Chapter 12

Trrrk.

Trrrk.

Halilintar termenung di meja belajarnya. Tangan kanannya memainkan sebuah cutter.

Keadaan rumah begitu sepi karena keempat saudaranya sedang sekolah dan Tok Aba pergi ke kedai KoKoTiam. Halilintar berniat membantu Tok Aba, namun kakeknya menolak dengan alasan bahwa dirinya masih perlu istirahat. Di rumah pun tidak ada sesuatu yang bisa dilakukan Halilintar karena sudah dibereskan oleh Gempa tadi pagi.

Akhirnya Halilintar memilih untuk berdiam diri di kamarnya. Jika dia keluar rumah, Tok Aba pasti mengetahuinya entah bagaimana caranya. Halilintar yakin tidak ada CCTV yang terpasang di rumah. Dia sudah memastikannya.

Mungkin itukah yang disebut dengan intuisi orangtua? Meskipun Tok Aba merupakan kakeknya, bagi Halilintar dan adik-adiknya beliau sudah seperti ayah kedua mereka.

Trrrk.

Cutter dinaikan.

Trrrk.

Cutter diturunkan.

Hal itu terus berlanjut dengan Halilintar yang melihat seisi kamarnya. Lembaran kertas yang berserakan di lantai, tumpukan dokumen dan buku yang menyerupai menara, note-note kecil yang ia tempel di dinding, dan isi lemari pakaian yang tidak diketahui. Intinya, keadaan kamar Halilintar bagaikan diterpa badai. Hanya tempat tidurnya yang rapi seolah tempat tersebut tidak pernah digunakan.

Dia memang menyimpulkan bahwa tidak ada kegiatan yang tersisa untuk bersih-bersih di rumah. Nyatanya, ada satu ruangan yang belum Halilintar bersihkan. Itu kamarnya sendiri.

Pada dasarnya BoBoiBoy bersaudara memiliki tanggung jawab untuk menjaga kebersihan kamar mereka. Hanya dengan melihat sifat setiap BoBoiBoy, orang-orang bisa menebak kamar mana yang terjaga kerapian dan kebersihannya.

Halilintar sengaja tidak merapikan tumpukan dokumen maupun lembaran kertas di lantai karena memudahkannya untuk menemukan apa yang ia butuhkan nanti. Itu menjadi salah satu dari sekian alasan dia selalu mengunci kamarnya ketika keluar. Halilintar tidak ingin Gempa, Tok Aba maupun penghuni rumah lainnya mengetahui keadaan kamar yang melampaui kapal pecah itu dan merapikan kamar tanpa sepengetahuannya.

Akan menjadi masalah ke depannya nanti saat Halilintar butuh suatu informasi yang ada di salah satu tumpukan dokumen tersebut.

Masih dengan memainkan cutter-nya, Halilintar melihat lemari pakaiannya. Lemari itu merupakan hal lain, biasanya Halilintar merapikan apa yang ada di dalam kotak kayu tersebut. Halilintar tidak sempat merapikan pakaiannya saat ia mendadak pergi ke apartemen Gopal setelah perdebatan antara Blaze dan Gempa.

Menaruh cutter ke tempatnya, remaja yang selalu mengenakan pakaian gelap itu berjalan ke arah lemari. Tumpukan baju yang belum dilipat menyambut ketika Halilintar membukanya. Halilintar asal menaruh baju-baju itu ketika dia sibuk dengan kasus penangkapan KiKi Ta─ anggota kelompok buronan polisi selama hampir 14 tahun, dan masalah pencurian kunci jawaban soal ujian semester.

Halilintar langsung memutuskan. Dia akan merapikan lemari pakaiannya untuk mengalihkan pikirannya ke hal yang lebih positif.

Kebanyakan bermain dengan cutter itu tidak bagus. Jika itu berlanjut, apa yang selalu dibisikan oleh iblis dalam dirinya akan terjadi secara nyata.


The Truth © LiTFa

BoBoiBoy © Animonsta Studios/Monsta

Language : Bahasa Indonesia

Rating : T+

Genre : Family, Mystery

Warning(s) : AU, Typo(s), No Power, No Alien, No Robot, No Pairing, drama about family and friendship, alur maju mundur, press "back" if you don't like this story.


