Hai, Readers~
Bagaimana kabar kalian?
Iya, Author bawa chapter baru nih
Naruto gak boleh mati sebelum nih fanfic tuntas
Naruto milik Masashi Kishimoto
"Weh!" :berbicara
'Ih': membatin/berfikir
"Karma": Bijuu/hewan kuchiyose berbicara
Enjoy~
"APA!? Sensei sama Baachan pasti mabok!"
Naruto nggak percaya dengan omongan kedua orang didepannya.
"Kagak! Jam segini minum sake, nggak enak"
Tsunade membalas sambil menuangkan sake ke gelas dan meminumnya dengan cepat. Bisa dilihat Godaime sedang memijat pelipisnya sekarang.
'Lah tadi situ ngomong nggak enak minum jam segini'
Pikir kedua guru dan murid.
"Tapi kan nggak mungkin! Edo tensei sudah tidak boleh dipergunakan lagi!"
Naruto memfokuskan kembali masalah yang sedang mereka diskusikan. Kakashi menatap, Tsunade yang sedang mencari sesuatu.
"Kita akan menggunakan ini"
Tsunade menunjuk foto Hokage pertama Hashirama Senju.
"Foto Shodaime?"
Naruto masih tidak paham. Tsunade mengambil foto yang terpajang. Sekilas foto itu terlihat biasa saja tapi setelah dibalik, difiguranya terdapat tulisan kuno yang membuat Naruto ingin mengetahui lebih lanjut.
"Apa itu segel?"
"Ya, para Hokage terdahulu mengivestasikan ini untuk mengetes calon Hokage baru"
Kakashi tidak menjelaskan lebih lanjut.
"Fuinjutsu?"
"Ini sudah ada sejak jaman kakekku, hanya Hokage dan calon Hokage yang mengetahui keberadaan fuin ini. Calon Hokage harus melewati beragam tes dari Hokage sebelumnya. Setiap foto Hokage memiliki sealnya sendiri"
Tsunade memperlihatkan ukiran segel berbeda di setiap foto.
"Kau akan mengaliri chakramu di foto ini lalu kau akan ke dimensi mereka"
"Berarti sama aja kayak aku terlempar kedunia mereka?"
"Ya seperti itu"
Kakashi mengedikkan bahunya dengan malas. Naruto merasa seperti mendapatkan prank dari kedua orang di depannya.
"Disana nanti kau akan dites dalam situasi mereka. Mereka tidak akan mengenalimu. Dan lebih baik jika kau tidak memberikan informasi tentang mu maupun masa depan"
Terang Tsunade pada Naruto. Ia tidak ingin Naruto dengan sengaja maupun tidak sengaja mengubah alur dimensi dan waktu. Misi ini sangatlah berbahaya, hanya selevel kage saja yang boleh mengambilnya.
"Aduh, ini bakal susah. Jadi aku akan bertemu langsung dengan mereka, terus meminta persetujuan mereka, dites oleh mereka? Sungguh ini tidak masuk akal Baa-chan"
Naruto sudah merenungi dulu sebagaiamana susahnya perjuangannya nanti. Baru dipikirkan saja membuat kepalanya pusing apalagi jika ia melakukannya.
"Jangan mengeluh, aku sudah pernah melakukannya Naruto. Payah jika kau tidak bisa mengalahkanku"
Ucapan mengejek keluar dari Kakashi supaya sang murid mulai bersemangat, tapi yang dia terima adalah deathglare super dark dari muridnya.
'Salah saya apa? Saya hanya ingin supaya anda kagak terlalu memikirkan ini'
Batinnya menangis.
"Aku juga sudah, sekarang adalah giliranmu. Jika kau ingin menjadi Hokage kau harus melawan mereka sampai mereka mengakuimu bahwa kau cocok untuk menjadi Hokage"
Dengan nada lembut Tsunade juga ikut menyemangati Naruto.
"Ugh... aku sudah bisa membayangkan pasti misi ini bikin aku sebal"
Naruto ingi menolak tapi takut dihajar oleh Baa-channya.
"Pengakuan mereka dibutuhkan untuk melihat sejauh mana kau dapat mengontrol situasi di masa mereka, yang mungkin akan terjadi lagi pada saat kau memerintah"
"Misi ini juga dapat mengajarkan kau sesuatu yang di era ini tidak dapat ajarkan"
Tsunade dan Kakashi bergantian mengklarifikasi mengapa Naruto harus melalui serangkaian syarat, latihan, dan tes untuk menjadi Hokage hingga sampai pada tahap terakihr ini. Kedua orang ini melihat Naruto yang sedang mengacak – ngacak rambutnya karena stress.
