.

The Interstellar Nation Army Become a Mercenary

Chapter 14

Menuju ke Selatan (Bagian 1)

.

.

.

Naruto POV

Di dalam carriage dengan ruang yang terbatas, aku mengambil postur bersandar pada sebuah tong kayu yang ada di belakang punggungku.

*A/N: carriage adalah istilah dalam bahasa inggris yang menunjuk pada kereta atau gerobak yang ditarik oleh kuda.

Kenyamanan carriage, yang menggunakan bahan sejenis kain sebagai atapnya, itu buruk. Kereta ini bergetar dengan sangat buruk sehingga membuatku merasa agak sakit di sekujur tubuhku.

Satu jam yang lalu, Piña dan aku secara kebetulan bertemu dengan sebuah karavan kecil, sesaat setelah kami keluar dari dalam hutan. Karavan tersebut diisi oleh para pedagang yang akan menjual barang-barang dagangan mereka ke Kota Lynzgrad, sebuah kota yang ada di sebelah utara dari Persatuan Kerajaan Austinberg-Haurelia.

Dengan membayar sejumlah uang kepada mereka, kami pun diijinkan untuk menempati salah satu ruang kosong yang ada di dalam carriage.

Pemimpin dari karavan tersebut merupakan seorang pria bertubuh gembul yang berasal dari salah satu wilayah di negara ini. Komonitas yang biasa dia perdagangkan adalah produk-produk lokal, seperti: hasil bumi, peralatan dari logam dan kayu, obat-obatan herbal, hingga minuman keras.

Selama di perjalanan, baik aku dan pria itu, kami berdua saling bertukar informasi tentang komoditas apa saja yang paling diminati oleh kebanyakan warga yang tinggal di perkotaan.

Meskipun aku belum memiliki rencana jelas untuk ke sana. Namun setidaknya aku sudah memiliki gambaran tentang komunitas dagang apa saja yang akan menjadi tren di antara bangsawan serta orang kaya yang tinggal di kota-kota besar.

Setelah puas berbicara dengan ketua karavan, perhatianku kini teralihkan pada Piña yang masih menyandarkan dirinya di bahuku. Dengan sikap duduknya yang agak nakal, rasanya seperti bagian dalam rok milik Piña akan terlihat olehku.

Ketika aku hendak menatap wajahnya, Piña juga balik menatap wajahku dari arah samping.

Kedua mata kami saling bertemu untuk waktu yang cukup lama. Entah mengapa, aku merasa seperti tersihir oleh kedua mata merahnya yang menurutku sangat cantik. Sangat cantik, sampai-sampai ada keinginan dariku untuk mencium bibirnya sangat menggoda itu.

Ketua karavan yang sedang melihat ke arah kami dari kursi pengemudinya lantas bersiul, sepertinya dia sedang menggoda kami.

"Senangnya jadi muda..."

Piña buru-buru membalikkan wajahnya ke samping kanan dan kemudian menundukan wajahnya ke bawah. Meskipun aku tidak bisa melihatnya wajahnya dari belakang, tapi aku yakin bahwa Piña kini sedang tersipu malu dan tidak berani menatap wajahku lagi.

Semenjak saat itu, hubungan di antara aku dan Piña berkembang ke arah yang tidak aku sangka-sangka: lebih dari sekedar teman, namun kurang sebagai kekasih.

Entah mengapa, aku merasa seperti sangat berdosa karena telah memanfaatkan kegelisahan Piña untuk memenuhi keinginan serta hasrat duniawiku. Namun aku juga bertekat untuk mempertahankan hubungan ini karena aku juga menyukainya. Adapun soal misi, tidak ada jaminan bahwa aku akan kembali ke tempat asalku. Sehingga akan logis jika aku memiliki lebih banyak opsi untuk rencana hidup kami kedepannya.

"Nee, Sir Naruto. Sebenarnya saya ingin menanyakan hal ini sejak lama, apakah kamu tidak keberatan?"

"Tentu, Piña. Selama aku masih bisa menjawabnya." Ucapku.

Piña yang sedari tadi menyandarkan dirinya ke bahuku lalu memandang ke arah senapang plasma yang masih terbungkus di dalam sarung senapang.

