Chapter 11

Dinding rumah sakit menyambutnya ketika anak berumur 7 tahun itu membuka matanya.

"Oh, dia sudah sadar."

Anak itu kemudian melihat dua orang yang mengenakan seragam sama seperti milik ayahnya.

"… Ayah?"

"Maaf mengecewakanmu tapi, saya bukan Pak Amato. Apa Adik masih ingat dengan saya? Saya bawahan Pak Amato yang sering menemani Adik di kantor polisi."

Salah satu orang berseragam itu bertanya yang dijawab dengan anggukan lemah milik anak tersebut. Anak itu ingat dengan orang yang selalu menemaninya bermain di kantor polisi saat mengunjungi ayahnya.

"Ayah sama Ibu dimana?"

Kedua orang berseragam itu saling bertukar pandang. Berdiskusi dalam diam tentang apa yang baru saja menimpa keluarga anak tersebut.

Tidak lama kemudian kedua orang itu saling sikut-menyikut. Orang-orang tidak akan tahu bahwa mereka adalah polisi jika tidak melihat seragam yang dikenakan kedua orang tersebut.

Polisi yang akrab dengan anak itu akhirnya mengalah ketika teman kerjanya mulai menusuk perutnya dengan tangan.

"… Adik… tidak ingat apa yang terjadi kemarin malam?"

"Kemarin…?"

Memangnya apa yang baru saja terjadi? Anak itu hanya ingat terbaring di kasurnya karena sakit dan lampu tiba-tiba mati ketika petir menyambar. Dia kemudian keluar saat terdengar suara keras dari luar kamarnya. Lalu…

"Ibu? Apakah sedang mati lam─"

Mata anak itu melebar. Dia ingat saat itu terlalu banyak warna merah di lantai. Warna merah itu juga ada di kepala adiknya yang tergeletak lemah. Kemudian dia melihat ayah dan ibunya diselimuti warna yang sama dengan warna kesukaannya.

Tapi warna merah itu berbeda. Merah gelap yang kental itu mengalir dari tubuh ketiga anggota keluarganya dan dia tahu bahwa hal tersebut bukanlah sesuatu yang bagus.

Anak itu melihat dua orang yang tengah berargumen melihat ke arahnya. Merah yang sama dengan merah milik keluarganya menghiasi kedua tangan orang tersebut.

Petir kemudian menyambar, memberi pencahayaan di ruangan gelap itu meskipun hanya sebentar.

Hijau dan ungu, itu adalah warna yang dia lihat selanjutnya selain warna merah di ruangan tersebut. Kedua matanya kemudian melihat benda yang sempat bercahaya di tubuh kedua orangtuanya. Diam menusuk di tubuh yang terdapat banyak luka.

Tubuh anak itu gemetar. Takut dan marah menjadi satu dan air mata menjadi bukti dari emosinya tersebut.

"Masih ada orang? Terlebih lagi anak kecil dengan wajah yang sama? Kembar?"

"Itu bukanlah hal yang penting! Dia sudah melihat kita!"

"Kita harus membunuh dia juga? Kau tahu kita ke sini bukan untuk ini!"

"Lebih baik segera musnahkan semua bukti. Anak itu juga termasuk."

Orang dengan berambut ungu menghela napas. Meskipun gelap, anak itu bisa melihat ekspresi menyesal di wajah orang tersebut.

"S-siapa kalian?" suara anak itu terdengar gemetar.

Orang dengan berambut hijau alih-alih menjawab, dia mengambil benda tajam yang masih tertancap di tubuh ayahnya. Orang itu berjalan menghampiri anak yang hampir tidak punya kekuatan untuk berdiri entah karena takut atau terkejut atau mungkin keduanya.

"Maaf Nak, aku tidak punya dendam padamu tapi salahkan ayahmu yang tidak bekerja dengan benar sebagai polisi."

Anak itu tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Dia tiba-tiba sudah ada di depan kedua orangtuanya yang tidak bernapas dengan pisau di tangannya. Adiknya juga tidak kunjung bangun dari tidurnya. Kedua orang yang tidak dikenal itu sudah tidak ada di sana.