"Ambil sajalah Naruto. Anggap saja kayak kamu memulai petualangan baru. Kan bagus. Pikirkan kamu tidak akan mendapatkan misi super setelah menjabat jadi Hokage"
Kurama yang bosan tertarik dengan misi ini. Dia sudah bosan dengan rutinitas tanpa adrenalin. Jangan sampai dia mati gara – gara bosan, kan nggak elit. Naruto masih mempertimbangkan usulan Kurama dan resiko yang akan ia hadapi. Untuk kali ini aja Naruto berpikir sejenak tentang apa yang akan dia lakukan. Kakashi mengeluarkan buku laknat yang tercintah dan mulai membacanya. Dia bisa menebak apa yang sedang dipikirkan Naruto.
'Akhirnya nih anak mikir'
Satu botol sake telah habis terminum oleh Tsunade. Mereka bertiga terdiam mengurusi kegiatan masing – masing. Dua jam terlewati.
"Baiklah! Aku terima tantangan ini! Lihat saja Aku pasti akan mendapatkan persetujuan mereka!"
Naruto menggebrak meja membuat kedua Hokage terkaget.
"Bagus!"
Tsunade ikut antusias.
'Kau tidak tahu hal apa yang akan kau temukan disana, Naruto'
Senyum evil disembunyikan di balik tampang senang Tsunade. Naruto mendadak merinding.
'Sepertinya aku beneran masuk perangkap seseorang'
"Cepat bersiap! Lebih cepat kau menyelesaikan persyaratan terakhir, lebih cepat juga aku bisa memberikan mantel ini kepadamu"
Mungkin ini adalah teriakan hati seorang Kakashi yang telah K.O menjadi Hokage.
"Siap!"
Naruto menghilang dari hadapan mereka. Dia pulang dengan cepat mempersiapkan diri untuk menuju zaman dan era lain.
"Anoo Tsunade-hime kau tidak memberitahukan itu padanya"
"Biarkan dia mengetahuinya sendiri. Aku kepingin tahu bagaiamana reaksinya melewati rintangan yang susah ini"
'Semoga kau lolos Naruto. Kami berdua hampir gagal'
Dua hari berlalu dari waktu yang ditetapkan oleh Tsunade. Naruto yang telah siap kini berada di depan mereka berdua. Waktu yang diberikankan kepadanya kemaren ia buat untuk mengajak yayang bebeb jalan – jalan supaya nggak ngangenin nanti yang dilanjutkan dengan adegan mewek yang dilakukan oleh mereka berdua. Lalu mengisvestasikan sebagian lagi untuk berbelanja mie instan ramen. Oh, ayolah Naruto sadar betul kalau dia memang beneran bakal dilempar ke masa lalu atau alternate dimensi, pastinya pada masa itu belum ada ramen. Jadi untuk mengantisipasi tidak adanya keberadaan makanan para dewa itu, dia memutuskan untuk membawa perbekalan ramen sendiri. Dalam benak Naruto ia sudah berpikir bermacam – macam. Perjalanaanya kali ini merupakan misi yang sangat berat, bisa masuk dalam list seberapa buruk takdir membawamu. Mungkin ada pada urutan nomor dua setelah menghadapi sang goddess kelinci dan para kurcacinya. Meminta persetujuan orang – orang terkuat yang pernah memimpin Konoha, bukanlah hal yang mudah.
"Yang benar saja, apa kau kuat melawan mereka?"
Kurama menyadari nasib Naruto saat ini. Menurunya sih tidak terlalu susah, itu menurutnya oke.
"Kalau tidak dicoba mana bisa tahu, Kurama"
"Asal kau tahu, era Hashirama dan era bapakmu adalah era dimana ninja panas – panas nya berperang. Apalagi si duo rambut panjang itu, mereka sukanya adu kelahi kayak kucing dengan anjing"
"Wih harus siap mental nih gua"
Tersadar dari lamunannya Naruto mendapat tatapan sengit dari Baa-chan.
"Eh?"
"Ah eh ah eh. Lama sekali! Ku kira kau tidak sanggup dan memilih kabur"
"Maaflah Baachan, banyak yang harus kusiapkan untuk menuntaskan misi ini!"
"Halah yang kau siapkan pasti ramen"
Tebakan Kakashi tepat pada sasaran.
"Hih..., Kakashi-sensei kayak nggak tahu sekali"
"Cepetan lebih cepat lebih baik biar diku bisa lempar nih jabatan ke kau"
Memutar bola matanya, Kakashi ingin Naruto segera menyelesaikan misi.
