4/Desember/2022
—Hero Without Weapon—
By: Abidin Ren
Summary: Naruto yang merupakan seorang murid SMA biasa, harus terpanggil ke dunia lain setelah dirinya menemukan sebuah buku tua. Bukannya disambut dengan baik, ia malah dianggap penyusup dan dijebloskan ke dalam penjara, pada hari pertama dirinya tiba di dunia tersebut. Kehidupan beratnya sebagai Pahlawan Armor pun dimulai saat itu juga.
Disclaimer: [Naruto] © Masashi Kishimoto | [Tate no Yuusha no Nariagari] © Aneko Yusagi | Dan Semua Karakter Milik Pengarangnya Masing-masing!
Mini Slight with [Fate Series] © TYPE-MOON!
Saya tidak mengakui kepemilikan atas semua karakter yang muncul di dalam cerita ini. Saya hanya meminjamnya, tanpa ada niat sedikit pun untuk merugikan pihak mana pun.
This Story Created by Me!
.
Genre: Isekai, Adventure, Fantasy, Romance(?), Harem
Pair: [Naruto & ?]
Rated: T+ (M untuk adegan kekerasan dan kata-kata kasar!)
Warning: Alternate Reality! Martial Arts, OOC(s)(?), Semi-Canon & Out of Canon, And Many More. [Mengambil Sedikit Elemen Kekuatan dari Fate Series]!
.
[—Naruto's PoV!—]
.
Happy Reading, Minna-san~
Enjoy It~
Please Like, Favorite, and Review!
.
.
.
[Arc I]: Pemanggilan Pahlawan Suci
[Chapter 7]: Membangun Ikatan, Janji untuk Selalu Bersama
.
.
.
[Peringatan!]
[Peringatan!]
[Peringatan!]
[Cerberus telah muncul!]
Cerberus …, nama itu tertulis di layar mengambang notifikasiku.
Serius, aku gak salah lihat?!
Mau dilihat seperti apapun … makhluk dengan tiga kepala anjing ini memang lah Cerberus, monster yang berdasarkan cerita adalah penjaga gerbang menuju Dunia Bawah.
Kenapa tiba-tiba kami bertemu dengan monster seperti ini? Di tempat ini pula …?!
"Aaaa—AAAAAAAA …!"
Aku segera menarik tangan Raphtalia ketika Cerberus berniat menginjaknya. Kami bersembunyi di balik pilar tanah yang menopang langit-langit gua. Di dalam pelukanku, aku bisa merasakan tubuh kecilnya terus menggigil akibat ketakutan yang ia alami.
"Tidak-tidak-tidaaaaaak! Jangan! Otou-san! Okaa-san!"
Raphtalia memegangi kepalanya, ia kembali meracau tidak jelas.
"Hei, sadarlah, Raphtalia!" Gawat. Gejala serangan panik kembali memengaruhi dirinya.
Aku cukup yakin melihat tulisan Lv. 22 di atas kepala Cerberus. Levelnya bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan Lizardman yang pernah kulawan sebelumnya. Mungkin akan sulit untuk mengalahkannya jika aku mengingat kembali level kami bertiga sekarang. Aku segera menoleh ke tempat Jeanne bersembunyi.
"Dengar, sementara aku mengalihkan perhatiannya, kalian cepatlah keluar gua. Mengerti?"
"B-Baik!"
Jeanne kali ini benar-benar paham situasinya. Dia tidak membantah lagi perintahku, seperti saat kami bertemu Lizardman waktu itu. Benar, kabur adalah pilihan terbaik saat ini.
Aku segera berlari keluar dari persembunyian, bergerak ke samping tubuh Cerberus. "Hei! Kau mencariku?!"
Tanganku yang membawa obor milik Raphtalia, segera kuayunkan di atas kepalaku berulang kali.
Salah satu kepala Cerberus menoleh padaku, dan diikuti oleh dua kepalanya yang lain. Aku kembali berlari menuju bagian terdalam gua, dan seperti dugaanku … monster itu mengikutiku. Bagus, teruslah kejar aku!
Aku bisa melihat Jeanne sudah bersama Raphtalia. Dia membantu Raphtalia yang kesusahan berjalan karena mengalami panic attack.
Swusssh!
"Apa?!"
Hanya dalam sekali lompatan, dan Cerberus sudah berdiri di depanku!
"Grooaaargh!"
Aku melompat ke belakang untuk menghindari injakan monster itu. Ukuran tubuhnya bisa kuasumsikan tiga kali ukuran orang dewasa.
Aku segera berguling ke samping saat kulihat kaki kanan-depan Cerberus berniat mencakarku. Berhasil selamat, aku tanpa pikir panjang segera berlari lagi menjauhi Cerberus. Itu tadi berbahaya sekali!
Aku tidak tahu harus kemana, area gua ini cukup luas, kalian paham?! Aku terus berlari tanpa punya tujuan. Semoga saja ada pintu lain di belakang gua ini untuk aku kabur.
Aku hanya berharap agar tidak tersesat di sini—
"Oh sial, jalan buntu."
Aku malah masuk ke tempat dengan jalan satu arah. Aku bodoh! Seharusnya tadi aku lurus saja, bukannya belok!
Krek.
Aku baru saja menginjak sesuatu. Ini tulang … manusia? Terlebih lagi, ada banyak sekali di sini! Sepertinya aku masuk ke dalam sarangnya. Gawat, gawat, ini sungguh gawat!
"!"
Tubuhku tiba-tiba meluncur ke depan hingga menabrak dinding gua. Gah, tadi itu apa?!
Mendengar suara geraman, jadi kuputuskan untuk menoleh ke belakang. Aku bisa mencium napas busuk makhluk besar ini ketika dia menggeram. "Khh! Kau cukup cepat juga mengejarku, heh?"
Aku tidak berharap kalau akan mendapat balasan darinya. Lagipula, monster tidak bisa berbicara.
Aku melirik sekitar. Satu-satunya jalan keluar dari sini ditutupi oleh Cerberus di depanku. Aku yakin dia tak akan membiarkanku pergi begitu saja dengan mudahnya.
"Dia akan menyerang …?"
Aku segera mengubah senjata legendarisku menjadi [Rope Armor]. Armor kecil di dadaku bercahaya sebentar, kemudian berubah. Kini seluruh dada beserta kedua lengan bawahku terpenuhi oleh lilitan tali tambang coklat.
Aku bisa melihat kepala kanannya bergerak mendekatiku dengan mulut terbuka lebar. Dengan segera aku meneriakkan nama skill yang merupakan bonus pemakaian Rope Armor. "[Air Strike Hand]!"
Sebuah telapak tangan besar berwarna hijau muncul di depanku, diikuti berkurangnya SP (Skill Point) milikku. Aku butuh 15 detik sebelum bisa menggunakan skill ini lagi.
Brak!
Kepala Cerberus terhenti disana setelah menabraknya. Bagus, ternyata bisa tertahan!
Aku menggunakan [Launch Rope], efek khusus dari armor yang saat ini kugunakan. Tali tambang di lengan kananku menjulur, lalu kugunakan untuk mengikat ke leher bagian kiri Cerberus. Tali tambang ini menegang sangat kencang.
Dengan itu, aku tanpa membuang waktu … langsung saja berlari di tembok, dan berakhir melompat ke punggung Cerberus. Aku segera melompat ke belakang tubuhnya ketika efek khusus [Launch Rope] sudah berakhir. Talinya pun sudah kembali melilit lengan kananku. Beruntung sarangnya tidak begitu lebar, jadi dia harusnya sedikit kesusahan untuk memutar tubuhnya.
Tap!
Yossh, sekarang aku tinggal—
"UAAaagh!"
Sial …, aku tak berpikir kalau dia akan menendangku seperti itu. Punggungku sakit sekali.
"Hah, hah … ini darah?!" Kukunya pasti ada yang mengenai punggungku.
—Kalau kupikir lagi, ini adalah kali pertama aku mengeluarkan darah semenjak aku datang ke dunia ini. Kalian masih ingat? Aku adalah Pahlawan Armor, sama seperti Naofumi … poin pertahanan kami sangat tinggi dibandingkan Pahlawan Suci yang lain. Aku bahkan hampir tidak pernah merasakan kesakitan semenjak aku mendapatkan Senjata Legendarisku ini, kecuali ketika aku melawan Lizardman beberapa hari sebelumnya.
Itu berarti, attack point milik Cerberus cukuplah tinggi sampai-sampai dia sanggup melukaiku! Jika orang biasa menerima tendangannya barusan, aku tidak bisa membayangkan luka seperti apa yang akan dia miliki.
"GHHRrrrrr!"
Gawat, dia sudah berhasil keluar dari sarangnya!
Eh, kenapa dia membuka mulutnya lebar-lebar …?
"Oh, sialan."
Bwosssh!
—Kepala tengahnya baru saja menyemburkan api!
"GYAAAAAH!" Panas-panas-panas! Kakiku terbakar!
Huh! Dia berlari menerjangku, jadi aku kembali waspada.
Crunch!
Itu tadi sungguh berbahya! Gigi tajamnya hampir saja mengunyahku jika aku tidak segera melompat mundur.
"Dia cukup gesit." Tidak peduli bagaimana aku menghindari setiap serangannya, Cerberus selalu menyiapkan serangan berikutnya.
"Akh!"
Sial, darah kembali mengucur dari dadaku karena terkena cakaran monster itu. Tidak hanya itu, dia juga mendorongku hingga punggungku membentur keras pilar batu penopang langit-langit gua.
"…! GAAAAHH!"
Kali ini Cerberus berhasil menggigit pundak kananku. Itu sakit sekali!
Bugh. Buk! Buagh.
Aku hampir tidak memiliki Attack Point, kurasa memang percuma memukulinya. Seranganku tak berefek padanya. "Lepaskan aku, Sialan!"