"...Benda yang selalu kamu bawa itu sebenarnya apa, Sir Osbern?

"Oh ini?" Ujarku sambil menarik senjata itu keluar dari sarungnya. "Ini pada dasarnya merupakan senjata yang dapat ditembakkan dari jarak jauh."

Aku tidak bisa menjelaskan cara kerja secara rinci karena itu melibatkan berbagai disiplin ilmu serta basis teknologi yang tinggi. Sehingga akan sulit menjelaskannya kepada Piña yang tidak memiliki pengetahuan dasar soal teknologi mutahir. Tetapi diluar dugaan, Piña justru terlihat agak berbinar-binar setelah mendengar jawabanku tadi.

"Mungkinkah ini adalah 'Barang yang Hilang'?"

Huh? 'Barang yang Hilang'? Apakah itu menunjuk pada istilah atau semacamnya? Seperti aku perlu belajar lebih banyak kosakata lagi, deh.

"Bolehkah saya meminjamnya?"

Aku lalu meminjamkan senjata itu kepada Piña. Tentu saja, karena senapan itu memiliki sistem pengenalan biologis, sehingga tidak dapat digunakan oleh sembarang orang, selain aku dan mereka yang memperoleh otoritas untuk menggunakan senjata ini di bawah ijinku.

Dengan sabar, aku lalu membimbing kedua tangan Piña untuk menggenggam senjata itu dan kemudian berpose seolah kami sedang mengikuti latihan menembak di kamp militer.

"Bolehkah saya menembakkannya!?"

"Uh, maaf tapi jumlah amunisinya terbatas. Ini seperti kartu truf bagiku, jadi aku tidak ingin menyia-nyiakannya, jika memungkinkan." Ucapku sambil meminta maaf kepada Piña.

Yah, jika kamu menembakkannya di dalam kereta, semua orang pasti akan terkejut dan sekaligus ketakutan oleh suara senapang plasma yang sangat keras.

"...Sayang sekali, padahal saya ingin sekali mencobanya..." Dengan berat hati, Piña lalu mengembalikan senjata itu kepadaku.

Setelah memasukkannya kembali ke dalam sarung senapang, Piña dan aku lalu saling bertukar kata-kata demi membunuh waktu. Dan salah satu topik yang sempat kami bahas tadi adalah 'Barang yang Hilang'.

'Barang yang Hilang' menunjuk pada sebuah artefak kuno, seperti alat, perhiasan, hingga senjata yang diproduksi oleh teknologi yang telah hilang dan biasanya dijual dengan harga yang tinggi.

Umumnya, 'Barang yang Hilang' hanya bisa ditemukan di beberapa situs reruntuhan kuno yang tersebar di beberapa tempat di planet ini. Karena nilai historis serta kegunaannya yang tidak biasa, banyak cendekiawan serta akademis dari sekolah-sekolah terkenal akan rela mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk mempelajari dan berusaha untuk memproduksi ulang peninggalan-peninggalan tersebut dengan teknologi saat ini.

Hal-hal familiar di tempat asalku seperti lemari es, kompor, alat transportasi, hingga jenis senjata pelontar sederhana adalah beberapa contoh kecil dari sebagian besar penemuan yang berhasil dibuat hingga sekarang.

Memasuki radius 300 meter, jendela antarmuka nanobotku memperlihatkan sebuah titik merah yang berada tidak jauh dari rombongan kami.

Apakah itu binatang buas? Tapi jika dilihat dari nilai intervalnya, gelombang ini seperti bukan berasal dari binatang buas maupun monster. Mungkinkah itu manusia? Tetapi jika itu memang manusia, lalu untuk apa dia bersembunyi dari hadapan kami? Kenapa dia tidak bertingkah selayaknya orang sipil pada umumnya? Ada yang tidak beres dengan orang ini.

Ketika aku hendak mengubah antarmuka nanobot menjadi peta tiga dimensi, titik tersebut tiba-tiba bergerak menjauh dan pergi dari jalan yang akan dilalui oleh karavan.

Mengubah gambaran mentalku menjadi bentuk 3D, titik tersebut seketika berubah menjadi sesosok pria bertubuh sedang yang terlihat seperti sedang berlari ke dalam hutan. Jangkauan RADAR kemudian aku perluas lagi hingga mencapai jarak 2.000 meter.

