29/Oktober/2020


Hero Without Weapon—

By: Infinite'D.'AkaRyuu666

Summary: Naruto yang merupakan seorang murid SMA biasa, harus terpanggil ke dunia lain setelah dirinya menemukan sebuah buku tua. Bukannya disambut dengan baik, dia malah dianggap penyusup dan dijebloskan ke dalam penjara, pada hari pertama dirinya tiba di dunia tersebut. Kehidupan beratnya sebagai Pahlawan Armor pun dimulai saat itu juga.

Disclaimer: [Naruto] © Masashi Kishimoto | [Tate no Yuusha no Nariagari] © Aneko Yusagi | Dan Semua Karakter Milik Pengarangnya Masing-masing.

Saya tidak mengakui kepemilikan atas semua karakter yang muncul dalam cerita ini. Saya hanya meminjamnya, tanpa ada niat sedikitpun untuk merugikan pihak manapun.

This Story Created by Me

Genre: Isekai — Adventure — Fantasy — Romance(?) — Harem(?)

Pair: [Naruto & ?]

Rated: T+ (M untuk adegan kekerasan dan kata-kata kasar!)

Warning: Alternate Reality! (AR!), Martial Arts, OOC(s)(?), Semi-Canon & Out of Canon, And Many More. [Mengambil Sedikit Elemen Kekuatan dari Fate Series].

.

Naruto's PoV!

.

Happy Reading, Minna-san~

Enjoy It~

Please Like, Favorite, and Review!

.


[Arc I]: Pemanggilan Pahlawan Suci


[Chapter 3]: Dunia Ini, Benar-benar Mirip Seperti Sebuah Game


Opening: MADKID — Rise (Opening dari Anime Tate no Yuusha no Nariagari Season 1 Bagian Pertama)


Saat ini aku berjalan di jalanan Kota Kastil—nama dari kota, tempat aku dipanggil ke dunia lain. Kota ini memang mirip sekali dengan kota dari Benua Eropa, baik dari segi bangunan ataupun tata letaknya. Tapi tentu saja, ini BUKANLAH Eropa, melainkan dunia lain.

Seberapa keras aku memikirkannya, aku tetap tidak punya jawaban bagaimana bisa aku sampai ke dunia ini. Yah, satu-satunya jawaban yang kudapat adalah, semua ini memang karena buku tua yang kutemukan waktu itu. Tapi, akal sehatku masih belum bisa memercayainya.

Isekai? Dunia lain? Untuk awalnya, aku bahkan berpikir kalau semua ini hanyalah mimpi. Tapi setelah melihat apa yang terjadi padaku selama tiga hari ini, aku sudah tidak bisa menyangkalnya lagi. Aku sudah masuk ke Isekai, dan itu adalah fakta yang tidak mungkin bisa kuputar kembali.

Aku akan mencoba menikmati ini, karena bagaimana pun, masuk ke dunia lain adalah sesuatu yang sangat diinginkan bagi semua Otaku. Yah, meskipun aku bukan seorang Otaku sih, tetapi aku tetap bersyukur bisa mendapatkan pengalaman seperti ini! Aku sangat bersemangat!

Setelah keluar dari Istana, aku hanya berjalan mengikuti ke mana arah kakiku membawaku. Yah, aku bingung mau pergi ke mana, jadi beginilah keadaanku.

"Hei, kau sudah dengar kalau Empat Pahlawan Suci dari dunia lain berhasil dipanggil ke dunia kita?"

"Ya, aku sudah mendengar itu. Ada yang bilang, kalau mereka sekarang sedang melakukan perjalanan untuk meningkatkan level mereka, dan nantinya merekalah yang akan berada di garis depan saat melawan Gelombang Kehancuran!"

"Wow, benarkah itu?! Aku jadi tidak sabar untuk melihat seberapa kuatnya mereka nanti!"

"Itu benar. Mereka berempat pasti kuat-kuat!"

Sekumpulan orang-lah yang baru saja melakukan percakapan tadi. Hm, sepertinya, aku sudah tertinggal cukup jauh dari mereka berempa; Ren, Motoyasu, Itsuki, dan Naofumi. Ini semua gara-gara Raja Sampah itu. Kalau saja dia tidak menyebabkan masalah kepadaku, aku pasti saat ini sudah mendapatkan beberapa peningkatan level. Dan lagi, berita yang menyebar ternyata adalah; sudah terpanggilnya Empat Pahlawan Suci. Ya, empat, bukannya LIMA! Kalian pikir, aku ini apa, hah?! Sial.

Oh, ya, mungkin ini sedikit terlambat untuk aku mengatakannya, tapi sepertinya, Senjata Legendaris membuatku bisa memahami apa yang penduduk dunia ini katakan. Yah, seperti … senjata ini mengartikan ucapan yang aku dengar dari setiap orang di dunia ini. Ini benar-benar fitur dari Senjata Legendaris yang sangat membantu sekali bagi kami, para Pahlawan. Tapi meskipun begitu, Senjata Legendaris sepertinya tidak bisa mengartikan tulisan yang kulihat, terbukti ketika aku mencoba membaaca tulisan di toko sepanjang jalan, namun tetap saja aku tidak bisa memahami artinya Apa aku harus belajar huruf-huruf di dunia ini? Yah, aku akan pikirkan ini nanti saja ….

"Tunggu dulu …, APA-APAAN INI?! KAU …?!"

Saat aku sedang memikirkan banyak hal, suara teriakan penuh nada ketidakpercayaan tadi berhasil menyadarkan lamunanku. Aku mendapati suara tadi ternyata berasal dari salah satu Pahlawan Suci yang membawa tombak. Motoyasu berdiri di depanku bersama seorang gadis berambut merah.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Aku bertanya dengan heran. Bukannya Motoyasu sudah pergi melakukan petualangannya, ya?

"Seharusnya itu kata-kataku! Apa yang kau lakukan di sini, hah?!"

"Hm?"

Kenapa dia terlihat tidak suka kepadaku, sih? Aku sebenarnya tidak punya masalah dengannya, namun dia suka sekali mencari masalah denganku. Asalkan dia tidak menggangguku, itu sudah cukup sebenarnya, dan aku tentu akan membiarkannya saja, "Yah, aku baru mau memulai perjalananku."

"Aku tidak peduli soal itu! Yang ingin aku ketahui adalah, kenapa kau bisa ada di sini?! Kau itu kriminal! Kau seharusnya ada di dalam penjara saat ini!"

"Haaah?" Aku memasang ekspresi bingung, "Kau mengigau, ya? Aku ini salah satu Pahlawan Suci, mana mungkin aku berakhir di penjara!"

"Kau bohong! Kau pasti sudah kabur, 'kan?! Aku akan menyeretmu kembali ke penjara, kalau ternyata ucapanku ini memang benar!" Motoyasu menarik Senjata Legendaris-nya. Dia memutar-mutar pelan tombaknya, sebelum akhirnya Motoyasu mengarahkan bagian tajam tombaknya ke arahku. Apa dia berniat untuk bermain sebagai pahlawan yang sedang mengalahkan kejahatan?

Si Tombak Sialan ini …! Kenapa dia tidak mau percaya kepadaku, sih?! "Kalau kau tidak percaya, tanya saja sana pada raja negeri ini!"

"Ap—" Motoyasu melunakkan tubuhnya setelah mendengar ucapanku barusan, tetapi ekspresinya tetap tegas, "Kau ingin menipuku, ya?!"

"Sudah kubilang, itulah kebenarannya! Aku merupakan salah satu Pahlawan Suci, Pahlawan Armor."

"Bah! Aku—"

"Tenanglah, Motoyasu-sama …."

"Myne?"

Motoyasu menatap bingung gadis di sampingnya, seolah-olah ingin meminta penjelasan darinya. Sepertinya dia adalah temannya Motoyasu.

"Ada apa, Myne?"

"Tidak ada. Hanya saja, kalau dia memang sudah diakui oleh Raja sebagai Pahlawan Suci, maka kita tidak bisa memprotesnya."

"Tapi, bisa saja Kriminal ini berbohong!"

Oi! Aku bisa mendengar ucapan ngawurmu itu, Motoyasu! Kenapa dia memanggilku dengan sebutan Kriminal, sih? Ini semua gara-gara Si Sampah!

