A/N: Pertama-tama, untuk para pembaca lama saya yang kebetulan membaca author note ini maka saya ingin meminta maaf yang sedalam-dalamnya atas ketidaknyaman ini. Fic ini akan saya rencanakan untuk benar-benar dirombak, diperbaiki dengan maksud untuk meningkatkan kualitas cerita yang ada di dalamnya serta memaksimalkan plot cerita yang masih sangat jauh dari kata bagus. Selain itu saya juga berencana untuk menambahkan beberapa cutscene serta words di setiap chapter yang dirasa masih sangat kurang demi bisa memaksimalkan penggambaran dunia di dalam cerita ini.
Perbaikan telah dimulai sejak tanggal 02 Desember 2022 yang lalu hingga hari yang tidak dipastikan. Maka oleh karena itu saya ucapkan permintaan maaf yang sebesar-besarnya sebagai penulis karena tidak bisa memenuhi ekspetasi kalian sebagai pembaca.
Akhir kata, terima kasih sebesar-besarnya kepada reader yang telah mendukung saya dengan cara membaca, me-review, mem-favorite, dan mem-follow fic ini sampai sekarang. Saya tahu bahwa cerita saya buat ini masih sangat jauh dari kata layak, namun saya masih setidaknya berkomitmen untuk bisa menamatkan fic ini terlepas dari jumlah review, favorite, maupun follow yang jauh dari apa yang saya inginkan.
.
.
.
How to Ex-Interstellar Nation Army Built the Kingdom
Chapter 6
Organ Buatan
(Revisi 15/01/2023)
.
Naruto POV
Organ buatan telah selesai kubuat.
Aku khawatir tentang kemungkinan Piña yang tiba-tiba terbangun di tengah malam untuk buang air kecil, jadi aku bergegas menyelesaikannya sambil memikirkan itu.
Sejujurnya, aku tidak akan bisa membuat ini jika bukan karena kotak peralatan yang sepertinya digunakan untuk perbaikan kereta kuda. Nah, organ buatan ini tidak akan sempurna jika salah satu bahan baku pentingnya tidak tersedia.
Aku sangat percaya diri dengan organ buatan ini. Meskipun begitu, Wise lah yang sebenarnya mendesain benda ini dan membimbingku untuk menyelesaikannya.
Secara keseluruhan, desainnya cukup sederhana dan bahan baku yang digunakan pun terdiri dari penyangga kereta kuda, cangkir logam berukuran besar dan ramping, kekang kuda serta dongkrak berukuran kecil yang kuambil dari kotak peralatan.
Penyangga kereta-kuda berbentuk seperti tanda '' untuk mengurangi goncangan, dengan bagian atasnya mencuat ke atas untuk dipasangkan dengan kereta kuda.
Hal yang membuatku sedikit tertarik adalah kekerasannya cukup mengagumkan. Itu seimbang antara ketahanan serta seimbang antara ketahanan serta fleksibilitasnya terbilang tinggi.
Ketika dianalisa, material ini memiliki susunan atom yang identik dengan spesimen makhluk berkulit keras yang umumnya ditemukan pada beberapa jenis reptil seperti buaya dan semacamnya.
Pada bagian yang menyerupai cangkir, itu terlihat seperti metal yang dibentuk menyerupai gelas alkohol dan diameternya membesar dari bagian bawah hingga ke atas. Yah, mulutnya cukup besar untuk betis Piña.
Aku sudah memastikan ketebalan betis Piña sejak terakhir kali aku merawat lukannya.
Aku memotong bagian-bagian yang tidak dibutuhkan dan lalu menyambungkannya dengan penyangga menggunakan pistol laserku.
Yang menjadi kunci adalah sudutnya. Berat badan Piña dihitung oleh Wise bersamaan dengan berat komponen lain yang akan ditahan oleh penyangga itu. Untuk memungkinkannya, bentuk '' harus dipasang secara vertikal.
Aku dengan hati-hati mengukir ujung penyangga yang akan terhubung dengan dongkrak, membentuk lingkaran dengan pisauku hingga mencapai sudut yang pas.
