.
The Interstellar Nation Army Become a Mercenary
Chapter 15
Menuju ke Selatan (Bagian 2)
.
.
.
Naruto POV
Setelah melucuti semua senjata mereka. Piña, aku, serta beberapa orang pria dari karavan lalu meringkus para bandit dan kemudian mengikat tangan serta kaki mereka dengan sejenis tali rami.
Beberapa dari mereka masih tetap ngotot dan berusaha menyerang kami ketika kami hendak mengikat mereka. Alhasil, aku pun menendang mereka dengan keras sehingga mereka terpental sejauh 5 meter dari hadapanku.
Kali ini aku tidak akan menahan diri lagi, begitu pula dengan Piña yang terlihat berulang kali memukul wajah beberapa orang bandit dengan sarung pedangnya: dia benar-benar kesal oleh ulah para bandit yang dengan segaja melecehkannya dengan kata-kata vulgar.
Setelah puas menghantam mereka dengan dengan tangan dan kaki, kami semua lalu menyeret mereka ke tanah lapang yang hanya ditumbuhi oleh rerumputan. Di bawah sengatan cahaya matahari yang tidak terlalu panas itu, aku lalu berbicara dengan semua orang dengan suara puas.
"Semuanya, terima kasih atas kerja keras kalian."
Mr. Ulazhimir yang berdiri tak jauh dariku lantas menjawab.
"Tidak perlu berterima kasih, anak muda. Justru kamilah yang harus mengucapkan itu kepada kalian berdua. Tanpa kalian, kami mungkin akan berakhir menjadi mayat di tengah hutan dan semua barang berharga kami akan dibawa lari oleh mereka."
"Tidak masalah. Lagipula kami berdua juga diancam oleh mereka, jadi anda tidak perlu terlalu berterima kasih kepada kami." Ucapku kepada Mr. Ulazhimir.
"Ngomong-ngomong, apa yang harus kita perbuat pada bandit-bandit ini?"
"Kita bisa mengikat tangan mereka ke belakang kereta kuda dan biarkan mereka berjalan sendiri. Aku tidak sudi membiarkan satu pun helai rambut mereka jatuh di atas barang daganganku."
Itu cara yang agak kejam untuk mempelakukan seorang manusia. Tetapi pria bertubuh gembul itu ada benarnya juga. Dibandingkan dengan mereka yang melakukan pencurian demi dapat bertahan hidup, para bandit yang ada di hadapanku ini memang tidak layak diperlakukan sebagai manusia. Aku memang tidak tau dosa-dosa apa saja yang sudah mereka perbuat. Tapi jika mengingat lagi gelagat mereka yang sebelumnya, aku curiga bahwa komplotan ini mungkin saja telah melakukan tindakan keji berulang kali dan itu dilakukan dengan suka cita.
Memikirkan nasib setiap korban yang berakhir tragis ditangan penjahat-penjahat ini, seketika membuatku ingin sekali melubangi kepala mereka ujung belati.
Belati, yah? Ah, benar juga. Bagaimana jika aku gunakan metode 'itu' untuk mengorek informasi dari mereka? Siapa tau kami akan memperoleh uang lebih dari informasi yang akan mereka bocorkan padaku.
Setelah mempertimbangkannya lagi, aku lalu membuat sebuah keputusan yang dirasa tepat dan kemudian melirik ke arah para bandit yang sedang terduduk di sana.
"Anu... Sir Naruto. Kamu mau ngapain?"
"Aku mau menginterogasi mereka, Piña. Jika kamu tidak kuat untuk melihatnya, maka kamu bisa menjauh dari sini." Ucapku.
Menarik belati elektromagnetik dari dalam sarungnya, aku lalu mendekati para bandit itu sambil berpose layaknya pembunuh berdarah dingin. Beberapa dari mereka terlihat masih mengerang kesakitan, mungkin itu disebabkan oleh luka bakar yang berasal dari radiasi sinar plasma atau api 'sihir' yang dilepaskan oleh Piña.
Berdiri tidak jauh dari mereka, aku kemudian menarik rambut salah satu bandit yang ada di dekatku dengan kasar dan memaksanya untuk melihat ke arahku. Awalnya dia sempat memberontak, namun dengan segera aku memukuli wajahnya berulang kali dengan kepalan tangan hingga hampir tak sadarkan diri.
Bagaimana seorang psikopat sadis, aku lalu menggores permukaan dahi bandit tersebut dengan ujung belati ketika dia masih agak linglung. Aliran darah terlihat agak menetes dari luka gores yang aku buat. Sesekali, aroma seperti daging hangus juga tercium dari luka tersebut.
Sesudah aku selesai menggoresnya dengan belati elektromagnetik, pucuk kapala bandit itu lalu aku sentuh dengan telapak tangan. Di detik berikutnya, tiba-tiba bandit itu mulai berteriak keras sambil berguling-guling di atas tanah. Pergelangan tangannya yang diikat dengan tali terlihat memerah dan mengeluarkan sedikit darah. Sambil mengerang kesakitan, pria yang tidak aku kenal itu lalu menatapku dengan tatapan horor.
"A-apa yang telah kau perbuat kepadaku, HAH?!"
"Simpelnya, itu adalah semacam kutukan yang segaja aku tanamkan ke dalam kepalamu. Itu akan terus menimbulkan rasa sakit yang luar biasa, dan itu juga tidak bisa dihilangkan dengan metode konvensional. Bahkan jika kau membunuhku, kutukan itu akan tetap ada dan akan membunuhmu secara perlahan."
