Chapter 6

Hujan turun deras malam ini. Gempa menghabiskan waktu luangnya dengan segelas cokelat panas yang baru saja dia buat. Laki-laki itu menghela napas ketika melihat rumahnya yang begitu sepi tanpa penghuni.

Gempa tidak sendiri di rumah itu, semuanya ada kecuali Blaze dan Halilintar yang pergi entah kemana. Ice dan Taufan langsung pergi ke kamar setelah selesai makan malam bersama Tok Aba.

Gempa meminum cokelat panasnya kemudian menghela napas, "sepi..." gumamnya.

Brak!

Mari tarik kembali kata sepi yang baru saja digumamkan Gempa. Baru saja pintu rumah dibuka secara kasar, membiarkan angin hujan di malam itu masuk menusuk kulit. Si pelaku masuk dalam keadaan basah kuyup.

"Blaze! Kenapa kau baru pulang?" seketika itu Gempa langsung mengambil handuk dan berlari menuju adiknya tersebut.

Blaze langsung mengambil handuk yang dipegang Gempa dengan kasar kemudian menyampirkan kain tebal tersebut di kepalanya. Hujan turun dengan deras, kenapa tidak berteduh saja sampai hujan sedikit reda? Gempa kembali melemparkan pertanyaan sebagai tanda ia sedang khawatir.

Dengusan dari Blaze bukanlah jawaban yang diinginkan Gempa dan ketidakpedulian adiknya tersebut bukan yang ia harapkan. Blaze pergi begitu saja dengan jalan tertatih-tatih yang membuatnya menghela napas.

...?

Tunggu. Ada yang salah dengan adiknya. Gempa dengan cepat meraih tangan Blaze dengan kuat. Aku tahu keadaan kita sangat kacau sampai kita berlima menjauh tapi, aku tidak ingin kamu diam menyembunyikan masalahmu. Seperti tuduhan yang tidak kamu lakukan tadi di sekolah.

Gempa bisa mendengar decihan dari mulut adiknya. "Lepaskan," ucap Blaze dingin.

"Tidak sebelum kamu menceritakan apa yang terjadi saat kamu pulang tadi," Gempa menatap adiknya lekat. "Kamu tidak pernah pulang selarut ini!"

"Aku bilang..." suara Blaze lirih terpendam suara hujan. "LEPASKAN!" hentakan tangan kasar membuat Gempa terkejut. Genggaman tangannya lepas karena tenaga Blaze yang kuat.

"Kalau sampai berteriak sekeras itu, kamu terkena masalah kan?" tebak Gempa dengan suara tenang namun tegas. "Selain terkena tuduhan," lanjutnya. Dia khawatir kalau Tok Aba terbangun karena teriakan Blaze tadi.

Tanpa mereka berdua sadari, Taufan dan Ice buru-buru turun karena mendengar suara yang keras dari kamar mereka.

"Terus kenapa?! Sejak kapan kau peduli hah?! Sejak aku terkena tuduhan?"

"Aku dari dulu peduli denganmu, dengan saudara yang lain juga tapi kalian semua tidak pernah berbicara tentang masalah kalian. Bagaimana aku tahu kalian sedang ada masalah atau tidak jika tidak ada yang berbicara?"

"Karena tidak ada yang perlu dibicarakan! Kau harusnya tahu darimana sumber masalah-masalah itu! Dia yang membuat masalah terus-menerus datang!" Blaze mengepalkan tangannya erat. Air menetes dari bajunya yang basah membuat genangan di lantai.

"Kamu tidak bisa menyalahkan Kak Halilintar! Semua kejadian itu terjadi karena kesalahpahaman."

Blaze tersenyum pahit, "kau masih menganggap dia kakak? Setelah dia melibatkan kita semua ke dalam tragedi pembunuhan 10 tahun lalu? Dan kau yang ada di sana waktu itu malah tidak mengingat apa-apa?" suara Blaze meninggi bersamaan dengan senyum sinisnya.

"Jaga bicaramu. Meskipun aku tidak ingat tentang kejadian 10 tahun lalu, aku yakin Kak Halilintar bukan pembunuh. Kak Halilintar tidak bermaksud untuk melibatkan kita. Kamu mungkin tidak menyadarinya tapi, Kak Halilintar melindungi kita semua yang menjadi tanggung jawabnya sebagai seorang kakak."

