.
How to Ex-Interstellar Nation Army to Building Kingdom
Chapter 17
Pengakuan yang Samar (Bagian 2)
.
.
.
—Itu adalah pedang yang sangat terbakar.
Itu ditempa oleh logam khusus yang dapat menyerap kekuatan sihir dari penggunanya. Energi padat yang mengelilingi senjata itu terus menerus menghasilkan panas yang tidak ada habisnya, menyebabkan suhu yang berada di sekeliling pedang tersebut menjadi sangat panas.
Tak jauh dari pedang itu, berdirilah seorang gadis bersurai berambut merah yang mengenakan setelan jirah. Setelan itu menutupi hampir seluruh bagian dari tubuhnya kecuali bagian kepala.
Dengan kedua tangannya, dia menarik pedang itu ke atas secara perlahan. Setiap kali dia menariknya, tercium bau daging hangus yang sangat tidak sedap. Tidak ada kemarahan yang terpantul di kedua matanya, hanya ada perasaan iba dan juga frustasi.
Kekuatan cengkeraman yang dia miliki sudah sangat melemah. Bahkan di saat ini pun dia nyaris tidak dapat berdiri dengan kedua kakinya sendiri.
Sambil memejamkan mata, gadis itu lalu mengerahkan semua tenaganya yang masih tersisa untuk menarik ujung pedang itu dari dasar seongkong daging yang sudah tidak bernyawa lagi.
"Proshu proshcheniya..."
("Maafkan aku...")
Kata itu keluar dari mulutnya, dia tidak tau sudah keberapa kalinya dia mengucapkan kata tersebut. Dia terus menatap iba saat dia kembali mengambil ancang-ancang untuk menarik pedang itu ke atas.
Setelah pedang itu berhasil dicabut, dia lantas memilih untuk pergi meninggalkan tempat itu seolah seperti tidak terjadi apa-apa.
Gadis itu berjalan dengan perasaan tertekan, merasa tidak berdaya dan bersalah di saat yang sama. Meskipun dia tidak berniat untuk membunuh orang yang baru saja ia bunuh, namun takdir berkata lain. Dia merasa dibebani oleh rasa bersalah dan dia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Dia merasa seperti telah kehilangan semua tujuannya, dan hanya ada kebingungan di dalam kepalanya.
Gadis itu tidak tahu seberapa jauh dia berjalan, tapi pada akhirnya dia sampai di suatu tempat yang terlihat seperti sebuah rumah kosong yang ditinggalkan oleh pemiliknya. Karena dia merasa sudah terlalu lelah untuk kembali melangkah, jadi dia memutuskan untuk masuk dan beristirahat di dalam sana untuk sementara waktu.
Walaupun dia sering menghadapi banyak pertempuran dan rintangan dalam hidupnya, dia merasa dirinya tidak siap untuk menghadapi musim dingin yang tidak pernah berakhir ini. Dia merasa seolah-olah setiap langkah yang dia ambil hanya mengarah pada kekacauan yang lebih parah.
Meskipun dia merasa putus asa dan tidak tahu lagi harus berbuat apa, dia tidak bisa hanya berdiam diri dan tidak memikirkan nasib semua bawahannya. Dia memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi untuk memastikan bahwa setiap orang yang dia pimpin dapat bertahan hidup di tengah musim dingin. Namun, pada kenyataannya tidak sedikit dari mereka yang meninggal dunia karena menderita radang dingin yang akut.
Dia tidak dapat sepenuhnya menyalankan orang-orang yang berada di bawah komandonya. Semua orang sudah terlalu lelah untuk meneruskan konflik, bahkan untuk makan saja mereka susah. Hal ini kemudian diperburuk oleh gagal panen yang disebabkan oleh udara dingin yang berasal dari kutub utara.
Perang memang tidak bisa dimenangkan hanya dengan perbekalan, tapi perang tidak akan bisa dimenangkan tanpa adanya perbekalan.
Jika ini terus berlanjut, maka tidak menutup kemungkinan bahwa mereka akan benar-benar dikalahkan oleh musuh.
'Apa yang harus aku lakukan?' gadis itu bertanya pada dirinya sendiri dengan suara yang terdengar sangat lemah.
