.
A/N: Halo para reader sekalian, bagaimana kabar kalian? Baik bukan? Alhamdulillah... saya juga baik-baik saja.
Oke, saya gak akan lama-lama di bagian kredit ini. Menurut kalian, apakah cerita ini masih cukup menarik untuk dilanjutkan? Soalnya, dalam 2 atau 3 chapter yang sebelumnya aku publis itu gak ada respon sama sekali oleh pembaca. Meski jika dilihat berdasarkan menu statistik, ada cukup banyak orang membacanya, sih.
Tapi jujur, sebagai seorang penulis, saya secara pribadi merasa bahwa cerita ini mungkin mengalami penurunan kualitas. Jadi sebagai pembaca yang udah lebih lama berpengalaman daripada saya, setidaknya bolehkah saya meminta kalian untuk meninggalkan minimal 1 review aja. Isinya bebas, meski itu adalah kritikan sekalipun, asalkan berbobot, akan saya terima dengan senang hati.
Akhir kata, terima kasih karena telah membaca karya saya sampai sekarang. Kedepannya, saya akan berusaha untuk memperbaiki kekurangan saya agar bisa menghasilkan karya lebih baik dari sebelumnya.
.
The Interstellar Nation Army Become a Mercenary
Chapter 13
Dua Rembulan yang Bersinar di Kegelapan Malam
.
.
.
Di balih lebatnya perpohonan yang menutupi hampir semua vegetasi yang ada di dalam hutan, terlihat beberapa siluet yang sedang berdiri di antara beberapa pohon yang tumbuh saling berdekatan.
Jumlah mereka tidak lebih dari tiga orang. Ketiganya juga menggenakan jubah hitam yang menutupi hampir seluruh permukaan tubuh mereka, kecuali wajah.
Jika dilihat dari dekat, mereka terlihat menggenakan semacam penutup mulut yang menyembunyikan setengah dari wajah mereka.
"Apakah mereka semua benar-benar terbunuh di sini?" Tanya salah seorang dari mereka.
"Tidak juga. Sebagian dari mereka masih mengejar target. Namun tidak dipungkiri bahwa ada beberapa yang terbunuh di sini." Ucapnya sambil menyentuh bercak kemerahan yang tertinggal di atas semak-semak.
"...Mungkinkah ada seseorang yang membantu target kita untuk kabur?" Tanya salah seorang dari mereka yang memiliki suara yang agak feminim seperti perempuan.
"Jika itu benar, maka masuk akal jika dia bisa kabur hingga sejauh ini." Ucap salah seorang sosok yang memiliki tubuh paling tinggi di antara mereka bertiga.
"Lalu, apakah kau memiliki gambaran kasar tentang siapa yang sedang kita hadapi ini, Roman?"
Merasa terpanggil, sosok yang dipanggil sebagai Roman itu lantas berkata. "...seorang manusia pria, aku rasa. Tingginya sekitar 6 cún, beratnya hampir 3 liăng, dan sepertinya dia merupakan seorang oriental jika dilihat dari ukuran telapak kakinya."
"...mungkinkah ada pihak lain yang membantunya untuk kabur bersama dengan target?"
"Tidak. Ini mungkin sulit dipercaya, namun aku tidak menemukan satu pun jejak lain selain mereka berdua dan para pengajar."
Roman lalu berdiri dan menyuruh mereka berdua untuk mengikutinya di belakang.
"Lihat." Setelah berlari selama beberapa menit, Roman menunjuk ke arah ruang terbuka yang ada di hadapan mereka.
"..."
"I-ini kan?!"
Tepat dihadapan mereka, ada lebih dari belasan kerangka manusia yang tergeletak di atas permukaan tanah. Sebagian besar dari mereka masih mengenakan pakaian yang dulu mereka kenakan ketika masih hidup. Bahkan, beberapa senjata seperti pisau dan pedang pendek terlihat masih melekat di tubuh mereka yang sudah berubah menjadi kerangka kosong—tanpa daging.
