A/N: Pertama-tama, untuk para pembaca lama saya yang kebetulan membaca author note ini maka saya ingin meminta maaf yang sedalam-dalamnya atas ketidaknyaman ini. Fic ini akan saya rencanakan untuk benar-benar dirombak, diperbaiki dengan maksud untuk meningkatkan kualitas cerita yang ada di dalamnya serta memaksimalkan plot cerita yang masih sangat jauh dari kata bagus. Selain itu saya juga berencana untuk menambahkan beberapa cutscene serta words di setiap chapter yang dirasa masih sangat kurang demi bisa memaksimalkan penggambaran dunia di dalam cerita ini.

Perbaikan telah dimulai sejak tanggal 02 Desember 2022 yang lalu hingga hari yang tidak dipastikan. Maka oleh karena itu saya ucapkan permintaan maaf yang sebesar-besarnya sebagai penulis karena tidak bisa memenuhi ekspetasi kalian sebagai pembaca.

Akhir kata, terima kasih sebesar-besarnya kepada reader yang telah mendukung saya dengan cara membaca, me-review, mem-favorite, dan mem-follow fic ini sampai sekarang. Saya tahu bahwa cerita saya buat ini masih sangat jauh dari kata layak, namun saya masih setidaknya berkomitmen untuk bisa menamatkan fic ini terlepas dari jumlah review, favorite, maupun follow yang jauh dari apa yang saya inginkan.

.

.

.

How to Ex-Interstellar Nation Army Built the Kingdom

Chapter 5

Piña de Lada Saderanova

(Revisi Tgl 14/01/2023)

.

Naruto POV

Kedua mataku melebar oleh fenomena yang berada tepat di depanku.

Gadis itu... gadis itu baru saja mengeluarkan cahaya dari dalam tubuhnya. Intersitas cahayanya memang tidak terlalu terang, namun itu cukup untuk menerangi daerah di sekelilingnya hingga jarak kurang lebih tiga meter.

Dari mana cahaya itu berasal?

Jika mengacu pada ilmu biologi klasik, memang benar bahwa ada beberapa makhluk hidup yang dikatakan memiliki kemampuan untuk menghasilkan cahaya sendiri.

Namun, tak ada satupun informasi yang sesuai dengan pengetahuan biologis yang aku punya. Ada juga kemungkinan bahwa gadis itu memiliki semacam organ khusus yang mampu menghasilkan cahaya sendiri layaknya ekor pada kunang-kunang. Namun, dugaanku itu dengan segera ditepis oleh hasil analisa nano-machine yang ada di dalam tubuhnya.

Tidak ditemukan satu pun organ khusus yang mampu menghasilkan cahaya sendiri. Sebagai gantinya, nano-machine mencatat adanya peningkatan interaksi sel-sel penapasan yang tidak wajar dengan biomolekul lipid dan juga protein yang ada di dalam tubuh.

Aku meminta Wise untuk memeriksa tubuhnya sekali lagi.

Hasil analisa kedua menunjukkan bahwa penyebab dari interaksi sel-sel penapasan yang tidak wajar itu berasal dari semacam kristal organik yang tumbuh di dalam dinding jantungnya. Kristal itu secara konsisten menghasilkan konsentrasi elektron yang cukup besar, sehingga mempengaruhi intersitas cahaya yang dihasilkan oleh tubuh.

Ini membuatku bertanya-tanya.

Apakah semua makhluk yang berasal dari planet ini juga memiliki semacam kristal di dalam tubuh mereka? Makhluk hijau yang sebelumnya kutemui juga memilikinya.

Aku sempat menduga bahwa kristal itu memiliki sifat lasing, sejenis kristal yang dapat mengubah energi listrik menjadi cahaya. Namun, ini hanya sebatas spekulasi yang tidak dapat dibuktikan oleh ilmu pengetahuan saat ini.

