A/N: Pertama-tama, untuk para pembaca lama saya yang kebetulan membaca author note ini maka saya ingin meminta maaf yang sedalam-dalamnya atas ketidaknyaman ini. Fic ini akan saya rencanakan untuk benar-benar dirombak, diperbaiki dengan maksud untuk meningkatkan kualitas cerita yang ada di dalamnya serta memaksimalkan plot cerita yang masih sangat jauh dari kata bagus. Selain itu saya juga berencana untuk menambahkan beberapa cutscene serta words di setiap chapter yang dirasa masih sangat kurang demi bisa memaksimalkan penggambaran dunia di dalam cerita ini.
Perbaikan telah dimulai sejak tanggal 02 Desember 2022 yang lalu hingga hari yang tidak dipastikan. Maka oleh karena itu saya ucapkan permintaan maaf yang sebesar-besarnya sebagai penulis karena tidak bisa memenuhi ekspetasi kalian sebagai pembaca.
Akhir kata, terima kasih sebesar-besarnya kepada reader yang telah mendukung saya dengan cara membaca, me-review, mem-favorite, dan mem-follow fic ini sampai sekarang. Saya tahu bahwa cerita saya buat ini masih sangat jauh dari kata layak, namun saya masih setidaknya berkomitmen untuk bisa menamatkan fic ini terlepas dari jumlah review, favorite, maupun follow yang jauh dari apa yang saya inginkan.
.
.
.
How to Ex-Interstellar Nation Army Build Kingdom
Chapter 3
Penjelajahan
(Revisi Tgl 10/01/2023)
.
Sudut Pandang Naruto
Aku mulai menjelajahi area sekitar dengan tujuan mendapatkan makanan. Aku mulai dengan bolak-balik di sisi danau.
Dalam situasi ini, jenis makanan yang pertama terpikirkan olehku adalah ikan, namun aku tidak yakin jika di sana benar-benar ada ikan dan aku juga kekurangan peralatan memancing untuk menangkapnya. Aku bisa saja menembaknya dengan senapan plasma jika spesimen memiliki tubuh yang cukup besar, namun mengambilnya akan sulit. Mari kita simpan opsi itu untuk nanti.
Ada juga keinginanku untuk mencari jenis tumbuhan yang dapat dimakan. Namun sulit untuk memilah-milah mana yang bisa dimakan dan mana yang tidak. Jadi terpaksa aku menggunakan Wise untuk mengeceknya dengan meremas setiap daun diantara jari-jariku dan menyuruh Wise menganalisanya.
Tanpa pandang bulu, aku meremas setiap daun dari berbagai jenis tanaman yang bisa kutemukan.
"Apakah mungkin mendapatkan nutrisi dari tumbuhan-tumbuhan lokal yang ada di planet ini?"
[Itu bisa dilakukan. Namun tumbuhan yang anda pegang saat ini tidak dapat dimakan.]
"Bagaimana dengan yang ini?"
[Tidak cocok untuk dikonsumsi.]
"Yang ini?"
[Tidak cocok untuk dikonsumsi.]
"Lalu yang ini?"
[Tidak cocok untuk dikonsumsi.]
...
[Memungkinkan untuk dimakan dan dicerna.]
Baiklah! Namun ketika aku memasukannya ke dalam mulutku, rasanya benar-benar mengerikan. Aku dengan segera memuntahkannya dan menyuruh Wise hanya menunjuk benda-benda yang bisa dianggap sebagai makanan.
[Cocok sebagai makanan.]
Bagus, akhirnya dapat satu! Aku mencoba daunnya, namun rasanya tidak enak. Sama halnya dengan batangnya. Ketika aku mencabutnya dari tanah, terlihat umbi-umbian kecil mirip bohlam yang tumbuh di antara akar-akarnya. Ketika aku mencicipinya, rasanya seperti kentang mentah.
Tidak terlalu enak sih, namun rasanya mungkin akan berubah jika aku membakarnya. Oke, mari kumpulkan ini untuk sekarang.
