A/N: Pertama-tama, untuk para pembaca lama saya yang kebetulan membaca author note ini maka saya ingin meminta maaf yang sedalam-dalamnya atas ketidaknyaman ini. Fic ini akan saya rencanakan untuk benar-benar dirombak, diperbaiki dengan maksud untuk meningkatkan kualitas cerita yang ada di dalamnya serta memaksimalkan plot cerita yang masih sangat jauh dari kata bagus. Selain itu saya juga berencana untuk menambahkan beberapa cutscene serta words di setiap chapter yang dirasa masih sangat kurang demi bisa memaksimalkan penggambaran dunia di dalam cerita ini.

Perbaikan telah dimulai sejak tanggal 02 Desember 2022 yang lalu hingga hari yang tidak dipastikan. Maka oleh karena itu saya ucapkan permintaan maaf yang sebesar-besarnya sebagai penulis karena tidak bisa memenuhi ekspetasi kalian sebagai pembaca.

Akhir kata, terima kasih sebesar-besarnya kepada reader yang telah mendukung saya dengan cara membaca, me-review, mem-favorite, dan mem-follow fic ini sampai sekarang. Saya tahu bahwa cerita saya buat ini masih sangat jauh dari kata layak, namun saya masih setidaknya berkomitmen untuk bisa menamatkan fic ini terlepas dari jumlah review, favorite, maupun follow yang jauh dari apa yang saya inginkan.

.

.

.

How to Ex-Interstellar Nation Army Built the Kingdom

Chapter 4

Mereka yang Terhubung oleh Genetik

(Revisi Tgl. 11/01/2023)

.

.

.

Naruto Point of View (POV)

Aku segera memberikan pertolongan pertama kepada humanoid itu. Tidak, daripada menyebutnya humanoid, lebih tepat jika aku menyebutnya sebagai manusia. Kuperkirakan usianya antara 16 hingga 18 tahun.

Saat ini dia masih bersimbah darah, jadi sekarang bukan waktunya bagi saya untuk membuang-buang waktu.

"Apa yang harus saya lakukan?" tanyaku kepada Wise.

[Mohon sentuh darahnya.]

Saya segera bergerak seperti yang diinstruksikan oleh Wise.

"Bagaimana hasilnya?"

[Tidak salah lagi. Genetiknya sangat mirip dengan manusia.]

Jadi dugaan saya memang benar. Ini benar-benar penemuan yang sangat mengejutkan. Berdasarkan penampilannya saja, tidak berlebihan jika menganggap dia sebagai manusia. Tapi bagaimana bisa? Aku tidak ingat ada pangkalan umat manusia atau planet terkolonisasi yang terdaftar di dekat jalur yang kami lewati.

Mungkinkah dia memang penduduk asli dari planet ini? Tidak, itu harusnya mustahil. Dari apa yang pernah saya baca di suatu artikel ilmiah, setiap makhluk yang berasal dari satu planet yang sama umumnya akan saling berbagi susunan gen yang hampir mirip. Bahkan beberapa jenis hewan yang tidak saling berkaitan seperti simpanse, gorila, orangutan, kucing maupun tikus—diketahui bahwa mereka memiliki kedekatan genetik yang dekat dengan manusia.

Lantas, bagaimana bisa wanita ini memiliki komposisi genetik yang sama denganku? Apakah leluhurnya juga berasal dari Planet Bumi?

Sekarang aku benar-benar penasaran. Apakah ini hanya sebatas kebetulan semata? Apakah kami memang berasal dari leluhur yang sama? Jika itu benar maka bagaimana bisa mereka sampai berkembang biak di planet antah beranta ini? Apakah mungkin dia adalah keturunan dari salah satu rombongan coloni starship yang dulu pernah menghilang secara misterius?

Tidak. Prioritas utamaku sekarang adalah menyelamatkan gadis ini. Jika aku tidak segera menolongnya, kemungkinan besar dia akan mati.

"Apa lagi yang harus kulakukan?" tanyaku kepada Wise.

[Tolong ikat lukanya dengan sesuatu untuk menghentikan pendarahannya.]

Sesuatu seperti tali? Di mana aku bisa mendapatkannya?

