...
Setelah berendam cukup lama, kami pun memutuskan untuk keluar dan mengeringkan diri kami dengan handuk.
Sebelum kami meninggalkan kamar mandi, Domineff, kepala pelayan yang awalnya kami temui di depan kediaman Zhave, terlihat sedang menunggu kami di ruang ganti.
"Saya telah menyiapkan pakaian ganti untuk kalian, Tuan-tuan. Dan sebagai tanda keramahan kami, ijinkan saya untuk mengambil pakaian kalian untuk kami cuci."
"Ah, tentu. Terima kasih."
Itu layanan yang bagus. Aku menyeka tubuhku dengan handuk dan menggantinya dengan pakaian yang sudah mereka siapkan untuk kami. Mereka memiliki jenis pakaian yang serupa dengan apa yang dikenakan oleh para pelayan yang ada di dalam mansion, tetapi lebih mewah.
Setelah kami meninggalkan ruang ganti, Domineff lalu mengantarkan kami ke ruangan sebelumnya.
"Bagaimana dengan kamar mandinya, Sir Naruto?"
"Itu bagus. Sudah lama sejak saya mandi di alam terbuka, jadi saya sangat menikmatinya."
Kami pun dipersilahkan untuk duduk di kursi yang sudah disiapkan sebelumnya oleh para pelayan.
"Saya telah mengatur agar kita bisa makam malam bersama keluarga serta karyawan saya di satu meja makan. Tapi jika kalian keberatan, maka saya bisa membatalkannya segera."
"Tentu saya tidak keberatan, Mr. Zhave. Meski saya biasanya lebih suka suasana yang tenang, tapi berhubung kami adalah tamu di sini maka saya akan lebih memprioritaskan kenyamanan semua orang." Ucapku.
"Berhubung saya memang kurang suka dengan suasana formal, mengadakan jamuan makan yang meriah seperti ini ada bagusnya juga."
Para pelayan kemudian melanjutkan tugas mereka yang sempat tertunda. Di sela-sela pembicaraan, Pina pun tiba tempat penjamuan. Dari apa yang bisa aku lihat, Pina mengenakan semacam gaun one-piece yang senada dengan warna rambutnya.
"…ba-bagaimana menurutmu, Sir Naruto?"
Aku terpada oleh kecantikannya. Meski kami sudah menghabiskan waktu bersama selama beberapa minggu ini, aku belum pernah melihat Pina mengenakan pakaian apapun selain jirah besinya.
"Ehm… kamu terlihat sangat cantik, Nana. Saking cantiknya, sampai-sampainya aku sempat mengira bahwa kamu adalah orang lain."
"Terima kasih…"
Setelah mendengar pujianku, Pina tampak sedikit malu. Sesekali kedua matanya akan mencuri pandang ke arahku, ketika aku ingin membalas tatapannya, Pina buru-buru mengalihkan penglihatannya ke samping.
"Ehem…" terdengar suara batuk yang dibuat-buat yang berasal dari Ulazhimir.
Tak ingin terus-terusan menjadi pusat perhatian, Pina secara terburu-buru langsung duduk di sebuah kursi yang berada tepat di sampingku. Sedangkan aku memilih untuk kembali fokus pada penjamuan makan sambil meminta maaf kepada Zhave.
"Tidak apa-apa, lagipula wajar bagi pria sepertimu untuk memuji wanita yang kamu suka, apalagi jika mereka bela-belain untuk memakai gaun maupun perhiasan tertentu demi menyenangkan hati kita. Bukan begitu, Sri Naruto?" ucap Zhave sambil basa-basi.
"…yah, begitulah." Balasku singkat.
Selain aku, Pina, Ulazhimir, Zhave dan beberapa pelayan. Ada juga orang-orang, yang aku asumsikan sebagai anggota keluarga Zhave, masuk satu demi satu. Mereka semua kemudian duduk di depan meja yang sama dengan kami.
Ada seorang wanita yang sepertinya merupakan istri dari Zhave, seorang pria yang tampaknya berusia dua puluh tahunan dan seorang gadis yang tampatnya berusia sekitar empat belas tahun.
"Saya istri Zhave, Lioneffa. Dan ini putra dan putri kami, Baileff dan Ilvy."
"Saya Baileff."
"Saya Ilvy."
Kami juga memperkenalkan diri.
"Namaku Naruto, lalu gadis yang ada di sampingku ini adalah Nana. Sedangkan pria yang duduk di sana itu namanya Ulazhimir."
Pina memperkenalkan dirinya dengan cara elegan, lalu diikuti oleh Ulazhimir yang juga membungkukan dirinya dengan cara yang sopan.
"Saya sangat berterima kasih karena kalian sudah menyelamatkan suami saya. Dia pasti akan terbunuh jika Sir Naruto dan yang lainnya tidak menyelamatkanya tepat waktu."
