Chapter 9

Itu gelap.

Benar-benar gelap.

Tempat Halilintar berada sekarang sangat gelap sejauh mata memandang. Anehnya, dia bisa melihat dengan jelas tubuhnya. Seketika Halilintar tersadar.

Ah. Ini mimpi.

Halilintar selalu bermimpi ada di tempat ini ketika dia tidur. Bahkan dengan tidurnya yang begitu singkat, tempat ini masih muncul dalam mimpinya. Tempat yang begitu gelap di mana indra penglihatannya tidak diizinkan kecuali melihat dirinya sendiri. Tempat yang begitu sunyi sampai dia bisa mendengar napas dan detak jantungnya dengan jelas.

Tes. Tes.

Suara tetesan suatu cairan bergema di tempat gelap tersebut.

Tap. Tap.

Diikuti dengan suara langkah ringan yang menghampirinya.

"Halilintar…"

Remaja tersebut tersentak. Itu suara lembut yang ia rindukan selama ini. Suara yang pergi 10 tahun lalu. Hati Halilintar berdegup kencang. Meskipun dia merindukan sosok pemilik suara tersebut, jantungnya berdetak gelisah dan takut.

Pada dasarnya Halilintar tidak berharap untuk mendapatkan mimpi indah di tempat gelap ini. Seketika dia menutup mata, tempat ini selalu muncul dengan kehampaan yang begitu besar. Karena itu, Halilintar tidak berharap untuk bertemu dengan sosok yang ia sayangi di mimpinya. Setidaknya bukan di mimpi dengan tempat gelap ini.

Tempat ini adalah mimpi buruknya.

Tes. Tes.

Suara tetesan itu terdengar lebih jelas bersamaan dengan langkah kaki yang mendekat.

Tap. Tap. Tap!

Langkah itu berhenti. Halilintar tahu bahwa sosok itu ada tepat di belakangnya.

"Halilintar, kamu tidak mau melihat ke arah sini?"

Halilintar membeku. Meskipun ini mimpi, Halilintar masih bisa merasakan aliran keringat dingin di punggungnya.

"Halilintar, lihat ke arah sini sayang… kami merindukanmu. Halilintar tidak merindukan kami? Hm?"

Tentu saja Halilintar merindukan sosok itu. Rasa rindu itu telah dipendam selama 10 tahun tanpa tahu bagaimana untuk mengeluarkannya. Dia ingin sekali berlari ke sosok itu dan mengeluarkan semua keluh kesahnya meskipun ini hanyalah mimpi.

Namun, Halilintar tidak bisa. Tidak di tempat ini. Hatinya jauh lebih dari kata siap.

"Halilintar…"

Halilintar tersentak, tubuhnya secara reflek berbalik dengan perlahan. Suara lembut itu masih sama seperti terakhir kali yang dia ingat.

Mata merah gelap itu melebar. Meskipun mimpi ini telah berulang kali muncul, reaksinya masih sama seolah ia baru pertama kali lihat. Penampilan dua orang yang Halilintar sayangi benar-benar berantakan. Itu penuh dengan warna merah seperti matanya dan cairan yang keluar dari tubuh mereka mengalir tanpa ada tanda untuk berhenti.

"Halilintar."

Kali ini suara tegas namun terdengar hangat memanggilnya.

"Apa yang kamu lakukan Halilintar?"

Bersamaan dengan pertanyaan tersebut, kedua suara hangat itu menjadi dingin. Tatapan kedua orang itu terasa menusuk. Tempat yang sedari tadi gelap tanpa cahaya sedikitpun berganti ruangan yang sangat Halilintar kenali. Seketika, kesunyian yang menemaninya sedari tadi pecah dengan suara guntur dan angin hujan deras.

"Kamu membunuh kami Halilintar."

"… t-tidak…"

"Ini sakit, sangat sakit…"

"B-bukan… a-aku… aku!"

"Kamu bahkan melukainya Halilintar."

"T-tidak… berhenti─"

Mata Halilintar kembali membesar. Ada satu orang yang tergeletak dekat meja TV. Halilintar mengenali siapa orang itu.

"Kamu harus melindunginya Halilintar."

"Kamu harusnya menyelamatkan kami."

"A-aku berusaha! Aku be-berusaha menyelamatkan ka─"

"Lalu kenapa kamu melakukannya?"

