DISCLAIMER: Ojamajo Doremi © Toei Animation, 1999-2004. Ojamajo Doremi 16, 17, 18 dan 19 series (light novel) © Midori Kuriyama, Kodansha, 2011-2015. Ojamajo Doremi 20's (light novel) © Kageyama Yumi, Kodansha, 2019. Tidak ada keuntungan komersial sepeserpun yang saya dapatkan dari fic ini.
Our Future
.
Chapter 27 – My Best Family
Musim semi, tahun 1999…
"Tadaima!" seorang gadis kecil berambut merah buru-buru memasuki rumah dan melempar tas sekolahnya ke atas sofa sambil memberi salam, sebelum akhirnya kembali keluar rumah dan menyerukan salam yang seolah 'menetralisir' salam yang diucapkannya ketika masuk tadi, "Ittekimasu!"
Anehnya, gadis itu keluar dari rumahnya dengan membawa sebuah gantungan kunci berbentuk bola kristal merah muda yang sebelumnya tergantung di tas sekolah yang ditinggalkan di rumahnya, tapi untungnya tidak ada yang memperhatikan hal itu. Satu-satunya hal aneh darinya yang diperhatikan oleh seorang gadis kecil lain di rumah itu, yang usianya lebih muda dari gadis yang baru saja pergi (lagi?) tersebut, adalah gerak-geriknya yang tidak biasa, yang tidak memakan kudapan manis yang telah disiapkan untuknya di rumah itu. Padahal biasanya, kedua gadis yang merupakan kakak beradik itu akan langsung menikmati kudapan manis yang telah disiapkan oleh ibu mereka di rumah itu, tepat saat mereka melihat kudapan manis itu. Mau tidak mau, sang adik merasa kebingungan melihat keanehan gerak-gerik sang kakak tersebut, yang kemudian membuatnya memikirkan hal yang tidak kalah anehnya.
"Jangan-jangan akan ada badai salju…" gadis kecil itu menggumamkan pemikiran aneh yang muncul di benaknya, sambil berdiri di pintu depan memandangi langit cerah di atas sana.
"Kamu jangan bercanda, Poppu. Ini sudah musim semi, jadi tidak mungkin ada badai salju," sahut sang ibu sambil menghampiri putri bungsunya itu, "Meski begitu, memang tidak biasanya Doremi keluar rumah sebelum menghabiskan jatah kuenya dulu…"
Wanita itu berpikir sebentar sebelum bergumam, "Kelihatannya, akhir-akhir ini Doremi memang berubah. Dia bahkan bangun pagi setiap akhir pekan belakangan ini."
"Permisi," tiba-tiba seorang wanita muda mendatangi rumah tersebut, tepat saat ibu dan anak itu ingin menutup pintu depan dan memasuki rumah mereka, "Apa benar ini rumah keluarga Harukaze?"
"Ya, memangnya ada apa, ya?" sang ibu berambut coklat itu menoleh ke arah wanita yang baru saja datang, kemudian menambahkan saat ia menyadari bahwa ia mengenali wanita itu, "Ah, anda Yuki-sensei kan? Guru Konseling di SD Misora? Tapi, kenapa anda kemari? Apa ada masalah dengan Doremi, putri saya?"
"Yah, sebenarnya… saya memang datang kemari ingin membicarakan tentang dia, bu," ujar sang guru muda berkacamata itu, "Kelihatannya, ada satu hal tentang Doremi yang harus saya beritahukan kepada anda… Apa akhir-akhir ini ada yang berubah dari sikapnya?"
"Kelihatannya sih, begitu," jawabnya sambil mengangguk, "Apa anda tahu sebabnya? Apa dia… menimbulkan masalah di sekolah?"
"Saya mengetahui sebabnya, tapi yang jelas bukan karena dia terkena masalah di sekolah, jadi anda tenang saja," sahut sang wanita muda dengan nada yang menenangkan, "Justru sekarang, putri anda sedang melakukan hal yang baik bersama dua orang temannya."
"Eh?"
"Sekarang, saya ingin mengajak anda ke tempat mereka berada, sambil membicarakannya lebih lanjut bersama dengan anda dan orangtua dari teman putri anda, kalau anda tidak keberatan."
