Pelakor yang Sah by Rameen
[U. Naruto x H. Hinata]
Disclaimer Naruto belong to Masasi Kishimoto
Romance, Drama, Pelakor, AU.
Chap 2 : Ajakan Kembali
"Aku akan keluar sekarang."
Setelah mengatakan hal itu, Naruto mematikan panggilan di ponselnya. Dia menarik nafas pelan saat dengan ragu ingin menyampaikan hal itu ke Shion.
"Naruto? Siapa yang menelpon? Kau akan keluar?"
Naruto menatap perempuan cantik yang menatapnya penuh penasaran itu, sedikit ragu untuk mengatakannya karena tak ingin melukai hatinya, tapi perempuan yang berdiri di luar juga tak bisa dia abaikan.
"Shion," panggilnya.
"Ya?"
"Yang barusan menelponku ... Hinata."
Naruto menghentikan sejenak kalimatnya untuk melihat respon sang istri. Benar saja, perempuan itu terlihat tidak senang dengan kerutan di dahi. Matanya menyipit dan mulutnya saling menekan seolah menahan kata-kata.
Oke, Naruto tidak akan melanjutkan kalimatnya. Mungkin sebaiknya dia kembali menelpon Hinata dan menyuruh perempuan itu pergi. Itu akan menjadi pilihan terbaik.
"Jadi?"
"..." Niat Naruto terhenti ketika pertanyaan Shion terdengar dengan nada tanpa emosi. Membuatnya berkedip bingung apakah Shion marah atau tidak?
"Kau akan keluar menemuinya?" Shion masih bertanya datar.
Melihat itu, Naruto menarik nafas dalam dan mengangguk. "Aku akan menemuinya untuk mengatakan agar dia tidak perlu datang lagi. Tapi jika kau tidak mengi-"
"Pergilah."
"... Shion?"
Perempuan itu berkedip santai dengan ekspresi biasa. "Untuk kali ini aku akan memercayaimu. Jadi pergilah, dan cepat kembali." Setelah mengatakan itu, Shion berbalik, meraih selimutnya dan berbaring miring, memunggungi sang suami.
Naruto terdiam menatap hal itu, tapi tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia berdiri dari kursinya, menaruh laptop yang sebelumnya di pangkuan ke atas meja. Lalu melangkah keluar dari kamar.
Rumah mereka tak terlalu besar. Cukup sederhana dengan satu lantai dan ruangan lengkap. Jadi tak butuh waktu lama baginya mencapai pintu utama.
Saat pintu terbuka, seorang perempuan yang berdiri memunggunginya bisa dia lihat.
Sekelebat rindu tiba-tiba menelusup, tertuju lurus pada orang di hadapannya yang telah tak bisa dia rengkuh sejak 5 bulan lalu. Menyisakan rasa tersiksa karena keinginan hati dan pikiran yang saling bertolak belakang.
Tanpa sadar, kini dia telah berdiri tepat di belakang punggung itu. Terpisah pagar besi setinggi dada di antara mereka berdua. Seolah menjadi penghalang terkuat baginya untuk tak melemparkan kenyataan dengan mengikuti keinginan.
"Hinata." Tak dia pungkiri, bibirnya rindu memanggil nama itu tepat di depan orangnya, dan kini, kerinduan itu justru semakin menderu.
Wanita itu berbalik perlahan, memberikan senyum menawan dengan pandangan yang menggetarkan. "Naruto, lama tak bertemu." Sapaannya begitu ringan, mengantarkan rasa indah menenangkan.
Naruto terdiam. Itu wanita yang sama dengan orang yang dia kenal 20 tahun terakhir, tetapi sesuatu membuat Naruto mengernyit aneh tak mengerti. Terasa ... ada yang berbeda.
Mereka hanya saling pandang selama beberapa saat. Sang pria berpikir, sang wanita tersenyum ringan. Menikmati keheningan yang tercipta.
Hingga Hinata lebih dulu memecah kesunyian. "Kau tidak mengundangku untuk masuk ke rumahmu?"
"Istriku hanya mengizinkan untuk menemuimu, tidak untuk mengundangmu."
Senyum Hinata membeku sepersekian detik tanpa disadari oleh Naruto. "Ah iya, kau sudah menikah." Senyumnya semakin lebar saat dia memiringkan kepalanya dan berkata, "Selamat atas pernikahanmu, Naruto. Kuharap kau bisa selalu memberikan kehagiaan untuk istrimu."
Entah hanya perasaannya saja atau tidak, Naruto merasa Hinata menekankan kata 'istri' dengan nada yang penuh makna.
"Kenapa kau datang ke sini?" Naruto tak ingin berlama-lama, dia takut tak bisa menahan diri.