Saat aku mencoba memeriksa area di sekitarku, aku menemukan seekor makhluk mirip kuda yang sudah mati dengan topeng kulit yang mengikat mulutnya. Terdapat seutas tali panjang untuk mengikatnya, jadi aku memutuskan untuk memotong tali tersebut dengan pisau.

Setelah mendapatkan apa yang kucari, aku lalu bergegas kembali ke tempat gadis itu.

Aku dengan rapat mengikat tiga sentimeter di atas pergelangan kakinya yang putus. Aku juga melakukannya hal yang sama pada lengannya.

[Sebagian nanom-machine telah berkumpul di pergelangan tangan kiri anda. Mohon sayat dan biarkan dia meminum darah anda.]

Menyayat tanganku? Wise terkadang kejam juga, yah?

Lagipula, bagaimana caranya aku membuat gadis ini meminumnya? Aku tidak bisa menyia-nyiakan nano-machine yang ada di dalam tubuhku begitu saja.

Ah, itu dia! Aku ingat cangkir sementara yang kubuat dengan memotong botol air mineral yang dirusak oleh makhluk hijau itu. Sekarang mari kita tuangkan beberapa cc (cubic centimetre) darah segar ke dalam cangkir dan biarkan dia untuk meminumnya.

Aku mengambil cangkir itu, menyiapkaannya dan meletakan tanganku di atas cangkir tersebut.

Huh, aku benci kenyataan bahwa pisau elektromagnetikku ini dapat berfungsi dengan sangat baik.

[Mohon sayat pada bagian ini.]

Pembuluh darahku tiba-tiba berwarna hijau terang dan titik yang dimaksud bersinar membentuk garis merah. Ini agak menakutkan, jadi aku memutuskan untuk menyayat tanganku secara perlahan-lahan.

Urghh—hah? Kok rasanya gak sakit sama sekali?

[Reseptor rasa sakit anda saat ini sudah saya blokir.]

Sialan kau, Wise! Kau sengaja mempermainkanku, hah?! Jika bukan karena gadis ini, aku tidak akan sudi mendengarkan kalimatmu yang menyesatkan itu!

[Ini sudah cukup. Anda bisa membantunya untuk meminum darah anda sekarang.]

Beberapa detik kemudian, aliran darah yang keluar dari luka hasil sayatanku akhirnya berhenti. Darah yang terkumpul di dalam gelas berkisar kurang lebih 100 cc.

Setelah itu, aku lalu mengangkat bagian atas tubuh gadis itu, kemudian aku menuangkan isi cangkir tersebut ke dalam mulutnya. Darah di dalam cangkir itu pun mulai berkurang sedikit demi sedikit.

[Selanjutnya, mohon tuangkan sisa darah anda ke bagian tubuh yang terkoyak.]

Sesuai instruksi Wise, aku lalu menuangkan sisa darahku ke atas lukanya yang masih terbuka.

[Tolong ambilkan tablet logam langka dan biarkan dia menelan 8 butir sekaligus.]

Tanpa berpikir panjang, aku lalu mengambil botol pil dari dalam ranselku dan kemudian mengeluarkan setidaknya 10 tablet.

Setelah menelan 2 dari 10 tablet yang sudah kuambil. Sebuah pertanyaan kemudian muncul di dalam kepalaku.

'Bagaimana cara membuat gadis ini menelan 8 butir sisanya?'

[Tidak perlu secara langsung membuat gadis itu menelannya. Cukup letakkan saja di dalam mulutnya.]

Sesuai instruksi Wise, aku lalu meletakkan 8 butir tablet ke dalam mulut gadis itu.

Tablet-tablet ini berisi sejumlah ekstrak logam langka. Gabungan dari berbagai material yang dibutuhkan untuk mengisi ulang nano-machine. Jika seseorang tanpa satu pun nano-machine di dalam tubuhnya menelan ini, maka itu tidak ada bedanya dengan menelan racun.

Sebaliknya, pada tubuh yang telah ditanamkan nano-machine, mereka akan segera mengamankan logam-logam itu sebelum terserap oleh tubuh dan akan menggunakannya untuk memperbanyak diri mereka.