"Diam, diam, DIAM! AKU TIDAK BUTUH PERLINDUNGAN DARI SEORANG PEMBUNUH APALAGI HIDUP BERSAMANYA!"

Petir menyambar dengan keras yang mana menyilaukan mata, menulikan telinga dan membuat keheningan.

Plak!

Dan tiba-tiba saja pipi Blaze memerah karena tamparan berasal dari Ice, saudara mereka yang paling kecil. "Dia bukan pembunuh. Kakak tahu itu dari awal. Jangan melimpahkan semua masalah yang datang kepadanya hanya karena dia tidak berbicara apapun tentang kejadian itu," merupakan kalimat panjang milik Ice untuk pertama kalinya. Juga tamparan yang terasa sakit di pipi Blaze. Laki-laki bermata jingga tersebut menggertakan giginya, dia tidak tahu si bungsu yang bertubuh kurus itu bisa menamparnya sekeras ini.

Taufan yang dari tadi melihat segera menghampiri adik-adiknya. Bermaksud untuk mendinginkan kepala saudaranya, menahan emosi 10 tahun lamanya itu pasti sangat sulit bagi Blaze yang sifatnya jauh dari kata penyabar.

Cklek!

Namun langkahnya terhenti ketika pintu yang tadi dibanting Blaze terbuka, menampilkan saudara tertua mereka. Halilintar, dengan tubuh basah kuyupnya sama seperti Blaze.

Ekspresi Halilintar tak terbaca. Biasanya Taufan tahu perubahan ekspresi Halilintar sekecil apapun itu tapi, kali ini dia tidak bisa membacanya. Kemungkinan besar Si Sulung itu mendengar ucapan Blaze.

Keadaan kembali hening. Halilintar menatap adiknya satu-persatu. Wajah tegang dari Taufan, wajah khawatir dari Gempa dan Ice, wajah marah dan benci dari Blaze. Mata merah yang nyaris tidak ada cahaya itu semakin redup setelah melihat punggung Blaze yang kotor dan luka yang ditutup handuk oleh adiknya tersebut. Dia yakin Blaze buru-buru menutupi luka tersebut sebelum Gempa melihatnya.

"Kak Hali─" ucapan Gempa terpotong suara dering smartphone milik Halilintar.

Halilintar mengangkatnya, dia diam membiarkan si penelepon berbicara terlebih dahulu.

"Hm, aku ke sana."

[Sekarang? Besok saja. Aku akan memberikannya saat kamu ke kantor. Lagian jangan melempar tas─]

Panggilan ditutup secara sepihak karena si penelepon mulai mengeluarkan wejangan. "Kakak mau kemana?" Gempa bertanya setelah lama terjebak di keheningan.

Halilintar tidak menjawab, dia langsung keluar tanpa mempedulikan teriakan adiknya dan hujan yang turun deras.

Halilintar menatap ke atas, membiarkan air hujan kembali membasahi wajah dan tubuhnya.

Ini tidak berguna.

Apapun yang aku lakukan tidak berguna.

Usahaku sia-sia.

Percuma.

Mereka membenciku.

Bayangan indah itu tidak akan terwujud.

Mimpi buruk itu akan terus ada.

Mereka tidak membutuhkanku.

Mereka tidak membutuhkanku maka...

Halilintar membuka matanya, "tidak ada alasan untuk bertahan di sini."


The Truth © LiTFa

BoBoiBoy © Animonsta Studios/Monsta

Language: Bahasa Indonesia

Rating: T+

Genre: Family, Mystery

Warning: AU, Typo(s), No Power, No Alien, No Robot, No Pairing, drama about family and friendship, press "back" if you don't like this story.


"Berkat kepintaran dan tentu saja kepopuleranku yang meluas, kita menemukan pelakunya dengan cepat," Fang berkata dengan percaya dirinya. Orang yang tengah berkumpul di kelas kosong terbengkalai itu menatap datar laki-laki berambut raven tersebut. Mereka tidak berkumpul di ruang OSIS karena terkadang ada anggota OSIS yang mengunjungi ruangan tersebut untuk beberapa keperluan.