Selagi aku asyik dengan mengumpulkan umbi-umbian mirip kentang tersebut, seekor hewan pengerat mirip kelinci muncul dari jarak 30 meter. Aku mematung di tempat saat mata kami saling bertemu. Apakah makhluk itu bisa dimakan?
Baiklah kawan. Kau mungkin memang imut, tapi aku masih membutuhkanmu sebagai bahan makananku.
Aku dengan cepat mengambil pulse rifle dan membunuhnya dengan sekali tembak. Aku perkirakan hewan mirip kelinci dengan tanduk di atas kepalanya ini memiliki berat sekitar 5 kg.
Saat aku memasukkan jariku ke dalam luka yang yang terbuka akibat tembakan, Wise menilai bahwa makhluk ini cocok sebagai makanan jadi aku membawanya. Aku akan menamainya 'kelinci bertanduk'.
Secara keseluruhan, Aku berhasil mengumpulkan setidaknya 21 umbi-umbian mirip kentang dan seekor kelinci bertanduk lagi sebagai hewan buruan.
Tidak kusangka aku bisa mendapatkan makanan semudah ini. Jika kedepannya terus seperti ini, aku mungkin bisa bertahan hidup di planet ini untuk waktu yang lama.
Kemudian, aku putuskan untuk menguliti hewan buruanku di tepi danau sebelum kembali ke bukit berbatu untuk memasaknya. Setelah sampai di sana, aku langsung memotong-motong hewan buruanku sambil mendengarkan instruksi Wise.
Hmm, bagian yang layak konsumsi jauh lebih sedikit dari yang aku kira. Hanya dua kaki depan dan dua kaki belakang yang aku ambil. Berat keseluruhannya kurang lebih satu kilogram. Jika aku mengambil tulangnya juga, akan tersisa kurang lebih 700 gram.
Bisakah aku memanfaatkan bulu dan tanduknya untuk membuat sesuatu? Aku tidak bisa memikirkan kegunaan yang jelas saat ini. Terlebih lagi, aku bahkan tidak tahu harus menggunakannya untuk apa. Ini sangat disayangkan, namun aku harus membuangnya.
Kemudiaan aku teringat akan sesuatu.
"Escape Pod, tolong responnya."
Aku coba menghubungi kapsul itu sekali lagi, namun masih belum ada tanggapan. Yah, karena Kaguya sekarang tidak ada, aku tidak benar-benar kecewa dengan hasil ini.
Aku kembali ke bukit berbatu dan mulai menyiapkan daging kelinci bertanduk untuk dimasak. Jika diingat kembali, aku belum pernah mencoba memasak di luar ruangan lagi semenjak lulus dari SMA. Mengingat masa-masa itu membuatku agak nostagia.
Aku mengumpulkan beberapa kayu bakar dan menyalakannya menggunakannya pulse rifle.
Memasak merupakan salah satu hobiku. Aku tidak benar-benar melakukannya selama pelayaran starship, namun terkadang aku meminjam ruangan serbaguna kapanpun kami berlabuh di salah satu pangkalan umat manusia dan mentraktir semua orang di skuatku dengan masakan buatanku sendiri.
Pada saat-saat aku masih belum bisa memasak, aku meneliti berbagai resep dan menjelajahi situs-situs gourmet untuk mendapatkan info yang berguna.
Aku mungkin hanya memanggang beberapa potong daging, namun tentunya itu bukan tugas yang sederhana. Kupikir memang sulit memasak dengan benar kalau tanpa alat-alat dapur, yah? Secara teknis, aku tidak benar-benar memasak, hanya sekedar memanggang daging di atas api.
Aku akhirnya selesai memanggang satu potong kaki yang ditusuk menggunakan satu batang kayu. Rasanya agak kuat, namun lumayan.
Tapi sejujurnya, sulit menilai rasanya. Jika seseorang bertanya kepadaku apakah ini benar-benar enak atau tidak, aku mungkin hanya akan menjawab "entahlah". Rasanya tidak buruk, namun tidak bisa dikatakan enak juga.