Jalan hidup yang dia lalui dipenuhi oleh darah dan air mata. Setiap langkah yang dia ambil selalu diiringi oleh rasa sakit dan keputusasaan. Dia tidak tahu harus kemana dan tidak tahu harus bertemu siapa. Dia merasa seperti dia telah kehilangan semua tujuannya dan dia tidak tahu bagaimana cara untuk melanjutkan hidupnya lagi.
'Jika aku mengakhiri hidupku sekarang, apakah aku akan dilahirkan kembali?'
Gadis itu terus bertanya kepada dirinya sendiri. Dia tidak tahu apakah itu akan menjadi jawaban atas semua pertanyaannya. Namun dengan segera dia menepis semua pikiran buruk itu dan kembali ke dirinya yang awal.
'Jika aku mati sekarang, siapa yang membalaskan dendam keluargaku? Siapa yang akan meneruskan perjuanganku jika bukan aku sendiri yang melakukannya? Aku sudah kehilangan begitu banyak orang yang aku kasihi, aku tidak ingin kehilangan siapapun lagi.'
Gadis itu merasa terbebani oleh pikiran-pikiran yang terus menerus menghantui dirinya. Namun, dia tahu bahwa dia tidak bisa hanya diam saja dan terus meratapi nasibnya. Dia tidak ingin kehilangan siapapun lagi, dia tidak ingin orang lain bernasib sama sepertinya. Dia harus menemukan cara untuk melanjutkan hidupnya, meskipun itu akan terus melukainya seumur hidup.
"Kto? (Siapa?)" Ucap gadis itu dengan datar.
Terdapat sepuluh orang yang mengelilinginya, gadis itu baru saja menyadari keberadaan mereka setelah dia berhenti melamun.
Gadis itu secara sensitif bisa merasakan niat membunuh yang kuat dari kesepuluh orang itu, dia bisa merasakan bahwa hidupnya sekarang benar-benar berada di ujung tanduk.
"Gospodin Printsessa Pina Mol'yevna, verno?"
("Tuan Putri Pina Molyevna, bukan?")
Pria yang tampaknya merupakan perwakilan dari kesepuluh orang itu lalu bertanya dengan suara dingin, sementara rekan-rekannya yang lain sudah menghunuskan ujung pedang mereka ke arah Pina
Tidak mungkin mereka hanya sekedar bandit yang nyasar ke tengah medan perang, pikir Pina dalam hati.
"Dumat', chto vy deystvitel'no zatrudnilis', chtoby priekhat' syuda tol'ko radi togo, chtoby ubit' menya, dolzhen li ya vam otpravit' pohvalu?"
("Untuk berpikir bahwa kalian benar-benar menyusahkan diri kalian untuk datang jauh-jauh ke sini hanya untuk membunuhku, haruskah aku memberi kalian sebuah pujian?")
"Ubey ego."
("Habisi dia.")
Sang pemimpin lalu memberi aba-aba untuk menyerang Pina dari berbagai sisi.
"Segodnya u menya plokhoye nastroenie. Tak chto ne rasschityvayte na to, chto ya budu delat' vam milosti."
("Aku sedang dalam mood yang jelek hari ini. Jadi jangan harap aku akan memberi kalian belas kasih.")
Pria pertama yang memberi perintah singkat sebelumnya lalu bergegas ke depan sambil menghunuskan pedangnya ke arah Pina.
Jalan keluar telah diblokir dari semua arah, kelompok yang terdiri dari sepuluh orang itu sudah bisa membayangkan bagaimana Pina akan ditikam sampai mati oleh pemimpin mereka.
Pina tidak tinggal diam, dia segera bergerak, mengaktifkan sihir penguatan dan kemudian menghindar ke arah samping. Tak lupa dia menarik pedang yang sedari tadi ia genggam dan lalu mengayunkannya dengan sekuat tenaga.
Pria pertama yang menyerang Pina dari sebelah kiri itu tidak mampu menghindar dari tebasan Pina. Dia harus menerima konsekuensi dari keputusannya dan kemudian tewas dengan luka sayatan besar yang nyaris membelah tubuhnya menjadi dua.
Setelah menyaksikan kematian dari pemimpin mereka, para pria itu membutuhkan beberapa waktu sampai mereka menyadari bahwa pengepungan mereka telah digagalkan.
"Ne toropis'! On ispol'zuyet usilivayushchiy zaklinaniye!"
