"Pelan-pelan Kak!"
BoBoiBoy Gempa, anak tengah dari BoBoiBoy bersaudara itu hampir terjatuh ketika dirinya ditarik oleh BoBoiBoy kedua secara tiba-tiba ketika bel pulang sekolah baru saja berbunyi.
Kedua adik bungsu mereka telah disuruh pulang terlebih dahulu oleh Taufan mengingat Tok Aba sedikit kewalahan mengurus tokonya dan mengatakan akan menyusul setelah memastikan beberapa hal.
"Kak... huft... isti— huft... istirahat dulu!"
Taufan menghentikan larinya kemudian melepaskan tangannya yang memegang tangan Gempa. Cengiran Taufan tampilkan seraya meminta maaf, melupakan bahwa stamina adiknya tidak sama dengan dirinya.
"Apa yang membuat Kakak terburu-buru? Aku bahkan belum bilang pada Ocho karena tidak bisa membantunya membereskan laporan."
"Aku ingin kamu memastikan sesuatu."
Gempa mengangguk pada kalimat Taufan. Kakaknya itu telah bilang saat lari tadi.
"Apa yang mau dipastikan?" tanya Gempa setelah berhasil mengatur napasnya. Dia dan Taufan memilih berjalan sedikit cepat karena hal tersebut terlihat mendesak.
"Ciri-ciri pelaku yang kamu sebutkan dulu.
Gempa menghentikan langkahnya. Masih belum lama sejak dia memberitahu penampilan pelaku yang membunuh kedua orangtua mereka.
"Jika itu sesuai dengan apa yang Blaze dan aku pikirkan, kita bisa segera memberitahu Hali. Lagian masalah di sekolah sebentar lagi selesai berkat bantuan teman-teman."
"Kalau begitu cepat tunjukkan jalannya Kak! Jangan berjalan lambat seperti itu!"
Taufan menyimpan rasa kesal di hatinya dengan senyuman, "Karena itu aku menarikmu tadi."
The Truth © LiTFa
BoBoiBoy © Monsta
Language : Bahasa Indonesia
Rating : T
Genre : Family, Mystery
Warning(s) : AU, Typo(s), No Power, No Alien, No Robot, No Pairing, drama about family and friendship, alur maju mundur, press back if you dont like this story. You know DLDR right?
"Kak Gempa sedang mengancam mereka kan?"
Celetukan Ice yang sedang mencuci cangkir membuat Blaze menghentikan kegiatan membersihkan meja toko. Kakek mereka sudah pulang ke rumah setelah "diusir" oleh si Duo Api-Air tersebut. Mereka menawarkan diri membereskan toko yang sudah memasuki jam tutup sambil menunggu saudara yang lain pulang dari sekolah.
"Masalah yang ada di sekolah?"
Ice mengangguk tidak peduli apakah Blaze melihatnya atau tidak. Posisi mereka tidak terlalu jauh sehingga masih dalam jarak pandangan masing-masing.
Blaze mencoba mengingat apa saja yang mereka dan teman-teman mereka lakukan ke para pembully untuk menghentikan berbagai gangguan yang telah dilayangkan.
Mengikuti rencana kakak ketiga mereka— Gempa, mereka memberi peringatan entah itu melalui HP maupun surat. Hal itu dilakukan oleh Fang, Yaya, dan Ying mengingat betapa banyak teman mereka di sekolah yang secara langsung menunjukkan bahwa mereka memiliki nomor telepon beberapa pembully. Karena Ocho masih sibuk dengan OSIS yang sebentar lagi melakukan pergantian pengurus, dia ditugaskan untuk memanggil guru yang mana pun itu ketika si Pembully mulai memberontak.
Terlihat mudah memang, tapi Ocho harus selalu bersiap siaga. Dia tidak mau terkena amukan si BoBoiBoy Sulung mengetahui adik-adiknya terluka saat menyelesaikan masalah pembullyan mereka.
Setelah memberi peringatan, kebanyakan pelaku yang hanya membully secara verbal akan ciut menerima peringatan dari orang tidak dikenal. Tapi akan berbeda dengan pembully yang pada dasarnya adalah siswa berjiwa preman.
Mereka akan memberontak seperti kejadian yang tertimpa Gempa kemarin. Tidak berhenti setelah diberi peringatan bahkan teror semacam bukti-bukti mereka melakukan hal yang melanggar aturan dan moral, melapor pada guru menjadi hal yang terakhir. Ice yang dikenal pendiam hingga tidak bereaksi pada pembullyan membuat para siswa berpikir dia bukan ancaman, melapor pada guru.
