Hai, hai! Kita berjumpa lagi di cerita ini. Sebelum kita mulai, bagaimana kalau kita balas dulu reviewnya? Ku sangat senang dengan antusiasme kalian~
Vivi Oktavia1
Dah lanjut nih~
Lungset
Makasih! Masih semangat kok ini.
Race : Satu-satunya yang buat cerita lama update tuh emang Si Author malas
Author : Keluar kamu Race.
Meltavi
Race : Mari doakan bahan bakar semangat Author masih tersisa.
Ms Lunaaa
Maaf lama ya... Blaze emang jahil anaknya, tapi kalau sampai nangis gitu emang gak tega.
Chapter 3
Ice berjalan pelan menuju kelasnya. Pagi hari ini seperti pagi di hari biasanya. Tatapan tajam, bisikan-bisikan yang terdengar, dan tentu saja hinaan yang selalu sama ditujukan kepadanya.
Ice bisa saja membalas perkataan mereka, merekam setiap ucapan mereka dan melaporkannya pada guru atau memukul manusia-manusia yang terus mencampuri urusan privasi keluarganya. Dari banyaknya pilihan, Ice memilih untuk mengabaikan hal itu semua. Dia hanya perlu bertahan dengan semua kalimat hinaan tersebut karena tidak ada satu murid pun yang benar-benar berurusan dengannya.
Berkat kakak pertamanya, Halilintar.
Entah bagaimana Halilintar membuat murid di sekolah mereka menghentikan membuat gangguan secara fisik meskipun tidak berlaku pada semua murid. Jika ada, itu hanya bertahan selama 2 minggu. Setelah itu murid-murid hanya mengganggu mereka sebatas bully-an verbal atau meminta maaf dengan rasa ketakutan yang luar biasa.
Di situ terkadang Ice membenci dirinya. Halilintar menghentikan penindasan yang mengganggu saudara-saudaranya tapi Ice tidak dapat membantu apapun. Ice ingin membantu meringankan beban kakak pertamanya termasuk dengan kakaknya yang lain meskipun sedikit.
Namun, entah kenapa Ice tidak bisa. Tepatnya tidak menemui celah untuk membantu mereka. Untuk saat ini Ice hanya bisa mengamati kakak-kakaknya.
The Truth © LiTFa
BoBoiBoy © Animonsta Studios/Monsta
Language: Bahasa Indonesia
Rating: T
Genre: Family, Mystery
Warning: AU, Typo(s), No Power, No Alien, No Robot, No Pairing, drama about family and friendship, press "back" if you don't like this story
Halilintar tidak suka menjadi pusat perhatian. Entah itu dalam artian baik maupun buruk. Dia lebih suka keberadaannya seperti bayangan.
Berkat kejadian 10 tahun yang lalu, perhatian orang sepenuhnya menuju dirinya. Ketertarikan mereka beralih kepadanya. Halilintar merasa seperti binatang yang sedang melakukan permainan di acara sirkus. Apapun yang ia lakukan selalu menjadi perbincangan.
Awalnya Halilintar tidak terbiasa. Meskipun pada dasarnya Halilintar bukan termasuk anak yang pemalu. Setelah sekitar 4 tahun dia mulai terbiasa dengan tatapan tajam yang dilayangkan oleh masyarakat. Telinganya kebal dengan kata-kata yang berisi merendahkannya.
Tapi Halilintar tidak peduli. Setidaknya dia berusaha tidak mempedulikan apa yang mereka bicarakan tentang dirinya. Lebih baik begitu daripada mereka membicarakan hal buruk tentang saudara dan kakeknya.
Karena terbiasa menjadi pusat perhatian masyarakat, bukan hal yang baru baginya ketika tatapan para murid tertuju padanya saat ia dengan santainya mengikuti adik ketiganya —yang selalu menjemputnya setiap istirahat— ke belakang sekolah untuk makan siang. Hanya karena sebuah plester luka yang terpasang di pipi kirinya.
"Lihat, lihat...Si Pembunuh terluka ketika menyerang mangsanya..."
"Siapa kali ini yang ia bunuh?"
"Si Pembunuh yang menguasai berbagai bela diri ternyata bisa terluka."