("Jangan gegabah! Dia menggunakan sihir penguatan!")
Mereka memanfaatkan keunggulan jumlah mereka, tetapi kecepatan adalah musuh alami mereka.
Jika target hanya memiliki keterampilan atau kekuatan fisik yang sangat baik, maka para pembunuh itu setidaknya dapat saling berkondinasi agar bisa melumpuhkan target mereka dengan sedikit kerugian.
Namun sayangnya target yang ingin tuan mereka bunuh ternyata lebih unggul dan lebih hebat dalam hal kecepatan, mereka terjebak ke dalam kondisi dimana mangsa mereka yang awalnya mereka incar berubah menjadi pemangsa yang berbalik untuk memangsa mereka.
"Vy dumayete, chto smozhete ubit' menya tol'ko s etim?"
("Apakah kalian berpikir kalian bisa membunuhku hanya dengan ini?")
Pina menginjak kepala pemimpin mereka yang sudah tewas hingga isi dari kepala itu pecah dan tumpah ke mana-mana. Dia juga menerjang maju ke arah dua pembunuh yang tidak sempat menghindar dan berhasil menghabisi mereka berdua dengan tebasan kilat.
"Ne pozvolyayte emu ubezhat'! Ubeyte printsessu, dazhe yesli eto potrebuet ot vas zhertvy!"
("Jangan biarkan dia kabur! Bunuh putri itu bahkan jika itu harus mengorbankan hidup kalian!")
"Kto tozhe khotel by ubezhat' ot vas, kha-kha?!"
("Siapa juga yang ingin melarikan diri dari kalian, hah?!")
Pina melemparkah dirinya ke arah para pembunuh itu dengan provokasi yang dia segaja. Salah seorang dari mereka marah karena gadis itu telah meremehkan mereka dan ingin segera menikam Pina dengan senjatanya, namun itu dapat dengan mudah dihindari oleh Pina. Setelah menunggu momentum yang pas, dia lalu membantai tiga dari tujuh pembunuh yang masih hidup.
Jumlah pembunuh yang masih tersisa sekarang telah berkurang menjadi empat orang.
"Otstoy! Slishayte vse! Nikto iz nas ne dolzhen dumat' o tom, chtoby vernut'sya domoy zhivymi! My budem zhertvovat' svoi zhizni zdes'!"
("Bangsat! Dengar semuanya! Jangan satupun dari kita berpikir untuk pulang ke rumah hidup-hidup! Kita akan mengorbankan hidup kita di sini!")
"""Radi pobedy!"""
("Demi kemulian!")
"K sozhaleniyu, u menya net objazannosti pozvolyat' vam ubyvat' menya."
("Sayangnya aku tidak memiliki kewajiban untuk membiarkan kalian membunuhku.")
Selain naluri alamiah dan kemampuan fisiknya, Pina juga telah diajarkan analisis dan taktik pertempuran serta ilmu pedang dan tombak oleh masternya selama bertahun-tahun. Tidak mungkin dia bisa dikalahkan hanya karena musuh menyerangnya dengan taktik bunuh diri.
Kesenjangan antara dia dan musuhnya juga sangat lebar bahkan pada pertempuran satu lawan satu. Menciptakan ketidak seimbangan yang seketika membunuh semua orang yang ada di sana, kecuali Pina.
—Traaassh!
Pina menusukkan pedangnya ke arah jantung pembunuh terakhir dan kemudian menyayatnya tanpa ampun.
"Vou, eto bylo ochen' veseloe shou."
("Wow, sungguh tontonan yang sangat menghibur sekali.")
Suara seorang pria tiba-tiba datang dari arah yang tidak terprediksi oleh Pina. Fakta bahwa dia mengabaikan kehadiaran dari sosok tersebut sampai sekarang membuat Pina mau tidak mau harus kembali masuk ke dalam mode bertempurnya sekali lagi.
"—Kto? (Siapa?)"
"Tol'ko odin naemniy voin, nanatyy v kachestve strakhovki, esli rytsari, kotoryye tam, ne smogut ubyt' tebya."
("Hanya seorang tentara bayaran yang disewa sebagai asuransi jika ksatria-ksatria yang ada di sana gagal untuk membunuhmu.")