Sisanya, seperti yang mereka prediksi. Gempa hampir dihajar karena pembully berpikir dia yang melapor mengingat jabatan yang dipegangnya mengetahui secara langsung masalah-masalah di sekolah. Beruntungnya Ocho datang tepat waktu bersama guru BK.
Kebanyakan para pembully berhenti ketika mereka sudah memasuki tahap teror karena takut jika perbuatan mereka diketahui oleh khalayak umum melalui media sosial dan berujung dilihat orangtua mereka. Meskipun tidak sedikit dari para pembully melakukan hal yang sama dengan siswa yang memanggil Gempa.
"Bagian mana yang masuk dalam ancaman?" Blaze bertanya setelah tidak menemukan jawaban untuk adiknya.
"Bukti yang ditunjukan untuk para pembully dan peringatan akan mengirim semua perbuatan mereka di media sosial dan orangtua mereka. Itu masuk ancaman kan?"
Blaze mendengkus, dia melanjutkan membersihkan meja dan mulai menaruh kursi toko di meja secara terbalik.
"Itu tidak bisa dibandingkan dengan perbuatan mereka pada kita. Apa salahnya dengan menyebar kelakuan mereka di dunia internet? Mereka akan merasakan apa yang kita rasakan melalui jari-jari netizen."
Ice diam. Hatinya ingin setuju dengan ucapan Blaze tapi otaknya menolak karena mengetahui hal itu salah.
"Aku tahu itu salah Ice, Kak Gempa sudah memperkirakan semua sebelum memberitahu rencananya. Kamu terlalu baik pada mereka yang telah menyakiti kita.
Blaze mengambil duduk di counter toko, menunggu adiknya yang kini dengan hati-hati mengeringkan cangkir menggunakan kain lap.
"Aku takut kita melakukan ini tidak ada bedanya dengan perbuatan mereka.
Setidaknya kita melakukan ini untuk pembelaan diri bukan demi kesenangan tersendiri," nada kesal terdengar dari mulut Blaze.
Mereka berdua pun terjebak dalam keheningan sesaat sampai Ice mulai menanyakan hal lain.
"Apa yang ingin dipastikan Kak Taufan sampai terlihat terburu-buru bersama Kak Gempa?"
Blaze jadi teringat dengan percakapan antara dirinya dan Taufan kemarin. Mengabaikan kekesalannya tadi, suara Blaze terdengar senang.
"Kami menemukan orang yang kira-kira cocok dengan pembunuh orangtua kita."
Gopal kesal. Ingin rasanya dia memukul setir mobil untuk melampiaskan kekesalannya namun ia urungkan karena mengingat biaya perbaikan jika setir pengemudi itu rusak. Mana mobil milik kantor lagi.
Pria besar keturunan India itu melirik remaja yang merupakan sumber kekesalannya. Mata remaja itu tertuju pada sebuah kios, mengabaikan tatapan kesal yang ditunjukan secara jelas.
"Jadi? Ada apa dengan dua orang itu sampai-sampai menyuruhku tidak memakai seragam kemarin?"
Remaja itu diam. Terlihat dengan jelas di wajahnya begitu fokus pada dua orang penjual susu kambing yang baru-baru ini beroperasi dengan earphone menutupi kedua telinganya. Ini sudah terjadi semenjak mereka sampai di sini dengan mobil yang digunakan untuk penyamaran oleh polisi.
Gopal menyalurkan rasa kesalnya dengan mencengkram gelas kertas bekas kopi yang ia beli tadi. Percuma menanyakan pada remaja menyebalkan yang ada di sampingnya ini jika dia sudah mengunci mulutnya.
Gopal merasa kagum pada dirinya yang bisa bertahan pada orang pelit bicara macam remaja yang sedang bersamanya ini.
"Hali—"
"Petir."
Halilintar remaja yang selalu membantu tim dan dirinya dalam beberapa kasus itu meralat panggilan namanya.
"Petir? Tidak ada yang lain di sini. Kita juga tidak sedang bekerja...?"
Gopal melihat bolak-balik antara dua pedagang dan Halilintar. Otaknya memunculkan kemungkinan kenapa Halilintar mengajaknya ke sini— beberapa meter dari kios baru itu dan diam hampir dua jam tanpa ada pergerakan apapun.