Jika ada yang harus aku simpulkan dari fenomena ini, maka jawaban yang akan kuberikan adalah tidak tahu.

'Wise, yang barusan itu... bisakah kau menganalisanya?'

[Itu dimungkinkan. Namun, saya perlu melakukan pemeriksaan yang lebih mendalam. Setidaknya, hasilnya akan keluar dalam waktu satu atau dua hari lagi.]

'Kuserahkan sisanya padamu.'

[Roger.]

Aku memandang gadis itu dengan dalam.

Struktur biologisnya tidak diragukan lagi adalah manusia. Namun, gadis ini memiliki beberapa perbedaan dalam anatomi yang membuatnya unik jika dibandingkan denganku, khususnya kristal yang ada di dalam jantungnya. Aku tidak dapat menebak secara pasti kegunaan dari kristal itu, ada terlalu banyak puzzle yang tidak dapat kupahami.

Ini tidak seperti aku ingin membedah gadis itu layaknya tikus yang biasa digunakan dalam laboratorium. Namun, keingintahuanku akan sesuatu yang belum pernah dipelajari mendorongku untuk mempelajarinya lebih jauh.

Yah, kita kesampingkan hal itu untuk nanti. Yang terpenting sekarang adalah memulihkan tubuh gadis itu dan kemudian mempelajari bahasanya agar aku bisa lebih memahami pola berpikir dan budaya masyarakat lokal yang tinggal di planet ini.

Aku mengambil sebotol air mineral dan dua potong ransum yang tadinya aku simpan di dalam tas.

Masing-masing ransum memiliki rasa yang berbeda, manis dan asin.

Kira-kira, apakah gadis ini juga menyukai makanan yang manis? Yah, mungkin saja. Lagipula aku memang tidak terlalu suka makan makanan yang terlalu manis. Jadi aku putuskan untuk memberinya ransum itu kepadanya.

Namun sebelum itu, aku perlu memberinya air minum terlebih dahulu. Sebab, akan susah nantinya jika dia tiba-tiba pingsan hanya karena kekurangan cairan.

Aku menuangkan air ke dalam gelas dan menyerahkannya kepada gadis itu. Dia langsung meminumnya saat itu juga. Setelah isinya kosong, aku kembali menuangkan air ke dalam gelas. Kali ini dia hanya meminumnya sedikit. Untuk sesaat, pandangannya agak terpaku pada gelas yang berada di tangan kanannya.

Tentu saja, aku juga meminum bagianku sendiri. Lagipula aku benar-benar kehausan setelah semua hal melelahkan yang terjadi selama kurang dari satu hari ini. Jadi aku perlu mengisinya kembali.

Setelah puas, aku lalu memberi ransumku kepada gadis itu. Namun, bukannya dia langsung memakannya. Gadis itu hanya menatap ransum tersebut seakan bertanya, 'Apakah ini bisa dimakan?'

Duh, aku lupa bahwa gadis ini hanya memiliki satu tangan sekarang. Aku benar-benar merasa berdosa karena secara tidak langsung melecehkannya seperti itu.

Aku mengambil kembali ransum itu, menyobek bungkusannya dan menyerahkannya kepada gadis itu. Setelah menatapku sejenak, dia kemudian mengambil satu gigitan.

Setelah itu, dia menghabiskan semua ransum itu seperti orang rakus. Kurasa dia belum pernah makan apapun dengan rasa seperti itu sebelumnya, sungguh kasihan.

Aku pun mulai menyantap bagianku dengan lahap. Rasanya enak sih, tapi entah kenapa seperti ada yang kurang.

...

Piña POV

Sulit dipercaya bahwa dia akan setenang ini setelah memakamkan semua jenazah teman-temanku, termasuk anggota tubuhku sendiri.

Mungkinkah dia seorang tabib yang sedang menyamar? Ada juga kemungkinan bahwa dia merupakan seorang pengguna sihir medis yang sangat handal. Sebab, jika dilihat dari bekas amputasi yang aku miliki, hampir tidak ada bercak darah yang tertinggal di sana. Aku juga tidak merasakan sakit sama sekali.

