.

The Interstellar Nation Army Become a Mercenary

Side Story 5

Penyesalan Seumur Hidup

.

.

.

Pemuda itu kembali memenjamkan mata. Berharap bahwa semua yang telah dia lihat selama ini adalah salah. Namun berapa kali pun dia berusaha untuk menyangkal. Itu tetap sama; kematian kedua orangtuanya di hari itu telah meninggalkan luka yang sangat mendalam di hatinya.

Titik-titik cairan bening terlihat berjatuhan dari angkasa dan membasahi setiap sudut tempat yang ada di tanah orang mati. Perasaan basah bercampur dengan dinginnya air hujan seakan menusuk permukaan kulitnya hingga ke dalam tulang. Seolah menghakiminya karena telah menjadi anak yang durhaka bagi kedua orangtuanya.

Dulu, dia tidak pernah benar-bebar memikirkan atau merenungi perbuatan bodoh yang pernah dia perbuat di masa lalu. Dia selalu percaya bahwa kedua orangtuanya akan bersama dengannya dan saudarinya hingga mereka beranjak dewasa. Namun semua itu telah terlambat, kedua orangtuanya telah pergi menghadap Sang Pencipta dan tidak akan pernah kembali lagi.

'Tidak ada satu pun makhluk yang mampu lolos dari kematian.'

'Tidak ada satu pun makhluk yang mampu mencapai keabadian.'

'Tidak peduli seberapa banyak upaya yang mereka buat. Pada akhirnya mereka pada akhirnya akan tetap mati...'

Terdiam seribu bahasa, pemuda itu tidak mampu mengucapkan satu pun kata kepada kedua orangtuanya telah berbaring kaku di dalam peti. Dia hanya bisa menatap sendu sambil menenangkan saudarinya yang kini hanya bisa meneteskan air mata dan terus menjerit-jerit di dalam pelukannya.

Semua orang yang berkumpul di sekitar lubang makam terlihat sangat khusyuk, tidak seorang pun dari mereka yang berani untuk mengucapkan satu pun kata yang sia-sia. Itu semua mereka lakukan demi memberi penghormatan terakhir kepada kedua jenazah yang sebentar lagi akan disemayamkan ke dalam liang lahad.

Percikan air yang berulang kali membasahi bumi kini telah menggenangi hampir seluruh tempat yang ada di tanah orang mati. Itu menciptakan gumpalan tanah cair yang mengotori sebagian sisi pada pakaian yang mereka kenakan. Meski itu tidak terlalu nampak, namun noda ke coklatan yang menempel di atas kain bernuansa serba hitam itu tetap saja terlihat.

Bagi mereka yang telah mengenal kedua jenazah itu dengan baik, hal-hal sepele seperti pakaian kotor tidaklah sebanding dengan besarnya kesan positif yang ditinggalkan oleh kedua almarhum sewaktu mereka masih hidup.

Terlepas dari kabar miring soal putra sulung mereka yang belum lama ini mendekap di jeruji besi, para penziarah itu secara kompak memilih untuk tidak membicarakannya dan lebih memfokuskan diri pada prosesi permakaman yang ada di depan mereka.

Sesudah kedua jenazah itu dikebumikan, seorang imam yang ditugaskan untuk memimpin pemakaman itu lantas mulai berkhutbah di hadapan khalayak ramai. Meski harus berdiri di tengah cuaca yang kurang bersahabat, semua yang hadir di sana tetap dengan khidmat mendengar pidato keagamaan yang di sampaikan oleh sang imam.

Di dalam hatinya, Pemuda yang kini telah menginjak usia 15 tahun itu masih saja berpikir tentang bagaimana cara dia dan saudarinya hidup setelah ini.

Menurut hukum kolonialisasi antar-bintang yang berlaku di setiap wilayah pendudukan umat manusia yang berada di luar Planet Bumi, setiap anak di bawah usia 20 tahun yang telah kehilangan kedua orangtuanya akibat bencana maupun perang serta tidak memiliki satu pun keluarga dekat yang bersedia untuk mengadopsi mereka, mereka semua akan dipindahkan ke dalam sebuah fasilitas yang dikhususkan untuk membina setiap anak yang terlantar demi mengurangi angka kejahatan yang umumnya terjadi di beberapa planet jajahan yang memiliki angka kemiskinan yang tinggi.