"Aku merindukanmu."
Jawaban itu tegas dan terasa merayu walau Naruto tak tahu kenapa hatinya tiba-tiba ragu.
"Oh ya, kalau istrimu tidak membolehkanku masuk, bagaimana jika kita keluar?"
Saat ajakan itu keluar dari bibir Hinata, Naruto menggertakan giginya. Perempuan ini ... menggodanya?
"Sebenarnya apa tujuanmu ke sini?" Dia tak akan bertele-tele.
Hinata masih terus mempertahankan senyumnya ketika dia mengangkat bahu. "Aku katakan merindukanmu, kau diam. Aku katakan ingin mengobrol, kau mengalihkan. Kau tidak percaya lagi pada semua yang aku katakan, bukan?"
"Berhenti bercanda, Hinata! Jika memang tidak ada yang penting, sebaiknya kau pulang."
Seketika senyum Hinata hilang, dia mengalihkan pandangannya dan menarik nafas. "Aku kesepian."
"Bukankah kau sudah menikah?"
"... hah?" Hinata menatapnya kaget. "Menikah? Aku?"
Dahi Naruto berkerut. "Aku melihatmu di restoran Berlian bersama seorang laki-laki bulan lalu, dan saat kau ke toilet, kami tak sengaja bicara. Dia bilang jika dia suamimu."
Pandangan Hinata kosong dengan mata berkedip polos. "Oh, dia? Ah ya ... itu benar, dia ... suamiku. Hm, itu benar."
Dia mengangguk mengakui dengan semangat, membuat Naruto sedikit tak suka.
"Ne, Naruto. Aku sudah menikah, jadi itu sebabnya kau menikahi istrimu sekarang? Apa kau menikahinya karena cemburu denganku? Atau ... kau masih cemburu sekarang?" Senyuman itu kembali.
"Aku tidak! Lupakan semua imajinasimu. Menikahi Shion adalah pilihanku sendiri tanpa pengaruh apa pun."
Naruto mengatakannya dengan jelas, tetapi tangannya terkepal erat. Tatapan matanya tajam, tetapi luput dari perhatian Hinata.
"Oh," desah Hinata kecewa. "Karena kau bilang kau tidak cemburu, jadi kukatakan saja. Aku sudah bercerai."
"...?!" Naruto tersentak kaget. Apa-apaan pengakuan itu?
"Naruto, kau bertanya apa tujuanku sebenarnya, kan?"
Hinata maju selangkah dan meletakkan kedua tangannya di atas pagar sebelum menopang dagu di tangannya. Lebih dekat dengan laki-laki di hadapannya kini, seolah ingin melempar jauh pagar pemisah antara mereka.
"Aku ingin kita kembali bersama," bisiknya penuh candu.
Bulu mata Naruto bergetar. Suara itu begitu merayunya hingga ke titik tertinggi pertahanan yang dia pasang.
"Aku ... sudah me-nikah."
Mendengar kalimat ragu tergagap itu, dengkusan senang Hinata terdengar. Sorot matanya tertawa seolah melihat komedi lucu di depan sana.
"Ya, aku tau. Tapi aku masih mencintaimu, dan aku yakin kau juga masih mencintaiku. Itu cukup, bukan?"
"... Hinata, kenapa kau jadi seperti ini?"
Rasanya sulit Naruto percaya, perempuan yang lembut dan baik hati seperti Hinata, yang begitu suka tersenyum manis dan sangat peduli ... menjadi sosok perempuan yang dengan mudahnya menggoda suami orang.
Mungkin perempuan itu melakukan ini hanya pada Naruto, tetapi ... tetap saja.
Sejak terakhir mereka bertemu di hari perpisahan itu, Naruto seolah kehilangan diri Hinata yang sesungguhnya. Dia merasa Hinata memaksakan diri untuk bertingkah tak sesuai dengan karakter Hinata yang sebenarnya.
"Kau sekarang sedang menggoda suami orang, kau tau itu, kan? Seingatku kau tidak suka orang yang berselingkuh. Lalu kenapa kau merayuku untuk berselingkuh?"
"Ppfftt... hahaha." Perempuan itu tertawa. "Naruto, kau lucu sekali. Aku tidak merayumu untuk berselingkuh. Aku ingin kau meninggalkan istrimu dan kembali padaku."
"Itu lebih buruk."
"Kenapa? Kita masih saling mencintai. Aku tau kau tidak mencintai wanita itu sedikit pun."
"Hina-"
"Bahkan," dia memotong. "Aku berani mengatakan jika kau belum menyentuhnya sekali pun. Apa aku benar?"
