.

The Interstellar Nation Army Become a Mercenary

Charter 9

Tinggal Untuk Sementara Waktu (Bagian 1)

.

.

.

Naruto POV

Tiga belas hari telah berlalu sejak aku terdampar di planet ini.

Demi memulihkan kaki dan tangan Piña yang telah putus. Aku memutuskan untuk mendirikan sebuah tempat peristirahatan yang berjarak kurang lebih 100 meter dari bibir sungai.

Tempatnya cukup luas, terdapat tanah lapang dengan luas sekitar 20 × 15 meter persegi. Itu dikelilingi oleh pepohonan rindang, sedikit semak, dan memiliki medan yang relatif datar. Meskipun bukan tempat yang terbaik. Namun itu merupakan tempat yang relatif cocok untuk saat ini.

Alasannya simpel, aku ingin meminimalisir resiko diserang oleh hewan liar dan sekaligus untuk menghindari luapan air sungai, jika seandainya nanti turun hujan.

Dalam waktu 1 minggu ini, kaki kanan Piña yang awalnya buntung sudah hampir sepenuhnya pulih dan dia sudah mulai bisa berjalan. Suasana hatinya pun juga nampak membaik sejak dia mengetahui bahwa anggota tubuhnya dapat dikembalikan lagi seperti sedia kala.

Selama waktu itu, ada juga saat di mana Piña terlihat begitu gelisah karena tidak banyak beraktifitas fisik selama proses pemulihan. Jadi aku putuskan untuk memberinya sedikit kelonggaran.

Aku mengajarinya beberapa teknik pedang satu tangan yang kukuasai. Selain gerakan dasar, aku juga mengajarinya beberapa combo skill yang memungkinkannya untuk memberi damage yang besar kepada lawan tanpa harus mengeluarkan energi yang berlebih.

Selain itu, pengadaan makanan juga berjalan dengan cukup baik. Aku menjadi lebih mahir dalam berburu hewan liar dan mencari makanan layak konsumsi.

Setiap kali kami memiliki waktu luang, Piña selalu menyempatkan dirinya untuk mengajariku bahasa Salvi.

Menurut Piña, bahasa Salvi merupakan bahasa yang digunakan secara luas oleh berbagai negara yang berada di benua utama. Ini mirip seperti bahasa Inggris yang ada di tempat asalku.

Di samping itu, aku juga mengalami beberapa kemajuan yang cukup signifikan dalam mempelajari bahasa lokal. Setiap harinya, aku selalu memperbaharui database bahasa demi meningkatkan kemampuan belajar bahasa asingku.

Sekarang, waktu telah menunjukkan jam 15 lewat 45 menit. Matahari sudah agak tenggelam di sebelah barat ketika aku hampir sampai di tempat tujuan.

Sambil memikul hewan buruan yang baru saja aku tangkap, aku menerusuri jalan setapak yang ada di dalam hutan sambil menghirup udara segar.

Ngomong-ngomong, hewan yang ketangkap ini disebut "svi'yak". Ini memiliki ukuran yang relatif lebih kecil dari spesies mirip babi hutan yang pernah aku buru, beratnya sekitar 30 kg, dan tidak memiliki gading di mulutnya.

Awalnya aku ingin mengikuti hewan ini di tempat di mana aku menangkapnya. Namun mengingat bahwa hari ini akan segera gelap, jadi aku hanya menguras darahnya dengan belatiku.

Dari kejauhan, aku bisa melihat sosok Piña yang tersenyum hangat kepadaku sambil menggenggam beberapa ranting kayu.

Apalah dia memaksakan dirinya lagi untuk membantuku? Well, aku akan lebih senang jika dia lebih banyak beristirahat di dalam kamp. Ini juga demi kebaikannya sendiri.

"Selamat datang kembali, Tuan Osbern!"

"Aku pulang, Piña."

Senang rasanya jika seseorang menyambut kepulanganku setelah berkerja keras seharian penuh. Ini seperti aku memiliki seorang istri yang baru kunikahi.

Ngomong-ngomong soal bahasa, aku sedikit mengalami kesulitan ketika hendak mengucapkan beberapa kata yang terdengar mirip, namun memiliki makna berbeda.

Misalnya, [Selamat datang kembali, Tuan Osbern!] Mungkin yang dia maksud adalah [Tuan Osbern, kamu membawa banyak daging!] Atau sesuatu seperti itu. Aku hanya pernah mendengar dia mengucapkan kata-kata ini setiap kali aku membawa kembali hasil buruanku.

"Piña, bukan Osbern. Tapi Naruto, Na-ru-to, oke?" Ucapku kepada gadis itu.

Piña sedikit membeku karena suatu alasan. Dia kemudian tersipu merah dan memanggilku "Naruto" dengan nada malu.

Aku melanjutkan untuk menguliti svi'yak di tepi sungai. Piña mengawasiku dengan saksama. Dia sepertinya mencoba mempelajari metode pemotongan hewan dengan mengamati pekerjaanku.