Telinga hewan yang cukup asing, sangat jarang bagi Pina untuk melihat orang-orang yang memiliki ciri-ciri fisik seperti ini di Kekaisaran Saderan.
Ini adalah pertama kalinya Pina bertemu dengan seorang beastman.
Insting Pina berulang kali memberitahunya bahwa pria yang berdiri di hadapannya ini sangat berbahaya. Menyadari akan hal itu, pria itu lalu sedikit mengangkat sudut bibirnya dan kemudian berkata.
"Khou, u tebya khoroshiy instinkt. Ty, vozmozhno, smozhesh' stat' namnogo sil'neye cherez tri ili pyat' let."
("Hou, kamu punya naluri yang bagus. Kamu mungkin bisa menjadi jauh lebih kuat lagi dalam tiga atau lima tahun lagi.")
"Mozhesh' li ty molchat'!"
("Bisakah kau diam!")
Pina tahu bahwa pria yang ada di hadapannya bukanlah seseorang yang bisa dia tangani dengan mudah. Namun karena sifatnya yang masih belum dewasa, membuat Pina menjadi sosok yang masih sulit untuk berpikir kritis sehingga hal ini dimanfaatkan oleh lawannya untuk mencelakakannya.
"Yo!"
"—?!"
Keseimbangannya dengan mudah hancur dan punggungnya lalu membentur permukaan tanah dengan sangat keras. Pina nyaris tidak mengambil sikap untuk melindungi dirinya sendiri dari dampak yang disebabkan oleh lawannya.
"Kazhetsya, ty ne privyk borot'sya s kem-to, kto sil'neye tebya. Skoreye vsego, ty privyk borot'sya tol'ko s razboynikami na rynke, ne tak li?"
("Sepertinya kamu tidak terbiasa untuk bertarung dengan seseorang yang jauh lebih kuat darimu. Paling-paling kamu hanya terbiasa bertarung dengan preman-preman yang ada di pasar, bukan?")
Tentu saja Pina tidak selemah yang dikatakan oleh pria itu. Gadis itu sudah berulang kali berurusan dengan banyak ksatria kuat di berbagai kesempatan sejak perang itu pecah. Namun dia juga harus mengakui bahwa dia memiliki banyak kekurangan, terutama jika musuh yang dia lawan memiliki teknik bertarung yang sangat tidak biasa seperti pria itu.
"Kazhetsya, u tebya khoroshiye glaza, no u tebya tol'ko polovina puti, esli ty ne mozhesh' imi vospol'zovat'sya!"
("Sepertinya kamu punya mata yang bagus, namun kamu hanya memiliki setengah jalan jika kamu tidak dapat memanfaatkannya!")
"Arghh!"
Tubuhnya tidak dapat mengikuti tipuan terampil pria itu.
Pina nyaris tidak dapat membalas serangan, luka-luka sayatan dengan berbagai ukuran terus terukir di berbagai sudut tubuhnya.
Perlahan-lahan, kesadarannya menjadi semakin kabur karena kehilangan banyak darah. Dia terus berusahan untuk menahan serangan dari pria itu hanya dengan instingnya saja.
'Apakah ini akhir hidupku?'
Dia tidak merasa seperti dia bisa menang dari pria itu. Di sisi lain, keahlian berpedang yang sangat dia bangga-banggakan selama ini tidak banyak membantu dan dapat dengan mudah dipecundangi oleh lawannya.
'Bahkan jika aku selamat...'
Mungkin yang paling bisa dia lakukan hanyalah terus menjadi beban bagi orang lain. Tidak ada yang akan peduli dengan seorang mantan tuan putri cacat yang kehilangan semua statusnya karena kalah perang. Dia hanya akan berakhir menjadi gelandangan yang akan terus diludahi seumur hidupnya dan kemudian mati tanpa sempat untuk membalaskan dendam.
Ketika Pina hampir benar-benar menyerah, beberapa ingatannya di masa lalu kembali muncul di dalam benaknya seperti layaknya sebuah film. Ingatan-ingatan itu memperlihatkan berbagai kejadian, mulai dari yang bisa dia ingat sampai ingatan yang tidak pernah dia ingat sebelumnya.
'Prodolzhay zhit', Pina.'
('...Teruslah untuk hidup, Pina.')
'Aku tidak boleh mati!'
Pina menepis pedang pria itu dengan seluruh kekuatannya.