"Ma-makhluk apa yang bisa melakukan hal segila ini?" Tanya sosok bersuara feminim kepada rekannya.
"Entahlah. Tapi jika dilihat dari kondisi dari kerangka-kerangka ini, sepertinya mereka baru saja mati beberapa hari yang lalu."
Roman menunduk dan mengamati salah satu dari kerangka itu dengan seksama.
"Hampir tidak ada lagi yang tersisa di sini selain tulang. Selain itu, aku juga tidak menemukan satu pun bekas goresan, tebasan maupun bagian patah lainnya dari kerangka-kerangka ini. Seolah-seolah mereka diserap oleh sesuatu yang sangat kuat hingga tidak meninggalkan satu pun material organik yang tersisa selain tulang." Ucap Roman sambil menyentuh permukaan tulang yang sedang dia sentuh itu.
"Hey, kalian berdua! Lihatlah ke sini!" Seru sosok bersuara feminim itu kepada kepada kedua rekannya.
Terganggu oleh suara itu, Roman bersama rekannya yang bertubuh jangkung lantas mendatangi sumber suara itu dan kemudian berkata.
"Ada apa Aliya?"
"Lihatlah ke atas pohon itu." Tunjuk sosok yang akrab dipanggil Aliya itu ke arah bagian pohon yang terlihat agak menghitam.
"Bekas terbakar? Tunggu, itu terlihat seperti bekas lilitan tali yang segaja dibakar oleh seseorang."
"Roman, bagaimana menurutmu?"
"Jika kita hubungkan ini dengan penyebab di balik matinya orang-orang itu, maka cukup jelas bahwa siapapun yang membuatnya pasti bertujuan untuk HANYA menyelamatkan dirinya sendiri. Di saat yang sama, dia juga membunuh sebagian besar dari para pengejar kita dengan semacam jebakan hidup."
"Jebakan hidup?"
"Mudahnya, ini seperti kau mengiring musuhmu ke mulut buaya dan kemudian menggunakan semacam trik untuk meloloskan diri dari bahaya. Di saat yang sama, musuhmu tidak sempat menyelamatkan diri dan kemudian mati dimangsa oleh makhluk itu." Kata Roman dengan nada yang santai.
Melihat Roman yang tidak menunjukkan sedikit pun rasa empati, membuat Aliya merasa agak meradang dan lalu berkata kepadanya dengan suara yang agak mencemoh.
"...apakah kamu tidak terganggu dengan ini, Roman? Kita kehilangan banyak sekali saudara dan saudari kita hanya demi mengejar seorang tuan putri tanpa mahkota, bukankah seharusnya kamu merasa sedih?"
"Ini adalah resiko kerja, Aliya. Kita hidup di dunia di mana setiap pembunuhan itu adalah hal yang lumrah. Bahkan, sebelum kita sampai di sini. Kita juga sudah membunuh begitu banyak orang dan tidak sedikit dari mereka yang tidak berdosa. Yah, anggap saja ini sebagai karma akibat ulah mereka sendiri."
"Kau!"
"Tenangkan dirimu, Aliya. Dan untuk dirimu, Roman. Aku bisa memahami apa maksudmu, namun kau juga tidak bisa begitu saja mengucapkan kalimat yang dapat menyinggung perasaan saudarimu. Bagaimanapun, kalian dibesarkan bersama-sama sebagai saudara, jadi wajar jika kamu seharusnya menunjukan sedikit rasa kehilangan, bukan?"
"Bagiku, kematian tetaplah sebuah kematian. Mau kita ekspresikan atau tidak, hasilnya juga bakal sama. Dan yang lebih penting lagi, bukankah seharusnya kita tidak terlalu berlama-lama di sini, Pak Tua?"
"...kau benar, Roman. Terlalu berbahaya jika masih tetap di sini."
"Tu-tunggu Pak Han. Roman bahkan belum benar-benar meminta maaf. Bagaimana bisa anda mentolerir sikapnya yang buruk itu?!"
