Pelakor yang Sah by Rameen

[U. Naruto x H. Hinata]

Disclaimer Naruto belong to Masasi Kishimoto

Romance, Drama, Pelakor, AU.

Chap 1 : Awal Menjadi Pelakor

Cuaca berubah gelap dikarenakan angin menyeret awan untuk menutup tirai kecerahan hari, menggantinya dengan mendung berhias gemuruh.

Perubahan itu sering kali diartikan sebagai tanda akan turunnya hujan. Manusia, mereka tentu saja akan berlari dan mempercepat perjalanan agar tidak terganggu dengan hujan yang akan menyapa bumi.

Namun, dua anak manusia yang kini berdiri berhadapan di bawah pohon di taman kota itu tak bergeming. Tampak tak peduli dengan pertanda apa pun dan tetap berdiri di tempat tanpa suara.

Sang lelaki, yang baru saja mendengar keputusan sepihak sang kekasih hanya terdiam dengan ekspresi keterkejutan di wajahnya. Mencoba mencerna dan memahami arti kalimat itu, jika saja dia telah salah mengartikan maksud sebenarnya.

"Kau ... bercanda, kan?"

"Aku serius."

"Tidak." Lelaki itu bergerak ingin meraih tangan sang gadis ke dalam genggamannya, tetapi dengan cepat ditepis, membuat tangan itu tergantung di udara. "Setidaknya ... beri aku alasannya, Hinata."

"Tidak ada alasan, Naruto. Aku hanya ingin mengakhiri hubungan kita."

"Apa aku melakukan kesalahan? Apa kau mungkin salah paham tentang sesuatu? Katakan padaku dan kita bicarakan baik-baik, hm?"

Lelaki berambut pirang itu tak mengerti. Kekasihnya menghilang selama empat hari tanpa bisa dihubungi dan ditemui walau sudah dicari ke mana-mana. Lalu tiba-tiba mengiriminya pesan untuk mengajak bertemu.

Dia sangat senang dan lega hingga pergi ke tempat janji mereka 20 menit lebih awal. Namun, gadis itu terlambat 30 menit dari waktu yang dijanjikan. Padahal hal seperti itu tidak pernah terjadi sebelumnya.

Lalu, ketika kedatangan gadis itu tertangkap di safir birunya, senyum kembali merekah dan langsung melangkah mendekati. Dia ingin memeluk, bertanya kenapa dan ke mana gadis itu empat hari terakhir, tetapi bahkan gadis itu tak memberinya kesempatan barang semenit saja saat satu kalimat singkat gadis itu ucapkan.

Di sinilah mereka sekarang. Masih dengan ketidakpercayaan sang lelaki dan ketidakjelasan sang gadis.

"Hinata?"

"Hah, kau mau alasan?" Hinata menatap mantap. "Baiklah. Alasanku karena aku lelah. Kau miskin dan tidak pernah mengerti keiginanku. Jadi aku memutuskan untuk menikah dengan seseorang yang kaya dan mengakhiri hubungan ini. Kau puas?!"

Naruto menggeleng pelan. "Kau bukan gadis seperti itu."

"Setiap orang bisa dan berhak berubah. Kau tau ayahku sakit-sakitan, aku butuh uang. Aku juga tidak peduli lagi dengan hubungan kita, jadi ... selamat tinggal, Naruto."

Gadis itu berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Naruto terpaku di tempatnya sendiri. Terdiam dan menatap kosong sang kekasih yang kini telah menghilang dari jarak pandangnya. Menciptakan rasa sakit dan kekacauan pikiran yang tak larut walau hujan telah turun mengguyur.

.

.

"Aaaagghhhh."

Slap bruaaakk praangg

Kegaduhan terdengar dari kamar kos kecil Naruto setelah lagi-lagi dia melemparkan kaleng bir yang telah kosong. Mengenai beberapa barang dan berakhir menjatuhkan gelas dari atas meja, menciptakan serakan beling di lantai yang sama sekali tidak dia pedulikan.

Rambut kuning itu ditarik kuat, kepalanya sakit dan pandangannya buram menatap ruangan gelap yang tertutup tirai tanpa adanya cahaya lampu.