[Terdapat masalah pada bagian organ yang telah terkoyak. Mohon anda amputasi bagian itu dengan pisau.]

Yah, kelihatannya agak mengerikan. Dengan tulang-tulang yang menyembul keluar dari dalam luka, membuat gadis ini terlihat semakin menyedihkan.

[Reseptor rasa sakitnya sudah saya brokir. Mohon untuk memulai prosedur amputasi sesegera mungkin.]

Setelah itu, aku lalu mengeluarkan pisau elektromagnetikku dari dalam sarungnya.

Agar memotongnya dengan bersih pada luka tersebut, aku memulainya dengan memberi jarak beberapa sentimeter di atas titik awal luka.

Pisau elektromagnetik melesat cepat dan dengan segera memotongnya secara vertikal. Hanya ada sedikit darah yang keluar sebelum pendarahan itu berhenti, meski begitu ini memang pengalaman yang agak mengerikan. Yah, semoga saja hal ini tidak terbawa sampai ke dalam mimpiku.

[Siapkan perban untuk menutupi lukanya.]

Yah, itu sudah pasti. Masalahnya, aku tidak punya satu pun perban di dalam ranselku. Apakah aku harus menggeledah semua barang bawaan mereka?

Sekali lagi, aku memeriksa sekitar dan berhasil menemukan sesuatu. Ada tempat terbuka kecil dekat sisi jalan. Apakah itu tempat di mana mereka awalnya beristirahat?

Sepertinya memang begitu. Ada sisa-sisa api unggun juga di sana. Asapnya juga terlihat masih mengepul. Terdapat pasak berbentuk 'U' di sana dan ada juga kuda-kuda mati yang tergeletak di sekitar tempat itu.

Jadi begitu. Akhirnya aku bisa menghubungkan semua potongan puzzle dan memperkirakan bagaimana mereka diserang.

Mereka awalnya tengah beristirahat dan berencana berkemah di tempat ini ketika hari mulai gelap. Mereka kemudian mengikat kuda-kuda mereka pada pasak, menyalakan api unggun dan berada di tengah-tengah istirahat ketika sekawanan binatang buas itu mulai menyerang mereka.

Dua kuda yang terikat pada kereta kuda diserang dan kereta kuda pun langsung terbalik ketika kuda-kuda itu melonjak panik. Kuda-kuda lain yang diikatkan pada pasak, mereka semua tidak bisa lari dan mati. Sedangkan para manusia mulai dibunuh satu per satu hingga menyisakan dua orang di antara mereka.

Seperti itu kronologinya, aku pikir.

Mungkin ada sesuatu yang bisa aku gunakan sebagai perban di dalam kereta kuda itu.

Aku melompat ke atas kereta kuda yang terbalik itu dan memeriksa ke dalam, namun tidak ada apapun yang mirip dengan barang bawaan di sana.

Ternyata, semua barang bawaan mereka disimpan di bagian atap. Ada empat kotak besar yang berserakan di dekat kereta kuda.

Untuk saat ini, aku membawa semua kotak itu dan meletakannya di sebelah gadis itu. Tidak ada lubang kunci disana dan hanya diikat menggunakan sabuk kulit, jadi aku bisa membukanya dengan mudah.

Hm, pakaian yah? Sepertinya ada banyak pakaian wanita di dalam kotak ini. Aku bisa saja memotongnya dan memakainya sebagai perban. Namun untuk rombongan yang membawa barang yang sebanyak ini, seharusnya mereka juga membawa perban asli.

Hmm, ada juga beberapa pakaian mirip gaun di antara mereka. Mungkinkah itu milik gadis itu?

Oh! Akhirnya ketemu juga.

Ada berbagai macam barang seperti cairan yang disimpan ke dalam botol kecil dan beberapa tanaman herbal kering di dalamnya.

Ini dia. Tentunya ini perban. Tiga gulungan kain tipis berwarna putih. Ketika aku mengambilnya dan memeriksanya, kulihat ini memang kain tipis panjang yang segaja digulung. Tidak elastis, namun masih cukup bersih.

"Bagiamana caranya membelitkan perban pada lukanya?"

