuka mulutnya ketika banyak kabar burung yang membuatnya bingung dengan kebenarannya.

Namun, usahanya berakhir dengan sia-sia. Kakak pertamanya itu malah memberi jawaban yang membuatnya percaya kemungkinan berita palsu itu adalah kebenarannya. Hal itu membuat Blaze marah.

Marah kepada orang-orang.

Marah kepada kakaknya.

Terlebih lagi, dia marah kepada dirinya sendiri yang tidak bisa berbuat apa-apa.

Tanpa sadar Blaze mulai menghempaskan kemarahannya pada si Sulung. Dia sudah tidak tahu apalagi yang harus ia perbuat melihat kakak pertamanya itu mengemban masalah itu dan tidak berniat untuk menyelesaikannya secara bersama.

Ah... Aku sudah tidak peduli mana yang benar. Jangan salahkan aku karena telah melemparkan semuanya kepadamu.

Blaze menghela napas. Melihat coretan-coretan penghinaan yang tertera di meja. Entah berapa lama lagi dia harus menahan semua emosinya. Kamarnya cukup berantakan berkat pelampiasannya. Dia ingin mengadu setidaknya pada salah satu kakaknya atau curhat ke adiknya tapi, entah kenapa dia tidak bisa melakukannya. Apalagi cerita kepada kakeknya tersebut.

Mendengus kasar, Blaze berjalan keluar kelas menuju gudang sekolah. Mengambil kanebo atau kain bekas untuk membersihkan mejanya.

Pingin hajar orang yang melakukannya nanti malah nambah masalah. Masalahku sudah cukup banyak beberapa tahun ini.

Mungkin dia harus mencoba sabar seperti Gempa atau cuek seperti Ice atau mungkin seperti Taufan yang dengan santainya menganggap semua ini bukan apa-apa. Terkadang dia berpikir, bagaimana bisa ketiga orang itu memiliki begitu banyak kesabaran. Padahal dia sendiri kalau ada yang membuat masalah kepada dirinya sekecil apapun, kemarahannya sudah meledak kemana-mana.

"Tapi kalau dipikir-pikir, merupakan sebuah kemajuan karena aku tidak membuat begitu banyak masalah beberapa tahun ini. Ini dia kainnya," gumam Blaze.

Laki-laki bermata jingga itu kembali ke kelas setelah membasahi kainnya. Mulai membersihkan coretan-coretan yang bertambah dari sebelumnya. "Wah... lihat-lihat... si Peledak membersihkan mejanya."

"Gak seru nih, bom waktunya belum habis kayaknya."

"Kabelnya mungkin ada yang terputus, kita harus benerin nih!"

Setelah salah satu murid menyelesaikan ucapan penuh ejekan tersebut, gumpalan kertas mulai mendatangi Blaze. Tidak sakit memang tapi itu benar-benar mengganggu.

Hampir lupa, dia harus menulikan telinganya pada setiap kata yang keluar dari mulut murid-murid di kelas. Sialnya, earphone yang biasa ia pakai tertinggal di rumah. Belum lagi dia harus menutup matanya dari kalimat yang tertulis di gumpalan kertas tersebut.

Mati kau!

Kenapa adik pembunuh harus sekolah? Seharusnya kau membantu kakakmu membunuh!

Keluar dari sekolah ini sampah!

Perusak pemandangan!

Jelek!

Pergi dari sini!

2 tahun. Lebih tepatnya 1 tahun lebih 7 bulan ia harus menahan semua ini. Semua penghinaan, penindasan, dikucilkan. Dia harus menahannya. Orang tuanya menginginkan ia untuk mengejar ilmu setinggi-tingginya, mencapai semua mimpinya. Tapi...

Sebelum semua itu terjadi, sepertinya aku akan mati duluan.


Taufan sangat menyukai langit. Saat melihatnya, entah kenapa setiap masalah yang ia pikirkan menghilang. Seakan-akan masalah tersebut tidak pernah terjadi.

Karena itu, setiap masalah datang dia akan mengunjungi tempat terbuka yang sepi seperti atap sekolah atau bangunan bertingkat yang terbengkalai.

Terdapat bangunan tingkat yang terbengkalai di sekitar tempatnya. Dia menemukannya ketika dirinya berjalan tanpa arah karena merasa jenuh. Semenjak itu, dia pergi ke sana untuk menenangkan pikirannya. Beruntung bangunan tersebut masih kokoh meski lama tidak terurus. Terkadang dia menghabiskan waktu di sana sampai langit berubah gelap.