Hanya saja, jenis sihir apa yang dia gunakan untuk merawat luka-lukaku?

Dulu, ketika aku masih tinggal di istana. Aku mengenal beberapa orang tabib yang telah mengabdikan diri mereka untuk keluarga kaisar selama puluhan tahun.

Namun, tak seorang pun dari mereka yang mampu menyembuhkan luka bekas amputasi hanya dalam hitungan jam. Bahkan dengan sihir penyembuhan pun, butuh waktu setidaknya dua hingga tiga hari untuk benar-benar bisa memulihkan luka bekas amputasi.

Seperti yang diharapkan dari seorang dermawan yang telah menyelamatkan hidupku. Aku menyesal karena sempat mengira bahwa dia adalah musuh.

Ketika aku mengucapkan sumpah kepada dewi, pria itu tampak terkejut oleh sesuatu.

Biasanya, ritual untuk bersumpah kepada dewi ini hanya bisa dilakukan secara tertutup dan disaksikan secara terbatas oleh pihak keluarga, bangsawan dan sang pendeta agung. Karena status sosialku yang tergolong tinggi, aku diberi banyak kesempatan untuk menyaksikannya secara langsung.

Namun, bagi orang biasa yang bukan berasal dari kalangan bangsawan, pemandangan ini tentu bukan sesuatu yang bisa dilihat oleh mereka. Jadi wajar saja jika dia akan bereaksi seperti itu.

Setelah aku berhenti melamun, Sir Osbern lalu menyodorkan segelas air kepadaku. Dengan segera, aku meminum semua isinya di saat itu juga. Setelah habis, Sir Osbern kembali mengisi gelas itu dengan air dan menyerahkannya lagi kepadaku.

Setelah aku menjadi sedikit lebih tenang, aku perhatikan ada sesuatu yang aneh dengan gelas kaca yang ada di tangan kananku.

Gelas ini terlihat cukup tipis dan setelah isinya kosong, gelas ini ternyata sangat ringan. Bahkan permukaannya pun juga sangat halus, menandakan cara pembuatannya yang sangat rumit.

Kira-kira, berapa banyak uang yang diperlukan untuk dapat membuat gelas seindah ini?

Selagi aku masih melamun, pria itu kembali mengeluarkan balok logam yang sebelumnya pernah dia sodorkan kepadaku.

Aneh. Menilai dari beratnya, ini tentunya bukan terbuat dari logam. Lalu, untuk apa dia memberiku ini? Aku sama sekali tidak memahami apa maksudnya.

Setelah melihatku ragu-ragu, pria itu lalu mengambil balok logam itu dari tanganku. Di luar dugaan, permukaan metalik yang menutupinya adalah semacam pembungkus.

Sekali lagi, aku dibuat terkejut olehnya. Yang tadinya kukira awalnya balok logam, ternyata adalah sesuatu yang dibungkus oleh pembungkus metalik.

Pria itu kemudian memberi isyarat kepadaku untuk memakannya. Jadi ini bisa dimakan?!

Ketika aku mendekatkannya ke mulutku, ada bau harum yang tercium makanan itu. Penasaran, aku lalu menggigit ujungnya sedikit.

Ini manis! Mungkinkah ini sejenis makanan penutup? Rasanya manis dan memiliki tekstur yang lembut. Tanpa sadar, aku lalu memakannya sampai habis.

Enaknya… baru kali ini aku memakan sesuatu yang seenak ini.

Pria itu juga selesai memakan bagiannya. Kemudian, dia menunjuk dirinya sendiri dan berkata "Na-ru-to". Dia sempat berhenti lalu kembali berkata "Na-ru-to Os-bern".

Apakah itu namanya? Ngomong-ngomong, aku juga belum memperkenalkan diriku dengan benar.