Taufan, Blaze, dan Ice diam memproses informasi yang dikatakan Gempa. Mereka berempat pindah ke gazebo yang tersedia di Taman Pulau Rintis agar lebih nyaman untuk berdiskusi.

Keheningan mereka berempat tidak menghentikan warna langit yang mulai gelap. Taufan lah yang pertama membuka mulutnya.

"Ok, mari kita asumsikan kita mencari kedua Pembunuh itu setelah tahu bagaimana penampilan mereka. Lalu dari mana kita memulai untuk mencari mereka? Tidak ada yang tahu posisi Pembunuh itu."

Gempa menghela napas, "Aku kan tadi sudah bilang…"

"Kak Halilintar selama ini mencari Pembunuh itu," kata Ice melanjutkan kalimat Gempa.

"Si Sialan itu ada di sini?"

"Blaze mulutmu!"

"Apa?"

Gempa menegur cara bicara Blaze. Sudah lama mereka tidak berkomunikasi, mereka hanya melakukannya ketika ada suatu kebutuhan sehingga para BoBoiBoy itu hampir tidak mengenali cara bicara mereka masing-masing.

"Bahkan sebutan untuk sialan masih terlalu bagus untuk para bajingan itu."

"Astaga."

"Aku setuju dengan Kak Blaze untuk hal itu."

"Bahkan Ice juga…"

Taufan yang berinsiatif untuk mencegah perdebatan yang sebentar lagi pecah, bertepuk tangan mengalihkan fokus para saudaranya ke arahnya.

"Mari kita lewati dulu untuk sebutan kedua makhluk itu. Satu hari tidak akan cukup mencari sebutan yang cocok bagi Pembunuh itu. Aku yakin dalam hati kamu setuju Gempa. Kita fokus untuk membantu Hali dulu."

"Mema─ tidak, bukan begitu. Sudahlah."

Gempa menyerah untuk mengeluarkan kekesalannya. Dia memang setuju dengan Blaze tapi rasanya ingin membantah apa yang dikatakan Taufan. Namun, ada hal yang lebih penting dari pada meributkan kata-kata kasar.

BoBoiBoy ketiga itu mengambil napas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan.

"Aku tidak tahu sejak kapan Kak Halilintar mulai mencari Pembunuh itu. Tapi aku mengira itu sejak kita SMP kelas 1 di akhir semester. Semenjak itu, Kak Halilintar selalu pulang malam dan keluar dini hari."

"Aku juga pernah melihat Hali berlari kencang bersama seorang polisi bertubuh besar seperti mengejar seseorang. Kalau tidak salah saat aku sedang jalan malam."

"Kamar Kak Halilintar. Kertas bertumpuk. Di dinding banyak catatan."

"Aku pernah lihat Halilintar dan Ocho membicarakan sesuatu di ruang OSIS."

"Polisi yang bersama Kak Halilintar itu Kak Gopal. Dia bawahan ayah kita dulu. Aku ingat dia sering berkunjung ke rumah yang ada di Kuala Lumpur."

Taufan terlihat terkejut. Penampilan polisi yang dia lihat pada malam itu berbeda dengan polisi yang ada di ingatannya saat kecil.

"Wow… itu berubah dalam beberapa aspek."

Blaze dan Ice sama terkejutnya tapi di hal yang berbeda.

"Kak Gopal ada di sini?"

"Dia kerja di sini?"

Gempa mengangguk pada pertanyaan Blaze dan Ice. "Sepertinya Kak Gopal pindah tugas sebelum kejadian itu. Aku rasa Ayah pernah bilang pada kita."

"Karena terjadi banyak hal, kita melupakan dia. Orangnya mudah di jahili olehku dan Blaze."

Sontak, Ice dan Gempa menatap dua saudara mereka. Mereka ingat Gopal menagis beberapa kali tapi lupa penyebabnya apa. Ternyata itu ulah dua saudara mereka.

"Jadi kenapa dengan Kak Gopal? Kalau Ocho aku yakin dia yang membantu Halilintar untuk mengurus masalah di sekolah."

Blaze menarik topik awal mereka.

"Oh. Kamu ternyata sadar, Blaze," ujar Taufan terkejut.

Selama ini Taufan hanya mengamati para saudaranya tak terkecuali Halilintar. Dia tahu kalau Halilintar yang menyelesaikan semua masalah yang ada di sekolah dengan Ocho sebagai informan sekaligus umpan. Karena itu perundungan yang dialami oleh para BoBoiBoy tidak separah mereka waktu SMP.