Ketika kepalanya begitu sakit karena tidak bisa memproses tragedi yang menimpanya, pintu rumah terbuka. Kakek dan ketiga adik lainnya masuk ke dalam rumah dan terdiam. Anak itu sadar saat melihat wajah kakek dan tangisan adiknya yang lain.

Hidupnya tidak akan sama seperti sebelumnya.

Dengan pisau yang masih ia pegang.

Dengan darah yang menempel di kedua tangannya.

Anak itu memanggil kakeknya.

"Tok… Mereka tidak bergerak…"

Kedua polisi itu menunggu. Anak itu tidak kunjung menjawab pertanyaan mereka dan terus terdiam.

"Dik…?"

Anak itu memberi respon dengan mengedipkan matanya. Mulutnya kemudian terbuka, "Aku mengambil pisau…"

Sebelum kalimat anak itu selesai, matanya kembali tertutup dan meninggalkan kedua polisi yang tengah terkejut.

"Anak ini benar-benar…"


The Truth © LiTFa

BoBoiBoy © Animonsta Studios/Monsta

Language : Bahasa Indonesia

Rating : T+

Genre : Family, Mystery

Warning(s) : AU, Typo(s), No Power, No Alien, No Robot, No Pairing, drama about family and friendship, alur maju mundur, press "back" if you don't like this story.


"Tidak bisa."

"Kak…!"

"Berbahaya."

"Itu juga berlaku untuk Kakak."

Kemudian mereka berdua terdiam. Gempa ingin membantu Halilintar sedangkan BoBoiBoy pertama itu tidak ingin adiknya masuk dalam bahaya. Dua BoBoiBoy itu tidak ingin mengalah, khususnya BoBoiBoy ketiga yang mengeluarkan sifat keras kepalanya.

"Tetap tidak."

"Kak Halilintar…."

Gempa frustasi. Dia tahu membujuk Halilintar sangatlah sulit. Apalagi kakaknya itu tipe orang yang mengerjakan sesuatu sendirian. Bahkan jika Halilintar membutuhkan bantuan, kakaknya itu tidak akan meminta bantuan adik-adiknya maupun kakeknya. Gempa tahu apa alasannya Halilintar melakukan hal tersebut.

Itu agar keluarganya terhindar dari bahaya sejauh mungkin.

Halilintar mulai mengatur pikirannya yang berantakan. Dia baru saja sadar dari pingsannya dan demam masih belum hilang. Ingatan milik Gempa yang kembali cukup menambah kerumitan di kepalanya.

"Lalu, kami harus membantu apa untuk meringankan beban yang Kakak bawa?"

Halilintar melirik adiknya. Menghela napas pada pertanyaan yang sudah jelas jawabannya.

"Cukup diam dan hidup seperti tidak terjadi apa-apa. Itu akan membantu. Sangat."

Gempa hanya mendengkus kemudian tersenyum.

"Sudah kuduga."

Hening kembali menghadiri kedua saudara tersebut hingga Sang Adik akhirnya mengalah melawan sifat keras kepala milik Si Kakak. Gempa menyuruh Halilintar istirahat di kamarnya secara paksa tanpa memberi BoBoiBoy Sulung ruang untuk membantah.

Paginya, Halilintar menuruni tangga terburu-buru. Untuk pertama kalinya, BoBoiBoy pertama itu bangun kesiangan meskipun jam masih menunjukan 6.

"Mau kemana Halilintar?"

Remaja laki-laki yang namanya identik dengan petir itu berhenti ketika mendengar suara kakeknya. Sudah lama Halilintar tidak mendengarnya.

"M-mandi Tok. Halilintar sudah telat."

"Telat apanya, ini masih jam 6 dan sekolahmu masuk jam 7 kan?"