Hah, hah, darahku semakin banyak berkurang, tetapi monster ini tidak kunjung melepaskan gigitannya. Apa aku akan berakhir di sini …?
—Tentu saja tidak! Aku tak 'kan mati sebelum kembali ke dunia asliku!
"Kamu terlihat menyedihkan."
Eh? Apa …, siapa yang barusan berbicara?
Duagh!
Suara itu sangat memekakkan.
Ah …, tiba-tiba saja gigitannya pada pundakku terlepas, tubuh Cerberus pun kulihat terpental hingga menghantam dinding gua. Beberapa batu jatuh menimpa anjing itu.
Obor di tanganku direbut oleh seseorang, dan itu langsung dilemparkannya ke tempat Cerberus terbaring. Minyak di dalamnya tumpah sehingga kini menciptakan api besar, membakar bulu coklat tebalnya tanpa ampun.
"AAAUUH! GHRrrrr …!" Lolongannya sangat keras, seolah itu hampir membuat gendang telingaku hancur!
Aku terkejut karena sesuatu menarik kerah belakangku. Seseorang itu melemparku cukup keras ke belakang bebatuan gua, sementara dia melongokkan kepalanya—seolah sedang mengawasi Cerberus jauh disana.
"Ugh~ bisakah kau bersikap lebih lembut?"
"Hmph!"
Ekspresinya sangat dingin. Dia bersikap acuh pada—tunggu dulu, kenapa dia di sini?!
"Kau … Jeanne?"
Dia tidak membalasku.
"Jeanne, benarkah kau itu?"
"Tentu saja ini aku, Master. Memangnya kamu pernah bertemu dengan orang berwajah sama sepertiku?"
Kurasa, dia memang Jeanne. Hanya saja, cara berbicaranya kini menjadi lebih lugas. Ini adalah "Jeanne" yang kulihat ketika dia mengalahkan Lizardman waktu itu.
"Oi, apa yang kau lakukan di sini? Bukankah tadi kalian sudah kusuruh untuk keluar dari gua?!"
"Ckk, urusai! Kamu ini banyak bertanya dari tadi. Bisa-bisa monster itu menemukan kita, paham?"
Huh, kau juga baru saja berteriak, tidak kah kau menyadarinya?
"Dan bukannya aku tidak menuruti perintahmu untuk kabur, hanya saja … aku dan Raphtalia tidak bisa keluar dari gua ini."
"Maksudmu …?"
Jeanne hanya mengendikkan bahunya. "Mana kutahu. Sepertinya ada sihir penghalang yang dipasang di pintu gua ini. Tapi jika itu benar, anehnya … kenapa kita bisa memasukinya?" Ekspresinya terlihat jelas cukup kebingungan.
Begitu, ya? Jika memang tujuannya adalah mengunci Cerberus di dalam gua, kurasa itu masuk akal di sini ada penghalangnya. Tapi sepertinya, penyihir itu juga berpikiran untuk memberikan makanan kepada Cerberus, karena itulah dia memasang sihir penghalang seperti ini. Buktinya adalah di sarangnya ada banyak sekali tulang manusia, maupun monster. Pasti sudah banyak yang terjebak ke dalam gua ini.
"Kurasa sihir ini adalah tipe penghalang satu arah, yang mana membiarkan orang lain memasukinya, tetapi dipaksa untuk tidak bisa pergi keluar."
Kami bertiga sungguh sial sekali. Apa berarti, orang dari desa Lafan itu menjebak kami? Dia akan menerima balasan dariku jika kami berhasil selamat dari Cerberus, lihat saja!
"Ehmm … selain itu, kamu terus saja berteriak, aku dan Raphtalia bisa mendengarnya bergema ke seluruh gua. Jadi, aku memutuskan untuk menyusulmu." Jeanne mengatakannya cukup serius.
"Yah, aku akui, aku sedikit kewalahan menghadapinya. Maaf, sudah membuatmu khawatir."
"Si-Siapa juga yang mengkhawatirkanmu!" Wajahnya sangat merah ketika berteriak.
Huuh …? Kalau memang begitu, tidak perlu marah-marah padaku, lah.
"Ugh~ sakit." Aku masih kesusahan menggerakkan tanganku. Bahu kananku masih mengeluarkan darah, tapi aku bersyukur lenganku tidak sampai putus karena gigitan Cerberus. Sepertinya, memiliki Defense Point yang tinggi tidaklah seburuk yang kukira.
"Gawat, monster itu mendekat ke sini." Jeanne mengatakan itu sambil mengawasi di balik bebatuan, tempat persembunyian kami. "Kamu bisa berjalan?"
"Kurasa bisa. Tapi, jika kita kabur … bukankah percuma? Kau tadi bilang jika kita tidak bisa keluar gua ini."
Mungkinkah jika kita membunuh Cerberus ini, sihir penghalangnya akan lenyap?
Jeanne menarik silver short sword di pinggangnya. Dia memutar-mutarnya cukup lincah—dan seringaian lebar kini menghiasi wajahnya. "Heh, kita tinggal mengalahkan monster jelek itu."
Aku tersenyum canggung mendengar kata-katanya. Sepertinya, kami berdua mendapat kesimpulan pemikiran yang sama.
Aku melihat daftar anggota Party-ku di layar yang mengambang. Aku memilih nama "Jeanne d'Arc", kemudian seluruh statistiknya pun memenuhi bidang pandangku.
Di situ tertulis kalau Level-nya masih sama seperti sebelumnya, yaitu Lv. 10. Hanya saja, semua statistiknya sedikit berbeda. Mulai dari HP, MP, Attack, Stamina, Agility, Defense, dan yang lainnya, itu meningkat banyak sekali secara tidak normal. Kurasa, efek berubahnya sifat Jeanne juga memengaruhi catatan statistiknya.
"Hm …? He-Hei—woaaah!"
Apa yang dilakukannya?! Tidakkah Jeanne lihat jika aku sedang sibuk?
Aku cukup kaget karena dia tiba-tiba saja menarik kerahku, lalu melemparku sangat jauh. Aku juga melihatnya melompat tinggi sekali.
Swooosh!
"!" Api besar membakar tempat kami tidak lama setelah itu.
—Ahh … oke, aku harus berterima kasih lagi padanya karena diselamatkan oleh Jeanne.
"GHRrrrrr …!"
Cerberus muncul. Seperti biasa, monster itu menggeram sambil ketiga pasang matanya menatap penuh kelaparan pada kami. Aku bahkan bisa melihat air liur mengalir keluar dari masing-masing mulutnya.
Jeanne kembali memainkan Silver Short Sword-nya. "Baiklah. Kamu siap, Master?"
Apa dia bersungguh-sungguh ingin melawan Cerberus? Yah, jika melihat perubahan statistik Jeanne saat ini, kurasa kami masih memiliki peluang untuk menang melawan Anjing Berkepala Tiga di depan kami.
"Aku pikir, hanya ini pilihan yang kita punya, 'kan? Menang atau mati, jalan kita saat ini di antara kedua pilihan itu."
—Sejujurnya, aku hanya bercanda dan ingin melunakkan keadaan intens saat ini menggunakan kata-kata itu. Tapi, Jeanne malah menanggapinya sangat serius.
"Hah! Apa yang kamu bicarakan? Tentu saja kita akan menang!"
Lihat? Dia berlari mendekati Cerberus sambil mengatakan itu dengan seringaian lebar di wajahnya. Dia kelihatan cukup bernafsu sekali; ekspresi yang jarang kulihat dari dirinya.
"Aku tidak boleh diam saja. Aku harus membantu Jeanne." Itulah yang kugumamkan.
Aku melihat Jeanne yang melompat tinggi. Dia menebaskan pedang peraknya ke leher belakang dari kepala kiri Cerberus. "Hyaaah! Rasakan ini!"
Cerberus tidak bisa mengikuti pergerakan cepat Jeanne. Darah menyembur dari luka besar yang ia terima. Tapi … itu belum cukup untuk memotong kepalanya.
Jeanne melanjutkan serangannya, ia kembali menyayat tubuh monster yang merupakan lawannya.
Dua kepala Cerberus melolong keras, dan aku tidak begitu mengerti … tetapi Jeanne tiba-tiba saja berhenti bergerak. Kurasa suaranya itu memberi efek paralyzing sementara kepada musuhnya dalam jarak tertentu, soalnya … aku tidak terkena efeknya?
Menyadari Cerberus akan menusuk Jeanne menggunakan tanduk di kepalanya, jadi aku buru-buru mengaktifkan skill-ku.
"[Air Strike Hand]!"
Dalam area 5 meter, aku bisa sesuka hati untuk menempatkan dimana skill ini muncul, dan itu akan bertahan selama 15 detik. Tentu saja aku mengeluarkannya di depan tubuh Jeanne.
Setelah tubuhnya dapat bergerak, Jeanne dengan sekuat tenaga mengayunkan pedangnya menggunakan kedua tangan.
Jrassssh!
Karena kepala kirinya memang sudah menerima luka fatal, jadi kali ini Cerberus benar-benar kehilangan satu kepalanya. Meski tidak sampai terputus dan menggelinding ke tanah, tapi aku cukup yakin satu kepalanya sudah tidak lagi berfungsi. Lihat saja, kepalanya itu hanya menggelantung tanpa ada gerakan lagi.
Dua kepalanya yang tersisa kembali melolong, namun Jeanne sudah mengantisipasinya agar tak terkena efek paralyzing seperti tadi. Dia mengambil jarak mundur, hampir tiga meter dari Cerberus.
"Itu tadi pertahanan yang bagus sekali, Master!"
"Jangan alihkan pandanganmu dari musuh. Fokus saja menyerang, dasar Bodoh!"
"Kyaah!"