Tak lama, suara pintu yang terbuka terdengar. Satu ruangan yang dengan perabot seadanya itu seketika mendapat cahaya dari pintu yang terbuka, menunjukkan kursi dan meja sederhana, satu ranjang kecil di dekat dinding dan bagian kecil dapur di sisi lain. Kos itu terdiri dari 2 ruangan saja, dan satunya kamar mandi.

Seorang gadis melangkah masuk dan menghela nafas melihat keadaan yang berantakan. Kantung belanjaan yang dia bawa dia letakkan di meja terdekat darinya. Berkacak pinggang dan kembali menghela nafas.

"Naruto, sudah lima hari kau seperti ini. Mau sampai kapan kau menghancurkan hidup karena gadis itu?"

"Diamlah dan pergi. Aku ingin sendiri." Naruto memejamkan matanya tak peduli.

Perempuan yang baru masuk itu menggeleng dan menolak pergi. Justru mulai bergerak untuk merapikan.

Hanya setelah merapikan sekilas, dia menghampiri Naruto dengan membawa bawaannya yang tadi.

"Aku membuat makanan. Kau hanya minum bir saja, jadi makanlah dulu, ya. Lihat! Aku bawa bermacam makanan, apa yang kau inginkan?"

"... Hinata."

Perempuan itu terdiam ketika lagi-lagi mendengar nama seseorang yang telah membuat Naruto seperti ini. Dia berpikir, kenapa harus memikirkan seseorang yang telah meninggalkanmu? Sungguh tidak penting.

"Makanan yang kubawa tidak ada merk 'Hinata'. Yang lain saja, oke?"

Naruto bergumam tak jelas dengan kening berkerut. Wajahnya merah karena alkohol dan kesadarannya mulai goyah.

"Aku mau Hinata, Hinata, Hinata!"

"Dia sudah meninggalkanmu!" Perempuan itu meninggikan suaranya.

"Dia tidak akan meninggalkanku!" Naruto balas berteriak. "Dia selalu ada untukku. Di saat aku sendirian, tidak ada teman, tidak ada yang peduli. Hanya dia yang selalu ada untukku. Selalu ... selama 20 tahun ... sejak aku masih kecil, hanya dia saja ... hanya dia saja ..."

"Itu benar! Dia selalu ada untukmu selama 20 tahun, dan 20 tahun itu sudah habis. Sekarang dia sudah pergi, kalian sudah berpisah."

"Diam!" Kepalan tinjunya mendarat di lantai, tetapi tak memberikan kejutan atau ketakutan bagi gadis di depannya.

Naruto menghela nafasnya cepat dengan kepala menunduk, mengingat kembali kenangan buruk terakhirnya bersama Hinata waktu itu. Lalu lirih berkata, "Dia tidak pergi, Shion, dia tidak meninggalkanku, dia hanya ... lelah ... karena aku miskin."

Bruk

Tubuhnya jatuh terbaring miring di lantai dengan mata terpejam. "Hinata ... Hinata ..." dia masih bergumam pelan. Hanya beberapa kali sebelum dia tertidur karena mabuk. "Hina ... ta."

Mata bulan itu melirik, menatap laki-laki menyedihkan yang sudah tak sadarkan diri di depannya. Wajah cantik itu dingin dengan pandangan terluka dan lelah.

"Kau hanya memikirkan dia saja."

Shion memindahkan pandangannya dan berhenti di satu bingkai yang menghiasi foto Naruto dan Hinata. Satu foto yang memiliki empat sisi dan menunjukkan gambar mereka saat usia 10 tahun, lulus SMA, lulus kuliah, dan sedang berkencan.

Cahaya kecemburuan tampak jelas di mata Shion yang menggerakkan tangannya dan menutup foto itu.

"Aku memang hanya baru mengenalmu 2 tahun, tetapi bukankah sekarang dia meninggalkanmu? Tidak bisakah 20 tahun yang berakhir dengan perpisahan itu digantikan dengan 2 tahunku?"

Kepalanya menunduk, menatap sendu sosok lelaki di depannya. "Naruto, tidak bisakah kau berbalik kepadaku saja?"