Naruto terdiam. Yang ingin dia luruskan adalah sifat Hinata yang berubah. Namun, perempuan itu membahas perasaan dan pernikahannya.
Dan juga ... itu semua benar.
Sejujurnya, Naruto merasa tidak nyaman untuk menyentuh Shion walau mereka sudah menikah. Entah itu karena perasaannya masih tertuju pada Hinata, atau karena dia tak memiliki perasaan apa pun untuk Shion, atau karena ... dia merasa ada yang salah dengan semuanya.
Yang pasti, semua yang dikatakan perempuan di hadapannya ini ... benar.
"Itu bukan urusanmu," sangkalnya pelan.
Tatapan Hinata melembut, ekspresinya menunjukkan kelegaan yang tak ingin dia tunjukkan. "Baiklah, baiklah. Kau menolak semua yang kukatakan, jadi aku akan pergi saja sekarang."
"Rumahmu jauh dari sini. Ini sudah malam."
"Oh ya? Apa kau ingin mengundangku menginap di rumahmu?"
"Tidak."
"Kalau begitu ... kau mau mengantarku pulang?"
"... tidak."
"Ayy," Hinata menghela nafas dan berkacak pinggang. "Jadi maksud kata-katamu itu apa?"
"Aku hanya bermaksud untuk mengatakan hati-hati."
Hinata membuat ekspresi terkejut di wajahnya secara pura-pura. "Kau sangat kejam, Naruto. Padahal dulu kau tidak akan membiarkanku sendirian walau hanya 5 meter dari rumahku. Sekarang kau tega membiarkanku pulang sendiri?"
"Semoga kau selamat sampai di rumah."
"Ck ck ck." Hinata menggeleng dramatis dengan tangan di dahi. "Laki-laki yang kejam. Sungguh kejam. Aku perempuan lemah yang mesti pulang sendirian ke rumah di malam hari tanpa pengantar. Bagaimana kalau sesuatu terjadi padaku?"
Naruto berkedip tanpa ekspresi melihat tingkah sang ratu drama di hadapannya. Apakah Hinata mengikuti kelas drama lima bulan terakhir? Naruto ingin bertanya.
"Sudahlah." Hinata mengembus nafas mengerti. "Aku akan pulang. Oh ya, aku akan menemuimu lagi nanti."
"Jangan temui aku-"
"Tenang saja. Kalau kau tidak ingin meninggalkan istrimu, aku hanya akan merayumu untuk menjalani perselingkuhan rahasia."
"... apa?!"
"Jaa ne, Naruto-chan."
Naruto tak lagi bisa berkata-kata atas sikap perempuan yang kini telah melangkah pergi itu. Sungguh kepribadian yang telah berubah 180 derajat.
Sungguh, Naruto ingin bertanya apa yang terjadi sejak perempuan itu meninggalkannya hingga menjadi seperti ini.
"Kyaaa!"
Baru saja Naruto ingin berbalik masuk, jeritan Hinata terdengar tak jauh dari sana. "Hinata?!"
Tanpa berpikir panjang, Naruto membuka pagar dan segera berlari menuju asal suara dari seorang perempuan yang dia cintai.
"Hinata?" Dia melihatnya, di pinggir jalan yang agak gelap, perempuan itu duduk sambil menunduk. Naruto mempercepat langkahnya dan dengan cepat berada di samping perempuan itu. "Kenapa? Ada apa?"
Hinata mendongak dan menatapnya terkejut sebelum berkata dengan pelan. "Tidak apa. Hanya ... sepatuku menyangkut di penutup pembuangan."
Hinata berdiri dan menunjuk sepatunya yang telah dia lepaskan sebelumnya. Kini sebelah kakinya menginjak aspal tanpa alas.
Melihat itu, Naruto menghela nafas pelan. "Sejak kapan kau suka memakai high heels?"
Hinata mengangkat bahu. "Sejak tadi?" jawabnya polos.
Naruto mengabaikan dan mulai berlutut untuk melepaskan sepatu yang tersangkut.
Dari atasnya, dia mendengar tawa kecil dari Hinata. Begitu lucu dan riang.
"Apa yang kau tertawakan?"
"Kau tahu, Naruto? Aku mengatakan segalanya tadi agar kau setidaknya membuka pagar yang ada di antara kita, tapi kau bergeming. Sekarang, aku bahkan tidak mengatakan apa pun, tapi kau sudah dalam sekejap berada tepat di sampingku. Bukankah ini lucu?"
Benar! Naruto mengakui jika itu lucu, walau dia tidak ingin tertawa. Dia hanya tak sadar jika sudah bertindak tiba-tiba saat mendengar teriakan Hinata tadi.