"Apa adiknya tidak membantu saat ia sedang menahan mangsanya yang berusaha kabur?"
"Mungkin mereka semua tidak berguna."
Halilintar menghentikan langkahnya. Dia tahu kalau dirinya memiliki sifat temperamental, cuek, berwajah datar, kasar, dan berbagai sebutan dengan artian jelek lainnya. Semua itu ia dapatkan dari ayahnya yang memiliki sifat keras. Sifat tersebut ditunjukkan hanya saat beliau serius atau dirinya dan saudaranya melakukan sebuah kesalahan. Selain semua itu, ayahnya merupakan orang yang berkepribadian ramah dan humoris.
Seperti ayahnya, Halilintar tidak akan marah kalau tidak ada pemicunya dan ucapan penghinaan yang ditujukan pada adik-adiknya merupakan salah satu pemicu kemarahannya.
Halilintar melangkahkan kakinya pada salah satu murid yang sedang berbincang pada temannya. Melihat itu, murid tersebut bergetar ketakutan. Mulut Halilintar terbuka, siap mengeluarkan serangkaian umpatan untuk membungkam mulut murid tersebut.
"Coba katakan sekali lagi," itu bukan Halilintar melainkan laki-laki berambut pirang dengan goggles yang dikalungkan di leher. Laki-laki itu tersenyum mengancam pada kedua murid tersebut.
"Aku tidak mengatakan apapun," getaran suara ketakutan dapat ditangkap oleh telinga laki-laki tersebut.
Laki-laki pirang itu menatap tajam kedua murid tersebut, "coba kuingat... kalau tidak salah aku mendengar kata 'tidak berguna' yang ditujukan pada adik laki-laki berwajah jutek itu," katanya sambil menunjuk Halilintar dengan dagunya.
Kedua murid tersebut kembali bergetar ketakutan karena senyum laki-laki pirang yang menyeramkan. Sedangkan murid yang lain memilih kembali beraktivitas, menghindari laki-laki pirang itu sebelum berganti menghampiri mereka.
"Yang mengatakan dia dan adiknya tidak berguna bukan kami saja!" elakan yang membuat Halilintar mendidih.
"Pfft—!" laki-laki pirang itu menahan tawa. "Tentu aku tahu bukan kamu saja yang mengatakan kalimat itu pada dia dan saudaranya... hanya saja, secara kebetulan aku melihat kata itu keluar dari mulut kalian berdua."
Tawa laki-laki pirang itu berhenti digantikan dengan wajah serius, "kalau kalian menyebut dia dan adiknya tidak berguna... sekarang aku tanya," mata biru elektriknya terlihat bersinar. "Hal berguna apa yang telah kalian berikan di sekolah ini?"
Kedua murid itu terdiam. Senyuman sinis langsung terpasang di wajah laki-laki pirang tersebut, "lihat? Ini menunjukkan bahwa kalian lebih tidak berguna daripada laki-laki pemarah itu dan saudaranya," Halilintar yang mendengarnya berusaha menahan diri untuk tidak menghajar laki-laki rambut pirang itu.
"Mereka menunjukkan prestasi selagi kalian semua sibuk menindas mereka. Aku juga sangat yakin kalian sama tidak bergunanya di lingkungan masyarakat. Menyombongkan diri bukanlah jalan untuk meraih cita-citamu."
"Apa kamu memihak laki-laki pembunuh itu? Aku rasa tugas Ketua OSIS selalu menjadi pihak netral," laki-laki rambut pirang itu menghela napas. "Aku netral kok. Aku tidak memihakmu atau memihak laki-laki jutek itu."
"Lalu? Bagaimana kamu menjelaskan keadaan ini? Dari ucapanmu yang terus memojokkan kami bukannya menjadi bukti kalau kamu sedang memihak Si Pembunuh?"
"Bisa berhenti menyebutnya pembunuh? Dia merupakan siswa di sekolah ini. Dimana derajat kalian semua sama," ucapan si Ketua OSIS terdengar kesal.
