Yoooooooooooooooooooooooooo!
Dah lama Author tidak nongol di fanfic ini
Readers menunggu kelanjutannya kah?
Shishishi Author nggak ngetik banyak di intro
Dan ya... Pak Hashirama emang terlalu santuy
Monggo dibaca
"Babibubebo~": berbicara
'Eta terangkanlah': berfikir
"Ra popo": bijuu/hewan kuchiyose berbicara
Enjoy~
Beberapa saat setelah mengucapkan kalimat santuy, akhirnya Hashirama memandang Naruto dengan selidik.
"Tunggu... bagaimana kau bisa berada disini?" rasa penasaran muncul di benak Hashirama. Dia tidak menyangka akan ada orang yang bisa masuk ke area ini tanpa sepengetahuannnya.
"Kalian pasti tidak percaya, ... kalau aku tadi jatuh dari langit!" jawab Naruto jujur tanpa ada kebohongan.
"Kau bercanda ya?!", mana ada orang akan percaya dengan omongan bullshit pria aneh. Naruto memasang wajah polos sepolos keangkeran hutan yang kini dipijakinya berharap kedua orang itu mau mempercayainya. Yah, walaupun dia tidak ingin dipercayai Madara, paling nggak Hashirama percaya padanya.
'Ogah saya mau percaya sama emo', pikir Naruto. Bisa saja dia terjerumus ke liang yang gelap. Cukup Obito saja. Hashirama bingung, biasanya jika ada sesuatu yang memasuki hutan yang dia rawat dengan penuh kasih sayang ini, pasti ia langung mengetahuinya. Tapi kenyataannya orang didepannya berada dihutan ini tanpa menyulut alarm yang dia pasang, bahkan dia bisa merasakan keberadaan orang ini tidak ada atau lebih tepatnya bersatu dengan alam.
"Kau siapa?"
"Namaku U-.."
"Jangan asal jawab! Pikirkan dulu..."
'Whoooppsss hampir saja keceplosan...maksudmu jangan menggunakan margaku?'
"Iya bisa - bisa Hashirama langsung menanyakan itu ke Mito"
"Ehem, namaku Naruto!" Naruto memberikan senyum yang meyakinkan.
"Tanpa marga?" Hashirama merasa ada yang terlewatkan.
"Aku tidak mempunyai marga"
"Kau pasti berbohong!", Naruto menelan ludah saat kebohongannya terbongkar dengan cepat oleh Madara.
'Wih sebegitu kelihatan kah aku berbohong? Atau sebuah kebetulan yang fantastis?'
"Wajahmu kurang meyakinkan"
'Saya terlahir kayak begini'
"Baiklah, aku percaya padamu", Omongan ini membuat Madara mau tepok jidat akibat kepolosan dan kebesaran hati sahabatnya yang bukan teman, sedang Naruto riang gembira dengan senyum miris terpampang ke arah Madara.
"Yang serius dikit! Inderamu itu sudah nggak berfungsi lagi ya?!", Madara mencak – mencak
"Aku rasa dia tidak membawa niat buruk ke desa" makin terhuralah Naruto mendengar pengakuan Hashirama. Lagi pula ngapain juga Naruto cari gara – gara di zaman ini, mau di bogem sama kedua orang di depannya? Please lah dia masih ingin hidup.
"Aku Hashirama Senju dan dia temanku Madara Uchiha. Sekarang kau berada di area terlarang di desa Konoha" Hashirama tersenyum ramah menyambut Naruto.
"Beruntung kau desa telah ada"
'Berarti aku skip adegan yang banyak gorenya dong?'
"Jangan harap"
"Maaf atas semua kegaduhan yang saya buat disini. Ada hal yang penting yang ingin saya tanyakan pada anda, bisakah kita berbicara empat mata?" Naruto menggunakan bahasa baku. Mau gimana pun orang didepannya ini adalah orang nomor satu di desanya. Seenggaknya dia harus memberi hormat sekali aja... sebelum nanti dia membuat kerusuhan bersama si duo. Hashirama terkejut saat orang yang baru dikenalnya ini ingin berbicara privat dengannya.
"Anu mu kah?... tolong ingat Mito", Madara mulai berspekulasi kalau Hashirama mau berselingkuh dengan orang lain apalagi orangnya laki – laki.
"Kau minta ku tampar pakek pohon?"
"Kau minta ku bakar pakek api?" lah ini malah si duo kelahi di depan naruto.