"Sabar, Pak"
"Pegang ini dan alirkan chakramu ke fuinjutsu ini"
Naruto memberanikan diri untuk menyentuh foto Hokage pertama. Naruto melakukan persis dengan apa yang Tsunade perintahkan. Sedetik itu pula Naruto baru teringat tentang suatu hal yang menjadi beban di pikirannya dari kemaren.
"Eh bentar Baa-chan! Jika aku tidak bisa menyelesaikan misi ini dan tidak disetujui oleh mereka, apa yang bakal terjadi padaku?"
Lingkaran jutsu mulai nampak di lantai memperlihatkan teknik yang sungguh hebat.
"Ya... seharusnya kau taulah konsekuensinya, paling nggak kau akan berada dimasa itu selamanya. Tidak bisa kembali ke masa ini, sampai kau mendapatkan persetujuan mereka"
Tsunade terseyum setan. Kakashi menelan ludah, dia juga terkena jebakan Tsunade pada saat itu.
"HEH?! APA MAK-.."
Belum sampai Naruto menghabiskan perkataannya dan mengungkapkan kekesalan hatinya karena Tsunade tidak menjelaskan secara detail, tubuhnya telah ditarik ke medan gravitasi yang jauh lebih kuat ke dalam lingkaran tadi yang telah berubah menjadi lubang hitam.
"BBBBBBAAAAAACCCCCHHHHAAAANNN!"
Ya, itu adalah kata terakhir yang Naruto sempat katakan sebelum menghilang dari masa Hokage keenam. Ruangan itu kembali tenang karena pembawa kericuhan telah hilang entah kemana.
"Tsunade-hime anda sangat sadis"
"Biarkan tuh anak belajar! Akhirnya aku bisa membalaskan dendamku yang telah lama menumpuk. Ha! kau mendapatkan karma akibat kejahilan yang sering kau lakukan padaku"
Tsunade tertawa evil.
"Haish, kuharap Naruto tidak apa – apa. Kalau terjadi sesuatu padanya, bisa – bisa Sensei bangkit dari kubur"
Kakashi bergidik ngeri memikirkan Senseinya terseyum sadis dengan rupa yang eh...
"Kita hanya bisa berharap, lagi pula ini Naruto yang kita bicarakan. Dia pasti sukses mendapatkan persetujuan mereka"
Tsunade mempercayai Naruto.
"Ya... ngapain juga bingung, mereka para Hokage terdahulu sifatnya sebelas dua dengan kita"
"Nah betul tuh. Sudahlah aku mau minum sake, lebih baik kau melanjutkan tugas mencoret si putih itu"
Tsunade meninggalkan ruangan Hokage. Kakashi mematung mengingat kalau barang laknat itu belum dia kerjakan sama sekali
"Pastikan kau lulus Naruto, kalau tidak aku yang akan menjemputmu lalu menchidorimu"
Ucapnya kesal sambil mengerjakan musuh bebuyutan para Kage.
Kesadaran Naruto kembali dari dunia yang semula berputar. Dia terdampar di sebuah tempat dengan hamparan pohon yang menjulang tinggi, burung - burung bersautan, hewan berkeliaran dan kupu kupu berterbangan. Sungguh pemandangan yang indah jika saja tidak ada bekas kunai, shuriken, Jutsu, Taijutsu dan berbagai macam hal yang masih sejenis dengan yang disebutkan berserakan di lantai hutan.
"Gila! Aku dimana woy!"
Naruto segera berdiri dan berteriak pada alam yang nggak punya masalah dengan dia.
"Bodoh! Sadar nggak sih? Lu baru di kirim ke masa Hashirama lah!"
Kurama merasa ingin menjitak kepala Naruto karena melupakan hal segampang ini.
"Eh iya, baru inget. Ini pasti efek dari Fuinjutsunya Shodaime! Hebat bener!"
Naruto memuji Fuinjutsu milik Hokage pertama. Dia ingin sekali bisa menggunakan Jutsu ini.
"Sebenarnya itu Fuinjutsunya Mito"
"Mito sapa tuh?"
"Astaga Naruto! Kau benar – benar ingin kugigit! Kemana aja pikiran kau pas ada di akademi?!"
"Ya pasti berfikir untuk menjadi Hokage lah, mau pikir apa lagi?"
"Terus si ramen kau lupakan?"
"Oh iya itu juga, ramen!"
Kurama mendesah kesal mendengar pikiran polos Naruto kecil dan yang sekarang, pingin ditampol emang.
"Mito...Mito Uzumaki, dia itu bisa dibilang masih ada garis keturunan dari ibumu, jinchuriki pertama yang menampungku"
Kurama mengklarifikasi membuat Naruto shocked mendengar ini.
"Weleh yang bener? Berarti aku dari dulu itu orang penting yah"
Naruto mulai berlagak sombong.