"Lihat? Kamu kembali membelanya," murid tersebut mulai memojokkan laki-laki rambut pirang. Laki-laki pirang itu mendengus, "asal kamu tahu, selain menjadi pihak netral di suatu konflik... tugas Ketua OSIS menjaga kesejahteraan di sekolah. Bukankah itu masuk akal bila aku membelanya karena dia tidak melakukan kesalahan apapun sedangkan kalian semua yang ada di sini melakukan kesalahan yang tidak ingin kalian akui. Hanya karena dia berbeda dengan kalian bukan berarti kalian bisa menindas mereka seenaknya."
Kedua murid itu menatap benci si Ketua OSIS. "Lagian, apa kalian melihat dia membunuh orang? Sampai menyebutnya pembunuh."
"Itu tidak perlu ditanyakan lagi. Kejahatannya sudah menyebar lewat koran dan internet," murid tersebut mengeraskan suaranya. Menyebabkan murid lain menghentikan aktivitas masing-masing. Membuat lorong sekolah hening sejenak.
"Kalian tidak bisa baca ya?" sindiran keluar setelah beberapa detik laki-laki pirang itu terdiam.
"Apa maksudmu?" sengit murid tersebut. "Isi berita yang keluar 10 tahun lalu dengan jelas menyatakan bahwa dia termasuk terdakwa dikasus pembunuhan itu!"
Halilintar mengepalkan tangannya kuat. Dia berniat pergi dari sana dan menyusul adiknya. Kalau saja dia tidak mendengar tawa si Ketua OSIS, "yang benar saja! Jangan membuatku sakit perut karena ucapan bodohmu itu... dia masih menjadi terdakwa belum menjadi pelaku. Kalian tidak bisa membedakan kata pelaku dan terdakwa?" laki-laki itu tertawa sambil memegang perutnya. "Apa kalian tidak baca artikel yang menyatakan kalau dia bukan si pelaku? Jangan-jangan kalian hanya dengar kabar burung dan tidak membaca artikelnya," Ketua OSIS masih tertawa.
Tahu tidak bisa menang argumen dengan Ketua OSIS, kedua murid itu langsung pergi dengan langkah besar, menyalurkan rasa kesalnya dengan menghentakan kaki secara keras. Murid lain pun kembali menjalankan aktivitasnya masing-masing.
Di sisi lain, Gempa buru-buru menyusul Halilintar ketika mengetahui kakaknya tidak bersamanya. "Kak Halilintar... kalau mau berhenti tolong bilang dulu..." tegur Gempa sambil cemberut. Sang kakak pertama mendengus, mengabaikan teguran adiknya dan kembali berjalan. Dia harus cepat menjauh dari laki-laki pirang itu sebelum dia—
"Halilintar!"
memanggil namanya dengan keras sambil menyebar senyum bak matahari. Halilintar memutar bola matanya malas. "Hm? Ocho? Kenapa ada di sini? Biasanya menghabiskan waktu istirahat di ruang OSIS," tanya Gempa ketika laki-laki pirang itu menghampiri mereka.
"Merehatkan diri dari kesibukan yang ada... mungkin? Tugasku entah kenapa tidak selesai-selesai," jawab Ocho masih dengan senyum mataharinya. Gempa menanggapinya dengan tawa kecil.
"Kalian mau ke belakang halaman sekolah? Aku boleh ikut?" Gempa melirik Halilintar. Bertanya pada kakaknya lewat tatapan mata. Halilintar tahu akan jadi seperti ini jika bertemu dengan Ocho di jam istirahat.
Halilintar mendengus, berjalan mendahului adiknya dan Ocho menuju belakang sekolah. Gempa tersenyum melihat jawaban yang ia terima dari kakaknya, "boleh, ayo kita ke sana secepatnya. Yang lain sudah menunggu."
Dingin adalah kesukaannya.
Ketenangan selalu yang ia cari.
Kedamaian menjadi impiannya.
Sayangnya, Ice harus menunda tiga hal tersebut untuk sementara. Atau mungkin selamanya?
Kesukaannya menjadi penyiksanya, apa yang ia cari semakin menjauh dan impiannya tidak akan pernah terwujud. Jika masalah yang telah menetap selama 10 tahun tidak kunjung diselesaikan, sampai kapan dia harus bertahan di kotak zona nyamannya?