Seperti saat ini, karena tiba-tiba suasana hatinya memburuk berkat ucapan Ying, Taufan memutuskan untuk pergi ke atap sekolah meskipun dia bilang akan ke perpustakaan. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan kalimat Ying. Memang benar Taufan dan saudaranya tidak berubah. Halilintar tetap menjadi kakak yang pemarah, Gempa juga masih sama dengan sifat keibuannya tersebut, Blaze masih tetap menjadi partner in crime-nya ketika menjahili saudara-saudaranya, dan Ice masih mempertahankan sifat malasnya.

Tidak ada yang berubah. Mereka masih sama seperti dulu.

Kecuali dengan beberapa fakta yang terus mengganggu kehidupan mereka.

Taufan sedikit terkejut ketika menemukan salah satu saudaranya sedang memandang langit di tempat yang teduh. Menghela napas ketika Taufan tahu tidak bisa menghindarinya hanya karena alasan ingin memperbaiki suasana hatinya.

Blaze, dengan keadaan kacau dan mata sembab. Mana mungkin Taufan langsung balik arah mengetahui adiknya dalam keadaan tersebut.

Taufan membiarkan hatinya yang menuntun, menempatkan diri di samping adiknya dan terjebak dalam keheningan bersama langit yang mengawasi.

Laki-laki itu tahu apa yang tengah terjadi pada adiknya dan menunggu dia cerita padanya.

Penindasan bukanlah hal yang baru bagi mereka semua. Tapi ketahanan tameng setiap orang berbeda-beda bukan?


"Kak... aku..." Taufan bisa menangkap getaran dari suara adiknya.

Taufan mengusap kepala adiknya dengan lembut bermaksud menenangkannya. "Aku tahu... kamu bisa cerita nanti."

Blaze memeluk kakaknya, "aku ingin berhenti. Situasi ini membuatku muak," setelah itu terdengar isakan tangis.

Blaze.

Adiknya yang pembakang.

Ceria.

Cepat meledak.

Suka bersenang-senang.

Berusaha meredam tangisnya di dalam pelukan sang kakak kedua.


Bel yang terpasang di sebuah kafe berbunyi, memberitahu pelanggan baru datang. Laki-laki berkacamata memasuki kafe, mencari orang yang telah membuat janji dengannya untuk bertemu. Laki-laki itu langsung menghampiri seorang pria yang tengah sibuk meminum kopi sambil melihat smartphone-nya. Tanpa permisi, laki-laki itu langsung duduk di hadapan pria bertubuh besar tersebut.

"Tumben telat," seorang pria lengkap dengan seragam polisinya meletakkan smartphone-nya ketika laki-laki itu duduk.

"Urusan. Pesankan aku kopi," tidak mempedulikan usia yang terpaut begitu jauh, laki-laki itu menyuruh pria tersebut.

"Kamu tahu etika meminta pada orang yang lebih tua kan?" protes pria itu meskipun tetap melakukan permintaan (baca: suruhan) laki-laki tersebut.

Laki-laki itu mendengus, tidak mengindahkan nasihat yang sempat lewat di telinganya tadi. Yang lebih tua menghela napas, dia memberi sebuah berkas pada laki-laki itu. "Aku yakin 100% kalau tersangka kali ini bukan orang yang kamu cari. Sangat sulit untuk menemukan orang yang memiliki rambut hijau dan ungu. Tidak sedikit orang mengecat rambutnya dengan warna itu," jelas pria tersebut.

Sebelum laki-laki SMA itu membuka segel berkas, pria ber-name tag Gopal di seragam polisinya berucap, "kamu yakin ingin membantu kami, Halilintar? Umurmu masih 17 tahun lho... tidak mau menghabiskan waktu bersama teman gitu?"

Merasa pertanyaan Gopal tidak penting, Halilintar membuka segel berkas yang sempat tertunda. "Aku tahu kamu anak almarhum atasanku. Aku juga tahu kamu ingin cepat mencari pelaku pembunuhan kedua orang tuamu. Kenapa tidak diserahkan polisi saja?"

"Aku membantu kalian saja membutuhkan waktu hampir 4 tahun bahkan jika dihitung sebelum aku membantu mereka... 10 tahun telah mereka buang sia-sia. Masalahnya tidak akan selesai-selesai karena kalian bekerja dengan lamban," batin Halilintar.

Gopal yang merasa diabaikan hanya mendengus, menampilkan senyum ramah sejenak ketika pelayan cafe mengantar pesanannya. Halilintar langsung meminum kopinya setelah meniup sebentar untuk mengurangi panas yang berasal dari kopi tersebut. "Ok... mari kita lupakan topik pembicaraan tadi. Sekarang, aku akan menjelaskan sedikit isi berkas yang sedang kamu baca," Gopal mulai membuka topik sesungguhnya. Alasan kenapa dia memanggil Halilintar.

