Chapter 13

Sekitar seminggu yang lalu…

"Oh, kita bertemu lagi. Sendirian?"

Seorang pedagang yang sedang menjaga kiosnya menyapa Halilintar seolah mereka saling mengenal.

"Siapa Bos?"

Pedagang lain muncul, sepertinya mereka berdua merupakan partner kerja. Orang yang memanggil partnernya "Bos" itu melihat ke arah Halilintar.

"Oh, kita bertemu lagi. Baru pulang sekolah? Kemana adikmu? Biasanya kalian pulang bersama bukan? Kamu mau beli susu lagi?"

Dia juga ikut menyapa bersama dengan rentetan pertanyaan.

Halilintar berasumsi dua pedagang ini mengenal salah dua adiknya. Tidak heran beberapa hari ini Halilintar selalu melihat susu yang tersedia di kulkas. Adik-adiknya pasti membeli susu di kios ini karena rasanya yang sesuai selera mereka.

Memutuskan untuk mengabaikan perihal botol susu, Halilintar mengamati kedua pedagang tersebut sebelum menanggapi sapaan mereka. Rambut yang sepertinya dicat cokelat dan mata bewarna merah. Halilintar merasa tidak asing dengan wajah kedua pedagang tersebut.

Dimana aku pernah melihat mereka?

Halilintar berdehem membenarkan suaranya dan menarik kedua sisi mulutnya. Dia tersenyum senatural dan seceria mungkin. Senyuman itu bahkan tidak pernah dilihat oleh keluarganya sendiri. Otaknya dengan cepat berpikir.

"Dia seharusnya memanggil mereka seperti ini."

"Oh halo Bang. Iya ini baru pulang, adikku pulang duluan tadi. Sayangnya susu di rumah masih ada, mungkin lain kali."

Adik-adiknya pasti akan tercengang melihat akting yang begitu sempurna dan Gopal akan menjadikannya sebuah bahan candaan.

"Ei? Tenggorokanmu kenapa? Suaramu terdengar serak."

Ah. Halilintar lupa bahwa tenggorokannya yang selalu kekeringan itu membuat suaranya terdengar seperti glitch di suatu video.

"Aku sedikit tidak enak badan, hehe."

Halilintar melihat kios susu tersebut. Tinggal beberapa botol hingga dagangan mereka habis.

"Hoo… tidak heran susu buatan Abang sekalian cepat habis, rasanya memang benar-benar enak."

Pedagang yang dipanggil Bos itu tersenyum puas, "Siapa dong yang buat?"

"Saya!"

Tak!

Cangkir yang terbuat dari alumunium itu mendarat tepat di dahi partnernya. Halilintar sejenak bingung mau bereaksi seperti apa.

"Ugh… kukira cangkir itu sudah Bos buang karena aku tidak pernah melihatnya lagi," Pedagang yang terlihat lebih muda itu merintih kesakitan.

"S-sepertinya kalian benar-benar akrab ya…"

"Tentu saja! Kami ini teman sehidup-semati."

"Omong kosong apa yang kau bicarakan?"

Melihat tidak ada petunjuk berarti yang bisa Halilintar dapatkan, remaja itu memutuskan untuk pergi dari kios tersebut. Halilintar berpura-pura melihat jam tangannya.

"Oh! Maaf Abang sekalian. Aku harus pulang, ini sudah terlalu sore."

Kedua pedagang itu berhenti berdebat. Mereka lupa salah satu pelanggan setia mereka masih ada di sana.

"Ah, maafkan kami menahanmu terlalu lama. Cepat pulang sana. Tidak baik membuat keluargamu khawatir."

"Hati-hati pulangnya!"

Masih dengan akting senyum cerianya, Halilintar melambaikan tangan dan pergi dari kios tersebut. Beda apa yang dia ucapkan di mulutnya, Halilintar berjalan menuju kantor polisi. Karena Halilintar menyerahkan masalah yang ada di sekolah kepada adik-adiknya dan Ocho, dia memiliki banyak waktu untuk menyelesaikan kasus yang hampir terbengkalai.