"Baiklah," ibu itu menghela napas, kemudian menoleh kepada putri bungsunya dan berkata, "Poppu, kau bisa jaga rumah sendiri, kan?"
"Baik! Ibu pergi saja," jawab gadis kecil berambut merah muda itu, "Aku akan menjaga rumah dengan baik."
Kedua wanita itu pun akhirnya berjalan meninggalkan rumah itu sambil berbincang-bincang, lalu bergabung dengan dua orang lainnya di tengah perjalanan sampai akhirnya mereka berempat tiba di sebuah toko…
.
29 tahun kemudian…
Kedua wanita itu kembali bertemu di rumah yang sama, hanya kali ini, mereka sedang mengobrol di ruang tamu rumah tersebut. Topik pembicaraan mereka kurang lebih sama dengan apa yang mereka bicarakan dulu, hanya kali ini, mereka membicarakannya sedikit lebih mendalam.
"Sebenarnya, ada yang kami rahasiakan dari anda 29 tahun yang lalu," jelas sang wanita berkacamata yang penampilannya sama sekali tidak berubah itu, "dan ini ada hubungannya dengan kepindahan mereka ke rumah itu."
"Rahasia?"
"Ya," jawabnya sambil tersenyum, "Tapi sebelumnya, izinkan saya memperkenalkan diri…"
"Apa yang anda bicarakan? Anda Yuki-sensei, kan? Mantan Guru Konseling di SD Misora?" potong wanita yang satunya lagi, yang terlihat lebih tua, "Ya, anda memang terlihat awet muda, tapi anda tidak perlu memperkenalkan diri anda lagi. Saya belum pikun."
"Saya hanya ingin anda tahu, siapa diri saya yang sebenarnya," sahut wanita yang terlihat lebih muda itu sambil menjentikkan jarinya, mengubah dirinya menjadi terlihat berbeda. Rambut pendeknya yang berwarna coklat terang itu pun berubah menjadi panjang berombak dan berwarna pirang. Kacamatanya pun menghilang, sementara pakaian yang dikenakannya berubah menjadi sebuah gaun panjang yang megah. Ia lalu menambahkan, "Karena kedua putri anda dan sahabat terdekat mereka sudah banyak membantu saya, terutama Doremi."
"Eh? Jadi anda…"
"Saya Ratu Majokai," ujarnya memperkenalkan diri sambil membungkuk dengan sopan, "Sejak pertama kali saya bertemu dengannya, saya sudah tahu bahwa Doremi bisa membantu saya dalam misi saya untuk menjalin kembali hubungan dengan dunia ini."
"Sebenarnya, apa yang terjadi selama ini?" tanya wanita yang rambut coklatnya sudah mulai memutih itu, "Apa yang sudah mereka lakukan untuk membantu anda? Apa maksud perkataan anda tadi? Apa anda pernah bertemu Doremi sebelum dia bersekolah di SD Misora dulu?"
Sang Ratu pun menceritakan semua yang terjadi selama 4 tahun itu… yang dimulai dari 29 tahun yang lalu… tahun 1999.
Tidak. Bagi sang Ratu, masa 4 tahun itu bukanlah awal dari segalanya. Baginya, semua dimulai saat ia bertemu dengan gadis cilik itu saat ia masih bersekolah di TK. Sore itu, ia melihat gadis cilik itu di taman bermain, sedang menolong seorang bocah laki-laki yang kelihatannya sedikit lebih tua darinya, karena bocah itu sedikit lebih tinggi dan sudah tidak lagi mengenakan seragam TK. Padahal, beberapa menit sebelumnya, bocah itu mengganggunya, yang sedang bermain di taman itu bersama seorang teman sekelasnya di TK. Hal itulah yang menggugah hati sang Ratu yang sedang dalam penyamaran itu, saat melihat gadis cilik berambut merah tersebut. Hal itu membuatnya tersadar bahwa ia telah menemukan apa yang selama ini dicarinya.
'Dia bisa menolongku. Aku bisa merasakannya,' pikirnya saat itu, 'Ada sesuatu yang dimilikinya, yang jarang dimiliki oleh orang lain, dan hal itulah yang bisa mengubah segalanya.'
