Chapter 10

Malam itu adalah malam yang damai seperti biasanya.

Ibunya berada di dapur memasak makan malam. Ayahnya berada di ruang keluarga membaca koran sambil mendengarkan berita. Kakak pertama sedang beristirahat karena sakit di kamarnya. Tiga saudara yang lain mengikuti kakeknya yang kebetulan berkunjung tadi pagi ke supermarket. Sedangkan dirinya dengan antusias mengamati ibunya meracik berbagai bumbu di meja makan.

Itu malam yang sama seperti malam kemarin.

Malam yang tenang dan hangat sebelum dia menutup mata untuk menyambut pagi esok.

"Ibu…?"

Dia memanggil ibunya yang sedang mengaduk panci berisi bubur dengan nada penasaran.

"Hmm~?"

Suara lembut ibunya yang sangat ia sukai menyahut. Dia memainkan jari-jari tangannya sembari menggoyangkan kedua kakinya yang tergantung karena tidak dapat mencapai lantai rumah ketika ia duduk.

"Kapan sakit yang datang ke Kakak pergi?"

Sang ibu tertawa kecil, "kenapa? Ingin segera bermain dengan Kakak? Apa tidak menyenangkan bermain dengan yang lain?"

Anak laki-laki itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Bermain dengan mereka sangat menyenangkan tapi, rasanya ada yang kurang kalau gak ada Kakak. Rasanya ada yang hilang kalau hanya kami berempat."

Ibu tersenyum. Beliau mematikan kompor ketika sup yang ia buat telah siap dihidangkan, tidak lupa menyiapkan bubur untuk anak pertamanya.

"Ibu juga merasa begitu. Kalian berlima terlihat sempurna ketika bersama tetapi terlihat berantakan jika salah satu dari kalian ada yang hilang."

"Seperti puzzle yang biasanya kami mainkan?"

"Iya seperti itu."

Anak laki-laki yang telah menginjak umur 7 tahun itu menautkan kedua alisnya membuat wajah kecilnya terlihat menggemaskan ketika bibir mungilnya mulai cemberut. Kedua tangan ramping milik ibunya pun mulai mencubit pipinya gemas.

"Karena itu, kita harus berdoa dan membiarkan Kakak istirahat agar Kakak cepat sembuh, hm?"

Anak laki-laki itu tersenyum cerah, menganggukan kepalanya semangat. "Gempa akan bantu merawat Kak Halilintar supaya cepat sembuh!"

Hujan turun begitu deras di malam damainya ini. Petir terus menggelegar memekakan telinga. Anak laki-laki itu merasakan kepalanya sakit, darah mengalir dari keningnya.

Semua itu terjadi dalam sekejap, ingatannya terputus ketika Ibu menyuruhnya mengantar semangkuk bubur kepada kakak pertamanya.

Apa yang baru saja terjadi?

Kenapa rumahnya terlihat begitu gelap?

Dengan penglihatan yang buram, anak itu mengedarkan pandangannya. Cahaya dari petir yang sesekali muncul membantunya untuk melihat keadaan rumahnya.

Itu benar-benar berantakan.

"Ni… luar… kita…"

"… marah… kepalaku tera… song…"

"Tapi kita ke sini… ini…"

Anak itu melihat dua orang yang tidak dikenal terdengar seperti berargumen. Telinganya entah kenapa tidak bisa menangkap apa yang mereka bicarakan meskipun jarak antara dirinya dan kedua orang itu tidak terlalu jauh.

"Ibu? Apakah sedang mati lam─"

Meskipun tidak dapat melihat dan mendengar dengan jelas, anak laki-laki itu dapat mengetahui siapa yang baru keluar dari sebuah ruangan.

Itu kakak pertamanya.

"Si… kalian─ Gempa!"

Kedua mata yang beriris kuning emas itu terbuka. Dia melihat jam digital yang ada di meja belajarnya. Jam menunjukan angka yang masih jauh dari aktifnya alarm tapi dia terbangun dengan tangan yang menggenggam erat selimutnya dan air mata yang keluar tanpa alasan.

Remaja laki-laki itu bangkit dari tidurnya. Menutup wajahnya dengan kedua tangannya kemudian menghembuskan napas kasar karena dadanya terasa begitu sesak.

Kedua tangannya gemetar tidak mengetahui apa karena marah, gelisah, atau sedih.