Halilintar selalu membantu kepolisian menyelesaikan kasus jika itu berhubungan dengan petunjuk pelaku pembunuhan kedua orangtuanya. Selain itu, Halilintar menolak kasus lain dan beralasan bahwa itu tugas polisi untuk menyelesaikannya.
Halilintar berperilaku seolah kasus yang selama ini dia selesaikan bukan salah satu dari tugas dari kepolisian tersebut.
Jadi Gopal menyimpulkan, kedua pedagang itu mungkin ada hubungannya dengan kedua pelaku yang sepuluh tahun tidak kunjung ditemukan.
"Mereka ada hubungannya?"
"..."
Gopal mendengkus, "Aku anggap mereka terkait dengan pelaku yang kita kamu cari. Apa yang sedang kita lakukan sekarang?"
"Mengawasi."
Kekesalan yang hampir mencapai di ubun-ubun Gopal tahan dengan menggertakan gigi. Hatinya mengingatkan bahwa dia sedang berhadapan dengan remaja yang dalam masa puber.
"Iya aku tahu selain mengawasi kita ngapain? Dua jam mengawasi tidak ada pergerakan yang berarti," kata Gopal gemas dengan kalimat Halilintar yang super pendek.
Halilintar mengalihkan pandangannya dari kedua pedagang yang ia dekati beberapa hari itu. Mata merahnya yang tajam menatap Gopal, lelah dengan orang dewasa di sampingnya ini tidak kunjung berhenti berbicara.
Tangannya melepas salah satu earphone yang terpasang di telinganya, "Aku sedang mendengar mereka."
"Apanya? Memangnya suara mereka di jarak sejau— tunggu."
Gopal menunjuk earphone Halilintar, "Kamu menyadap mereka?"
Remaja yang menutupi seragam sekolahnya dengan jaket itu diam. Wajahnya menunjukkan kenapa menanyakan pertanyaan yang begitu jelas.
"Hentikan tatapanmu itu! Mana aku tahu kamu sedang mendengar pembicaraan mereka lewat penyadap suara dan itu masuk tindakan kriminal!"
"Apanya?"
Gopal menarik rambutnya frustasi, "Itu pelanggaran hak privasi!"
"Aman jika tidak ada yang tahu."
"Kamu tidak lupa aku polisi kan?"
Halilintar mendecakkan lidah. Semua orang tahu bahwa apa yang dia lakukan itu salah tapi intuisi Halilintar mengatakan ada sesuatu yang mencurigakan dengan pedagang susu kambing tersebut. Karena itu, Halilintar memasang alat penyadap suara kecil di sudut tempat susu diletakkan untuk memastikan kecurigaannya.
Helaan napas Gopal terdengar kasar, "Kalau sampai mengambil tindakan seperti ini, apa mereka benar-benar ada hubungannya dengan para pelaku itu?"
"Dugaan."
"Ap—!"
[Bos, aku merasa pernah melihat Petir sebelumnya.]
Tangan Halilintar menutup mulut Gopal yang akan mengamuk ketika namanya disebut oleh salah satu pedagang susu itu.
[Tentu saja pernah, dia kan pelanggan kita baru-baru ini.]
[Ish, bukan itu! Dia seperti anak kecil waktu itu. Apalagi mata merahnya yang tajam…]
Gopal yang melihat Halilintar kembali fokus pada earphone dengan tatapan tajam tahu bahwa target mereka tengah berbicara yang mungkin akan menjadi petunjuk. Polisi itu mengambil salah satu earphone Halilintar yang belum dipasang kembali.
[Petir juga bilang "anak itu" pindah ke sini bukan?]
Mereka berdua menajamkan telinga dengan mata tertuju pada target. Tidak ingin petunjuk sekecil apapun terlewat.
Si Bos Adu Du memegang dagu, memikirkan ucapan rekan kerjanya. Kemungkinan untuk bertemu dengan anak yang dimaksud Probe memang ada melihat wilayah yang mereka tempati ini termasuk kecil.
Kejadian itu sudah sepuluh tahun lalu dan dia hampir tidak bisa mengingat bagaimana rupa sang Anak kecuali mata merah layaknya darah di ruang gelap tersebut.
Adu Du mengacak rambutnya, melempar cangkir tak terbentuknya ke Probe, melampiaskan kekesalan hatinya karena mengungkit kejadian itu. Dia menolak rasa bersalahnya yang muncul setelah beberapa bulan menggeluti dirinya pasca tragedi itu terjadi.