Biar bagaimanapun juga, satu-satunya rasa yang ada hanyalah daging alami karena aku tidak menambahkan rempah atau bumbu apapun seperti garam. Aku mungkin terlalu berharap karena aku terlalu menempatkan sedikit usaha untuk memasaknya.
Tapi kupikir rasanya akan jauh lebih enak jika aku menambahkan beberapa garam.
Garam, yah. Apakah mungkin jika mengumpulkan beberapa batu garam di dekat sini?
Sekarang sudah malam. Aku akan mencarinya besok pagi. Karena mubazir, aku putuskan memasak sisa daging yang kupunya dan memakannya semua.
Aku kenyang hanya dengan menyantap daging. Apa yang harus kulakukan dengan umbi-umbi mirip kentang yang sudah kukumpulkan sebelumnya?
Tinggal masukan saja semuanya ke dalam bara kayu, bereskan?
Tanpa pikir panjang, aku lalu mengubur semua umbi-umbi itu ke dalam sisa-sisa bara kayu yang masih terbakar dan sedikit menutupinya dengan tanah.
Harusnya itu cukup untuk membakar mereka. Yah, kukira tidak masalah sekalipun itu tidak berhasil.
Karena ini sudah cukup gelap, aku putuskan untuk pergi tidur.
'Mode siaga dinyalakan. Bangunkan aku saat fajar.'
[Roger.]
...
[Sekarang sudah fajar. Mohon bangun.]
Hah... Kelihatannya aku tidur cukup pulas semalam. Matahari pagi begitu menyilaukan. Tunggu, sepertinya aku baru mengingat sesuatu yang penting.
"Wise, berapa lama satu hari di planet ini?"
[Maaf, saya tidak bisa memberikan hasil yang pasti karena kurangnya informasi yang saya punya.]
"Lalu, bisakah kamu memperkirakan panjang garis tengah orbit planet ini dengan bintang induknya? Tidak apa-apa jika hasilnya kurang akurat."
[Berdasarkan hasil pengamatan saya selama dua hari ini, diperkirakan panjang garis tengah orbit di planet ini adalah sebesar 179,52 juta meter. Jika kecepatan orbital di planet ini serupa dengan yang ada di Bumi, maka satu hari di planet ini adalah 9.660.130 detik atau sekitar 23,72 jam.]
Itu sedikit lebih lama jika dibandingkan dengan planet tempat asalku.
Mari kita kesampingkan itu sekarang dan periksa umbi-umbi yang aku bakar tadi malam.
Beberapa dari mereka ternyata ada yang hangus dan sebagai lagi ada yang tidak.
Hey, ini cukup enak! Rasanya seperti kentang bakar. Ini akan menjadi sarapanku untuk hari ini.
"Aku sangat berharap memiliki setidaknya garam dan beberapa peralatan memasak saat ini." Gumamku kepada diriku sendiri.
Aku berencana untuk menjelajahi dan melakukan pencarian makanan lagi di hari ini. Aku akan lakukan yang terbaik.
Untuk permulaan, aku akan terus menjelajahi area sekitar danau. Seluruh area di tepi danau harusnya membentang lebih dari lima belas kilometer. Ada jalur bekas rombongan hewan-hewan liar, jadi tidak begitu sulit berjalan di sekitar tempat itu.
Setelah aku menemukan beberapa jenis tumbuhan baru, aku dengan segera meremasnya diantaranya jari-jariku
[Cocok sebagai makanan.]
Sebuah jendela virtual muncul di depanku. Penampilannya terlihat seperti rumput biasa, namun mengeluarkan aroma yang harum, mungkinkah ini sejenis tumbuhan herbal? Tanpa basa-basi, aku lalu memasukan lima ikat tumbuhan itu ke dalam tasku.
Ketika aku menerusuri aliran danau, aku berhasil mencapai sungai besar tepat di bagian hulu. Yah… karena ini adalah danau besar, menemukan sebuah sungai tidak terlalu mengherankan bagiku.
