.

Interstellar Nation Army Become a Merchenary

Chapter 16.1

Kota Pertama (Bagian 1)

.

.

.

Singkat cerita, setelah aku berhasil meringkus sisa penjahat yang belum kami tangkap, kami pun memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan kami yang sempat tertunda.

Pina yang berdiri tidak jauh dariku lalu menggeserkan tubuhnya sedikit dan kemudian berbisik pelan kepadaku.

"Sir Naruto, tidakkah menurutmu berbahaya untuk membiarkan orang yang tidak kenal ini duduk berdampingan dengan kita di sini?"

"Aku mengerti kekhawatiranmu, Pina. Tapi aku sudah memastikan bahwa orang ini setidaknya tidak berbohong tentang asal usulnya dan dia juga bersedia untuk membayar kita jika kita mau membawanya kembali tempat asalnya."

"Tapi…"

"Ah… tenanglah, Nona. Saya tidak memiliki maksud jahat atau hal semacamnya. Tapi jika anda merasa tidak nyaman dengan keberadaan saya maka saya akan dengan senang hati akan berganti tempat jika anda mau."

"Ti-tidak, saya tidak bermaksud seperti…" ucap Pina sambil mengibaskan kedua tangannya.

Zhave, pria dewasa berusia sekitar 40 tahun ke atas yang duduk tidak jauh dariku, melontarkan sebuah kalimat yang membuat Pina menjadi serba salah.

Ngomong-ngomong, aku pertama kali bertemu dengan pria ini di dalam sebuah penjara yang berada di dalam gua tempat persembunyian para bandit. Saat itu, Zhave memperkenalkan dirinya sebagai seorang saudagar yang bertempat tinggal di sebuah kota benteng yang secara kebetulan merupakan lokasi yang sedang kami tuju.

Awalnya dia terlihat agak syok dan mengira bahwa aku adalah salah satu rekan dari para bandit yang menangkapnya. Namun setelah aku menunjukan bukti bahwa aku bukan salah satu dari mereka, dia pun lantas berterima kasih kepadaku karena sudah menolongnya.

"Nona, ini adalah sebagian uang yang saya dapatkan dari hasil dagang saya sebelumnya. Dan jika ini bisa menghilangkan keraguan anda maka saya akan memberikannya sebagai bayaran jika anda mau mengatarkan saya kembali dengan selama ke kota."

"To-tolong hentikan, Tuan Zhave. Sa-saya tidak bisa menerima ini…"

Melihat Pina yang semakin terlihat panik, aku pun lalu memotong pembicaraan mereka dan kemudian bertanya soal kronologi mengapa dia bisa tertangkap oleh para bandit.

"Aku awalnya hendak kembali ke tempat asalku setelah menjual semua barang daganganku di kota lain, namun ketika kami hendak mamasuki hutam, aku dan rombonganku kemudian disergap oleh para bandit bersenjata."

"…apa mereka masih hidup?" tanya Pina kepada Zhave.

Zhave mengelengkan kepalanya sambil menunjukan ekspresi suram di wajahnya.

"Ada satu karyawan dan lima Tentara Bayaran yang berpergian bersamaku. Namun… semuanya terbunuh oleh para bandit. Mengingat semua itu, membuatku merasa agak sedih karena tidak dapat menolong mereka…"

Suasanya sempat hening, baik aku dan Pina memutuhkan untuk tidak bertanya lebih jauh demi menghormati perasaan Zhave.

"Para bandit itu sudah kita tangkap, jika anda mau saya bersedia untuk membantu anda untuk membalas kematian orang-orang anda."

"Tidak, tidak perlu. Biarkan saja para petugas keamanan kota yang mengurus hukuman mereka. Aku tidak ingin mengotori tanganku dengan darah." Ucap Zhave kepada kami.

"Jika anda berkata demikian maka itu akan baik-baik saja. Yah, semoga para kriminal itu mendapatkan balasan yang setimpal." Ucapku sambil menunjukan rasa simpatiku kepada Zhave.

"Terima kasih atas perhatianmu, Sir Naruto. Saya akan membalas kebaikan anda suatu hari nanti."

"Tentu. Namun sebelum itu, aku ingin memastikannya sekali lagi soal pembagian harta jarahan para bandit."

"Sir Naruto… bukankah itu sudah agak berlebihan?" tanya Pina kepadaku.