"Dengan kedua tangan itu kamu…."

Halilintar perlahan mengangkat kedua tangannya. Itu penuh dengan warna merah sama dengan cairan di tubuh ketiga orang yang ada di depannya.

"Ti-tidak… aku─"

"Pembunuh."

Bahu Halilintar tersentak. Pandangannya kembali ke tiga orang, tidak, itu sudah bertambah. Banyak wajah yang ia kenal dari orang-orang yang mulai mengerumuninya.

Penduduk Pulau Rintis.

Teman masa kecilnya.

Saudara-saudaranya.

Orangtuanya.

Kakeknya─ yang paling tidak ia harapkan muncul di mimpi ini.

Wajah semua orang menunjukkan kekecewaan, ketakutan, kemarahan, dan jijik. Bahkan Tok Aba dengan jelas menunjukan perasaan sedih. Halilintar yakin kekecewaan yang begitu besar ada di hati kakeknya.

"Kak…"

Itu suara adik keduanya. Dengan kepala yang bersimbah darah, adiknya berkata, "kenapa tidak menolong kami?"

Saat itu juga Halilintar bangun dari mimpi buruknya dan pergi ke toilet mengeluarkan isi perutnya meskipun tadi malam dia tidak memakan apapun.

Gopal yang terbangun karena suara keras yang ditimbulkan Halilintar melihat remaja itu dengan panik dan menepuk punggungnya secara perlahan.

"Kenapa lagi kamu?"

Anak almarhum mantan atasannya ini selalu berhasil membuatnya khawatir.


The Truth © LiTFa

BoBoiBoy © Animonsta Studios/Monsta

Language : Bahasa Indonesia

Rating : T+

Genre : Family, Mystery

Warning(s) : AU, Typo(s), No Power, No Alien, No Robot, No Pairing, drama about family and friendship, press "back" if you don't like this story.


"Bagaimana keadaanmu?"

Blaze dan Gempa menghentikan kegiatan memasukan barang milik BoBoiBoy keempat itu ke dalam tas. Melihat Taufan yang berjalan menghampiri mereka.

"Sama seperti biasa," Blaze menutup zip tasnya. Gempa lanjut merapikan ranjang rawat inap yang ditempati Blaze tadi malam.

"Baguslah. Nanti di rumah kamu istirahat, jangan keluar rumah dulu."

"Aku sudah mengatakannya tadi Kak."

"Akan kuusahakan."

Taufan dan Gempa menatap Blaze bersamaan. Yang ditatap menunjukan wajah terganggu.

"Apa?"

"Buat apa kamu keluar rumah?"

"Kamu keluar ngapain?"

BoBoiBoy keempat itu memutar matanya bersamaan dengan helaan napas yang besar mendengar pertanyaan kedua kakaknya.

"Mencari udara segar," jawab remaja bermata jingga hampir ke merah tersebut.

"Tidak. Untuk hari ini kamu istirahat di rumah. Setelah itu lakukan apa yang ingin kamu lakukan besoknya," kata Gempa tegas.

Taufan hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil menghela napas ketika Blaze melihatnya. Menunjukan dia tidak bisa membantu adiknya keluar dari sifat tegas BoBoiBoy ketiga.

"Untuk hari ini saja, Blaze… besoknya terserah kamu mau ngapain seperti kata Gempa."

Blaze menggeram lirih. Dia tidak tahan untuk berdiam diri, apalagi diam di rumah. Itu membatasi pergerakannya, pikirannya akan berkeliaran ketika dia diam satu detik saja. Yang paling penting lagi…

Dia tidak mau bertemu dengan orang itu yang baru saja mengatakan tidak akan muncul di hadapannya tadi pagi.

"Kalau kamu mempermasalahkan soal Kak Halilintar… Kakak tidak pulang ke rumah hari ini. Kamu masih merasa bersalah soal itu kan?"

Blaze sedikit tersentak mendengar kalimat Gempa. "Jangan berlagak seolah kau tahu segalanya."

Ah. Lagi-lagi dia melampiaskan kekesalannya.

Ruang rawat inap itu hening sejenak. Taufan menepuk tangannya dua kali, menarik perhatian kedua adiknya. "Kalian sudah selesai kan? Ayo kita pulang," kata Taufan dengan senyum cerahnya.


Crack!