Terus berdiam dalam zona nyamannya?
Tanpa berbuat apapun?
Jangan bercanda. Ice lebih memilih untuk menerjunkan dirinya dari atap gedung jika terus berdiam diri.
"Sepertinya dia tidak akan bangun lagi. Aku tidak pernah melihatnya bangun."
"Mungkin mengisi energi untuk rencananya nanti malam?"
"Rencana?"
"Kamu tidak tahu? Tentu saja rencana pembunuhan. Malam selalu menjadi saksi bisu perbuatan mereka."
Tawa yang ditujukan pada dirinya mengisi ruangan kelas. Ice hanya bisa mengabaikan mereka dengan menulikan telinganya, membutakan matanya dan mengabaikan emosi yang menumpuk pada dirinya.
Tidak apa-apa. Kamu baik-baik saja. Abaikan mereka. Abaikan mereka. Bayangkan mereka adalah lalat yang mendekati kotoran. Jangan pikirkan mereka. Ini semua tidak sebanding dengan luka yang diterima mereka berempat.
Sebuah kalimat penenang yang hampir tidak ada efeknya. Dia butuh kakaknya sekarang. Fisik dan mentalnya sudah mencapai puncaknya. Dia tidak tahu apakah dia masih bisa bertahan dalam situasi ini.
"Ah~ kenapa bel istirahat tidak berbunyi? Kita tidak bisa terus-terusan satu ruangan dengan rekan pembunuh."
"Bahkan guru yang mengajar hari ini tidak kunjung datang. Apa dia baru saja mengancam guru agar tidak ada pelajaran?"
"Mungkin saja, merasa otaknya pintar mengatur strategi membunuh bukan berarti dengan seenaknya mengancam guru kita untuk mengajar. Kita di sini kan belajar agar dapat bergabung dengan dunia masyarakat."
"Terus kenapa ke sekolah coba? Apa pelajaran sekolah bisa memberinya ide untuk rencana membunuh ke depannya?"
"Kau mungkin benar!"
Ice dapat mendengar tawa murid seluruh kelas meskipun telinganya telah ia tutup dengan earphone. Padahal guru yang bersangkutan sedang izin karena adanya keperluan mendadak.
Hah... cukup sudah. Badanku sedang tidak enak dan mereka terus-terusan mengeluarkan kata-kata sampah. Aku sudah berbaik hati mengabaikan mereka hampir 2 tahun ini. Kulempar dengan kursi boleh kan...?
Kak Blaze.
"Ah... para bajingan sialan. Tidak bisakah tutup mulut sampahmu itu?"
Seisi kelas semua terdiam dan melihat Ice bersiap melempar kursi terhadap mereka.
Brak!
Nyut!
Blaze mengernyit. Dadanya entah mengapa terasa sesak. Jantungnya berdegup kencang. Seakan dia tengah lari maraton.
Perasaannya tidak enak. Dia tahu perasaan ini. Dia tahu rasa sesak ini.
Tes!
Tanpa dia sadari, air mata keluar membasahi bukunya. Mendapat tatapan aneh dari guru yang tengah menjelaskan materi. "BoBoiBoy Blaze? Kenapa kamu?" sebuah pertanyaan yang menyadarkannya.
"Ah... itu... anu... saya..." dia tidak bisa menemukan alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan sang guru.
Air matanya tiba-tiba keluar bertambah deras, napasnya menjadi lebih cepat. "Apa kamu tidak enak badan?" guru tersebut berjalan menghampiri Blaze. Bermaksud memeriksa keadaan salah satu muridnya tersebut.
Blaze tiba-tiba berdiri, membuat guru tersebut menghentikan langkahnya. Kembali mendapat tatapan tajam yang menjadi pemandangannya sehari-hari. "M-maafkan saya," katanya. "D-dada saya tiba-tiba sesak, s-saya ijin ke UKS," sebelum sang guru memberi jawaban, Blaze berlari keluar kelas.
Dia tahu perasaan ini.
Sesak.
Muak.
Ingin menangis.
Berteriak penuh frustasi.
Semua itu perasaan milik adik satu-satunya.
Ice sedang kesakitan sekarang! Dia butuh dirinya.