Matahari secara perlahan tenggelam, warna jingga di langit mulai berubah gelap. Sekali lagi Halilintar menatap kedua pedagang tersebut.

Untuk sementara aku akan mengawasi mereka.


The Truth © LiTFa

BoBoiBoy © Monsta

Language : Bahasa Indonesia

Rating : T+

Genre : Family, Mystery

Warning(s) : AU, Typo(s), No Power, No Alien, No Robot, No Pairing, drama about family and friendship, alur maju mundur, press "back" if you don't like this story.


Bel istirahat kedua telah berbunyi. Karena jam yang bertepatan dengan waktu ibadah sholat, istirahat kedua akan berlangsung lebih lama daripada istirahat pertama.

Gempa merapikan mejanya sebelum dia pergi menuju musholah. Tiba-tiba, segerombolan siswa menghampirinya dengan wajah mengintimidasi. Gempa sudah bisa menebak apa yang akan mereka lakukan.

"Oi," siswa yang terlihat sebagai ketua di kelompok itu memanggilnya. Siswa tersebut melakukan gestur "ikuti aku" yang langsung Gempa turuti tanpa banyak bicara.

Dia sudah menduganya.

BoBoiBoy ketiga yang dikelilingi oleh 5 siswa itu berjalan menuju belakang sekolah. Ketua kelompok geng itu menyalakan rokok setelah sampai tujuan. Menghembuskan asap rokok pada Gempa yang membuat remaja itu terbatuk.

"Kau yang melaporkannya kan?" Ketua itu langsung berbicara to the point.

"Melaporkan apa?"

"Jangan berlagak tidak tahu apa-apa. Kau yang melaporkan anak buahku karena menaruh pecahan kaca di kolong meja kakak pembunuhmu itu kan?"

Gempa menggigit bibirnya ketika siswa itu memanggil kakaknya pembunuh. Mereka masih menyebut Halilintar pembunuh ketika kebenarannya tidaklah seperti itu. Namun, Gempa harus menahan niatnya untuk menghajar siswa itu jika ingin rencana yang telah dibuat bersama saudara-saudara dan teman-temannya berhasil.

"Kalian menaruh pecahan kaca di meja Kak Halilintar?" Gempa berusaha membuat wajahnya terkejut.

Ketua geng itu tersenyum tidak percaya, "Kau pintar dalam berakting huh? Sepertinya kau cocok sekali jadi aktor."

Laki-laki yang memiliki wajah boros itu menjatuhkan rokoknya dan menginjaknya hingga mati. Dia menyudutkan Gempa dengan tembok yang ada di belakangnya.

"Atau kau benar-benar tidak tahu?"

Gempa tidak merubah ekspresinya yang seakan tidak tahu apa-apa.

"Pfft, saudara macam apa yang tidak tahu kalau kakaknya sedang diganggu?" celetuk salah satu dari geng tersebut.

"Aku yakin dia juga tidak tahu kalau tangan pembunuh terkena patahan silet."

Amarah terlihat di wajah Gempa ketika kelompok siswa itu mulai tertawa. "Kalian benar-benar menaruh benda-benda tajam itu di kolong meja kakakku?"

Ketua kelompok itu tersenyum sinis, "Apa yang akan kau lakukan kalau memang benar itu ulah kami? Melaporkan pada guru? Ah, kau atau mungkin salah satu saudaramu sudah melakukannya."

Kedua tangan Gempa mengepal kuat. Meskipun dia sudah tahu dari foto yang ditangkap Ice, tetap saja itu membuatnya marah.

"Apa yang dilakukan Kak Halilintar pada kalian? Dia tidak pernah mengganggu kalian!"

"Ups, guys… Wakil Ketua OSIS kita marah," tawa geng itu semakin menjadi.

"Dia memang tidak mengganggu kami tapi, keberadaannya itu merupakan kesalahan. Orang yang telah mengotori kedua tangannya itu tidak pantas berada di sini, bahkan di masyarakat."

"Seolah kalian pantas berada di sini."

Wajah para siswa itu terlihat marah mendengar ucapan Gempa. "Ah, moodku langsung jelek. Adiknya juga menyebalkan seperti si Pembunuh itu."