"Aku…"


The Truth © LiTFa

BoBoiBoy © Animonsta Studios/Monsta

Language : Bahasa Indonesia

Rating : T+

Genre : Family, Mystery

Warning(s) : AU, Typo(s), No Power, No Alien, No Robot, No Pairing, drama about family and friendship, alur maju mundur, press "back" if you don't like this story.


"Kau akan menjadi pasangan sparring-ku lagi hari ini," Fang berkata dengan senyuman angkuhnya.

"Cari yang lain," Halilintar langsung menolak tanpa berpikir dua kali.

Fang mendengkus, "aku sudah bilang pada Pelatih."

Itu merupakan kalimat andalan Fang ketika Halilintar menolak untuk latih tanding dengannya.

"Cari yang lain. Aku hanya mengawasi hari ini."

Fang mendecak lidah, "dasar sombong. Yang lain sedang berlatih sedangkan kau enak-enakan duduk di sini. Mentang-mentang sudah sampai sabuk hitam kau bisa malas-malasan, gitu?"

Halilintar mengabaikan ucapan Fang. Dia berusaha. Entah karena tubuhnya sedang tidak enak badan atau gimana, kalimat apapun yang keluar dari remaja berambut raven itu membuatnya terganggu. Halilintar merasa ingin menghancurkan sesuatu hanya dengan mendengar suara orang yang ada di depannya saat ini.

Tunggu. Mungkin itu hal yang bagus? Lagian orangnya yang minta kan?

Halilintar segera menggelengkan kepalanya pelan. Jika tubuhnya dalam keadaan prima mungkin dia akan menerima (secara terpaksa) tantangan Fang. Halilintar dalam keadaan di mana dia tidak bisa mengendalikan tubuhnya dengan baik.

"Tsk. Mengawasi apanya? Di mataku kau hanya duduk bermalasan tanpa mengganti seragam sekolahmu dengan seragam klub," Fang terus menggerutu.

Bocah.

"Heran aku kenapa sifatmu sangat berbeda dengan adik-adikmu. Bahkan Blaze yang pemarah sepertimu masih bisa ramah kepada orang lain," kata Fang terus berbicara.

Ekspresi Haliintar menggelap. Bukannya Halilintar tidak ingin "ramah" tapi orang-orang yang menganggapnya "jahat" bahkan ketika dia hanya berdiam diri. Halilintar juga tidak tahu harus berbuat apa ketika mayoritas masyarakat memperlakukannya seperti seorang kriminal.

Karena itu Halilintar mati-matian mencari "mereka" untuk membuktikan bahwa dia tidak bersalah. Dengan begitu, keluarga dan orang yang berhubungan dengannya bisa hidup dengan damai tanpa cemoohan yang menemani setiap napas mereka.

"Halilintar, kau dengar?" tanya Fang memastikan pikiran rival-nya itu masih ada di depannya.

Mata ruby Halilintar menatap mata dark red Fang. Seketika remaja penyuka donat lobak merah itu mendengkus, "kenapa aku harus menganggap manusia pemarah ini sebagai rival-ku?" Fang menggerutu keras. Tidak peduli apakah perkataannya itu menyinggung Halilintar atau tidak.

"Berisik. Pergi."

"Tidak sebelum kau mau sparring denganku. Aku akan terus berbicara seperti ini."

Halilintar memijat keningnya, sakit kepalanya terus bertambah ketika Fang terus berbicara. Selama ini Halilintar menahan diri untuk tidak mengerahkan semua tenaganya untuk sparring melawan Fang sehingga teman narsis satu itu tidak terlalu terluka. Tapi dalam kondisinya saat ini, Halilintar sedikit mengkhawatirkan laki-laki rambut landak tersebut.

"Apa susahnya sih bilang 'iya'? Kita hanya sparring seperti biasa. Apa kau punya firasat akan kalah denganku? Wajahmu dari tadi terus cemberut. Tunggu, wajahmu dari lahir kan memang sudah seperti itu," Fang tertawa mengejek.

Wajah anggota klub yang mendengar kalimat Fang berubah pucat. Mereka dengan serempak berpikir bahwa Fang tidak punya rasa takut karena terang-terangan mencemooh Halilintar.

Di sisi lain, Halilintar mendengkus. "Kalau aku menang tutup mulutmu saat di dekatku."

Fang tersenyum penuh dengan kemenangan. Berpikir bahwa rival-nya ini terlalu mudah diprovokasi. "Ok, dan kau akan jadi budakku selama 2 minggu."