Memindah seluruh lokasi yang ada di dalam radius dua kilometer, lagi-lagi aku menemukan dua belas objek berbentuk manusia lainnya yang terlihat seperti sedang mengawasi kami dari jauh: mereka semua bersenjata.

Jika tebakanku benar, maka kelompok ini kemungkinan besar adalah komplotan kriminal yang terdiri atas bandit dan beberapa penjahat yang biasa menyerang rombongan pedagang yang tidak bersenjata.

"Nana, siapkan senjatamu. Kita akan dihadang oleh tiga belas orang bersenjata yang berjarak kira-kira 428 zhàng* dari sini. Kemungkinan mereka adalah bandit."

*A/N: 1 Zhàng = 3,2 m

Nana adalah nama samaran yang digunakan untuk menyembunyikan jati diri Piña yang sebenarnya.

"Eh?! Sir Naruto, kamu benar-benar bisa merasakan kehadiran mereka dari jarak sejauh itu?"

Oh iya, aku belum pernah membahas kemampuanku ini kepada Piña, bukan?

"Menurutmu, apa yang harus kita lakukan pada mereka, Nana?"

"Hmmm, gimana yah? Kita tidak mungkin berbalik arah setelah menempuh jarak sejauh ini. Tapi bahkan jika itu memang bandit, kita masih lebih unggul dari mereka dalam hal kemampuan individu dan senjata, bukan?

Yah, Piña benar. Mereka mungkin bersenjata, tapi baik Piña dan aku, kami berdua merupakan veteran yang telah melewati garis antara hidup dan mati. Dan itu bukan hanya sekali, tetapi berulangkali. Sehingga pengalaman kami dalam hal bertempur tidak bisa disandingkan dengan mereka yang hanya bisa mencuri dan merampok dari orang-orang lemah.

"Sebenarnya aku belum begitu yakin, sih. Tapi jika itu memang benar-benar bandit, maka tidak masalah jika kita membunuh mereka, bukan?"

"Tidak masalah. Selama ada saksi, kita tidak akan dituntut karena telah membunuh para penjahat. Tapi saya juga mendengar bahwa kita dapat memperoleh hadiah lebih jika kita berhasil menangkap mereka hidup-hidup."

Ketika mendengar kata 'hadiah lebih', seketika itu juga aku sadar bahwa kami memang sedang kekurangan uang. Aku penasaran, berapa banyak uang yang akan kami peroleh untuk setiap bandit yang akan kami tangkap?

"Mr. Ulazhimir, beritahu semua orang bahwa akan ada sekelompok orang asing bersenjata yang akan menghadang kita di tengah jalan. Kemungkinan besar mereka adalah bandit."

"A-apa? Bandit katamu—? O-oi, anak muda! Kalian mau kemana?!"

"Kami akan mengurus mereka. Tenang saja, aku berjanji akan melindungi kalian dengan segala cara."

Meninggalkan pemimpin karavan yang masih terkaget-kaget di belakang kami, Piña dan aku lalu mengambil semua senjata kami dan kemudian melompat keluar dari dalam kereta kuda.

Para kusir dan sebagian penumpang yang tinggal di dalam kereta lalu menatap kami dengan wajah yang heran. Tidak ada seorang pun dari mereka yang menyadari soal musibah yang akan menimpa mereka setelah ini.

Setelah diberi penjelasan oleh Mr. Ulazhimir, secara spontan, semua orang yang ada di karavan dipenuhi oleh kegaduhan. Namun mereka dengan segera ditenangkan oleh pemimpin karavan mereka. Di saat yang sama, aku juga memberi tau mereka bahwa aku secara pribadi akan membahayakan hidupku untuk melindungi mereka dan itu cukup berhasil meski ada juga meragukan yang tertinggal di wajah mereka.

'Wise, aktifkan peningkatan tubuh serta dukungan analisis. Juga perkuat reseptor dan insting bertempurku hingga mencapai output 200%.'

[Roger.]

Di detik selanjutnya, pikiran serta benakku menjadi jauh lebih ringan dan lebih tajam dari biasanya. Selain itu, otot-otot yang menempel di tubuhku mulai terlihat sedikit membengkak dan bertambah kekar seiring bertambahnya waktu. Namun itu tidak serta-merta membuatku menjadi sangat berotot seperti seorang binaragawan.