Jujur saja, Taufan bisa membantu Halilintar jika dia mau. Dia tahu bahwa Halilintar secara diam-diam sedang menyelesaikan masalah utama mereka semenjak awal BoBoiBoy Kedua itu memasuki akhir kelas 1 SMP.

Namun, siapa yang akan menjaga saudaranya yang lain nanti saat terjadi situasi yang tidak terduga?

Halilintar terlalu sibuk dengan masalah utama, Gempa mecoba keras untuk menjaga hubungan mereka dengan teman masa kecil yang rapuh, Blaze yang terombang-ambing dengan kebenaran yang tidak meyakinkannya, dan Ice yang tidak mendapat kesempatan membantu saudara-saudaranya di tengah kekacauan mereka.

Sisanya, Taufan yang mengamati dan menjaga saudara-saudaranya. Menemani Blaze yang berada di titik terbawah, mengawasi Gempa dan Ice selama berada di sekolah, dan melerai saudara-saudaranya bila terjadi suatu perdebatan. Dia juga akan turun tangan ketika Halilintar sudah terlihat kewalahan pada masalah yang selalu megitari mereka. Entah harus bersyukur atau kecewa, Taufan tidak pernah sekalipun melihat Halilintar dalam situasi tersebut. Hatinya ingin sekali membantu Halilintar tapi Taufan juga khawatir dengan keadaan adik-adiknya.

Jadi, selain melakukan hal tersebut, yang bisa dilakukan Taufan sekarang hanya menjaga senyumannya untuk menghilangkan awan mendung saudara-saudaranya. Meskipun dia juga hampir mencapai batas seperti saudaranya yang lain.

"Aku tidak selalu menutup mata dan telingaku pada dunia luar," kata Blaze dengan nada tersinggung.

Taufan tertawa kecil, "Itu pujian, Blaze."

"Aku yakin Kak Gopal membantu Kak Halilintar untuk mencari pelakunya. Secara Kak Gopal itu polisi meskipun aku tidak tahu dengan kedudukan Kak Gopal saat ini," Gempa menjawab pertanyaan Blaze.

"Sebaliknya, Hali yang membantu Kak Gopal. Aku rasa Kak Gopal minta suatu bantuan dengan imbalan membantu Hali menyelesaikan kasus 10 tahun lalu," Taufan meralat kalimat Gempa dengan yakin.

"Kak Taufan terlihat yakin. Kakak mengetahui sesuatu?" Gempa menatap dengan penuh curiga pada Taufan.

"Seperti yang diharapkan dari Kak Taufan. Kakak benar-benar mengawasi dengan ketat," celetukan Si Bungsu menambah kecurigaan Gempa pada Taufan sedangkan Blaze memasang wajah "bodoh amat".

Taufan yang terpojok berusaha mengalihkan topik dan memberi isyarat pada Ice untuk tidak mengatakan apapun tentang sesuatu yang berhubungan dengan "mengawasi" maupun "mengamati" lewat tatapan mata.

"Jadi maksudmu kita akan menyelesaikan masalah di sisi lain itu bagaimana Gem? Kita harus cepat menyelesaikan diskusi ini sebelum langit benar-benar gelap. Tok Aba akan khawatir mengetahui kita belum pulang ke rumah selarut ini."

Gempa menatap Taufan dan Ice sejenak. Jika ini bukan karena Tok Aba maupun masalah yang ada di depan mereka Gempa akan terus memaksa Taufan dan Ice untuk mengatakan apa yang mereka sembunyikan darinya.

BoBoiBoy tengah itu meghela napas.

"Ke depannya aku akan minta penjelasan Kak Taufan. Ice juga."

"Oke~"

"Kenapa aku juga ikut kena?"

Meninggalkan protesan Ice, Gempa mulai membicarakan rencananya untuk membantu Halilintar.

"Selama ini kan Kak Halilintar yang mengurus masalah-masalah kita di sekolah entah itu yang kita ketahui maupun tidak. Dan seperti perkiraan Blaze tadi, Ocho membantu Kak Haliintar."

"Kita membantu Kak Halilintar menyelesaikan masalah yang ada di sekolah?"

"Jadi kita akan memaksa Ocho untuk memberitahu apa saja masalah yang dihadapi Halilintar saat ini."