.O.
Sementara itu…
"Tadaima," ujar Hana pelan saat ia membuka pintu penghubung antara Majokai dan Ningenkai yang berada di rumah sang 'ibu'. Wajahnya terlihat sangat lesu.
"Okaeri, Hana-nee!" balas Nozomi girang sambil berlari menyambut sang 'kakak' dan memeluknya, "Tumben sekali, Hana-nee datang kesini lewat pintu ini."
"Ada sesuatu yang harus kuurus di Majokai tadi, jadi kupikir, akan lebih praktis kalau aku kesini lewat pintu ini," jelas Hana yang kemudian tersenyum tipis, "Aku bisa menghemat waktu."
Menyadari bahwa ada yang berbeda dari Hana, Tsubomi, yang menyusul Nozomi memasuki ruangan itu, bertanya, "Ada apa, Hana-nee? Kelihatannya Hana-nee sedih sekali…"
"Apa ini ada hubungannya dengan penyihir yang bernama Petunia itu?" tambah Nozomi setelah ia melepas pelukannya, "Jangan-jangan Hana-nee baru saja bertemu dengannya, ya?"
"Tidak, Nonchi. Aku tidak bertemu dengannya, hanya saja…" Hana sempat ragu untuk melanjutkan perkataannya, sebelum akhirnya menambahkan dengan enggan, "Kelihatannya, aku terpaksa harus mengundurkan diri dari Rumah Sakit dan kembali tinggal di Majokai…"
"Eh?! Tapi kenapa?!" tanya Tsubomi tidak mengerti, "Hana-nee kan jadi dokter supaya Hana-nee bisa memenuhi janji Hana-nee kepada mama untuk menemukan…"
"Iya, Tsubomi. Aku masih ingat tentang janji itu, tapi… Petunia menyebarkan rumor di Majokai dan Lunaverse, kalau aku dan Dorie tidak pantas menjadi Ratu, karena kami tidak benar-benar serius mempelajari ilmu politik," Hana menghela napas, "Akhirnya, beberapa dari mereka di Majokai berpikir bahwa lebih baik aku bantu-bantu Majoheart saja di kliniknya, daripada bersiap-siap menjadi Ratu tapi malah tidak bisa memerintah dengan baik hanya karena pengetahuan politik yang terbatas."
"Bagaimana dengan Tante Dorie di Lunaverse? Tadi katamu, Petunia juga menyebarkan rumor yang sama tentangnya di Lunaverse," tanya Tsubomi, "Apa semua penyihir disana juga meragukan kemampuannya?"
"Yang dihadapinya bahkan lebih parah. Mereka meremehkannya, hanya karena dia cuma lulusan SMA. Mereka bahkan mengungkit-ungkit semua kegagalan yang dialaminya dulu," jelas Hana, "Karena itulah, Jou-sama menyuruhku tinggal di istana bersamanya, untuk belajar ilmu politik darinya, sementara Ratu Lumina akan mengunjungi Dorie tiap malam untuk mengajarinya."
"Jadi, Tante Dorie tidak pindah ke Lunaverse juga…"
"Tentu saja tidak, Nonchi. Tante Dorie kan masih harus mengurusi keluarganya di rumah mereka," potong Tsubomi, "Kalau Tante Dorie pindah ke Lunaverse, Om Todd, Teddy dan Terrie bagaimana?"
"Kan mereka juga bisa ikut pindah," Nozomi mengutarakan pendapatnya dengan polos, "Mereka semua sudah tahu rahasianya Tante Dorie kan? Terrie bahkan sudah menjadi witchling disana, seperti kita yang jadi majo minarai disini."
"Ya, tapi mereka tidak bisa segampang itu pindah kesana," Tsubomi menggeleng, "Om Todd sama saja dengan papa, harus profesional dalam pekerjaannya. Teddy dan Terrie juga… tidak bisa segampang itu berhenti dari sekolah mereka."