Itu bukan salahnya. Ataupun salah si Partner. Itu salah pimpinan orang-orang itu karena tidak mengerjakan tugas mereka dengan benar.
"Lupakan tentang itu Probe dan jangan pernah mengungkitnya lagi di depanku."
Probe diam, tangannya mengusap dahi yang kini memerah berkat cangkir kesayangan Bosnya. Ada penyesalan dalam hatinya mengetahui kesalahan besar yang mereka perbuat.
Itu terjadi di luar rencana mereka.
"Tapi Bos"
Adu Du mendecakkan lidah. Probe sudah membahas tentang ini beberapa kali dan Adu Du selalu menghindar dengan lemparan cangkir atau marah jika hal itu dibahas. Ancaman tidak bekerja pada Probe yang terlalu keras kepala untuk menurut.
"Diamlah Probe," wajah Adu Du terlihat jelas terganggu.
"Ada yang berbeda dengan Petir.
Kali ini Adu Du terlihat tertarik dengan sedikit perubahan topik. Mereka tahu bahwa Petir memiliki kembaran tapi mereka tidak tahu pasti berapa saudara kembar Petir mengingat kembar itu tidak selalu dua orang.
"Apanya?"
Probe berpikir, memilih kata-kata yang tidak terlalu memutar. "Salah satu dari dua anak yang memilki wajah mirip Petir itu, seingatku sifatnya lebih pendiam dan wajahnya terlihat judes."
"Bukannya wajah Petir memang seperti itu? Aku rasa karena saat itu dia ditemani oleh saudaranya dan tidak sempat berbicara dengan kita jadi terlihat seperti itu."
Probe setengah setuju dengan kalimat Adu Du, "Tapi matanya lebih gelap daripada biasanya. Topi dan jaket yang biasa dipakai juga beda."
Mata merah Adu Du berputar, berpikir kenapa partnernya ini begitu menyebalkan hari ini. "Terserah dia mau pakai apapun, Probe. Memangnya orang hanya memakai satu setelan pakaian setiap harinya?"
Probe mencoba percaya dengan ucapan Adu Du meskipun wajah khawatir tidak hilang. Dia menghela napas sebelum menggelengkan kepalanya, "Mungkin seperti itu, ah."
Mata merah Probe melihat dua siswa bertopi dengan posisi topi berbeda menghampiri kios mereka. Salah satu dari siswa itu adalah anak ceria easy-going layaknya badai angin yang selalu membeli susu kambing mereka, wajah yang mirip Petir. Singkatnya dia salah satu pelanggan setia mereka.
Siswa yang berjalan di sampingnya sepertinya berbeda dengan siswa yang biasanya bersama dengan anak itu. Wajah dua anak itu mirip tapi tidak dengan warna mata dan suasana yang ada di diri mereka.
"Ho? Itu saudaranya yang lain? Berapa saudara yang mereka miliki?" Probe setuju dengan gumaman Adu Du. Mereka terlalu lama menutup diri hingga tidak mengetahui betapa terkenalnya siswa kembar yang ada di hadapan mereka.
Kedua siswa itu menyapa mereka, berbasa-basi di sore hari dan menanyakan apa yang baru dari dagangan mereka. Siswa yang kelewatan ceria itu seperti biasa mengajak mereka bicara dan siswa lainnya menatap dua pedagang dengan intens. Seolah sedang mengamati mereka.
Mengabaikan rasa tidak nyaman yang menghampiri mereka, Probe mulai bertanya memastikan sesuatu.
"Ngomong-ngomong, Dik."
"Ya Bang?"
Senyuman ceria menyilaukan mata mereka. Ini anak SMA kan?
"Kalian bersaudara kan?"
Siswa bertopi biru miring itu mengangguk. Senyuman masih terpasang di wajahnya.
"Iya! Ini adik pertamaku. Dia baru pertama kali kuajak di sini, yang biasanya itu adik kedua."
"Ada berapa banyak saudaramu?" Adu Du bertanya.
"Hmmm," siswa itu bergumam sambil melihat botol-botol susu yang berbaris di meja kios tersebut. "Empat, bisa dibilang kami lima bersaudara. Hehe..."
Adu Du dan Probe mengangguk paham, "Berarti Petir itu adik keduamu?"
Kedua siswa itu bingung pada pertanyaan Probe, mereka saling bertukar pandang. "Petir?"
Adu Du mengangguk, "Iya, dia beberapa hari ini sering beli susu kambing kami. Anaknya ramah dan murah senyum sepertimu sampai tanpa kami sadari sudah akrab dengannya."