"Mereka bertiga adalah kelompok yang kami cari selama hampir 14 tahun. Lokasi mereka mudah ditemukan tapi sulit untuk menangkap mereka," Gopal meminum kopinya yang ia pesan saat menunggu Halilintar tadi.

"Kalian dikerjain?" tanya Halilintar dengan pandangan meremehkan.

"Apa-apaan tatapan itu? Benerin dulu suara serakmu itu sebelum berbicara. Serasa mendengar CD rusak di sini," Gopal membalas berupa sindiran. Halilintar mengabaikan sindiran Gopal dengan meminum kopinya. Sedikit berdehem untuk membenahi suaranya, "terus?" Halilintar menanyakan kelanjutan cerita topik utama. Kali ini tanpa suara serak yang menemani setiap ucapannya.

"Ah! Benar! Entah bagaimana mereka mengetahui kami menghampiri lokasi mereka. Mungkin mereka punya sensor di sekitar lokasi atau memasang alat pelacak pada kami. Tapi kami tidak menemukan alat pelacak tersebut," Gopal melanjutkan penjelasannya.

"Meskipun di tempat yang memungkinkan mereka memasang alat pelacak?" tanya Halilintar yang dijawab dengan anggukan dari pria bertubuh besar tersebut.

"Kalian tidak berpikir yang dipasang cuma alat pelacak kan?"

"Maksudmu?"

"Anda tahu kan... penjahat selalu memiliki akal yang cerdik, pintar memprediksi kemungkinan yang akan terjadi kedepannya. Bisa saja mereka memasang penyadap atau kamera berukuran kecil di kantor polisi?" Gopal tertegun. Bukan karena tentang penyadap atau kamera berukuran kecil melainkan tentang betapa panjangnya kalimat yang diucapkan oleh laki-laki yang ada di depannya tersebut.

"Kalau kamu bisa bicara sepanjang itu kenapa tidak dari dulu bicara seperti ini. Kan lebih jelas," komentar Gopal keluar topik.

Halilintar menatap datar Gopal, "berisik."

Gopal tertawa kecil, "kalau tentang itu kami sudah tahu, rencananya kami akan kembali mencari alat itu setelah rapat menyusun strategi nanti. Kamu ikut?"

"Aku warga sipil di sini."

"Warga sipil yang mengetahui hampir semua kasus di kota ini?"

"Aku hanya meminta berkas yang berkaitan dengan pelaku pembunuhan itu."

"Yang berakhir membantu kami hampir disetiap kasus."

Halilintar menatap tajam. Ia mendengus melihat Gopal selalu membalas ucapannya. "Oke, oke... aku serius. Kamu tidak perlu ikut rapat tapi bantu kami mencari alat pelacak, kamera kecil, penyadap atau apapun yang mencurigakan di kantor kami selagi kami menyusun rencana. Nanti aku akan jelaskan hasil rapatnya seperti biasa."

"Kapan rencananya dilaksanakan?"

"Kamu tahu timku kan?"

Halilintar memutar bola matanya. "Hari ini akan berakhir di apartemen Kak Gopal."

[To Be Continued]


Halo! Terimakasih telah menunggu cerita ini. Sedikit ada kendala karena aku sedikit mengubah konsepnya. Aku gak nyangka bakalan ngaruh begitu banyak dibeberapa bagian.

Rain : Alasan. Kamu kena writerblock di bagian— *mulut dibungkam author*

Author : Ara ara~ bicara apa anak ini hahaha

Lupakan apa yang dikatakan anak itu. Mari kita balas review kalian. Gak nyangka bakalan dapat tanggapan bagus dari kalian. He he he..


Ms Lunaaa

Makasih! ;)

Kalau dipikir-pikir, jaman sekarang anak bunuh orang tua dan sebaliknya itu ada lho... tapi! Kakak bisa tenang! Bukan Hali kok :)

Karena situasi yang menimpa Hali di cerita ini, dia jadi suka tempat sepi. Sebenarnya aku juga suka kelas yang sepi, enak buat tidur he he he...


Meltavi


Ketebak ya ceritanya, moga gak bosan karena mungkin alurnya mudah kebaca. Kalau Taufan dan Blaze... Kakak sudah tahu kan dari chapter ini?

Makasih dukungannya _


Guest : Lungset

Makasih! _


Guest : billy

Command [Next] Complete. :)


Terimakasih sudah review~ Tunggu kelanjutannya. Moga beneran gak bosan sama cerita ini... ㅜㅜ