"Apa-apaan kata memaksa itu?"

Gempa merasa lega. Dia belum mengatakan inti dari rencana dan saudara-saudaranya sudah mengerti apa yang akan ia bicarakan.

"Aku rasa diskusi ini akan berjalan lebih cepat dari yang diperkirakan."

"Apa kita juga akan meminta bantuan dari mereka?"

Gempa mengangguk pada pertanyaan Ice.

"Aku rasa kenapa para siswa tidak jera untuk mengganggu kita karena tidak ada perlawanan dari kita sendiri."

Taufan, Blaze dan Ice saling menghindari tatapan.

"Tidak ada gunanya meladeni para serangga itu."

"Aku tidak mau tenagaku habis."

"Aku melawannya kok. Kalau mood sih."

Gempa sudah menduga reaksi apa yang akan dikeluarkan ketiga saudaranya tersebut. Dirinya sendiri juga membiarkan para siswa yang merundungnya karena hal itu tidak lebih penting dari prioritas yang lain.

Karena jika mereka menunjukkan reaksi bahkan perlawanan, perundungan itu akan semakin menjadi.

"Kalau kita melawan, gangguan mereka menjadi itu juga tidak ada bedanya jika kita terus mendiamkan mereka. Karena itu Kak Halilintar melindungi kita sehingga perlakuan kasar mereka menurun menjadi serangan verbal dan gangguan fisik kecil paling maksimal," ujar Gempa.

"Itu berbalik ke Kak Halilintar."

Tiga orang itu mengangguk pada pernyataan Ice.

"Terakhir gangguan yang kulihat, mereka menaruh banyak benda tajam yang kecil di laci meja Hali. Sempat aku bersihkan tapi sepertinya ada yang tertinggal. Tangannya di perban esok harinya."

"Ada kejadian seperti itu? Tubuh Kak Halilintar memang sering terluka sampai ada yang meninggalkan bekas. Tapi aku tidak melihat luka itu saat aku mengobatinya."

"Aku rasa itu terjadi sebelum hari itu."

"Kak Taufan ingat siswa yang menaruh benda tajam itu? Aku bisa mendiskusikan hal itu bersama Ocho nanti."

Taufan menggelengkan kepalanya, "Sayangnya aku tidak sempat untuk mengambil foto maupun merekam kejadian itu."

"Ah. Ice, kau merekamnya kan?"

Celetukan Blaze membuat Gempa dan Taufan menatap kedua adiknya itu.

"Um, lebih tepatnya foto. Ada yang lain juga."

"Apa maksud kalian?"

Blaze menampilkan senyum kemenangannya. Sudah lama mereka tidak melihat senyum penuh keyakinan tersebut.

"Seperti yang kau katakan Kak Gem. Tidak hanya diskusi ini yang cepat selesai, masalah di sekolah akan tuntas dalam hitungan hari."

Ice mengangguk pada pernyataan Blaze.

"Kak Halilintar tidak perlu lagi khawatir pada kita dan Ocho akan menangis senang."


"Ocho."

Remaja berambut pirang itu langsung berkeringat dingin. Senyuman bak mataharinya itu kaku.

"Oh, H-Halilintar… kamu sudah sembuh?"

Obrolan basa-basi menunjukkan Ocho tahu alasan Halilintar menemuinya di ruang OSIS saat istirahat berlangsung.

Namun yang diterima Ocho adalah tatapan dingin milik Halilintar seolah mengatakan untuk tidak mengatakan omong kosong.

"Ah… tidak mempan ya.."

Ketua OSIS itu menyerah, "Aku tahu aku berjanji untuk tidak melibatkan mereka tapi…"

Ocho sejenak menatap Halilintar takut. Tatapan memelas tidak berefek pada temannya tersebut. Ocho mengacak rambutnya frustasi.

"Argh! Adik-adikmu itu! Ya ampun!"

Remaja itu akhirnya mengeluarkan kekesalannya. Ocho hampir menangis melihat empat wajah identik itu memojokannya dengan mengelilinginya seakan ia melakukan kesalahan. Hal itu benar-benar menekannya secara mental apalagi ekspresi yang ditunjukannya sama dengan ekspresi dingin milik BoBoiBoy yang ada di depannya saat ini.