Tuh 'kan, baru juga kubilang! Jeanne terlempar jauh ketika terkena kibasan ekor Cerberus, dan monster itu segera mengejarnya.
Dia ceroboh sekali! Sifat dari "Jeanne" yang ini sungguh merepotkan. Dia tidak begitu mendengarkan perintahku. Aargh!
"…? Siapa disana?!"
Aku merasa baru mendengar suara batu atau semacamnya, jatuh tepat di belakangku. Lalu tidak lama, sepasang telinga berbulu warna coklat tiba-tiba menyembul keluar dari balik batu besar disana.
"A-Anoo … uhuk! Ini saya, Goshoujin-sama. Maaf jika mengagetkan Anda."
Ternyata hanya Raphtalia. "Kau sudah disana dari tadi? Paling enggak bersuara, kek."
"Uhm, m-maaf! Saya mengikuti Jeanne-san dari belakang karena bingung tidak tahu harus apa …."
"Ck, sudahlah. Cepat, kita harus membantu Jeanne melawan monster itu."
"E-Eeeh! Tapi …."
Dia tiba-tiba kembali ketakutan, namun aku mengabaikannya dan segera beranjak dari tempatku berdiri, mengikuti arah Cerberus pergi.
Saat aku sudah sampai, aku bisa melihat Jeanne dalam kondisi berbahaya. Dia terpojok sambil menahan cakar Cerberus menggunakan pedang peraknya. Di belakangnya hanya ada tembok gua, jadi Jeanne hanya akan berakhir menjadi daging penyet kalau tidak segera pergi dari situ!
"Jeanne!"
Aku segera menjulurkan tali di lengan kiriku untuk mengikat kaki kanan-depan Cerberus, kemudian aku menariknya. Benar, efek [Launch Rope] baru saja aktif.
"Khh!" Kekuatannya luar biasa, aku tidak akan bisa menahan ini lebih lama.
"Jangan diam saja, Raphtalia! Ambil pisau di pinggangmu dan tikam dada monster itu … atau apalah, terserah kau!"
Aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak berteriak ketika menyadari bahwa gadis kecil itu hanya diam melihat, sementara kami sedang berusaha sekuat tenaga melawan Cerberus.
"Saya … ti-tidak bisa melakukannya …."
Huh?! Dia pasti bercanda!
"Khh! Aku tidak peduli meski kau ketakutan ketika melawan monster, tapi ini adalah perintah!"
Benar, dia adalah budak yang sudah kubeli. Aku adalah Tuannya, maka dari itu apa yang kukatakan adalah mutlak untuk dia turuti. Kalau dia berani menolak perintahku, sudah jelas jawabannya adalah …
"—Ugh! Aaaaarkhh!"
… segel kutukan di dadanya aktif.
Raphtalia meronta-ronta sambil menarik ujung kerahnya. Itu tak akan berhenti sebelum dia mau mengikuti perintahku.
Aku sebelumnya sudah mengatur bahwa efek segel budak itu hanya akan menyengat tubuhnya dengan listrik. Namun, kalau Raphtalia masih kekeh untuk membantah terus, maka lain kali akan kunaikkan level efeknya agar dia mengerti.
"Master no Baka! Kamu membuat Raphtalia kesakitan! Cepat hentikan!"
"Dia tidak mau mendengarkanku, jadi apa boleh buat, 'kan? Aku terpaksa mengaktifkan segel kutukannya agar dia patuh." Daripada mencemaskan orang lain, lebih kau pikirkan keadaanmu sekarang. Dan lagipula …, siapa yang kau panggil "Baka", dasar Jeanne Bodoh.
"Aku bisa mengalahkan monster ini sendirian, percayalah! Raaaaah!" Bisa-bisanya Jeanne mengatakan itu di saat situasinya begini. Tapi memang … aku bisa melihat rasa percaya diri itu dari pancaran matanya. Dia sedang serius.
"Hgh! Jadi karena itu … kumohon, berhenti memaksa Raphtalia, itu hanya menyakitinya, Master."
…. Suaranya tiba-tiba saja berubah melembut di akhir perkataannya. Berhentilah memasang ekspresi begitu, Jeanne. Haah~
"Guuh! Aaagh!"
Raphtalia tersungkur di tanah, tubuhnya menggeliat kesakitan. Air liur kulihat mengalir keluar dari mulutnya.
Jujur entah kenapa, meski hanya sesaat, aku sepertinya merasa kasihan melihatnya begini. Selama tiga hari ini Raphtalia sudah sangat membantu kami berdua, aku seharusnya tidak memperlakukannya begini.
"Lupakan saja yang kukatakan tadi, Raphtalia, kau tidak perlu bertarung. Cepat kau pergi saja selagi kami berdua melawannya."
Setelah sengatan listrik di dadanya benar-benar berhenti, Raphtalia memasang wajah kebingungan bercampur cemas. "Goshoujin-sama …?"
"Apa yang kau tunggu lagi? Pergilah bersembunyi, kau hanya akan mengganggu jika ada di sini."
"Tidak … t-tapi … saya …."
Aku tidak mengerti apa maksudnya itu. Aku tidak begitu mendengar jelas apa yang barusan dikatakan Raphtalia karena aku sudah meninggalkannya. Aku kini berdiri di belakang tubuh Cerberus, masih berusaha menarik kaki-depannya menggunakan [Launch Rope].
"Ghhr! Augh! Aaauuuuu!"
Jeanne mendorong cukup kuat, hingga tubuh depan Cerberus terangkat dan membuatnya berdiri dengan kedua kaki belakangnya.
"Cepat pergi dari sana, Jeanne!"
"Tidak, sebelum aku memenggal kepalanya lagi, Master!"
Dia meneriakkan itu tanpa keraguan.
Gadis berambut pirang itu pun segera melakukan serangan balasan; melompat dan memotong kepala kanan Cerberus, memaksanya melolong kesakitan untuk kesekian kalinya.
"—Wooahh! WOAAAH!"
Bugh.
"Guh …!"
"A-Anda … baik-baik saja, Goshoujin-sama?" Itu tadi suara Raphtalia. Padahal sudah kusuruh dia untuk bersembunyi.
"Ya, tenang saja." Sejujurnya, itu menyakitkan, monster itu baru saja melempar dan membantingku cukup keras. Seharusnya tadi segera kulepaskan ikatan di kaki depannya.
Ekspresi Raphtalia berubah cemas. "Ahh, hati-hati, Jeanne-san!"
Aku segera bangun, dan mendapati Jeanne yang sedang menghindari bola-bola api yang mengarah padanya.
—Sepertinya karena sudah kehilangan dua kepala, hal ini membuat Cerberus marah. Gerakan pola serangannya kini menjadi tidak beraturan. Monster itu bahkan menjadi lebih sering menembakkan api dari mulutnya secara membabi buta.
"Jeanne, mundur!"
"Tenang saja, Master! Aku akan menyelesaikan ini dalam sekejap."
Dia sungguh ceroboh! Dia harusnya mengambil jarak aman ketimbang mendekati Cerberus yang sedang masuk ke dalam [Rage Mode].
Dan lagi, sifat dari "Jeanne" yang ini cukup merepotkan, ia terkadang tidak mau mendengarkan perintahku.
Asap-asap tebal mulai memenuhi ruang gua di dalam sini, itu sangat mengganggu jarak penglihatan kami. Aku bahkan mulai kehilangan keberadaan Jeanne.
"Uhuk! Uhuk!"
Raphtalia mengibaskan tangannya berulang kali, sementara tangannya yang lain digunakan untuk menutup mulut serta hidungnya. Asap-asap ini juga mulai menggangguku.
"Kau melihat Jeanne, Raphtalia?"
"Uhuk, tidak …."
Ini buruk. Aku tidak tahu kenapa, tapi firasatku memberitahuku bahwa telah terjadi sesuatu padanya. "Jeanne! Katakan sesuatu!"
Swussh!
Apa itu? Sepertinya tadi ada gerakan di balik asap disana.
"Jeanne …? Berhenti menakut-nakuti kami. Katakan kalau kau sudah memenggal kepala terakhir milik monster itu."
Hanya kesunyian yang membalas kata-kataku, dan aku tidak menyukainya. Ayolah, ini tidak lucu sama sekali.
"GHROAGH!"
"!"
"Aaaaaaa!"
Cerberus tiba-tiba muncul tepat di atas kiri kami berdua, menerobos melewati asap-asap ciptaannya. Itu berarti … dia yang sedari tadi melompat di dalam kepulan asap. Sial.
Aku segera menarik tangan Raphtalia untuk menyembunyikannya di belakang tubuhku. Aku berhasil menahan Cerberus sebelum dia berhasil menggigit kepalaku, namun demi hal itu aku harus mengorbankan lengan kananku. Seperti yang kuduga, aku tak 'kan bisa menahan ini cukup lama. Kekuatan monster ini tidaklah main-main.
Tik.
Sesuatu menetes di pipiku, dan itu berasal dari tanduk Cerberus. Apa ini? Darah …? Jangan bilang … dia menusuk Jeanne waktu di dalam kepulan asap!
Jeanne, mungkinkah—
Tidak, tidak, tidak! Berhenti berpikiran bodoh! Aku masih melihat namanya ada di daftar Party-ku, jadi mana mungkin ia sudah tiada.
"Apa yang kau tunggu lagi, Raphtalia? Pergilah, bukankah kau sudah kusuruh untuk meninggalkan tempat ini dan bersembunyi?!"
"Tapi—"
"Berhenti membantah! Kau sendiri yang bilang kalau kau tidak bisa bertarung melawan monster ini, jadi apa gunanya kau di sini? Aku tak butuh seseorang yang tidak mau membunuh monster."
"E-Etto … uhuk, ba-bagaimana dengan Anda …?"