Halilintar tidak bisa mengatakan bahwa dia telat mengunjungi peristirahatan terakhir ayah dan ibunya. Halilintar bahkan tidak melakukan jogging "pagi" karena tidurnya yang entah bagaimana terasa nyenyak.

"Dan tidak seperti kamu akan pergi sekolah hari ini."

Wajah Halilintar menunjukan kebingungan mendengar ucapan kakeknya.

Tok Aba yang melihat cucunya tidak tahu apa yang ia bicarakan dengan sukarela menjelaskan.

"Habis sholat subuh Atok memeriksamu sebentar. Demammu belum turun karena itu Atok berencana untuk mengirim surat ijin pada guru wali kelas. Setelah itu kita akan pergi ke dokter."

"Halilintar baik-baik saja."

Tok Aba tersenyum, beliau menaruh sendok yang sedari tadi ia gunakan makan kemudian menyesap teh tanpa gula sebentar.

"Tentu saja tidak, cedera di bahumu belum benar-benar pulih."

Pupil Halilintar melebar, adik-adiknya yang baru ia sadari ada bersama kakeknya di ruang makan tersebut melihat ke arahnya. Tidak ada yang tahu bahwa Halilintar mengalami cedera bahu bahkan Gempa yang sempat merawat Halilintar saat tidak sadarkan diri tidak mengetahuinya.

"Bagaimana…?"

Itu menjadi pertanyaan para BoBoiBoy bersaudara tak terkecuali Halilintar. Remaja itu terakhir kali bertemu Tok Aba sehari sebelum Blaze masuk rumah sakit. Kesempatan untuk melihat cidera Halilintar yang ia dapatkan ketika menyelamatkan adik ketiganya itu tidak ada.

"Kamu tanpa sadar melindungi bahu kirimu bahkan saat tidur, Halilintar."


"Blaze?"

Tersentak dengan panggilan kakak keduanya, Blaze tersadar dari lamunannya. Dia bisa melihat mata biru bagaikan laut milik Taufan menatapnya.

"Kenapa?"

"Aku dari tadi memanggilmu, apa kamu mau susu kambing? Kita tidak pernah meminumnya kan? Sekalian kita beli untuk orang rumah."

Blaze akhirnya sadar bahwa Taufan dan dirinya tengah berhenti di sebuah kios yang menjual susu kambing. Mereka baru saja pulang sekolah dan Taufan melihat kios yang tidak pernah ada sebelumnya.

Semenjak kecelakaan yang dialami Blaze dulu, para saudaranya, tanpa melakukan diskusi terlebih dahulu selalu mengajaknya pulang sekolah bersama ketika mereka tidak ada kegiatan lain.

Atau bisa dikatakan BoBoiBoy bersaudara itu berusaha menyelesaikan urusan mereka secepat mungkin agar bisa pulang bersama Blaze secara bergiliran.

Dan di sinilah Blaze berada bersama Taufan, di kios yang baru pertama kali ia lihat dengan produk yang jarang dijual di Pulau Rintis. Blaze melihat dua orang yang merupakan penjual susu kambing tersebut tengah menunggu dirinya dan Taufan dengan sabar untuk memilih susu yang akan di beli.

"Ah, iya terserah."

Taufan tertawa kecil mendengar jawaban tidak pasti adiknya.

"Aku anggap itu kamu mau. Kami beli 2 botol ya Bang?"

Setelah membayar sesuai dengan harga 2 botol susu, Taufan dan Blaze melanjutkan perjalanan pulang.

"Jangan melamun, Blaze."

Taufan menegur adiknya yang kembali termenung. Dia sudah berulang kali mengarahkan Blaze untuk berjalan di tempat aman ketika adiknya itu berjalan terus mengarah ke jalan besar.

"Ha? Ah… iya."

Meskipun Blaze menjawab kalimat tersebut, remaja bermata jingga itu tetap melamun dan tidak sadar bahwa dia tengah membahayakan diri dengan melakukan hal tersebut. Taufan yang menyerah menegur Blaze terus-menerus, pada akhirnya menaruh dirinya di tepi trotoar untuk mencegah adiknya berjalan keluar dari jalur.