"Kak Halilintar bukan pembunuh!"

"Ya, ya. Mana ada maling mengaku maling," Ketua geng memutar lengannya dan melemaskan pergelangan tangannya. "Kalian pegang anak itu. Biar kuberi pelajaran agar dia sadar posisinya. Mentang-mentang kau Wakil Ketua OSIS, kau berani melawanku huh?"

Gempa memberontak ketika tubuhnya ditahan oleh dua siswa meskipun percuma karena dia sendirian. Belum lagi dengan dinding yang menghalangi ruang geraknya.

"Aku tidak peduli kau yang melaporkannya atau bukan. Melakukan ini mungkin hanya penambahan skors. Yah… ini lebih bagus dari pada melihat reaksi membosankan dari pembunuh itu."

"Jadi kalian benar yang menaruh benda-benda tajam itu?" Gempa tidak menyerah memastikan pelaku yang menaruh benda tajam di kolong meja kakaknya.

"Masih saja tanya, kemana otakmu itu ditaruh? Tentu saja kami yang menaruhnya. Dia membuat masalah dengan mengambil gambar saat kami "bersantai" di sini."

Gempa tersenyum. Hal itu membuat kesal si Ketua geng dan melancarkan tinjunya. Namun, tangannya berhenti ketika mendengar teriakan.

"Apa yang kalian lakukan! Saya memanggil kalian untuk segera intropeksi diri malah mendapat kabar seperti ini."

Itu adalah teriakan guru BK yang berlari menuju para siswa tersebut bersama Ocho. Dua siswa yang menahan Gempa langsung melepas pegangan mereka. Ketua geng itu mendecih, melirik Gempa yang tersenyum tanpa tahu alasannya.

"Sepertinya Ibu salah paham. Kami sedang bermain bersama dengannya," Ketua geng itu membela diri.

"Mana ada, jelas-jelas dia mau memukul adik saya tadi. Kalau tidak percaya saya punya buktinya."

Kelompok siswa itu terkejut melihat Taufan dan Blaze muncul dari balik pohon yang memiliki batang besar.

"Apa— bagaimana? Kami yakin tidak ada orang di sana."

Taufan mengangkat bahunya, "Entah. Coba pikirkan otakmu yang tidak pernah dipakai itu."

"Apa yang dikatakan Taufan benar?" tanya guru BK memastikan.

Blaze tanpa basa-basi langsung menunjukkan foto dan video yang ia rekam bersama Taufan tadi. "Kami berdua sedang makan di sini dan melihat Kak Gempa ke sini bersama mereka dan menyudutkannya tentang laporan atau apapun itu," jelas Blaze.

Guru BK tidak percaya apa yang baru saja ia lihat di video tersebut. Di sana bahkan ada salah satu siswa yang merokok dimana hal tersebut dilarang oleh sekolah.

"K-kalian berenam… ke ruang BK sekarang dan panggil orangtua kalian besok!"

Taufan, Gempa, dan Blaze melakukan high-five setelah melihat kelompok geng itu berjalan menuju ruang BK bersama guru. Gempa memberi senyuman dan memberi tanda peace ketika Ketua geng menatapnya tajam.

Di sisi lain, Ocho mengeluarkan napas lega. Dia berhasil tepat waktu sebelum adik temannya itu terkena pukulan yang entah bagaimana nasibnya nanti jika hal itu benar-benar terjadi.

Peringatan dan teror kemudian diakhiri oleh eksekusi. Itu rencana Gempa yang diberitahukan kepada mereka bertujuh. Sepertinya berjalan dengan baik.


"Rumor?"

Halilintar mengangguk sambil melihat susunan botol susu kambing yang tertata rapi di kios tersebut.

"Rumor apa? Kami berada di sini masih sekitar 5 tahunan dan tidak terlalu mengikuti berita karena tidak memiliki TV dan HP."

Salah satu alis Halilintar terangkat. Heran ketika mendengar kedua pedagang tersebut tidak memliki dua benda yang paling penting di jaman serba teknologi ini.