Setelah itu, organ buatan ini bisa dianggap selesai setelah menyambungkan penyangga ke dongkrak. Ini juga dilengkapi oleh sabuk kekang kuda untuk menyesuaikannya dengan tungkai kaki Piña agar tidak mudah lepas.
Kaki palsu ini didesain khusus agar tungkai kaki Piña bisa masuk ke dalam wadah dan mengencangkannya dengan sabuk kulit. Fungsi utamanya adalah mampu menyesuaikan ketinggian secara bebas melalui penggunaan dongkrak.
Oh sial, aku terlalu membuang-buang waktu. Sekarang sudah hampir pagi. Aku harus buru-buru menyelesaikannya sebelumnya Piña bangun.
…
Piña POV
Saat aku terbangun dari tidurku, Sir Osbern terlihat tergesah-gesah ke arahku dan dengan semangat menunjukkan sesuatu yang aneh.
Sepertinya ada bagian dari cangkir upacara yang terpasang pada benda itu, namun aku tidak mengenali sisanya. Dia berusaha menjelaskan kegunaannya dengan cara berbicara, tapi tentu saja aku tidak dapat memahami apa yang dia ucapkan.
Aku terkejut ketika dia tiba-tiba menggendongku dengan tangannya.
Sir Osbern lalu mendudukkanku di atas tumpukan kotak kayu. Dia membalut ujung kakiku yang putus dengan kain bersih yang sudah disiapkan olehnya. Aku tidak mengerti apa tujuan dia melakukan ini.
Setelah itu, dia mengambil alat yang sebelumnya kuanggap aneh dan kemudian memasangkannya ke ujung kakiku yang putus. Dia memiringkan kepalanya dan membalutkan potongan kain lagi di sekitar tungkaiku sambil menggumamkan sesuatu sebelum mencoba memasangkannya kembali.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Sir Osbern lalu memegang tangan kananku dan membuat isyarat untuk berdiri.
Mungkinkah?!
Dia memegang kedua pundakku dan membantuku untuk berdiri. Jantungku berdegup kencang.
Apakah mungkin?!
Setelah percobaan pertama, Sir Osbern mulai menyesuaikan alat itu kembali. Kali ini, jantungku terus berdegup kencang.
Dia membuatku berdiri lagi dan mengamatiku. Kali ini dia nampak puas.
Dengan hati-hati dia menahan pundakku. Aku perlahan berjalan ke depan dengan langkah yang tidak nyaman. Aku tidak terbiasa dengan sensasi aneh ini, namun Sir Osbern tetap membimbingku.
Selangkah, dua langkah, tiga langkah.
Sensasi yang kurasakan ketika berat tubuhku tertahan oleh alat ini terasa aneh.
Aku terus melangkah.
Ini tidak mungkin terjadi. Aku merasa seolah sedang bermimpi.
Aku melangkah, lagi dan lagi.
Sir Osbern melepaskan pundakku lalu memegang tanganku.
Aku melangkah, lagi dan lagi.
Aku merasa seperti sedang berlatih menari.
Aku melangkah, lagi dan lagi.
Sir Osbern sekarang melepaskan tanganku. Dia kemudian berjalan di sebelahku.
Aku melangkah, lagi dan lagi.
Sir Osbern lalu berhenti di tempat.
Aku mulai berjalan di sekitar Sir Osbern tanpa bimbingannya.
Aku melangkah, lagi dan lagi.
Tanpa sadar, aku mulai menitikkan air mata.
Aku melangkah, lagi dan lagi.
"Akh! Akhakhaha! Eto prosto udivitel'no, gospozha Osbern (Ah! Ahahaha! Ini sangat menakjubkan,SirOsbern!)"
Aku tertawa dan menangis di saat yang bersamaan.
Aku melangkah, lagi dan lagi.
Aku sudah berjalan sendiri tanpa dibimbing olehnya selama sekitar sepuluh menit. Aku sedikit terhuyung-huyung ketika akhirnya berhenti, namun pada akhirnya aku berhasil menyeimbangkan diriku.
"Gospozha Osbern! Eto prosto udivitel'no! Ya eshche ne mogu poverit', chto vy smogli sozdat' takoy funktsional'nyy protez dlya moyey nogi! (Tuan Osbern! Ini sangat menakjubkan! Saya masih belum percaya anda bisa membuat alat sehebat ini!)"