"Apa yang kamu pikirkan sampai tidak memperhatikan sekitar?"

Blaze berhenti sejenak mendengar pertanyaan kakaknya kemudian kembali berjalan sebelum menjawabnya.

"Aku hanya penasaran."

"Penasaran?"

Taufan menuntut jawaban Blaze sambil mengarahkan arah jalan adiknya yang hampir keluar dari trotoar. Lagi.

"Hmmm."

Blaze berpikir sejenak sebelum melanjutkan jawabannya. Matanya menatap langit yang begitu biru sama seperti milik kedua saudaranya.

"Cara mana yang harus kugunakan agar orang itu sadar bahwa tidak apa-apa untuk membagi sebagian bebannya kepada kita."

Itu merupakan kalimat terpanjang Blaze hari ini.

Taufan tersenyum, mengetahui siapa yang adiknya maksud dengan kata "orang itu". Sepertinya kemarahan Blaze pada saudara sulung mereka mulai mereda.

"Dari berbagai cara yang aku pikirkan, hanya ada satu cara."

"Apa?"

"Menghajarnya sampai otak tidak bergunanya itu berfungsi kembali.

"Hah…?"

"Ya, hanya itu. Tidak ada yang lain."

"Itu… sepertinya berlebihan."

Taufan tarik kembali tentang kemarahan Blaze yang mereda. Itu berubah menjadi dendam yang terselubung.


Gopal merenung bersama dengan dokumen yang menumpuk dan beberapa kertas note kecil menempel di meja kerjanya.

"Hijau… Ungu… Merah…"

Gopal bergumam sambil memutar kursinya. Kemudian dia menatap catatan yang memenuhi mejanya. Itu adalah ringkasan kasus dari tumpukan dokumen tersebut. Otaknya buntu karena bukti penting yang ia gumamkan tadi tidak membantu kasus di depannya ini.

"Salada dan terong, hmm…. Tomat? Bapak mau buat salad?"

Teman yang satu tim dengan Gopal menyeletuk, membalas gumamannya sambil memberi segelas kopi. Gopal menerima kopi tersebut.

"Kalau itu tentang menebak makanan mungkin benar. Sayangnya itu warna rambut dan mata Si Pelaku."

"Kasus milik Petir?"

Gopal mengangguk, menyesap kopi sejenak sambil kembali menatap tumpukan dokumen. Seolah dengan melakukan hal tersebut dia akan mendapat jawaban dari kasus yang makin lama makin tenggelam.

"Tidak sedikit orang yang mewarnai rambutnya dengan warna hijau dan ungu. Jadi satu-satunya petunjuk adalah mata bewarna merah meskipun presentasi orang yang memiliki warna mata tersebut di negara ini lumayan banyak."

"Dan aku yakin dua orang ini mengubah warna rambutnya, karena itu aku mencari bukti lain selain warna mata itu."

Kedua polisi itu kemudian berpikir. Karena beberapa hari ini tidak ada kasus yang mengharuskan tim Gopal turun lapangan, mereka memiliki banyak waktu untuk membuang tenaga pada kasus tersebut.

"Sudah mencoba menghubungi Petir? Kita bisa bertanya apa yang dilakukan almarhum sebelum beliau dibunuh."

"Sudah. Adiknya yang mengangkat teleponnya, Petir sedang sakit katanya."

"Hoo, bisa sakit juga anak itu."

"Itu wajar. Dia juga manusia seperti kita."

Gopal menghela napas, "Jika saja aku belum pindah tugas ke daerah ini saat kejadian itu terjadi, mungkin aku bisa menemukan bukti lebih banyak."

"Tapi kalau diingat-ingat, bukankah kasus itu terjadi di wilayah pusat sana? Bukan tugas wilayah ini untuk menangani kasus tersebut."

"Memang benar, tapi aku mendengar bahwa orang yang ciri-cirinya mirip dengan deskripsi milik Hal─ Petir kabur ke sini 5 tahun lalu."