[Mohon lepaskan dulu ikatan tali yang anda gunakan untuk menghentikan pendarahan gadis itu.]

Oh, benar juga. Darahnya sudah lama berhenti dari lukanya yang terbuka. Aku memotong ikatan itu dengan pisauku. Kemudian, empat dari jendela virtual yang dimunculkan oleh nano-machine memperlihatkan illustrasi tentang tata cara menggunakan ikatan perban di sekeliling kaki.

Mari kita coba. Pertama-tama begini (beralih ke illustrasi berikutnya), lalu begini (beralih ke illustrasi berikutnya) dan terakhir begini (beralih illustrasi terakhir). Dan selesai, tidak buruk juga.

[Tindakan pertolongan pertama berhasil diterapkan.]

Hah… akhirnya selesai juga. Aku duduk dan mengambil nafas. Setelah dilihat sekali lagi, aku perhatikan bahwa tempat di dekat api unggun itu terdapat ruang terbuka yang cukup luas.

Sebaiknya aku baringkan saja gadis ini ke sana. Aku tidak bisa begitu saja membiarkannya berada di dekat mayat-mayat itu.

Kemudian, aku menggelar selimut di tempat itu dan membawa gadis itu ke sana. Sekarang sudah malam, jadi kami akan tinggal di tempat ini untuk sementara waktu.

"Berapa lama waktu yang dibutuhkan hingga dia tersadar, Wise?"

[Dia perlu istirahat setidaknya satu hari penuh.]

Begitu yah.

Jika memang begitu, maka sebaiknya aku membersihkan tempat ini terlebih dahulu. Tidak baik menghabiskan sebagian besar waktumu di tempat yang dipenuhi oleh mayat.

Pertama-tama, kita nyalakan api unggunnya terlebih dahulu. Tempat ini perlu diterangi sekaligus dengan harapan dapat mengusir hewan-hewan buas. Karena api sebelumnya belum benar-benar padam, aku hanya perlu menambahkan beberapa potong kayu bakar untuk menyalakannya kembali.

Aku juga perlu menyalakan satu lagi di sisi berlawanan ruang terbuka. Aku mengambil kayu yang sudah terbakar dan merapikannya untuk membuat api unggun yang baru.

Saat memeriksa bangkai-bangkai binatang mirip serigala itu, tubuh mereka jauh lebih besar dari yang aku sangka. Panjangnya lebih dari dua meter, mulai dari ujung kepala hingga ujung ekor. Setidaknya ada tiga puluh lima ekor bangkai serigala. Aku membunuh lima belas diantaranya, jadi kurasa sisanya sudah dibunuh oleh kelompok itu.

Sempat terpikir olehku untuk membuang bangkai-bangkai itu langsung ke dalam jurang, namun setelah melihat mereka sekali lagi, kelihatannya mereka cukup berat. Setiap ekor serigala kemungkinan memiliki rata-rata berat antara 120 kg hingga 150 kg.

Apa boleh buat, kita seret saja mereka satu per satu kemudian baru melemparnya ke dalam jurang. Lerengnya cukup curam dan bangkai-bangkai yang bergelimpangan jatuh cukup menarik untuk disimak.

Kemudian, aku berhasil menemukan tangan kiri dan kaki kanan gadis itu yang putus di tengah-tengah proses pembersihan. Haruskah aku menyimpannya? Oh, dan aku harus melepaskan sepatu boot yang rusak itu juga.

Selanjutnya adalah mayat-mayat manusia.

Tentu saja, mana mungkin aku melempar mereka ke dalam jurang. Tapi aku juga tidak punya peralatan untuk menggali. Apakah ada perkakas seperti sekop yang mereka bawa?

Sekarang sudah cukup gelap. Namun berkat adanya nano-machine, aku bisa melihat dengan baik. Fungsi ini tidak akan bekerja dalam keadaan gelap total, namun berkat cahaya api unggun, aku tidak punya masalah ketika melihat dalam kegelapan.

Aku langsung menemukan sekop tak lama setelah memulai pencarianku. Perkakas ini diletakan di bagian belakang kereta kuda. Kurasa ini adalah bagian dari persediaan mereka.