Singkat cerita, Halilintar dan Fang kini berdiri di matras yang disiapkan untuk para anggota melakukan sparring. Dengan Pelatih yang menjadi wasit, sparring pun di mulai.

Seperti biasa, Fang menyerang terlebih dahulu. Kakinya bergerak dengan cepat menuju kepala Halilintar yang ditangkis secara tidak terduga oleh tangan laki-laki berambut hitam tersebut.

Fang berdiri hampir tidak stabil, pergelangan kakinya terasa sakit. Remaja itu pun tersenyum, "sepertinya kau serius soal menutup mulutku."

"Apa aku terlihat bercanda?"

Halilintar meluncurkan tinjunya ke perut Fang dengan kekuatan penuh. Namun ditahan oleh Fang meskipun perbedaan kekuatan yang besar. Sebagai dampaknya, dia terlempar ke belakang.

"Sial. Kau menyembunyikan kekuatanmu selama ini?"

Halilintar memiringkan kepalanya, berpikir dia hanya menghindar atau bertahan ketika sparring dengan Fang. Entah itu dimaksud dengan menyembunyikan atau tidak karena Halilintar tidak pernah serius ketika mengeluarkan serangan.

"…tidak pernah."

"Tsk. Aku tidak tahu kalau manusia yang hanya bisa mengeluarkan ekspresi marah seperti kau bisa berbohong."

Fang kembali maju menyerang Halilintar. Dia mengarahkan tinjunya ke wajah Halilintar tapi dengan cepat dihindari dan dia dapat balasan serangan di kakinya. Fang jatuh berlutut dengan salah satu kaki yang menjadi tumpuan. Kembali menyerang dengan tinjunya yang kali ini ke dagu lawan. Tapi lagi-lagi si lawan menghindar.

Mereka berdua kemudian berdiri diam dengan posisi bertarung masing-masing. Napas Fang terputus-putus dan keringat bercucuran seolah ia telah berlari puluhan kilometer. Remaja itu pun tersenyum, dia dari awal tahu bahwa kekuatan antara dirinya dan lawannya begitu jauh. Bahkan si lawan saat ini tidak mengeluarkan keringat maupun kehabisan napas sepertinya.

"Menyerah?"

Fang mendengar kalimat itu seolah merupakan kata meremehkan hanya bisa tersenyum sinis. "Kau pikir aku mau menyerah dengan tantangan yang aku sendiri buat? Ada taruhan yang menarik setelah sparring ini selesai."

Seakan tidak pernah bosan dengan serangan yang sama, Fang kembali menyerang kepala Halilintar dengan tinjunya. Mengabaikan wajah Halilintar yang terlihat mengernyit sakit, tinju Fang berhasil menggores pipi Halilintar. Remaja berambut raven itu mendecih, tidak puas dengan hasil serangannya.

Halilintar yang terlambat menghindar karena tiba-tiba sakit kepalanya menyerang kembali mempersiapkan kuda-kudanya. Dia berniat untuk segera menyelesaikan sparring ini sebelum kehabisan tenaga meskipun Halilintar tidak terlihat begitu berkeringat.

Remaja yang namanya identik dengan petir itu mulai menyerang. Kakinya dengan cepat menendang lutut Fang yang menyebabkan lawannya hilang keseimbangan. Tidak membuang kesempatan itu, Halilintar langsung mengunci pergerakan Fang. Lengan Halilintar menekan leher Fang untuk menghambat jalur pernafasannya. Saat itulah Pelatih yang sebagai wasit menghentikan sparring menandakan pertarungan telah selesai.

Halilintar langsung melepas kunciannya sedangkan Fang mendecih.

"Jangan lupakan taruhan─"

Tes!

"Oi, hidungmu!"

Halilintar secara reflek menutup hidungnya kemudian menundukan kepala. Halilintar berpikir dengan melakukan itu darah yang keluar dari hidungnya akan segera berhenti namun, pusing yang sedari tadi bersemayam di kepalanya malah bertambah parah. Hal itu menyebabkan tubuh Halilintar terhuyung.

"O-oi!"

Fang dengan sigap menangkap Halilintar sebelum temannya itu terjatuh. Pelatih yang melihat itu segera menghampiri mereka.

"Bapak kira kamu sudah baikan melihat kamu menerima sparring… kamu memaksakan dirimu?"

