Chapter 4
Malam di hari itu adalah malam yang damai. Bulan tidak menampakan cahayanya pada kota. Angin berhembus begitu pelan.
Malam itu, dia dan kedua saudaranya keluar menemani Tok Aba ke supermarket diselingi dengan candaan yang membuatnya tertawa selama perjalanan. Tidak ada satu pun firasat buruk yang menghampirinya.
Layaknya hujan sebelum badai.
Ketika dirinya sampai di rumah, petir menyambar begitu keras. Membuat dia dan adiknya menutup telinga rapat-rapat. Tok Aba menyuruh dia dan adiknya untuk cepat-cepat masuk. "Hujan akan turun deras," kata beliau.
Ketika mereka semua memasuki rumah, dia melihat rumahnya dalam keadaan gelap. Terkejut ketika kakeknya menahannya untuk tidak berjalan lebih dalam. Menahan semua adiknya di dekat pintu.
Kemudian petir kembali menyambar.
Menerangkan pandangannya sesaat. Melebarkan matanya, tidak percaya dengan apa yang ia lihat. "Tok..." itu adalah suara kakaknya. "Mereka tidak bergerak..."
Saat itu, ia tidak akan mengira hidupnya akan berubah drastis. Kehidupan yang seharusnya menyenangkan menjadi penyiksanya di setiap napasnya.
The Truth © LiTFa
BoBoiBoy © Animonsta Studios/Monsta
Language: Bahasa Indonesia
Rating: T+
Genre: Family, Mystery
Warning: AU, Typo(s), No Power, No Alien, No Robot, No Pairing, drama about family and friendship, press "back" if you don't like this story
Halilintar menghentikan larinya, mata tajamnya melihat benda berkilau tersebut melesat begitu cepat. Melewati dirinya dengan jarak seperkian centimeter. Menggores pipinya yang tertutupi plester luka.
Lagi.
Terkena di tempat yang sama untuk kedua kalinya. Padahal lukanya belum kering. Kalau begini caranya, lukanya akan membekas dan kembali menjadi bahan pembicaraan untuk kesekian kalinya.
"Bagaimana kalau kamu berhenti mengejarku?" pelaku pelempar pisau itu berbicara. Halilintar langsung siaga. Matanya terus mengawasi orang yang ia kejar selama hampir tiga hari.
"Aku tidak ingin melukai bocah yang terus mengejarku tanpa menyadari batas lawan yang dihadapi."
"Tidak ingin melukai tapi menggores pipi seorang bocah yang tak berdaya? Lucu sekali," sarkasme Halilintar. "Dan jangan menilai kemampuan orang dari luarnya. Kita tidak pernah bertarung sekalipun."
Pelaku yang merupakan seorang wanita itu tertawa, "yang benar saja! Kepolisian saja tidak bisa mengalahkanku apalagi bocah sepertimu!" serunya.
Halilintar bersiap menyerang, "bagaimana kalau kita bertarung? Kamu kalah. Bergabung dengan temanmu," tawarnya.
Wanita itu menjilati bibirnya, "kalau aku menang?" tanyanya.
"Aku biarkan kamu lepas," jawab Halilintar. Wanita itu berpikir, "percuma kalau kamu membiarkan aku lepas kalau bakalan dikejar lagi," katanya. "Temanku juga tetap akan ditahan."
"Lalu?"
"Tentu saja lepaskan temanku dan kalian tidak akan mengejarku lagi."
"Oke," wanita itu terkejut. Tidak menyangka anak laki-laki yang ada di depannya menyetujui usulannya dengan cepat. "Tidak ada argumen?"
"Tidak ada gunanya berargumen dengan buronan macam kalian."
Wanita itu menyiapkan pisau pendeknya, "sombong juga kau bocah."
Situasi di gang kecil itu mendadak hening. Angin malam berhembus sebagai tanda pertarungan dimulai.
Pertarungan tidak seimbang antara laki-laki yang mengandalkan bela diri dan wanita bersenjata.
"Jangan membuat tawaran yang merugikan!" seru Gopal ketika Halilintar kembali dari gang kecil yang menjadi tempat pertarungan antara dirinya dan buronan yang polisi cari.
Bruk!
Halilintar menjatuhkan wanita buronan yang ia kejar bersama tim Gopal selama tiga hari. "Aku menangkapnya."
Gopal mendengus, "bukan masalah kita menangkapnya atau tidak. Kiki Ta merupakan wanita yang kuat. Posisi Sniper dia duduki. Beruntung dia tidak membawa pistol laras panjangnya."
"Cepat ke kantor polisi sebelum dia sadar," Halilintar mengabaikan nasihat Gopal. Memasuki mobil polisi berbadan besar tersebut yang masih mengeluarkan kalimat penuh teguran.