Pertanyaan itu mengudara, di ruang sepi tanpa suara, dan tidak mendapatkan jawaban apa pun dari sang pemuda.

.

.

Dalam ruangan bernuansa putih dengan satu ranjang khas rumah sakit, Naruto perlahan membuka matanya, menatap kosong langit-langit putih yang tepat di atasnya.

Hanya dengan satu lirikan dan satu kesimpulan, dia mengerti jika dia berada di salah satu kamar rumah sakit. Namun, kenapa dia bisa ada di sini?

Yang Naruto ingat adalah, dia terhuyung berjalan pulang setelah menghabiskan waktu dengan beberapa botol bir di kursi yang tersedia di samping sebuah minimarket. Perut dan kepalanya sakit, pandangannya berputar, dan sesaat sebelum dia jatuh tersungkur, seorang perempuan datang membantu.

Kepala bersurai kuning itu menoleh dan mendapati Shion yang terduduk di kursi dengan kepala yang terbaring di kasur, menggenggam sebelah tangannya.

"Shion?" Suaranya lirih memanggil.

Naruto tak bisa memungkiri ingatannya dalam sepuluh hari ini. Di saat dia terpuruk dan menjadi gila karena ditinggalkan Hinata, Shion selalu ada untuknya. Tak memedulikan apa pun kondisi dan situasi yang ada, tetap datang membawakannya makanan yang sering kali tak dia makan, tetap datang menasehatinya yang sering kali dia balas dengan usiran, tetap datang membantunya yang sering kali dia tepis dengan kemarahan.

Naruto tak bisa berpikir apa pun selain rasa sakitnya karena ditinggalkan seseorang yang sangat berharga baginya. Bukan hanya seorang kekasih, Hinata sudah bagaikan saudari, ibu, teman, dan satu-satunya keluarga bagi Naruto. Membuatnya semakin dalam terjatuh dalam kehancuran karena keputusan sepihak sang gadis.

Kehancuran itu yang dia alami sepuluh hari terakhir telah menciptakan kekhawatiran Shion dan telah banyak merepotkan gadis itu.

Naruto ... sedikit menyesalinya.

"Kau sudah sadar?" Tiba-tiba pertanyaan Shion yang bangun dari tidur membawanya kepada kenyataan. "Bagaimana keadaanmu? Apa kau merasa ada yang sakit? Atau kau lapar? Atau ingin ke kamar mandi?"

Naruto menghela nafas atas pertanyaan terakhir. "Aku baik-baik saja."

"... jangan katakan kau baik-baik saja setelah sebelumnya kau pingsan di tengah jalan karena tidak makan apa pun selain bir selama dua hari!" Shion berbicara dengan cemberut. Kesal dengan sikap Naruto. "Baka!"

Senyum tertarik tipis di wajah Naruto. Senyum yang hilang akhir-akhir ini, sekarang kembali. "Maaf, aku memang bodoh."

"Asal kau tau." Shion mendengkus puas dan kesal, membuat Naruto semakin tersenyum.

"Shion, terima kasih karena sudah perhatian padaku."

Mata bulannya melirik dengan dagu terangkat. "Bukankah aku baik? Kau tidak akan menemukan orang baik yang peduli pada orang bodoh sepertimu lagi di masa depan."

Naruto mengangguk. "Ya, kau orang yang baik hati."

Mendengar pujian itu, Shion terdiam beberapa saat sebelum mengalihkan wajahnya dengan perubahan ekspresi yang tidak dimengerti. "Aku tidak baik," lirihnya.

"Kau mengatakan sesuatu?"

"Tidak ada." Shion mengalihkan topik. "Aku akan membeli makanan untukmu, dan kali ini kau harus memakannya sampai habis, mengerti?!"

"Baiklah."

Shion puas dengan jawaban itu lalu beranjak pergi, meninggalkan Naruto sendirian sekarang.

Dia mengalihkan pandangannya ke jendela, menatap sendu penuh kerinduan akan kehadiran seseorang yang begitu dia cinta.

"Hinata, apa yang kulakulan setelah kau pergi? Aku hanya merusak diriku dan membuat orang-orang khawatir. Kalau kau ada di sini, kau pasti juga akan memarahiku."