"Ah."

Halilintar menatap pensil mekanik yang tidak sengaja ia patahkan. Remaja itu memijat keningnya sejenak, dia merasa pusing sejak tadi pagi.

Kelas yang sunyi meskipun tidak ada guru karena rapat, langsung tegang karena suara patahan pensil tersebut. Kemudian beberapa siswa mulai berbisik.

"Gila…"

"Kamu lihat? Dia mematahkannya dengan tangan kosong."

"Itu pensil mekanik kan?"

"Itu kedua kalinya. Dia lagi marah atau gimana?"

"Mungkin tadi malam dia tidak berhasil mendapatkan target."

"Ugh… kenapa dia harus di kelas kita sih?"

"Dia pamer atau gimana? Memperlihatkan hal itu pada kita."

Bisikan-bisikan itu masuk ke telinga satu keluar ke telinga lain, pada dasarnya itu hanyalah angin lewat bagi Halilintar.

Remaja itu mengeluarkan alat tulis yang lain dari dalam tasnya. Haliintar berpikir akan pergi ke UKS setelah selesai mengerjakan tugas untuk meminta obat. Tapi sakit kepalanya menghambat otaknya untuk bergerak cepat.

Sial.

Bersamaan dengan berbagai umpatan dan beberapa alat tulis yang menjadi korban kekesalannya, Halilintar berhasil menyelesaikan tugas dengan hadiah pusing yang bertambah dua kali lipat.

Karena tidak ada perintah untuk mengumpulkan tugas yang telah diberikan, Halilintar langsung membawa dirinya ke UKS. Setidaknya minum 1-2 pil obat dan memejamkan matanya sejenak akan mengurangi sakit kepalanya.

"Permisi."

Kesunyian UKS menyambut Halilintar. Sepertinya Guru Kesehatan sedang keluar karena dia tidak melihat satu orang pun di ruangan tersebut. Halilintar mengambil obat sakit kepala seolah ruang UKS itu adalah rumahnya.

Srak!

"Ah, Halilintar! Sakit kepala lagi?" Guru Kesehatan yang baru saja datang bertanya seakan sudah tahu alasan Halilintar mengunjungi UKS. Remaja itu mengangguk, mengambil 2 pil obat dan segelas air putih.

"Wow, wow. Tunggu sebentar!"

Sebelum Halilintar meminum obat tersebut, Guru Kesehatan mencegahnya. Remaja laki-laki itu menatap guru itu seolah bertanya kenapa menghentikannya untuk meminum obat. Kepalanya serasa dipukul palu setelah menyelesaikan tugas yang penuh dengan angka.

"Kamu mengambil obat dosis yang berapa?" guru itu membaca keterangan yang tertera di kemasan obat tersebut.

"Yang biasanya," jawab Halilintar berusaha menahan pusing yang terus bertambah.

"Maka 1 pil sudah cukup. Dosis obat yang biasanya kamu ambil itu cukup tinggi," kata guru tersebut mengurangi obat yang diambil oleh Halilintar.

Remaja bermata ruby tersebut mengernyit. Halilintar tahu kalau obat yang dia ambil mempunyai dosis tinggi. Dia hanya ingin pusing yang singgah di kepalanya segera pergi makanya Halilintar mengambil 2 pil.

"Mau kamu minum 2 pil sekaligus, waktu reaksinya akan sama. Mengonsumsi obat dengan dosis tinggi tidak bagus untuk tubuhmu," penjelasan guru tersebut sudah Halilintar dengar sejak ia pertama kali mengunjungi UKS ini.

Sebelum sakit kepalanya makin bertambah, Halilintar segera meminum obat tersebut. "Aku akan menulis surat ijinmu untuk guru yang sedang mengisi kelasmu sekarang."

"Mereka sedang melakukan rapat."

"Rapatnya sudah selesai."

"Saya ke kelas."

Guru Kesehatan kembali mencegah Halilintar, kali ini dengan memegang tangannya. "Mari kita lihat…"

Telapak tangan guru tersebut mendarat di dahi Halilintar. "Ok. Kamu istirahat di sini dan aku akan buat surat ijin. Obat itu ada efek samping tidur."

Guru Kesehatan kemudian menyeret Halilintar ke ranjang UKS. "Melebihi batas kemampuanmu itu memang bagus, tapi tetap ada pengecualian. Kalau tubuhmu sedang lelah, istirahat tidak apa-apa meskipun hanya sejenak."