"Tak apa-apa, Nona. Saya mengerti, jadi seperti yang pernah kita sepakati sebelumnya. Saya hanya akan mengambil sebagian dari harta saya yang dirampas oleh para bandit. Sisanya akan menjadi milikmu, Sir Naruto."

Menurut hukum yang ada di negara ini, siapapun orang yang berhasil mengalahkan para bandit atau meringkus mereka maka dia akan memiliki hak atas harta rampasan mereka. Sedangkan untuk para bandit, mereka akan kehilangan hak mereka dan dipaksa menjadi budak seumur hidup.

"Apa anda tidak keberatan dengan kesepakatan ini?" tanya Pina kepada Zhave.

"Harta dan kekayaan masih bisa kita dapatkan melalui usaha, tapi itu tidak berlaku untuk nyawa. Jadi pada dasarnya, saya membayar keselamatan saya dengan harta dan itu masih sangat murah bagi saya karena bagaimanapun uang masih bisa kita cari. Bukankah begitu, Nona?"

"Benar. Jika saya diposisi anda, mungkin saya juga akan berpikir seperti itu." Ucap Pina sambil mengiyakan jawaban Zhave.

Setelah pembicaraan itu, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di dalam kereta kuda dan tidak lagi bersuara setelah itu.

Jumlah orang yang berpergian di jalan raya tiba-tiba meningkat ketika kami mulai mendekati kota.

Kami mendapatkan banyak perhatian karena antrean panjang tawanan yang diikat di belakang karavan. Beberapa dari mereka bahkan dengan sengaja memanggil kami untuk menanyakan apakah tawanan yang kami bawa adalah bandit atau bukan.

Mr. Ulazhimir berada di depan, di kursi pengemudi sementara aku, Pina, dan Zhave sadang duduk di dalam gerbong.

Aku relatif bebas jadi aku memutuskan untuk bertanya kepada Zhave tentang beberapa hal yang membuatku penasaran.

"Apakah kita membutuhkan semacam izin untuk memasuki kota?"

"Izin? Ah, mungkinkah Sir Naruto tidak bergabung dengan guild manapun?"

Aku pernah mendengar tentang guild dari Mr. Ulazhimir dan rombongannya. Pada dasarnya mereka adalah organisasi lintas negara yang berisikan orang-orang yang ahli di bidang yang mereka masing-masing, seperti Tentara Bayaran, Pedagang, dan semacamnya.

"Yah, bisa dibilang seperti itu."

"Begitukah? Tapi jika saya boleh memberi sebuah saran, maka ada baiknya jika anda bergabung ke salah satu guild. Sebab jika anda sudah terdaftar menjadi salah satu anggota, maka guild akan memberi anda semacam sertifikat yang berfungsi sebagai tanda izin masuk. Sertifikat ini berbeda dengan surat izin pada umumnya karena anda tidak akan dikenakan biaya tambahan. Sertifikat ini juga memiliki waktu izin tinggal yang lebih lama, sehingga akan sangat menguntungkan anda jika ingin menghindari pengeluaran yang berlebih di masa depan."

"Lalu, berapa yang harus saya bayar jika saya memutuskan untuk bergabung ke salah satu guild?"

"Tergantung pada guild apa yang ingin anda masuki. Tapi rata-rata biaya masuk untuk setiap guild biasanya tidak akan lebih dari lima koin perak untuk satu orang. Oh, satu lagi. Jika selama ujian anda dapat menyelesaikan beberapa tes dan memenuhi standar organisasi dalam waktu lima hari, maka uang anda akan dikembalikan kepada anda secara utuh."

Aku mengerti. Ini sebenarnya kebijakan yang cukup murah hati untuk sebuah organisasi yang serupa dengan perusahaan multi-nasional yang ada di tempat asalku.

"Lalu bagaimana dengan biaya bermalam di penginapan?"

"Harganya bervariasi tergantung pada fasilitasnya. Yang termurah ada di sekitaran harga empat koin perunggu besar, lalu satu koin perak untuk penginapan biasa dan lima koin perak jika anda memilih untuk menginap di penginapan mewah."

Kira-kira aku sudah dapat memahami gambaran umum soal harga pasar. Untuk penginapan kelas atas, mereka biasanya akan dikenai harga 5 koin perak—sudah termasuk kamar mandi. Dan jika aku memutuskan untuk tinggal di sana selama 20 hari, maka total biayanya akan senilai dengan 1 koin emas, aku kira.