"Itu lho… pembunuh yang membunuh orangtuanya 10 tahun lalu di Kuala Lumpur. Kudengar dia pindah dan tinggal di sini. Seingatku dia berumur 7 tahun saat melakukan hal itu."

"Benarkah?"

Halilintar mengangkat bahunya pada pertanyaan Si Bos. "Aku hanya mendengarnya. Salah satu adiknya juga ikut kena imbasnya meskipun tidak sampai terbunuh. Waktu itu sangat ramai lho, bahkan sampai masuk koran. Masa Abang pada gak tahu?"

Partner Bos itu tiba-tiba berseru seolah ingat sesuatu. "Bos, Bos! Yang itu lho… kita pernah membacanya di koran!"

Si Bos menunjukkan wajah seakan mengerti dengan topik yang dimaksud, "Oh~ yang… koran yang mana?"

Partner Bos menepuk dahinya sedangkan Halilintar hanya membuang napas. Jujur, berakting seperti Taufan itu menghabiskan energinya secara drastis. Baterai dalam tubuhnya menjerit memberi peringatan untuk segera melakukan isi daya dan perkembangan dalam mencari petunjuk terlalu lambat.

Si Bos melemparkan cangkir alumuniumnya ketika mendengar decakan lidah dari partnernya. Ini kedua kalinya Halilintar melihat adegan lempar cangkir tersebut, dia heran sudah berapa kali cangkir itu "terbang" sampai bentuknya sudah tak dikenali jika tidak melihat pegangan cangkir tersebut.

"Itu lho, koran bekas bungkus gorengan waktu itu Bos. Saat kita baru tiba di sini!" terlihat wajah geregetan yang ingin menggigit kepala Si Bos namun tidak bisa dari Si Partner. Dia mengusap dahinya yang mulai memerah.

"Ah!"

"Jangan bilang tidak ingat."

Tang!

Dahi Si Partner kembali dicium cangkir. Halilintar sudah mulai lelah dengan percakapan dua pedagang tersebut. Jadi dia mulai memilih botol susu yang akan dibelinya agar cepat lekas pulang.

"Polisi dan istrinya yang terbunuh itu kan? Aku turut berduka cita pada anak-anaknya yang ditinggalkan oleh mereka. Tapi aku rasa ada motif tersendiri bagi mereka— pelaku untuk melakukan itu meskipun tahu salah."

Gerakan tangan Halilintar berhenti sejenak. Kalimat Si Bos terasa janggal baginya.

"Seingatku juga, anak yang dianggap pembunuh itu bukan pelakunya. Satu-satunya bukti cuma pisau yang dipegang Si Anak," tambah Si Partner.

"Ya, hal itu yang menyebabkan Si Anak dianggap sebagai pembunuh karena ada sidik jarinya di pisau. Orang-orang juga terlanjur percaya kalau anak kecil itu pembunuhnya, terlebih lagi media menuliskan Si Anak pembunuh yang membunuh kedua orangtuanya," senyum pahit Halilintar tidak disadari oleh kedua pedagang tersebut.

"Aku merasa kasihan pada mereka, semoga para pelaku segera tertangkap dan membayar apa yang telah mereka lakukan."

"Karena itu mereka menjadi buronan sampai sekarang. Entah akan bertahan berapa lama."

Halilintar akhirnya mengambil susu berasa mocca yang merupakan susu dengan rasa terbaru di kios tersebut. Dia berharap rasanya tidak terlalu manis mengingat mocca masuk dalam kategori kopi susu.

"Aku akan membeli ini Bang," Halilintar memberi uang sesuai dengan harga susu yang dijual.

Si Bos menerima uang dengan senang hati, mengucapkan terima kasih dan mengatakan agar Halilintar untuk sering berkunjung membeli susu yang dibalas dengan senyuman canggung. Si Partner menambahkan bahwa menyenangkan berbincang dengan Halilintar karena tidak banyak orang yang mengajak mereka berbasa-basi.

Halilintar berniat untuk pergi dari kios tersebut hingga ia teringat sesuatu.

"Um, Abang-Abang?"

"Ya?"

"Apa?"

Kedua pedagang itu menjawab secara bersamaan.