Aku memandang sungai itu lekat-lekat. Jika ada sungai di sini, maka ada kemungkinan bahwa aliran sungai ini akan mengantarkanku ke laut. Aku sudah memastikan keberadaan laut sewaktu aku berada di kapsul penyelamatan dengan memeriksanya melalui layar eksternal.
Jika aku pergi ke tepi laut, harusnya aku bisa mendapatkan beberapa garam di sana. Tentunya ini perlu dipertimbangkan, aku rasa.
Aku menyebrangi sungai besar itu dengan melompatinya. Dengan bantuan peningkatan massa otot dari nano-machine, melompat sejauh lima meter menjadi cukup mudah, bahkan tanpa harus berlari.
Aku berjalan-jalan sejenak selagi meremas-remas tumbuhan sampai akhirnya menemukan sesuatu yang cocok untuk dimakan.
Sepertinya itu sejenis dedaunan sayur. Rasanya juga enak ketika aku mencicipinya. Aku mungkin bisa menggunakannya sebagai salad atau semacamnya.
Aku juga mengantongi lima ikat dari mereka.
Setelah berjalan begitu lama, aku berhasil menemukan makhluk mirip babi hutan yang terlihat sedang minum di tepi danau. Jaraknya sekitar empat ratus meter dari tempatku berpijak.
Meskipun aku agak kasihan dengannya, aku akan tetap menjadikannya sebagai santapanku. Bagaimana pun juga, aku harus mengamankan makanan sebanyak yang aku bisa.
Aku menarik pulse rifle dan membidiknya dari jauh. Jaraknya adalah kurang lebih 400 meter, seharusnya ini lebih dari cukup untuk menjatuhkan makhluk itu dengan sekali tembak.
Setelah mendapatkan pembesaran yang cukup, aku dengan segera menarik pelatuk. Tak sampai sedetik, makhluk mirip babi hutan itu sekarang sudah terkapar di atas tanah dengan luka bakar yang ada di tubuhnya.
Ketika aku mendekati buruanku, aku mendapati bahwa ukurannya lebih besar dari perkiraan awal. Ini pasti lebih dari seratus kilogram, pikirku.
Taringnya jauh lebih lebar dari babi hutan pada umumnya. Tidak salah jika kau menyebut hewan ini sebagai babi hutan bergading karena taring-taringnya memiliki panjang lebih dari 30 sentimeter. Kalian tentunya akan terkoyak jika sampai tertusuk oleh gading-gading itu.
Alam memang tidak bisa dianggap remeh, yah? Biar bagaimanapun juga, ada banyak makhluk berbahaya seperti ini yang sedang berkeliaran di dalam hutan. Aku harus lebih berhati-hati lagi.
Setelah itu, Wise menilai bahwa makhluk itu cocok sebagai bahan makanan.
Namun mendapatkan sesuatu yang sebesar ini akan jadi masalah bagiku. Sekalipun aku bisa memperoleh banyak daging, aku tidak bisa membekukannya ataupun mengawetkannya. Aku juga tidak bisa menghabiskan semuanya dalam satu kali santap. Dan satu-satunya metode masak yang tersedia saat ini adalah memanggangnya di atas api.
Mau bagaimana lagi, aku hanya memotong satu kaki belakangnya dengan pisauku dan hanya mengambil bagian itu. Bahkan satu kaki belakang ini sudah senilai dengan sepuluh kilogram daging.
Setelah berjalan cukup jauh, aku tiba-tiba dikejutkan oleh suara cipratan air. Ketika aku berbalik ke belakang, aku melihat sisa-sisa jasat babi hutan liar itu telah ditarik oleh 'sesuatu' yang ada di dalam danau. 'Dia' dengan mudah menarik babi hutan besar itu tanpa kesulitan.
Aku terkejut dan cepat-cepat mengambil beberapa jarak sambil menjauh dari tepi danau.
