.
The Interstellar Nation Army Become a Mercenary
Side Story 2 (By World Invaders)
Lingkaran Iblis (Bagian 1)
.
.
.
Planet Bumi, Jepang, Tokyo.
"Begitukah?"
Seorang Admiral dengan pakaian lengkap membaca sebuah laporan yang di berikan kantor UNSA, Nagasaki.
"Apa yang harus kita lakukan pak? Haruskah kita memberikan kabar pada media mengenai status ISF York Town dan ISF Kaguya?"
Admiral kemudian melirik kearah Mayor yang masih menunggu tanggapannya.
"Apa kau bersedia menjadi Juru Bicara UNSA ke Pers?"
...
Admiral kemudian mengeluarkan sebuah foto dimana seorang laki-laki berpakaian Kadet UNSA tersenyum bangga ketika kelulusan Akademi UNSA
"Keponakanku saat ini hilang entah dimana bersama dengan semua orang yang ada di ISF Kaguya. Katakan padaku Mayor."
"Tahukah perasaanku saat ini?"
"Bisakah anda membayangkan bagaimana perasaan keluarga-keluarga dari anggota UNSA yang ikut menjadi korban dalam insiden ini?"
Mayor hanya diam melihat Admiral yang masih emosional dengan apa yang terjadi pada keluarganya.
Tak lama setelah perilisan berita dari UNSA, Perwakilan UNSC Mayor Jebediah Malone mulai naik ke podium dimana semua jurnalis pers telah menunggu.
"Seperti yang anda semua tahu, insiden yang menimpa ISF 77 masih belum mendapatkan titik terang."
"Mayor!"
"Mayor!"
Beragam jurnalis mulai mengangkat tangan setelah dia selesai berbicara sejenak
"Mayor, Apa yang terjadi dengan ISF 77? Apa benar bahwa UNSC mulai mengabaikan keselamatan kru selama misi penjelajahan?"
Mayor Jeb sedikit menghela nafasnya sebelum menjawab pertanyaan itu.
"UNSC telah mengkonfirmasi bahwa insiden ini tidak ada kaitannya dengan permasalahan teknis dengan sistem Space Ship. Apa yang terjadi dengan insiden menghilangnya ISF 77 masih belum diketahui secara pasti."
Sebelum jurnalis lain mengajukan pertanyaan, Jeb langsung melanjutkan perkataannya yang belum selesai
"Juga mengenai kabar tentang ISF 79 York Town..."
Jeb terdiam sejenak, bukan karena dia gugup, melainkan karena kata-kata yang akan di keluarkan darinya justru tersangkut di tenggorokan karena tekanan yang harus ia hadapi.
Siaran pers yang di tayangkan langsung ini bahkan di saksikan langsung oleh beragam planet yang berada di bawah aliansi UNSA langsung memecahkan rekor dimana lebih dari 8.9 Miliyar pasang mata menyaksikan siaran pers.
("...ISF 79 York Town telah dinyatakan hancur saat melakukan operasi penyelamatan ISF 77")
Seketika seluruh ruangan pers planet Bumi langsung jatuh dalam keheningan, bahkan siaran langsung yang di saksikan oleh salah satu bar di Planet Trappist juga jatuh dalam keheningan ketika mendengar apa yang di katakan oleh Mayor.
("ISF 79 dinyatakan hancur, dan sayangnya membunuh semua kru gagah berani yang bertugas. Penyerangan itu di konfirmasi oleh UNSA sebagai serangan yang sangat mematikan oleh musuh Arachne.")
("Tuan-tuan dan Nona sekalian... Hari ini menjadi hari tergelap dalam sepanjang sejarah UNSA...")
Di suatu tempat gugus bintang Proximia Centauri B.
(..." Banyak pria muda dan gadis muda gagah berani mengorbankan diri mereka untuk melawan musuh yang masih ada di luar sana.")
Seorang pria dengan setelan pakaian militer lengkap berjalan kearah sebuah rumah di pedesaan.
("... Pada hari itu, mereka berjuang dengan penuh keberanian tanpa takut akan keselamatan nyawa mereka...")
Pria bersetelan militer itu kemudian sampai di sebuah rumah.
("...Arachne telah mengancam keselamatan nyawa umat manusia dan semua...")
Saat ketukan terdengar dari dalam rumah.
Seorang anak kecil mulai berjalan menuju pintu dan saat dia membuka pintu rumah, seorang pria berpakaian baju militer terlihat dengan wajah sedih.