Rekan Gopal terkejut, "Pulau Rintis termasuk wilayah kecil. Mereka hebat tidak tertangkap bersembunyi selama itu."

"Mereka benar-benar pandai bersembunyi."


Gempa berjalan menuju taman bermain Pulau Rintis ketika matahari tinggal seperempat jalan untuk membenamkan diri. Sudah tiga hari terlewat saat hari dimana Gempa dan Halilintar berdebat. Itu berakhir dengan hasil yang mengecewakan BoBoiBoy ketiga meskipun ia tahu apa alasan dari jawaban tersebut.

Namun, Gempa tidak menyerah. Niat untuk membantu Kakak pertamanya itu tidak menurun. Malahan itu bertambah bahkan ketika Halilintar dengan jelas melarang dirinya untuk membantunya.

Ada yang mengatakan kalau semakin dilarang maka niat untuk melakukannya semakin tinggi.

Itu yang biasa dilakukan Taufan dan Blaze dulu ketika dilarang oleh almarhumah ibunya. Apa yang dilarang Gempa merupakan pengecualian untuk membantu kakaknya. Meskipun larangan tetap merupakan larangan yang tidak seharusnya dilakukan.

"Ini untuk membantu. Bukan berarti aku melanggar sesuatu yang serius. Ini agar Kak Halilintar tidak menyelesaikan sendiri masalah ini. Ya, ini masalah kami bukan masalah Kak Halilintar saja."

Gempa bergumam untuk meyakinkan diri. Dirinya selalu bimbang ketika dia melakukan sesuatu yang dilarang, meskipun dengan melanggar larangan tersebut dapat membantu orang yang melarangnya. Pada akhirnya Gempa mencari celah agar dapat menjadi sebuah alasan untuk melakukan larangan tersebut.

"Aku tahu mereka. Ini seharusnya sangat membantu Kak Halilintar. Aku melakukan ini agar Kak Halilintar tidak menanggung semuanya. Seharusnya ini diselesaikan bersama-sama."

Bertepatan dengan berhentinya gumaman, Gempa tiba di taman bermain. Dia dapat melihat ketiga saudaranya yang sudah sampai terlebih dahulu di taman tersebut.

Ice yang sedang menahan kantuk dengan tas sebagai tumpuan kepalanya di ayunan. Blaze terlihat menggerutu duduk di besi yang disusun seperti kandang macan biasa untuk anak-anak memanjat. Terakhir, Taufan yang mendengar gerutuan Blaze dan sesekali menanggapi gerutuan tersebut duduk bersama BoBoBoy Keempat itu.

"Oh, Kak Gempa sudah datang."

Taufan dan Blaze langsung melihat ke arah Gempa mendengar celetukan Ice. Gempa menunjukan senyumannya dan menghampiri tiga saudaranya tersebut.

"Maaf terlambat, rapat OSISnya berjalan lebih lama dari yang kuperkirakan."

Gempa duduk di ayunan samping Ice.

"Aku sudah menduganya. Lagian kita tidak ada kegiatan lain," Tuafan menanggapi dengan senyuman khasnya.

"Langsung saja. Kenapa kau menyuruh kita berkumpul di sini? Di rumah kan bisa."

Blaze yang tidak sabaran menuntut Gempa untuk cepat mengatakan apa yang akan kakaknya itu bicarakan.

Gempa menatap langit yang berubah jingga sedikit demi sedikit, "Di rumah tidak bisa. Bakalan ketahuan Kak Halilintar nanti. Tok Aba juga akan mendengarnya."

"Ada hubungannya dengan Kak Halilintar?"

"Kenapa dengan Hali?"

Ice dan Taufan bertanya bersamaan. Sedangkan Blaze hanya mendengkus.

"Tidak hanya Kak Halilintar saja, masalah ini juga ada hubungannya dengan kita."

Ketiga BoBoiBoy itu menatap BoBoiBoy tengah tersebut. Menyuruh Gempa untuk melanjutkan kalimatnya.

