Pagi menyapa dengan kesunyian di antara suami-istri itu. Shion masih tak mengatakan apa-apa sejak semalam. Dia hanya menyediakan sarapan dan keperluan Naruto tanpa kata.
Naruto juga tak bisa mengatakan apa-apa. Dulu, saat dia madih berpacaran dengan Hinata, Naruto bisa merangkai seribu kata dan seratus usaha untuk membujuk dan mengembalikan mood sang kekasih jika ada kesalahpahaman di antara mereka.
Namun Naruto sendiri tak tahu kenapa saat ini, dia bahkan tak berniat membujuk walau sedikit. Dia sepenuhnya merasa bersalah dan merasa tak berhak berbicara.
Sampai kini keduanya duduk bersama di meja makan. Naruto hanya dengan cepat menyelesaikan makannya dan meminum pil dari botol di tangannya.
"Apa kepalamu masih sering sakit?" Akhirnya Shion berbicara.
Naruto menelan obatnya dan menoleh. Tersenyum sambil menggeleng pelan. Memberikan jawaban ringan untuk tak membuat istrinya khawatir.
"Memang terkadang sakit, tapi aku baik-baik saja."
"Apa ... kau ingat sesuatu?"
"Maaf, aku masih belum bisa mengingat apa pun."
Shion menghela nafas dan mengangguk. "Tidak perlu memaksa. Asalkan kau sehat."
Naruto mengangguk. "Shion, aku minta maaf untuk yang semalam."
Pandangan Shion beralih ke piringnya. "Asalkan kau tidak berhubungan lagi dengannya."
Naruto membuka mulutnya untuk menjawab 'ya', tetapi dia mengingat ucapan Hinata semalam yang masih akan menemuinya lagi. Jadi Naruto menahan ucapannya.
Melihat Naruto yang diam, Shion mencengkram sendok di tangannya dengan kuat. Menahan diri untuk tidak berteriak marah.
Sesuatu memaksanya untuk menahan diri.
"Naruto, apa pun yang dia lakukan. Jika itu untuk merebutmu dariku, maka aku tidak akan membiarkannya. Kita sudah menikah, dan seharusnya kau tidak tergoda olehnya."
Shion berdiri dan melangkah pergi ke kamar. Meninggalkan Naruto yang mengacak rambut pirangnya dengan kesal.
Dia kesal pada dirinya sendiri yang-jujur saja-tak bisa menolak kembalinya Hinata.
Naruto baru saja memarkir mobilnya-yang merupakan paksaan dari sang mertua untuk dipakai bekerja dan kebutuhan sehari-hari, alasannya karena mertuanya itu ingin memberi kenyamanan untuk Shion.
Dia berbalik dan berjalan beberapa langkah saat dia berhenti karena mendapati Hinata sedang berjalan dengan seorang laki-laki sambil berbicara. Keduanya melangkah memasuki perusahaan tanpa ada keraguan.
Sedikit kerutan muncul di dahi Naruto, tetapi dia menolak untuk mencaritahu. Sebaliknya, dia bersikap seolah tak melihat siapa-siapa dan terus melangkah memasuki perusahaan, langsung menuju lift agar sampai ke ruang kerjanya di lantai 6.
Naruto merapikan sedikit jasnya sembari menunggu. Sesungguhnya dia tak nyaman. Bekerja di perusahaan besar dengan setelan jas rapi seperti ini tak pernah menjadi impian Naruto.
Hidupnya bukanlah dari kalangan berada. Dia menjalani kehidupan sederhana yang membahagiakan. Walau tak punya orang tua, dia memiliki Hinata. Walau bukan sekolah terkenal, dia masih menyandang gelar sarjana. Walau berpenghasilan kecil, dia meraihnya dengan usaha dan keinginan sendiri.
Impian terbesarnya dalam mencari nafkah adalah memiliki toko yang dia kelola sendiri hingga menjadi besar. Dia belum memikirkan apa yang harus dijual, tetapi selama itu menarik minat banyak pembeli, maka tak masalah. Lagipula, Hinata sudah memesan sebagian tempat dari tokonya untuk menjual barang-barang buatan tangan wanita itu.
Usaha yang menjadi milik pribadi dari sepasang suami-istri.
Naruto cukup puas dengan impiannya.
Hanya saja, kini semuanya telah berubah secara paksa. Menjadikannya seorang karyawan kantoran yang terjebak dalam balutan jas sepanjang hari.
Ting
Pintu lift terbuka di lantai 5, menandai ada orang yang ingin masuk. Naruto yakin tak ada yang berniat keluar karena hanya ada dua orang bersamanya dan tujuan dua orang itu adalah lantai 11.
Saat dua orang lain memasuki lift, Naruto kembali bertatap dengan Hinata.
~~
Naruto kaku. Wajahnya terkejut.
Hinata tersenyum. Wajahnya berseri.
Sungguh dua reaksi yang jauh berbeda.