"Tapi, Motoyasu-sama, kalau memang benar dia kabur dari penjara, itu sangat mustahil. Anda tahu 'kan, kalau penjagaan Istana itu sangat ketat sekali? Tidak mungkin dia kabur dengan mudah. Jadi sepertinya, Raja benar-benar sudah mengakuinya sebagai salah satu dari Pahlawan Suci."

"Uhh~ yah, sepertinya itu cukup masuk akal …."

Hah? Motoyasu mengalah dari perempuan ini begitu saja? Yah, terserahlah. Aku harus segera pergi, ini sudah membuang-buang waktuku.

"Tuh! Kau dengar atau tidak?" Motoyasu memelototiku, tapi aku mengabaikannya saja tanpa berminat meladeninya lebih lanjut, "Kalau tidak ada hal lain lagi, aku akan pergi sekarang."

Saat aku baru melangkah sebanyak tiga kali, seseorang mendekatiku. Dia temannya Motoyasu. "Permisi, Yuusha-sama, kalau saya boleh tahu, Anda ingin pergi ke mana, ya?"

"Hm, entahlah. Pergi berkeliling kota ini, mungkin?" Aku mengatakkannya dengan nada kurang yakin, "Yah, aku belum terlalu mengenal seluk-beluk kota ini, jadi aku bingung mau pergi ke mana."

"Kalau Anda tidak keberatan, bisakah saya mengantar Anda berkeliling seharian ini? Mungkin, saya bisa memberi tahu tempat di mana saja yang ingin Anda tuju …."

Serius? Aku tidak salah dengar, 'kan?

Teman perempuan Motoyasu berkata dengan ramah, juga sambil tersenyum manis. Ah, dia baik sekali. Ini pertama kalinya ada seseorang yang menerimaku dengan hangat di dunia ini. Yah, tentu saja aku senang dengan perbuatan baiknya ini, karena saat aku tiba di dunia ini pertama kali, aku saja sudah diasingkan. Mengingat hal itu membuatku kesal saja.

"Tunggu, Myne, apa maksudnya ini?!" Motoyasu sepertinya tidak setuju atas perbuatan temannya.

"Saya hanya ingin mengantar Yuusha-sama ini berkeliling kota, agar beliau bisa lebih mengenal tempat ini, Motoyasu-sama."

"Tidak boleh! Bisa saja Kriminal ini akan berbuat jahat kepadamu!"

"Tenang saja, saya bisa menjaga diri saya sendiri kok, Motoyasu-sama."

Aku hanya diam melihat perdebatan keduanya. Motoyasu memasang ekspresi khawatir saat memandang teman perempuannya, kemudian dia mengembuskan napas. "Haah~ baiklah."

Gadis itu tersenyum setelah mendapat persetujuan dari Motoyasu. Perempuan itu kembali fokus kepadaku. "Jadi, apa tidak masalah, jika saya menjadi pemandu Anda selama seharian ini, Yuusha-sama?"

"Ya, tak apa. Justru aku sangat berterima kasih, karena kau menawarkan hal seperti ini kepadaku." Lagipula, akan sangat bagus jika ada seseorang yang mengajariku beberapa hal tentang dunia ini. Bagaimana pun juga, aku-lah pahlawan yang paling minim informasi dibandingkan dengan empat pahlawan yang lain.

Motoyasu tiba-tiba menatap curiga kepadaku, "Kau, Naruto! Awas saja, kalau kau berani berbuat yang macam-macam kepada Myne! Aku tak akan memaafkanmu, jika kau melakukan hal yang sama seperti yang sudah dilakukan 'orang itu' kepada Myne!"

"Terserahlah." Lagipula, aku tidak mungkin berbuat jahat kepada orang yang ingin berniat baik kepadaku, tahu. Dan lagi, siapa orang yang kau maksud itu? Apa ada orang yang sudah berbuat jahat kepada perempuan sebaik dia?

"Kalau begitu, Myne, aku akan menunggumu di penginapan saja."

"Hai'! Hati-hati di jalan, Motoyasu-sama!"

"Ya ampun. Seharusnya itu kata-kataku, tahu. Kau ini~"

Oi, oi, kalian pikir, aku ini apa, hah? Semacam obat nyamuk bagi kalian? Tidak usah berbicara romantis-romantis segala, tahu! Lagipula, kalian ini nanti cuma berpisah selama sehari saja, tidak lebih. Aku merasa aneh saat melihat kedekatan mereka.

Setelahnya, Motoyasu berjalan meninggalkan kami berdua sambil melambaikan tangannya ke arah teman perempuannya, dan memberikan tatapan menusuk ke arahku. Haah~ kalau dipikir-pikir, sepertinya Motoyasu sangat protektif kepada teman-temannya. Lebih baik aku tidak berurusan dengan orang seperti dirinya.

"Baiklah, Yuusha-sama, bagaimana kalau kita berangkat sekarang?"

"Tentu."

Lalu, aku mulai berjalan mengikuti perempuan itu dari belakangnya.

"Sekarang, adakah tempat yang ingin Anda tuju, Yuusha-sama?" Dia bertanya sambil menoleh ke belakang. Ah, jika diperhatikan lebih teliti, dia ini punya wajah yang cantik sekali, apalagi ditambah dengan gaya rambut merahnya itu yang bermodel gelombang. Pasti banyak lelaki yang menyukainya.

Aku berpikir sejenak saat dia menunggu jawabanku. "Hm, menaikkan level-ku dulu, mungkin?" Yah, aku sudah tertinggal cukup banyak dari keempat pahlawan yang lain, jadi prioritasku saat ini adalah menaikkan level.

"Hm, saya tahu di mana Anda bisa menaikkan level. Tapi sebelum itu …" gadis itu melihat keadaanku dengan ekspresi rumitnya, "… mungkin, Anda harus membeli beberapa equipment dulu, Yuusha-sama."

Aku menatap diriku sendiri. Ah, ya, aku bahkan seperti warga biasa dengan keadaanku saat ini. Mungkin, aku perlu senjata untuk melawan monster. Yah, cuma sekedar memberi tahu, kalau armor kecil-ku sudah kembali seperti semula.

Aku tidak tahu kenapa kedua belati-ku tiba-tiba kembali lagi menjadi armor. Bahkan, di status-ku yang sebelumnya tertulis [Assassin Hero], kini kembali lagi menjadi [Armor Hero]. Assassin Armor-ku juga sudah menghilang bersamaan dengan itu, dan aku saat ini cuma mengenakan pakaian asal duniaku, yaitu kaos merah polos yang terlapisi oleh jaket kulit hitam, serta celana panjang hitam.

Semua ini terjadi setelah aku berjalan keluar beberapa saat kemudian dari ruangan singgahsana milik Raja Sampah itu. Hm, apa mungkin ada batas waktu penggunaannya, ya? Aku tidak yakin sih, tetapi kalau ini memang benar, berarti aku memang harus membeli senjata. Bagaimana pun juga, senjata adalah apa yang kau butuhkan untuk melawan monster, 'kan?

"Baiklah. Bisakah kau tunjukkan tempat di mana aku bisa membeli perlengkapan bertarung?"

"Dengan senang hati saya akan menunjukkan toko terbaik di kota ini kepada Anda, Yuusha-sama!" Gadis itu tersenyum manis. Ah, dia memang cantik sekali.

Aku juga tersenyum membalasnya. "Terima kasih, etto …."

"Ah, maaf! Saya lupa memperkenalkan diri." Dia menunduk sebentar, lalu menegakkan tubuhnya lagi. Ia melanjutkan ucapannya, "Nama saya adalah Myne Sphere, senang berkenalan dengan Anda, Yuusha-sama."

Myne Sphere?

Myne … Sphere ….

Baiklah, aku akan mengingat namanya dengan baik. Bagaimana pun, Myne adalah orang pertama yang menyambutku dengan hangat di dunia ini. Aku juga senang, karena dia adalah orang pertama yang mau mengakuiku sebagai pahlawan. Dan lagi, sepertinya, Myne bukanlah tipe gadis yang pemalu. Justru sebaliknya, dia adalah orang yang sangat terbuka.

"Ah, ya, terima kasih, Nona Myne. Namaku adalah Namikaze Naruto, senang juga berkenalan denganmu."

