Chapter 5

Blaze itu kekanak-kanakan. Tok Aba dan saudaranya tahu betul sifatnya satu itu. Bahkan remaja laki-laki tersebut juga meyadarinya.

Marah dengan hal yang sepele, tidak ingin disalahkan dan hanya peduli pada diri sendiri. Tidak heran Blaze menjadi magnet masalah. Setidaknya, sifat laki-laki tersebut hanya bertahan ketika dia menginjak SMP kelas 1. Blaze sadar dia harus mengubah sifat jeleknya itu.

Masalah yang muncul ketika dia dan keempat saudaranya saat berumur 7 tahun itu memaksa mereka untuk bersikap dewasa. Halilintar yang makin tertutup, Taufan yang sedikit tenang, Gempa yang selalu menampilkan senyum paksaan, dan Ice yang lebih pendiam daripada biasanya. Melihat itu, Blaze berubah sedikit demi sedikit.

Dia jadi pendiam.

Mengucapkan "maaf" meskipun tidak melakukan kesalahan.

Tawa jarang muncul dari bibirnya.

Marah selalu ia pendam.

Dan tanpa sadar itu memunculkan stres yang tidak ia sadari. Stres itu menumpuk hingga saat ini.

Tapi, tidak semua sifat Blaze yang dulu sepenuhnya hilang. Sifat "menarik masalah" itu akan keluar ketika berhubungan dengan keluarganya. Khususnya saudara terdekatnya, Ice.

Namun, hari ini berbeda.

Blaze merasa dia tidak membuat masalah tapi, entah kenapa dia dipanggil oleh Guru Bimbingan Konseling. Tidak ada yang salah dengan ingatannya sampai dia harus melupakan satu masalah setelah dia berusaha mati-matian untuk tidak menjadi magnet masalah.

Ketika Blaze membuka pintu ruang BK, dia melihat guru tersebut duduk di kursi siap menginterogasi dirinya. Remaja laki-laki itu duduk di hadapan Guru Konseling tersebut.

"Blaze, apa benar kamu yang mencurinya?" tanya Guru tersebut.

Blaze memasang wajah bingung, "Ya?"

"Kamu tidak perlu memasang wajah pura-pura tidak tahu. Apa benar kamu yang mencuri kunci jawaban soal ulangan semester kemarin?" Guru Konseling tersebut mengulangi pertanyaannya.

"Ha?"

Blaze ingat kedua orang tuanya menyuruh untuk menggapai pendidikan setinggi-tingginya dan mencapai cita-cita yang diharapkan.

Namun, sebelum itu semua terjadi sepertinya aku akan mati duluan.

"Tuhan... ambil nyawaku sekarang."


The Truth © LiTFa

BoBoiBoy © Animonsta Studios/Monsta

Language: Bahasa Indonesia

Rating: T+

Genre: Family, Mystery

Warning: AU, Typo(s), No Power, No Alien, No Robot, No Pairing, drama about family and friendship, press "back" if you don't like this story


Awalan dia mendapatkan tuduhan adalah saat ia keluar dari ruang guru kemarin sore. Yang entah kenapa dia dipanggil keesokan harinya menghadap Guru Bimbingan Konseling.

Dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab di kepalanya, dengan kesabaran tipisnya, dia pergi ke ruang bimbingan konseling. Bersamaan dengan tatapan penuh tajam para murid lain, tatapan khawatir dari sahabatnya dan pertanyaan kakaknya yang tidak kunjung ia jawab.

Kabar burung yang tidak ia ketahui tersebar begitu cepat.

"Saya tidak melakukannya," satu-satunya ucapan yang dikeluarkan Blaze untuk membela diri.

"Jangan mengelak. Satpam dengan jelas melihatmu keluar dari ruang guru ketika sekolah mulai sepi," ucapan dari Sang Guru terus memojokkannya.

"..."

Guru itu menghela napas ketika Blaze terdiam. "Ibu tahu kamu ingin dapat nilai bagus tapi bukan begini caranya. Kamu akan lebih puas ketika mendapat hasil dari jerih payahmu dari pada mencari jalan pintas."

Sayang sekali Blaze tidak dapat meluapkan emosinya di depan guru. Dia hanya bisa menahan dengan menggertakan giginya, mengepalkan tangan kuat-kuat dan terus mengucapkan kata-kata penenang dalam hati.