"Tidak, saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan. Jadi tolong angkat kepalamu, Nyonya Lioneffa."
"Baiklah. Karena kalian sekarang sudah saling mengenal, bagimana jika kita mulai saja acara makan kita. Nanti makanannya keburu dingin, loh." Ucap Zhave untuk mencairkan suasana.
…
Semua orang duduk di kursi yang sama tanpa memandang siapa diri mereka. Baik itu pedangan, orang kaya, pengembara maupun pelayan—kami semua bersulang di depan meja makan.
"""Bersulang!"""
Semua jenis hidangan baru dibawa keluar satu demi satu oleh para pelayan. Semuanya dihidangkan secara rapi di atas piring besar. Ini benar-benar penjamuan besar, dan terserah kami untuk mengambil sebanyak apa yang bisa kami makan.
Aku melanjutkan untuk mendapatkan beberapa hidangan sambil menjaga perilakuku. Semua hidangan ini didominasi oleh hidangan berbahan daging, telur, salad, roti dan sebagainya.
Pina tidak bergerak pada awalnya, tapi pada akhirnya dia pun mengambil beberapa makanan dari atas piring sambil menyusul aku dan Ulazhimir yang telah menyantam hidangan kami.
Tidak seperti saat kami berada di dalam hutan, Pina tidak melahap semua makanan seperti penyedot debu. Sebagai gantinya, Pina memakan sedikit demi sedikit hidangan yang ada di depannya dengan elegan. Meski begitu, kecepatan makannya sangatlah cepat. Apakah dia benar-benar selapar itu?
Setiap hidangan yang ada di atas meja terlihat lezat, tidak kalah dengan jenis hidangan yang kadang aku temui di beberapa koloni umat manusia di luar angkasa. Meski aku tidak melihat proses memasaknya secara langsung, tapi jelas bahwa setiap hidangan yang ada dihadapan kami ini dibuat dengan penuh ketelitian.
Sejak aku terdampar di planet ini, aku hanya menyantap hidangan yang bersifat dasar dan hampir tidak ada penyedap rasa maupun rempah-rempah selain garam dan sejenisnya. Jadi mencicipi rasa yang kompleks ini adalah pengalaman yang cukup menyegarkan.
Zhave juga makan denga cukup lahap. Sepertinya dia belum makan yang layak sejak dikurung oleh bandit.
Ini cukup menyenangkan. Sudah lama sejak aku memiliki pengalaman makan bersama seperti saat ini.
"Bagaimana dengan hidangannya, Sir Naruto? Apakah hidangan kami sesuai dengan seleramu?"
"Ini cukup mengesankan, saya sangat menikmatinya. Meski menurutku ada yang perlu ditingkatkan lagi, tapi ini sudah cukup melebihi ekspetasi saya."
"Penilaian anda cukup tajam, Sir Naruto. Apakah mungkin anda juga pernah bekerja sebagai juru masak sebelumnya?"
"Tidak, belum pernah. Tapi saya suka memasak dan sering memasakan hidangan kepada anggota keluarga dan teman terdekat saya. Ngomong-ngomong, bisakah saya menanyakan soal bumbu apa yang digunakan oleh koki anda nanti?"
"Tentu saja, Sir Naruto! Saya memang punya toko kelontong. Kami memiliki setiap bahan terbaik yang saya jual sebagai barang dagangan. Jika anda mau, saya bisa mengantarkan anda ke area daput kami setelah kita selesai makan."
"Tentu, saya akan sangat menantikannya."
"Wow, sunggu jarang ada pria yang memiliki hobi memasak! Kalo boleh saya tau, hidangan seperti apa yang bisa anda buat, Sir Naruto?" tanya Ny. Lioneffa.
"Yah, hanya beberapa variasi sup, saya kira. Karena bumbu dan bahan yang bisa saya gunakan terbatas, akhir-akhir ini saya hanya bisa memasak hidangan berbahan dasar daging dan sayuran. Mungkin jika bahannya cukup, saya bisa membuat hidangan yang lebih bervariatif seperti manisan dan semacamnya."
"Mmn… manisan yah? Kedengarannya bagus juga, tapi bagaimana menurutmu, sayang? Apakah kamu juga ingin mencicipinya manisan buatan Sir Naruto?"
"Nah, itu semua tergantung oleh keputusan Sir Naruto. Lagipula kurang etis bagi kita jika kita meminta seorang tamu untuk membuatkan kita hidangan, bukan?"
"Tidak apa-apa, Tuan Zhave. Anggap saja ini sebagai bentuk terima kasih saya karena sudah diizinkan untuk tinggal sementara di kediamanmu."
Apakah mereka punya semacam gula di penyimpanan dapur mereka? Bagaimana dengan susu? Hm… bisa jadi buruk jika mereka tidak memilikinya. Tapi jika itu benar maka aku perlu menyesuaikan bahan agar bisa memperoleh rasa yang mendekati hidangan asli.
…
