.
The Interstellar Nation Army Become a Mercenary
Charter 9
Tinggal Untuk Sementara Waktu (Bagian 2)
.
.
.
Piña POV
Akhir-akhir ini, saya sering terlibat dalam beberapa percakapan sederhana dengan Tuan Osbern. Aku sangat menikmati waktu santaiku bersama dengannya.
Di luar dugaanku, Tuan Osbern sangat luar biasa. Dia mampu menghafal setiap kata dan frasa hanya dengan sekali dengar. Bahkan aku dibuat terkagum-kagum oleh kejeniusannya. Dia benar-benar sudah berada di luar kemampuan manusia normal.
Apakah mungkin Tuan Osbern memiliki semacam sihir yang memungkinkannya untuk mempelajari sesuatu hanya dengan sekali lihat? Mungkin saja seperti itu.
Tidak terasa sudah 10 hari telah berlalu sejak kami sampai di tempat ini.
Sekarang aku sudah mulai bisa berjalan lagi, meskipun itu belum benar-benar pulih. Namun aku sangat bersyukur kepada Dewi karena masih diberi keberuntungan yang begitu besar. Dan itu semua berkat Tuan Osbern, jika saja dia tidak pernah ada di sana. Maka aku akan bernasib sama seperti teman-teman yang telah gugur.
Namun baru-baru ini, pikiranku mulai dipenuhi oleh kegelisahan: aku tidak tau bagaimana caraku untuk membalas semua kebaikan Tuan Osbern.
Dia pernah bertanyaku tentang apa yang ingin aku lakukan setelah kakiku sembuh: dia ingin aku memutuskan apakah saya ingin melanjutkan perjalanan setelah kaki saya benar-benar pulih atau menunggu sampai tangan saya sembuh juga.
Tanpa berpikir dua kali, aku dengan mantap memiliki untuk tetap tinggal di sini dan menunggu sampai tanganku sembuh. Aku tidak ingin selalu terikat pada perlindungan Tuan Osbern seperti saat kami diserang monster beberapa hari yang lalu.
Sulit bagiku untuk selalu bergantung pada perawatan Tuan Osbern, tapi aku sudah bersumpah kepada Dewi bahwa aku akan membalas semua kebaikannya suatu hari nanti. Jadi, saya harus menjadi lebih kuat dari diriku yang sebelumnya.
Selama beberapa hari ini, aku terus berlatih pedang dengan teknik yang diajarkan oleh Tuan Osbern kepadaku. Tidak lupa, aku juga membantunya dengan cara mengumpulkan beberapa ranting kayu di dekat tepi sungai.
Jika semuanya berjalan dengan baik, aku bisa kembali melatih teknik pedang baruku agar menjadi lebih efektif.
'Ah, Tuan Osbern...'
Aku bisa melihatnya dari kejauhan, sepertinya dia sedang memikul seekor svi'yak yang sudah mati.
"Selamat datang kembali, Tuan Osbern!"
"Aku kembali, Piña."
Hanya bertukar salam seperti ini telah membuatku merasa sangat malu. Aku tidak pernah menyambut orang lain kembali selain keluargaku.
Baru-baru ini, aku baru sadar bahwa Tuan Osbern selalu memanggilku dengan nama depan. Sejak dia mulai bisa berbicara denganku menggunakan bahasa Salvi, Tuan Osbern selalu memanggilku dengan nama depan dan itu sukses membuatku menjadi salah tingkah.
Bahkan di antara masyarakat bangsawan yang ada di Kekaisaran, satu-satunya orang yang diizinkan untuk memanggil lawan jenis mereka dengan nama depan (selain dari anggota keluarga) adalah suami atau istri mereka sendiri.
Aku mungkin masih bisa memaklumi bahwa Tuan Osbern bukan berasal dari Benua Utama. Ta-tapi tetap saja itu agak memalukan bagiku, oke? Kesannya seperti dia sudah menjadikanku sebagai wanitanya.
-Dan sementara aku masih disibukkan dengan pikiran itu...
"Piña, bukan Osbern. Tapi Naruto, na-ru-to, oke?"
Dia menyuruhku langsung memanggilnya dengan nama depannya juga.
Aku mengerti bahwa Tuan Osbern sebenarnya tidak bermaksud seperti itu. Namun, entah mengapa aku merasa ada getaran aneh dan itu mengingatkanku pada sebuah tren yang saat ini sedang menjamur di antara bangsawan kelas bawah: saling memanggil dengan nama depan merupakan cara halus untuk mengungkapkan rasa suka maupun cinta kepada lawan jenis.
"Naruto..." aku dengan lembut memanggil namanya.
Tuan Osbern tampaknya senang, dia menangguk kepadaku dengan senyum tipis di wajahnya.
Setelah semuanya beres, Tuan Osbern lalu menguliti hewan tiruannya dengan sangat lihai.
Tidak pernah terlintas di pikiranku berakhir di tempat seperti ini. Namun, aku harus mengakui bahwa saat ini aku sangat membutuhkan kemampuan dan keterampilan untuk bertahan hidup secara mandiri. Yah, mungkin aku bisa mencobanya nanti.
Sekarang yang terpenting adalah makan! Aku sangat menantikan masakan apa yang ingin dibuat oleh Tuan Osbern!
Ketika kami sampai di depan tenda, aku bisa melihat bahwa api unggun udah mulai padam. Tidak baik! Aku harus cepat-cepat menyalakannya kembali. Bagaimana pun, ini merupakan satu dari sedikit hal yang bisa aku lakukan. Aku tidak ingin Tuan Osbern menganggapku sebagai beban!
Sambil berkonsentrasi penuh, aku memusatkan inti roh yang ada di dalam tubuhku dan kemudian mengarahkannya ke telapak tangan untuk menyalakan kembali api unggun. Setelah api itu mulai agak membesar, aku lalu kembali menempatkan beberapa ranting kayu sebagai bahan bakar untuk api unggun.
"It's really cool..."
"Huh? Apakah ada yang salah?"
"Ti-tidak, aku pikir... kemampuanmu yang tadi itu sangat bagus. Jadi tanpa sadar... aku menggunakan bahasa asliku."
Aku ingin tahu apa maksudnya. Aku baru saja sejumlah energi panas untuk menyalakan kembali api unggun, itu saja. Oh, mungkin dia terkejut tentang betapa singkatnya waktu yang dibutuhkan untuk mengaktifkan sihirku.
Ya, aku mungkin tidak benar-benar terlihat seperti itu, tetapi aku sebenarnya adalah seorang pengguna sihir yang cukup ulung. Tapi jika dibandingkan dengan saudara-saudariku yang lain, aku masih dibawah mereka.
"Piña~ ngapain kamu masih berdiri di sana? Ayo cepat ke sini, nanti semua dagingnya aku habiskan semua, loh~"
Ah?!
Sekarang bukan saatnya bagiku untuk melamun, demi Dewi yang aku sembab, aku akan makan masakan buatan Tuan Osbern sampai kenyang!
...