"Ah!" seru Nozomi sebelum menghela napas, "Iya juga ya. Bagaimanapun juga, mereka harus menyelesaikan sekolah mereka dengan baik…"
"Justru, kalau mereka putus sekolah hanya karena mereka sekeluarga harus pindah ke Lunaverse, hal itu malah akan memperburuk keadaan. Mereka akan dicap sebagai keluarga bodoh di Lunaverse," ujar Tsubomi yang tiba-tiba menyadari sesuatu kemudian bertanya kepada sang 'kakak', "Tapi, kalau Tante Dorie saja tidak perlu pindah ke Lunaverse, kenapa Hana-nee malah harus pindah ke Majokai?"
"Karena aku harus fokus belajar ilmu politik, jadi aku tidak diperbolehkan melakukan kegiatan lain selain itu, termasuk mengobati pasien-pasienku dan penelitian itu," gerutu Hana, "Gara-gara Petunia, aku terpaksa harus menunda penelitianku tentang pengobatan kanker untuk anak-anak."
Tiba-tiba, seseorang menimpali perkataannya dari pintu ruangan itu, "Jadi, kau akan tinggal di Majokai lagi, Hana-chan…"
"Doremi…" menyadari kehadiran sang 'ibu' disana, Hana memanggilnya, berlari menghampirinya dan memeluknya. Ia hampir menangis saat ia menambahkan, "Mama, aku takut tidak bisa memenuhi janjiku padamu…"
"Aku mengerti, Hana-chan, kau tidak perlu khawatir," balasnya sambil mencoba menenangkan Hana dengan membelai rambut pirangnya yang panjang, "Bagaimanapun juga, kau yang akan menggantikan Jou-sama menjadi Ratu berikutnya nanti, dan itu bukanlah hal yang mudah. Belum lagi, itu adalah tujuan utamamu, jadi kau harus memprioritaskannya. Karena itulah, kau harus bisa membuktikan kepada mereka semua, kalau kau layak menjadi Ratu yang berikutnya, walaupun itu artinya… kau harus mengorbankan banyak hal."
"Tapi penelitianku…"
"Untuk sementara, kau jangan memikirkan tentang hal itu dulu, ya? Kau fokus saja pada ilmu politik yang akan kauterima dari Jou-sama. Itulah yang harus diutamakan olehmu sekarang," potong Doremi, "Lagipula, kau kan hanya pindah ke Majokai. Kalau kau merasa bosan, kau bisa langsung datang kesini, seperti hari ini."
"Jadi, kau tidak marah padaku?" tanya Hana sambil melepas pelukannya.
"Untuk apa aku marah padamu? Kau kan memang perlu mempelajari ilmu politik untuk mencapai tujuan utamamu. Justru, aku sangat memahami keadaanmu, karena aku juga pernah mengalami hal yang hampir sama dengan yang kaualami sekarang," jawab Doremi dengan yakin, "Kau ingat kan, saat aku gagal dalam ujian masuk perguruan tinggi dulu, aku lalu memutuskan untuk pindah ke apartemen dan tinggal sendirian disana, supaya bisa fokus belajar menghadapi ujian masuk yang berikutnya?"
"Aku mengingatnya. Kau pindah ke apartemen tidak lama setelah kita mengadakan pesta hiburan untukmu disini," kenang Hana sambil tersenyum tipis, "Jadi menurutmu, karena tujuan utamaku adalah menjadi Ratu yang selanjutnya, aku harus fokus belajar ilmu politik dan mengorbankan penelitianku untuk sementara waktu?"
"Tentu saja, Hana-chan. Waktumu masih panjang, dan kau juga harus memikirkan kebutuhanmu sendiri, demi tujuan utamamu. Kau membutuhkan ilmu politik itu sekarang juga, sedangkan penelitianmu masih bisa kaulanjutkan lain kali. Kau mengerti maksudku, kan?" Doremi menepuk bahu Hana, "Yang terpenting sekarang adalah kau bisa membuktikan kepada mereka semua yang meragukan kemampuanmu, kalau kau pantas menjadi Ratu yang selanjutnya."
"Kau benar," akhirnya Hana menghela napas lega dan tersenyum lebih lepas, "Terima kasih, Doremi-mama. Aku senang bisa membicarakan hal ini denganmu."
"Sama-sama, Hana-chan. Sejak dulu, aku sudah tahu kalau jalanmu menjadi seorang Ratu tidaklah mudah, tapi aku juga yakin kalau kau bisa melewatinya dengan baik."