Itu tidak akan menjadi masalah karena mereka masih memiliki seorang kakek yang bersedia untuk menjadi wali mereka. Namun kakek mereka yang kini telah menginjak usia 168 tahun itu pun juga memiliki masalahnya sendiri dan tidak bisa selalu bersama dengan kedua cucunya akibat penyakit kronis yang ia derita.

Pemuda yang tidak lagi memiliki ayah dan ibu itu lantas mengalihkan wajahnya ke atas, menatap kosong ke arah gumpalan kapas abu-abu yang masih saja menyirami mereka dengan cairan putih bening bersuhu rendah.

...

"...jadi kenapa kamu kembali ke sini?"

Alicia membelakangi saudaranya yang kini sedang duduk terpaku di atas sebuah kursi.

Di depan Alicia terdapat sebuah panci yang berisi aneka sayur berkuah lengkap dengan potongan daging sapi sintesis sebagai pelengkapnya. Sesekali, Alicia akan melirik saudaranya yang terlihat menatap ke arah cangkir berisi kopi; dia masih belum meminumnya.

Dengan pelan, Alicia menutup panci itu dan kemudian menyeka permukaan meja di samping kompor elektrik yang masih menyala dengan sepotong serbet. Setelah bersih, ia kembali menyiapkan piring serta alat makan seperti sendok dan garpu. Meski ada kakaknya di sana, ia tidak sekalipun meminta bantuannya.

Jam digital sudah menunjukkan pukul [22:17] malam. Meski lelah, Alicia berusaha untuk melawan keinginannya dan terus melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai. Sesekali, ia akan mengelus bagian perutnya yang diselimuti oleh sepotong dress berwarna putih susu yang terbuat dari kain sutra. Di dalam benaknya, wanita ini berpikir kalau ia harus segera memberi tahu kakaknya tentang hasil dari 'kecelakaan itu', sebelum abangnya pergi bertugas ke garis depan.

'Ini berat...' pikir gadis itu.

Walau ia berusaha untuk menutupi perubahan biologis yang ada di tubuhnya, namun gadis ini kesulitan untuk bisa menyembunyikan berat tubuhnya yang setiap hari terus bertambah; Ia tidak ingin mempersulit kakaknya lebih dari ini, namun dorongan yang ada di dalam dirinya terus mengatakan hal yang sebaliknya.

Ia takut, ia terlalu takut untuk mengungkapkan kebenaran ini kepada saudaranya. Ia takut kalau saudaranya akan salah paham dan kemudian pergi meninggalkannya; bagaimanapun, sejak awal ia lah yang telah menarik kakaknya ke luar dari batas yang seharusnya tidak mereka lewati. Dan kesalahan itu bersumber dari dirinya sendiri; ia tidak dapat menampiknya, bahkan jika ia mau.

Bersikap seolah tidak ada hal aneh di antara mereka, Alicia lalu kembali mengaduk sup yang baru di masak itu dengan gerakan berputar. Bau lezat tercium dari dalam panci, diikuti oleh getaran aneh yang berasal dari dalam perut mereka.

"Aku sudah memberitahukanmu sebelumnya, bukan? Besok adalah hari keberangkatanku. Tidak ada jaminan bahwa kami akan kembali dengan selamat, jadi mereka mengatakan untuk menghabiskan malam terakhir kami bersama orang-orang yang penting bagi kami."

"Be-begitu, yah?" Ucap Alicia dengan nada yang sedih.

Sebenarnya ia sedikit terganggu oleh kata 'tidak ada jaminan' yang baru dilontarkan oleh saudaranya. Namun, gadis itu memilih untuk tidak terlalu mempersoalkannya.

"Tapi bagaimanapun kamu memikirkannya, ketika mereka mengatakan 'orang-orang penting', mereka pasti mengarah ke seorang istri, kekasih, atau semacamnya, bukan?"

"Tidak juga. Tapi beberapa orang mungkin akan melakukan itu."