Fang menatap Pelatih dan Halilintar secara bergantian. Dia mengira Halilintar hanya beralasan tentang hanya mengawasi anggota lain tadi.

"Itu bukan hanya omong kosong yang biasanya dia katakan."

Halilintar tidak menjawab pertanyaan Pelatih, sakit kepalanya membuat dia kesulitan berbicara. Pandangannya berputar dan tubuhnya terasa ditarik ke bawah semakin dia mencoba untuk fokus. Napasnya terputus-putus seiring dengan sakit kepala yang bertambah. Erangan rendah selalu keluar setiap Halilintar membuka mulutnya dan darah yang keluar dari hidungnya masih terus mengalir.

Fang menggigit bibirnya ketika Halilintar mencengkram tangannya kuat, melampiaskan rasa sakit yang ada di jangkauan temannya tersebut.

"Anak ini…! Dia latih tanding dalam keadaan seperti ini? Bahkan kekuatannya melebihiku ketika masih dalam keadaan seperti ini. Sialan, dia benar-benar menahan diri selama ini."

"Fang, bawa dia ke UKS─ tidak, antar dia ke rumahnya. Kondisinya tidak memungkinkan untuk dia berjalan, bahkan berdiri saja kesulitan. Kamu tahu rumahnya Halilintar kan?"

"Eh? Ah… ya…?"

Wajah Fang menunjukan dia mengerti tapi juga bingung. Fang hanya mendengar kalimat terakhir Pelatih.

"UKS seharusnya tutup jam segini dan kuncinya pasti dibawa sama orang yang menjaga tempat itu. Kamu antar dia ke rumahnya. Kamu lihat sendiri Halilintar hampir tidak bisa berdiri kan? Klub hari ini juga hampir selesai jadi kamu bisa pulang terlebih dahulu," Pelatih dengan sabar menjelaskan.

Fang yang ingin protes kenapa harus dia dan bukan anggota yang lain langsung mengurungkan niatnya. Meskipun Halilintar adalah Ketua klub karate, tidak ada satupun anggota yang mengakuinya. Karena itu kebanyakan anggota memberi sebuah laporan maupun keluhan pada Fang yang seorang Wakil Ketua. Bisa dikatakan Fang menjadi perantara Halilintar dan anggota klub.

"…baik. Kalau begitu saya ijin untuk pulang terlebih dahulu."

Fang melihat para anggota klub yang mulai berbisik-bisik.

"Dia tidak kelihatan seperti orang sakit. Apa dia berpura-pura?"

"Itu darah bohongan kan?"

"Aku rasa karena serangan Wakil Ketua, harga dirinya sangat tinggi jadi dia berpura-pura sakit."

"Tapi sepertinya ini pernah terjadi."

"Aaah… kalau gak salah itu saat kita kelas 1 bukan? Saat itu Pelatih juga mengatakan kalau Si Pembunuh sedang tidak enak badan."

"Tapi bagaimana Pelatih tahu kalau 'itu' sedang sakit ketika kekuatannya aja masih lebih kuat dari kita?"

Fang menggeretakkan giginya mendengar anggota lain mulai berbisik. Dia kesal, sakit yang berasal dari cengkeraman Halilintar menambah kekesalan.

Kenapa orang-orang selalu membicarakan setiap gerakan yang dilakukan teman masa kecilnya itu? Apapun yang dilakukan Halilintar selalu salah di mata mereka.

"Hei kalian jangan malas-malasan, lanjutkan latihannya!"

"B-baik!"

"Oi Halilintar, kau masih sadar kan?"

Fang kembali mengernyit ketika merasakan cengkraman di tangannya, menandakan rasa sakit yang diterima Halilintar tidak kunjung reda tapi tidak menunjukkan apakah temannya itu sadar atau tidak.

"Bertahanlah dan jangan melampiaskan rasa sakitmu ke aku!"


"Aku benar-benar minta maaf Fang," Taufan mewakilkan permintaan maaf Halilintar.

"Tidak apa-apa, ini seperti aku mendapat lebam ketika latih tanding dengannya."

"Dan terima kasih membantuku memindahkan Hali ke kamar Gempa."

"Aku membantumu karena kau terlihat kesulitan membawanya."

"Ah…"

Taufan terlihat ragu-ragu. Dia sebenarnya sama sekali tidak kesulitan untuk memindahkan Halilintar karena dia terkejut betapa ringan tubuh saudaranya itu.

"Apa?"

"Tidak. Tidak ada," Taufan tersenyum.