Pertama-tama, kita kumpulkan mayat-mayat itu terlebih dahulu. Aku juga tidak bisa menyeretnya begitu saja, jadi aku mengangkutnya satu persatu. Titik perkuburan yang kupilih adalah di sisi berlawanan area terbuka dimana gadis itu sedang memulihkan diri.

Saat aku membariskan mayat-mayat itu, aku baru menyadari sesuatu. Masing-masing dari mereka mengenakan benda yang mirip pelindung di tangan dan kaki mereka, kecuali gadis yang kuselamatkan, dia tidak memilikinya. Kenapa bisa begitu?

Tapi yah, serigala-serigala itu memilih untuk mengincar leher mereka karena perlengkapan ini. Jadi secara tidak langsung nyawa gadis itu tertolong karena dia tidak mengenakan setelan yang sama seperti rekan-rekannya—nasib baik untuk si gadis.

Menggali kuburan untuk semua orang, sejujurnya ini memang agak melelahkan bagiku.

Oke, kita masukan saja mereka sekaligus ke dalam lubang yang sama.

Setelah dua jam semenjak aku mulai menggali, Wise tiba-tiba mengirimkan pesan kepadaku.

[Gadis itu mulai siuman.]

Piña Point of View (POV)

Aku berhasil mendapatkan kembali kesadaranku. Namun, aku sama sekali tak memiliki petunjuk tentang situasiku saat ini. Sekarang sudah malam, tapi bukankah sebelumnya kami—

Benar juga! Kami diserang oleh kawanan oboro-lea! Semua orang dikalahkan satu persatu dan hanya aku dan Agnes yang masih tersisa. Jika kami berdua berhasil selamat, harusnya dia ada di dekat sini.

Ketika aku hendak mencarinya, aku baru menyadari bahwa ada sesuatu tidak beres dengan tubuhku. Ja-jangan bilang...

'Ti-tidak mungkin…'

Mulai dari ujung siku sebelah kiri hingga ujung lutut sebelah kanan, keduanya benar-benar telah menghilang dari tubuhku. Di detik berikutnya, aku mulai menangis dengan pilu. Namun aku segera menahannya.

Mungkinkah Agnes yang telah merawatku? Aneh, aku tidak merasakan sakit sama sekali. Ketika aku melemparkan pandanganku ke samping, sekilas aku dapat melihat sesosok pria yang tengah berjalan ke arahku. Apakah dia salah satu dari pihak yang mengejar kami atau mungkinkah dia adalah menolong kami? Aku tidak tahu, tapi aku merasa tidak yakin dan takut di saat yang sama.

Naruto POV

Aku mendesah lega ketika melihat gadis itu siuman, tangisannya keluar namun kemudian dia berhasil menekan hasratnya untuk terus menangis. Dia terlihat seperti gadis yang cukup berkepala dingin. Aku perlahan mendekatinya.

"Hello, good evening. Is your wound no longer painful? (Hai, selamat malam. Apakah lukamu sudah tidak lagi terasa sakit?)"

Aku memberinya salam dengan santai. Lagipula dia tidak akan paham dengan apa yang aku ucapkan. Poin pentingnya adalah mengajaknya bicara. Aku akan menyuruh Wise mengumpulkan dan menganalisis bahasa yang dia digunakan sesegera mungkin.

Piña POV

Aku tidak paham dengan kalimat yang diucapkan oleh pria asing ini.

Penampilannya juga aneh. Seluruh pakaiannya berwarna hitam tua dan beberapa bagian yang nampak halus. Saat aku melihat lebih dekat, kuperhatikan bahwa pakaian luarnya tidak memisahkan antara bagian atas dan bawah.

Bagaimana caranya dia mengenakan pakaian itu? Apakah langsung dijahit selagi dia mamakaikannya? Dan beberapa bagian anehnya memantulkan cahaya dari api unggun.

Apakah dia seorang musisi jalanan? Tidak, kelihatannya bukan. Penampilannya cukup muda. Sekitar 20 tahun, aku rasa.