Dia tersenyum lemah membayangkan wajah cemberut Hinata dengan pipi menggembung yang sedang mengomel. Gadis itu pasti akan lebih terlihat lucu dan imut.

"Tapi kau tidak ada di sini. Hinata, apa kau tidak akan kembali?"

Suara pintu terbuka setelah pertanyaan diucap, menunjukkan seorang lelaki paruh baya dengan rambut hitam rapi, mengenakan setelah jas dan berjalan tegap ke arahnya.

Naruto menoleh dan berusaha duduk di tempatnya. "Paman Higaraki?"

"Hm, kau sudah sadar diri?"

Dalam sekejab, Naruto seperti mendengar sindiran dalam pertanyaan itu. Bukan seolah orang itu menanyakan apakah dia sudah sadar dari pingsannya, tetapi seperti menanyakan apakah kewarasannya yang sudah sadar. Itu membuat Naruto mau tak mau memasang senyum lemah bersalah.

"Maaf merepotkanmu dan Shion. Terima kasih." Kehadiran Higaraki yang merupakan ayah angkat Shion sudah memberi Naruto bayangan jika ulahnya kemarin pasti sudah menyeret lelaki paruh baya ini untuk direpotkan juga.

"Selama kau mengerti." Laki-laki itu menempati kursi yang tadi diduduki oleh Shion. "Jadi, apa rencanamu selanjutnya?"

"Selanjutnya?"

"Kuharap kau sadar jika kegilaanmu dalam sepuluh hari kemarin sudah membuatmu menjadi pengangguran sekarang, kantor pos tempatmu bekerja tidak akan lagi mau menerimamu yang bolos selama sepertiga bulan tanpa keterangan, 'kan?"

Naruto mendudukan kepalanya. Sebenarnya, dia memang sudah sadar hal itu sejal awal, tetapi di tengah kegilaannya, dia tidak peduli. Sekarang, sepertinya dia harus mulai khawatir.

"Aku akan mencari pekerjaan baru."

Higaraki menghela nafas. "Kau tau, Naruto? Aku masih menyisakan satu posisi untukmu di perusahaanku. Kau telah menyelamatkanku dari kecelakaan di pertemuan pertama kita, terlebih, aku mengakui sifatmu yang suka bekerja keras dan optimis. Sama seperti saat itu, aku kembali menawarkanmu satu posisi di perusahaanku jika kau bersedia."

Pembahasan yang langsung ke intinya adalah kesukaan Higaraki yang sudah dikenal oleh Naruto, jadi dia tidak terkejut dengan kalimat panjang penuh hal penting laki-laki itu.

"Waktu itu kau menolakku, apa kau akan tetap menolakku sekarang?"

Ya, satu tahun yang lalu dia menolak tawaran itu. Alasannya? Ada dua.

Pertama, dia sudah bekerja di satu tempat dan ingin berusaha sendiri dalam hidupnya, bukan karena tawaran yang disebabkan oleh balas budi.

Kedua, saat itu Shion menyatakan perasaannya dan ditolak langsung oleh Naruto, dia tidak ingin bisnis yang bercampur dengan perasaan.

Naruto tahu jika tawaran Higaraki sebenarnya tak melibatkan apa pun, tapi dia hanya merasa seperti itu.

"Baiklah, jika kau tidak suka dengan tawaranku, kau bisa memasukkan lamaran dan mengikuti tes biasa. Pikirkanlah baik-baik. Apa pun keputusanmu, aku tidak akan protes. Dan juga kuharap kau tidak berpikir aku melakukan ini karena tau putriku menyukaimu, bagiku bisnis dan keluarga adalah dua hal yang berbeda. Mengerti?"

Naruto menatapnya dan memberi senyuman hormat, lalu mengangguk. "Terima kasih, Paman. Aku akan memikirkannya."

Higaragi puas. Dia berdiri dan menepuk bahu itu dua kali sebelum melangkah pergi. Dia kembali berucap tanpa menoleh. "Tapi jika nantinya kau berubah pikiran dan berniat menjadi menantuku, aku juga tidak menolak."

Tap

Suara pintu yang tertutup kembali memberikan keheningan di ruangan yang sama. Masih membuat Naruto berkedip dengan kalimat terakhir yang dia dengar.

