.

The Interstellar Nation Army Become a Mercenary

Chapter 12

Monster & Mode Sniper

.

.

.

Naruto POV

Aku membuka mataku setelah tertidur cukup lama.

Di depanku, Piña sedang berdiri di sana sambil memasang wajah yang lesu.

Jika dilihat dari raut wajahnya, sepertinya Piña sudah berusaha untuk menahan dirinya agar tidak tertidur.

Maaf, Piña. Aku akan mengantikanmu sekarang.

Aku berdiri sambil memanggilnya. Tidak lupa, aku juga selalu memantau pergerakan musuh melalu jendela program yang ditampilkan oleh nanobot.

Kemampuan ini baru aku kembangkan melalui sebuah riset kecil yang dikerjakan oleh aku dan Wise.

Dengan memanfaatkan gelombang berfrekuensi rendah yang dipancarkan oleh makhluk hidup yang tinggal di planet ini, aku mampu menciptakan ulang fungsi dari multi-sensor, jenis perangkat RADAR (Radio Detection And Ranging) yang digunakan oleh Korps Tentara Federasi untuk mendeteksi benda apa saja yang berada di dalam jangkauan pemindaian: medan, tata letak internal bangunan, objek serupa makhluk hidup, dan semacamnya.

Tidak seperti di planet lain, planet ini memiliki semacam partikel khusus yang (secara tidak sadar) dilepaskan atau diserap kembali oleh sebagian besar makhluk hidup berbasis karbon. Uniknya, partikel ini memiliki kemiripan dengan radiasi elektromagnetik yang biasa ditemukan pada perangkat yang menggunakan gelombang microwave.

Berdasarkan analisa yang kami dapatkan, jumlah partikel yang dapat ditampung oleh suatu organisme itu tidak sama antara satu spesies dengan spesies yang lain. Ini mungkin dipengaruhi oleh kemampuan setiap organisme untuk membentuk kuasikristal di dalam tubuh mereka. Bukti ini juga diperkuat oleh temuan-temuan yang ada di lapangan: semua makhluk hidup bersel ganda yang pernah aku bedah memiliki semacam mineral berbentuk kristal di dalam tubuh mereka.

Awalnya aku hampir tidak percaya dengan semua temuan yang tidak masuk akal ini.

Sejauh yang aku tahu, kuasikristal atau 'kristal semu' merupakan sebuah fenomena pembentukan material langka yang diperoleh melalui peristiwa traumatis, seperti: guncangan, suhu, maupun tekanan ekstrem. Fenomena ini terkadang dapat ditemukan pada saat meteorit-meteorit yang ditempa oleh kejutan termodinamika berkecepatan super tinggi yang kemudian menghantam permukaan tanah dan menyebabkan material-material yang berada di sekitarnya melebur menjadi mineral-mineral berhujud kristal.

Lalu, yang jadi pertanyaannya sekarang adalah bagaimana mungkin makhluk hidup berbasis karbon bisa memiliki mineral serupa kristal di dalam tubuh mereka? Bagaimana itu bisa terbentuk? Dari mana asalnya kristal-kristal ini? Apakah itu terbentuk bersama dengan embrio ketika masih berada di dalam fase pertumbuhan?

Sampai saat ini, aku masih belum menemukan titik terang dari misteri terbesar abad ini. Untuk sementara, aku hanya akan menamai kristal ini dengan sebutan 'Bio-Atomic Crystal (Bio-AC)'.

"Sir Naruto...?"

"—itu semakin mendekat. Kita harus segera pergi dari sini."

Kedua alis Piña sempat terakat, namun dengan segera dia lalu menganggukan kepalanya—setuju.

Setelah meninggalkan barang-barang yang tidak kami perlukan, Piña dan aku lantas pergi meninggalkan tempat itu dengan langkah kaki yang panjang.

Kami berlarian di antara gelapnya hutan sambil mempertahankan kecepatan kami. Sesekali, aku akan melihat ke arah jendela antarmuka untuk memastikan keberadaan musuh.

Gelapnya hutan serta kondisi medan yang tidak rata membuat pergerakan serta manuver kami menjadi agak terhalang. Jujur, sulit bagi kami untuk terus berlarian diantara batang-batang pohon yang saling merempet ini.

Setelah berlari cukup jauh dari titik awal, aku lalu menyuruh Piña untuk berhenti sejenak di dekat sebuah pohon besar yang berdiri tak jauh dari tempat kami. Memastikan bahwa semuanya masih berada di bawah pengawasan kami, Piña lantas berkata—

"...Sir Naruto, apakah makhluk itu masih mengejar kita?"