Brak!
Blaze membuka pintu kelas XI MIPA-3 dengan keras. Segera semua tatapan yang ada di kelas tersebut menuju ke dirinya. Terkejut dengan keheningan yang mengecam mengisi seisi kelas. Keterkejutannya bertambah ketika melihat Ice berdiri dengan kepala yang ditutupi dengan tudung jaket dan tengah bersiap melempar sebuah kursi.
Bahkan adiknya yang memiliki tingkat kesabaran tertinggi kedua setelah Gempa mulai lepas kendali.
"I-Ice!" panggil Blaze. Adiknya tersebut menoleh ke arahnya, tetap dengan kedua tangannya yang memegang kursi tinggi-tinggi.
"Turunkan kursi itu, bahaya! Tanganmu nanti luka."
"Itu yang kau khawatirkan? Adikmu itu siap membunuh kami dengan kursi itu!" celetuk salah satu siswa.
Blaze mengabaikan protesan siswa tersebut. Dia segera menghampiri adiknya dan menurunkan kursi yang dipegang sama Ice. Meskipun sedikit kesulitan karena BoBoiBoy bungsu tersebut mengeluarkan penolakan.
Otak Blaze dengan cepat mencari cara untuk menenangkan Ice. Selama ini Si Bungsu yang menenangkan Blaze ketika ia ada di puncak kemarahannya. Kali ini gilirannya untuk meredakan amarah Ice.
Tidak sulit untuk memadamkan kemarahan Ice. Seperti namanya, Ice termasuk orang yang penyabar dan selalu tenang di situasi apapun. Marah adalah emosi yang paling sedikit di tubuh Ice.
"Nah Ice, ayo kita keluar dulu dari ruangan penuh sampah ini. Kamu bisa jalan?" Blaze menunjukkan senyumannya. Salah satu tangannya memegang dahi Si Bungsu.
Sedikit panas. Blaze akhirnya tahu kenapa adiknya yang jarang marah ini ingin melemparkan kursi untuk melampiaskan emosinya.
"Kak Blaze kenapa ada di sini?" tanya Ice akhirnya mengeluarkan suara setelah lama terdiam.
"Ha? Ah... kamu memanggilku tadi dan aku langsung lari ke kelasmu. Saat aku buka pintu kelas kamu sudah siap melempar kursi ke kumpulan sampah di kelas ini," jawab BoBoiBoy keempat.
Blaze meletakkan kedua tangan Ice melingkari lehernya kemudian mengangkat tubuh adiknya yang ringan tersebut. Tanpa mengindahkan tatapan para murid yang siap mencaci maki mereka, Blaze membawa adiknya keluar kelas menuju UKS.
"Seharusnya kamu membakar kumpulan sampah bukan melemparnya dengan kursi, Ice... itu akan membuat sampah yang sudah terkumpul berantakan kan?"
"Oi!" Halilintar yang tengah beristirahat dari latihan mandirinya menghela napas. Dia hafal di luar kepala suara yang baru saja memanggilnya tadi.
Fang, laki-laki berambut ungu berantakan yang entah bagaimana menyebut Halilintar sebagai rival-nya tapi, Halilintar tidak menanggapi hal tersebut. Saat ini remaja tersebut dengan wajah yang terlihat angkuh berjalan menghampirinya. Padahal baru 10 menit dia beristirahat.
Mata tajam Halilintar menatap mata sinis Fang. "Sparring," satu kata yang langsung dibalas dengusan oleh Halilintar. Tidak ada niatan untuk menerima ajakan tantangan dari laki-laki berambut acak-acakan.
"Aku sudah bilang sama pelatih," Fang kembali berucap ketika melihat tidak ada respon dari rival-nya.
Halilintar kembali menghela napas. Dia tidak mau berurusan dengan pelatih, "hanya meladeni saja. Tidak perlu terbawa suasana," batin Halilintar. Dengan berat hati, Halilintar bangun dari duduknya yang tanpa ia sadari menarik perhatian anggota karate lain dan mengikuti si Rambut Landak —sebutan sebelum dia mengenali Fang— menuju pelatih.