Ada babi hutan raksasa dan makhluk misterius di dalam danau. Alasan aku tetap aman sampai sekarang adalah murni karena keberuntungan. Jika saja aku tidak waspada, aku mungkin akan bernasib sama seperti babi hutan itu.
Setelah meninggalkan tempat itu, aku lalu kembali ke tempat awal sambil tetap waspada.
Saat aku bangun tidur sebelumnya, aku punya rencana untuk mandi di danau. Namun setelah melihat apa yang terjadi barusan, aku tidak mau melakukannya lagi sekalipun ditawari uang dalam jumlah yang besar.
Tapi sesuai dugaanku, manusia memang tidak bisa menahan rasa tidak nyaman setelah tidak mandi selama dua hari. Apa yang harus kulakukan?
Untuk sekarang, aku cuma perlu makan dulu.
Api tidak akan bisa mematangkannya secara merata, sehingga aku memutuskan untuk memotong daging itu kecil-kecil dan menusuknya dengan batang kayu.
Setelah matang, aku mengambil beberapa tanaman herbal dan lalu mencabik-cabiknya. Aku juga mencampurkannya dengan daging dan sayuran-sayuran.
Ehmmm… ini cukup enak! Sangat melimpah dengan daging yang juicy dan dikombinasikan bersama bumbu 'liar' yang aku dapat dari hutan. Meski belum ada garam, tapi ini masih cukup enak. Tanaman herbal dan sayurannya tentu membuat perbedaan rasa lebih mencolok jika dibandingkan dengan daging kelinci bertanduk yang aku makan tempo hari.
Aku memakan hidangan tersebut dengan sangat rakus. Sekarang, aku bisa menganggap ini sebagai hidangan yang sesungguhnya.
Masih ada banyak daging yang tersisa jadi aku akan menyimpannya untuk besok. Tidak baik menghabiskannya dalam satu hari.
Setelah memuaskan rasa laparku, aku memikirkan hal-hal yang kutemukan hari ini: sungai besar, babi hutan bergading dan makhluk misterius yang tinggal di dalam danau.
Setelah sukses memperoleh beberapa air dan makanan kemarin, aku merasa bahwa area di sekitar danau tidak seberbahaya yang aku sangka. Namun semenjak aku menyaksikannya sendiri, pikiranku telah berubah.
Jika aku mengikuti arah sungai besar, ada kemungkinan aku bisa mencapai laut. Garam dan makanan laut adalah prospek yang menarik.
Namun aku masih belum familiar dengan planet ini. Jika aku terburu-buru tanpa memiliki infomasi yang cukup, itu mungkin akan membuatku kehilangan nyawa.
Selama pengalaman dua hari ini, kemungkinan aku hidup dan mati sendirian di planet ini cukup tinggi.
Tidak ada internet, tidak ada orang lain untuk bisa diajak bicara, tidak ada hiburan. Yang bisa kulakukan sekarang hanya makan, minum, dan bertahan hidup.
Saat aku memikirkannya, ada semacam dorongan besar di dalam diriku untuk berpetualang ke berbagai tempat yang ada di planet ini.
Untuk hidup yang menyenangkan dan tanpa penyesalan, aku perlu mengambil beberapa resiko. Yah, kedengarannya tidak buruk juga.
Aku benar-benar bersemangat sekarang.
Baiklah! Aku akan mengikuti aliran sungai ini dan pergi menuju laut! Aku tidak berniat menghabiskan hidupku seperti seorang petapa di tempat seperti ini. Aku akan pergi melakukan petualangan! Aku sekarang sudah pensiun dari militer!
Setelah itu, aku lalu berkemas dan menyiapkan berbagai hal yang perlu dibawa untuk keberangkatanku besok. Aku juga berencana untuk mengantongi semua daging yang tersisa untuk bekalku di perjalanan.
Aku tidak bisa langsung memasukkannya ke dalam tas, jadi aku memeriksa sekitar dan melihat apakah ada sesuatu yang berguna untuk mengikatnya. Beberapa saat kemudian, aku akhirnya menemukan apa apa yang kucari: tumbuhan yang memiliki daun yang agak panjang dan lebar mirip daun pisang. Aku lalu mencoba meremasnya di antara jari-jariku.