Aku melihat lebih dalam ke arah belakang—ke arah rute yang sebelumnya sempat kami tempuh. Setelah memastikan keberadaan makhluk itu melalui jendela antarmuka, aku kemudian berkata kepada Piña dengan wajah yang serius.

"Itu masih mengejar kita. Dan jika dibandingkan dengan yang sebelumnya, makhluk itu menjadi jauh lebih agresif. Apakah karena dia tidak ingin mangsanya lepas begitu saja? Atau dia segaja mempermainkan kita sehingga dia bisa menelan kita dengan lebih mudah?"

Aku menekukkan kedua lututku ke bawah, menyentuh permukaan tanah dengan sebelah tangan dan kemudian merekonstruksi gambaran fisik dari monster tersebut melalui getaran frekuensi yang dia keluarkan.

"Manusia? Bukan, mungkinkah ular? Tapi makhluk ini punya semacam tangan yang menempel di tubuhnya."

Piña kemudian memasuki percakapan.

"Ular? Tangan?"

"Piña, apakah kamu mengenali makhluk ini?"

"Maaf, Sir Naruto. Sejujurnya saya tidak tau banyak soal monster. Tapi bukankah itu mirip seperti makhluk yang pernah anda ceritakan sebelumnya?"

"'Beiyan', maksudmu? Yah, tidak salah jika menganggapnya seperti itu. Namun, sepertinya makhluk ini memiliki lebih banyak lengan dari apa yang aku kira."

Selain itu, ukurannya pun jauh lebih besar dari monster yang hampir membunuhku dulu. Ini juga tidak sesuai dengan diskripsi awal yang sebelumnya diperkirakan oleh nanobot melalui penggambaran tiga dimensi.

Apakah ini adalah makhluk yang sama seperti yang terakhir kali mengejar kami? Tapi bagimana bisa gambaran fisiknya berubah secepat itu? Mungkinkah itu semacam subspesies yang tidak kami kenal? Apa pun itu, akan lebih baik jika aku bisa menghindarinya saja.

"...Siapkan senjata, kita akan bertarung."

Kami berdua lantas menyiapkan senjata kami.

Selain pedang pemberian Piña dan persenjataan yang aku bawa dari spaceship, aku juga membawa sebuah senjata baru yang sudah aku buat sebelumnya—busur panah. Namun kali ini aku tidak akan menggunakan busur itu untuk melukai lawan.

Berdasarkan rekonstruksi fisik yang disimulasikan oleh nanobot, monster yang sedang mengejar kami ini memiliki lapisan kulit yang sangat keras. Mungkin setara dengan sebuah kendaraan lapis baja yang memiliki ketebalan antara 100 mm hingga 120 mm.

Untuk bisa menembus lapisan setebal itu, diperlukan sebuah senjata seperti peluncur roket berkaliber besar yang mampu menembus lapisan kulit yang menyerupai jirah yang menutupi hampir seluruh bagian yang ada di permukaan tubuh monster tersebut.

Namun sekali lagi, aku tidak memiliki satu pun peluncur roket yang ada di tanganku. Satu-satunya senjata yang memiliki kemungkinan besar untuk membunuhnya adalah senapang plasma atau belati elektromagnetik.

Beruntung karena senjata plasma yang ada genggamanku ini masih memiliki cukup daya yang tersimpan di dalam baterai internalnya. Jika dikalkulasi ke dalam bentuk persen, senjata itu masih memiliki daya sebesar 97%. Itu cukup untuk membunuh lebih dari 290 ekor gajah hanya dengan sekali tembak.

...

Lima menit telah berlalu sejak kami memutuskan untuk melawan monster itu.

Saat ini, baik Piña dan aku, kami berdua sedang bertumpu pada sebuah dahan pohon yang berada di ruang terbuka.

Dari kejauhan, kami berdua bisa mendengar suara mendesir yang sangat menakutkan dari arah depan.

Beberapa pohon bergerak dengan gelisah sambil menjatuhkan dedaunan kering ke tanah. Selain itu, kami juga mendengar suara seperti gesekan berulang—menandakan bahwa ada sesuatu yang besar sedang bergerak di sana.

Tak lama kemudian, seekor monster menyerupai ular besar muncul di antara perpohonan.

Tubuhnya sangat panjang hingga membentang jauh ke dalam hutan. Saking panjangnya, aku bahkan tidak bisa melihat ujung dari ekornya yang tersembunyi di balik vegetasi hutan. Selain itu, monster ini juga memiliki enam pasang lengan yang panjang dan ramping di dekat kepalanya serta memiliki tiga pasang jari dengan kuku tajam sebagai senjatanya.

"Be-besarnya..." ucap Piña sambil menatapi makhluk itu dari jauh.