Atau mungkin dia hanya ingin makan malam? Nafsu makan Piña benar-benar mengerikan. Nanobot mungkin telah membantunya mencerna semua makanan itu untuk mempercepat proses generasi sel, tetapi aku masih berpikir akan lebih baik jika dia sedikit mengecilkannya untuk menghindari kemungkinan sakit perut.

Baiklah, aku sudah selesai memotongnya. Ayo makan malam!

Ketika aku kembali ke dalam pangkalan untuk mulai memasak, aku perhatikan bahwa api unggun telah padam.

Ketika aku hendak menyalakan kembali api unggun tersebut, Piña sudah lebih dulu sampai di depan perapian.

Dia menyusun beberapa ranting pohon ke atas api unggun. Setelah itu, Piña lalu memfokuskan mengarahkan telapak tangan ke depan api unggun. Sejumlah energi panas kemudian dilepaskan melalui telapak tangannya selagi dia masih berlutut.

Lima belas detik kemudian, ranting-ranting kayu yang ada di perapian tersebut mulai mengeluarkan asap putih. Dari bawah asap tersebut muncul percikan api yang memicu pembakaran yang dihasilkan oleh reaksi kimia.

'Ini menakjubkan.' Ucapku dalam hati.

[Saya juga setuju dengan pendapatmu, Letnan.]

'Hei, Wise. Menurutmu, apakah aku juga bisa memiliki kemampuan yang mirip seperti yang dimiliki oleh Piña?'

[Secara teori memang mungkin, namun mustahil bagi saya untuk memicu reaksi berantai pada tingkat DNA untuk memecah dan memutasi original genetik yang ada di dalam tubuh anda. Bagaimana pun, gadis ini tergolong unik karena dia mewarisi kode biologis yang dihasilkan oleh proses evolusi makhluk hidup yang telah berlangsung selama berjuta-juta tahun. Ini bukan sesuatu bisa anda capai hanya dalam waktu beberapa hari saja.]

'Ah, sayang sekali. Padahal aku juga ingin memiliki kemampuan seperti itu.'

Sejak terakhir kali Piña memperlihatkan kemampuannya itu kepadaku. Aku menjadi sangat tertarik dengan kemampuan tersebut dan berkeinginan untuk mempelajarinya.

Menurut Piña, manusia dan beberapa sub spesies manusia yang tinggal di planet ini memiliki semacam berkat lahir yang diberikan oleh Dewa Pencipta kepada mereka: mereka menyebutnya sebagai "magiya".

Kemampuan tersebut bervariasi dan tidak harus selalu sama antara satu individu dengan individu yang lain.

Meski begitu, ada juga beberapa pengecualian yang diberikan oleh Dewa Pencipta kepada orang-orang yang tinggal di planet ini.

Piña dan mayoritas keluarganya yang berasal dari garis keturunan utama Kekaisaran Saderan terlahir dengan kemampuan untuk manipulasi energi panas yang ada di dalam tubuh mereka sebagai alat untuk bertarung.

Dia juga mengatakan bahwa meskipun setiap orang memiliki potensi untuk membangkitkan berkat ilahi. Namun tidak semua dari mereka yang mampu melakukannya. Sebab hal itu dipengaruhi oleh garis keturunan: semakin panjang sejarah suatu keluarga, maka semakin hebat pula berkat ilahi yang dimiliki oleh seseorang yang terlahir dari keluarga tersebut.

'Ini merepotkan,' pikirku dalam hati.

Jika orang-orang yang ada di planet ini benar-benar dapat menggunakan kemampuan seperti itu secara bebas, maka itu akan menjadi malapetaka bagiku di masa depan.

'Aku harus menghubungi Kaguya secepat mungkin. Jika tidak, aku khawatir akan terjadi peristiwa yang tidak diinginkan di masa depan.'

...

A/N: Konichiiwa Minna-san, bagaimana kabar kalian hari ini? Sudah lama yah sejak ane mempublish Fanfic ini.

Reader: "Padahal janjinya update seminggu sekali, tapi malah gak update-update selama lebih dari 3 bulan. Dasar Author bebal!"

Me: "Iya-iya, ane juga gak bermaksud mau menunda-menunda kaya gini. Namanya juga penulis amatir, gak seperti penulis-penulis pro yang bisa tulis belasan chapter hanya dalam waktu satu minggu."

Reader: "Banyak alasan aja loh, Author. Kalo ente memang niat mau menyelesaikannya, jangan setengah-setengah. Langsung tulis aja daft di buku kosong, apa susahnya sih?"

Me: "...Iya deh. Nanti ane usahakan untuk menulis lagi meski hasilnya gak terlalu bagus. Puas?"

Reader: "..."

Me: "Itu aja yang bisa ane sampai. Dan sampai jumpa di charter selanjutnya :)"