Gopal mendengus, kesal karena anak almarhum atasannya itu tidak pernah mendengarkan nasihatnya sekalipun. Selalu mengabaikannya dengan topik lain atau pergi meninggalkannya begitu saja.
"Dengarkan orang berbicara. Orang tua berbicara malah ditinggal masuk mobil," kembali dengan teguran setelah Gopal memasuki mobil. Tidak lupa dengan buronan yang barusan Halilintar tangkap.
"Aku keluar," pintu mobil terbuka. Halilintar berniat pergi meninggalkan Gopal yang tidak berhenti berbicara sampai membuat telinganya panas. "Oke, oke... ayo kita kembali dan melakukan interogasi padanya," akhirnya Gopal menyerah untuk menasihati Halilintar.
Mobil melaju dengan cepat di keramaian malam. Sirine tidak lupa Gopal nyalakan. Halilintar memandangi cahaya yang berasal dari bangunan kota lewat jendela. Tidak ada yang berbicara, hanya suara radio yang meramaikan suasana dalam mobil atau walkie talkie yang Gopal taruh di saku baju sebelah kanan.
Mobil berhenti ketika mereka sampai tujuan. Menyeret paksa buronan yang telah sadar dari pingsannya. Halilintar berjalan di belakang Gopal dan buronan, berjaga-jaga bila sang buronan kabur.
"Mereka bukan pelakunya," Gopal langsung menatap Halilintar tidak percaya. Mereka sudah ada di depan pintu penjara dan Gopal hampir melepaskan sang buronan. Yang tentu saja langsung ditangkap oleh Halilintar sebelum wanita tersebut berlari melewatinya.
"Kau gila ya?! Baru bilang sekarang!" seru Gopal. "Anda sudah memprediksinya saat di kafe," balas Halilintar sambil memasukkan wanita tersebut ke penjara bersama temannya yang lain.
"Jangan melepaskan tahanan. Menangkapnya tidak mudah."
"Aku memang memprediksinya karena kamu selalu membantu timku menangkap penjahat," kata Gopal. "Kalau begini sama saja menyeret warga sipil dalam masalah kepolisian," polisi tersebut bergumam.
"Baru sadar?" kata Halilintar sarkastik. "Sudah dari SMP. Saat Anda minta bantuan."
"Kenapa kamu tidak menolaknya?!"
"Untuk mendapatkan petunjuk," jawab Halilintar tenang kemudian meninggalkan ruang penjara tersebut menuju ruang tunggu. Berniat untuk mengistirahatkan diri setelah menguras tenaganya setiap malam untuk menangkap buronan polisi.
"Memangnya mereka punya hubungan dengan penjahat lain?" kalau saja Gopal tidak mengikutinya dan terus bertanya.
"..." Halilintar diam.
"..." Gopal menunggu jawaban dari Halilintar.
Dan datanglah keheningan. Diakibatkan oleh satu orang yang malas menjawab dan satu orang yang penasaran. Gopal mendengus, entah berapa kali pertanyaannya diabaikan hari ini. Meskipun dia sudah terbiasa diabaikan oleh Halilintar.
"Punya plester luka?" pertanyaan tiba-tiba dari laki-laki bermata merah.
"Kenapa?" Gopal balik bertanya. Dijawab langsung oleh tatapan datar Halilintar. Gopal mengamati Halilintar, memeriksa bagian tubuh yang kemungkinan terluka. Matanya menemukan darah yang mengalir di wajah laki-laki itu. Tidak deras, berasal dari pipi yang lukanya belum kering tapi berhasil membuat Gopal dengan cepat keluar dari ruang tunggu mencari kotak P3K.
Saat ia kembali, Halilintar sudah tidak ada di sana. "Sialan, aku diusir."
Gempa termenung di ruang keluarga. Jam menunjukkan pukul 11.00 malam dan kantuk belum menghampirinya. Padahal dari dia bangun tidur sampai pulang sekolah banyak sekali kegiatan. Seharusnya tubuhnya protes meminta istirahat.
"Huft..." Gempa menghela napas. Merasa jenuh dengan suasana yang sepi karena penghuni lain sudah menjelajahi alam mimpi. "Kenapa masih belum pulang?" gumamnya.
Penyebab dia belum tidur karena kakak pertamanya tak kunjung pulang. Biasanya Si Sulung pulang jam 10 malam. Terkadang jam 11 atau tengah malam dan berakhir dia tertidur karena lelah menunggu. Ketika matanya terbuka, dia sudah mendapati dirinya berada di kamar.
Kriet...