"Kto ty? Pochemu ty ne govorish na yazyke imperii? (Siapa kau? Kenapa kau tidak berbicara dalam bahasa Kekaisaran?)"

Naruto POV

"So, there's nothing that hurts, huh? It's good if that's the case. (Jadi tidak ada yang sakit, yah? Syukurlah kalo begitu.)" Ucapku tulus kepada gadis itu.

"To night must be a heartbreaking tragedy for you, miss. But don't let this make you lose your way. In life there will always be good and bad sides. And good things will be with you after you successfully go through it. (Malam ini tentunya menjadi tragedi yang memilukan bagimu, nona. Namun jangan sampai hal ini membuatmu menjadi hilang arah. Dalam kehidupan ini akan selalu ada sisi baik dan buruk. Dan hal-hal baik akan menyertaimu setelah kamu berhasil melewati semuanya.)"

Aku memberinya nasihat soal kehidupan, meskipun aku tau dia tidak akan bisa memahami perkataanku.

Piña POV

Kupikir awalnya aku salah dengar, namun sepertinya pria ini benar-benar berbicara dengan bahasa yang berbeda.

Tapi bagaimana bisa? Seingatku, tidak ada satupun negara di benua ini yang tidak mengenali bahasa Kekaisaran.

Apakah dia berasal dari negara yang benar-benar jauh dari Kekaisaran? Yah, jika dilihat dari pakaiannya, ada kemungkinkan bahwa pria itu memang bukan berasal dari benua ini.

"Vy lechite menya, ser? No chto zhe s ostal'nymi? (Apakah anda yang merawat saya, tuan? Tapi bagaimana dengan yang lain?)"

….

Naruto POV

"Oh yeah, are you hungry, miss? I have food and drinks here. (Oh yah, apakah kamu sedang lapar, nona? Aku punya makanan dan minuman disini.)"

Aku mengambil botol air mineral dan beberapa ransum dari ranselku dan menyerahkan padanya.

….

Piña POV

Sudah kuduga. Pria ini benar-benar tidak memahami bahasa yang kugunakan.

Dia memberiku barang yang mirip botol kaca transparan dan sebuah kotak berwarna silver

Aku belum pernah melihat kaca sejernih ini sebelumnya. Sejujurnya aku merasa haus, tapi sekarang bukan saatnya bagiku untuk memuaskan dahagaku.

"Gde ostal'nye? (Di mana yang lain?)"

Sekali lagi, aku melebarkan pandanganku ke segala arah. Kemudian pandanganku terpaku oleh rekan-rekan seperjuanganku yang terbaring kaku di sisi lain dari tempat ini.

"Aaah!"

Ja-jadi semuanya benar-benar telah…

A-aku ingin melihat mereka, aku ingin melihat mereka!

Tanpa pikir panjang, aku berusaha merangkak menuju rekan-rekanku yang telah gugur. Namun pria yang ada di hadapanku ini membuat isyarat seolah menyuruhku untuk diam.

Naruto POV

Aku langsung menghentikan gadis itu saat itu juga. Jika tindakannya ini malah akan membuat lukanya kembali terbuka, kerja kerasku sebelumnya akan menjadi sia-sia.

Baiklah. Mari kita coba berkomunikasi dengan bahasa isyarat.

….

Piña POV

Pria itu mulai bertingkah aneh.

Perlahan dia merentangkan kedua tangannya, duduk, berjalan tiga langkah ke arah rekan-rekanku, berhenti dan kemudian memalingkan wajahnya ke arahku.

Selagi aku masih kebingungan, dia kembali ke posisi sebelumnya dan mengulangi tindakannya lagi dan lagi.

Apakah dia mencoba untuk memberitahuku bahwa dia ingin membawaku ke tempat mereka? Jujur saja, aku benci disentuh oleh pria yang tidak kukenal, tapi aku benar-benar tidak punya pilihan lagi.

Kemudian, aku menganggukkan kepalaku sebagai tanda setuju.

Naruto POV

Bagus! Pesanku berhasil tersampaikan kepada gadis itu. Ternyata memang tidak ada yang mustahil selama kita mau mencoba.