"Jika kamu mengaku, urusan ini akan lebih cepat selesai," sebuah kalimat penutup dari Sang Guru.

Blaze menundukkan kepalanya dalam. Mencoba menetralkan napasnya yang semakin sesak karena menahan emosi. Dia sangat tidak cocok menjadi orang yang penyabar, "sekali lagi... saya tidak mengambilnya."

Guru itu menatap Blaze lurus. "Lalu? Untuk apa kamu pergi ke ruang guru? Penyimpanan berkas semua ada di ruang guru. Dan bisa dibuktikan saat kamu keluar kunci jawaban untuk soal ulangan semester telah hilang. Siapa lagi kalau bukan kamu yang merupakan satu-satunya siswa yang berada di sekolah?"

"Masih ada siswa lain yang mengikuti ekstrakulikuler."

"Tempat dilaksanakannya kegiatan mereka jauh dari ruang guru."

"Saya hanya mengembalikan kunci gudang."

"Apa itu alasan yang baru saja kamu buat? Tempat alat kebersihan kelas sudah disediakan di setiap kelas. Siswa tidak perlu menuju gudang untuk mengambil alat kebersihan kelas."

"Saya tidak mengambilnya."

"Kamu sudah mengatakannya tadi."

Blaze akhirnya menatap Guru Bimbingan Konseling itu. "Anda menyalahkan saya? Satpam sudah saya beritahu kalau saya hanya ingin mengembalikan kunci gudang."

Guru itu menghela napas untuk kesekian kalinya. Kenapa murid yang ada di depannya ini tidak segera mengaku? Bukti sudah jelas ada. "Maka dari itu... untuk apa kamu ke gudang?"

Blaze terdiam sejenak, tidak mungkin dia bilang menghapus coretan yang ada di mejanya. Guru yang ada di depannya ini akan memberikan pertanyaan yang baru.

Maka dari itu, dia menjawab, "membersihkan meja yang terkena kotoran."

Namun, berapa kalipun dia mencoba menjelaskan, sebanyak apapun dia menjawab pertanyaan Guru Bimbingan Konseling itu. Blaze yakin, kecurigaan yang telah melekat pada murid bahkan guru lain tidak akan pernah hilang.

Sampai dia bisa membuktikan bahwa dia tidak bersalah.


Pada dasarnya tidak ada yang tidak tahu siapa itu BoBoiBoy bersaudara. 5 saudara kembar yang jarang ditemui di dunia bahkan di desa kecil seperti Pulau Rintis.

Selain dikenal karena mereka kembar identik, mereka juga dikenal karena kasus yang melibatkan mereka 10 tahun lalu. Kasus pembunuhan yang dilakukan oleh kembar tertua, BoBoiBoy Halilintar.

Itu yang ditangkap oleh masyarakat yang ada di sana.

Hal itu membuat lima kembar bersaudara itu kesulitan untuk bergabung dalam sosial masyarakat. Orang tua tidak membiarkan anak mereka mendekati BoBoiBoy bersaudara dengan alasan sifat anak mereka akan terpengaruh sifat BoBoiBoy kembar yang buruk di mata mereka. Banyak orang di sana mengabaikan BoBoiBoy bersaudara tapi tidak sedikit yang peduli dengan mereka.

"Mereka hanyalah anak kecil. Mungkin ada yang salah dengan informasi yang kita dengar."

"Hewan buas ketika mengetahui rasa darah tidak akan bisa menjadi jinak."

"Mereka manusia bukan hewan!"

"Terus disebut apa anak yang telah membunuh orang tuanya jika bukan hewan?"

"Sekalinya pembunuh tetap akan menjadi pembunuh sebaik apapun sifat mereka."

"Ini benar-benar salah, ada kesalahpahaman dengan informasi yang kalian dengar. Kita harus mencari informasi yang benar-benar konkrit."

"Tidak perlu, berita itu telah menyebar luas bahkan telah masuk ke televisi."

"Setidaknya ikuti sampai akhir!"

"Sudahlah. Tidak ada yang bisa kita lakukan dengan masyarakat yang telah percaya berita hoax."