Setelah kami selesai berdiskusi, Piña dan aku memutuskan untuk duduk di atas tumpukan kantong besar di belakang salah satu gerobak kuda. Sedangkan mereka yang tidak bisa melawan harus tetap berada di dalam kereta.

Yang perlu kami waspadai sekarang adalah senjata proyektil seperti panah, pisau lempar, dan 'berkat ilahi'.

Aku bisa saja menembak jatuh anak panah serta pisau lempar dengan senapan plasma. Tapi 'berkat ilahi', bagaimanapun, itu adalah kemampuan yang menyerupai sihir dan itu bisa saja sekuat milik Piña, bahkan lebih. Sehingga akan menjadi sedikit merepotkan bagi kami jika harus berhadapan dengan orang-orang yang memiliki kemampuan ofensif seperti itu.

"60 zháng lagi..." Ucapku sambil menghitung mundur.

Ketika aku sedang men-zoom penglihatanku menjadi beberapa kali lipat, aku dapat melihat tiga sosok manusia yang sedang nongkrong di atas pohon. Sedangkan sisanya masih bersembunyi dan tidak dapat dijangkau oleh penglihatan mata.

"32 zháng lagi. Ada tiga orang di atas pohon... "

"15 zháng. Jangan melancarkan serangan sebelum aku memberi aba-aba."

"3 zháng..."

Piña mengangkat tangannya ke depan dan bersiap-siap.

Tiba-tiba, sekelompok pria keluar dan memblokir jalan kami: enam orang ada di depan, empat orang ada di belakang, sedangkan sisanya bersiap-siap untuk menyerang kami dengan busur panah di atas pohon.

"Siapa kalian?!"

Aku berdiri dari muatan dan berbicara keras kepada mereka. Dilihat sekali, jelas bahwa mereka bukanlah orang baik-baik. Dan itu memicu sinyal bahaya yang ada di dalam kepalaku.

"Lihatlah gadis yang ada di sana. Dia terlihat sangat berkualitas tinggi, bukan?! "

Aku menjadi agak kesal ketika orang-orang ini tidak menanggapi pertanyaanku dengan benar dan malah berbicara di antara mereka sendiri.

"Yah benar. Gadis itu pasti akan sangat memuaskan jika kita ajak bermain di atas ranjang."

"Aku tidak sabar untuk mendengar dia mendesa oleh kontolku~"

Urat dahi muncul di atas dahiku. Itu jelas adalah pelecehan secara verbal dan mereka jelas tidak berencana untuk menyembunyikan sifat asli mereka.

Tenang, tenanglah wahai diriku...

Jika aku termakan provokasi mereka, Piña dan aku akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh uang lebih.

"Aku baru saja menanyakan siapa diri kalian, bangsat!"

Oke. Aku baru saja kehilangan kesabaranku lagi.

"Tidak bisakah kau tahu hanya dengan melihatnya, bocah goblok! Kami ini bandit! "

Dalam sekejap, peluru partikel bermuatan panas meluncur dari moncong senapang, itu pecah menjadi tiga belas bagian yang lebih kecil, dan terbang menuju ke arah para bandit seperti peluru kendali.

Piña yang berdiri di sampingku juga tidak mau kalah. Dia menggunakan berkat ilahinya untuk menciptakan proyektil api di ujung jarinya dan kemudian menembaknya seperti sebuah pistol.

Meski akurasinya lebih rendah dariku, namun kekuatan ofensif yang Piña lepaskan bukan sesuatu yang bisa dianggap enteng: analisa nanobot menunjukkan bahwa suhu yang berkumpul di ujung jari Piña meningkat hingga mencapai suhu 200°C.

Tidak lebih dari sepuluh detik, semua bandit yang kami serang telah berhasil kami lumpuhkan.

"Nana, bantu aku melucuti mereka!"

Aku melompat turun dari gerbong dan sambil menginstruksi Piña dengan suara keras.

Piña tidak langsung merespon, namun setelah sadar, dia segera buru-buru melompat turun dari atas gerobak dan kemudian mengekor di belakangku.

...