Kami berdua saling melemparkan senyuman. Dan setelahnya, kami melanjutkan perjalanan menuju toko senjata ….

.

.

.

"Wow, jadi inikah toko senjata yang kau maksud?"

"Hai'! Di sinilah toko senjata terbaik yang Kota Kastil miliki!"

Aku dan Myne saat ini berdiri di depan sebuah bangunan yang terbentuk dari tumpukan batu bata yang sudah tersusun sedemikian rupa. Ada sebuah simbol dari kayu yang berbentuk satu pedang dan perisai, yang menggantung tepat di atas pintunya. Kami memasuki tempat itu.

Aku dapat melihat kalau di dalam sini terdapat banyak sekali senjata—entah itu di dalam kotak kayu, ataupun yang menggantung di dinding. Pokoknya, kalian bisa melihat semuanya dari bawah sampai ke langit-langitnya. Tidak hanya itu, di sini juga memiliki berbagai macam armor dan perisai. Yah, sepertinya, semua barang yang kalian perlukan untuk berpetualang sangat tersedia di tempat ini. Woah, jadi ini benar-benar dunia lain, huh?

"Selamat datang!"

Perhatianku teralihkan setelah mendengar suara tadi. Disana berdiri seorang pria kekar berkepala botak di balik sebuah konter, sementara sebelah tangannya yang berotot bersandar di atas meja. Aku sangat menyukai senyum ramahnya itu. Yah, hanya dengan melihatnya, kalian pasti akan berpikir kalau pria ini adalah seseorang yang mungkin akan kalian temui di dunia game. Aku bersyukur karena yang muncul di sini bukanlah seorang pria pendek dan berbadan bulat. Maksudku, akan aneh saja, jika ternyata penjual senjata adalah orang yang "kupikirkan" barusan.

"Wah, jadi ini benar-benar toko senjata, ya?"

"Hoo~ apa ini adalah pertama kalinya kau masuk ke toko seperti ini?"

"Ya, begitulah."

"Kalau begitu, kau benar-benar tahu bagaimana caranya mencari kualitas senjata yang bagus, huh?"

"Tidak juga. Sebenarnya, dia-lah yang me-rekomendasikan-ku tempat ini." Aku menunjuk Myne, dan dia hanya melambai ringan sambil tersenyum ke arah pemilik toko.

"Oh? Apa kau Nona yang kemarin datang ke mari bersama Bocah Perisai itu?" Hm? Tunggu, siapa itu Bocah Perisai?

"Ah, ya, itu memang saya."

"Jadi, bagaimana keadaanmu? Aku dengar, kalau ada suatu hal buruk tadi pagi yang sudah menimpamu."

"Saya sudah lebih baik berkat bantuan Motoyasu-sama, Tuan."

"Baguslah, kalau begitu."

Aku tidak mengerti dengan alur pembicaraan mereka. Sebenarnya, apa yang sedang mereka bicarakan?

Pemilik toko menatapku. "Lalu, siapa lagi bocah yang berpakaian aneh ini?"

Aku tidak akan memprotesnya. Mau bagaiaman pun dilihat, bagi penduduk dunia ini, pakaian dunia asalku pasti memang aneh. Mungkin, aku terlihat seperti orang pinggiran atau semacamnya.

"Meskipun terlihat seperti itu, tapi sebenarnya, beliau ini juga merupakan salah satu Pahlawan Suci dari dunia lain, Tuan!" Myne menjawabnya dengan semangat.

"Oh? Pahlawan yang lain, kah?" Pemilik toko berpikir sejenak, "Apa dia adalah rekanmu yang sekarang, Nona?"

Tubuh Myne tersentak, sebelum dia menggoyangkan kedua tangannya di depan dadanya sambil tertawa canggung. "Tidak, saya saat ini berada di Party Pahlawan Tombak. Saya di sini hanya mengantarkan Tuan Pahlawan ini untuk berkeliling saja, kok."

Hm? Rekan? Party? Apa itu semacam tempat berkumpulnya orang-orang seperti yang ada di dalam game? Mungkin, aku akan menanyakan ini kepada Myne nanti.

"Hm, bersama seseorang yang bukan Party-mu? Apa itu tidak masalah? Maksudku, bisa saja kau nanti akan …."

Kenapa pemilik toko ini menatapku curiga?

"Ya, Raja sudah mengakui beliau sebagai Pahlawan Suci, jadi saya rasa saya akan baik-baik saja."

Kenapa harus menyebutkan Si Sampah di saat seperti ini, sih?! Jujur, aku ingin menikmati hidupku di dunia lain, jadi aku tidak ingin terlibat masalah lagi dengan Si Raja Sampah itu! Aku hanya akan menemuinya sekali dalam sebulan untuk mengambil jatah bayaranku setelah mengalahkan gelombang.

"Aku mengerti. Lalu, sekarang apa? Kemarin aku sudah bertemu empat orang yang mengaku sebagai Pahlawan Suci, tahu." Oh? Jadi, kemarin empat pahlawan yang lain juga ke sini, ya?

Saat aku sedang memikirkan suatu hal, pemilik toko menatap curiga lagi padaku. Uhh~ ini gara-gara Si Sampah yang mengatakan kalau cuma ada empat Pahlawan Suci di dunia ini. Akan sangat merepotkanku nantinya kalau tidak ada pedagang yang memercayaiku sebagai pahlawan. Membangun transaksi dengan orang-orang seperti mereka cukuplah penting karena biasanya para pedagang punya banyak informasi yang bahkan orang biasa tidak ketahui.

"Emm, namaku adalah … Namikaze Naruto, seorang Pahlawan Armor, begitulah." Aku tertawa gugup, berusaha untuk mencairkan suasana.

Pemilik toko memandangiku serius. "Begitukah? Kulihat … kau punya tubuh yang bagus, Bocah. Sepertinya, kau memang cocok disebut sebagai pahlawan. Tapi entah dengan sifatmu, layak atau tidak. Aku cuma bisa berharap yang terbaik."

Sifat? Apakah dia sedang berusaha mengujiku?

"Ah, terima kasih."

Pemilik toko mengangguk beberapa kali. "Jadi, apa yang kau butuhkan sekarang?"

Benar. Aku bahkan hampir melupakan tujuanku untuk datang ke mari.

"Tuan Pahlawan ini ingin membeli beberapa equipment." Aku baru saja membuka mulut untuk bersuara, tetapi Myne sudah lebih dulu menjawabnya.

Pemilik toko menggaruk kepalanya, lalu berkata dengan nada tidak yakin, "Equipment, kah? Hm, apa ini termasuk membeli senjata?"

"Hah?" Aku tidak mengerti ucapannya, "Maksudmu? Bisa jelaskan lebih rinci lagi?"

"Begini, kau Pahlawan Armor, 'kan?"

"Ya, kurasa … seperti itulah. Memangnya ada masalah dengan itu?"

"Nah, aku rasa, kau tidak akan bisa menggunakan senjata lain, selain senjata yang sejenis dengan Senjata Legendaris-mu itu, Bocah."

Apa?! Teori mengerikan dari mana itu?! Tidak bisa menggunakan senjata lain, selain Senjata Legendaris-ku?! Maksudnya, aku cuma bisa menggunakan jenis armor?! Seperti armor kecil ini?! Dan, ini sebagai senjata bertarungku?! GILA!

"Omong kosong! Tidak mungkin ada aturan yang seperti itu!" Lagipula, aku tadi baru saja bisa menggunakan pisau belati, jadi ini pasti hanyalah bualanmu saja, Pak Tua!

"Yah, terserahlah. Silakan saja, kalau kau memang ingin mencobanya. Lagipula, Bocah Perisai itu saja juga tidak bisa melakukannya …." Pemilik toko pergi ke belakang setelah berkata dengan ekspresi lelah.

Aku akan buktikan, kalau aku bisa menggunakan senjata lain selain armor. Dan lagi, siapa itu Bocah Perisai? Apa maksudnya adalah Pahlawan Perisai, si Naofumi itu, ya?

Pemilik toko kembali dari belakang, membawa beberapa perlengkapan.

"Jadi, apa saja yang kita punya di sini?"

"Ada banyak. Tapi sebelumnya, berapa total anggaranmu?"