'Sungguh aku nggak berharap melihat adegan beginian' Naruto merasa dilupakan oleh mereka.
"Aku juga"
Naruto dengan tatapan antusias menonton lomba jankenpon dengan yang kalah kena jutsu dan jotos oleh si pemenang. Akhirnya lomba itu selesai setelah menunggu 2 jam lamanya sampai Hashirama dan Madara tepar di lantai hutan.
'Mantap! boleh juga nih adu jankenpon sama Sasukeh', Naruto tidak sabar melakukan hal yang sama ke sahabat tapi bukan temannya itu.
"Nggak usah ikut – ikutan, yang ada malah dunia ancur gegara kalian serius main jankenpon", Kurama bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika si duo yin dan yang melaksanakan perlombaan itu.
"Hah! Aku menang lagi", Madara mengusap rambutnya penuh gaya.
"Nggak! Aku yang menang" si Hokage nggak mau kalah, tebar pesona.
"Aku!"
"Aku!" Mereka saling menunjuk diri sendiri bahwa merekalah yang menang. Sungguh jika mereka dibandingkan dengan para bocah, kehebohan mereka bisa mengalahkan para anak kecil.
"Ano... Hashirama-sama kapan kita mau ke Konoha?", Naruto yang dilupakan menghentikan perkelahian yang sepertinya tidak akan berakhir sampai matahari terbit kembali. Keduanya baru sadar kalau mereka melupakan si pirang yang masih setia menunggu mereka selesai bertikai.
"Astaga! aku sampai lupa kalau ada tamu yang menungguku" Ucap Hashirama sambil mengelus pipinya yang kena bogem Madara.
"... otakmu emang benaran udah rusak ya? Orang aneh macam dia kau bilang tamu?" Madara masih heran kenapa si tolol mau membiarkan si aneh masuk desa mereka yang permai.
"Mohon maaf! Saya tidak aneh, tapi kece! Daripada anda kayak emak - emak nggak dapet jatah ryo dari suaminya! Marah muluk dari tadi!" omongan pedas Naruto membuat Madara naik pitam.
"Apa kau kata!? Kau minta di bakar ternyata!", Madara mengeluarkan api tanpa menggunakan handseal. Wow hebat!.
"Anda minta dihempas kelangit?", Naruto sudah siap untuk melontarkan si emo menggunakan rasengan.
"Atau ku bijuudama?" Kurama juga tidak mau kalah dalam urusan membuat Uchiha merana. Hashirama melihat pertikaian antara si hitam dengan si kuning.
'Jadi begini maksudnya si Tobirama', setelah bertahun – tahun lamanya akhirnya Hashirama paham mengapa si adek selalu mengeluh setiap dia dan Madara mau baku hantam. Emang bikin muntah yang ngeliat acara mereka.
"Cukup! jadi nggak ke Konoha? kalau nggak kalian ku jadikan pajangan baru dirumahku" Hashirama berkata dengan senyuman killer terpampang di wajahnya.
"Um... iya bang...saya takut ditinggal sendirian sama dia", Naruto menunjuk Madara.
"Maksudmu apaan coba?! Maaf saja saya masih doyan sama perempuan!" si emo mengklarifikasi bahwa ya, dia tidak gay.
"...oh jadi kau masih straight" Hashirama dan Naruto serempak berkata.
"...KALIAN!..." suara ledakan cukup keras terdengar dari area terlarang.
"Hm, laki – laki nggak ada kerjaan", ucap seorang wanita yang kebetulan melihat kepulan asap.
Setelah menyirami hutan menggunakan air supaya tumbuh dengan subur, perjalanan mereka berlanjut ke Konoha. Hashirama berada di depan, disampingnya Naruto mengikuti dan mereka dibuntuti oleh Madara yang masih nggak percaya dengan Naruto. Madara sengaja memberi jarak pada mereka, barang kali Naruto akan menyerang mereka. Perjalanan ke Konoha menantang jiwa petualang mereka, mendaki gunung, melewati semak belukar, membunuh hewan liar, menghindari jebakan tanah dan berbagai macam yang lainnya, akhirnya Naruto bisa melihat sedikit wujud lama Konoha.
"Oh my god!"
"Lebay amat", Naruto merasa tercengang sekaligus terharu melihat desanya yang tercinta terlihat sangat asri tanpa campur tangan manusia, ya walaupun manusia lalu lalang didepannya.