Termasuk semua kru yang tergabung ke dalam misi ekspredisi ISF 77 Kaguya Roosevelt, secara total, mereka adalah kelompok penjelajah antariksa yang terdiri atas seribu orang: sepertiga dari mereka sudah menikah, sedangkan sepertiga yang lain sedang menjalin sebuah hubungan pranikah dengan kekasih mereka.

Salah satu teman Alicia merupakan seorang gadis berusia 20 tahunan yang memiliki seorang kekasih yang kebetulan juga merupakan seorang perwira yang ikut tergabung ke dalam misi yang sama dengan saudaranya. Diketahui bahwa mereka berdua sudah hidup bersama sejak tiga tahun yang lalu dan berencana akan segera menikah setelah misi ekspresi itu selesai.

Alicia kembali teringat pada sebuah postingan yang dikirim oleh temannya tadi pagi. Di dalam postingan itu berisi sebuah gambar yang memperlihatkan seorang gadis yang terlihat sedang dipeluk dari belakang oleh seorang pria, yang diyakini merupakan kekasihnya. Mereka terlihat sangat bahagia dan tidak ragu untuk mempertontonkan kemesraan mereka di depan jutaan pengguna social media yang tersebar di hampir seluruh planet koloni serta sistem bintang yang dikuasai oleh umat manusia.

Meski ada ancaman serius dari bentuk kehidupan asing yang telah berperang dengan umat manusia selama lebih dari seribu tahun, sepertinya mereka tidak terlalu terganggu oleh fakta itu dan memiliki untuk menikmati sisa hidup mereka selagi bisa.

"Bagaimanapun, kamu adalah satu-satunya keluargaku yang masih tersisa, dan di mana orang-orang memilih untuk pergi, itu tidak ada hubungannya denganku."

"...jadi kamu tidak memiliki seorang gadis yang ingin kamu tiduri sebelum berangkat, abang?"

"Tidak mungkin aku memiliki waktu luang seperti itu. Kamu tau sendiri kan bahwa aku ini sangat terikat oleh kontrak kerja yang mengharuskanku untuk bekerja setiap hari. Oleh karna itulah aku tidak punya waktu untuk mengurus hal-hal semacam itu."

"Hmmm..."

Melihat responsnya setengah hati, Alicia jelas tidak mempercayai alasan kakaknya untuk tetap melajang. Nah itu bisa dimengerti, kakaknya merupakan salah satu lulusan terbaik di akademi militer dan dia juga langsung direkrut menjadi tentara resmi setelah menjalani wajib militer selama lima tahun. Dia sangat terampil dan kemampuannya pun juga sangat diapresiasi oleh atasannya; dengan prestasi sebesar itu, tidak heran jika kakaknya sering diperkenalkan kepada beberapa gadis muda dari keluarga elit.

Namun orang itu sendiri malah bersikap seperti seorang pengecut dan sering menjauhkan dirinya dari hal-hal yang berbau romantis. Alicia benar-benar tidak habis pikir, meskipun kakaknya memang tampan dan memiliki pesona sebagai seorang pria dewasa, ia selalu bersembunyi ketika seseorang menyinggung dirinya yang belum memiliki kekasih; pemuda itu terus berdalih bahwa dia masih belum siap atau masih terlalu muda untuk memulai hubungan dengan lawan jenisnya.

"Ketika aku melihatmu terakhir kali, tampaknya ada beberapa gadis cantik yang bekerja denganmu di kemiliteran."

"Tidak tahu dengan siapa kau berbicara, tapi hubungan kami hanya sebatas rekan kerja, tidak lebih."

"Fakta bahwa abang mengatakan hal yang menyakitkan seperti itu memuat hati gadisku menjadi sakit. Haruskah aku memukulmu dengan keras, abang?"

"Tolong jangan sakiti abangmu ini, Alicia."

Pemuda itu mengangkat kedua tangannya ke atas seperti seorang penjahat yang akan diringkus oleh polisi.

"Ngomong-ngomong, apakah mereka sudah tidur?"

"Sudah, mereka tidur lebih awal dari biasanya."

"Lalu bagaimana dengan Sister Margaret?"