Aku menatap Myne, dan dia tampak menimang-nimang. "Berapa banyak uang yang Anda punya, Yuusha-sama?"

"Sekitar … 600 keping silver."

"Kalau begitu, pakai saja 150 silver."

Hm, 150 dari 600 silver? Apa itu tidak kebanyakan? Maksudku, aku bahkan belum menghitung biaya hidup yang lain juga. Tapi, Myne sepertinya lebih memahami ini, jadi kurasa tidak masalah. "Baiklah. Aku akan pakai 150 silver."

"Oke, sekarang, apa ada senjata yang kau minati, Bocah?"

"Apa saja boleh." Lagipula, saat berada di Kyoto Arts Highschool, aku sudah terbiasa memegang berbagai macam senjata. Meskipun aku belum terlalu menguasainya, paling tidak … aku cukup yakin untuk menggunakannya saat bertarung melawan monster nantinya.

"Kalau begitu, maka aku akan merekomendasikan sebuah pedang yang cukup ringan untuk pemula." Dia meletakkan sejumlah pedang di meja, "Semua ini dilapisi dengan Blood Clean, jadi sangat mudah digunakan."

"Blood Clean? Apa itu?"

"Darah yang ada di bilah senjata akan mengikis ketajamannya, membuat perawatannya lebih sulit dilakukan. Tapi, pedang-pedang ini tak punya masalah itu."

"Wow …."

Aku terkejut, tapi kucoba memikirkannya sebentar. Aku sadar bahkan di duniaku sendiri pun orang-orang mengatakan, kalau pisau kehilangan ketajamannya setelah digunakan untuk memotong daging. Kurasa yang dia maksudkan bahwa, pedang-pedang ini akan tetap tajam dalam waktu yang lama, meskipun sudah terkena banyak darah monster nanti. Aku menatap padang-pedang itu sebentar.

Pedang-pedang itu berkualitas jauh lebih tinggi daripada replika pedang manapun yang pernah kulihat di duniaku sebelumnya. Semuanya tampak seperti senjata-senjata yang tidak main-main, terlihat sangat asli!

"Pedang-pedang ini, secara berurutan dari yang paling murah adalah: Iron, Magic Iron, Magic Steel, dan Silver Iron. Semakin mahal, peningkatan kualitasnya sangat besar."

Apa tingkat kekerasannya berbeda berdasarkan bijih mentah yang digunakan dalam pembuatannya? Bagiku, semuanya terbuat dari besi yang sama saja.

"Juga ada senjata-senjata berkualitas lebih tinggi, tapi dengan anggaran 150 silver, hanya ini yang bisa kau pilih. Tentu saja, 150 itu hanya berlaku untuk senjata saja. Kau perlu menambah anggaran untuk mendapatkan yang lain, atau kau bisa membeli berbagai barang berkualitas rendah agar bisa mendapat equipment yang lengkap."

Aku sudah mendengar ini sebelumnya. Ini seperti di video game, di mana toko senjata di kota pertama memilki senjata yang sangat jelek. Akan tetapi, toko ini memiliki variasi senjata yang sangat bagus. Itu membuatnya lebih seperti sebuah game online! Tidak, apa yang kupikirkan, sih?! Ini BUKANLAH sebuah game, tapi dunia nyata! Di dunia nyata manapun, toko-toko senjata di Ibukota pasti punya material bagus yang tersedia, 'kan?

"Pedang besi …, hmm …."

Aku mengambil salah satunya, dan itu sangat berat. Armor yang ada di dadaku begitu ringan, hingga aku terkadang sampai lupa kalau aku punya armor ini. Tapi, senjata-senjata ini memiliki bobot yang signifikan—terasa sangat berbeda. Aku harus menggunakan senjata ini untuk melawan monster yang aku temui nanti, ya?

"Woah!" Tiba-tiba, seolah tanganku terkena sengatan listrik, pedang besi yang kupegang terlepas.

"…"

Si pemilik toko dan Myne menatapku dalam diam, mereka kemudian melihat pada pedang yang terjatuh. Aku mengulurkan tanganku ke pedang itu lagi, menganggap aku menjatuhkannya. Pedang itu ada di tanganku seolah sama sekali tak ada suatu keanehan yang terjadi. Terus, apaan yang barusan itu?

Aku bertanya-tanya apa yang telah terjadi ketika rasa sakit tersebut menyerang tanganku lagi. "Aww!"

Apa yang terjadi? Aku menatap pemilik toko, mungkin dia mengetahui sesuatu, tapi dia hanya diam tanpa berniat mengatakan sesuatu. Aku tidak berpikir bahwa Myne paham masalah ini, tapi hanya untuk memastikannya saja, aku menatap dia juga. "Sepertinya, pedang itu terlepas begitu saja dari tangan Anda."

Tapi …, itu tidak mungkin! Itu tak masuk akal! Aku menatap telapak tanganku, dan pada saat yang bersamaan, kata-kata mulai muncul dalam pandanganku.

[Spesifikasi Senjata Legendaris: Melanggar peraturan dari sebuah senjata, selain equipment yang telah ditentukan di Kelas Pahlawan!]

Apa-apaan itu?

Aku bergegas mengeluarkan layar bantuan dan segera membaca tulisan yang ada disana. Aku mencari terus hingga …

... ketemu! Ini dia. Aku menekannya, lalu sesuatu meluas di bidang pandangku.

[Para Pahlawan Suci tidak boleh memegang sebuah senjata selain Senjata Legendaris berdasarkan Hero Class masing-masing, yang telah ditentukan bagi mereka, dengan niat untuk bertarung menggunakan senjata tersebut.]

Apa-apaan pemberitahuan mengerikan ini?! Jadi, apa yang tadi dikatakan Pak Tua itu benar, bahwa kami, Para Pahlawan Suci, tidak bisa menggunakan senjata selain Senjata Legendaris kami?! Dan artinya …, aku terjebak dengan armor ini?! Orang gila seperti apa yang membuat aturan game seperti ini, sih?! Ini buruk sekali …!

Dan lagi, hanya boleh menggunakan senjata berdasarkan Hero Class masing-masing? Jadi maksudnya, aku hanya bisa menggunakan armor karena aku berada di Kelas Armor Hero, begitu?

"Jadi …?"

Aku merasa lemas setelah mengetahui fakta ini. "Sepertinya, apa yang kau katakan tadi itu benar, Pak Tua."

"Yah, tentu saja. Inilah yang kau dapat karena tidak mau percaya."

"Ugh~ maafkan aku soal itu. Tapi, kenapa hal ini bisa terjadi?" Semangatku benar-benar menurun saat ini.

"Sepertinya, kasus ini hampir sama seperti Si Bocah Perisai." Pak Tua mengelus jenggotnya, "Yah, kau lihat permata putih yang ada di tengah-tengah armormu itu? Aku mengecek perisai milik Bocah Perisai menggunakan Sihir Penilaian-ku, tapi tidak bisa terdeteksi sama sekali. Aku merasakan adanya kekuatan besar berasal dari permata ini. Aku berspekulasi, mungkin semua Senjata Legendaris memiliki kesamaan satu sama lainnya …."

Bagaimana pun aku melihatnya, ini memanglah sebuah Small Armour, meskipun di status-ku ada tambahan embel-embel [Legendary Waepon]. Yah, seperti yang dikatakan Pak Tua, mungkin semua Senjata Legendaris memiliki fitur dan aturan yang sama, yang berarti kami tidak akan bisa menggunakan senjata selain Senjata Legendaris kami sendiri.

Ya ampun~ sepertinya Naofumi masih mending memiliki perisai. Maksudku, dia bisa menyerang menggunakan perisainya itu, sedangkan aku cuma bisa menggunakan tinjuku dan tendanganku. Aargh! Menyebalkan!

"Hm, bagaimana dengan perlengkapan bertahan, seperti perisai?"

"Sepertinya sama saja." Aku baru saja memegang perisai, dan hal yang sama terjadi saat aku memegang pedang.

"Oke. Kalau begitu, sepertinya cuma armor saja yang bisa kau pakai, 'kan?"

Aku menatap armor kecil-ku yang berwarna perak. Apa aku harus membeli armor? Maksudku, aku sudah punya armor—meskipun ini kecil, sih.