"Meskipun tidak menunjukan secara langsung, kalian masih menunggu kepastian Kak Halilintar kan? Mungkin menunggu kepastianku juga namun kemungkinannya kecil jika berharap dengan ingatanku yang hilang."

"Langsung saja, jangan berbelit-belit."

Blaze mulai kesal dengan "kata pengantar" milik Gempa. Sedangkan Boboiboy Ketiga itu tertawa kecil.

"Maaf, maaf. Masalah kita yang belum kita selesaikan. Masalah yang muncul 10 tahun lalu dengan kunci utama masalah adalah diriku dan Kak Halilintar."

"Gempa, kamu pintar sekali membuat orang berdebar-debar ya?"

Taufan mulai tidak sabar. Jantungnya gelisah apa yang akan adiknya katakan meskipun banyak kemungkinan di kepalanya.

"Kak Gempa sudah ingat?"

Ice langsung mengambil kesimpulan tanpa menunggu Gempa menyelesaikan kalimatnya. Taufan dan Blaze menunggu jawaban Gempa.

BoBoiBoy bermata kuning emas itu mengangguk, "Sepertinya kamu mendengar perdebatan antara aku dan Kak Halilintar."

"Jadi, ingatanmu benar-benar kembali?"

"Iya, aku ingat. Awalnya aku menawarkan bantuan ke Kak Halilintar tapi ditolak."

"Tawaran bodoh."

"Benar-benar Hali banget."

"Kak Halilintar suka sendirian."

Semangat Gempa sedikit menurun mendengar fakta yang diucapkan saudara-saudaranya.

"Ugh… Makanya itu aku minta bantuan kalian untuk menyelesaikan masalah ini di sisi lain. Mungkin kalian semua tahu Kak Halilintar tengah mencari pelaku yang membunuh ayah dan ibu. Tapi…"

"Pembunuh yang dilihat kamu dan Halilintar berbeda," Taufan melanjutkan kalimat Gempa.

"Hah? Gimana?"

"Bukan berbeda, tapi pembunuh yang dilihat Kak Gempa lebih jelas daripada yang dilihat Kak Halilintar," Ice meralat kalimat Taufan.

Gempa mengangguk dan Blaze hampir tidak dapat mengikuti pembicaraan saudaranya.

"Tunggu, kenapa bisa begitu?" Blaze bertanya meminta penjelasan.

"Blaze kamu ingat? Saat kita betiga pulang dari supermarket bersama Atok keadaan dalam rumah sangat gelap."

"Saat itu mati lampu…"

Blaze akhirnya dapat menangkap pembicaraan ketiga saudaranya.

"Jadi… orang itu sungguh bukan pembunuh?"

"Kamu tahu jawabannya dari dulu Blaze…"

"Kak Halilintar bukan pembunuh."

Saat itu, kejanggalan yang terus hinggap di hati Blaze hilang meskipun hanya sebagian. Hingga yang bersangkutan mengucapkan dengan mulutnya sendiri, sisa kejanggalan itu akan hilang sepenuhnya.

"Kapan kita akan memulai membantu orang it─ Halilintar?" tanya Blaze.

Gempa tersenyum, senang karena Blaze mulai menyebut nama Si Sulung meskipun tanpa sebutan "Kakak".

"Karena itu kita berkumpul di sini."

[To Be Continued]


NB :

Iya saya tahu ini lama *mendadak formal*. Saya tidak akan bilang yang namanya writer block atau alasan yang lain. Jujur saja itu karena mager *tehe~*

Tapi ini tetep lanjut kok, tenang... diusahain gak bakalan discontinued atau delete story *amit-amit*

Ceritanya mulai masuk klimaks dan bentar lagi menuju ending. Baru kali ini aku punya cerita yang lebih dari 10 chapter.

"Udah panjang, lama lagi plotnya."

Ya mangaap, biar ceritanya gak kelihatan terburu-buru alurnya. Harap bersabar ya...

Kita ketemu lagi di next story ya, see you~

2021.06.26