[Tidak cocok untuk makanan.]
"Apakah tidak masalah jika aku hanya menggunakannya untuk membungkus makanan?"
[Tidak masalah.]
Aku mencabut beberapa daun dan membuat semacam bungkusan untuk membungkus sisa-sisa makanan setelah beberapa kali percobaan.
Aku mengiris sisa-sisa daging. Awalnya aku sempat khawatir tentang keracunan makanan, jadi aku putuskan memasaknya dengan benar besok.
Selanjutnya, aku mengumpulkan beberapa umbi mirip kentang selama perjalanan di sekitar danau. Aku juga mengamankan banyak air minum dari danau tersebut.
Benar juga. Aku mungkin bisa mandi jika aku hanya mengambi beberapa air dari danau untuk digunakan. Aku tidak perlu benar-benar mandi di sana.
Sudahlah, aku siapkan saja semua perbekalan yang ingin aku bawa. Lagipula hari ini sudah cukup gelap, jadi kupikir sudah saatnya bagiku untuk tidur dan mengumpulakan banyak energi untuk perjalanan besok.
...
Malam berganti ke fajar setelah aku terbangun dari tidurku.
Aku memulai hari ini dengan memanggang daging sisa kemaren. Tidak lupa, aku juga mencabik-cabik tanaman herbal, menaburkannya di atas daging dan membungkusnya dengan potongan sayuran. Setelah beres, aku lalu memasukan makanan itu ke dalam pembungkus yang terbuat dari anyaman daun. Dengan ini, bekal makananku sudah siap untuk dibawa.
Tas yang kubawa berisi modul prosesor, seragam militer, pakaian kerja, beberapa ransum yang masih tersisa, tiga botol air mineral dan satu botol tablet logam langka.
Aku menggendong tas itu di punggungku, membelitkan selimut di masing-masing lenganku, meletakan senapan plasma di dalam sarungnya dan mengaitkan pistol laser di bahuku.
Dengan peralatan lengkap, aku berjalan menjauhi area tepi danau menuju sungai.
"Tolong beri tanda jika menemukan umbi mirip kentang di sekitar sini."
[Roger.]
Ini cara tercepat untuk menemukan mereka karena Wise dapat menyesuaikan penglihatanku dengan augmentent reality sehingga akan lebih mudah untuk mengenali setiap tumbuhan yang aku lewati.
Selama di perjalanan, aku berhasil menemukan beberapa umbi mirip kentang. Setiap kali menemukan mereka, aku akan mencabutnya dan memasukannya ke dalam saku di samping ranselku. Karena kapasitasnya yang terbatas, saku itu pun akhirnya penuh dengan semua umbi yang aku bawa.
Aku berhasil mencapai sungai besar itu dalam waktu dua jam. Setelah menyusurinya cukup lama, akhirnya aku berhasil menemukan anak sungai dengan pemandangan yang jelas, bagus serta kedalaman yang cocok.
Airnya cukup dalam untuk membenamkan seluruh tubuhku, namun dasar sungainya masih terlihat dan sepertinya tidak ada organisme berbahaya yang berdiam di dalam sana.
Ah! Dinginnya! Namun itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rasa sukacita karena bisa membasuh seluruh tubuhku lagi.
Sayang sekali aku tidak punya sabun maupun shampo, namun ini masih menyegarkan.
Ah, ini hebat. Aku menyingkirkan pakaian yang habis kucuci dan lalu mengambil yang baru.
Aku mulai berjalan sekali lagi setelah mengisi botol air mineral dengan air sungai.
Setelah menyusuri tepi danau selama satu jam, tiba-tiba aku mendengar semacam suara menyembur dari arah depan. Aku bergegas menuju arah suara itu dan mendapati air terjun dari kejauhan, ketinggiannya sekitar tiga puluh meter.