Kehadiran lima saudara kembar di desa kecil layaknya Pulau Rintis menyebabkan kekacauan. Padahal Tok Aba membawa kelima cucunya ke kampung halaman orang tua mereka dengan harapan masyarakat yang ada di sana tidak mempedulikan kasus yang menimpa cucu-cucunya.

Berharap agar kelima cucunya diterima di desa ini. Desa kedua orang tua mereka dilahirkan. Sayangnya, harapan itu menguap begitu saja.

"Jangan khawatir Tok... setidaknya ini tidak separah yang ada di Kuala Lumpur," Tok Aba menunjukan senyuman lembut ketika cucu tertuanya menenangkan dirinya. Posisi mereka terbalik.

Setidaknya berpindahnya mereka ke Pulau Rintis mengurangi penderitaan Si Kembar Lima meskipun hanya sedikit.


"Jadi si Bom Waktu bisa dapat nilai bagus dari hasil kunci jawaban?"

"Mencuri dong dia?"

"Kalau tidak mencuri terus apa?"

"Kudengar dia beralasan mengembalikan kunci gudang."

"Hahaha! Mana mungkin! Malahan setelah dia keluar dari ruang guru, kunci jawabannya menghilang."

"Dan berkat itu ujian semester diundur."

"Benarkah?"

"Percuma dong kita buat kelompok belajar? Kita sudah kerja keras sebulan sebelum ulangan dimulai."

"Nasib kita buruk sekali..."

Seminggu lebih setelah kejadian Blaze dituduh mencuri kunci jawaban soal semester. Kabar tersebut tidak mereda sama sekali. Bahkan bertambah besar layaknya api disiram minyak.

Parahnya, sahabat dan saudara bahkan Blaze sendiri tidak dapat membela diri. Para guru mulai ragu dengannya. Meskipun Blaze tidak sepintar Halilintar, dia masih termasuk murid yang berprestasi dalam bidang akademik maupun non-akademik. BoBoiBoy bersaudara termasuk murid berprestasi yang menggaet 10 besar di sekolah bersama dengan sahabat mereka. Berkat tuduhan yang diakibatkan kesalahpahaman, kepercayaan guru pada BoBoiBoy bersaudara mulai berkurang.

Karena itu, Halilintar memikirkan cara untuk menemukan pelaku yang sebenarnya bersama Ocho. Yang kebetulan, tiga saudara lainnya memikirkan hal yang sama, bahkan sahabat dan rivalnya, Fang.

Tidak ada yang mengajak untuk berkumpul di ruang OSIS sepulang sekolah. Tapi, dengan ajaibnya, mereka berkumpul satu persatu di sana.

Dimulai dari Ocho dan Halilintar, lalu Gempa dan Ice, kemudian Taufan, disusul Ying, Yaya dan terakhir Fang. Di mana tatapan tidak suka yang berasal dari Halilintar dilayangkan ke laki-laki rambut landak tersebut.

Halilintar menatap Ocho meminta penjelasan. Yang dibalas dengan gelengan dari si rambut pirang. Kemudian tatapan tersebut beralih ke Gempa dan Ice secara bergantian.

"Kami hanya ingin meminta bantuan ke Ocho," jelas Gempa dengan senyum gugupnya.

"Kenapa kalian selalu berlari ke aku ketika ada masalah?" keluhan dari si Ketua OSIS.

"Ey~ jangan gitulah~ kamu kan Ketua OSIS... harusnya siap membantu murid yang kesusahan," kata Taufan dengan senyum cerahnya. Jangan lupa dengan nada jahil yang terselip di ucapannya.

"Bisa ngadu ke Gempa kan?" balas Ocho. Dia sudah pusing membantu Halilintar dalam beberapa hal, sekarang dia harus membantu yang lain karena satu masalah yang baru seminggu lebih muncul.

"Ketua OSIS jalan terbaik untuk mengadu," kata perempuan yang paling muda di kelompok mereka, Ying.

Yang lain mengangguk setuju kecuali Halilintar yang merasa terganggu dengan kumpulan yang bisa dibilang temannya dan Ice yang hanya mengamati dengan mata mengantuknya.

"Aku memang Ketua OSIS, tapi bukan berarti aku siap menanggung keluhan kalian semua. Kenapa tidak mengeluh pada Guru BK saja?"