"Ia bilang ia punya bisnis di luar kota dan pergi. Akhir-akhir ini kapan pun aku mengira ia pulang, ia langsung keluar dari pintu lagi." Jawab Alicia sambil menghela napas.

"Kuharap ia tinggal di sini sedikit lebih lama."

"Jadi, kamu dan anak-anak yang mengawasi tempat ini?"

"Mhm. Apa, tiba-tiba kamu memutuskan untuk mengkhawatirkan kami? "

"Ah... baiklah..."

Alicia sedikit menertawakan abangnya yang kehilangan kata-katanya sendiri.

"Hanya bercanda. Pengawal dari kota kadang-kadang datang ke sini untuk berpatroli, dan belakangan ini Sorey sering datang untuk membantu."

Pemuda itu langsung bereaksi saat Alicia menyebutkan nama itu.

"Aku bersyukur untuk para penjaga yang ditugaskan ke sini, tapi kamu harus menendang Sorey keluar. Aku tidak ingin bocah itu dekat-dekat denganmu."

"Lihatlah dirimu, abang. Semua selalu dianggap serius. Apakah kamu benar-benar tidak menyukainya?"

Bukan karena pemuda itu membenci Sorey, tapi rasa tanggungjawabnya sebagai seorang kakak membuatnya berpikir bahwa dia memiliki hak dan kewajiban untuk marah ketika adik perempuannya didekati oleh seorang pria yang bukan dirinya.

"Makanan sudah siap." kata Alicia sambil melepas celemeknya dan membawa panci rebusannya ke atas meja.

"Ah, akhirnya! Bahkan sebelum aku tiba di sini aku sudah kelaparan."

"Yah, yang aku lakukan cuma memanaskan beberapa sisa makanan yang hampir membusuk di dalam lemari es." Ucap Alicia dengan wajah lurus.

Seakan ditampar oleh kenyataan, pemuda itu lalu meminta maaf dengan tulus; dia tahu bahwa makanan di panti asuhan ini tidak begitu berlimpah sehingga mau tidak mau mereka harus menghemat pengeluaran.

Pemuda itu lalu memutuskan untuk berpura-pura tidak menyadarinya dan membalas dengan ucapan "terima kasih" yang sederhana.

"Kamu tidak perlu berterima kasih untuk sesuatu seperti ini," kata Alicia dengan bangga.

Dia duduk di seberang meja sambil tersenyum, dagunya bertumpu pada kedua tangannya, dan melihat pemuda itu makan di depannya.

"Ada yang salah dengan wajahku?"

"Enggak, gak ada yang salah, kok. Aku cuma mikir kalau abang harus mengucapkan sesuatu yang sedikit perhatian untuk saat ini." Keluh Alicia.

Pemuda itu, sedikit bingung, mendengarkan saat dia memotong kentang menjadi potongan yang lebih kecil.

"Sesuatu yang penuh perhatian? Seperti apa?"

"'Setelah perang ini berakhir, aku akan menikah!' Sesuatu seperti itu."

"Uhh .. kata-kata itu tidak pernah mengarah pada sesuatu yang baik."

Pemuda itu mengingat suatu saat ketika dia, seorang anak laki-laki, melihat ke atas dan mengidolakan para penjelajah. Dia sering membaca fiksi ilmiah yang menceritakan tentang kehidupan mereka, dan jika dia mengingat dengan benar, kapan pun seseorang mengatakan kalimat yang mirip dengan diucapka oleh Alicia, karakternya akan segera bertemu dengan kematian yang terlalu dini.

Mengingat bahwa pemuda tersebut hampotidak terlalu ingin mati, dia tidak ingin mengatakan apapun yang akan menyebabkan kematiannya.

"Aku tahu aku tahu. Anak-anak kecil membaca buku-buku yang kamu tinggalkan, dan aku telah mengingat hampir seluruh alur cerita setelah membantu mereka berkali-kali."

"Jika kamu mengerti itu dan masih mengatakan kepadaku untuk mengatakan kata-kata itu, maka aku pikir kau adalah orang jahat di sini..." sang kakak menunjuk sambil membawa sesendok rebusan ke dalam mulutnya.