Pria berpakaian militer itu kemudian melepaskan topi perwiranya dan mulai berlutut di depan anak kecil itu.
Anak itu yang tidak tahu apa yang terjadi hanya bisa menatap kearah perwira itu dengan heran.
"Nak..."
"... Ayahmu telah meninggal saat bertugas."
Kata-kata pria itu seolah membuat waktu dunia berhenti seketika.
"..."
Anak itu mulai bergetar dan berusaha untuk menolak apa yang ia dengar hingga ia melihat sosok yang tak asing di matanya.
(... "Setiap keluarga yang menangisi kepergian anak-anak mereka yang bertugas dengan gagah berani...")
Ibunya berjalan kearahnya yang tampaknya baru saja pulang dari belanja.
Namun ada yang aneh dari ekspresi ibunya.
(... "Setiap ayah yang berangkat pergi meninggalkan anak dan istri di rumah yang menunggu dengan sabar...")
Bukannya tampak senang ataupun tampak gembira seperti biasanya.
Ibunya berjalan dengan cepat kearahnya, air mata dapat terlihat mengalir dari pipi ibunya.
(... Dan setiap anak-anak yang bangga dengan ayah-ayah mereka yang pergi tak pernah tahu kapan akan pulang)
"hiks..."
Ibunya bergegas memeluknya dengan air mata yang masih mengalir deras.
Rambut putihnya yang merupakan ciri khas dari penduduk Planet ini tampak pudar seolah-olah menggambarkan apa yang sedang dia rasakan.
"...I-ini bohong...!"
Anak itu berlari masuk kedalam rumah sambil menahan air matanya.
Saat ia melihat foto ayahnya yang tersenyum lebar sebelum berangkat, perlahan air matanya tak bisa ia bendung lagi.
"...!"
Frustrasi dan kemarahan bercampur aduk di dalam dirinya, diamelampiaskan amarah dan kesedihannya pada vas bunga dan ia langsung melempar vas itu ke dinding.
("... Hari ini!")
"Hua...!"
Ia menangis keras di dalam kamarnya berharap jika apa yang ia baru saja dengar hanyalah mimpi semata.
("Kepergian setiap prajurit gagah berani yang merelakan nyawa mereka demi melindungi kita!")
Mata nya tertuju ke langit biru yang cerah, bayangan ayahnya yang masih tersenyum masih terngiang berulang-ulang di kepalanya.
("... Tuan-tuan, kita tidak akan pernah memaafkan apa yang mereka lakukan!")
("... Dengan ini, UNSA menyatakan perang pada mereka yang berusaha merebut kebebasan dan kehidupan damai kita!")
("Kita akan melindungi semua yang kita sayangi!")
("Kita juga akan mempertahankan diri kita dan segenap penduduk yang berada di alam semesta ini.")
("Kita akan berjuang melawan, melawan ancaman yang berusaha menganhancurkan semua kebebasan kita!")
("Dengan ini. UNSA dan UNSC tidak akan membiarkan mereka merebut lebih banyak lagi kebahagiaan kita bersama dengan anak-anak dan keluarga kita.")
Spontan ruangan pers di penuhi suara dukungan dan beragam pertanyaan dari semua jurnalis.
Dari dalam kamar anak itu, dia yang telah sepenuhnya berhenti dari Isak tangis hanya bisa menatap kosong ke langit biru cerah.
'Ayah...'
Pikirnya kembali ketika melihat ayahnya terakhir kalinya sebelum berangkat ke kapal luar angkasa itu.
Saat matanya tertuju ke sudut ruangan dimana fotonya bulan lalu dimana dia berpakaian seperti astronot dengan wajah ayahnya yang tersenyum seperti ingin tertawa dan ibunya yang juga tersenyum, kenangan mimpi dimana dia ingin menjadi seperti ayahnya kembali memasuki pikirannya.
'Apa ayah merasa bangga saat menjadi pasukan penjelajah bintang?'
Dia tidak tahu, dia hanya bisa berangan-angan apa yang akan ayahnya katakan jika dia bertanya seperti itu.
Ia kemudian berjalan keluar dari kamarnya dimana dia dapat melihat Ibunya yang masih duduk di sofa memeluk foto ayahnya dengan air mata yang masih tidak bisa berhenti dari wajahnya.
'Ibu...'
Ibunya masih terus menangis setelah mendengar kabar bahwa ayahnya meninggal saat bertugas.
Apa aku hanya akan membiarkan keluargaku seperti ini?