Aku hanya pernah melihat air terjun dalam holobit. Jika aku harus membandingkannya dengan yang asli, air terjun sungguhan jauh lebih menarik daripada sekedar gambar panorama yang muncul di dalam pencarian gadget.
Tapi ini sedikit bermasalah. Aku tidak bisa mencapai tempat itu karena tidak tahu jalan menuju ke sana. Setelah mencari beberapa saat, aku akhirnya berhasil menemukan sesuatu yang mirip dengan jalan.
Jalan itu mengarah menjauhi sungai, tapi aku tidak punya pilihan lain. Tidak ada waktu untuk mencari jalur lain dan sepertinya jalan itu juga mengarah ke hilir.
Aku telah berjalan selama berjam-jam, jadi aku sedikit lapar. Aku putuskan memakan beberapa bekalku.
Mmmn... daging bungkusnya masih enak meskipun sudah agak dingin.
Ketika pandanganku mengarah ke langit, matahari sudah agak meninggi di atas sana. Berkat nano-machine, aku bisa memperkirakan lama rotasi di planet ini dan menerapkannya ke dalam bentuk antarmuka digital.
Setelah menghabiskan bekalku, aku melanjutkan perjalanan. Ketika aku hendak mencari tempat untuk bermalam, tiba-tiba aku menemukan sebuah area terbuka yang sepertinya sudah dibersihkan.
Aku bergegas ke sana untuk memeriksa. Entah kenapa aku punya firasat bahwa area ini memang sengaja dibersihkan oleh seseorang. Ketika aku melihatnya dari dekat, kecurigaanku ternyata terbukti benar.
Ini memang jalan yang sengaja dibuat!
Ada jejak-jejak roda yang pernah melewatinya. Jalanan ini dibuat dengan memangkas tepi gunung dan kelihatannya memiliki lebar lima meter.
Aku menyiapkan senapanku dan segera mengawasi daerah di sekelilingku.
Kelihatannya untuk sementara ini tidak ada masalah.
Tapi ini benar-benar mengejutkan. Apakah makhluk-makhluk hijau itu yang membuatnya? Tidak, mereka seharusnya tidak secerdas itu untuk membuat sesuatu pada tingkat ini.
Ketika aku melihatnya dari dekat, aku mendapati beberapa jejak kaki mirip kuda yang sepertinya sedang menarik sesuatu, ada juga bekas rodanya yang membekas di sana.
Apakah ada makhluk hidup mirip kuda di planet ini? Apapun itu, yang jelas ini jejak hewan pengangkut.
Apakah itu adalah kereta kuda yang biasanya muncul dalam banyak ensiklopedi? Ada banyak jejak kaki kuda tersebar di mana-mana.
Jejak kaki itu kebetulan mengarah ke tempat tujuanku. Jejak rodanya cukup dalam, jadi sepertinya itu kereta yang cukup besar.
Aku mencoba untuk mengikuti jejak itu. Ini adalah petunjuk pertama yang mengarahkanku pada makhluk hidup cerdas yang tinggal di planet ini. Kesempatan seperti ini belum tentu akan muncul di lain kesempatan.
Jejaknya terlihat masih baru, kemungkinan baru terbentuk selama dua atau tiga hari. Oke, saatnya bagiku untuk serius!
"Wise. Mode Berlari Jarak Jauh!"
[Roger.]
Kemudian aku mulai berlari mengikuti jejak roda itu.
Dalam 'Mode Berlari Jarak Jauh', Wise memperkuat setiap sel yang ada di paru-paruku guna memaksimalkan efisiensi dalam proses pernapasan dan juga meningkatkan kapasitas penyaluran oksigen secara masif. Dengan kata lain, ini memungkinkanku untuk terus berlari dalam waktu yang lama.
Ini memungkinkan tubuh untuk terus berlari dalam kecepatan konstan, namun ini juga tidak dapat dipakai terlalu sering karena akan berakibat buruk pada tubuh.
Aku sudah berlari cukup lama. Seratus kilometer sudah kulewati, namun aku masih belum juga mencapai ujungnya.