Halilintar menghela napas. Guru Kesehatan merupakan salah satu staff sekolah yang dekat dengan Halilintar selain Pak Iwan. Pada dasarnya Halilintar akan terganggu dengan perhatian yang begitu kentara ditujukan padanya tapi anehnya, perasaan itu tidak muncul di beberapa orang. Misalnya Tok Aba, kakeknya.

Remaja itu akhirnya menyerah untuk keras kepala karena entah kenapa tubuhnya hampir tidak ada tenaga. Mungkin efek samping obat tersebut mulai bekerja.

Halilintar kemudian memutuskan untuk melakukan saran Guru Kesehatan. Melihat itu, Sang Guru segera keluar dari ruang UKS untuk memberi surat ijin.

Sebelum Guru Kesehatan keluar, dia memberi pesan. "Istirahatlah dengan tenang. Kalau demammu belum turun aku akan menghubungi walimu."

Halilintar ingin menjawab "tidak usah" karena akan merepotkan dirinya nanti yang pulang dengan keadaaan sakit setelah tidak pulang lebih dari seminggu. Tapi kantuk memaksanya untuk segera menutup mata.

Tidak lama kemudian suara napas yang teratur keluar dari remaja tersebut. Menandakan bahwa dia telah tertidur.


Tok tok tok!

Taufan yang tengah tertidur di sofa ruang tengah terbangun, pintu rumah terus diketuk tanpa ada jeda.

"Permisi! Apa ada orang di rumah?"

Itu suara yang Taufan kenal. Dia akhirnya bangkit dari posisi tidurnya dan merenggangkan tubuhnya sejenak.

Tok tok tok!

Pintu kembali diketuk. Kali ini lebih cepat. Taufan yakin orang itu tidak memiliki sifat jahil seperti dirinya yang dengan iseng mengetuk pintu seakan dikejar sesuatu.

"Iya, iya… sebentar. Kenapa kamu begitu terburu-buru? Tidak seperti─"

Klak!

Taufan terkejut melihat pemandangan di depannya. Ada dua orang di depan rumahnya. Salah satu adalah teman masa kecilnya, Fang dan satunya lagi saudaranya yang sudah lama tidak pulang ke rumah, Halilintar. Kakaknya itu terlihat tidak sadarkan diri dengan tangan mencengkram bahu temannya itu.

"Bagai─"

"Aku tahu kamu banyak pertanyaan, tapi sebelum itu bisa biarkan kami masuk? Aku merasa sebentar lagi bahuku akan patah jika anak ini terus memegangnya seperti ini."

Taufan bisa mendengar suara Fang bergetar menahan sakit meskipun wajahnya hampir tidak berekspresi. Sebelum pelampiasan Halilintar yang diterima Fang bertambah, Taufan mengijinkan teman narsisnya itu masuk ke rumah. Membaringkan tubuh Halilintar di sofa yang tadi Taufan gunakan untuk tidur karena tidak bisa menemukan kunci kamar BoBoiBoy pertama itu.

"Aw, aw… serius dia dibaringkan di sini? Lagian kenapa kamarnya dikunci?"

Fang memegang bahunya yang sakit, dia yakin akan ada memar yang muncul setelah menerima cengkraman seperti itu. Memar itu bahkan sudah muncul di pergelangan tangan kanannya sebagai bukti seberapa kuatnya genggaman milik Halilintar.

"Halilintar selalu mengunci kamarnya sejak kami memasuki SMP. Aku akan memindahkannya di kamar Gempa atau Ice nanti. Kamar mereka yang paling bersih di antara kami berlima."

Taufan yang baru saja dari dapur untuk mengambil ice pack dan menaruhnya ke bahu Fang. Itu mulai memerah. Taufan tidak bisa membayangkan seberapa kuat genggaman Halilintar yang diterima Fang dalam perjalanan ke rumahnya.

"Terima kasih sudah membawanya ke sini."

Meskipun Taufan menunjukan senyum sendu, dia berterimakasih dengan tulus. Fang yang melihatnya mendengkus.

"Hmph! Halilintar masih bisa mengalahkanku dengan keadaan yang buruk seperti itu saat sparring tadi. Aku bahkan tidak tahu kalau dia lagi sakit jika tidak diberitahu Pelatih. Seharusnya kau berterimakasih pada beliau bukan aku."