"Yang benar saja! Di sini yang paling keras mencari pelakunya itu Gempa dan Ocho. Kau hanya menebar pesona pada perempuan yang lewat di depanmu," protesan tidak terima berasal dari Ying.

"Tolong katakan pada dirimu sendiri yang terus memaksa setiap siswa untuk menjawab pertanyaanmu meskipun mereka bilang tidak tahu," balas Fang.

"Sebenarnya kalian berdua yang paling tidak niat untuk mencari si pelaku," kata Yaya melerai perdebatan kedua orang tersebut.

"Bahkan Ice yang suka tidur itu masih lebih semangat mencari pelakunya daripada kalian," lanjut gadis berhijab tersebut.

"Ugh!" Fang dan Ying ingin membalas tapi tidak tahu harus mengatakan apa.

Melihat itu semua, Taufan tertawa. "Kalian ini tetap sama ya? Sudah lama tidak berkumpul seperti ini membuatku nostalgia waktu kecil dulu," katanya.

Ocho, Gempa, Ice, Yaya, Ying dan Fang menanggapi dengan senyuman kecil. "Aku kenal dengan anak ini," ucapan tiba-tiba dari Ice membuat yang lain fokus padanya. "Dia satu kelas denganku."

"Hee... bagaimana anaknya? Tampangnya kelihatan seperti anak teladan," tanya Taufan dengan seringainya.

Ice mencoba mengingat peringai anak yang dimaksud, "aku rasa... tukang malak?" jawabnya tidak yakin.

"Hah?"

"Yang benar? Meskipun wajahnya kalem seperti Gempa?" tanya Ying tidak percaya.

"Kenapa aku?" protes Gempa yang tiba-tiba disamakan dengan anak bermasalah.

"Oh... aku tahu dia, tipe langganan BK. Aku pernah lihat dia merokok di belakang sekolah bersama teman-temannya," kata Fang cuek.

"Terus kamu gak bilang ke komite kedisiplinan?" Tanya Yaya yang dijawab oleh gedikan bahu acuh tak acuh Fang. "Gak ada untungnya bagiku untuk mengadu segala keburukan dari anak itu soalnya sudah banyak yang tahu dan guru BK sudah hafal sama anaknya."

"Ya kan itu guru konseling yang lama bukan yang baru," geram Ying gemas.

"Gak peduli. Bukan urusanku. Mengadu tidak membuat kepopuleranku meningkat."

"Alasan yang sudah kami duga," batin yang lain kompak.

Ocho menepuk tangannya dua kali untuk mengalihkan perhatian teman-temannya kepadanya. "Lupakan tentang masalah yang dia buat selain berhubungan dengan mencuri kunci jawaban. Kita harus membuatnya mengaku dan menyeretnya ke ruang BK," ujarnya.

Taufan menggelengkan kepalanya, dia tersenyum ragu sambil mengibaskan tangannya. "Itu tidak mungkin. Pernah dengar maling ngaku maling? Kalau ada juga itu hanya beberapa butir dari semua umat manusia yang ada di dunia ini."

"Pokoknya kita akan lakukan apapun agar dia mengaku, kalau tidak..."

"Kalau tidak?"

"Aku takut para guru sepakat untuk memberi hukuman Blaze berupa skorsing."


"Kamu akan diskors selama seminggu," ucapan final dari guru konseling tersebut membuat Blaze mengepalkan tangannya erat. "Hukumannya berlaku besok. Ibu harap kamu merenungkan diri atas kesalahanmu ini," lanjut guru tersebut.

Blaze berdiri, diperlihatkannya senyuman sinis pada guru konseling tersebut. "Saya rasa, guru konseling yang sebelumnya lebih bagus daripada Anda. Menerima hukuman atas kesalahan yang tidak saya perbuat? Tidak ada yang perlu direnungkan untuk itu," katanya kemudian keluar dari ruangan BK sebelum si guru membalas ucapannya dan membuat ia lepas kendali.

Blaze berjalan menuju kelasnya dengan amarah mencapai ubun-ubun. Ini tidak bagus, Blaze tidak yakin berapa lama lagi dia dapat menahan emosinya tersebut. Ketika memasuki kelasnya, tanpa basa-basi Blaze mengambil tasnya dan kembali keluar tidak mempedulikan guru yang sedang mengajar materi.