Entah apa yang memasuki pikiran anak itu, tiba-tiba dia terpintas apa yang terjadi jika ibunya terus seperti itu selamanya.
'...'
Dia kembali berjalan menyusuri rumah dimana dia melihat beberapa foto ayahnya yang berpose seperti orang bodoh.
Tak lama ia sampai di suatu ruangan yang berada di lantai 2.
'Krak'
Suara decitan pintu terdengar saat anak 12 tahun itu membuka pintu ruangan secara pelan.
Disana dia melihat tumpukan dokumen dan beberapa kotak kerja milik ayahnya.
'Disini ayah dulu...'
Dia saat melihat kursi kerja ayahnya langsung merasa sakit di dadanya. Kenangan pahit yang dia alami hari ini membuatnya terlihat sangat lemah
'...'
Dia duduk di kursi itu sambil membayangkan dulu ayahnya yang duduk disini sambil mengerjakan tugas-tugasnya.
Sedikit penasaran dia berdiri dan melihat rak dimana beragam kotak besi tersusun sedikit berantakan.
Dia membawa tangan kecilnya dan meraih kotak itu.
Saat kotak itu dia bawa ke meja kerja ayahnya dia mulai membuka dan melihat isi dari kotak itu.
'Surat?'
'Aneh, di jaman digital seperti ini ayah masih menulis dengan tangan.'
Di dalam surat yang di tulis tangan ayahnya dia bisa melihat beberapa kisah dan perjalanan hidup ayahnya yang di tulis ke dalam 8 lembar surat.
'...?'
Dia kemudian menemukan sebuah medali di dalam kotak itu dimana medali itu memiliki lambang bintang dengan tulisan Honor of Heroes secara menyamping.
Saat dia melihat foto ayahnya yang mengenakan pakaian tempur bersenjata lengkap sambil menggendong seorang anak kecil yang terluka dengan penuh tangisan dapat terlihat di wajah ayahnya.
('In Honor of brave action during evacuation of civilian, we gave Mr. Jeffrey a highest Honor of what soldier normally couldn't have.')
('Here in the name of United Nation Space Alliance and Intergalactic Space Federation, we Honor Mr. Jeffrey E. Sebastian's as a Heroes of Vulcan. His bravest action for the safety of civilian is something that we should do and we will always grateful for his service.')
('Medal of Heroes, he deserved for this honor's.)
Akhir dari kalimat yang ada di surat itu
'Ayahku adalah pahlawan?'
Dia kemudian melihat rekaman yang ada saat ayahnya bertugas dimana dia berusaha mati-matian melindungi dan menyelamatkan setiap nyawa yang bisa dia selamatkan.
Hingga.
Dia menemukan sebuah topi.
Topi tua itu memiliki logo UNSA.
'Apa ayah bangga dengan jabatannya?'
Dia tidak tahu.
Dia hanya bisa menatap topi itu.
'Apa aku bisa menjadi sosok yang bisa melindungi keluargaku?'
'Apa ayah akan bangga denganku?'
Saat iPad milik ayahnya dia nyalakan, dia melihat sebuah video dimana ayahnya merekam sebuah momen dimana dia lahir.
("Oh tuhan, kau sangat gagah sekali!")
Puji ayahnya saat melihatnya mengenakan pakaian UNSA di usia 7 tahun.
Hingga...
("...")
("... Nak...")
("... Aku tahu kalau aku jarang sekali di rumah... Tapi dengarkan aku nak.")
("Aku selalu bangga denganmu. Jadilah sesuatu yang kau inginkan dan aku akan selalu ada mendukungmu.")
Kalimat ayahnya di rekaman itu membuatnya sedikit bergetar dalam kesedihan.
'Apa aku bisa?'
Dia tidak akan pernah tahu, tapi...
Dia melihat kearah beragam foto dan medali yang di miliki ayahnya serta senyuman yang ayahnya terima dari penduduk yang berhasil selamat membuat setitik kebanggaan menyala di hatinya.
Hingga dia memberanikan diri membawa kedua tangannya ke topi itu.
Perlahan dia mulai membawa topi itu ke kepalanya..
'Jika aku takut, aku tidak akan bisa melindungi keluargaku.'
Ucapnya dengan penuh keyakinan.
'Jika ayah dapat dengan bangga menjalankan tugasnya...'
Perlahan topi itu terpasang di kepalanya dan wajah yang penuh dengan keyakinan dan keberanian dia tampilkan di cermin dimana dia membulatkan keyakinannya.
"Aku akan membuat ayahku bangga dan melindungi semua yang ku sayangi!"
...