"Iya. Tapi tetap aku─ kami berterimakasih. Sungguh."

Fang menatap Taufan lama. Sangat jarang melihat BoBoiBoy kedua menunjukan ekspresi tulusnya ketika dia biasanya melihat temannya itu selalu memakai topeng berkedok senyuman ceria.

Fang mengeluarkan napas besar.

"… sama-sama."

Taufan kembali tersenyum, senyum paksaan yang menunjukan dengan jelas perasaannya sedang tidak baik-baik saja. Dia melihat Halilintar yang berkeringat deras bersama dengan napas yang tidak teratur. Sesekali erangan tertahan keluar dari kakaknya tersebut.

Halilintar, kakaknya itu membuat orang rumah khususnya kakeknya khawatir dengan tidak menunjukan dirinya di rumah lebih dari seminggu. Taufan juga jarang sekali melihatnya di sekolah meskipun tempat itu tidaklah besar. Bahkan Gempa yang selalu mengunjungi kelas Halilintar juga tidak dapat menemukannya di manapun. Seolah Halilintar sengaja menyembunyikan dirinya dari mereka berempat. Rumah sakit adalah tempat terakhir mereka bertemu dan Halilintar kembali menghilang sebelum Tok Aba dapat melihatnya.

Taufan mencoba berpikir Halilintar akan baik-baik saja meskipun firasatnya mengatakan sebaliknya. Kekhawatirannya memburuk ketika tubuhnya terus merasakan sakit beberapa hari ini. Itu juga berlaku pada tiga saudaranya yang lain. Tok Aba bahkan dipaksa Gempa untuk beristirahat karena terus menunggu Halilintar di ruang tamu.

Taufan dan saudaranya yang lain pun memutuskan untuk bergantian berjaga di ruang tamu dengan harapan Halilintar pulang ke rumah ketika mereka menunggunya. Blaze yang mungkin merasa bertanggung jawab ─menurut Taufan─ juga ikut menunggu Halilintar dan paling banyak mengambil waktu berjaga.

Hasilnya?

Harapan mereka terkabul namun kekhawatiran mereka selama ini terjadi.

Saudara mereka yang lahir paling pertama itu memang pulang.

Tidak dengan keadaan sehat seperti yang diharapkan semua orang di rumah melainkan dalam keadaan yang sangat buruk. Mau tidak mau Taufan menertawakan situasi yang membuatnya frustasi ini.

"Kamu selalu berhasil membuat kami khawatir, Halilintar."

[To Be Continued]


Note :

Halo! Ehehe... lama ya?

Maaf! Aku bilang memang konsepnya sudah selesai bahkan ending cerita sudah ada dalam kepala. Tapi, untuk menuntun cerita ke jalan ending itu masih berkabut *kata orang yang bilang konsepnya complete*.

Lalu... apa sih yang membuatku lama untuk mengerjakan chapter ini?

Saat aku ngerjakan chapter 9 ini "jalan"nya terus bercabang. Banyak kalimat yang membuatku gak "sreg" pas aku baca ulang. Trus tugas dari daring yang mulai berjalan dan ulang tahun BBB tidak terasa semakin dekat. *Iya ini alasan karena aku anak mager*.

Hasilnya, selagi aku coba buat "jalan"nya wordnya terus bertambah. Banyak banget. Jadinya chapter ini terlalu panjang, akhirnya aku ganti rencana. Ceritanya aku bagi jadi dua dan scene yang seharusnya untuk chapter selanjutnya aku ganti ke sini. Kemudian aku fokus buat fanfic untuk ultah BBB terlebih dahulu meskipun akhirnya aku post telat. *Benar ini juga alasan T_T*

Saat aku baca reviewnya gak nyangka ada yang minta lanjut. Maaf kepada Pembaca nunggu lama (banget) update-an cerita ini. Terima kasih atas kesabaran kalian dengan cerita yang beralur lambat ini, aku senang Pembaca menikmati fanfic ini meskipun masih banyak kekurangan dalam pemilihan kata.

Mungkin untuk chapter selanjutnya tidak terlalu lama karena tinggal lanjutin. *Kalau tidak ada hambatan sih...*

LiTFa

2021.03.22