"BoBoiBoy Blaze kemana kamu akan pergi? Pelajarannya belum selesai," pertanyaan dari guru sebelum ia melangkah keluar dari kelas.

Blaze berhenti sejenak, mengambil napas dan mengeluarkannya secara perlahan. "Seperti yang Anda tahu," Blaze memutar badannya menghadap guru tersebut.

"Hukuman yang Anda sekalian berikan telah diberitahu pada saya tadi dan karena itu saya keluar untuk melaksanakan hukuman tersebut," Blaze menjawab dengan suara gemetar. Bukan karena takut atau menyesal tapi karena dia berusaha untuk menahan amarahnya.

"Benarkah? Kalau begitu selama kamu menjalankan hukumanmu, Ibu harap kamu merenungkan kesalahanmu dan jangan mengulanginya lagi. Ibu yakin kamu dapat nilai baik jika kamu benar-benar giat belajar," ucap guru tersebut.

Tambah satu orang bodoh yang hanya melihat satu sisi. Kenapa begitu banyak orang bodoh yang berlagak seakan mereka tahu segalanya?

Mendengar nasihat yang dilontarkan guru tersebut dan tawa mengejek dari murid yang ada di kelas membuat tali kesabaran Blaze hampir putus. "Tidak ada yang perlu direnungkan dari hukuman ini. Saya rasa kalian semua yang perlu merenungkan perbuatan kalian. Berkali-kali saya bilang saya tidak mengambilnya dan kalian mengabaikannya dengan pertanyaan-pertanyaan agar saya mau mengakui perbuatan yang tidak saya lakukan."

"Kata seorang pencuri kunci jawaban," celetukan dari salah satu murid membuat Blaze menatap tajam murid tersebut.

"Saya belajar dengan giat, tidak menimbulkan masalah dan membuat prestasi di sekolah ini. Mempunyai seorang kakak pembunuh bukan berarti perbuatan saya seperti dia dan saya tidak tahu apakah dia benar-benar seorang pembunuh atau bukan. Kalian yang menyebutnya seperti itu dan mengaitkan masalah ini denganku yang kebetulan keluar dari ruang guru untuk mengembalikan kunci," Blaze berusaha untuk tidak mengeluarkan nada tinggi.

"Saya tidak tahu apa yang kamu bicarakan BoBoiBoy Blaze," merupakan kalimat peringatan karena guru tersebut merasa tersinggung dengan ucapan Blaze.

Blaze tersenyum sinis, "akan saya luruskan. Saya tidak peduli dengan ucapan saya ini membuat hukumannya bertambah. Malahan saya dengan senang hati melakukannya karena tidak perlu melihat wajah kalian semua. Saya akan mengatakan ini berkali-kali, saya tidak mencuri kunci jawaban itu. Nilai-nilai yang saya peroleh merupakan hasil kerja keras saya. Mecontek? Saya tidak punya teman untuk melakukan hal-hal menggelikan itu. Saya bisa membuktikan nilai-nilai tersebut dengan memisahkan saya dari semua sampah ini saat ujian akhir nanti. Saya bahkan tidak membutuhkan kunci jawaban itu ketika saya sendiri mempunyai ingatan tinggi untuk mengingat semua materi yang dijelaskan oleh semua guru, termasuk Anda yang selalu membuat dongeng ketika menjelaskan materi. Anda mungkin tidak sadar bahwa banyak murid yang tidur dan bermain smartphone bahkan makan selagi Anda menjelaskan. Masalah pencurian kunci jawaban itu, Anda sekalian harusnya bertanya pada Pak Iwan lebih spesifik lagi dan Anda akan menemukan bahwa saya bukanlah pelakunya," laki-laki itu mengambil napas sejenak.

"Sekian, permisi."

Blaze meninggalkan kelas tersebut dengan mengeratkan kepalannya. Kemarahannya sama sekali tidak berkurang setelah mengatakan itu semua.

Sial!

Hari itu, Blaze menghabiskan dirinya berteriak sampai pita suaranya kering di hutan dekat taman Pulau Rintis dan mendapat kakinya terkilir karena tersandung akar-akar pohon.