Kedua orang itu kemudian terjebak dalam keheningan. Fang fokus menaruh ice pack ke bahu dan lengannya sedangkan Taufan memberitahu saudaranya yang lain bahwa saudara pertama mereka telah pulang ke rumah tanpa mengatakan bahwa kakak mereka itu pulang dalam keadaan sakit lewat smartphone.

"Anak itu…"

Fang membuka mulutnya setelah merenung sejenak.

"Hm?"

"Halilintar, dia sakit tapi kekuatannya malah lebih kuat daripada saat dia sehat."

"Ah… sebenarnya itu menjadi penanda kami kalau Hali sedang sakit sejak kami pindah ke sini. Awalnya kami terkejut ketika pensil yang dipegang Hali patah begitu saja padahal kami masih SD."

"Bukannya orang pada normalnya kehilangan tenaga saat sakit?"

Taufan tertawa kecil, "Seharusnya. Mungkin Hali termasuk pengecualian. Misal dia tidak seperti itu, kami tidak dapat bisa mengetahui apa dia sakit atau tidak. Seperti… kamu tahu kan? Eerr… karakter kartun yang bertambah kuat ketika dia diambang kematian."

"Itu di dunia kartun, Taufan…."

"Hehe…"

Fang kembali merenung. Dia termasuk teman masa kecil dari kelima BoBoiBoy bersaudara bersama dengan tiga temannya yang lain. Fang mengira kalau dia sudah mengenal sifat milik lima saudara kembar itu secara mereka berteman hampir 10 tahun.

Namun, itu masih sangatlah jauh. Para BoBoiBoy membuka dan menutup hati mereka secara bersamaan.

"Kak Taufan!"

Gempa yang terburu-buru pulang ke rumah setelah ijin untuk meninggalkan rapat OSIS membuka pintu rumah dengan keras.

"Kak Halilintar…!"

Batuk menyela Gempa untuk berbicara karena pasokan oksigen yang menipis. Taufan segera menghampiri adiknya itu dan menepuk punggungnya perlahan.

"Tenang, dia ada di kamarmu sekarang. Aku tidak tahu di mana Hali menyembunyikan kunci kamarnya. Yang lain bagaimana? Sudah beritahu Tok Aba?"

Gempa mencoba menenangkan napasnya yang terputus-putus, "Ice sedang ke kedai sekarang dan aku menyuruh Blaze untuk membelikan obat penurun panas. Mungkin sebentar lagi mereka datang"

"Tapi aku tidak memberitahu kalau Hali sakit…?"

"Firasat."

Mendengar penghuni rumah lainnya akan kembali, Fang memutuskan untuk segera pulang. Dia tidak mau menjadi sebuah pengganggu ketika keluarga temannya itu sibuk memperhatikan Halilintar yang sakit.

"Kalau begitu aku akan pulang."

"Ah… Fang yang membawa Kak Halilintar pulang kan? Terima kasih berkatmu Kak Halilintar kembali ke rumah. Dia sudah lama tidak pulang."

Fang kembali terkejut, dia tidak menyangka Halilintar tengah kabur dari rumah. Taufan juga tidak memberitahunya ketika dia memiliki banyak waktu menjelaskan keadaan mereka padanya. Itu menjadi alasan kenapa wajah Taufan terlihat lega ketika melihat Halilintar tadi.

"Hanya meluruskan. Hali tidak kabur dari rumah," Taufan meralat pikiran Fang sebelum menjadi sebuah kesalahpahaman.

"Ah…"


Halilintar membuka matanya. Seakan menjadi rutinitasnya, dia berusaha bangkit namun berakhir kembali terjatuh ketika pusing menyerang kepalanya. Tangan Halilintar memegang kepalanya dan baru menyadari plester demam yang tertempel di dahinya.

"Berapa lama aku pingsan?"

Mengetahui tubuhnya tidak memiliki tenaga untuk bangun, Halilintar memutuskan untuk melihat sekitar ruangan yang ia tempati. Ini bukan kamar yang ada di apartemen Gopal dan mustahil tempatnya akan sebersih ini jika dia yang menempati.

Kemudian mata ruby-nya bergerak ke arah meja belajar yang tertata rapi. Terdapat jam digital di meja tersebut, memberitahu bahwa hari telah berganti 2 jam yang lalu. Halilintar dapat mengira bahwa dia pingsan cukup lama.