"Jangan pedulikan aku. Kau cukup pikirkan saja nyawamu sendiri untuk saat ini."
Seingatku, aku belum menggunakan [Assassin Armor] belakangan ini, itu berkat adanya Jeanne serta Raphtalia. Yah, kurasa menggunakannya sekarang adalah satu-satunya cara agar kami semua bisa selamat dari Cerberus.
Tapi … akh! Darahku semakin banyak berkurang karena gigitan ini. Aku bahkan hampir tidak bisa merasakan lagi bagian tubuh kananku, seolah mati rasa.
Jadi, beginilah rencanaku. Setelah aku nanti menggunakan Assassin Armor, aku harus bisa menyerangnya tepat di bagian titik vitalnya dalam sekali serang. Kalau tidak, maka kami semua akan tamat.
"Tidak … tolong jangan mati! Jangan tinggalkan saya sendirian …."
Huh? Berhenti mengatakan hal aneh di saat seperti ini, Raphtalia. Siapa juga yang mau mati.
Aku menoleh ke belakang, dan bersiap berteriak karena dia belum juga mau pergi. Namun … melihat keadaannya, itu menghentikan niatku.
Raphtalia menangis, meski aku tak tahu untuk apa air mata itu ia keluarkan.
"Saya …!"
Dia tiba-tiba menarik pisau di pinggangnya dan berlari ke arah sini.
"Aaaaaaaah!"
Raphtalia berhasil menusuk dada Cerberus. Monster itu mengaum, dan gigitannya pada lenganku terlepas. Kurasa tusukan yang diberikan Raphtalia tidak begitu dalam karena Anjing besar ini masih hidup, meski berdiri sempoyongan. Bagaimana pun, Cerberus juga telah kehilangan banyak darah dari luka yang ia dapat sebelumnya.
Perbuatannya mengejutkan. Padahal beberapa saat sebelumnya Raphtalia tidak berani bertarung karena ketakutan, tetapi sekarang …? Sorot matanya dipenuhi dengan keberanian. Yah, cara berpikir anak kecil benar-benar tidak bisa kuprediksi.
"Aaaaaaahh!" Raphtalia terus mencoba memperdalam tikamannya, suaranya juga ikut keluar bersamaan dengan usahanya untuk membunuh monster di depannya.
Cerberus tiba-tiba mengeluarkan raungan panjang.
"Akh, tubuhku!"
Aku tidak bisa bergerak. Aku juga melihat bahwa Raphtalia kesusahan menggerakkan kedua tangannya. Jangan-jangan, ini adalah teknik yang sama ketika Cerberus menghentikan gerakan Jeanne tadi!
"Ghrrrr! AUM! Ghrah!"
"Ahh, tidak …, tolong AKUUUU!"
"Raphtalia!"
Sial, jika aku tidak segera bertindak, Raphtalia akan diinjak Cerberus! Efek paralyzing ini sungguh menyebalkan!
"Jangan sakiti mereka berdua, dasar Monster Jelek!"
Barusan itu suara Jeanne, 'kan?
Ah, dia melompat sangat tinggi sekali! Lalu ia mendarat tepat di atas Cerberus. Dia bahkan menusukkan pedangnya ke punggung Cerberus hingga menembus ke bagian dada depannya.
"Rasakan ini, hyaaaah!"
"Raugh! Groagh! Aauuu!"
Tubuh Cerberus mengejang beberapa kali, lalu diam tak lama setelahnya.
"Haaah~ itu tadi hampir saja. Sini kubantu, Raphtalia-chan."
"Etto, terima kasih, Jeanne-san."
Kalau Jeanne telat sedikit, mungkin Raphtalia akan menerima luka yang sangat berat. Kami harus bersyukur karena masalah di sini sudah selesai, Cerberus juga kulihat sudah benar-benar mati.
Hm? Sepertinya ada banyak notifikasi yang baru saja kuterima.
[Anda telah mengalahkan Cerberus!]
[Anda: +1. 023 Exp!]
[Level Up!]
[Anda telah naik ke Level 15!]
[Jeanne d'Arc: +1. 372 Exp!]
[Level Up!]
[Jeanne d'Arc telah naik ke Level 13!]
[Raphtalia: +905 Exp!]
[Level Up!]
[Raphtalia telah naik ke Level 9!]
"!?"
Itu … Exp. Point yang sangat banyak! Aku gak begitu menduganya sama sekali. Bahkan, kami naik sampai tiga level sekaligus berkat ini!
Dan seperti biasa, Jeanne mendapat poin paling banyak di antara kami bertiga karena dia yang memberikan serangan terakhir pada musuh.
"Oh, tubuhku sudah bisa bergerak lagi." Sepertinya, efek paralyzing tadi sudah hilang. Aku beranjak mendekati kedua perempuan itu.
"A-Anoo …, Goshoujin-sama."
Aku merasa kalau jubahku ditarik-tarik, jadi aku menoleh ke samping untuk melihat apa itu.
"Kau kenapa, Raphtalia?"
Aku baru menyadari kalau gadis kecil ini tidak bersuara sama sekali setelah kami mengalahkan Cerberus. Dia bahkan gak kelihatan senang. "Apa tubuhmu ada yang terluka?"
"T-Tidak!" Dia menggeleng berulang kali.
Aku berjongkok untuk menyejajarkan pandangan kami. "Lalu …?"
Aku tidak mengerti kenapa dia seolah kesulitan berbicara. Berhenti memainkan jari-jarimu, dan berbicaralah segera. Haah~
"Mengenai sebelumnya, etto … tolong jangan buang saya!"
…? Tiba-tiba mengatakan hal ini. Aku tidak ingat pernah berkata akan melakukan itu kepadanya.
"Woah! Hati-hati, tanganku masih terluka!" Meski aku memiliki poin pertahanan yang tinggi, tetap saja luka disana masih terasa menyakitkan untukku.
Hah~ Raphtalia tidak mau melepaskan pelukannya pada lenganku—bahkan itu semakin mengerat! Owowow, ouch!
"Hiks! Hiks, hiks!"
Lah, dia malah menangis.
"Saya berjanji akan lebih giat bekerja! Saya juga akan berusaha lebih banyak membunuh monster untuk Anda! Karena itulah, karena itulah …! Saya mohon … jangan kembalikan saya ke tempat gelap itu!"
Ah, yang dimaksud Raphtalia pasti tempat si Penjual Budak. Dia berpikir kalau aku akan menjualnya lagi seandainya dia tidak berguna bagiku, begitu? Itulah alasan yang membuat dia tiba-tiba menjadi berani menghunuskan pisaunya ke Cerberus.
"Uuuu~ Saya tidak ingin sendirian lagi, Goshoujin-sama …."
Sendirian, ya? Aku sedikit memahami apa yang dimaksud Raphtalia. Yah, tidak ada orang yang benar-benar bisa tahan dengan rasa kesepian.
"Iya, iya, kau boleh tetap bersama kami. Berhentilah menangis."
Lagipula, aku tidak pernah berpikir untuk menjual Raphtalia. Siapa tahu 'kan, kalau si Penjual Budak itu akan membelinya dariku dengan harga lebih murah ketimbang waktu dia menjual Raphtalia padaku. Yang ada aku bisa rugi.
"Benarkah …? Terima kasih!"
Aku mengelus ujung kepalanya. "Ya. Dan … berhentilah menggunakan jubah merahku sebagai lap ingusmu!"
"M-Ma-Maaf!"
Rakun kecil ini! Kau bahkan gak kelihatan menyesali perbuatanmu.
"Hihihi!"
Jeanne yang kulihat hanya mengamati kami sejak tadi dari sana, kini malah cekikikan. "Apa yang lucu, Jeanne?"
"A-Ah, tidak. Hanya saja, kalian jadi terlihat seperti Ayah-Anak."
Aku melirik budakku, lalu menghela napas. "Dasar. Lihat, kau membuatnya kotor."
"Maaf, uhuk!"
Sepertinya penyakit batuknya belum juga sembuh. "Kau nanti harus meminum obatmu lagi, ingat itu."
"Eeeek! Tapi itu rasanya pahit, Goshoujin-sama!"
Dia cepat sekali kalau urusan lari bersembunyi ke belakang Jeanne. Dan seperti biasa, Jeanne mengatakan sesuatu untuk menenangkannya. "Mau bagaimana lagi, 'kan? Kalau kamu tidak minum obat, kamu tak 'kan sembuh-sembuh, loh"
"Tidak mauuuuuu!"
Haaah~ dia sungguh merepotkan.
"Kau baik-baik saja, Jeanne? Bagaimana dengan lukamu?"
Ternyata benar Cerberus berhasil menusuk Jeanne. Pakaian biru-gelap miliknya kulihat basah di bagian perutnya. Dia pasti kehilangan banyak darah.
"Ah, jangan khawatirkan ini. Biasanya, luka saya akan sembuh tidak lama lagi."
Benar juga. Aku ingat kalau luka yang ia dapat dari pertarungan melawan Lizardman sembuh hanya dalam waktu semalam.
"Ngomong-ngomong, maafkan … saya, Goshoujin-sama. Seharusnya, saya tadi mendengarkan perintah Anda untuk mundur."
Nada bicaranya berubah lagi, kembali gugup seperti yang biasanya. Yah, ini adalah "Jeanne" yang kukenal sejak awal. "Mari kita kesampingkan itu dulu. Jeanne, kau … ingat yang baru saja terjadi?"
Satu anggukan dia berikan atas pertanyaanku.
Hm, itu aneh. Padahal saat melawan Lizardman waktu itu, dan juga mengenai sifat serta kekuatannya yang berubah 180 derajat, Jeanne bahkan tidak mengingat itu semua ketika siuman selepas pingsan.
"Lalu, apa yang baru saja terjadi padamu?"