"Aku kan sering ke sini, kita juga sudah lama jadi teman bicara. Tapi…"

"Tapi?"

Halilintar mengusap lehernya. Menampilkan keraguan yang ada dalam dirinya.

"Aku tidak tahu nama Abang sekalian. Kan gak enak aku panggil kalian Abang semua, jadi susah membedakan nanti."

Kedua pedagang itu ber-"oh" ria. Mereka juga baru sadar bahwa selama ini mereka berbincang tanpa tahu nama masing-masing.

"Kamu benar, akan menjadi canggung memanggilmu dengan panggilan "kamu" terus. Aku Probe dan Bosku yang hobinya melempar cangkir ini biasa dipanggil Adu Du."

"Siapa yang kau sebut punya hobi melempar cangkir hah?"

Si Bos— Adu Du, melempar (lagi) cangkir andalannya. Cangkir itu dengan mulus mendarat di kepala Probe dengan bunyi khas kaleng besi. Wajahnya tersenyum seakan membuktikan perkataannya benar.

Halilintar mengangguk mengerti, kembali menampilkan senyuman aneh melihat interaksi kedua orang tersebut.

"Kalian benar-benar akrab ya. Ah, meskipun terlambat, Bang Adu Du dan Abang Probe bisa memanggilku Petir."

"Sudah kubilang kami ini teman sehidup-semati."

"Dan sudah berapa kali kubilang, omong kosong apa yang kamu ucapkan itu?!"

Halilintar sudah lelah menarik kedua sudut mulutnya jadi dia hanya mengangguk sebagai respon. Remaja yang mengenakan jaket hitam dengan petir merah sebagai motif itu akhirnya berpamitan pada Adu Du dan Probe.

BoBoiBoy pertama itu langsung menghentikan akting yang menguras sebagian besar tenaganya setelah dirasa sudah jauh dari kios susu kambing tersebut.

Adu Du dan Probe ya…


"Hmm…"

Alis Blaze saling bertautan. Itu bukanlah suatu hal yang aneh mengingat dia selalu mengerutkan keningnya semenjak BoBoiBoy bersaudara memasuki kelas 3 SMP.

Tapi gumaman yang lolos dari mulut BoBoiBoy keempat itu berhasil menarik perhatian Taufan. Mereka berdua sedang bersantai di ruang tengah sambil menunggu saudara lainnya pulang sekolah.

"Ada apa Blaze?"

Pertanyaan Taufan berhasil membuat Blaze keluar dari dunia lamunannya.

"Apanya yang ada apa?" Blaze kembali bertanya.

"Kedua alismu bergandengan dan kamu mulai bergumam. Apa yang kamu pikirkan?"

Blaze mendengkus, mengacak-acak rambutnya seolah-olah sedang melepas isi kepalanya yang rumit.

"Kakak ingat dengan ciri-ciri dua pembunuh yang disebutkan Kak Gempa?"

Taufan mengangguk pada pertanyaan adiknya, dia ingat dengan jelas ciri-ciri pelaku yang membunuh kedua orangtuanya.

"Mereka berdua bermata merah, yang satu bertubuh pendek dengan bentuk wajah kotak dan berambut hijau. Sedangkan satunya lagi bertubuh tinggi berambut ungu. Itu identifikasi yang lumayan jelas mengingat kondisi kepala Gempa terbentur begitu keras sampai penglihatannya terganggu," jelas Taufan.

"Aku tiba-tiba teringat dengan penjual susu kambing."

"Kenapa dengan dua orang itu?"

"Ciri-cirinya sama dengan mereka."

"Tapi rambut mereka bewarna cokelat…?"

"Lupakan warna rambut, mereka bisa menyembunyikannya dengan cat. Tinggi badan, bentuk wajah, dan warna mata sama dengan ciri-cirinya."

Taufan mencoba mengingat wajah kedua pedagang susu yang kini menjadi langganannya. Dia tertawa tidak percaya setelah mecocokkan kedua pedagang itu dengan ciri-ciri milik Gempa dalam kepalanya.

"Bagaimana?"

"Tidak mungkin kan…?"

[To Be Continued]