'Entah mengapa aku suka melihat desa seperti ini'
"Kau yakin? Jaman ini masih belum banyak yang menggunakan listrik... atau lebih tepatnya masih belum ada listrik"
'Oke mungkin nggak', Naruto mengoreksi statementnya. Mereka menuju ke depan pintu gerbang desa.
"Ehem, sebagai Hokage, selamat datang di Konoha!" Hashirama merentangkan tangannya bak menyambut Naruto. Konoha dihiasi dengan pohon yang tumbuh berdampingan dengan rumah. Para ninja yang sepertinya agak was – was serta air terjun yang keluar dari salah satu pohon?. Wow sangat fantastis.
"Eh, buset ada yang aneh dengan pohon itu!" Naruto menunjuk si pohon yang punya kelainan.
"Pohon itu adalah mata air kehidupan, katanya sih dapat menyembuhkan banyak penyakit" Hashirama berbisik ke Naruto bak para ibuk – ibuk yang mau ngerumpi.
"Katanya?" Naruto melirik ke Shodaime yang hanya mengedikkan bahunya
"Itu hanya akal – akalan si bodoh ini supaya rakyat tidak susah mengambil air lagi dari sungai" Madara menyauti pertanyaan Naruto. Hashirama langsung menutup mulut Madara.
"Ssshhtttt! Jangan disebar! Bukankah kau sendiri yang mengatakan kalau dia adalah mata mata?"
"Oh iya betul juga" mereka berdua berbisik. Sebenarnya Hashirama hanya ingin menutupi kenyataan bahwa mahakaryanya ini ingin sekali mendapat pujian.
'... Aku mulai mempertanyakan apakah Konoha baik – baik aja di tangan Shodaime?'-
"Ya, gua tahu nggak sesuai ekspetasikan? ... tapi hebatnya nih desa tetep berdiri kokoh punya pemimpin nggak jelas macam dia"
'Kenapa orang hebat, pada nggak jelas otak mereka?'
"Mungkin dah jadi takdir"
'...Jadi maksudmu aku nggak jelas juga gituh?!'
"Baru nyadar?"
'Heh! Denger ya!...' belum selesai Naruto mengomentari Kurama dia udah dieret dulu oleh si Hokage. Hashirama mengajak atau lebih tepatnya mengeret Naruto ke salah satu rumah singgah. Emang ada kah rumah singgah dijaman itu? Ternyata oh ternyata ide itu dicetuskan oleh Mito Uzumaki yang cerdas dan jelita. Dia memberikan usulan untuk membuat rumah bagi para tamu dari luar desa. Dia kan lady nomor satu se konoha, jadinya harus pintar nggak kayak suaminya yang sukanya main baku hantam sama temennya yang emo itu. Banyak penduduk dan ninja yang menyapa Hashirama bahkan ada yang sampai mendekat dan bersalaman langsung dengan si Hokage. Hashirama menerima salaman itu dengan tawa senyum dan tawa riang tak lupa sedikit basa basi sebelum diingatkan lagi oleh Madara.
"Woy! Jangan cengengesan muluk! Ada tamu nih!"
"Ohiya, saya pamit dulu ya~"
'Shodaime beneran populer... kalah aku'
"Ya kan dia yang mendirikan nih desa"
'Lah terus si emo, kau kemanakan?'
"Entah mana kutahu, pokoknya yang ada dipikiran gua saat ini bagaiamana gua bisa menyiksanya si emo sampai tuh orang berharap ajal menjemputnya lebih cepat" Senyum sadis nampak di wajah si rubah. Naruto bergidik ngeri, dia langsung keluar dari minscape takut pikirannya terkena hawa negatif Kurama.
'Woy! Tahan tuh emosi! Aku tidak ingin diintai oleh Madara selama kita ada disini! Bisa – bisa aku nggak tahan mengahajarnya nanti!'
"Sudahlah hajar aja sekarang! kan nanti nggak susah!"
'Heh! Baachan ngomong jangan merubah alur waktu!'
"Yaudahlah terserah anda"
'Pokoknya kalau si emo itu menyentuh rambutmu Naruto, bakal ku bijuu-dama dia'
Karena Naruto menggunakan baju yang berbeda membuatnya dilirik oleh banyak orang, apalagi rambut pirang terang dengan mata blue saphire yang semuanya mencolok. Bukankah itu sama saja Naruto mengundang malapetake kepada dirinya?