"Mereka memaksaku! Kamu tahu apa yang mereka lakukan padaku selain mengelilingku layaknya aku sedang melakukan kejahatan? Mereka menyiksaku. Menyiksaku! Siksaan itu bahkan masih terasa sampai sekarang."

Ocho memeluk tubuhnya sendiri seakan sedang berlindung dari sesuatu.

"Disuap apa kau?"

Tangisan Ocho hampir pecah sekali lagi mendengar kalimat Halilintar seakan tidak peduli padanya.

"Setidaknya pedulikan aku seperti kau peduli pada adikmu! Kau tidak mendengarku tadi? Mereka menyiksaku."

"Siksaan seperti apapun kau tidak akan memberitahu mereka kalau tidak ada hal yang menguntungkanmu."

Ocho menghela napas. Menyerah untuk mendapatkan belas kasihan dari temannya yang pilih kasih memberi kehangatan hatinya tersebut.

"Aku kan sudah bilang dari dulu. Mereka mengetahui apa yang kamu lakukan di sekolah ini. Termasuk dengan dirimu yang melindungi mereka dari para pembully itu. Dan…"

Halilintar menyuruh Ocho untuk melanjutkan kalimatnya lewat tatapan mata.

"Dan mereka memiliki bukti perundungan berupa foto dan video. Bukti itu termasuk orang-orang yang merundung mereka dan kamu sendiri, Halilintar."

Halilintar mendecakan lidah, dia memang memiliki bukti perilaku buruk para pembully itu namun tidak sebanyak milik adik-adiknya. Bukti yang dikumpulkan Halilintar hanya untuk sebatas peringatan dan jika para pelaku perundungan memakai otak mereka, bukti yang hanya merupakan foto itu bisa dimanipulasi.

Kenapa adik-adiknya secara mendadak melakukan ini?

Tanpa perlu waktu lama Halilintar sudah mengetahui penyebabnya. Lebih tepatnya siapa penyebabnya.

"Gempa."

Ocho mengabaikan gumaman Halilintar. Dia mencoba menghilangkan ingatan tentang siksaan yang ia terima dari adik-adik temannya itu. Jika saja Ocho keukeuh merahasiakan masalah apa saja yang Halilintar hadapi, mungkin dia akan mati kehabisan napas karena tertawa.

"Lagian Halilintar, seharusnya kamu bersyukur mereka mulai menunjukkan perlawanan. Bebanmu setidaknya berkurang dari pada sebelumnya."

Sebaliknya, Halilintar malah merasa khawatir lebih dari sebelumnya. Akan lebih baik kalau hanya dia yang menanggungnya tanpa melibatkan adik-adiknya. Halilintar juga tidak meminta bantuan untuk menyelesaikan masalah yang disebabkan dirinya.

"Masalah akan lebih bagus kalau dikerjakan bersama-sama bukan? Apalagi mereka juga terlibat."

"Ini tidak ada kaitannya dengan mereka."

Bukannya mereka mengatakan tidak ingin hidup bersama Pembunuh? Lalu kenapa membantunya?

Ocho terkejut, mau sampai kapan Halilintar menganggap bahwa masalah yang ada merupakan masalah yang harus ia selesaikan sendiri? Padahal masalah-masalah tersebut akan cepat selesai jika orang yang terlibat ikut membantu.

Tunggu, Halilintar tidak menyelesaikan masalah sendirian. Dia meminta bantuan dalam bentuk perintah pada orang lain selain keluarganya. Orang itu pun setidaknya memiliki posisi yang cukup untuk tidak dibantah oleh orang lain.

"Lalu kenapa kamu malah melibatkan orang yang tidak ada kaitannya sama sekali? Karena tidak apa-apa orang itu dalam bahaya selama bukan keluargamu?"

Kalimat itu tanpa sengaja keluar karena kesal. Ocho jelas tahu kenapa Halilintar tidak melibatkan keluarganya. Halilintar tidak benar-benar membahayakannya selama dia membantu menyelesaikan masalah temannya tersebut.

Tatapan tajam yang selalu diterima Ocho melayang dari mata Halilintar. Namun tatapan itu terasa berbeda, ada amarah dalam tatapannya.

Menerima tatapan tersebut dan Halilintar yang terus diam, Ocho menjadi kesal. Seakan apa yang dikatakannya itu benar. Selama dia membantu, Halilintar menganggapnya apa?