Sekarang hampir malam, jadi mungkin sudah saatnya bagi saya untuk menyerah.
Tiba-tiba, pendengaranku yang sudah ditingkatkan mendengar suara perkelahian dari jauh. Jalan ini berkelok-kelok di sekitar kaki gunung, sehingga saya tidak bisa melihatnya secara langsung.
Aku berhenti berlari dan dengan hati-hati mendekat asal suara tersebut.
Aku berhasil menemukan sumber suara setelah bergerak melewati jalan-jalan yang berkelok-kelok. Jarak antara saya dan sumber suara itu sekitar seratus lima puluh meter.
Benar dugaanku, asal dari jejak panjang yang ditinggalkan di sepanjang jalan tadi ternyata berasal dari alat transportasi yang kini sudah hancur di sana. Tak jauh dari tempat itu, terdapat sepasang makhluk humanoid yang kini sedang diserang oleh sekawanan makhluk buas yang menyerupai serigala. Aku segera men-zoom penglihatanku dengan harapan dapat menemukan sesuatu yang menarik dari makhluk-makhluk itu.
"Itu kan?!"
Apa yang kulihat di depan mataku adalah bentuk kehidupan yang tidak ada bedanya dengan manusia. Keduanya adalah wanita; masing-masing dari mereka memegang sebilah pedang di tangan mereka. Mereka terlihat bertarung sambil melindungi diri mereka satu sama lain. Ada juga beberapa manusia dan makhluk mirip kuda yang telah terkapar di atas tanah.
"Sialan!"
Sesaat aku mencoba menarik senapanku, dua ekor serigala secara bersamaan menyerang pasangan itu.
'Aku akan menyelamatkan mereka. Aku serahkan sisanya padamu, Wise!'
[Roger.]
Dengan segera, aku menarik pelatuk senjataku setelah membidik mereka dengan bantuan nano-machine. Peluru plasma yang dilontarkan oleh pulse rifle kemudian meledak, menyebar menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan langsung membunuh semua makhluk buas itu dengan sekali tembakan. Meski aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk melindungi kedua wanita itu, namun sayangnya tembakanku kalah cepat—mereka sudah ambruk dan kehilangan banyak darah.
Sialan!
Aku mulai berlari ke arah mereka dengan kaki yang sudah diperkuat oleh nano-machine.
Dari sini, aku dapat melihat betapa parahnya luka yang mereka alami. Semuanya berjumlah sepuluh orang—semuanya adalah wanita muda. Masing-masing dari mereka mengenakan zirah yang mengingatkan aku pada era medieval. Mengecualikan kedua orang yang sudah ambruk tadi, delapan orang sisanya sudah mati dengan kondisi leher yang terkoyak parah.
Dengan segera, aku berlari ke arah dua wanita yang sudah sepenuhnya ambruk itu. Salah satu dari mereka masih bernafas, namun dia sudah tidak dapat tertolong lagi—darah dalam jumlah yang besar mencurat keluar dari lehernya yang terbuka. Sedangkan leher wanita muda yang satunya tidak tergigit, namun tangan kanannya terkoyak dari siku hingga lengan bawah dan kaki kanannya mulai dari atas pergelangan kaki samping bawah lututnya telah hilang. Dia juga kehilangan banyak darah dan tidak sadarkan diri.
Wanita muda yang sebelumnya kutemui sedang bersandar di sisi lain kereta kuda. Mata kami saling bertemu, dia terus menatapku dan lalu berbalik ke arah rekannya yang masih bernapas dan sekali lagi menatap ke arahku. Ketika aku mengangguk karena mengenali permintaan tersiratnya, dia secara perlahan mulai menutup matanya dan kemudian berhenti bernafas.
Aku merasa sangat tidak enak setelah melihat kejadian ini, tapi aku sadar bahwa aku masih harus menyelamatkan rekannya yang masih hidup. Namun, aku juga merasa sangat penasaran dengan apa yang telah terjadi di sini.
…