Sudah lama Taufan dan Gempa tidak mendengar nama yang biasa disebut saat mereka kecil. Itu adalah nama panggilan sayang yang digunakan ibu BoBoiBoy bersaudara.
Angin untuk Taufan yang ceria dan tidak mau diam layaknya angin ribut. Dia selalu menaikan mood di antara saudara-saudaranya.
Tanah untuk Gempa yang memiliki sifat tanggung jawab dan menjadi pondasi hubungan para saudara kembar. Itu seperti fungsi tanah yang begitu penting bagi pertumbuhan beberapa makhluk hidup khususnya tumbuhan.
Api untuk Blaze yang memiliki semangat kobaran api. Tenaganya yang besar itu terkadang membuat para saudaranya kelelahan hanya dengan melihatnya.
Air untuk Ice yang mengikuti situasi di sekitarnya seperti aliran sungai. Ice terkadang membuat orang-orang ikut terseret dalam "arus"nya jika hal itu dibutuhkan tak terkecuali saudaranya. Menyeret mereka untuk tidur bersama misalnya.
Kemudian, Petir untuk si Sulung Halilintar yang selalu bergerak cepat untuk melindungi adik-adiknya persis seperti kilatan petir.
Nama-nama itu merupakan nama kecil mereka yang tertimbun seiring berjalannya waktu dalam ingatan mereka. Mereka tidak lupa, hanya tidak ingin untuk memunculkan ingatan yang akan membuat rindu sosok kedua orangtua mereka semakin menjadi.
Tapi, apakah ada orang yang bernama Petir selain kakak mereka di wilayah kecil ini? "Petir" yang disebutkan oleh pedagang susu itu berbeda dengan "Petir" yang mereka kenal.
Si Sulung itu tidak murah senyum maupun ramah kepada orang asing. Di antara lima bersaudara, hanya dua BoBoiBoy yang tidak lelah untuk menarik kedua sisi mulut mereka— Taufan dan Gempa.
"Abang gak salah mengenali dia sebagai saudara kami kan?" Taufan bertanya memastikan.
"Mana ada, wajahnya sangat mirip dengan kalian. Awalnya kami mengira itu dirimu karena senyumnya itu," si Bos menjawab didukung dengan anggukan partnernya.
"Lalu kami menyimpulkan itu adikmu karena dia berbicara seakan mengenal kami."
Kembali Taufan dan Gempa saling bertatapan, "Eum... bisa jelaskan secara detail bagaimana rupa anak yang bernama Petir ini?"
BoBoiBoy ketiga itu akhirnya membuka mulut. Kedua pedagang itu menjelaskan secara terperinci meskipun wajah si Bos terlihat kesal. Kakak-adik itu terkejut ketika ciri-cirinya sama persis dengan ciri-ciri kakak sulung mereka.
Taufan, dengan senyum cerianya namun canggung berkata, "S-sepertinya itu saudara tertua kami. Ah, kami akan membeli dua botol ini."
Partner si Bos menerima uang dari Taufan dan memberi dua botol susu yang telah dibungkus oleh kantong plastik. "Dia saudara kalian, kenapa seperti tidak mengenalnya?"
Taufan dan Gempa tersentak kecil, saling menampilkan senyum tipisnya sebagai jawaban mereka. Si Sulung menggunakan nama kecilnya pasti ada alasan tertentu. Bukan pilihan yang bagus jika memberitahu kedua pedagang itu nama asli kakak mereka ketika orangnya sendiri tidak menyebutkannya.
"Ngomong-ngomong Bang," Taufan memilih untuk mengganti topik.
"Apa?" si Bos membalas tanpa memikirkan jawaban tidak memuaskan dari kedua saudara tersebut.
"Aku penasaran apa Abang sekalian pernah tinggal di Ibu Kota?"
Sesaat kedua pedagang itu terdiam, topiknya berganti jauh sekali. "Kenapa kamu menanyakan itu tiba-tiba?"
Suasana tiba-tiba terasa sedikit mencekam ketika si Bos menatap mereka curiga. Taufan mengibaskan kedua tangannya dan menaikkan suasana tersebut dengan suara ringannya.
"Tidak, aku hanya penasaran karena sepertinya pernah meli—"
"Sedang apa kalian di sini?"
Ucapan Taufan terpotong oleh suara rendah yang familiar di telinga mereka berempat. Meskipun itu terasa sedikit berbeda dengan yang didengar oleh kedua pedagang tersebut.