Mereka berdua berdiri berhadapan, memberi salam kemudian mengambil posisi kuda-kuda untuk menyerang. Fang mengeluarkan aura intimidasi yang sangat kuat sampai anggota karate yang melihat merasakannya. Tentu saja hal tersebut tidak mempan kepada Halilintar yang tidak mengeluarkan aura apapun.
Pelatih memberi aba-aba, diikuti dengan beberapa pukulan yang dilancarkan oleh Fang dan posisi bertahan dari Halilintar lalu sparring dimulai.
Pukulan dan tendangan diluncurkan oleh Fang dengan brutal yang dengan mudahnya ditangkis oleh Halilintar, mengabaikan setiap kesempatan untuk balas menyerang. Di situlah Fang merasa kesal. Setiap mengajak Halilintar sparring, dia harus memutar otaknya untuk memprovokasi Halilintar. Sikap bertahan seolah mengatakan bahwa dia bukanlah lawan yang pantas.
Fang melancarkan pukulan yang ditangkis dengan cepat oleh Halilintar. Mereka berhenti sejenak untuk mengambil napas. Kesempatan itu diambil Fang untuk memprovokasi rival-nya.
"Kenapa terus bertahan?" Halilintar mengernyit.
"Takut? Atau kamu terlalu lemah untuk membalas seranganku?" sebaliknya, Halilintar merupakan lawan yang kuat karena terus menangkis serangannya.
Fang melancarkan tendangan dengan sebuah kebetulan mengenai tepat di lutut bagian belakang. Menyebabkan Halilintar oleng kemudian jatuh terduduk.
"Untuk apa kamu masuk klub karate?" Halilintar bangkit dan kembali memasang kuda-kuda. Kali ini lebih kuat dari yang sebelumnya. Telinganya panas mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Fang.
"Menunjukkan kalau kamu itu paling kuat di sini? Memamerkan bahwa kamu sudah mencapai sabuk hitam? Atau menyombongkan diri?"
"Tunggu," Fang memasang senyum sinis.
"Bukannya semua itu termasuk menyombongkan diri? Kamu kan Halilintar yang ditakuti semua orang,"
Halilintar menarik niatnya tentang tidak terbawa suasana. Dia lupa kalau Fang punya banyak cara untuk membuatnya hampir lepas kendali. Tapi, ucapannya tadi sudah kelewatan. Halilintar tahu Fang tidak berniat untuk menambah beban pikirannya. Manusia satu itu selalu berbicara tanpa berpikir. Fang tidak tahu situasi yang sedang menimpanya, karena itu Halilintar tidak pernah memasukkan setiap ucapan sinis di hatinya.
Tapi, kalau menyangkut tentang alasan kenapa dia mengambil ilmu bela diri dari kecil, itu karena dia merasa memiliki kewajiban untuk melindungi adik-adiknya. Bukan untuk menyombongkan diri.
Halilintar mengambil napas dalam dan mengeluarkan secara perlahan. Tatapannya semakin tajam, memfokuskan diri untuk serangan Fang selanjutnya.
Melihat Halilintar tidak merespon ucapannya, Fang berdecak. Kesal dengan sikap laki-laki yang begitu susah ditarik semangatnya. "Terserah."
Fang meluncurkan tendangan di wajah. Terkejut ketika serangannya ditahan bukan ditangkis atau dihindari. Senyuman sinis kembali ia keluarkan, "kau yang minta, Rambut Landak."
"Wh—!?" tidak ada kesempatan untuk menarik kembali kakinya atau protes tentang sebutan yang ia terima ketika sudah ditarik duluan oleh Halilintar. Tubuhnya dengan begitu mudah terlempar sejauh 2 meter. Luka lecet tidak bisa ia hindari. Inilah perbedaan kekuatan antara Fang dan Halilintar. Jika Fang membutuhkan banyak waktu untuk membuat Halilintar terluka, maka sebaliknya dengan rival-nya yang hanya membutuhkan satu serangan untuk membuatnya lecet.
Seringai tidak bisa Fang tahan untuk ia tunjukkan, "seharusnya dari tadi seperti ini."
Sparring diselesaikan dengan hadiah luka lecet dan memar yang mereka berdua terima.
[To Be Continued]