"Tapi, Paman. Aku ... masih berharap Hinata kembali." Jawaban itu pelan kepada dirinya sendiri.

.

.

Setelah situasi dan kondisi yang mendorongnya untuk mengambil keputusan, Naruto mulai bekerja di perusahaan Higaraki melalui tes normal seperti orang biasa. Mendapati satu posisi di bagian marketing perusahaan.

Naruto tidak tahu apa yang mungkin terjadi, dia hanya berpikir positif dan menerima segala yang bisa dia peroleh.

Sekarang, setelah 5 bulan bekerja, dia juga membuat keputusan untuk menikahi Shion.

Bukan karena ingin memperlancar bisnis atau apa, tapi Naruto lurus berpikir jika mungkin Shionlah perempuan yang ditakdirkan dengannya. Apalagi setelah dia bertemu dengan Hinata bulan lalu dan menerima kenyataan jika gadis itu kini telah menikah tanpa satu pun kabar undangan.

Naruto hanya bisa berharap dia bahagia dan berjuang untuk melepaskan.

Jadi, di saat Shion kembali menyatakan perasaannya tanpa memaksa, Naruto menerima dengan setengah rasa.

Namun, dia sudah membulatkan tekad untuk sebisa mungkin menerima gadis itu dalam hidupnya mulai sekarang.

"Naruto, kau belum tidur?"

Naruto menoleh ke arah Shion yang baru keluar dari kamar mandi dengan piyama tidur berwarna kuning muda miliknya, memperlihatkan kecantikan perempuan 25 tahun itu yang sudah seharusnya memesona setiap laki-laki.

"Tidurlah lebih dulu, aku masih ada pekerjaan sedikit."

"Oh." Shion bergumam pelan sembari menundukkan kepalanya. Rambut pirang panjangnya jatuh ketika dia berjalan ke tempat tidur. Ada sesuatu yang sangat ingin dia bicarakan kepada suaminya itu, tapi dia sedikit ragu.

Sudah seminggu mereka tinggal bersama sebagai suami-istri, tapi belum semalam pun mereka menghabiskan malam hangat bersama.

"Naru-" panggilan Shion terhenti ketika suara panggilan terdengar dari ponsel Naruto.

Lelaki itu mengambil ponselnya dan mengerutkan dahi saat nomor pemanggil tak dia kenali. Dia menekan tombol jawab tanpa ragu. Namun, belum sempat dia berbicara, suara di sebrang panggilan telah lebih dulu memanggilnya.

'Naruto, aku ada di depan rumah barumu. Kau ingin keluar atau aku menekan bel?'

Naruto terdiam kaku, buku matanya bergetar, pancaran kerinduan itu kembali keluar tanpa penghalang. Suara yang dia rindukan dari orang yang masih sangat dia cintai.

Itu ... suara Hinata.

Bibirnya terbuka, ingin memanggil nama perempuan berharga dalam hatinya itu, tapi ...

"Naruto?"

... suara panggilan Shion lebih dulu terdengar.

Menyentak kesadarannya dari kerinduan tak tersampaikan. Safirnya melirik, menatap perempuan yang kini terduduk di ranjangnya.

Seseorang yang telah menyandang gelar istri baginya.

Benar! Dia ... telah menikah dengan Shion di saat hatinya masih sangat mencintai Hinata.

Kini, Shion ada di atas ranjangnya, dan Hinata ada di depan rumahnya.

Apa yang harus dia lakukan?

~ Wait for next chapter ... ~

A/n :
Hai... Rameen kembali dengan fanfic multichap. #Kangen_Nulis_FF

Semoga yang ini bisa sampai ending deh soalnya Rameen nyicil di fb :") setelah cukup panjang baru disatukan jadi satu chap untuk di up di sini.

Kalau tertarik, nanti juga akan up di wp.

Masih adakah pembaca yang menunggu? :D atau sudah pada hilang? :')

Gpp, Rameen memutuskan untuk kembali menulis ff karena sadar jika ff dan ori emang berbeda dan ff memiliki keistimewaan tersendiri bagi Rameen.

Cukup sekian.
Salam, Rameen