"Sir Naruto. Apakah tidak apa-apa bagimu untuk menginap di mansion saya malam ini? Anda tentu saja dapat membawa orang lain bersama anda."

"Eh? Tapi…"

"Tolong, saya berutang budi kepada semua orang. Anda juga telah menolong saya dan memberi keadilan atas nama orang-orang saya yang terbunuh oleh bandit. Jadi sebagai bentuk rasa terima kasih saya, saya akan sangat berterimakasih jika anda mau menerima tawaran saya."

Yah, aku rasa ini tidak buruk juga. Pihak lain juga tidak memiliki niat buruk sehingga tak apa-apa bagi kami untuk tinggal di sana selama beberapa hari."

"Saya mengerti, saya akan mempertimbangkannya."

Kota benteng Elgeroff, sebuah kota benteng yang cukup besar dan memiliki populasi sekitar seratus ribu orang, berada di sebelah barat dari "Hutan Seribu Kematian" dan memiliki beberapa perbatasan dengan Bangsawan Wilayah yang ditugaskan oleh kerajaan untuk menjaga perbatasan negara.

Dari beberapa informasi yang aku dapat dari Zhave, kota benteng ini dipimpin oleh seorang Bangsawan Wilayah bernama Ferenc Katofianovii Elgeroff. Seorang bangsawan muda yang baru menggantikan posisi ayahnya beberapa tahun yang lalu dan menjadi Tuan Tanah di wilayah ini. Meski terbilang muda, dia dianggap sebagai orang yang cukup berkompeten untuk rata-rata orang seusianya.

Meski begitu, aku pikir dia harus berusaha lebih keras lagi jika ingin wilayahnya bisa lebih berkembang lagi.

'Tempat ini agak tidak terawat, yah?' pikirku dalam hati.

Kota ini besar—menurut standar orang-orang di dunia ini. Karena datarannya yang luas, tanahnya yang subur, dan kedekatannya dengan sungai, membuat kota ini menjadi salah satu kota yang paling padat di timur jauh Kerajaan Bersatu Austinberg-Haurelia, dengan hampir sepuluh ribu penduduk tinggal di tanah datar yang membentuk bidang segitiga. Sungai yang mengalir dari barat, dan membelah menjadi dua sebelum mengalir melewati utara dan selatan kota, mengairi banyak tanah pertanian di dekatnya dan berfungsi sebagai jalur untuk transportasi. Sisi timur kota bersandar pada tambang, yang mendukung perekonomian kota.

Tempat seperti ini yang terlihat makmur di permukaan, seharusnya menjadi kota yang layak untuk ditinggali. Namun realitanya justru tidak seperti itu—sebagian besar warga memiliki wajah yang pucat, gubuk-gubuk kayu lusuh menjamur di mana-mana, dan jalanan kota yang terlihat kotor dan berbau.

Tampaknya, peradaban makhluk cerdas yang ada di planet ini tidak begitu maju. Mungkin karena mereka hanya memprioritaskan diri mereka pada perlindungan kota dari semua jenis monster, binatang buas serta ancaman konflik bersenjata yang mungkin saja terjadi setiap saat.

Selagi memikirkan rencana apa yang harus aku ambil setelah ini, aku kemudian mengamati orang-orang yang sedang berjalan di kedua sisi.

Ada lebih banyak orang miskin dari apa aku sangka, sebagian besar dari mereka mengenakan pakaian pendek dengan beberapa bekas jahitan yang sepertinya dijahit secara asal. Terlebih lagi, hanya ada sebagian kecil penduduk kota yang mengenakan sepatu, sebagian yang lain membalut kaki mereka dengan semacam kain, sementara orang-orang yang lebih miskin berjalan dengan kaki telanjang.

Meski aku tidak asing dengan pemandangan yang semacam ini, namun tetap saja aku merasa agak risih juga dengan realita yang ada di hadapanku.

Di beberapa koloni umat manusia yang tersebar di seluruh sistem bintang yang pernah aku kunjungi sebelumnya, hal-hal semacam ini hampir selalu ada dan tidak pernah berubah sama sekali, yaitu kemiskinan.