"Ice… bukan. Gempa…?" Halilintar menggumamkan nama adik-adiknya. Mengetahui bahwa dirinya ditaruh di kamar milik salah satu adiknya karena tidak ada yang mengetahui letak kunci kamarnya. Dengan kata lain, Halilintar telah pulang ke rumah.

Halilintar kemudian mencari si pemilik kamar. Tidak ada tanda kehadiran dari adik keduanya itu. Dia berasumsi bahwa adiknya itu sedang keluar atau tidur di ruangan lain. BoBoiBoy pertama itu akhirnya memaksakan diri untuk bangun, kali ini ia berhasil meskipun kepalanya masih terasa berputar dan melepas plester demam yang telah habis efeknya.

Klak.

Pintu kamar terbuka, menampilkan sosok BoBoiBoy ketiga yang membawa nampan berisi segelas air, semangkuk bubur hangat, dan obat penurun demam.

"Ah, Kakak sudah bangun?"

Seolah tidak terkejut, Gempa masuk ke kamar dan menaruh nampan tersebut di meja belajar. Gempa memberi gelas berisi air tersebut yang diterima tanpa banyak protes dari Halilintar.

BoBoiBoy tengah itu kemudian memberi bubur setelah Halilintar selesai minum. Tidak lupa memberi obat ketika bubur yang di mangkuk telah kandas.

"Tidak ada yang lebih tinggi?" Halilintar bertanya dengan suara lemahnya.

"Kak Halilintar minum itu dulu, kalau demamnya masih tidak turun kita akan ke dokter. Itu yang dikatakan Atok."

Gerakan tangan Halilintar membuka tablet obat terhenti. Dia sudah lama tidak pulang ke rumah dengan tujuan untuk menyelesaikan semua masalah yang tersisa. Selama menjalankan tujuan itu, Halilintar tidak pernah sekalipun menghubungi orang di rumah. Itu juga termasuk tidak menghubungi kakeknya.

"Atok…"

"Hm?"

"Tok Aba keadaannya bagaimana?"

Gempa hanya bisa tersenyum. Kakaknya itu masih menanyakan keadaaan orang lain ketika dirinya sendiri sedang sakit.

"Lebih sehat daripada Kakak. Kalau Kak Halilintar khawatir, kenapa tidak menghubungi Tok Aba selama Kakak keluar? Setidaknya itu akan mengurangi rasa khawatir kami dan Atok."

Halilintar tidak membalas, dia segera meminum obatnya kemudian menghela napas. Halilintar ingin segera keluar atau paling tidak kembali ke kamarnya, melanjutkan research-nya yang tidak kunjung selesai dan terus menumpuk dokumen bagaikan gunung.

"Tidur dimana?"

"Jangan khawatirkan itu, aku sudah tidur tadi."

"3 jam yang lalu sih…" Gempa meneruskan ucapannya dalam hati.

Halilintar tahu bahwa Gempa berbohong. Itu terlihat dari kantung mata yang menghitam. Halilintar memutuskan untuk melepaskan kebohongan Gempa kali ini walaupun dia sendiri tidak selalu jujur dalam berucap.

Gempa menaruh kembali gelas dan mangkuk di nampan. Halilintar kembali ke aktivitas diamnya dan Gempa kembali duduk di kursi.

"Tidak tidur Kak?"

"Kamu sendiri?"

Dua kakak-adik itu diam. Yang satu terlalu banyak kalimat yang ingin dikeluarkan tapi tidak tahu mau dimulai dari mana, satunya lagi berpikir bagaimana caranya untuk keluar ketika tubuhnya tidak memiliki tenaga yang tersisa.

"Huft…"

Halilintar akhirnya melirik ke adiknya yang mengeluarkan napas besar. Itu adalah sebuah tanda bahwa adiknya telah memutuskan sesuatu.

"Kakak tidak perlu lagi mencari sendirian."

BoBoiBoy pertama itu bertanya lewat matanya.

"Aku melihatnya."

Halilintar masih tidak menangkap pembicaraan Gempa.

"Kakak mencari mereka bukan? Dua orang itu."

Mata ruby-nya itu melebar. Halilintar tahu arah pembicaraan yang dibawa oleh adiknya ini.

"Malam di hari itu. Aku mengingatnya Kak. Semuanya."

[To Be Continued]


Note :

Tolong bersabarlah dengan alur lambat ini wahai Readers, aku sendiri juga gregetan T_T

2021.04.21