Rasa lezatnya, penuh dengan rempah-rempah, membawa kembali kenangan lama. Dibuat khusus untuk memenuhi selera anak-anak yang kelaparan, sup ini tidak akan ditemukan di restoran kelas atas manapun di Ibukota.

"Baiklah, aku mengerti, tapi tetap saja... aku merasa ada yang tidak beres." Alicia mulai dengan ringan mengetuk kuku jarinya di atas meja.

"Malam ini, kamu dan tentara lainnya diberitahu untuk tidak meninggalkan penyesalan sebelum kalian berangkat. Bukankah itu sama seperti menyuruhmu siap untuk mati kapan saja? Itu sepertinya tidak tepat untukku... aku tidak tahu apa-apa tentang perang, tapi aku pikir mereka yang tidak siap untuk mati sama sekali akan lebih mungkin untuk bertahan hidup, karena mereka mengatakan pada diri mereka sendiri bahwa mereka harus pulang ke rumah."

Alicia berhenti sebentar, wajahnya tampak muram, lalu melanjutkan.

"Dalam buku yang biasa kamu baca, jenis karakter tertentu dibunuh lebih awal agar cerita menjadi lebih dramatis. Tentu saja, ini lebih menyedihkan saat karakter meninggal di akhir cerita. Bahkan jika kita benar-benar ingin melihat mereka kembali ke rumah dan bersatu kembali dengan orang yang mereka cintai. Itu tidak selalu sejalan dengan kenyataan."

Pemuda itu bisa melihat jari-jari Alicia yang terlihat sedikit gemetar. Bagaimanapun, saudarinya adalah seorang gadis yang kuat, tidak pernah membiarkan tanda-tanda ketakutan atau kecemasan muncul di luar. Tak peduli betapa sulitnya hal tersebut, keluhan yang benar tidak pernah lepas dari bibirnya; kecuali untuk hari ini.

"Jadi saat kamu pergi ke garis depan besok, jangan bercanda dengan memiliki pola pikir pesimis seperti itu. Kamu memerlukan sesuatu yang lebih pasti untuk dipegang teguh, alasan yang jelas mengapa kamu harus kembali ke rumah. Jika abang tidak memberi tahuku sekarang, aku pikir... aku tidak akan memiliki kekuatan untuk mengirimmu pergi dengan senyuman besok pagi. "

Pemuda itu tahu apa yang ingin adik perempuannya katakan. Dia ingin melakukan sesuatu untuk menghiburnya, tapi tetap saja, dia tidak bisa begitu saja mengumumkan rencana seperti pernikahan.

Pertama-tama, dia benar-benar membutuhkan pasangan untuk menikah, dan keputusan penting seperti pernikahan bukanlah sesuatu yang baru kau putuskan saat itu juga.

Di sisi lain, sesuatu yang konyol seperti, 'Aku akan memikirkan nama baik saat aku pergi, jadi rawat bayi kita dengan sehat, yah.' Pasti akan memberinya tamparan keras di wajahnya.

Setelah berpikir keras, pemuda itu menjawab, "kue mentega."

"Hah?"

"Yang kau panggang tadi cukup bagus. Buat yang lebih besar pada hari ulang tahunku yang berikutnya, yah?"

"Kamu akan hidup melalui peperangan dan pulang ke rumah... hanya untuk sebuah kue mentega?"

"Ada yang salah dengan permintaanku?"

"Ahh... aku berharap ada permintaan yang lebih serius, tapi..." Alicia mengelus perutnya dengan pelan dan kembali menjawab.

"Baiklah, kurasa itu baik-baik saja. Sebagai gantinya, abang harus makan kue begitu banyak sampai abang mengalami sakit perut."

Ia berusaha untuk tersenyum, meski itu menunjukkan sedikit kekacauan di dalamnya.

"Tentu saja. Serahkan saja padaku. "

Malam berlalu, setiap menit membawa pagi pada misi yang hanya memiliki tiket satu arah.

Pertempuran terakhir antara umat manusia dan Arachne semakin dekat.

Dan setelah dua tahun berlalu, pemuda itu berserta seluruh awal kapal di ISF 77 Kaguya Roosevelt dinyatakan tewas; penyesalan seumur hidup Alicia yang tidak akan pernah mengembalikan waktu yang telah berlalu.

...