Tentu saja,SirOsbern masih belum bisa memahami kata-kataku. Namun dia memberiku senyum lembut sebagai balasan bahwa dia juga ikut merasa senang.
Aku masih ingin mengungkapkan rasa bahagiaku kepadanya. Namun tiba-tiba, aku merasakan adanya dorongan tak terbantahkan yang muncul di dalam kemaluanku.
Jika aku diam saja, aku tidak akan bisa terus berjalan dengan bebas seperti saat ini.
Tapi bagaimana caranya agar dia bisa mengerti?
Aku mengarahkan jariku ke arah semak-semak, aku mengulanginya sebanyak dua kali dengan harapan dia dapat memahami apa yang aku maksud.
Di luar dugaan,SirOsbern lalu menganggukkan kepalanya sebagai tanda 'iya'. Dia memberiku isyarat untuk menunggu selagi dia bergegas ke arah yang aku tunjuk dadi.
Beberapa waktu kemudian, dia kembali dan mengangguk sekali lagi sambil memberi tanda 'iya'. Mungkin dia khawatir akan keselamatanku sehingga dia bersusah payah pergi ke arah semak-semak untuk memeriksa.
Setelah mengucapkan kata 'terima kasih', aku lalu membawa tas berisi perlengkapan mandi bersamaku dan pergi ke arah semak-semak sambil tersipu malu.
…
Setelah selesai buang air kecil, aku kembali ke tempat Sir Osbern. Dia mengungkapkan maksudnya untuk tidur setelah ini.
Seperti yang kuduga, alat ini tentunya tidak akan bisa dibuat hanya dalam waktu singkat. Sepertinya dia membuat ini dengan cara bergadang semalaman.
Awalnya dia lebih memilih untuk tidur di tanah, namun aku memaksanya untuk tidur di atas selimut. Lagipula ini memang kepunyaan Sir Osbern sejak awal. Aku tidak boleh bersikap serakah kepada dermawanku.
Bagiku, Sir Osbern adalah contoh teladan bagi setiap bangsawan. Dia bijaksana, baik hati, dan memiliki kecerdasan serta kekuatan.
Ya, dia kuat. Aku masih di tengah-tengah kebingungan kemarin jadi aku tidak memperhatikannya. Tapi baik aku dan Agnes, kami berdua dikalahkan oleh kawanan oboro-lea sebelum Sir Osbern datang dan menyelamatkan kami.
Andaikan saja waktu itu aku tetap memakai pelindung lengan dan kaki ketika ingin buang air kecil, aku mungkin tidak akan kehilangan anggota tubuhku seperti sekarang.
Meskipun begitu, jika aku memakai pelindung lengan dan kakiku, leherku kemungkinan besar akan terkoyak sama seperti yang lainnya.
Hah...
Memikirkan hal seperti itu sekarang sudah tidak ada gunanya lagi.
Aku tidak bisa tidur nyenyak semalam bahkan setelah mencoba untuk berbaring. Aku memikirkan banyak hal—kematian teman-temanku, pengorbanan yang kulakukan sampai sekarang, kecemasan atas kewajiban yang harus kupenuhi, kehilangan bagian tubuhku dan masa depanku sebagai orang cacat.
Aku sendirian. Memangnya siapa yang akan mengikuti seseorang yang bahkan tidak mampu berjalan? Aku memikirkan hal-hal itu sampai aku tidak bisa tidur.
Namun, dengan "kaki" baruku ini, aku masih bisa berjalan. Aku mungkin akan cacat seumur hidup, namun bukan berarti aku tidak memiliki masa depan.
Kemarin adalah salah satu hari terburuk sepanjang hidupku. Namun di saat yang sama, aku juga diberkahi oleh Dewi karena bisa bertemu dengan Sir Osbern.
Aku harus melanjutkan perjalananku segera setelah Sir Osbern bangun. Aku akan bersiap-siap untuk itu.
Aku penasaran, akankah Sir Osbern bersedia untuk menemaniku nanti?
…