5 hari. Blaze telah menjalankan hukumannya selama 5 hari. Dia menghabiskan waktu luangnya tersebut dengan mengurung diri di kamar. Sesekali ia akan berjalan keluar tanpa arah untuk mencari udara segar.

3 hari lagi Blaze akan kembali ke sekolah dengan julukan baru yang tidak akan ia ingat nama julukan tersebut.

Adik pembunuh, pengganggu, pencari perhatian dan julukan selama dia hampir 2 tahun di SMA adalah Bom Waktu. Mungkin dia akan mendapat julukan pencuri karena tuduhan mencuri kunci jawaban. Kemudian julukan-julukan itu akan menjadi bahan olokan dari para siswa kreatif yang mengganggunya dan akan muncul julukan baru lainnya dari mulut manusia yang mengaku dirinya selalu benar.

Selama masa-masa skorsing yang Blaze jalani, ia tidak pernah bertemu dengan Halilintar. Orang yang memiliki ikatan darah dengannya itu menghilang dari pandangannya semenjak dia mengeluarkan kalimat yang merupakan kekesalan hatinya di hari itu. Dia tidak bersungguh-sungguh mengatakannya. Karena emosi dan stres yang terus naik, Blaze tidak sengaja mengeluarkan kalimat tersebut. Bahkan dirinya tidak percaya akan mengatakan kalimat itu meskipun ia yakin apa yang dilihat Halilintar adalah wajah kebencian miliknya.

Dia hanya membenci dirinya sendiri ketika amarah mulai menguasainya.

Orang yang selalu pertama ia lihat ketika keluar dari kamarnya selalu Gempa. Entah itu di pagi hari sebelum saudara yang lain berangkat sekolah maupun di sore hari ketika mereka pulang sekolah, Gempa menjadi orang pertama yang Blaze lihat saat ia keluar kamar.

Ngomong-ngomong, bagaimana dengan reaksi Tok Aba mengetahui salah satu cucunya di skors? Beliau hanya mengeluarkan senyuman lembut seakan memaklumi semua itu. Tok Aba juga tidak memarahi Blaze dan menyuruh cucu termuda kedua tersebut menjelaskannya dengan pelan. Setelah selesai menjelaskan secara detail, Blaze menerima pelukan penuh kehangatan yang membuatnya tidak bisa menahan tangisnya.

Blaze tidak mengetahui bahwa pelaku pencurian tersebut telah tertangkap 2 hari setelah dia menerima hukumannya. Dia mematikan smartphone-nya karena tidak ingin ada yang mengganggunya. Entah itu dari saudaranya, teman masa kecilnya maupun guru-guru yang telah Blaze masukan nomor mereka ke dalam daftar hitam. Blaze juga tidak akan mendengar apa yang diucapkan saudaranya karena situasi mereka semakin rumit setelah pertengkaran di hari itu.

Pelakunya tidak disebarluaskan oleh pihak sekolah dan hukumannya akan diputuskan ketika Blaze masuk sekolah. Itu adalah permintaan dari orang yang telah menangkap pelaku tersebut.

"Halilintar belum pulang?" pertanyaan dari Tok Aba dikeheningannya makan malam.

Blaze menghentikan aktivitas makannya, menghela napas ketika mendengar pertanyaan kakeknya. Dia tidak akan menjawab pertanyaan Tok Aba karena dia benar-benar tidak mengetahuinya tapi, satu hal yang ia tahu. Ketika kakeknya bertanya hal tersebut, maka beliau benar-benar tidak melihat keberadaan orang itu ─Halilintar─ di rumah ini.

Melihat tidak adanya reaksi dari cucu-cucunya, Tok Aba menghela napas. "Atok tidak melihatnya beberapa hari ini, apa ada yang tahu Halilintar ada di mana?" Tok Aba kembali melempar pertanyaan.

"Tidak ada yang tahu Tok... Kak Halilintar juga tidak memberi kabar apapun," akhirnya Gempa menjawab pertanyaan kakeknya. Anak tengah tersebut tidak berbohong karena selama ini dia selalu menunggu kepulangan kakaknya sampai tertidur di sofa ruang tamu.