Aku menatap Myne, meminta pendapatnya. "Sepertinya tak apa, Yuusha-sama. Lagipula, armor milik Anda terlalu kecil untuk melindungi seluruh tubuh Anda."

Yah, itu memang benar. "Baiklah, aku akan membeli armor saja."

Pak Tua menepuk telapak tangan kirinya menggunakan kepalan tangan kanannya. Senyumannya kian melebar. "Bagus! Aku akan menyiapkannya."

Pak Tua mencari sesuatu, kemudian memberikan sebuah armor kepadaku, dan aku memegangnya.

[Chain Plate:

-Meningkatkan kekuatan defensif: +10

-Mengurangi damage tusukan: +2

Tipe: Armor

Ukuran: Kecil

Kualitas: Rendah]

Pemberitahuan itu muncul di layar bidang pandangku. Tadi kata-kata seperti ini tidak muncul saat aku memegang pedang maupun perisai. Sepertinya karena aku tidak bisa menggunakan keduanya.

"Harganya adalah 90 silver, tentu saja beserta diskon yang kuberikan." Pak Tua memandangku dengan senyuman lebar di wajahnya, "Karena anggaranmu cuma 150 silver, jadi inilah yang bisa kuberikan. Memang kualitasnya lebih rendah dibandingkan Chainmail, tapi ini sangat cocok bagi seorang pemula. Atau, kau ingin yang kualitasnya lebih tinggi lagi?"

"Kurasa ini tidak masalah." Aku menyerahkan uang 90 keping silver kepada Pak Tua.

"Apa kau mau memakainya di sini?"

"Ya."

"Bagus! Kalau begitu, aku akan memberimu baju pelapisnya sebagai bonus." Aku tersenyum karena kedermawanan Pak Tua. Kurasa, aku benar-benar menyukai orang baik seperti dia, "Oh, ya, apa Armor-mu bisa dilepas?"

"Kalau hanya untuk sesaat, sepertinya bisa. Dan jika terlalu lama, Armor ini tiba-tiba akan kembali muncul di dadaku." Yah, aku pernah mencoba hal ini saat masih berada di dalam penjara soalnya, jadi aku bisa menjawabnya begitu.

Setelahnya, aku mengganti pakaianku di ruang ganti di toko ini, sementara pakaian asli milikku dibungkus Pak Tua ke dalam kantong tas. Aku keluar dengan armor baru milikku.

Aku menatap diriku sendiri. Aku tertutupi sepenuhnya oleh Chain Plate Armor, kecuali bagian kepalaku. Sementara Senjata Legendaris-ku menempel di bagian luar Chain Plate, tepat di bagian dada. Hawanya terasa panas saat aku mengenakan Chain Plate ini, dan ada suara yang berderit setiap kali aku bergerak. Apa ini benar-benar cocok untukku, ya?

"Kau saat ini benar-benar terlihat seperti seorang Petualang sungguhan, Bocah Armor!" Pak Tua tersenyum lebar. Tapi tunggu, Bocah ... Armor? Apa itu panggilanku darinya? Yah, biarlah.

"Benarkah?"

"Itu benar, Yuusha-sama! Armor ini sangat cocok untuk Anda!"

Aku jadi malu karena Myne memujiku, ahaha. Kalau Myne saja bilang begitu, berarti aku tidak sia-sia membeli armor ini. Baguslah, kalau aku tidak terlihat aneh. "Yah, terima kasih."

"Kalau begitu, kau akan menjadi pelanggan tetapku 'kan, Bocah?"

Aku sedikit tersenyum kepada Pak Tua. "Sepertinya begitu …."

Myne mendekatiku. "Baiklah, Yuusha-sama, bagaimana kalau kita pergi untuk segera menaikkan level Anda sekarang?"

Ide bagus! Itulah yang aku tunggu-tunggu dari tadi! "Tentu saja. Ayo!"

Setelahnya, kami berjalan meninggalkan toko senjata ini.

"Sampai jumpa lagi, Yoroi no Yuusha!"

Hm, Yoroi no Yuusha, kah? Heh, tidak buruk juga. "Ya, sampai jumpa lagi, Pak Tua!"

.

.

Hero Without Weapon—

.

.

Aku dan Myne berencana keluar dari kota agar kami bisa melakukan perburuan monster—maaf, ralat. Maksudku, akulah yang melakukan perburuannya, sedangkan Myne hanya mengantarku saja. Saat aku berjalan melewati gerbang kota, ada seorang ksatria yang menunduk kepada kami.

'Heh, apa sekarang kalian baru mengakuiku sebagai pahlawan?' Dua hari kemarin saja mereka memperlakukanku dengan buruk saat aku masih ada di penjara. Tapi biarlah, aku akan melupakan semua itu asalkan Si Raja Sampah itu tidak menggangguku lagi.

Saat aku sudah di luar kota, hanya pemandangan warna hijaulah sejauh mataku dapat melihat. Di sini ada semacam jalan penuh bebatuan, dan kebanyakan daerah ini dipenuhi oleh rumput-rumput setinggi lutut. Selain itu, ada banyak juga pohon besar yang menjulang tinggi ke langit. Di tempat ini, kalian juga bisa melihat langit biru dan cakrawalanya yang membentang luas.

Jadi, ini adalah Isekai, huh? Aku benar-benar menahan diriku agar tidak berlarian karena kegembiraanku saat ini. Sekarang ini, aku adalah pahlawan, jadi akan terlihat memalukan kalau aku berperilaku seperti apa yang kuinginkan barusan. Apalagi ada Myne di sini, itu akan menambah rasa maluku jika dia melihatnya.

"Nah, Yuusha-sama, di sinilah Anda bisa menaikkan level dengan mudah, karena kebanyakan monster di sini hanyalah monster lemah."

"Semoga saja begitu." Yah, aku masih level satu, jadi sepertinya ini memang cocok untukku.

Setelahnya, kami berkeliling sebentar, sebelum akhirnya aku melihat ada sesuatu yang sedang bergerak di rerumputan. Aku melihat dengan seksama dan …, disana keluar monster seperti balon berwarna oranye!

"Apa itu?"

"Itu termasuk monster lemah. Kami menyebut mereka dengan [Orange Ballon]."

Apa?! Nama aneh apa itu?! Karena terlihat seperti balon, jadi mereka menyebutnya begitu?! Orang-orang negeri ini kurang memiliki kreatifitas yang bagus!

[Orange Ballon telah muncul!]

Sebuah pemberitahuan muncul di layar-ku. Uh-huh, namanya benar-benar tidak keren. Aku merasa kasihan pada monster ini.

Matanya menyalak galak padaku setelah dia menetapkanku sebagai musuhnya.

"Gaaah!" Orange Ballon bergerak cepat ke arahku. Burung-burung mulai berterbangan saat monster itu berteriak.

"Berjuanglah, Yuusha-sama!"

"Tentu saja!" Karena Myne cuma mengantarku, jadi dia tidak akan ikut bertarung. Aku harus bersikap keren, mengingat Myne ada di sini. Akan kutunjukkan kekuatan dari seorang pahlawan! Aku menyiapkan tinjuku, dan menyerang monster balon saat dia melompat ke arahku.

…. Suara balon yang terpantul muncul saat aku menyerangnya! Apa-apaan ini …?! Itu tidak hancur dalam sekali pukul?! Yang benar saja! Tubuhnya benar-benar elastis, aku tak menyangka kalau Orange Ballon akan sesusah ini dihancurkan.

Dia kembali bergerak menuju aku dengan cepat, lalu kuberikan tendangan lurus kepadanya—

"Hyaah!"

Aku terus memukuli serta menendangnya, dan selama kurang-lebih lima menit, suara seperti balon meletus terdengar saat aku mengalahkannya.

[Anda telah mengalahkan Orange Ballon!]

[Anda: Mendapatkan Exp. +1]

Suara notifikasi muncul, dan seperti itulah yang kulihat di layar bidang pandangku. Haah, sudah mengeluarkan banyak tenaga, tapi hanya segini yang kudapat? Bar Exp. (Experience Point) milikku cuma bertambah sedikit saja.