Setelah aku menanyakan itu, Jeanne menjadi gelisah. Ia tak henti-hentinya melirik kesana dan kemari, seolah menghindari tatapanku.
"Hei!"
"Ah, ya …?"
"Aku bertanya padamu."
Jeanne berjengit takut. Lalu, ia cepat-cepat membungkuk. "M-Ma-Maafkan saya karena berbohong pada Anda!"
"…"
Huh? Berbohong padaku, tapi sejak kapan …? Aku tidak sadar sama sekali karena ia berperilaku sangat natural.
Padahal aku percaya kalau dia tak akan mengkhianatiku! Kenapa harus Jeanne juga …?!
"Go-Goshoujin-sama! T-Tolong tenang sebentar!"
Ugh, aku ingin sekali marah. Ekspresiku pasti terlihat sangat jelas begitu. Itulah kenapa Jeanne dan Raphtalia menatap takut ke arahku.
Sabar, tarik napas dan hembuskan~ Aku yakin dia punya penjelasan tersendiri kenapa dia menyembunyikan fakta kekuatannya ini. Tapi, mari kita tunda dulu saja masalah ini.
"Percayalah, Tuan, saya tidak berniat buruk pada Anda! Uhm, saya berpikir—"
"Kalau kau masih punya banyak hal untuk dikatakan, maka kita bicarakan itu nanti. Dan jika kau berniat kabur dariku setelah keluar dari gua ini, maka kau akan tahu akibatnya!"
Jeanne menunduk cukup dalam. "Saya … mengerti. Saya tidak akan melakukan itu."
Aku sengaja memotong perkataan Jeanne, dan dia setuju atas saranku. Lagipula, aku tidak mau berlama-lama di dalam gua ini. Baunya sungguh busuk.
Aku berjalan mendekati bangkai Cerberus, dan kutendang beberapa kali kepalanya yang tersisa. Hanya untuk memastikan saja kalau dia tak 'kan bangkit menjadi monster zombie, atau semacamnya.
Baiklah, mari urus dulu bangkai Cerberus sebelum kita pergi dari gua ini.
"Harusnya tubuhnya bisa diserap ke Senjata Legendaris, 'kan?" Itulah yang kugumamkan.
Semua monster yang telah kutemui, bagian tubuh mereka yang diserap oleh permata putih di armorku ini, selalu akan membuka berbagai armor baru untukku. Yang terakhir kali ada [Lizardman Armor], poin pertahanannya yang paling tinggi dibandingkan armorku yang lain. Tapi, levelku masih belum cukup tinggi untuk bisa memakai armor itu.
"Jeanne. Raphtalia."
Tangan kananku masih cedera, jadi sedikit sulit melakukan berbagai hal. Karena itulah, aku menyuruh mereka berdua yang harus menguliti setiap bagian dari Cerberus. Sesuai intruksi yang kuberikan, mereka memisahkan bagian-bagian tubuhnya, mulai dari bulu, tulang, bahkan dagingnya. Setelah selesai, aku membiarkan semua itu terserap ke armorku hingga cukup untuk membuka beberapa armor baru.
[Cerberus Meat Armor: Persyaratan terpenuhi.]
[Cerberus Bone Armor: Persyaratan terpenuhi.]
[Cerberus Leather Armor: Persyaratan terpenuhi.]
[Cerberus Horn Armor: Persyaratan terpenuhi.]
[Cerberus Armor: Persyaratan terpenuhi.]
Banyak armor baru yang terbuka. Hmm, tidak banyak equip bonus yang menarik. [Peningkatan Kualitas Memasak], [Resistensi Serangan Api], [Pertahanan +10], [Serangan +2]; semua itu hanya memberiku skill pasif, seperti biasanya. Dan tentu saja, semua kemampuan di armornya terkunci.
Tapi kuakui, bonus pemakaian dari Cerberus Horn Armor lumayan bagus. Ini adalah pertama kalinya aku mendapat penambahan statistik Attack dari membuka armor baru. Keempat armor itu bisa langsung digunakan, tetapi untuk yang terakhir … aku setidaknya butuh Level 20 agar bisa menggunakannya.
[Armor Cerberus (kemampuan terkunci):
Bonus Pemakaian: –Burn Resistance, Speed Up (Low) –Skill: "Paralyzing Roar"
Efek Spesial Pemakaian: Dog Claw]
Sekarang aku punya skill aktif baru, selain skill dari Rope Armor dan Assassin Armor-ku. Lalu, efek "Dog Claw" …? Aku tidak mengerti itu. Yah, skill dari Cerberus Armor cukup berguna sebagai support nantinya.
"Uhm. Kita apakan ini, Goshoujin-sama?"
"Kita bawa."
Hanya sedikit material yang dibutuhkan untuk membuka armor-armor tadi. Masih banyak yang tersisa dari bangkai Cerberus, jadi aku meminta Jeanne untuk memasukkan sebagiannya ke dalam tas. Siapa tahu 'kan, kalau itu bisa dimasak nanti? Hitung-hitung sebagai pengurangan biaya makan kami bertiga. Dan sisanya lagi, kami akan tinggalkan saja di sini.
…. Aku terus mengalami berbagai hal buruk sejak aku terjebak di dunia lain, bahkan aku hampir kehilangan nyawaku belakangan ini. Tapi, semua itu sebanding dengan segala peningkatan armor yang kudapat.
Aku akan terus bertambah kuat, sehingga nantinya tak akan ada lagi yang bisa meremehkanku sebagai si "Pahlawan Armor tak Berguna".
Ngomong-ngomong, aku ingin tahu apa yang dilakukan para Pahlawan yang lain saat ini. Masihkah ketiga orang itu menganggap dunia ini adalah sebuah game seperti yang pernah mereka mainkan di dunia mereka sebelumnya? Kalau iya, mereka beneran idiot.
"Kurasa, kita bisa pergi sekarang?"
"Baik!"
Kami pun berjalan menuju pintu gua.
Meski tujuan awal kami datang ke gua ini demi mencari batu bagus untuk dijual dan mendapatkan banyak uang, tapi aku menyerah saja. Saat dikejar Cerberus, aku sesekali mengamati seluk beluk gua ini, dan aku tidak pernah sekalipun melihat batu berkilauan atau bahkan sesuatu yang kelihatan berharga.
Penduduk Desa Lafan itu hanya menipu kami. Meski mereka sudah berperilaku baik pada kami, tapi ternyata mereka malah membuat kami sebagai makanan monster di dalam sini. Memang lebih baik aku tidak terlalu percaya pada siapapun.
"Bagaimana?"
Sebelumnya Jeanne sempat mengatakan, kalau ada semacam penghalang tak kasat mata yang menutup pintu gua ini. Ya, prediksiku ini adalah sihir bertipe penghalang satu arah; itulah mengapa kami bisa memasuki gua ini, namun tidak bisa keluar. Kami berasumsi jika Cerberus berhasil kami kalahkan, maka penghalang itu akan lenyap. Semoga saja benar.
Jeanne menoleh ke arahku, wajahnya sangat sumringah. "Kita bisa lewat, Goshoujin-sama!"
"Yeey!"
Itu berita bagus.
Dia langsung berlari keluar gua bersama Raphtalia. Aku segera beranjak mengikuti mereka.
Ahhh~ udara segar memang yang terbaik.
.
.
—Hero Without Weapon—
.
.
Setelah pergi dari gua tadi, aku bersama kedua anggota Party-ku kembali ke desa Lafan. Aku mencari seseorang yang sudah membohongiku tentang adanya batu berharga di sebuah gua, arah tenggara dari desa Lafan.
Setelah kutemukan remaja lelaki itu, aku mengatakan apa yang sudah kami alami di gua itu. Ia tak percaya dengan omonganku, jadi aku langsung saja menyeretnya ke gang di antara dua rumah. Banyak hal yang harus ia pelajari dariku karena ia berani membuatku hampir mati!
Aku menarik lengannya dan kubuat ia jatuh tersungkur. Ia duduk bersandar pada tembok rumah di belakangnya, matanya bergerak kesana-kemari ketakutan. Kau berniat mencari jalan kabur? Tentu tak 'kan semudah itu, Bodoh!
"Jadi, apa tujuanmu sebenarnya, hah?!"
Aku cukup sadar bahwa nada bicaraku kali ini lebih tinggi dibanding yang biasanya. Sudah lama aku tak semarah ini, semenjak aku difitnah oleh si Jalang itu.
"Ma-Ma-Maaf! Aku tidak tahu kalau gua itu adalah sarang monster! Sungguh!"
Ekspresi ketakutannya itu sungguh membuatku puas.
"Heh. Kau pikir aku akan percaya padamu, setelah apa yang kau lakukan pada kami?"
"T-Tapi itu benar! Aku hanya mengikuti perintah! Cuma itu saja! Tolong maafkan aku, Petualang-san!"
Perintah …? Maksudnya, dia bekerja dari orang lain untuk membunuhku?
"Perintah apa?"
"Yah … mengatakan persis, seperti yang kukatakan padamu untuk pergi ke gua itu. Dia membayarku dengan lima koin emas, mana mungkin aku menolaknya, 'kan?"
Berhentilah menggaruki kepalamu dan tersenyum bodoh. Itu mengganggu konsentrasiku.
"Kau pasti paham situasi saat ini, Petualang-san. Dengan adanya Gelombang yang terus berdatangan, warga desa seperti kami akan kesulitan mencari uang. Apalagi, lahan pertanian kami jadi lebih sering dirusak oleh monster yang muncul entah darimana."
"Ya, ya, terserah. Lalu, siapa yang menyuruhmu?"
Setelah kutanyakan itu, kening remaja di depanku mengkerut. Oh baiklah, aku bisa menunggu sampai dia mengingatnya.