Tok Aba kembali menghela napas. Beliau tahu situasi yang tengah melanda cucu-cucunya tersebut dari awal. Pertengkaran tiada henti, perdebatan tanpa akhir, teriakan yang saling bersahut-sahutan dan keluhan dari cucu-cucunya, beliau tahu semua.

Tapi tidak dengan penindasan di sekolah maupun masalah Halilintar yang mencari pelaku pembunuhan orang tuanya.

Apa yang bisa Tok Aba lakukan adalah mengawasi mereka, membantu masalah mereka dalam bentuk nasihat, merawat mereka dan berdoa agar mereka kembali seperti sedia kala. Tok Aba tahu cucu-cucunya memikirkan beliau dan tidak melibatkannya dalam lingkaran masalah mereka. Karena mereka sudah mencapai usia remaja yang merupakan pencarian identitas dan masalah-masalah kehidupan yang berdatangan, maka Tok Aba berharap mereka saling membuka hati dan mencari solusi bersama-sama.

"Atok harap kalian segera berbaikan, menyakitkan mendengar kalian selalu berdebat. Mungkin kalian tidak percaya dengan Halilintar karena masalahnya tapi, Atok tahu kalau dia bukan pelakunya. Apa mendengar pernyataan Atok sekarang kalian masih tidak percaya?"

Lagi-lagi keheningan membalas ucapan Tok Aba. Dalam hati, BoBoiBoy bersaudara itu berharap bahwa kalimat Tok Aba merupakan yang sebenarnya bukan kalimat penghibur.


"Terima kasih," kata Ocho sambil menunjukaan senyuman mataharinya pada kasir. Dia segera keluar menuju Halilintar yang tengah menunggu di luar toko.

"Nih kopi dingin pesananmu," Halilintar menerima botol berisi kopi instan tersebut tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ocho langsung cemberut, "terima kasihnya?" dia menagih tanpa tahu rasa malu dan langsung dibalas Halilintar dengan gumaman tidak jelas.

Halilintar kemudian berjalan mendahului Ocho. "Apa-apaan dengan hn itu? Apa mulutmu tidak bisa mengucapkan terima kasih? Tapi kenapa bisa mengucapkan serangkaian sumpah serapah pada anak itu hah? Bahkan kamu mendahului kami untuk─" BoBoiBoy pertama itu langsung menghentikan langkahnya. Otomatis, Ocho juga ikut berhenti. "Ada apa?" tanya laki-laki pirang tersebut.

Halilintar tidak menjawab, matanya fokus pada anak laki-laki yang tengah melamun menunggu lampu lintas berubah warna merah. Ocho mengikuti arah pandang temannya tersebut, "Blaze?" Halilintar sedikit tersentak ketika Ocho menyebut nama salah satu adiknya.

Blaze, adiknya yang tengah melamun itu tidak menyadari bahwa lampu telah berganti warna. Sadar ketika melihat kerumunan orang tengah berjalan, Blaze mengikuti orang-orang tersebut meskipun sedikit tertinggal.

"O-oi Halilintar dia─ WOI!" sebelum Ocho menyelesaikan kalimatnya, dia sudah menerima lemparan tas dan botol kopi yang telah tandas isinya.

"Pastikan kalau mau menyebrang kalian harus melihat kanan kiri meskipun ada lampu lalu lintas, jangan selalu mengikuti kerumunan orang yang juga akan menyebrang bersama kita. Dan jangan pernah melamun kalau lagi di jalan!"

Itu adalah pesan yang selalu dikatakan oleh ibunya sampai menancap di kepala Halilintar dan adik-adiknya. Sayangnya karena masalah akhir-akhir ini, membuat Blaze mau tidak mau kepikiran sehingga melupakan nasihat ibunya.

Blaze tidak memperhatikan jalannya, tidak melihat keributan orang-orang dan tidak mendengar klakson kendaraan yang bersahutan. Ketika sadar dengan semua itu, Blaze terlambat. Truk besar itu akan menghatam tubuhnya yang kecil. Dia tidak dapat bergerak, kakinya terasa tertancap di posisinya saat ini.

"Blaze!"

Brak!

Krak!

"Blaze! Halilintar!"

[To Be Continued]