"Tadi itu hebat sekali, Yuusha-sama." Myne mendekatiku sambil bertepuk tangan secara terpaksa. Uh, ini mengecewakan. Dia pasti berpikir kalau aku sangatlah kuat, namun ternyata begini jadinya. Maafkan aku, Myne ….

"Ugh, sepertinya aku buruk, ya?"

"Tidak juga. Itu tadi lumayan bagi seorang pemula."

"Benarkah?"

"Tentu."

Aku senang karena Myne sepertinya selalu berbicara jujur kepadaku, "Ngomong-ngomong, ini apa, ya?" Setelah aku mengalahkan monster balon tadi, ada semacam kulit balon yang tertinggal di sini.

"Oh, itu kulit balon dari Orange Ballon. Anda bisa menukarnya untuk mendapatkan uang."

Jadi, ini semacam drop item atau barang jarahan, begitu? Seperti, barang yang akan kau dapatkan setelah mengalahkan monster, 'kan? "Berapa banyak uang yang kita dapatkan dari ini?"

"Mungkin, satu kulit balon setara dengan satu keping bronze."

"Memangnya, seberapa banyak itu?"

"Emm, begini, Negeri Melromarc memiliki tiga mata uang, yaitu bronze, silver, dan gold. 100 keping bronze setara 1 keping silver, dan 100 silver setara 1 gold."

Jadi, begitu. Itulah kenapa, raja memberi mata uang silver kepada para pahlawan, agar lebih mudah melakukan jual beli, 'kan? Yah, gold mungkin akan sangat jarang ada yang memilikinya. Ini adalah pengetahuan umum yang harus kupahami jika ingin bertahan hidup di dunia ini. "Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu, akan kusimpan saja ini untuk sementara."

Aku mengumpulkan beberapa kulit balon untuk kumasukkan ke dalam tasku. Dan pada saat aku tak sengaja mendekatkan kulit balon ke Armor-ku, hal itu terjadi ….

[Kulit balon dari Orange Ballon didapatkan!]

Sebuah suara notifikasi muncul di layarku setelah kulit balon terserap ke dalam permata di armor-ku. Ikon Buku Senjata mulai bersinar, dan aku menekannya untuk melihat apa isinya.

"Hm? Apa itu?"

"Sepertinya, itu merupakan salah satu fitur dari Senjata Suci, Yuusha-sama. Ini akan memberikan peningkatan kekuatan pada senjata Anda."

"Begitu, ya?" Menarik sekali. Disana ada tulisan Orange Ballon Armor, tapi ini masih belum cukup untuk bisa digunakan, jadi aku membiarkan permata di armor-ku untuk menyerap beberapa lagi kulit balon.

Jadi, aku harus membuat armorku menyerap beberapa potongan dari tubuh monster, agar bisa membuat Senjata Suci-ku semakin kuat, ya? Dunia ini semakin mirip dengan game saja.

Aku melanjutkan perburuan, dan kami bertemu tiga monster balon oren. Mereka langsung menyerangku dengan brutal. Apa ini yang dinamakan insting bertahan hidup milik monster? Sepertinya begitu.

Klang!

"Oh? Ini tidak sakit?" Aku berujar heran saat tidak merasakan apa-apa ketika mendapat gigitan di lenganku. Justru, suara seperti besi lah yang muncul. Mungkin, ini karena poin defensif-ku yang sangat tinggi? Yah, memang tidak terlalu buruk, tapi aku tetap tidak punya cukup kekuatan untuk mengalahkan monster dengan cepat. Bagaimana pun juga, poin attack milikku lah yang paling rendah dibandingkan dengan poin yang lain. Sepertinya, semua keadaan tubuh dan kekuatanku di dunia ini didasarkan pada magic status milikku. Ini akan sangat buruk, kalau aku tidak memiliki poin serang yang tinggi.

Setelah mengalahkan tiga monster balon tadi, kami melanjutkan perjalanan. Aku terus bertarung dan mengalahkan monster yang muncul di depanku, bahkan aku menemukan monster baru, yaitu [Yellow Ballon]. Kadang-kadang, aku membiarkan kedua kulit balon berbeda warna tersebut agar terserap ke armorku. Exp-ku juga semakin bertambah, tapi aku masih belum bisa mencapai level 2. Apa memang sesulit ini untuk menjadi kuat, ya? Yah, ini bukanlah game, melainkan dunia nyata, jadi pasti tidak akan ada yang namanya "jalan pintas" di sini.

Ngomong-ngomong, Myne hanya mengawasiku tanpa ikut bertarung. Yah, dia tidak masuk kelompokku, jadi tentu karena itulah alasannya. Oh, ya, aku baru ingat ingin menannyakan ini kepadanya. "Myne, tadi saat di toko senjata, kau berbicara dengan Pak Tua tentang Party, 'kan? Bisa kau jelaskan hal itu kepadaku?"

"Benar. Saya bahkan ingin menanyakan hal yang sama kepada Yuusha-sama. Apa Anda tidak memiliki Party?"

Ya ampun, kenapa kau malah bertanya balik kepadaku? Aku menggaruk kepala karena merasa bingung. "Yah, Party ini semacam tempat untuk kelompok, 'kan? Aku cuma sendiri saat ini, jadi aku tidak punya Party."

"Sepertinya wajar, sih. Karena Anda yang sedikit telat, jadi Raja tidak memiliki lagi orang yang bisa ditawarkan untuk masuk ke dalam Party Anda."

Tunggu-tunggu-tunggu! Apa-apaan itu tadi?! Jadi, Si Sampah sudah menyiapkan beberapa orang untuk para Pahlawan, tapi dia hanya memberikannya kepada mereka kecuali diriku?! Kenapa dia tidak menyiapkan satu pun untukku?! Dasar …! Dia benar-benar sudah menipuku ternyata! Sialan!

Melihat keadaanku yang tengah kesal, Myne kembali bersuara, "Kalau Anda memang tidak memiliki satu pun anggota dari Raja, maka Anda diperbolehkan merekrut anggota sendiri, Yuusha-sama. Yah, seperti itulah."

Wah, itu bagus sekali! Aku bersyukur karena Myne bersamaku hari ini. Dia mengajariku banyak hal tentang dunia ini. Sayang sekali ini cuma berlaku satu hari saja. Aaah, aku iri karena dia sudah masuk ke dalam Party-nya Motoyasu. Kalau bisa, aku ingin dia masuk ke Party-ku saja. Tapi sepertinya, itu tidak akan mungkin terjadi, mengingat bahwa Motoyasu itu sangat peduli pada temannya sendiri. Haah~

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita kembali ke kota? Sebentar lagi malam, pasti akan sulit untuk melawan monster ketika gelap, apalagi mengingat level Anda yang sekarang ini juga masihlah rendah."

Aku sebenarnya masih ingin melanjutkan perburuanku, tapi setelah aku melihat bahwa malam hampir tiba, jadi kuputuskan untuk mengikuti saran dari Myne. Aku sepertinya berhutang budi padanya atas semua hal yang dia lakukan kepadaku hari ini. Aku senang dia mempercayaiku sebagai Pahlawan Suci. Yah, sepertinya, terlempar ke Isekai tidak terlalu buruk.

"Baiklah, mari kembali."

.

.

.

Saat aku di perjalanan menuju penginapan tempat Myne menginap, aku melihat ada seorang perempuan yang sedang dihina oleh beberapa warga kota.

"Apa yang kau lakukan di sini?! Cepat pergi sana!"

"Kau yang sudah bersekongkol dengan Iblis untuk mendapatkan kekuatan, tidak pantas disebut lagi sebagai manusia!"

"Itu benar! Kota ini akan bernasib buruk, jika di sini ada monster sepertimu!"

"Pergi! Bukankah Raja Aultcray sudah melarangmu untuk memasuki kota, hah?! Apa kau lupa itu?!"

Aku tidak tahu, kenapa mereka memperlakukan perempuan itu dengan kasar. Bahkan, ada anak kecil yang dengan terang-terangan melemparinya batu—meskipun itu hanya batu kerikil, tapi tetap saja itu pasti sakit, tahu!

"Ma-Maafkan saya. S-Saya hanya ingin me-mencari makanan di sini …."

"Aku tak peduli, bahkan jika kau akan mati kelaparan sekalipun!"