'Aku tahu aku ganteng tapi nggak usah dilihat sebegitu juga kalik!'
"Kepedeanmu itu bisa menandingi si emo" Kurama merasa jijik mendengar ucapan Naruto. Hashirama yang mengetahui kalau para penduduk mulai merasa curiga dengan tamunya mulai bertindak.
"Jangan khawatir, ini temanku yang berasal dari luar desa. Mohon jika nanti dia berjalan jalan mengelilingi desa, kalian bisa membantunya" Hashirama mengatakan itu dengan senyum yang terpatri di wajahnya sedang Madara si wakil desa, melotot kearah Hashirama dan Naruto.
"Bodoh! Apa yang baru saja kau katakan!?"
"Tenanglah! Kita tidak ingin penduduk pnaik dan terjadi kekacauan. Bukankah kalau sudah begitu mudah aja musuh untuk menyerang desa?" Bisik Hashirama ke Madara. Banyak warga yang menyapa Naruto dan mengatakan selamat datang ke Konoha, atau semoga dia betah disini dan sebagainya.
'Mereka sangat ramah'
"Iya, mereka sangat bergantung satu sama lain, nggak kayak dizamannya Sandaime yang mulai ada diskriminasi klan"
'Apa klan itu penting?'
"Tergantung dari sisi mana kau melihatnya" Hashirama membawa Naruto kesebuah rumah yang simpel bahkan masih dibangun, tapi bagusnya rumah ini ada di atas pohon.
"Wih bagus"
"Terimakasih, rumah ini adalah jerih payahku"
"Iya kalau nggak disuruh Mito membuat ini kau bakal tetep fokus sama bonsaimu"
"Bonsai?" Naruto melirik kearah Madara yang memberikan informasi nyeleneh.
"Ya! Aku penyuka dan pengoleksi bonsai terbanyak se antero dunia ninja! Nggak ada yang bisa menyaingi koleksiku! Apa kau ingin melihatnya?" Naruto bisa melihat mata Hashirama berbinar saat nama bonsai menjadi topik.
'Shodaime maniak bonsai?'
"Iya, anda tidak tahu segimana sengsaranya aku bersama Mito saat tuh orang menjelaskan asal muasala salah satu bonsainya"
Madara yang paham bakal akan terjadi omongan nggak jelas dari sahabatnya menjitak Hashirama untuk fokus kembali pada situasi yang ada.
"Aduh!"
"Fokus!" Madara menggunakan matanya ungtuk memberikan informasi ke Hashirama.
'Kita interogasi nanti diatas'
'Sip' Mereka menuju rumah pohon yang nggak keliatan rumah malah mirip mansion pohon.
"Tolong itu ditaruh disitu, yang itu agak kesiniin sedikit, yang itu menganggu tolong dicopot dan diletakkan digudang" nampak seorang wanita tengah menyusun atau lebih tepatnya menyuruh dan memerintah beberapa orang untuk meletakkan barang – barang. Beberapa orang itu keliatan mau pingsan. Dan entah mengapa Hashirama dan Madara mendadak merinding disko. Mereka sempat berhenti di tangga.
"Waduh..."
"Woy! Bukannya istrimu itu lagi di rumah yang satunya?!"
"Lah mana aku tahu! Tadi sih iya!" keduanya berdebat sementara Naruto hanya bengong nggak paham apa yang sebenarnya mereka obrolkan
'Emang napa sih?'
"Lu nggak denger suara perempuan tadi?"
'Denger emang kenapa?'
"Itu istrinya hashirama, Uzumaki Mito. Orang yang kita ghibahin tadi"
'Wih aku bakal ketemu nenek beneran?'
"Jangan seneng dulu wahai maniak ramen.. kalau si Mito sedang berkutat dengan peletakan yang ada kau akan disuruh juga"
'Lah tapikan...'
"Dia nggak mandang lu orang baru kah atau tetangga kah yang pasti harus dituruti. Kalok kagak lu bisa mengucapakan good bye pada dunia ini" Naruto akhirnya bengong. Dia melihat si duo gondrong adu bisik membisisk hingga suara wanita mengintrupsi.
"Ehem, kenapa kalian diam disana saja? Ayo bantu aku menata ini, kau pirang ikut juga aku butuh banyak orang" Mito menyuruh tanpa pandang sekalipun. Hashirama dan Madara hanya bisa menghela nafas dan mengikuti instruksi dari sang wanita. Naruto masih ragu – ragu untuk ikut, tapi saat ia ingin menolak, ia malah hampir terkena tatapan tajam.