Aku tidak tahu siapa orang yang menyuruhnya, tetapi Orang Ini pastilah tahu betul kalau aku sedang membutuhkan uang demi mempersiapkan diri melawan Gelombang.
"Goshoujin-sama, apa kita memang harus melakukan ini kepadanya?"
Aku menoleh ke belakang, dan kulihat Jeanne yang seolah mengkhawatirkan sesuatu. "Apa maksudmu? Karena orang ini, kita hampir mati. Kau tidak ingin membalasnya, hah, Jeanne?"
"Bukan begitu maksud saya. Itu kan hanya karena ia mendapat intruksi dari orang lain, jadi itu bukan murni kesalahannya. Tolong pertimbangkan perbuatanmu, Tuan."
Ini dia …, sifat baik Jeanne kembali muncul. Setelah apa yang kau alami dari perbuatan busuk warga kota, dan kau masih bisa berpikir positif terhadap orang lain?! Terkadang, aku merasa ingin sekali melihat isi kepala gadis ini. Pasti ada yang tidak beres di dalam sana.
"Ah, aku ingat! Dia datang dengan pakaian layaknya ksatria kerajaan. Dia juga mengatakan, kalau itu merupakan perintah langsung dari Sang Putri."
Sang Putri …? Maksudnya Putri kerajaan Melromarc ini?! Aku tidak ingat pernah membuat masalah dengannya, tetapi kenapa dia ingin membunuhku dengan menuntunku ke sarang monster? Apa ini ada hubungannya karena aku telah mengancam Ayahnya, si Aultcray, waktu itu?
Namun, jika kuingat-ingat lagi … aku belum pernah bertemu dengan Sang Putri secara langsung. Keluarga Kerajaan selalu memberiku masalah saja!
Brak!
"Hiiiiii!"
"Tolong tenangkan diri Anda, Go-Goshoujin-sama."
Remaja lelaki itu sungguh ketakutan setelah melihatku memukul tembok rumah cukup keras. Dia bahkan mengesot beberapa centi menjauhiku.
Dan sepertinya, hal yang sama terjadi pada Raphtalia. Budakku itu sudah bersembunyi di balik tubuh Jeanne, yang sedang mencoba menenangkanku.
"Pergilah, sebelum aku mengubah pikiranku."
"Ba-Baik!" Setelahnya, ia lari pontang-panting, pergi menjauhi tempat kami bertiga.
Tidak ada gunanya menghajar orang ini. Kurasa ia sudah tahu akibatnya kalau berani menggangguku lagi.
"Anda baik-baik saja, Tuan?"
"Aku hanya berpikir … kalau isi kerajaan ini, sungguh sudah rusak semuanya."
Kami bertiga keluar desa Lafan setelah menyelesaikan urusan disana. Sepertinya, kami akan kembali ke padang rumput yang biasa kutempati. Meski ada monster, tapi disana lebih aman ketimbang harus tidur di salah satu rumah mereka. Siapa tahu 'kan, kalau nanti ada lagi warga yang dibayar Sang Putri untuk membunuh kami ketika sedang tidur. Itu salah satu cara mati yang sungguh mengerikan.
Yang jadi masalah sekarang adalah Aultcray—Raja Sampah itu—dan keluarganya. Sampai kapanpun, mereka pasti ingin membuat hidupku terasa gak tenang. Mereka akan terus menggangguku jika aku tidak melakukan sesuatu tentang ini! Dasar sialan.
Matahari sudah hampir terbenam ketika kami sampai di padang rumput tempat kami bertiga tinggal. Mau bagaimana lagi, kami memasuki gua itu ketika menjelang sore hari.
"Kalian sudah lapar?"
Jeanne dan Raphtalia mengangguk. Aku segera menyiapkan peralatan memasak yang kubeli di kota dengan harga murah. Aku juga menyuruh Jeanne untuk mengeluarkan daging Cerberus yang kami bawa.
Pada awalnya, aku dan Jeanne hanya memakan ikan atau daging monster Usapill dengan cara dibakar. Tentu saja aku tak berharap dengan rasanya. Tapi sejak beberapa hari yang lalu, kami mulai mencoba sesuatu yang baru—atau lebih tepatnya, akulah yang kini memasak untuk mereka berdua.
Beberapa monster di sini seperti Loomush bisa kugunakan sebagai pelengkap rasa. Yah, memasak monster bisa mengurangi pengeluaran biaya makan kami ketimbang pergi ke restoran di kota Kastil.
Waktu itu, aku cukup terkejut dengan makanan yang kubuat untuk pertama kali. Rasanya sangat enak. Padahal, aku tidak pernah menyentuh barang-barang seperti ini ketika di dapur. Yah, kalian tahu lah, biasanya Ibuku yang selalu memasak. Aku juga suka dengan ramen instan, dan entah sejak kapan itu mulai menjadi kebiasaan makan malamku ketika Ibu pulang lembur.
"Umm! Ini enak sekali, Goshoujin-sama!"
Kupikir, ini berkat keterampilan memasak yang kudapat dari membuka armor baru. Masakanku semakin enak saja setiap harinya.
"Pelan-pelan makannya, Raphtalia. Dan sudah kukatakan berulang kali, jangan berbicara ketika ada makanan di mulutmu."
Apa ini perasaanku saja? Atau Raphtalia jadi selalu mudah kelaparan akhir-akhir ini? Aku tidak masalah selama dia mau bekerja. Tidak bekerja, maka tak ada makanan untukmu—itulah yang selalu kukatakan kepada Jeanne dan Raphtalia.
"Uhm! Baik—uhuk! Uhuk!"
Tuh kan, kena akibatnya dia. Jeanne buru-buru memberikannya air minum.
Hah~ mau bagaimana lagi, dia masih bocah berumur 10 tahun. Tidak ada yang bisa diharapkan dari anak kecil, aku tahu itu.
.
..
.
Malam menghampiri kami begitu cepat. Aku baru saja selesai membereskan alat-alat pembuat obat yang kuterima dari pemilik Toko Apotek waktu itu. Malam ini aku mencoba membuat berbagai obat baru lagi. Tapi, hanya sedikit yang berhasil jadi; kebanyakannya gagal dan itu membuatku membuang-buang bahan, sama seperti malam-malam sebelumnya.
"Kau tidak tidur, Jeanne?"
Gadis itu masih saja duduk sambil mengamati langit. Kulihat dia sedikit berjengit, terkejut mungkin karena mendengar teguranku?
"Ah, nanti saja. Saya hanya berjaga-jaga kalau Raphtalia nanti terbangun karena mimpi buruk."
Setelah meminum obatnya—beberapa kali tentunya, karena terus dia muntahkan—Raphtalia langsung tertidur. Ia kini tidur di pangkuan Jeanne. Sepertinya itu bisa membuatnya merasa nyaman di kala tidur.
Aku jadi teringat waktu itu. Jeanne juga sering berteriak di malam hari, dan aku harus berusaha menenangkannya atau para monster menghampiri kami. Tapi belakangan ini, Jeanne sepertinya sudah tidak pernah bermimpi buruk.
"Kau terlalu perhatian padanya, Jeanne. Lagipula, Raphtalia hanyalah seorang budak."
"Tapi, bukankah Anda juga sama? Anda bahkan memberinya obat."
"Dalam kasusku itu berbeda. Aku tidak mau dia cepat mati sebelum aku mendapatkan kembali modalku waktu membeli dia."
"Hihihi~" Kebiasaannya, tertawa sambil menutupi mulutnya.
Tunggu, apa hanya perasaanku saja, atau memang Jeanne jadi lebih kelihatan ceria sejak ada Raphtalia? Mungkin karena dia jadi punya teman yang mudah diajak bicara, kah?
Aku melemparkan ranting kering ke api di depanku untuk menjaganya tetap menyala. Suara seperti kayu yang terbakar menyertai malam sunyi kami.
"Oh ya, Jeanne." Aku memanggilnya, dan ia segera berhenti memainkan poni Raphtalia. "Aku ingin penjelasan mengenai perkataanmu sore tadi."
"Iya …?"
Huh, sepertinya dia tidak menangkap maksudku. "Kebohonganmu; apa saja yang sebenarnya kau sembunyikan dariku?"
Aku sudah menunggu ini sejak tadi. Dan kurasa sekarang adalah waktu yang tepat untuk membicarakannya.
Nada bicaranya terdengar kesulitan. "Setelah mengetahuinya, apa Anda akan marah? Apakah Anda … akan meninggalkan saya?"
"Semua itu tergantung dari penjelasan yang akan kau katakan. Jadi biar kuingatkan, sebaiknya kau memilih kata-kata yang tepat sebelum berbicara."
Dia terdiam cukup lama, sebelum akhirnya mengangguk dengan yakin.
"Mungkin Anda akan berpikir kalau apa yang saya katakan nanti itu terdengar tidak masuk akal."
"Aku sudah cukup terkejut dengan isi dunia ini. Apapun yang ingin kau ceritakan, katakan saja."
Di dunia asalku, sesuatu semacam sihir hanya ada di cerita-cerita fantasi dan juga gim. Sementara di dunia ini? Sihir bahkan adalah suatu hal yang terlihat normal. Kalau pun Jeanne mengatakan kekuatannya itu ia dapat dari tidak sengaja menemukan peti aneh di gua menakutkan, atau bahkan dari memegang artefak kuno, aku pasti langsung percaya; aku yakin hal seperti itu tidaklah begitu mustahil terjadi di dunia ini.
"Uhm, baiklah. Saya rasa ini akan panjang, Tuan."
—Dan Jeanne mulai berbicara setelah menarik napas dalam-dalam, yang kemudian ia embuskan;
"Saya sejak kecil hanyalah penduduk desa biasa, sampai suatu ketika … beberapa orang aneh datang dan membakar desa yang saya tinggali. Mereka menculik anak-anak, termasuk saya. Saya tidak tahu bagaimana dengan yang orang dewasa. Setelah kejadian itu, tak ada lagi yang bisa saya ingat, selain kegelapan abadi."