"Aku pasti akan berusaha. Tenang saja," sahut Hana dengan penuh percaya diri, "Aku akan membuktikan kepada mereka bahwa ilmu politik akan dengan mudah kupelajari dan kupraktikkan dengan baik."
"Itu baru putriku."
"Mama, aku dan Tsubomi-nee kan juga putri mama," protes Nozomi, "Dari tadi, mama dan Hana-nee hanya bicara berdua saja."
"Ah, maaf ya, Nonchi. Mama hanya ingin menenangkan kakakmu, Hana," sahut Doremi, "Itu yang dibutuhkannya sekarang."
"Tapi ngomong-ngomong, aku tidak percaya kalau mama… mulai pindah dari rumah nenek ke apartemen sejak mama lulus SMA. Kupikir, mama baru pindah ke apartemen saat mama mulai kuliah, kalau mama mengerti apa maksudku," ujar Tsubomi, "Mama memang hebat."
"Tidak juga, Tsubomi. Bagaimanapun, kegagalan dalam ujian masuk bukanlah hal yang patut dibanggakan."
"Tapi kan mama bisa melewatinya dengan baik, dan sekarang mama jadi guru terfavorit di sekolah," puji Tsubomi dengan tulus, "Aku makin bangga pada mama."
"Tsubomi…"
Tak lama kemudian, bel pintu rumah itu berbunyi. Mereka berempat pun bergegas membukakan pintu, tapi begitu mereka tahu siapa yang datang, mereka terkejut.
"Jou-sama dan… okasan? Tapi… apa artinya?"
.O.
"Jadi, okasan sudah mengetahui semuanya…"
"Ya," jawabnya, "Sekarang okasan mengerti, kenapa rumah ini menjadi tempat yang penting artinya buatmu."
"Tapi, bagaimana dengan rahasia itu?"
"Ibu juga mengerti tentang hal itu, dan menurut ibu, wajar saja kalau kau merahasiakannya. Ibu bahkan bangga padamu."
Wanita berambut merah itu tersenyum mendengar perkataan ibunya, "Benarkah?"
"Ya, itu benar," sang ibu mengalihkan perhatiannya kepada cucu-cucunya, "Pantas saja, ibu merasa dekat sekali dengan Hana-chan. Ternyata… dia juga cucu ibu."
"Ah, iya…" sahut Hana sambil tersipu malu, "Tapi sebentar lagi, aku akan pindah."
"Aku sudah tahu dari Yuki-sensei. Katanya, kau akan belajar ilmu politik darinya disana, ya?"
"Iya," Hana pun tersenyum, "Jadi sekarang, bagaimana aku harus memanggilmu? Apakah aku harus tetap memanggilmu tante, atau… nenek?"
"Apa saja boleh, Hana-chan. Yang penting, sekarang kau sudah menjadi bagian dari keluarga ini," wanita itu membalas senyuman Hana, "Kau juga sudah memanggil Kotake-kun dengan sebutan papa, kan?"
"Ya, itu benar," Hana kembali mengiyakan, "Aku senang kalian menerimaku."
"Tentu saja, Hana-chan."
"Lalu, bagaimana dengan kami?" tanya Tsubomi, "Nenek sudah tahu kan, kalau kami… sekarang menjadi majo minarai seperti mama dulu?"
"Ya, nenek sudah tahu, Tsubomi."
"Nah, karena sekarang, semuanya sudah ada disini, bagaimana kalau kita mulai makan malam saja sekarang?" tawar Kotake sambil membawakan beberapa porsi makanan pesanannya, yang baru saja sampai ke ruang makan, tempat yang lainnya sudah berkumpul di rumah itu, "Yah, berhubung ada 'tamu agung', ibu mertua dan putri tertua disini, jadi aku memutuskan untuk memesan makan malam untuk kita semua."
"Tadinya, papa berniat untuk memasak makan malam, tapi karena bahan makanan yang ada hanya cukup untuk membuat enam porsi makan malam, jadi…"
"Padahal kan seharusnya tidak perlu repot begitu," sahut Hana, memotong perkataan Tsuchiya, "Kita kan masih bisa belanja bahan makanan bersama-sama, setelah itu memasak bersama. Pasti akan lebih mengasyikkan."