"Sudahlah, Aliya. Kita masih menjalankan misi, jadi simpan saja semua rasa kesalmu itu. Dan setelah semua ini selesai, kamu bisa menghajar Roman sesuka hatimu."
"Hei, hentikan ocehan kalian ini. Dan untukmu, Pak Tua. Jangan jadikan aku sebagai bahan lelucon. Dan kau, gadis kasar. Jangan harap aku mau jadi samsak tinjumu."
"Siapa juga yang mau menjadikanmu samsak tinju, HAH?!"
"SUDAH CUKUP! Jika kalian ribut lagi, maka aku akan segan-segan melempar kalian berdua ke mulut buaya, PAHAM!"
"Cih!"
Aliya mendecitkan lidahnya tidak puas. Namun dengan segera, dia kembali ke keadaan mentalnya yang sebelumnya meski sebenarnya dia tidak mau. Sedangkan Roman, dia lebih memiliki untuk bungkam dan tidak ingin ambil pusing dengan pertengkaran itu.
Setelah perdebatan itu selesai, mereka bertiga lalu memutuskan untuk melupakan semuanya dan kembali fokus pada misi.
Selama tiga hari penuh, mereka bertiga memeriksa dan meneliti setiap tempat yang dicurigai memiliki bekas pertempuran. Tak jarang, mereka juga harus menghindari beberapa binatang serta monster buas yang sering kali tersembunyi di balik pepohonan lebat yang ada di dalam hutan. Hingga pada akhirnya, mereka pun sampai di sebuah sungai yang memiliki lebar sekitar 30 meter di kedua sisinya.
"Jejak mereka berakhir di sini." Ucap Roman sambil memeriksa beberapa ranting pohon yang diduga segaja dipatahkan oleh seseorang sebelum mereka sampai di sana.
"Apakah jejak mereka benar-benar tidak dapat di temukan lagi?"
"Sayangnya, iya. Aku menduga bahwa mereka segaja menyeberangi sungai ini dan berhasil selamat hingga mencapai ujung sana."
"Apakah mereka sudah tidak waras? Bukankah di sana itu adalah area terdalam dari 'Hutan Seribu Kematian?'" Ucap Aliya sambil memandang lurus ke arah depan.
"Mereka tidak punya pilihan lagi, bukan? Selain itu, dari yang pernah aku dengar dari para pemburu, sungai yang ada di hadapan kita ini sebenarnya merupakan habitat bagi puluhan ribu ekor ikan pemakan daging yang dikenal sangat buas. Saking buasnya, mereka dapat mencabik-cabik tubuh manusia hanya dalam hitungan menit."
"Kalau begitu, apakah kita perlu meneruskan penyelidikan ini?"
"Tidak perlu. Kita sudah terlalu jauh masuk ke dalam hutan. Terlalu berbahaya jika kita teruskan, lebih baik kita segera kembali dan melaporkan semua hasil pengamatan kita kepada Para Tertua. Biarkan mereka menentukan sendiri apa langkah kita selanjutnya."
...
Naruto POV
Semakin jauh ke dalam hutan, maka semakin biadab pula monster yang mendiaminya.
Setiap saat, aku bisa mendengar suara menyeramkan yang datang dari sekelilingku. Meski tidak menggunakan perangkat sensor, namun aku masih bisa merasakan kehadiran dari belasan hingga puluhan makhluk buas yang setiap saat bersembunyi di kegelapan hutan. Membuatku berpikir untuk tidak membiarkan penjagaanku hilang, walau hanya sesaat.
Seperti malam sebelumnya, baik Piña dan aku, kami berdua memutuskan untuk beristirahat di atas dahan sebuah pohon.
Sambil menatap ke arah bintang-bintang yang ada di langit. Piña berkata kepadaku sambil memaju-mundurkan kakinya yang bergelantungan di bawah dahan pohon.
"Sir Naruto, boleh saya bertanya tentang satu hal kepada anda?"
"Silahkan saja, Piña. Memangnya hal apa yang ingin kamu tanyakan ke aku?"