"Untuk apa kau masih berdiam disana?! cepat kesini!"
'Ya lord, nenek kok gini amat sama cucunya?'
"Dahlah turuti, daripada anda modarkan? Belum juga jadi hokage"
'Tuhan tolonglah hambamu ini yang ingin menjadi hokage. Yang harus dilempar kemasa lalu yang nggak ada sangkut pautnya dengan hambamu ini' Naruto kini meratapi nasib. Dia harus mengakui kalau neneknya itu sangatlah cantik. Bahkan jika Naruto harus memberikan lebel wanita tercantik yang pernah ia temui, Mito pasti masuk dalam 5 besar. Kenapa tidak peringkat satu? Karena dihatinya yang pertama adalah yayang bebeb kalau yang kedua adalah ibunda tercinta.
'Kalau dilihat terus hampir mirip kayak ibu' Naruto melihat dengan seksama rupa anggun dari Mito, namun acara memandangnya tidak lama karena ia merasakan aura seram dari sang perempuan maupun sang suami. Hashirama melirik penuh selidik kearah Naruto yang melihat istrinya terus menerus.
"Aku tahu istriku cantik banget tapi tidak usah sampai kayak gitu melihatnya, kan saya nanti cemburu"
"Idih" Madara memandang jijik. Mito melirik ke arah Hashirama dan Madara yang masih melanjutkan kegiatan bisik berbisik.
"Apa yang kalian diskusikan?" Keduanya langsung tegap.
"Tidak ada"
"Bukan apa – apa" Dalam batin, Hashirama masih mencari alasan kenapa ia memilih menikah dengan wanita yang garang.
'Inikah yang namanya terlanjur cinta?' Dia mendapat jitakan penuh makna dari sang partner.
"Fokus woy!" Alhasil Hashirama menjadi fokus kembali tapi sepertinya tidak pada otaknya.
"Seharusnya kita kabur tadi selagi bisa"
"Iya aku setuju, kalau begini nanti kita nggak bakal selesai selesai!"
"Bentar kita memang mau ngapain?"
"Woy! Kita kan mau menginterogasi si pirang!"
"Oh iya hampir lupa sama dia" Mereka berdua melirik ke arah si pirang yang dengan sedih menata barang.
"Tuh anak keliatan biasa – biasa saja"
"Kau tidak tahu, aku tadi habis melawan dia"
"Terus gimana?" Hashirama tertarik dengan obrolan yang berkaitan adu jotos.
"Nggak ada terusannya, wong sama anda di hentikan!"
"Ya maap... saya nggak ingin melihat hutan tercinta tambah rusak!"
"Dasar otak tumbuhan!"
"Dasar otak emo!"
"Ehem!" Mito berdehem di belakang mereka sambil menatap garang.
"ah... sayang~ orang yang kau suruh tadi... tamu kita loh" Hashirama ingin kabur dari tugas menata.
'Tumben tuh otak encer banget?' pikir Madara.
"Benarkah?" Mito melirik ke si bocah
"Maaf menyuruh anda" Mito mendekati Naruto yang sudah menerima nasib jadi tukang dekorasi rumah
"Ah tidak papa Mito-sama" Naruto menunduk saat wanita itu menatapnya dengan serius. Dia malu ditatap terus apalagi yang natap wanita cantik.
"Ahahaha sebenarnya ada yang ingin kami diskusikan sayang... jadi bisakah kami meminjam tempat ini?"
"Baiklah karena dia tamu, tidak mungkin aku mengusirnya... aku akan membuatkan teh" ucap Mito pergi meninggalkan mereka dan mengusir para ninja yang membantunya tadi hingga hanya menyisakan mereka bertiga. Tiga orang itu berdiri saling menatap. Naruto menatap Hashirama, Hashirama balik menatap Naruto, sedang Madara bergantian menatap mereka berdua bagai ada kemistri muncul pada kedua makhluk yang nggak jelas itu. Malangnya si hitam menatap mereka dengan otak penuh pertanyaan.
"Jadi kita bisa bicara, Hashirama-sama?" Naruto memastikan. Jikalau Shodaime di depannya lupa lagi.