Luka gores yang ada di dahinya itu membentuk sebuah huruf yang segaja aku ambil dari aksara tiongkok. Di sana, tertulis huruf '笨蛋' (dibaca: bèndàn) yang setara dengan kata 'idiot' dalam Bahasa Inggris.
Itu segaja aku lakukan karena tidak seorang pun dari mereka yang pernah melihat atau membaca aksara tiongkok. Bagi orang awam di planet ini, aksara tiongkok akan terlihat seperti sebuah rune yang memiliki semacam kekuatan magis untuk mengutuk atau menyantet siapapun yang diinginkan oleh penggunanya.
Sebenarnya, apa yang aku sebut sebagai kutukan itu cuma akal-akalanku aja. Fenomena ini bisa dijelaskan dari sudut pandang sains. Prinsipnya adalah dengan mengganggu aliran listrik pada salah satu bagian otak yang berperan sebagai penerima dari ujung saraf yang peka terhadap rasa sakit. Dalam kasus ini, aku menggunakan kemampuan nanobot untuk menciptakan sebuah medan elektromagnetik di telapak tanganku untuk memicu produksi berlebihan pada hormon yang berperan sebagai pendeteksi luka.
Awalnya aku sempat ragu apakah cara ini akan benar-benar berhasil. Namun diluar dugaan, ini secara efektif mampu membatasi aliran listrik pada bagian otak yang aku targetkan dan itu cukup berhasil untuk memicu reaksi yang aku kehendaki.
"ARGHHH! SAKIT! TIDAK! TIDAK! TIDAK! SAKIT! SAKIT! SAKIT!"
Bandit itu terus saja menjerit-jerit, sampai-sampai indra pendengaranku terasa sakit oleh jeritannya yang mengganggu itu.
"Siapa lagi yang mau dahinya aku ukir seperti dia?"
"Ti-tidak. To-tolong... tolong ampuni kami, Tuan. To-tolong jangan sakiti kami..."
"Tergantung pada ucapan kalian, aku bisa saja mempertimbangkan untuk membiarkan kalian tetap hidup jika kalian mau menjawab pertanyaanku dengan jujur." Ucapku.
Mengingat bahwa mereka adalah bandit, ada kemungkinan bahwa mereka telah mengumpulkan dan menyembunyikan semua harta rampasan mereka di suatu tempat yang sulit dapat diakses oleh manusia. Menyadari akan opsi ini, aku lalu memasang senyum iblis dan menatap mereka dengan tatapan mata yang seakan dapat membunuh mereka seribu kali.
"Kalian pasti telah menyembunyikan semua harta rampasan kalian di suatu tempat di dekat hutan ini, bukan? Jika kalian masih sayang nyawa, aku sarankan kalian menyerah saja dan beritau aku di mana kalian menyembunyikan semua harta itu. Atau kalian lebih suka aku kutuk seperti teman kalian yang ada di sana?" Ucapku sambil mengarahkan jari jempolku ke arah teman mereka yang terus saja berteriak seperti orang gila.
Butiran air keringan mulai berjatuhan di atas dahi mereka. Mereka semua tentu sadar bahwa nyawa mereka lebih penting dari semua harta yang sudah mereka rampas. Namun bagaimanapun, mereka tetaplah sekumpulan orang serakat yang tidak menginginkan semua jerih payah mereka lenyap tidak berbekas.
Ketika aku hendak berpindah ke korbanku yang selanjutnya, salah seorang dari mereka berseru kepadaku dengan suara parau. Dia berbicara seperti kesetanan sambil memohon-mohon kepadaku untuk dibebaskan, sedangkan rekan-rekannya uang lain hanya bisa membelalakan kedua mata mereka sambil melemparkan tatapan membunuh kepada teman mereka yang sudah berkhianat itu.
Sesudah memperoleh informasi tentang lokasi dari basis para bandit, aku lantas berbalik ke arah Piña dan kemudian berkata, "Piña. Aku akan pergi ke tempat persembunyian mereka sebentar. Jadi kamu tidak perlu ikut denganku ke sana dan tetaplah tinggal di sini bersama dengan yang lain, oke?"
"Ta-tapi bagaimana jika sesuatu terjadi padamu, Sir Naruto?" Tanya Piña sambil menatapku dengan wajah yang khawatir.
"Tidak apa-apa. Aku akan segera kembali ke sini. Lalu untuk Mr. Ulazhimir, bisakah anda dan beberapa orang pria di karavan untuk mengawasi para penjahat ini? Jika mereka berani mengacam kalian, jangan ragu untuk membunuh mereka, paham?"
"Tenang saja, anak muda. Kami akan selalu mengingat instruksimu." Ujar pria berbadan gembur itu padaku.
"Sedangkan untukmu, Nana. Jika mereka melakukan sesuatu yang mencurigakan, bakar saja mereka hidup-hidup dengan berkat ilahimu. Dan jangan menunjukkan belas kasih, aku akan menyerahkan sisanya padamu."
"Ya, saya mengerti. Tapi jangan berbuat sesuatu yang gegabah, yah?"
"Tentu."
Setelah kami selesai bertukar kata, aku lalu menendang kepala bandit yang masih saja teriak-teriak di dekatku itu dengan kaki kanan. Seketika membuatnya hilang kesadaran dan ambruk ke bawah. Dengan ini, aku cukup yakin bahwa para bandit itu tidak akan menimbulkan kegaduhan lagi dan menjadi lebih patuh dari sebelumnya.
Oke, ayo kita pergi.
'Wise, aktifkan mode berlari jarak jauh.'
[Roger.]
...