Piña tidak langsung menjawab balik. Sambil memikirkan apa yang ingin dia jawab, tangan kanan Piña lantas menunjuk ke arah bintang-bintang yang terlihat seperti membentuk sebuah objek.
"Jika di lihat dari bintang-bintang itu, Dari arah manakah anda berasal, Sir Naruto?"
Mungkinkah yang dia maksud itu rasi bintang? Mah, mah... karena aku sempat berbohong sebelumnya, jadi ini menjadi agak sulit untuk dijelaskan. Apakah aku harus berbohong lagi atau mengatakan yang sebenarnya kepada Piña bahwa aku berasal dari peradaban asing yang terletak jauh di langit sana? Tidak, dia mungkin akan menganggapku sinting jika aku berkata seperti itu.
Setelah memilih-memilih jawaban apa yang dirasa pas, aku lalu menunjuk ke arah rasi bintang yang memiliki pola seperti dua orang yang saling berjabat tangan.
Jika ditarik dari garis ekuator yang mengelilingi planet ini, rasi bintang atau konstelasi yang sedang aku tunjuk itu berada tepat di atas garis lintang utara dengan pembesaran antara 10 hingga 15 derajat dari garis khayal. Letaknya pun juga agak miring ke arah barat jika diukur dari bawah sini.
"Bukankah itu 'Bintang Armyēna'? Jadi kamu berasal dari barat, Sir Naruto?" Ucap Piña sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah bintang yang paling terang dari konstelasi itu.
Tidak aku sangka. Ternyata Piña cukup mahir juga, yah? Khususnya dalam membaca arah mata angin melalui posisi bintang.
Mungkinkah dia seorang gadis yang dibesarkan di laut? Mmm... aku rasa tidak. Kulit Piña terlalu halus untuk seseorang yang biasa pergi melaut. Jadi kemungkinan paling masuk akal adalah dia mendapatkan pengetahuan itu dari seseorang cendakiawan, aku pikir.
"Lebih tepatnya, aku berasal dari sebuah daratan luas yang terletak jauh di sebelah barat dari benua ini."
"Se-sebuah daratan?! Mungkinkah itu sebuah benua?! Apakah benar-benar ada daratan di ujung lain dari Benua ini?!"
Dengan agak bersemangat, Piña lalu mengguncang-guncang bahuku dengan kedua tangannya. Dan itu hampir saja membuat kami berdua jatuh dari atas pohon akibat ulahnya sendiri.
Setelah dia meminta maaf kepadaku berulang kali, kami pun lantas melanjutkan pembicaraan kami yang sempat tertunda.
Meskipun tidak ada informasi valid tentang adanya Dunia Baru di seberang samudra. Namun sebagian golongan masyarakat yang tinggal di benua ini meyakini bahwa leluhur mereka yang paling awal kemungkinan berasal dari suatu tempat yang ada di sisi lain dari dunia ini.
Hipotesis ini kemudian diperkuat oleh beberapa catatan kuno yang ditinggalkan oleh peradaban yang pernah eksis di masa lalu. Entah peradaban apa yang dimaksud oleh Piña, tapi setidaknya aku masih bisa sedikit bernapas lega karena tidak harus benar-benar membohongi dia tentang asal-usulku.
"Meski begitu, ini benar-benar sebuah kejutan yang sangat besar bagi saya, Sir Naruto. Siapa sangka, ternyata anda berasal dari tempat yang sejauh itu."
"Yah, aku juga tidak menyangka bahwa aku akan berakhir di tempat seperti ini."
"Lalu, bagaimana bisa anda malah berakhir terdampar di benua ini, Sir Naruto? Apakah anda mengalami semacam kecelakaan saat terakhir kali anda berlayar di laut lepas?"
Kedua tanganku saling menggenggam kuat saat Piña menyinggung sebuah isu yang sebenarnya tidak ingin aku ungkapkan lagi.
"Ma-maaf, apakah saya membuat anda merasa tidak nyaman?"