Dimulai dari suatu masa ketika sekelompok manusia yang memutuskan untuk tidak lagi hidup secara nomaden dan mulai mendirikan perkampungan pertama di dekat sungai yang menjadi awal dari peradaban manusia. Saat itu, manusia masih hidup secara berdampingan dengan sesama kelompoknya, saling berbagi makanan ketika sudah masa panen, saling menjaga dari ancaman eksternal, dan saling melindungi tanpa memandang siapa mereka. Namun seiring dengan berjalannya waktu, sistem pemerintahan pun mulai diperkenalkan bersama dengan model transaksi baru yang melibatkan uang logam maupun uang kertas. Perlahan namun pasti, masyarakat yang dulunya hidup dengan semangat gotong royong kini mulai berubah menjadi masyarakat yang individualis dan materialistis.

Kejam? Yah, itu memang kejam. Namun suka atau tidak, 'kekejaman' seperti inilah yang mendorong umat manusia hingga mampu mencapai peradaban tinggi yang mampu menjangkau tingginya angkasa dan kemudian mengekspoitasinya seperti yang pernah mereka lakukan di tanah para leluhur mereka yang ada di Planet Bumi.

"Zhave, boleh aku bertanya sesuatu?"

"Tentu, jika saya bisa menjawabnya."

"Lalu kalo begitu, bisakah kamu menjelaskan alasan kenapa semua orang tidak berjalan di jalan yang sama?"

Zhave menatapku dengan tatapan aneh, namun dengan segera dia memalingkan kepalanya sebentar ke arah orang-orang yang berjalan di kedua sisi kami dan kemudian menjawab.

"Itu karena ada semacam aturan tak tertulis yang secara tidak langsung membagi masyarakat menjadi beberapa kasta—" Ucap Zhave sambil mengamati orang-orang yang berjalan di kedua sisi karavan.

"—Orang-orang yang berjalan di kedua sisi jalan kita adalah para budak yang biasanya bekerja di tambang. Sedangkan mereka yang berjalan di daerah pinggiran jalan adalah orang-orang miskin yang bebas. Alasan mengapa mereka tidak diizinkan berjalan di jalan utama adalah karena mereka tidak dapat menyumbangkan uang mereka untuk biaya perbaikan jalan. Sedangkan orang-orang yang berjalan di jalan utama adalah "warga kota" yang sah, pedagang asing atau tentara bayaran. Simpelnya, selama anda punya uang, maka anda diizinkan untuk untuk menggunakan jalan utama."

Aku ingat bahwa salah satu perwakilan karavan yang sedang aku tumpangi ini telah membayar sejumlah koin kepada penjaga di gerbang sebelum kami diizinkan masuk ke dalam kota.

—Itu pasti semacam pajak, gumangku dalam hati.

"Sir Naruto, apakah ada yang salah?"

Pina, yang sepertinya menyadari perubahan ekspresiku, kemudian bertanya dengan nada yang agak khawatir.

"Tidak, tidak apa-apa." Ucapku sambil mengelengkan kepala.

Aku pikir ini terlalu berlebihan untuk memaksakan perspektifku sebagai makhluk ekstraterestrial yang tidak memiliki keterikatan dengan planet ini. Terlebih lagi, ada beberapa hal yang menurutku jauh lebih penting untuk diselesaikan alih-alih menghakimi sesuatu yang bukan menjadi urusan serta tanggungjawabku.

Setelah merenung cukup lama, aku pun kembali menatap kearah Pina dan kemudian berkata.

"Pina, apakah kamu mempunyai sesuatu yang ingin kamu lakukan setelah kita membereskan urusan kita nanti?"

Pina terdiam sejenak, tapi sepertinya dia sudah memiliki beberapa rencananya sendiri.

"Sebenarnya saya belum memikirkannya secara spesifik, tapi untuk sekarang kita bisa mencari tempat penginapan terlebih dahulu. Takutnya jika kita tidak segera mencari penginapan, kita mungkin tak akan kebagian kamar untuk kita diami nanti."

"Soal penginapan kamu tidak perlu khawatir. Tuan Zhave sudah bersedia untuk menampung kita di kediamannya untuk sementara waktu, jadi kita hanya perlu fokus untuk segera bergabung ke salah satu guild dan baru deh setelah itu kita bisa mencari penginapan lain, setuju?"

"Setuju."