"A-assalamu'alaikum..." Gempa langsung bangkit dari duduknya ketika mendengar suara kakaknya yang ia tunggu. Menghampiri Si Sulung yang terlihat berjalan perlahan, berusaha tidak mengeluarkan suara apapun.
"Wa'alaikumsalam..." bisa ia lihat kakaknya tersebut tersentak. Terkejut melihat dirinya masih terjaga.
"Kenapa..."
"Belum tidur?" Gempa tersenyum setelah memotong ucapan Halilintar. "Menunggu Kakak pulang," jawabnya kemudian.
Halilintar mendengus, "Kakak sudah makan? Kalau belum aku sudah menyiapkan makanan di meja makan untuk Kak Halilintar," tanya Gempa sambil mengikuti kakaknya berjalan menuju buffet di ruang keluarga.
Mata kuning emasnya melihat kakaknya mengambil plester luka dari kotak P3K. "Untuk apa plester lu astaga!"
Halilintar menatap tajam adiknya, "berisik. Tidur sana."
"Nggak, nggak, nggak... bagaimana Kakak dapat luka di pipi? Bukannya luka yang di situ belum kering?" pertanyaan yang telah diprediksi Halilintar bila adik ketiganya melihat lukanya.
"Tidur. Besok sekolah," Halilintar tidak menjawab pertanyaan Gempa.
"Tidak sebelum aku memeriksa luka Kakak," Gempa membantah. Dia langsung merebut plester luka yang ada di tangan kakaknya dan mengambil kotak P3K kemudian menarik Halilintar ke sofa ruang keluarga.
"Luka seperti ini seharusnya disterilkan baru ditutup plester luka."
"Aku bisa mengobatinya sendiri."
"Yakin?" Halilintar mengangguk.
"Bahkan yang ada di sini?" Gempa menepuk punggung Halilintar pelan. Membuat Halilintar mengerang tertahan.
Dia lupa kalau di punggungnya ada memar, "itu bukan urusanmu. Cepat tidur," untuk kesekian kalinya Halilintar menyuruh Gempa tidur.
"Tidak sebelum aku mengobati luka Kak Halilintar," kata Gempa keras kepala. Tanpa permisi, dia membuka baju kakaknya.
"Astaga Gempa! Aku bisa mengobatinya sendiri. Jangan buka bajuku sembarangan!" seru Halilintar lirih. Dia tidak mau penghuni rumah lain terbangun karena kebisingan yang mereka buat.
Gempa mengabaikan seruan Halilintar. Melanjutkan aktivitasnya mengobati luka yang entah bagaimana bersarang di tubuh kakaknya. Jika hanya luka memar bisa Gempa maklumi karena kakaknya mengikuti klub karate. Tapi, tidak dengan bekas luka yang terlihat seperti sabetan benda tajam. "Bagaimana bisa Kak Halilintar dapat semua luka ini?"
"..."
"Kakak gak mau beritahu?" tanya Gempa lagi. Dia sangat khawatir pada Halilintar. Sayangnya, kakaknya satu ini sangat tertutup mengenai dirinya sendiri. Padahal dulu meski dia tertutup pada orang lain bahkan pada sahabat mereka, Halilintar tidak pernah tertutup pada keluarganya.
Gempa menghela napas. Dia mencoba memaklumi sifat kakaknya yang berubah. Tentu saja dengan sifat saudaranya yang lain juga.
Gempa menutup kotak P3K setelah selesai memberi perban pada lengan kanan Halilintar. Itu adalah luka terakhir yang dia obati. Laki-laki itu menatap kotak obat yang ia pangku, sedangkan Halilintar menunggu adiknya berbicara.
Hening kembali.
Ralat. Masih ada suara jangkrik dan hewan malam di sekitar rumah. Jangan lupa dengan suara angin yang berhembus pelan membuat ranting pohon mengetuk jendela rumah berirama.
Melihat Gempa tidak kunjung membuka mulutnya, Halilintar berniat pergi ke kamarnya. "Aku harap!" tapi ia tunda sejenak saat mendengar seruan adiknya.
Halilintar menatap Gempa yang tersenyum sendu, "aku harap Kakak segera memberitahu pada kami semuanya."
"Apa yang harus kuberitahu pada kalian? Kalian sudah tahu semua tentang aku. Fakta bahwa aku adalah seorang pembunuh. Terlebih lagi membunuh kedua orang tua kita," balas Halilintar dingin.
Gempa berdiri, melupakan kotak P3K yang ia pangku tergeletak jatuh. "Tidak! Kakak tidak melakukannya! Aku percaya itu! Aku juga ada di sana!"
"Pelankan suaramu. Mereka sedang tidur."