"Tidak boleh begitu. Ada 'tamu agung' disini, jadi makan malam kita sudah harus siap sekarang juga, tidak boleh terlambat," Kotake menggeleng, "Kalau kita melakukannya seperti apa yang kaukatakan tadi, kita baru akan mulai makan tengah malam, dan yang kutahu, wanita biasanya tidak suka terlambat makan malam."
"Sebenarnya, kau tidak perlu seperti itu menyambutku, Kotake-kun," ujar sang Ratu yang sejak tiba di rumah itu beberapa saat yang lalu sudah kembali dalam wujud penyamarannya menjadi Yuki-sensei, sambil melambaikan tangannya dengan santai, "Aku memang seorang Ratu di Majokai, tapi disini, aku hanyalah Guru Konseling kalian waktu di SD dulu."
Wanita itu lalu mengalihkan perhatiannya kepada Tsubomi dan Nozomi dan bertanya, "Jadi, bicara tentang kalian berdua yang sekarang jadi majo minarai, apa kalian sudah menyiapkan diri kalian untuk menghadapi minarai shiken pertama kalian?"
"Tentu saja, setiap hari kami berlatih keras untuk menghadapinya," jawab Tsubomi dengan penuh percaya diri, "Aku kan nggak mau gagal seperti mama dulu…"
"Jangan ungkit masa lalu. Yang penting kau lakukan saja yang terbaik," potong Doremi, "dan jangan coba-coba tukar posisi dengan Kira-chan atau Nami-chan hanya untuk bisa diajari mama di sekolah atau mendekati Tono-kun di kelas mereka."
"Iya iya, mama tenang saja," Tsubomi menghela napas, "Sejak kami jadi majo minarai, itu yang selalu mama katakan setiap hari."
"Karena mama tahu apa yang kaupikirkan, Tsubomi. Tahun lalu saja, kau mengeluh hanya karena tidak bisa diajari mama di sekolah hampir setiap hari, jadi tidak ada salahnya kan, kalau mama ingin mengingatkanmu?"
"Baiklah," Tsubomi memutar bola matanya, "Padahal mama sendiri pernah tukar tempat sama Tante Hazuki…"
"Itu berbeda, Tsubomi. Saat itu, mama hanya ingin menghiburnya, tidak lebih."
"Masa? Aku yakin mama punya alasan yang lain dibalik itu semua."
"Tidak ada. Mama hanya ingin memenuhi keinginannya."
"Tapi setelah itu, mama agak menyesal karena tidak bisa makan makanan favorit mama sama sekali pada saat itu, baik di rumah keluarga Tante Hazuki maupun di rumah nenek."
"Tunggu. Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya wanita yang terlihat paling tua dalam ruang makan tersebut, "Doremi, dulu kau pernah tukar tempat dengan Hazuki-chan? Jangan-jangan, itu yang terjadi saat kau tiba-tiba rajin membantu okasan di rumah dan membuat origami yang rapi sekali."
"Ya, sebenarnya Hazuki-chan yang melakukan itu semua, sebagai aku," jawab Doremi, "Sebaliknya, saat itu aku menggantikannya di rumahnya, tapi semuanya tidak berjalan dengan lancar disana."
"Ibu mengerti. Pantas saja, tumben sekali kau mau disuruh melakukan ini-itu," wanita itu mengangguk, "Ibu pikir kau melakukannya supaya ibu membuatkanmu steak untuk makan malam, sebagai imbalan atas apa yang kaulakukan untuk membantu ibu di rumah seharian itu, jadi ibu benar-benar menyiapkannya malam itu."
Ia menghela napas sebelum melanjutkan, "Yang mengagetkan, kau malah bilang kalau kau tidak terlalu suka steak saat makan malam tiba, jadi ibu pikir kau sedang sakit. Ternyata itu Hazuki-chan?"
"Ya, itu dia, okasan. Hazuki-chan memang lebih suka makan ikan daripada steak, tidak sepertiku," Doremi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Kepribadian kami memang sangat bertolak belakang."