Keadaan perempuan itu benar-benar membuat hatiku meringis. Yah, meski aku tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas karena tubuhnya tertutupi oleh bayangan sebuah rumah, aku masih bisa merasakan kesedihannya lewat tatapannya—

—Tunggu, apa tadi dia melihatku? Aku yakin, kalau kami tadi memang saling bertatapan selama beberapa saat. Matanya … memancarkan kesedihan, keputus-asaan, dan yang paling dapat kurasakan adalah … ketakutan tanpa ujung. Apa … ? Apa yang sudah dilaluinya hingga sampai seperti ini? Aku tidak tega melihatnya.

"Kau mau makanan?! Nih, ambil!"

Seorang pria melemparkan satu buah tomat hingga mengenai wajah gadis tadi kemudian pecah. Hal itu membuat wajahnya terkotori oleh tomat barusan. I-Itu sangat keterlaluan sekali!

"Hei—!"

"Yuusha-sama, apa yang Anda lakukan di situ?" Aku tidak sadar sudah berdiri diam di sini cukup lama, sementara Myne sudah jauh di depanku, "Ayo, kita harus bergegas."

"Tapi, gadis yang disana sedang …."

Myne melihat ke arah yang kutunjuk, dan entah kenapa, wajahnya tiba-tiba berubah menjadi datar. Hah? Kenapa dia jadi marah? "Biarkan saja dia. Memang sudah sepantasnya dia mendapatkan hal seperti ini."

Kenapa dengan Myne? Padahal sedari tadi siang dia bersikap ramah, tapi suasana hatinya langsung berubah 180 derajat dari sebelumnya setelah dia melihat gadis itu. Apa …, apa sudah terjadi sesuatu di antara mereka berdua …?

"Yuusha-sama, ayo!"

Pikiranku kembali saat mendengar nada tegas Myne.

Aku menatap gadis tadi yang saat ini dalam keadaan buruk. Badannya terkotori oleh beberapa makanan, juga dia mulai menangis tersedu-sedu sekarang. Tatapan kami kembali bertemu lagi, dan kini matanya memancarkan … sebuah harapan … kepadaku? Kenapa dia menatapku seperti itu? Aku—tidak, tapi kami saja baru bertemu sekarang, dan kenapa gadis itu bersikap seperti ini?

Apa dia sedang mempermainkanku? Bukannya aku mau berpikir buruk tentangnya, tapi aku saja tidak mengenalnya, bahkan Myne yang memiliki sifat ramah langsung berubah dingin ketika melihat perempuan tadi. Mungkin Myne benar, aku tidak seharusnya terlibat lebih jauh dengan perempuan itu.

"Baik, aku akan segera ke sana, Myne!"

Aku memutuskan jalur tatapan kami berdua, dan mengabaikan sorot matanya yang kembali sedih saat menyadari aku akan pergi. Aku kembali mengikuti Myne yang sudah berjalan lagi menuju penginapan.

'Maaf, tapi aku tidak mengenalmu, Nona ….'

.

.

Hero Without Weapon—

.

.

"Terima kasih atas makanannya!" Aku berjalan keluar dari tempat makan, tapi anehnya, semua orang seperti takut saat melihatku. Apa ini cuma perasaanku saja, ya? Entahlah.

Yah, makanan di sini lebih enak dibandingkan yang diberikan para penjaga saat aku di penjara. Sudah kuduga, mereka memang tidak sungguh-sungguh memberiku makanan. Oh, iya, aku juga TIDAK PERLU MEMBAYAR makanan di tempat makan ini, kalian tahu?! Wow, ini benar-benar hebat! Kalian mempercayainya?!

"Apa ini yang dimaksud dengan perlakuan istimewa bagi para Pahlawan Suci?"

Hahaha, aku bercanda. Yah, sebenarnya …, Myne-lah yang memberi tahuku soal ini, kalau aku tidak perlu memikirkan biaya makan dan tidur, karena itu semua GRATIS! Aku sebenarnya sedikit tidak percaya ini, karena … untuk apa semua uang yang diberikan Si Sampah kepada kami kalau memang begini akhirnya? Maksudku, apa semua uang itu cuma digunakan untuk meningkatkan peralatan kami saja, begitu? Aaah, masih banyak hal yang tidak kupahami tentang aturan dunia ini. Banyak manfaat istimewa yang didapatkan setelah kau menjadi Pahlawan Suci, seperti yang dikatakan Myne.

Oh, iya, ini adalah hari ke-4 aku di Isekai!

"Hmm, pagi-pagi begini, enaknya aku pergi ke mana, ya?" Kemarin memang hari yang menyenangkan, mungkin itu adalah balasan yang tepat setelah aku dikurung di penjara selama dua hari. Lalu hari ini, apa aku berburu monster saja? Meningkatkan level lagi seperti kemarin? Atau …, mencoba menjelajahi sebuah Dungeon?

Mungkin yang terakhir tadi terasa lebih menantang, tapi mengingat level-ku saat ini masih satu, jadi aku tidak mau mengambil resiko yang bisa saja berakibat fatal untuk diriku sendiri. Yah, aku sebenarnya juga baru tahu, kalau di dunia ini ternyata ada sebuah Dungeon. Seberapa keras aku memikirkan hal itu, dunia ini memang mirip seperti game, tapi yang pasti … ini adalah kehidupan nyata tentunya, dan buktinya juga sudah banyak kutemui.

Ngomong-ngomong, aku tahu soal Dungeon itu dari Myne. Dia memberi tahuku banyak hal saat aku makan malam bersamanya. Contohnya adalah tadi, tentang perlakuan khusus bagi pahlawan dalam masalah biaya makanan. Lalu, aku juga diberi tahu, kalau aku berjalan lebih dalam menuju hutan kemarin saat aku berburu monster, maka aku akan tiba di sebuah desa. Yah, aku akan mencoba ke sana saat level-ku sudah naik cukup tinggi, karena disana pasti ada banyak monster yang kuat-kuat. Untuk saat ini, aku yakin tak akan bisa mengalahkan mereka dikarenakan poin serangku yang rendah.

Oh, ya, tentang Myne, aku merasa tidak enak saja padanya. Dia tiba-tiba pergi begitu saja setelah aku menolak minum wine bersamanya. Yah, bukannya apa, tapi … aku tidak terbiasa minum minuman ber-alkohol, dan aku pasti akan berakhir langsung mabuk begitu cepat. Karena itu juga, aku tidak ingin merepotkannya nantinya.

Dulu, saat aku bersama teman-temanku di [Kyoto Arts Highschool], mereka pernah bilang, bahwa aku tidak sengaja minum dan berakhir mabuk berat, tapi aku tidak mengingat apapun yang terjadi saat itu. Mereka selalu menertawakanku saat membicarakan masalah ini, bahkan aku tidak berani menanyakan kejadiannya. Mungkin saja, itu adalah hal yang sangat memalukan bagiku. Uuuhh~

Aku nanti berniat meminta maaf kepada Myne karena bisa saja dia marah padaku akibat kejadian semalam. Aku tidak ingin itu terjadi, karena bagaimana pun, dia adalah orang pertama yang menerimaku dengan baik di dunia ini. Aku juga ingin mengembalikan uangnya, dia sepertinya lupa membawanya setelah meninggalkanku begitu saja. Ya ampun, dia begitu ceroboh sekali, ahaha.

—Tunggu. Saat aku sedang memikirkan banyak hal, aku baru sadar kalau ada banyak orang yang sedang memperhatikanku. Pandangan mereka dipenuhi rasa takut. Bahkan, sepertinya mereka seperti langsung membuka kerumunan saat melihatku ingin lewat. Ini … terasa aneh sekali. Tidak, bukannya aku tidak suka, tapi mereka memang terlihat berbeda dibandingkan kemarin saat aku berkeliling bersama Myne ….

'Sudahlah, lebih baik aku segera pergi untuk meningkatkan level-ku saja.'

Dan dengan begitu, aku berjalan cepat menuju keluar kota, ke tempat kemarin aku berburu monster ….

.

.

.

Swuussh~

Angin di sini terasa sejuk sekali. Sepertinya, ini hari yang tepat untuk meningkatlan level, huh? Sebaiknya, aku mulai saja dari—

"Akhirnya, aku menemukanmu!"