"Oh, Petir! Ke sini menjemput saudaramu?" partner kerja si Bos memecahkan keheningan yang terjadi selama beberapa detik karena kemunculan saudara pelanggan mereka.
"Ck, si Bodoh itu!"
Halilintar melepas earphone dengan kasar dan keluar dari mobil tidak memedulikan teriakan Gopal. Halilintar tahu hal ini kemungkinan akan terjadi ketika ingatan adik keduanya— Gempa pulih. Dia juga tahu larangan dalam bentuk apapun tidak akan mempan pada adiknya itu jika sudah memutuskan sesuatu.
Seperti penyelesaian masalah di sekolah misalnya. Halilintar yakin itu ide Gempa yang menguatkan niat saudaranya yang lain setelah memberitahu kebenaran kejadian di hari itu.
Berjalan seolah pergi dari suatu tempat, Halilintar menghampiri kios tersebut.
"Sedang apa kalian di sini?"
Halilintar nyaris tidak dapat mengendalikan nada suaranya yang dingin. Hampir saja amarahnya meledak karena munculnya kedua adiknya mengganggu proses kasus yang sedang ia garap.
Wajah terkejut milik kedua adiknya terlihat begitu jelas di mata Halilintar. Itu hal wajar karena dia muncul saat kedua adiknya itu sedang memastikan sesuatu dari kedua pedagang susu kambing tersebut.
Halilintar yakin Adu Du dan Probe merasa ada yang berbeda darinya secara dia tidak memakai sifat cerianya ketika di depan kedua pedagang tersebut.
"Oh, Petir! Ke sini menjemput saudaramu?" pertanyaan Probe menghancurkan keheningan yang terjadi beberapa saat.
Halilintar terdiam sesaat. Bimbang apakah dia harus meneruskan aktingnya atau menunjukkan sifat aslinya. Terlalu banyak orang yang akan melihat akting kakunya, terlebih lagi ada dua orang yang Halilintar sangat hindari ketika dia sedang berakting layaknya siswa murah senyum.
Persetan.
"Iya Bang, kebetulan lewat sini habis ekskul. Sekalian ngajak mereka pulang bersama."
Taufan terdiam, kantong plastik berisi dua botol susu terlepas dari tangannya yang dengan cekatan ditangkap oleh Gempa meskipun dalam keadaan panik. Adu Du dan Probe merasa aneh dengan reaksi berlebihan dari kedua saudara Petir yang belum mereka ketahui namanya.
Apa ada yang salah dengan senyuman kakak mereka?
Dua pedagang itu memutuskan untuk tidak menghiraukan perilaku aneh saudara Petir tersebut, "Oh, sudah waktunya murid SMA pulang sekolah ya?"
Halilintar mengangguk pada pertanyaan Probe. Otot wajah yang dia paksakan untuk tersenyum itu terasa kaku. Remaja itu ingin segera mengundurkan diri dari tempat kios susu tersebut dan mulai menegur kedua adiknya.
Entah hanya perasaan atau telinganya yang lumayan sensitif, Halilintar mendengar tawa seseorang yang ditahan.
"Kalau begitu segera pulang, keluarga kalian akan khawatir kalau pulangnya terlalu sore," Adu Du mengibaskan tangannya seolah mengusir tiga BoBoiBoy tersebut.
"Jangan lupa beli susu kambing kami ketika persediaan susu kalian habis ya!" seru Probe dengan senyum cerah pedagangnya.
Halilintar kembali mengangguk, "Tentu, kami duluan ya Bang."
BoBoiBoy Sulung itu menarik lengan kedua adiknya yang masih dalam keadaan terkejut setelah berpamitan pada kedua pedagang tersebut. Dia berjalan melewati mobil polisi Gopal yang ia singgahi selama dua jam lebih itu. Menatap tajam pada polisi berbadan besar yang sedang menahan tawa.
Halilintar memberi isyarat dia akan pergi dengan tatapannya dan menunjukan ponsel pintar pada polisi tersebut. Menandakan bahwa dia akan menghubungi Gopal setelah menyelesaikan beberapa hal.
[To Be Continued]
N/A:
Ah... akhirnya selesai untuk chapter 14!!
Maaf membuat kalian para reader menunggu~
Flashback ini sepertinya akan memakan banyak chapter. Jadi... seperti yang kubilang selama ini, harap bersabar ya?
[2022.04.20]