"Harap diingat orang tua sendiri"
"Saya kan anaknya Yondaime, Hokage ke-empat. Kalau dipikir – pikir tinggi juga ya strata gua"
Naruto memikirkan hal yang tidak jelas melupakan dirinya berada di masa yang sangat rentan.
"Baru nyadar nih anak"
Naruto merasakan seseorang menyerangnya dari belakang. Naruto dengan reflek, menghindar. Membalikkan badannya dan bertatap muka dengan seseorang yang tidak ingin dia temui sama sekali, apalagi dizaman ini.
'Sial kenapa harus bertemu denganya sih! Aku muak melihat wajahnya!'
Didepan Naruto terpampang jelas sosok Madara Uchiha yang masih muda, tanpa keriput, tanpa noda, pokoknya masih fresh ganteng kece segar bugar jasmani dan rohani. Eh mungkin rohaninya sudah ternodai oleh si Zetsu Hitam.
"Siapa kau! Mengapa kau ada disini!"
Madara yang telah berjanji pada Hashirama untuk menemuinya ditempat yang dulu mereka sering bertengkar untuk membicarakan suatu perkara malah bertemu seorang ninja yang tak memiliki tanda pengenal apapun.
'Bagaimana bisa ada seseorang yang mengetahui tempat rahasia ini?!'
Madara memelototi orang didepannya.
"Emang saya dimana?"
"Banyak ngomong kau, pasti mata – mata dari desa sebelah"
Sepertinya Madara emang suka nuduh orang keliatannya
"Eh tawur anda! saya cuman kebetulan lewat saja!"
"Kau kira aku bodoh! Tidak ada orang yang boleh memasuki area hutan terlarang"
Yak, sekarang lokasi Naruto berada di hutan terlarang.
'Mangkanya kok kayak kenal...ternyata nggak beda – beda amat sama di masa ku. Pantes gua langsung diserang'
Madara mengeluarkan pedangnya yang berada di pinggangnya. Naruto mengeluarkan kunai spesial yang dulunya hanya diproduksi untuk Ayahnya, Triponged Kunai.
"Sini biar aku saja yang melawannya! kan ku gigit tuh kepala, ku cabik tuh leher, ku cakar tuh muka, ku hantam tuh tubuh, ku-..."
Naruto tidak mendengarkan ocehan Kurama yang sangat kesal. Naruto tahu betul mengapa partnernya ini kesal. Jujur saja rasa tidak suka Naruto itu sebelas duabelas dengan Kurama. Orang didepannya ini telah merenggut banyak orang yang dia cintai, mulai dari orang tuanya, gurunya, dan temannya. Sumpah ingin sekali Naruto menghajar si Madara terus menguburnya hidup – hidup. Naruto berusaha untuk menekan pemikiran buruknya. Madara meneliti gerak – gerik orang didepannya. Orang ini aneh dengan pakaian aneh, berambut aneh yang mencolok, tak lupa memiliki senjata yang aneh pula. Kedua orang sudah siap - siap adu jotos, hingga datanglah sesosok pria berambut panjang lain dengan muka bodohnya.
"Madara maaf membuatmu menun-..."
Baru juga Hashirama melihat sosok Naruto yang siap menyerang.
"Um... maaf saya nggak paham, bisa dijelaskan ada apa ini?"
Dengan santainya Hashirama bertanya atas kebenaran kejadian di depannya.
'Hokage ma dalam situasi apapun santuy ya?'
Naruto ingin sekali nepok jidatnya.
"Ada mata – mata yang berhasil masuk di area terlarang ini!"
Madara melapor, tumben biasanya dia diem kayak patung.
"Eh pak, bukan! Ini pembohongan publik! Saya tersesat dan tak bisa menemukan arah jalan pulang~. Dan kebetulan bertemu dengannya!"
Ucap Naruto ngelantur kemana- mana melihat wujud Hokage pertama asli tanpa plastik! "Jangan asal nuduh kau ya!"
Naruto menunjukkan jari tangan universal untuk melecehkan lawan, tapi sayangnya pada saat itu tidak ada yang mengerti apa yang Naruto lakukan jadi Madara dan Hashirama bingung dengan gestur itu
'Sial aku baru ingat kalok si emo kagak paham!'
'Apaan tuh? Entah mengapa aku ingin membakar sesuatu'
"Mata – mata mana ada yang mau jujur!"
Hashirama melihat Madara yang sudah mau menyerang dan...
"Stop, mari kita bicaran dengan baik – baik~"
Ucapan santuy Shodaime membuat kedua pria tadi memandangnya dengan tatapan tak percaya.
'Nih orang beneran Hokage?'
Bersambung~
HAHA!
Author minggat
Sampai jumpa~