Aku berbalik setelah mendengar teriakan penuh kemarahan itu. Disana, berdiri seorang Motoyasu yang menggenggam erat tombaknya. "Langsung pilih saja, kau ingin menyerah dengan baik-baik …, atau aku yang menyeretmu paksa ke Istana?"

"Hah?!" Apa yang dia katakan? Tiba-tiba datang berkata seperti ini. "Aku tidak—"

Sraaash!

"—mengerti …."

Aku melirik pipiku yang sedikit berdarah akibat terkena tombak Motoyasu. Beruntung karena aku sempat menggeser kepalaku. 'Dia … benar-benar ingin membunuhku!'

"Reflekmu bagus juga, heh."

Aku melompat mundur, menjaga jarak darinya. "Bisa jelaskan, apa maksud dari perbuatanmu ini, hah?!"

"Heh! Aku anggap kau tadi memilih pilihan kedua!"

"Apa …?"

"Tidak usah berlagak bodoh!" Motoyasu memutar tombaknya, lalu berlari menuju aku. "Rasakan ini!"

'Itu terlalu cepat!' Adrenalinku langsung memuncak untuk mengimbangi reflekku, tapi serangan Motoyasu berhasil menghancurkan armor di pundakku. Beruntung, aku tidak mendapat luka. "Sial. Dia sungguh-sungguh menyerangku ternyata …!"

Kalau begini, aku tidak bisa diam saja!

Aku mundur, lalu melesatkan tubuhku ke depan dan melakukan tendangan menggunakan punggung kakiku, tapi itu berhasil ditahan Motoyasu menggunakan tombaknya. [Dollyo Chagi]-ku gagal. Sial.

"Kau anggap itu serangan, huh? Aku bahkan tidak merasakan apapun!"

Aku langsung memasang [Moa Seogi], kuda-kuda sikap tertutup. 'Gawat. Perbedaan damage yang bisa kami berdua ciptakan terlalu besar. Level-ku masih satu, seharusnya aku menyadari ini! Bodoh sekali aku ini!'

"Biarkan aku mengajarimu caranya menyerang. Hyaaah!"

Motoyasu berlari ke arahku dengan cepat. Aku menghindarinya secara berputar, lalu melesatkan tendangan menuju kepalanya.

Bugh!

[Dwi Huryeo Chagi]-ku berhasil, tetapi itu tidak menumbangkannya. Gah, perbedaan level kami berdua terlampau jauh! Bagaimana ini …?! Apa aku harus menggunakan [Assasin Armour]-ku? Ya, aku bisa menggunakannya, tapi masalahnya ….

Bagaimana cara mengaktifkannya?! Aku benar-benar lupa untuk memelajari ini. Aku sungguh ceroboh sekali!

Motoyasu menghantamkan tombaknya ke tanah dengan ujung tombaknya berada di atas. "Aku tak punya waktu banyak, jadi akan kuselesaikan sekarang juga!"

Sebenarnya, ada apa dengan Motoyasu?! Aku tidak pernah membuat masalah dengannya, tapi kenapa hal ini bisa sampai terjadi?! "Sepertinya, dia benar-benar serius kali ini …."

Aku bahkan dapat merasakan tekanan kekuatan terpancar dari ujung tombaknya. Mataku seketika melebar ….

INI BERBAHAYA!

"Rasakan ini! [Tusukan Beruntun]!"

Sangat cepat …, juga banyak! Tombak Motoyasu seperti terpecah menjadi beberapa bagian, dan semuanya menuju ke arahku! Ini terlalu cepat untuk bisa kuhindari semua!

"Apa ini?!"

"Ini adalah skill-ku! Rasakanlah!"

"Gah! Argh!"

Aku menutupi tubuhku menggunakan kedua tanganku, tapi itu percuma. Setiap bagian Chain Plate Armour-ku rusak, lalu jatuh ke tanah. Armorku … hancur? Armor yang kubeli sudah menjadi barang rongsokan sekarang. Kau tidak tahu uang yang sudah kuhabiskan untuk membelinya, Sialan!

Setelah rentetan serangannya berhenti, tubuhku jadi lemas. Kedua kakiku jatuh menumpu tanah, darah banyak keluar di beberapa bagian tubuhku. Ini … menyakitkan. Guh!

Motoyasu berdiri di depanku dengan tombak teracung ke arahku.

"Sekarang, ikut aku ke Istana!" Mata Motoyasu berkilat saat menatapku dengan penuh kemarahan. "Atas nama dari Raja Aultcray Melromarc ke-32, kau ditangkap, Kriminal!"

Saat aku baru saja mulai menikmati kehidupanku di Isekai, kini semua itu telah dijungkir-balikkan oleh sebuah rencana licik yang bahkan tidak pernah aku bayangkan. Dan sebelum aku mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, aku mulai memahami …, bahwa ini semua adalah awal dari segala kehidupan berat yang akan aku temui ke depannya nanti ….

Bersambung


[A/N]:

Karena Naruto sudah menikmati kesenangan selama seharian penuh di chapter ini, maka mari kita buat sifat dia terjatuh dalam … "sedalam-dalamnya" … di chapter depan, wkwk. Yah, lagipula, memang seperti inilah alur dari cerita Tate no Yuusha no Nariagari. Cerita ini tidak ada penghianatan dan segala hal licik lainnya? Kalau seperti itu, kurang lengkap rasanya-lah, Bro! Wkwkwk.

Sebelumnya maaf, aku lupa menyapa. Halo, Teman-teman! Adakah yang masih menunggu cerita ini? Semoga aja begitu, wkwk. Oh, ya, alur cerita ini aku menyesuaikan sama LN-nya, jadi mungkin ini akan Alternate Reality karena ada perbedaan di beberapa tempat alur. Tapi, entah kenapa aku malah tulis di atas sana Alternate Universe, wkwk. Maklum, yang nulis ini kekurangan minum aqua, jadi gak fokus. Terima kasih kepada Shiraki Enchanter atau siapalah itu—dia udah ganti penname soalnya, karena mengingatkan aku soal ini. Udah aku ganti kesalahannya.

Lalu, Heroine? Banyak yang nebak bakal Jeanne d'Arc, tapi aku sendiri gak yakin sih, soalnya bisa aja peran Jeanne cuma setengah jalan cerita aja karena kekuatannya yang bisa aku bilang, berbahaya bagi tubuhnya sendiri. Yah, gara-gara Pak Phantom nih, aku dapet ide gila kek gitu. Tapi, aku berterima kasih ke dia karena sudah mau bantuin aku nyari konsep kekuatanmya si Jeanne nanti. Kami udah biasa melakukan diskusi di grup WA, jadi gitu deh. Itu lho, author Phantom no Emperor, dialah yang aku maksud.

Kembali lagi, jadi entahlah, apa Jeanne bisa bertahan sampai akhir cerita ini atau tidak. Lagipula, Heroine ini bisa siapa aja sih. Mungkin dari dunianya Glass, atau bahkan dari dunia asal Naruto sendiri, karena aku juga belum nyinggung sama sekali tentang hubungan percintaan Naruto di dunia asalnya, 'kan? Tapi, semua ini kembali ke alur cerita, apa aku emang bisa membangun feel di antara Naruto dan Jeanne apa enggak. Yah, lihat aja nanti.

Untuk keadaan Naofumi? Di chapter ini kalian sudah mendapatkan jawabannya, meskipun aku gak jelasin secara langsung. Hm, mungkin chapter depan dia bakal muncul, sepertinya.

Lalu soal aku ambil sedikit elemen dari Fate Series, sebenernya aku udah munculin di chapter 2, dan apa itu? Ya, Class Series. Kalian paham apa maksudku soal Series ini, 'kan? Juga untuk Thief Armor, ini aku ubah aja ke Assasin Armor. Sebenernya Assassin Armor mau aku pake buat pas peningkatan kekuatan Naruto di Thief Armor, tapi daripada kalian nanti pada bingung, jadi aku langsung pake aja Assassin Armor di awal-awal deh.

Yah, itu aja sih. Sekian.

.

Next Chapter: Penuh akan Kelicikan, Negeri Ini Benar-benar Busuk!

.

Special Thanks to Allah SWT.

Tertanda. [Infinite'D.'AkaRyuu666]. (29/Oktober/2020).