Ayah, Ibu, dan saudara saudarinya meregang nyawa di saat ibukota dilahap oleh api pemberontakan. Dia terus dihantui oleh perasaan bersalah karena tidak dapat menyelamatkan seluruh anggota keluarganya. Dia ingin membalaskan dendam mereka dan merebut kembali kekaisaran yang saat ini dikendalikan oleh para bangsawan yang serakah. Tidak mungkin baginya untuk menyerah setelah dia berjuang sejauh ini, bukan?
'Tapi bagaimana caraku untuk mengalahkannya dengan keterampilan yang lebih rendah ini?' Pina bertanya kepada dirinya sendiri.
Menjadi lebih tajam! Lebih cepat! Keluarkan serangan yang tidak mungkin bisa dilampaui hanya dengan keterampilan saja!
Pina terus mengharapkan kekuatan selama ini. Namun bukan hanya itu, kekuatan yang dia cari sebenarnya sudah ada di dalam dirinya. Cita-cita terkuat yang dia dambakan, keserakahan serta obsesi terhadap kekuatan yang dapat memutar balikan semua kenyataan kejam yang ada di dunia ini.
'Lebih kuat! Lebih kuat! Lebih kuat! Lebih kuat! Lebih kuat!' Teriak Pina dalam hatinya.
Kekuatan yang selama ini tertidur di dalam dirinya telah terbangun. Kekuatan terkuat untuk melindungi semua orang yang penting baginya.
"Zhdi?! Usilivayushchiy zaklinaniye? Ne eto, nevozmozhno?! Kak ty mozhesh' otkryt' Vrata Tirana?!"
("—Tunggu?! Sihir Penguatan? Tidak ini, tidak mungkin?! Bagaimana bisa kau membuka 'Gerbang Raja Tiran'?!")
Pria itu terkejut saat melihat bayangan dari seorang wanita luar biasa yang muncul dari dalam diri Pina. Wanita itu sangat kuat, lebih kuat dari semua monster yang dia ketahui. Sialnya lagi, wanita itu adalah orang yang sudah lama dia kenal jauh sebelum dia menginjakan kakinya di negeri ini.
Dengan senyum yang sinis di wajahnya, Pina menatap wajah pria itu dengan penuh kekejaman layaknya seorang tiran yang tidak mengenal belas kasih.
"Umri!"
("Matilah!")
Pria itu tertegun saat melihat Pina yang sekarang telah memancarkan aura kekuatan yang luar biasa.
"Ty... ty yavlyayesh'sya..."
("Kau... Kau adalah...")
Pria itu tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Pina menepis pedang pria itu dengan seluruh kekuatannya.
"Ya yavlyayus' Pina Molyevna Saderani, Vashe Printsessa Poslednyaya iz Dinastii Saderani!"
("Aku adalah Pina Molyevna Saderani, Tuan Putri Terakhir dari Dinasti Saderan!") Teriak Pina dengan nada yang tak terkalahkan.
—Trasshhh!
"Argh!"
Sesuatu yang panas seperti luka bakar menggenang di dalam dan kemudian diikuti oleh rasa sakit yang sangat menyiksa.
Itu adalah serangan yang sangat jujur dan tanpa tipuan. Walau begitu, dia tidak bisa mengelak atau menangkisnya meski dia melihatnya—itu adalah serangan tingkat tinggi yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang terpilih, sesuatu yang tidak dapat dicapai hanya dengan usaha.
"O Bozhe, ya ne ozhidal uvidet' zdes' takogo cheloveka kak ty—"
("A-astaga, tak kusangka a-akan bertemu dengan o-orang sepertimu di tempat se-semacam ini—" )
Itu pasti luka yang sangat mematikan, pria itu menyadari hal ini dari pengalamannya.
"Ty, naverne, sluchaino otkril Vrata Tirana. Bandit! Yesli by ya znal eto, ya ne soglasilsya by na takoye zapros..."
("—Ka-kau pasti secara tak sengaja me-membuka Gerbang Raja Tiran. Bangsat! Ji-jika saya aku tahu ini, a-aku tidak akan mau me-menerima permintaan se-semacam ini...")
"Vrata Tirana?"
("Gerbang Raja Tiran?")