"Meski terlihat seperti 'Beiyan', namun ukurannya jauh lebih besar dari 'Beiyan' yang aku kenal. Dan perhatikan ini baik-baik—"

Aku melepaskan sebuah anak panah ke arah musuh dengan busur, tetapi anak panah itu justru dibelokkan oleh kulitnya yang sangat keras.

"Seperti yang aku duga, sisiknya terlalu keras untuk ditembus oleh senjata biasa. Belum lagi, kita tidak tau apakah monster ini memiliki semacam racun di tubuhnya. Jika itu benar, maka kita tidak akan bisa mengobati diri kita nanti."

"...jadi, satu-satu cara yang paling aman adalah menyerangnya dari jauh, bukan? Ta-tapi apakah kita benar-benar memiliki senjata yang sekuat itu?"

"Bersyukurlah, Piña. Karena aku memiliki salah satu dari senjata itu."

Aku yang sedari tadi sedang merunduk di atas sebuah dahan pohon bersama Piña mulai membidikkan senjataku ke arah musuh.

'Wise, aktifkan mode sniper.'

[Roger.]

Sisi atas dan sisi bawah dari senapang plasma yang sedang aku genggam ini mulai saling melepas. Beberapa saat kemudian, sebuah laras senapang yang lebih panjang terlihat keluar dari pangkal senapang. Penampilannya pun juga menjadi lebih ramping, tidak segendut tadi.

Ketika pikiranku terhubung ke senapang plasma melalui saraf buatan. Aku dapat melihat deretan perhitungan yang terdiri atas berbagai macam rumus rumit yang ditampilkan secara cepat melalui jendela antarmuka nanobot.

.

《Memulai Mode Sniper Terpandu》

.

[—Jarak Lintasan Proyektil = 222,4275162833951 meter.]

[—Kelembaban Relatif = 83%]

[—Beban Angin = 600.1662933 N/m2.]

[—Gaya Tarik Gravitasi Planet = 1,045.170950836 N.]

[—Ketebalan Setiap Lapisan Kulit Target: Kepala Bagian Depan, Belakang, Kiri & Kanan = 118,39 mm; Selaput Mata = 9,27 mm; Dada = 113,71 mm; Tangan = 103,07 mm; Tubuh Bagian Bawah = 117,62 mm.]

[—Membidik Sasaran: Selaput mata.]

[—Konsumsi Energi = 5,78%]

.

《Complete》

.

Dari balik teropong senapang yang sedang aku genggam, monster yang berdiri sejauh lebih dari 200 meter itu terlihat sedang membuka mulutnya—seperti sedang menertawakanku.

"—Piña, tutupi kedua lubang telingamu."

"A-apa—"

'BANGGGGGGGGG!'

Suara keras yang seakan merobek lubang telinga itu terdengar hingga mencapai radius 30 meter.

Tidak berhenti sampai di situ, sesuatu seperti garis merah yang memanjang terlihat sedang melesat dengan kecepatan yang sangat tinggi menuju ke arah target.

Dan ketika garis itu mengenai bagian mata dan menembusnya, kepala dari ular jadi-jadian itu lantas meledak seperti sebuah balon pecah dan isinya pun berhamburan ke mana-mana.

"Ke-keras sekali..." ucap Piña sambil menutupi kedua telinganya dengan gelisah.

Setelah memastikan bahwa target telah dieliminasi. Aku lalu sedikit menurunkan senapang plasma yang masih berada di dalam mode sniper dan kemudian berkata.

"—Sasaran telah dieliminasi, target sudah dipastikan tewas."

Piña kaget. Mulutnya membuka dan menutup sambil berteriak.

"Ini langsung selesai begitu saja?! Kenapa kita tidak langsung mengalahkannya kemaren?!"

—Reaksi Piña masuk akal.

Tetapi ijinkan aku untuk membuat alasan juga.

"Terlalu berbahaya bertarung di dalam hutan saat langit masih gelap. Ditambah lagi, kita juga telah dibuat kelelahan saat menghadapi para pembunuh. Jadi satu-satunya pilihan bijak yang bisa kita ambil sekarang adalah menghindarinya sebisa mungkin."

Aku mengembalikan senapang plasmaku ke dalam sarungnya dan kemudian menggantungnya di belakang bahuku.

"Setelah kita selesai mengambil barang-barang yang sebelumnya kita tinggalkan tadi, kita akan meninggalkan hutan."

Jika kita terlalu berlama-lama di sini, aku takut kita berdua mungkin akan diserang oleh monster yang lebih ganas. Dan tidak menutup kemungkinan bahwa para pembunuh itu akan mengirim lebih banyak anggota mereka untuk memburu kami.

Piña yang terlihat kurang puas dengan ucapanku hanya bisa terdiam dan dengan patuh turun bersamaku dari atas pohon dengan seutas tali.

...