"…"
Itu pembukaan cerita yang gak pernah kuduga! Aku bahkan kesulitan untuk menanggapinya.
Oh, baiklah. Kurasa lebih baik aku tetap memilih diam mendengarkannya, tanpa harus menginterupsinya.
"Entah berapa tahun berlalu, dan ketika saya mulai terbangun … saya selalu merasa bahwa ada yang aneh dengan tubuh saya. Saya juga menyadari, bahwa saat itu saya berada di ruangan yang dipenuhi dengan barang-barang tidak normal. Di situ ada juga banyak tabung kaca besar yang pecah, dan banyak lagi yang tidak saya ketahui namanya. Disana hanya ada saya seorang, tak ada yang lain. Kala itu saya berpikir, mungkin tempat itu sudah ditinggalkan."
"Mengenai kekuatan saya yang Anda tadi tanyakan, saya juga tidak paham dengan pasti. Itu muncul tidak lama setelah saya pergi meninggalkan bangunan itu. Pada situasi tertentu, terkadang saya merasa ada suatu lonjakan kekuatan yang terjadi di dalam tubuh saya, dan bersamaan dengan itu … saya seolah berubah menjadi orang lain. Saat itulah saya mulai menyadari, bahwa ada sesuatu di dalam tubuh saya ini."
"Tunggu, kau ingat semua itu? Maksudku, ketika kau sedang tidak menjadi dirimu sendiri." Meski aku sudah memutuskan untuk diam, tetapi kalimat terakhirnya membuatku terus bertanya-tanya.
Jeanne mengangguk. "Benar. Cukup aneh, ya? Ahaha …."
Begitu, ya. Dari apa yang kudengar mengenai ceritanya barusan, aku menyadari bahwa sepertinya masa lalu Jeanne lebih gelap dari apa yang bisa kubayangkan. Lihat saja, ia mengatakan soal ruangan aneh yang penuh dengan tabung raksasa, kalian ingat? Aku yakin kalau orang-orang yang membakar desanya ini, pastilah menjadikan anak kecil yang mereka culik untuk eksperimen manusia. Itu sungguh gila!
Setelah pertarungan melawan kawanan Lizardman kala itu, aku selalu berasumsi jika Jeanne memiliki masalah dengan [Kepribadian Ganda]. Tapi setelah mendengar ini, aku yakin … jika itu bukanlah kepribadian ganda, melainkan Jeanne memiliki sesuatu yang dinamakan sebagai [Alter Ego]. Yah, bagaimana pun, kedua hal itu adalah sesuatu yang berbeda.
Jadi, kemungkinan Alter Ego milik Jeanne muncul setelah orang-orang itu melakukan eksperimen terhadap tubuhnya, atau apapun itulah. Aku tidak bisa menebaknya. Yang pasti, ketika Jeanne bertukar dengan Alter Ego-nya, sifatnya berubah menjadi lebih percaya diri dan … terlalu sombong?
Tapi yang lebih penting, apakah kekuatannya yang hebat itu juga dipengaruhi oleh bertukarnya ia dengan Alter Ego-nya, atau karena hal lain? Aku masih belum mendapat penjelasannya, dan sepertinya Jeanne pun tak tahu bagaimana itu bisa terjadi.
"Jadi … anoo, Goshoujin-sama? Maaf, apakah penjelasan saya membingungkan Anda?" Jeanne menghentikan perkataannya, dan menatapku ragu.
Aku berdehem sekali untuk membersihkan tenggorokanku. "Tidak, bukan apa-apa. Aku paham dari hampir semua yang kau katakan."
"Soalnya Anda terus melamun."
Sepertinya aku terlalu banyak berkelut dengan isi pikiranku. "Oh, benarkah? Yah, lanjutkan saja."
Setelah mengatakan itu, aku kembali melemparkan satu ranting ke api unggun di depanku.
"Ehm, sebenarnya itu sudah semua yang saya ketahui."
Aku diam sebentar untuk memilih kata-kata yang tepat. "Lalu, bagaimana dengan desamu sekarang? Darimana kau berasal?"
Dia berubah murung.
"Apa aku seharusnya tidak menanyakan sesuatu tentang itu?"
Jeanne menggoyangkan telapak tangannya berulang kali, memasang senyuman kaku seperti biasa. "Tidak, bukan begitu. Saya bahkan tidak ingat dimana lokasi desa saya, karena kala itu saya masih kecil. Saya tiba di Kerajaan Melromarc ini pun hanya sebuah kebetulan. Sejujurnya, saya juga ingin pulang …."
Perpisahan dengan kedua orang tuanya pasti berlalu dengan tidak baik. "Maaf, karena membuatmu mengingat sesuatu yang buruk."
Setelah membaringkan Raphtalia dengan benar dan memberinya selimut, Jeanne berdiri. Meski saat ini gelap, aku bisa melihat ekspresinya sangat serius berkat pantulan cahaya api.
"A-Anda tidak perlu minta maaf, Goshoujin-sama! Justru, sayalah yang harusnya meminta maaf. Padahal Anda sudah bersikap baik kepada saya, tetapi saya malah membohongi Anda!"
Dia beranjak menghampiriku, bersimpuh di tanah depanku sementara aku duduk di atas batu.
"Tentang saya yang mengatakan, bahwa saya hanya memberikan bantuan kecil waktu di Gelombang sebelumnya, juga saat membawa Usapill di pagi itu, atau bahkan ketika saya yang tidak ingat mengalahkan kawanan Lizardman; saya akui itu semua bohong."
Aku kesulitan melihat ekspresinya karena Jeanne terus menunduk, tetapi tubuhnya gemetaran, jadi mungkin aku bisa menebaknya. Suara seperti sesenggukkan mulai memasuki telingaku—tentu saja itu bukan Raphtalia yang menangis, karena tidurnya sangat lelap.
"Saya terus khawatir. Saya pikir ketika Anda mengetahui … masalah tubuh aneh saya ini, Anda mungkin takut dan akan menjauhi saya, seperti yang dilakukan oleh orang-orang di kota. Saya … tidak ingin itu terjadi! Karena itulah …, saya menyembunyikannya dari Anda. Gomen …."
Yah, aku sedikit memahami cara berpikir Jeanne. Dia tidak ingin kejadian yang sama terulang lagi padanya, karena itulah ia menyembunyikan rahasia sifat dan kekuatannya itu. Menurutku itu wajar. Aku bahkan hanya bisa memercayai sedikit orang di dunia ini sejak kejadian "itu".
"Anoo, Goshoujin-sama?"
Jeanne kembali memanggilku ketika aku sedang mencari selimut. Ya, selimut yang dibuat dari bulu Usapill yang sedikit dibakar permukaannya. Itu bisa menghangatkan tubuh kami meski kami tidur di padang rumput terbuka begini.
"Aku mau tidur."
"Ta-Tapi, bagaimana dengan saya …? Apakah saya masih boleh tetap bersama Anda untuk ke depannya?"
"Berhentilah mengoceh dan segera tidur, Jeanne! Kalau kita punya waktu, mungkin bersama-sama … kita bisa mencari lokasi desamu berada."
"Ah …, baik! Terima kasih atas kemurahan hati Anda, Tuan!"
Tanpa melihat ke belakang pun, aku bisa tahu kalau dia sedang bahagia. Nada bicaranya sangat jelas sekali terdengar begitu.
…. Jeanne menangkap dengan baik arti perkataanku. Yah, aku juga tidak mau repot-repot mengatakannya terus terang padanya.
Sejak awal, Jeanne memang tidak pernah berniat jahat padaku, dan itulah yang harus kuingat dengan baik. Aku tidak mengerti, kenapa hanya dengan mengetahui fakta itu bisa membuat perasaan gelisahku sejak sore tadi, kini menjadi tenang.
Yah, setiap orang pasti punya 1 atau 2 rahasia yang tidak bisa dikatakan ke orang lain. Begitupula denganku. Seharusnya itu membuat aku dan Jeanne impas kalau saja ia tetap menyembunyikan rahasianya.
Jika ia mendengar rumor palsu tentang aku yang memerkosa dan merampok Myne—si Jalang itu, dan memercayainya …, apakah Jeanne akan pergi meninggalkanku?
Entah kenapa, aku tidak bisa mengenyahkan pertanyaan itu dari dalam kepalaku. Tidurku pada malam itu pun terasa tidak nyenyak.
.
..
...
..
.
Pagi yang baru datang.
"Baiklah. Ayo ke kota untuk menjual semua ini."
Itulah yang kukatakan pada mereka. Jadi, setelah setuju, kami bertiga berangkat.
"Anoo …, Goshoujin-sama."
"Hmm?" Aku menoleh ketika mendengar suara Raphtalia.
"Siapa Anda sebenarnya? Kenapa Anda sangat ingin sekali melawan monster-monster itu? Apa Anda tidak merasa takut?" Raphtalia menanyakan itu dengan serius.
"Tentu saja aku takut, Raphtalia. Tapi itu sudah menjadi tugasku sebagai Pahlawan Suci yang dipanggil dari dunia lain."
"Pahlawan Suci, seperti di dongeng-dongeng itu? Senjata Legendaris apa yang Anda punya?" Kedua matanya berbinar-binar kala menanyakannya.
Sejak selesai bertarung melawan Cerberus, Raphtalia jadi lebih sering berbicara dengan antusias. Aura kematian yang kulihat saat membelinya, itu seolah sudah lenyap tak bersisa dari dirinya yang sekarang.
"Armor, aku adalah Pahlawan Armor. Kau tahu mengenai kami, Raphtalia?"