Setelah dia akhirnya berhasil melepaskan sepatu itu, dia meletakkannya di depan kaki Hinata, tangannya bergerak untuk meraih kaki kanan Hinata yang telanjang, bermaksud memakaikan sepatu itu seperti kebiasaannya di masa lalu.
Namun, dalam sepersekian detik yang sangat cepat, Naruto tersadar dan langsung menarik tangannya sebelum menggapai kaki jenjang itu. Dia langsung berdiri dan mengalihkan pandangan.
Terlambat! Hinata hanya mengulum senyum karena apa yang dilakukan Naruto jelas tertangkap di matanya. Perasaan senang menelusup dadanya ketika dia memakai sendiri sepatu itu tanpa suara.
"Lebih berhati-hatilah lain kali. Jika kau tidak terbiasa memakainya, jangan dipakai."
Omelan itu semakin melebarkan senyum Hinata. Dulu, selama 20 tahun waktu mereka bersama. Naruto akan mengomelinya untuk hal-hal ceroboh yang Hinata lakukan. Namun, Hinata bukan gadis sembrono yang bodoh, dia adalah perempuan pintar yang anggun dan lembut, jadi jarang melakukan hal yang ceroboh.
Meski begitu, ada sesekali dia akan tidak sengaja memasukkan gula dengan garam, atau kurang hati-hati saat membuka penutup kaleng minuman hingga terciprat ke mana-mana. Di saat-saat seperti itu, Naruto ada untuk mengomelinya.
Sekarang, setelah lima bulan, hal tersebut kembali terulang. Hinata tak bisa memungkiri perasaan nostalgia itu.
"Jika kau tidak suka aku memakainya, maka aku tidak akan pernah lagi memakainya," ucap Hinata.
"Bukan itu maksudku. Jika kau ingin memakainya maka pakai saja, tapi kau harus hati-hati. Jika kau ingin memakainya, maka biasakan. Jangan sampai apa yang terasa aneh membuatmu malu di depan keramaian karena jatuh seperti tadi."
"Dari mana kau tahu kalau aku jatuh?"
Naruto ingin menjawab kalau teriakan Hinata tadi bukanlah teriakan kaget biasa, dan dia juga melihat sedikit lecet di lutut perempuan itu ketika dia berjongkong mengambil sepatu tadi. Namun, Naruto merasa tak perlu untuk menjelaskannya, jadi dia hanya diam.
"Terserah kalau kau tidak ingin menjawab. Setidaknya aku ingin berterima kasih karena sudah menolongku. Dah, Naruto."
Dia kembali berpamitan dan melangkah pergi, diikuti pandangan sepasang safir yang bersinar dalam kegelapan, ingin mendekat dan meraih perempuan itu dalam rengkuhan kehangatan yang selalu dan selalu merindukannya.
Naruto tahu hal itu takkan kembali terulang. Dia tak ingin menjadi suami brengsek yang menyakiti dan mengkhianati istri-setidaknya itu yang dulu selalu dia cita-citakan dengan Hinata sebagai istrinya.
Namun siapa sangka, Hinata kini hadir menjadi sosok yang justru menguji kesetiaan dan cita-citanya. Ditambah lagi, istri yang dia nikahi bukanlah orang yang dia cintai. Naruto hanya sepenuhnya berharap jika Hinata tak terus-terusan menggodanya, atau ...
Cklek
Dia membuka pintu kamar dan terpaku menatap Shion yang berdiri di samping jendela. Dari sana, bisa melihat jelas halaman depan rumah mereka, tentunya pintu pagar yang menjadi tempatnya dan Hinata mengobrol tadi.
Perempuan berambut pirang itu kini berbalik, menatapnya datar tanpa suara.
"Shion." Naruto memanggil, merasa perlu menjelaskan saat tadi dia membuka pagar dan berlari pergi. "Tadi ... aku mendengarnya berteriak. Aku hanya ingin membantu. Tak ada apa pun yg terjadi."
"Hm." Hanya itu tanggapan sang istri sebelum kembali ke ranjang dan berbaring miring. Memunggungi Naruto seperti sebelumnya.
Naruto tak tahu jika kondisi seperti ini lebih menyiksa dari menerima kemarahan secara langsung.
~~~~~ bersam sam ~~~~~
A/n.
Leopard2RI : Masih hidup woyyy :"D aku merasa kek Naruto. Masih hidup dah dikira mati. T_T
Makasih untuk : Leopard2Ri, woodpackersoelazarus12, Stephen Porzingis, hamnurhana, sup iler, Just me, double guest, Auhtor03.
Perjalanan masih panjang. Banyak-banyak sabar ya. :D
Salam, Rameen.