Hening. Semuanya terdiam. Halilintar menatap tajam Ocho yang dibalas tatapan tidak mengerti oleh si Ketua OSIS. Sedetik kemudian, Ocho menepuk dahinya. Masalah utama mereka berasal dari Guru BK itu sendiri.

"Lalu? Kalian janjian ke sini buat membantu Blaze?"

"Aku yakin dia tidak mengambilnya," kata Yaya yakin.

"Dia pernah mengajariku beberapa materi yang tidak kumengerti. Tidak ada alasan untuk dia mencuri kunci jawaban," kata Fang dengan wajah yang ia usahakan datar ketika mengatakan hal tersebut.

"Guru baru itu hanya melihat luarnya saja," komentar Taufan.

Semuanya kembali terdiam. Setuju akan membuat rencana "mencari pelaku pencurian" yang sebenarnya lewat tatapan.

Melihat itu, Halilintar menghela napas. Meskipun masalah yang menimpa dia dan saudaranya belum tuntas, mereka masih bisa mempedulikan hal ini. Halilintar tidak tahu apakah dia harus lega atau tidak.

Tapi dia bersyukur dengan kepedulian saudara dan sahabatnya.

Halilintar menatap Ocho sejenak sebelum dia fokus mengetik sesuatu di smartphone-nya.

Drrt!

Smartphone Ocho bergetar, menandakan ada pesan yang masuk.

From : HaliPetir

Kuserahkan padamu.

Dan Ocho hanya bisa tersenyum pahit. "Kabur dari mereka huh? Dasar..." batinnya.

Ketika semuanya duduk, Halilintar dengan cepat berdiri. Meninggalkan ruangan OSIS sebelum saudaranya bertanya. Di situ Ocho hanya bisa menggelengkan kepalanya. Berusaha mengabaikan tatapan penuh pertanyaan dari yang lain.

"Oke... kalian ingin cepat menyelesaikan masalah ini kan? Ayo kita buat rencananya," Ocho memulai diskusi tersebut.

Sedangkan Halilintar yang memperhatikan semuanya dari luar, untuk sekian lamanya, dia tersenyum meskipun tipis.

Kemudian ekspresinya menggelap, "sekarang, mari beralih yang lain."

From : HaliPetir

[Picture]

Besok, panggilkan anak ini untukku.


Bruk!

Bruussh!

Gopal yang sedang menikmati kopi yang baru saja ia beli terkejut setelah Halilintar dengan tiba-tiba "membuang" buronan tepat di depannya. "Bisa menghentikan kebiasaanmu melempar buronan yang kamu tangkap? Dia juga manusia," tegur polisi besar tersebut.

"Bisa menghentikan kebiasaan Anda menganggur ketika saya mengejar buronan? Siapa yang sebenarnya polisi di sini?" balas Halilintar.

Gopal membuang gelas plastik yang isinya baru saja terbuang secara percuma, "jangan salahkan aku. Kamu yang tiba-tiba saja berlari cepat ketika aku sedang mengejar buronan yang lewat di sampingmu," kata Gopal membela diri.

"Dengan kecepatan lari seperti itu, buronan keburu lepas," Halilintar kembali membalas sambil mengambil tas yang dipegang Gopal. Dia melempar tasnya kepada polisi itu tepat saat mengejar target buronan.

"Kamu menyinggung berat badanku ya?" tanya Gopal sambil tersenyum kesal.

Halilintar menatap datar Gopal sejenak. "Pada dasarnya badan Anda memang besar."

Gopal menggeram dalam hati. Menggerutu dengan kata yang tidak bisa ditangkap oleh telinga milik Halilintar. "Lupakan masalah tentang berat badan. Kenapa kamu masih pakai seragam sekolah di jam segini? Jam sekolah sudah habis dari tadi dan kamu yang anak sekolahan masih keluyuran?"

Halilintar menghela napas, "toko buku," jawabnya singkat.

"Sampai jam segini?" Halilintar mengangguk.

"Terus? Kamu mau pulang sekarang?" Halilintar diam. Gopal langsung menatap laki-laki tersebut intens, "jangan bilang mau mampir."

"Sampai ketemu besok."

Halilintar berjalan meninggalkan Gopal, "yang benar saja! Ini sudah malam Halilintar!" teriakan yang diabaikan dengan mudah oleh laki-laki yang masih menggunakan seragam tersebut.

[To Be Continued]