Namun ini membuatku terasa seperti habis memainkan pantomim dan aku melakukannya sambil terus diam tanpa suara. Tidak ada aturan aku dilarang berbicara, sih. Jadi aku agak malu.

Piña POV

Pria itu mendekatiku dan mengangkatku. Ini pertama kalinya bagiku disentuh oleh seorang pria yang bukan bagian dari keluargaku.

Kami mulai berjalan ke arah rekan-rekanku.

"A-ahhh..."

Air mataku kembali tumpah.

Leher semua orang benar-benar telah terkoyak habis. Ini sama seperti saat kami disergap oleh kawanan monster buas kala itu. Bahkan Agnes juga…

"Hiks... hiks... hiks..."

Aemilie, Claritia, Ceres, Juno, Jyll, Dido, Bellona, Esilia dan Agnes...

Mereka semua sudah melayaniku semenjak aku masih kecil. Esilia bahkan adalah teman masa kecilku. Meskipun aku berusaha mati-matian untuk menahannya, tapi pada akhirnya tangisanku kembali pecah. Kali ini aku benar-benar menangis dengan suara yang agak keras.

Mungkin karena merasa iba, pria itu kemudian membawaku kembali ke tempat dimana terdapat sebuah selimut yang telah digelar dan lalu membaringkanku di sana.

Naruto POV

Hah... aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kuperbuat saat melihat gadis itu mulai menangis. Kurasa dia benar-benar terkejut melihat kematian teman-temannya. Yah, aku bisa memahami perasaan itu, sih.

Tapi aku juga harus kembali bekerja untuk menguburkan mereka. Kurasa aku akan menjelaskan hal ini kepada gadis itu.

Piña POV

Setelah aku berhenti menangis, pria itu lalu mengambil sekop dan mulai memberikan isyarat. Jika dilihat dari gerakannya, aku menduga bahwa dia bermaksud untuk membuat lubang di atas tanah dan mengisinya kembali dengan tanah. Dia benar-benar tidak bicara kali ini.

Aku langsung memahami apa maksudnya. Tentunya dia bermaksud untuk memberikan pemakaman yang layak untuk teman-temanku.

"Podozhdi nemnogo, ser. Ochen' zhal', chto ya ne mogu vam pomoch', no ya nadeyus', chto smogu dat' im slova proshchaniya… (Tolong tunggu sebentar, tuan. Sangat disayangkan bahwa saya tidak bisa membantumu, namun saya harap saya bisa memberikan mereka kata-kata perpisahan...)"

Pria itu mengangkat alisnya, seolah berkata jangan mengganggunya ketika bekerja.

"Ya skazal... Ya khochu proshchatsya s nimi. (Saya bilang... saya ingin mengucapkan kata-kata perpisahan kepada mereka.)"

Pria itu lalu mengacungkan jarinya ke arahku, seolah mengatakan bahwa ini adalah giliranku untuk mengunakan bahasa isyarat.

Jadi begitu, jadi kami tidak akan bisa mengerti satu sama lain kecuali dengan bahasa isyarat. Ini sedikit merepotkan bagiku.

Pria itu kemudian membuat ekspresi seolah menyiratkan bahwa dia paham dan mengangguk padaku. Apakah pesanku tersampaikan kepadanya? Dia sepertinya pria yang cukup cerdas.

Pria itu mengangkatku lagi dan kemudian berjalan ke arah teman-temanku. Setelah sampai di sana, dia lalu menatapku dan aku juga balik menatapnya.

Apakah dia akan mengizinkanku memberikan kata-kata perpisahan? Kami menghabiskan beberapa waktu dalam keheningan.

Pada akhirnya dia lalu membawaku kembali ke tempat semula.

Ini buruk! Pria ini sama sekali tidak memahami apa maksudku!

Yah, kalau dipikir lagi, mengharapkan dia mengerti hanya dengan isyarat sederhana mungkin memang terlalu berlebihan. Aku berpikir sejenak dan menunjuk ke arah sekop yang tergeletak di dekatnya. Kemudian aku memberi isyarat lagi. Dia mengambil sekop itu.

Aku terus memberi isyarat kepada pria itu selagi menirukan gerakan menggalih lubang. Di saat sama, dia mulai menggalih lagi sambil menatapku bingung.