Aku menunjuk pria itu dan berkata "Nar-to". Berhenti sejenak, aku lalu kembali berkata "Na-ru-to Os-bern". Pria kemudian mengangguk senang.

Aku harus memperkenalkan diri juga. Aku menunjuk diriku sendiri dan berkata "Pi-ña". Sejenak aku berhenti kemudian mengungkapkan nama lengkapku. "Pi-ña Mol-yevna Sa-de-ra-nova."

Pria itu balas menunjuk ke arahku dan berkata "Pi-ña Mol-yevna Sa-de-ra-nova " Dia berulang kali menyebutkan namaku selama beberapa detik.

Selagi sibuk mengucapkan namaku, aku lalu berfokus pada ekspresi di wajahnya.

Bahkan setelah mendengar nama lengkapku, pria ini tidak menunjukkan reaksi yang berarti. Sesuai dugaanku, orang ini—bukan, Tuan Osbern bukanlah penduduk lokal dari kekaisaran.

Tapi ini juga membuatku agak penasaran, apakah sebenarnya dia seorang bangsawan? Sulit membayangkan bahwa barang-barang seperti gelas kaca dan kudapan lezat itu dimiliki oleh orang biasa.

Aku cukup familiar dengan beberapa keluarga bangsawan utama yang ada di kekaisaran dan di negara-negara tetangga. Tapi aku belum pernah mendengar keluarga bangsawan dengan nama Osbern. Dia juga tidak memiliki patronimi sepertiku.

Apa sebaiknya aku tanyakan saja hal ini ke Sir Osbern? Tapi aku takut jika itu dapat menyinggung perasaannya.

Meskipun rasa penasaran masih menggelayuti pikiranku, aku memutuskan untuk menyimpan pertanyaan tentang siapa sebenarnya Sir Osbern dan juga masa lalunya untuk saat ini.

...

Aku senang atas usahaku dalam memperkenalkan diri kepada gadis itu.

Piña Molyevna Saderanova?

Ada banyak hal yang masih ingin kutanyakan kepadanya, namun Piña tampaknya sudah sangat mengantuk. Dia memberikan isyarat, dengan lirih mengucapkan beberapa kata dan menjatuhkan dirinya ke atas selimut. Sedangkan aku sudah sangat kelelahan, namun saat ini masih terlalu dini untuk tidur dan ada sesuatu yang benar-benar harus aku selesaikan apapun yang terjadi.

'Kita dalam situasi darurat! Kita harus membuat organ buatan untuk Piña sebelum dia bangun!'

Tidak, bahkan mungkin kita tidak punya banyak waktu lagi.

[Organ buatan seperti apa yang ingin anda buat?]

'Yang dasar saja sudah cukup. Tidak perlu sampai memiliki kegunaan yang terlalu spesifik. Tapi aku ingin setidaknya dia dapat berjalan selama mungkin. Aku juga tidak ingin sesuatu yang tidak stabil dan cepat hancur. Kau hanya diperbolehkan menggunakan material yang tersedia disini.'

[Kalau begitu, mohon pindai semua materi yang tersedia.]

Selagi melaksanakan apa yang diinstruksikan, aku mengingat kembali kebenaran mengejutkan yang baru saja aku sadari.

Piña baru saja meminum banyak air.

Aku tidak berpikir seorang gadis yang kehilangan tangan dan kakinya bisa menyelesaikan 'urusannya' dengan lancar.

Jika aku adalah orang jahat, aku mungkin akan memanfaatkan kecacatan Pina saat ini demi keuntunganku. Sangat mudah bagiku untuk memperkosanya jika aku mau dan Pina tidak memiliki banyak cara untuk melawan.

Tentu saja, tidak mungkin bagiku untuk melakukan hal sekeji itu kepada Pina. Namun bukan berarti bahwa hati manusia akan selalu sama. Dan itulah hal yang selalu aku yakini sejak dulu.