Pina memiringkan sebelah alisnya tanda tak paham. Ini adalah pertama kalinya gadis itu mendengar istilah semacam itu. Entah itu hanya sekedar pengalih perhatian atau tidak, Pina tetap menjaga kewaspadaannya sambil terus membenamkan pedangnya di dalam daging pria itu.
Pria itu lantas mengerang kesakitan sambil tersenyum merendahkan diri, tidak menyangkan bahwa dia akan dikalahkan oleh seseorang yang jauh lebih muda darinya.
"Ty khochesh' stat' sil'nee...?"
("Apakah ka-kamu ingin menjadi le-lebih kuat...?")
Ada jeda selama beberapa detik di antara mereka. Setelah memikirkannya secara matang, Pina lalu mengangkat suara dan kemudian menjawab.
"Da (Iya)."
Demi membalaskan dendamnya, dia akan melakukan apapun yang bisa dia lakukan untuk menjadi lebih kuat. Itulah satu-satunya tujuan Pina yang masih tersisa.
"Esli ty smozhesh' vyzhit' v etoy okruzhayenii, to uydi v gorod Khančzhú, raspolozhennyy k severno-vostoku ot Korolevstva Gadjana. Tam zhivyot stara zhenshchina po imeni Tsetyan Zhikanovna Vuskyna. Esli moye chutye ne obmanyvaet menya, skoree vsego, ona tvoya babushka."
("Ji-jika kamu dapat selamat da-dari pengepungan ini, pe-pergilah ke kota Khančzhú yang berlokasi di ti-timur laut dari Kerajaan Gajan'. Di sana a-ada seorang wanita tua bernama Tsetyan Zhikanovna Vuskyna. Ji-jika naluriku benar, kemungkinan besar di-dia adalah nenekmu.")
"Kak ty mog doyt' do takogo vyvoda?"
("Bagaimana bisa kau menyimpulkannya sejauh itu?") Tanya Pina dengan nada yang tidak percaya.
"Ya ne znayu podrobnostey. No esli ty kogda-nibud' rassmatrival svoye rodoslovie, to, navernoe, zametil, chto tam chto-to ne tak..."
("A-aku tidak tahu rinciannya. Tapi ji-jika kamu pernah memeriksa silsilah keluargamu, ka-kamu pasti akan menyadari ada yang salah di sana...")
Di masa kecilnya, Pina yang pada saat itu masih berusia enam tahun pernah mengunjungi mansion milik keluarga ibunya beberapa kali. Di sana, Pina sering kali melihat sebuah lukisan yang tergantung di dalam kamar kakeknya. Lukisan itu menunjukkan seorang pria yang sedang merangkul seorang wanita bersurai merah yang sangat mirip dengan Pina maupun ibunya.
Kakek Pina, Viscount Volodinov, sering memandangi lukisan itu dalam keheningan. Dia bahkan sering menghela napas panjang berulang kali sebelum pada akhirnya dia pergi dan meninggalkan lukisan tersebut. Baik kakek maupun ibunya enggan untuk menceritakan siapa wanita yang ada di dalam lukisan itu. Para pelayan yang bekerja di mansion kakeknya pun juga sama, mereka sering kali menghindari topik tentang lukisan tersebut dan hanya berkata kepada Pina bahwa dia masih terlalu kecil untuk mengetahui urusan orang dewasa. Pina yang pada saat itu memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, lalu membuat sebuah rencana untuk dapat menyelinap masuk ke kamar kakeknya tanpa ketahuan.
Hari demi hari, Pina masih saja gagal untuk menembukan petunjuk yang berkaitan dengan lukisan tersebut. Pernah terbesit di dalam pikirannya untuk berhenti dan tidak lagi ingin mencari, tapi dia terus mencoba. Di percobaan terakhirnya, dia akhirnya berhasil menemukan petunjuk berupa setumpuk surat yang disimpan di dalam sebuah kotak kayu tua yang disembunyikan di dalam sebuah laci.
Jika dia tidak salah ingat, isi dari surat tersebut berulang kali menyebut nama "Tse" yang merupakan bentuk pendek dari nama "Tsetyan" yang umumnya digunakan oleh orang-orang yang berasal dari Kerajaan Gajan'.
"Tsetyan, Krasnyy Drakon iz Yuzhnoy Luanty..."
("Tsetyan, Si Naga Merah dari Luat Selatan...")