"Jadi, kalau seandainya Kirarin atau Nami-chan yang mau tukar tempat denganku…"
"Tidak mungkin!" seru Doremi memotong perkataan Tsubomi, "Lagipula, mama sudah memberitahu mereka untuk tidak melakukan hal itu, sekalipun mereka sendiri yang menginginkannya."
"Tapi kan…"
"Tsubomi, kau tidak perlu menjadi orang lain untuk mendapatkan apapun yang kauinginkan. Cukup jadi dirimu sendiri," kali ini, sang nenek yang menasihati Tsubomi dengan bijak, "dan yang terpenting adalah selalu mensyukuri apa yang kaumiliki."
"Begitu ya, nek."
"Tentu saja, Tsubomi."
Setelah menyiapkan hidangan makan malam yang telah dipesan di atas meja makan, mereka pun menyantapnya sambil sesekali mengobrol tentang berbagai hal. Sang Ratu pun mengutarakan alasannya untuk menjelaskan semua yang terjadi selama ini kepada Haruka, ibu Doremi.
"Aku hanya tidak ingin keluarga besar kalian mengetahui tentang pintu penghubung disini dari orang lain, jadi aku berencana memberitahu mereka satu persatu tentang semua yang terjadi," jelasnya, "dan setelah kupertimbangkan, kelihatannya ibumu yang paling berhak mengetahui terlebih dahulu tentang semuanya, Doremi-chan."
"Eh? Tapi kenapa?" tanya Doremi tidak mengerti, "Kenapa orang pertama yang kauberitahu tentang hal ini adalah… okasan?"
"Karena aku yakin bahwa ibumu pasti akan mempercayai perkataanku, dan ibumu adalah orang yang bisa dipercaya untuk menolong kita menjelaskan semua ini kepada anggota keluargamu yang lain," jawabnya mantap, "Secara perlahan, kita juga akan memberitahu ayahmu dan kedua orangtua Kotake-kun, setelah itu keluarga Kimitaka-kun dan anggota keluarga kalian yang lain."
"Baiklah, kupikir alasanmu masuk akal, Jou-sama," akhirnya Doremi memahami jawaban yang diterimanya, "Apalagi, diantara semuanya, hanya okasan yang sampai akhir terus mendukungku mengelola Maho-dou."
"Karena itulah aku melakukan hal ini, dan aku yakin bahwa ini akan berhasil," sang Ratu yang menyamar itu mengalihkan perhatiannya kepada ibu Doremi, "Haruka-san, mohon bantuannya ya?"
"Tentu saja, anda bisa mempercayai saya. Sebisa mungkin, saya akan menjelaskan semuanya kepada yang lain," wanita tua itu tersenyum, "Bagaimanapun, semua rahasia ini justru membuat semuanya jadi lebih baik."
"Saya senang mendengarnya."
"Jadi, Hana-chan, kapan kau akan pindah?" tanya Doremi, "Bagaimanapun, kau perlu mengurus pengunduran dirimu dari Rumah Sakit dulu, kan?"
"Ya, begitulah…" jawab Hana, "Setidaknya, butuh waktu seminggu sampai prosedurnya selesai."
"Kalau begitu, Hana-nee masih akan tinggal disini sampai minggu depan, kan? Bagaimana kalau kita mengadakan pesta perpisahan untuk Hana-nee disini?" tawar Tsubomi, "Setidaknya, kita bisa mengundang orang-orang terdekat yang kemungkinan bisa dipercaya untuk mengetahui rahasia kita dalam pesta itu."
"Idemu boleh juga sih, Tsubomi-chan, tapi… apa tidak merepotkan kalau harus menggelar pestanya disini?" tanya Hana tidak yakin, "Artinya kan, keluarga kalian… maksudku, keluarga kita harus mempersiapkan semuanya…"
"Kan ada Majorika, Hana-chan. Kita semua bisa mempersiapkannya bersama-sama," Doremi menepuk bahu Hana, "Sama saja seperti waktu kita makan siang disini setelah upacara kelulusan SD dulu, sebelum kau pulang ke Majokai. Setidaknya, kita harus berkumpul untuk mengantarmu pergi."
"Baiklah kalau begitu," Hana kembali tersenyum, "Kalian memang keluarga terhebat yang pernah kumiliki."