"...Yah, tidak apa-apa. Namun memang benar bahwa aku mengalami sebuah kecelakaan dan itu telah membunuh seluruh awak kapal, kecuali aku..."
Agar ceritanya menjadi lebih menyakinkan, aku segaja mencampur kedustaan ini dengan kebenaran versi ku. Tak jarang, aku menjadi agak emosional karena harus menggisahkan ulang kejadian itu kepada Piña. Kendati kisah yang aku ucapkan ini terkesan fiktif, namun sebagian dari kisah itu juga didasarkan oleh pengalamanku sendiri.
Sehabis mendengar kisahku itu, Piña lalu menyeka butiran air yang jatuh dari kedua matanya.
"Kita benar-benar senasib, yah?" Ucap Piña sambil memandang lurus ke arah benda langit terlihat bersinal di kegelapan malam.
"Senasib?"
"Mmm... bukan bermaksud mencela mereka yang sudah mendahului kita. Tapi jauh di dalam dada ini, aku masih tidak ingin mengikhlaskan kepergian mereka. Bahkan sampai detik ini, aku masih dihantui oleh perasaan bersalah atas kematian mereka..."
Suasana di antara kami menjadi agak berat, Piña terlihat seperti menahan gejolak emosi yang perlahan berkumpul di kepalanya. Tubuhnya yang lebih pendek dari aku itu nampak sedikit bergetar. Dia... apakah dia menahan semua perasaan negatif itu selama ini?
Tak kuasa menahan tangis, Piña lalu menunduk ke bawah dan mulai terisak halus sebelum bisa menyelesaikan kata-katanya.
"Hiks... hiks... hiks... hiks..."
Kalau ini terus dibiarkan, aku takut ini mungkin akan mempengaruhi kesehatan mentalnya.
Tidak ingin membiarkan semua ini menjadi berlarut-larut, aku lalu mendekap kuat tubuh gadis itu dengan kedua tanganku dan membiarkan dirinya bersandar di dalam bahuku.
"S-sir Naruto...?"
Tak ada sepatah kata pun keluar dari mulutku.
Dari jarak sedekat ini, aku dapat merasakan betapa ringkihnya jiwa dari seorang gadis yang sedang kupeluk ini. Tubuhnya tidak henti-hentinya bergetar meski sudah berulang kali aku tenangkan. Dan di balik pakaian yang sedang aku kenakan ini, bermili-mili kubit air mata tumpah setiap detiknya ketika Piña menumpahkan semua kepiluannya kepadaku.
"Tidak apa-apa, Piña. Aku dapat memahami rasa kehilanganmu itu. Dibandingkan denganku, kamu sudah berjuang sangat keras hingga mencapai titik ini. Kamu kuat, kamu benar-benar seorang wanita yang luar biasa tangguh dan aku mengagumi sisimu itu..."
Sejak kali pertama aku bertemu dengannya, aku selalu menganggap Piña tidak lebih dari seorang adik perempuan. Mungkin rasa sayangku ini tidak lebih dari sebuah pelampiasan karena merindukan kehadiran keluargaku di sisiku. Namun sekarang, sosoknya yang begitu rapuh seperti seekor anak kucing itu membuatku ingin sekali melindunginya dengan sekuat jiwa dan ragaku.
Apakah aku melihatnya sebagai seorang wanita? Yah, mungkin saja seperti itu. Lagi pula, aku ini adalah seorang lelaki yang sehat secara biologis. Jadi mana mungkin aku bisa menolak keindahan visual yang ada di hadapanku ini?
Waktu di antara kami berdua seolah mulai melambat ketika tanpa sadar aku mulai mengulum bibir semerah apel itu dengan bibirku. Piña yang tak kuasa menolak pelakuanku itu hanya bisa pasrah dan kemudian menyerahkan semuanya kepadaku.
Dan, di bawah cahaya dua lembulan yang bersinal di dalam kegelapan itu. Kami berdua lalu terhayut oleh perasaan menyenangkan yang aneh dan kemudian menyatu dalam kenikmatan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
...