"Uhm! Kedua orang tuaku sering menceritakannya. Terlebih lagi, mereka mengatakan jika Pahlawan Perisai selalu bersikap baik pada kami, ras Demi-Human! Meski hanya sebentar, aku ingin sekali bertemu dengannya!"
Ah, itu mengingatkanku pada Naofumi. Aku ragu kalau Pahlawan Perisai yang terpanggil saat ini akan memiliki sifat seperti yang diimpikan Raphtalia.
Jika Raphtalia tahu bahwa Naofumi tidak mau berurusan dengan orang-orang di negeri ini karena telah difitnah, bagaimana reaksinya nanti?
"Eh, tunggu-tunggu-tunggu! Kamu adalah Pahlawan Suci?!"
Aneh sekali Jeanne sampai terkejut begitu. "Apa aku belum pernah mengatakan itu pada kalian?"
Jeanne dan Raphtalia saling berpandangan satu sama lain, kemudian menggeleng bersamaan.
"Lalu, siapa nama kamu?" Begitulah yang ditanyakan Jeanne setelahnya.
Aku merasa sejak pagi ini, cara berbicara Jeanne mulai berbeda. Dia tidak kaku seperti yang biasanya, bahkan tak ada keformalan lagi ketika memanggilku. Aku tidak masalah, toh sejak awal aku tidak pernah memintanya untuk memanggilku dengan hormat.
—Hmm, jika kuingat-ingat lagi, sepertinya aku memang belum pernah menyebutkan namaku di depan mereka berdua karena menurutku itu tidak penting. Aku selalu berpikir jika aku tak 'kan lama di dunia ini, jadi setelah aku kembali ke dunia asalku, pastilah orang-orang akan melupakan apa yang sudah kuperbuat.
"Namikaze Naruto. Perlu kalian ingat, jika 'Namikaze' adalah nama keluargaku."
Jika benar kerajaan ini seperti bangsa Eropa dari duniaku, berarti mereka menulis nama keluarga mereka di belakang setelah menulis nama mereka. Contohnya saja si Raja Sampah itu, kalau tidak salah namanya adalah Aultcray Melromarc ke-33.
Sementara untuk orang Jepang sepertiku, kami selalu menyebut nama keluarga lebih dulu sebagai tanda penghormatan ketika berkenalan dengan orang baru.
"Bagaimana cara kami untuk memanggil Anda?" ujar Raphtalia kebingungan.
"Itu terserah kalian." Aku benar-benar tidak peduli bagaimana orang lain memanggilku.
Ya, jujur saja, awalnya aku ingin dipanggil dengan hormat karena menjadi Pahlawan Suci di dunia mereka ini. Tapi, aku sudah menyerah mengenai itu sejak aku difitnah orang-orang di Kastil Raja.
Mereka berdua jadi sibuk sendiri setelah kuberitahu namaku. Apakah itu sungguh penting bagi Jeanne dan Raphtalia.
"Kami setuju untuk memanggilmu 'Naruto-sama'. Apa tidak masalah?"
Langsung memanggil namaku, huh? Kupikir mereka akan memilih untuk menggunakan nama keluargaku sebagai panggilan.
"Sudah kukatakan, terserah kalian." Mereka cukup senang mendengar balasanku.
"Yeey!"
Kami pun meneruskan perjalanan menuju Kota Kastil ….
Bersambung
[A/N]:
Ehem, ehem!
Hai, Readers sekalian! Kalian lama nungguin Fic ini, ya. Maaf deh, wkwk. Meski aku bilang harusnya chap 7 ini update sebelum bulan Juni berakhir, tapi nyatanya melar sampe bulan penghujung akhir tahun. Yah kalian tahu lah, karena banyak review nanyain Fic sebelah mulu, jadi kutuntasin aja utang di Fic sebeleh lebih dulu.
Oh iya, Note di chap kali ini kayaknya bakal panjang karena aku mau jawab sekaligus pertanyaan di beberapa chap sebelumnya, jadi bagi kalian yang males baca-baca, skip ini gakpapa. Tapi akan kuingatkan satu hal, aku gak akan menjawab pertanyaan yang sama di review mendatang jika pertanyaan itu sudah jelas-jelas pernah kujawab di note yang pernah kutulis. Oke, mari kita mulai saja.
Pertama. Soal nasib Naofumi ke depannya nanti. Karena kayaknya aku bakal jarang munculin dia kecuali di situasi tertentu doang, jadi akan kujawab di sini; Ya, aku sengaja emang jadiin Raphtalia sebagai budak Naruto, agar ada suasana baru di Party Naofumi nantinya. Dia gak akan sendiri, tapi akan punya teman seperjalanan setelah ia melewati Gelombang pertamanya (dalam kasus Kerajaan, itu sudah masuk hitungan Gelombang kedua). Siapa mereka? Tentu saja ada Eclair Sayaetto, Filo, dan seorang Demi-Human yang mungkin gak akan kalian duga.
Kedua. Untuk Jeanne, kalian gak salah kalo nyebut sifatnya itu sebagai versi Alter/Alternative dia. Bagi kalian pemain gim F/GO, pasti gak asing lah ya sama nama Jeanne d'Arc (Alter) (Avenger), karena memang sifat Jeanne yang satu lagi di Fic ini, aku ambil dari dia. Inspirasi perubahan sifat dan kekuatannya dari Zenitsu di seri Kimetsu no Yaiba? Sebenarnya, aku lebih menganggap Jeanne di Fic ini tuh, mirip dengan Ryougi Shiki dari seri Kara no Kyoukai. Kan mereka punya dua kepribadian berbeda di satu tubuh yang sama. Gitulah.
Ketiga. Padahal Naruto sudah baca buku aneh itu sebelum masuk isekai, tapi kok dia masih aja kena fitnah? Harusnya, dia kan tahu kejadiannya. Kalian mungkin lupa, jadi bisa cek kalau gak percaya omonganku; buku yang ditemukan Naruto itu gak full lengkap isinya, ada bagian yang kosong ketika mulai memasuki jalan cerita Pahlawan Kelima—yaitu bagian cerita untuk Naruto. Di buku itu juga gak ditulis bahwa Myne (Sang Putri Melromarc), menyamar untuk mengikuti perjalanan para Pahlawan, karena itulah baik Naruto dan Naofumi yang menemukan buku yang sama, mereka berdua gak tahu kalo Myne punya rencana buruk kepada mereka.
Oh iya, ini mungkin masuk ke spoiler keras jika kalian gak baca Light Novel asli Tate no Yuusha, jadi aku peringatin duluan. Di Vol 16, setelah kekalahan mereka dari kerajaan Faubrey, Naofumi nanti akan bertemu dengan Spirit of Shield atau wujud asli perisai miliknya. Benar, setiap Senjata Legendaris yang dibawa para Pahlawan, bentuk aslinya emang sebuah roh (dideskripsiin di novelnya seperti bola cahaya yang melayang). Nah, sebelum mereka berpisah, Naofumi pernah bertanya tuh mengenai buku yang dia temukan di perpustakaan. Si Roh Perisai pun menjawab: "Sebuah teks yang meramalkan sepotong masa depan dan pintu ke dunia lain. Sepertinya itu sangat meleset dari sasaran."
Dalam kasus fic ini, kalian bisa anggap bahwa buku The Records of the Five Holy Weapon hanyalah ramalan tidak pasti yang sudah Naruto baca. Sama seperti buku yang ditemukan Naofumi sebelum dia pindah dunia. Karena itulah, Naruto maupun Naofumi gak akan pernah tahu kapan mereka akan ditusuk dari belakang oleh Myne, atau nama aslinya yaitu Malty Melromarc.
Sebenernya masih ada pertanyaan lain dari review di chapter 4 yang ingin aku jawab, mengenai "Entitas Pahlawan Armor mending gak perlu ada di Fic ini sekalian, dan lebih baik cuma 4 Pahlawan Suci aja …", tapi kita simpan aja itu untuk chapter mendatang, karena penjelasan itu akan cukup panjang.
Dan kuakhiri sampai sini saja daripada kalian makin banyak kena spoiler Fic ini.
Jika ada pertanyaan yang mengganggu isi kepala kalian mengenai isi cerita ini, aku akan terima semua kritik, saran, maupun flame dari kalian. Jika ada saran mengenai Fic ini, silakan tulis, dan akan kutampung untuk sementara waktu. Mari kita buat Fic yang hebat bersama-sama.
Sekali lagi, maaf atas lambatnya update-an fic ini. Sebenarnya, ini sudah lama kutulis sejak awal November kemaren, tapi berhenti … dan baru kulanjut lagi semenjak satu munggu ini. Kalian taulah, setiap orang pasti sering menemui masalah di setiap harinya. Baru juga dua hari mulai kutulis, eh mood nulis-ku hilang gegara ribut kecil di grup WA.
Ya, ada member yang kesinggung gitu ama jokes milik gua. Dan gak di real life maupun sosmed, gua kadang eneg sama orang modelan begitu; tipe orang yang gak bisa diajak bercanda masalah sepele. Sejak itu gua udah mutusin buat berhenti nanya maupun ngingetin orang-orang di Grup FI buat update Fic mereka; Ya gua sadar, jokes ini udah lama mati semenjak pecahnya grup FI jadi dua kubu sampe sekarang.
Seperti kata pepatah: "Diam itu adalah Emas". Emang udah saatnya gua berhenti jadi badut di grup FI, dan mulai kembali untuk menjadi diri gua yang produktif seperti dua tahun yang lalu.
Gitulah alasanku karena kemaren ada review yang nanya janji update Fic ini. Jadi, Next Update apa? Kalau ada yang nanya gitu, kayaknya aku akan mulai lanjut nulis Shinobi with Magic.
Itu aja note panjang-lebarku kali ini. See you next time, Brother and Sister!
Tertanda. [Abidin Ren]. (4/Desember/2022).