"Woh iya... maap tadi banyak.. ya... hambatan,mari masuk" Hashirama mengundang Naruto masuk ke mansion pohon yang didalamnya terlihat biasa saja. Hanya ada sebuah meja pendek lebar dan tatami tersedia. Dekorasi ruangan saja ala kadarnya.
'Ini rumah pohon kelihatan banget baru dibangun'
"Tapi sayangnya rumah ini tidak bertahan lama"
'Napa dah?"
"Ya, diancurkan ama duo gajel itulah"
'Woh, pengrusak properti'
Kedua orang paling tua menatap Naruto. Hilang sudah sikap easy going mereka digantikan dengan tatapan killer.
'Buset?! Aing salah apa dah ditatap kayak melakukan tindakan kriminal'
"Lah kan emang iya" Kurama memutar bola matanya.
"Ehem" Naruto menegakkan tubuhnya.
"Kita harus bicara empat mata, Hokage-sama" ucap Naruto menatap Hashirama.
"Kau pasti mau melakukan sesuatu kan?!" Madara langsung berdiri dan menodongkan pedangnya.
"Maaf, ini tidak ada sangkut pautnya denganmu. Aku kesini karena ingin berbicara dengan pendiri negara ini" Naruto menatap datar dan Hashirama makin kaget sedang Madara bertambah geram.
"Kau pikir aku siapa, huh?! Aku juga pendiri desa ini! Jika bukan karena aku mengalah... bisa saja pemimpin Konoha sekarang adalah aku!" Ucap Madara ketus. Hashirama yang mendengarnya jadi tidak enak hati.
"Oh... jadi kau mengalah? Memberikan tahta pemimpin pada Hashirama? Bukankah kau tidak sekuat dirinya?" Naruto meremehkan Madara, karena dia tahu kalau Madara itu suka menaruh dendam dan gila akan kekuatan. Naruto melakukan ini ingin mengetes apakah Madara sudah terjangkit Black Zetsu. Dia ingin Madara untuk melanjutkan pembicaraannya.
"KAU!" Amarah Madara tak tertahankan. Baru kali ini ada seseorang yang berani berkata seperti itu didepannya. Bahkan klannya sendiri selalu berkata dibelakangnya. Matanya yang hitam bagai malam berubah menjadi merah menyala dengan tiga tomeo berputar perlahan.
"Cukup! Dilarang berkelahi di rumah ini! Dengar ya! Saya membawa anda kesini karena paham betul bahwa niat anda baik..." Hashirama menggunakan telunjuknya, mengisyaratkan dia tidak menyukai perlakuan Naruto terhadap sahabatnya "... bukan mencari masalah. Kalau memang anda mencari masalah saya tidak segan untuk bertindak" Hashirama menahan Madara yang ingin menerjang Naruto. Madara dengan kasar melepas tangan Hashirama yang memegang pundaknya. Dia tidak butuh omong kosong disini.
"Cih, aku tidak mau tahu dengan semua ini" Madara keluar dengan amarah yang masih belum reda. Dia merasa tidak dianggap disana. Masih tidak percaya bahwa Hashirama mau membela si asing daripada dirinya. Hashirama menatap sedih kepergian Madara lalu memberikan Naruto dengan tatapan ini-semua-salah-kau yang dibalas dengan maap-saya-cuman-ngetes.
"Mantep... nyalimu besar juga... siap – siap dapet stalker"
"Nah, karena orang yang kau inginkan sudah keluar... langsung intinya saja" Hilang sudah senyum friendly Hashirama yang diganti dengan keseriusan yang dapat membunuh.
'Adoh... kayaknya saya salah pencet'
"Bukan salah tapi emang kepencet ... begok"
"Ehem, mungkin ini terdengar sangat tidak masuk akal dan seperti menghalu... aku..."
"Tunggu, halu itu apa?" tanya Hashirama. Dia benar – benar tidak paham dengan bahasa yang digunakan orang didepannya. Wajar saja, beda zaman beda bahasa gaul.
'Astogehhhh gini amat, ane kayak belajar bahasa ama Rikudou Sanin lagi'
"Mangkanya stop pakek bahasa gaul... kau yakin bakal keintinya? Yakin si bodoh ini bakal paham ama mengerti?"
'Ya kalok emang beneran dia keturunan Ashura berarti jalan pikiran kita 11 12'
"Oh... sama sama bodohnya.."
'Woy nggak!'
Bersambung~
Nyehe~
See you again desu!