Gempa menunduk dalam, "Kakak bukan pembunuh... mereka yang melakukannya... mereka yang membunuh ayah dan ibu... mendorongku dengan keras..." dia bergumam.
Halilintar terkejut. Gempa seharusnya tidak mengingatnya karena luka yang ia dapatkan dulu membuatnya shock berat sampai tidak bisa mengingat kejadian hari itu. "Gempa kamu..."
Gempa tiba-tiba mengangkat kepalanya, menunjukkan genangan air yang siap keluar dari matanya. "Aku benar kan?! Ada dua! Pelakunya ada dua kan?!"
Halilintar mengalihkan pandangannya, "makanannya."
"Ha?"
Halilintar kembali menatap Gempa, "makanannya masih hangat?"
Gempa mengangguk ragu, "ha-harusnya masih hangat... aku baru saja menghangatkannya sebelum Kakak datang."
"Setelah aku memakannya kamu tidur. Mengerti?" Halilintar melihat ekspresi penuh dengan kebingungan di wajah adiknya. Bingung karena topik yang berganti secara tiba-tiba.
"Mengerti?" Halilintar kembali bertanya.
"I-iya..."
Mendengar jawaban dari sang adik, Halilintar segera menuju ke ruang makan diikuti oleh Gempa. Menunggu adiknya menyiapkan makanan untuknya —Gempa yang memaksa.
Setelah piring berisi nasi beserta lauk pauknya diberikan kepada Halilintar, Gempa duduk di depan kakaknya. Menunggu Halilintar menghabiskan makan malamnya. "Kalau sudah habis Kakak taruh piringnya di tempat cuci piring, biar aku saja yang mencucinya."
Halilintar menghentikan suapan terakhirnya sejenak. "Aku bilang tidur, bukan cuci piring."
Halilintar berdiri sambil membawa piringnya, meminum air putih dalam sekejap. Gempa ikut berdiri, mengikuti kakaknya yang akan mencuci piring. "B-biar Gempa saja Kak... Kakak langsung istirahat saja," kata Gempa yang masih keras kepala.
Dengan tiba-tiba, Halilintar menyentil dahi adiknya dan untuk kesekian kalinya dia berkata, "Tidur. Atau aku akan memaksamu masuk ke kamar dan menguncimu sampai esok pagi. Besok sekolah."
Kali ini ucapan kakaknya tidak dapat dibantah. Gempa terpaksa mengikuti perintah Halilintar. Tapi, saat ia melihat pakaian yang digunakan Halilintar, Gempa mengurungkan niatnya untuk pergi ke kamarnya. "Kakak tadi sempat pulang ke rumah?" pertanyaan Gempa membuat Halilintar mendengus. Adiknya satu ini tidak kunjung pergi ke kamarnya dan terus membuatnya berbicara.
"Tidak," jawab Halilintar singkat. Matanya fokus pada piring yang sedang ia bersihkan. Gempa menatap kakaknya heran, "lalu? Kenapa Kakak menggunakan baju yang biasa Kakak pakai saat keluar? Seharusnya Kak Halilintar masih pakai seragam."
Halilintar mengeringkan tangannya dengan handuk kecil. "Aku bawa baju ganti."
"Buat apa? Kakak bisa pulang ke rumah dulu. Setiap hari juga Kakak pulang malam. Minggu juga tidak pernah ada di rumah."
"Ada urusan. Tidak sempat pulang."
Hening beberapa detik.
"Sudah?" Halilintar bertanya. "Pergi tidur."
Gempa menghela napas. "Kalau begitu... aku pergi tidur dulu. Selamat malam Kak... Kakak juga segera istirahat."
"Hn..."
Halilintar memastikan Gempa benar-benar pergi tidur sebelum dia memasuki kamarnya sendiri. Dia duduk di kursi meja belajarnya dengan kepala menghadap asbas.
Jam digital menunjukkan 01.45 pagi. "Aku harus cepat. Sebelum Gempa mengingat semua hal yang terjadi di hari itu dan keadaan semakin kacau."
[To Be Continued]
Lungset
Sayang sekali~ salah satu sifatku adalah menyiksa para karakter yang di setiap cerita dengan porsi masing-masing.
Yahoo~ bagaimana kabar kalian selama masa karantina?
Semangat? Bosan? Atau biasa saja?
Kalau aku tentu saja yang ketiga karena aku anak hikikomori. Ahahahaha... Hah...
Setelah membaca chapter ini berulang-ulang akhirnya ke-update juga. Mungkin untuk chapter yang selanjutnya akan lama. Tinggal beberapa saja tapi serasa banyak.
Pokoknya harap bersabar ya~