Ocho sudah capek dengan tugas sebagai Ketua OSIS. Sebentar lagi dia turun jabatan sehingga banyak yang dipersiapkan sebelum pergantian pengurus. Selain menjadi Ketua OSIS, Ocho juga mengemban tugas sebagai siswa SMA ditambah dia membantu Halilintar menyelesaikan masalah yang ada di sekolah.

"Kau yang menawariku bantuanmu."

Halilintar berbicara setelah lama menutup mulutnya.

"Masalah-masalah itu membantu untuk memenuhi misimu sebagai Ketua OSIS. Ingat?"

Remaja bermata ruby itu menghela napas. Sedangkan Ocho tidak tahu harus berkata apa.

"Aku tanya. Selama kau membantuku apa kau merasa dalam bahaya? Coba sebutkan. Satu saja."

Ocho menundukkan kepalanya, "Maafkan aku."

"Aku bertanya Ocho."

"Itu keluar karena aku kesal melihatmu menanggung semuanya sendirian. Maaf."

"Aku tidak menyuruhmu meminta maaf."

Hening kemudian mendatangi ruang OSIS. Halilintar mendengkus. Ocho masih menundukkan kepalanya, tidak berani melakukan kontak mata.

"Lupakan. Aku juga salah memanfaatkan bantuanmu terus-menerus. Aku akan biarkan mereka. Kalau mereka terluka meskipun hanya goresan, kau menarik mereka dari para pengganggu itu. Aku meminta tolong padamu untuk terakhir kalinya."

Itu merupakan kalimat terpanjang dan tulus yang pernah didengar oleh Ocho.

"Tunggu!"

Halilintar yang akan membuka pintu OSIS berhenti. Menunggu Ocho untuk mengatakan kalimatnya.

"Aku menawari bantuan saat itu adalah murni karena kita adalah teman masa kecil. Bantuan itu juga saling menguntungkan bagiku dan kamu. Tidak ada batas dalam meminta bantuan. Aku akan dengan senang hati membantumu, Halilintar."

"Seperti yang aku bilang. Mengawasi dan menjaga mereka selama mengurus para pengganggu itu adalah permintaan terakhirku untuk meminta tolong. Masalah akan lebih bagus diselesaikan secara bersama-sama kan?"

Halilintar membuka pintu, "Aku mengandalkanmu, Ketua OSIS."

Anehnya, Ocho yang melihat punggung Halilintar keluar dari ruang OSIS terasa jauh. Seakan dia tidak akan pernah bertemu dengan temannya lagi.


Brak!

Gopal secara terburu-buru menutup pintu mobilnya. Seragam polisi yang penuh dengan warna merah tidak ia hiraukan. Dia berlari secepat mungkin ke dalam rumah sakit sambil berusaha menekan pendarahan dari luka orang yang ia bawa.

"Tolong minggir, ada orang yang terluka parah di sini!"

Dokter dan beberapa perawat berlari menghampiri Gopal sambil mendorong tandu. Tanpa intruksi dokter, Gopal langsung menaruh remaja tersebut di tandu darurat.

"Dia sepertinya terkena luka tembakan di sekitar area pinggang," jelas Gopal tanpa menyempatkan dirinya mengambil napas.

"Sepertinya? Kenapa anak semuda ini bisa terkena tembakan?"

Dokter yang langsung merawat luka remaja tersebut bersama perawat lainnya menatap Gopal curiga. Mereka dengan cepat berjalan ke UGD.

Gopal berhenti berlari dan menggaruk kepalanya frustasi. Isi kepalanya berantakan sampai dia tidak bisa mengurutkan apa saja yang terjadi sebelum ia datang ke sini.

"Argh! Aku tidak tahu! Anak itu berlagak tidak terjadi apa-apa dan langsung pingsan dengan darah yang keluar banyak. Anak itu harus selamat, dia saksi penting kami!"

"Baik! Kami akan berusaha menyelamatkannya!"

Dokter itu pergi menyusul para perawat yang sudah masuk ke UGD terlebih dahulu. Gopal bisa melihat anak almarhum mantan atasannya itu diberi bantuan pernapasan.

"Sialan. Apanya yang sampai nanti?"

"Gopal?"

Dengan wajah yang masih kacau, Gopal menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Matanya melebar ketika melihat orang yang ada di depannya. Dadanya mendadak terasa sesak.

"T-Tok Aba…"

[To Be Continued]