Ini sulit bagiku untuk melakukannya dengan hanya mengandalkan satu tangan.

Aku menunjuk diriku lagi dan melebarkan kedua mataku menggunakan jari-jariku. Apakah kali ini berhasil?

Setelah berpikir sejenak, pria itu lalu mulai mengumpulkan kotak kayu yang sebelumnya dimuat di atap kereta kuda dan membawanya ke dekat titik pemakaman. Dia menumpuk satu demi satu kotak kayu dan membiarkanku duduk di atas.

Setelah sekitar satu jam, sebuah lubang yang cukup besar akhirnya selesai dibuat.

Pria itu kemungkinan besar sudah menggali lubang itu dari tiga jam yang lalu. Aku benar-benar tersentuh oleh kebaikannya.

Dengan hati-hati, dia lalu menurunkan mayat-mayat temanku untuk ditempatkan di dalam makam. Sejenak, dia terlihat seperti mengingat sesuatu dan kemudian pergi ke lokasi yang berbeda.

"Eto zhe...? (I-itu kan...?)"

Apa yang dia bawa adalah bagian tubuhku yang telah putus. Sepatu boot-nya sudah dilepas. Jujur, rasanya agak menyakitkan setelah melihat bagian tubuhku yang terpisah seperti ini.

Pria itu kemudian memberi isyarat kepadaku melalu kontak mata. Aku mengangguk setuju. Semua orang mungkin akan merasa lebih tenang jika bagian-bagian dari diriku juga ikut menyertai mereka.

Kemudian, pria itu kembali memberi isyarat kepadaku untuk mengisi lubang makam dengan tanah. Sebagai balasan, aku menganggukan kepalaku lagi sebagai tanda setuju.

Setelah mendapat respons dariku, pria itu lalu kembali melanjutkan tugasnya.

Sejujurnya, aku tidak bisa melihat teman-temanku dengan jelas dari posisiku saat ini. Haruskah aku meminta bantuannya sekali lagi?

Diluar dugaan, pria itu seperti dapat memahami perasaanku.

Dia mengangkatku kembali dan membawaku ke tempat dimana aku bisa melihat isi dari lubang makam itu dengan cukup jelas.

"Vse oni vsegda khorosho otnosilis' ko mne. Vasha nezyblemaya loyal'nost' yavlyaetsya moyey gordost'yu na vsyu zhizn. Pokojtes' s mirom. Zhelayu vashim dusham vernut'sya chistymi v Samsaru… (Semuanya sudah melayaniku dengan baik selama ini. Loyalitas kalian yang tak tergoyahkan adalah kebanggaan bagiku seumur hidup. Beristirahatlah dengan damai. Semoga jiwa kalian kembali suci di Samsara...)"

Setelah itu, aku memanggil pria itu kembali dan memintanya untuk melanjutkan tugasnya yang sempat tertunda. Butuh waktu sekitar satu jam baginya untuk mengisi kembali lubang itu dengan tanah.

Sehabis itu, pria itu membawaku kembali ke atas selimut. Aku benar-benar harus menunjukan rasa terima kasihku atas semua kebaikannya. Aku duduk dan menghadap secara langsung ke arah dermawanku.

"Ya ne mogu nayti slova, chtoby vyrazit' moyu glubokuyu blagodarnost' za vashu uslugu, ser. Vy spasli moyu zhizn' i pozvolili moyim druzyam uspokoit'sya v vechnosti. Spasibo. Eto blago, ya kogda-nibud' otdablyu vas za vse vashi blaga. (Saya tidak bisa menemukan kata yang cocok untuk mengungkapkan rasa terima kasih saya yang begitu dalam atas jasamu, tuan. Anda telah menyelamatkan hidup saya dan mengizinkan teman-teman saya untuk beristirahat dalam keabadian. Terima kasih. Kebaikan ini, sungguh, saya akan membalas semua kebaikan anda suatu hari nanti...)"

Tanpa sadar, aku mengeluarkan energi sihirku dan tubuhku mulai mengeluarkan cahaya sebagai tanda sumpahku kepada dewi.

...