"Khekh, ne dumal, chto kto-to eshche pomnit etu staruyu prozvishche..."
("Heh, tak kusangka a-ada yang masih mengingat ju-julukan dari nenek tua itu...")
"Kogda-to ya chital neskol'ko literatury ob etoy zhenshchine, ona byla odnoy iz otvetstvennykh za neudachu rasshireniya, kotoroe sovershila imperiya v proshlom. Ona takzhe yavlyayetsya glavnoy prichinoy, pochemu imperiya bol'she ne dumaet o rasshirenii svoyey territorii na yug."
("Dulu aku pernah membaca beberapa literatur tentang wanita itu, dia adalah salah satu orang yang bertanggungjawab atas kegagalan ekspansi yang dilakukan oleh kekaisaran di masa lalu. Dia juga adalah alasan utama kenapa kekaisaran tidak lagi berpikir untuk memperluas wilayahnya hingga ke selatan.")
"Khorosho, chto ty uzhe znaesh', tak chto mne ne nuzhno govorit' ob etom tak daleko - UHUK! UHUK!"
("Ba-baguslah jika kamu sudah tahu, jadi a-aku tidak perlu mengatakannya sampai se-sejauh itu—UHUK! UHUK!")
Pria itu kembali terbatuk-batuk, kali ini darah yang keluar dari mulutnya jauh lebih banyak dari sebelumnya.
Pina yang kembali ke kondisi mentalnya yang awal, langsung terkejut dan takut di saat yang sama. Dia tidak tahu harus berbuat apa dan tidak tahu harus mengikuti instruksi apa.
Di sisi lain, pihak yang sebelumnya ingin mencelakai Pina kini harus berpuas diri dengan keadaannya yang sangat menyedihkan. Didorong oleh rasa keibuannya, Pina, yang saat itu sudah tidak lagi dalam mode pembunuhnya, segera membantu pria tersebut berbaring dan kemudian mencoba membersihkan darah yang terus saja keluar dari dalam mulutnya dengan kain seadanya.
"Voźmi jeto (Bawa ini)—" Pria itu berkata sambil menyerahkan sebuah kalung yang memiliki lempengan logam tipis yang tergantung di kalung tersebut. Di sana terukir nama [Liy Zhanzhevich Chenevsky], nama yang sangat tidak umum ditemukan di Kekaisaran Saderan.
"—Jestli ty pokažeš' jeto. Voźmožno, ona poverit tebe ( Jika kamu memperlihatkannya kepadanya, mungkin dia akan percaya kepadamu) ..."
" Ponjatno (Mengerti)."
"Bud' ostrožen (Hati-hati)—" pria itu berkata sambil terus memuntahkan lebih banyak darah. "—Mnogo ljudej, kotorye mogut hotet' ubit' tebja posle jetogo (Akan ada banyak orang yang mungkin ingin membunuhmu setelah ini)."
" Ja srazu že budu sražat'sja s nimi, nezavisimo ot togo, čto jeto budet (Aku akan melawan mereka, tidak peduli apapun itu)," jawab Pina tegas.
" Net, ne tak prosto... (Tidak, tidak sesimpel itu)—" pria itu berkata sambil terus memuntahkan darah.
"—Potomu čto v tvojey krovi est (—Karena di dalam darahmu ada)..."
Namun sebelum dia bisa menyelesaikan kata-katanya, dia sudah tidak bernafas lagi. Pina yang menyaksikan kejadian itu terlihat sangat panik, dia berusaha untuk memberi pertolongan pertama. Namun semuanya telah terlambat, pria itu sudah mati dan Pina kehilangan satu-satunya sumber informasi yang dia punya.
Ini bukan pertama kalinya Pina melihat kematian seseorang, tapi tetap saja dia merasa dirinya sedih. Sedih karena dia tidak memiliki kendali atas roda takdir yang mengikat semua orang untuk terus saling membunuh. Meski dia merasa bahwa dirinya bukanlah orang yang paling relijius, tapi Pina tetap berdoa untuk setiap suami, istri, ayah, ibu, dan anak-anak yang telah menjadi korban akibat perang ini.
"Pust' vasha dusha vernetsya chistoj v Samsare (Semoga jiwamu kembali suci di Samsara)," bisik Pina sambil mengenggam kalung di tangannya.
...