Saat Hinata dengan sengaja masuk lalu memilih tempat tepat di sampingnya untuk berdiri di dalam lift, Naruto benar-benar tak bisa lagi fokus memikirkan pria lain yang masuk bersama Hinata dan kini berdiri di samping wanita itu setelah menekan tombol lift yang menunjukkan lantai 14.
Sesungguhnya Naruto ingin tahu, apa urusan Hinata dan lelaki itu di lantai para atasan? Namun beberapa alasan membungkam keinginannya untuk bertanya.
Satu, dia ingin menghindari urusan yang terkait dengan Hinata.
Dua, jari jemari tangan kiri wanita itu sudah sejak awal berulang kali mengaitkan jari tangan kanannya.
Tiap kali punggung tangan itu dengan sengaja menyentuhnya, Naruto bergeser lebih ke kiri. Lalu Hinata akan ikut bergeser dengan berpura-pura bergerak sambil mengobrol pelan dengan teman lelakinya.
Kekesalan Naruto meningkat hanya dalam hitungan menit perjalanan dari lantai 5 ke lantai 6.
Saat suara lift yang sampai tujuan terdengar, Naruto segera melangkah maju melewati beberapa orang untuk keluar.
Setelah keluar dan berbelok di ujung lorong, Naruto yang merasa tak ada orang di sana segera memukul pelan dinding dengan dahinya.
Depresi.
"Dia membuatku gila."
~~
Naruto masih fokus ke layar monitor saat ponselnya berdering. Setelah melihat siapa yang menelpon, dia segera mengangkatnya.
"Hallo, Shion."
'Naruto, kau tidak lupa aku tadi membawakanmu bekal makan siang, kan?'
Naruto melirik tas kecil di sudut mejanya dan tersenyum. "Tentu saja tidak. Sebentar lagi waktu makan siang, aku akan segera memakannya."
'Itu bagus. Aku hanya mengingatkan karena ini pertama kalinya aku membuatkan bekal. Takutnya kau lupa.'
"Aku tidak lupa."
'Oke, itu saja.'
Suara panggilan itu langsung terputus dengan cepat, membuat Naruto menghela nafas. Sepertinya Shion masih sedikit bad mood.
Naruto akan membelikan sesuatu saat pulang nanti.
Sepuluh menit kemudian, ponselnya kembali berdering. Dia kembali mengangkatnya dengan cepat.
"Iya iya, aku akan makan sebentar lagi."
'...'
Naruto menutup lembar kerja di monitor setelah menyimpannya, lalu menghela nafas. Saat itu dia mengerutkan dahi karena tak ada jawaban dari Shion.
Ponselnya masih menyala, kan? Untuk memastikan, Naruto melihat layar ponselnya hanya untuk terdiam saat melihat nomor tak dikenal di sana. Namun Naruto masih ingat jika nomor ini adalah nomor yang menghubunginya semalam.
Itu nomor Hinata.
Dia tak melihat dulu saat mengangkat telpon tadi.
'Naruto?'
Panggilan samar terdengar dari sana, membuat Naruto kembali menempelkan ponsel itu di telinganya.
'Kau mengira aku istrimu, atau kau tau kalau aku ingin mengajakmu makan bersama?'
Dahi Naruto berkerut. "Aku akan makan sendiri."
'Oh ayolah, aku tidak ada teman. Kau tega membiarkanku makan sendiri di cafetaria perusahaan tempatmu bekerja ini?'
Hinata masih di kantor? Apa yang wanita itu lakukan sejak tadi pagi? Apa selalu bersama dengan laki-laki sebelumnya?
Tanpa sadar, alis Naruto menukik tajam.
'Kalau kau tidak datang ke cafetaria sekarang untuk makan bersamaku, aku akan datang ke meja kerjamu dan makan di sana.'
"Baiklah!" Naruto menyesali jawabannya yang spontan hanya karena gugup atas ancaman Hinata. Dia menghela nafas lelah dan melanjutkan kata-kata. "Aku akan ke sana."
Suara tawa terdengar dari sebrang telpon. 'Aku menunggumu.'
Panggilan terputus.
Melirik tas bekal di atas mejanya, Naruto sekali lagi mengembus nafas guna menenangkan diri. Dia membereskan sedikit meja dan memasukkan ponselnya ke saku.
Lima menit terlewat dari waktu makan siang dimulai, beberapa rekannya terlihat sudah pergi.
Naruto meraih tas bekal buatan istrinya karena tak berniat memesan makanan lain. Dia akan memakan itu agar Shion tidak kecewa.
~~
Sampai di tempat yang dijanjikan, Naruto seketika ingin berlari saja. Melihat Hinata yang duduk di salah satu meja sembari menunggu, itu membuatnya mengingat masa lalu.
Naruto baru saja mengingat dan berpikir, sebentar lagi Hinata pasti mengayun pelan kakinya dan menopang dagu.
Baru sedetik setelah pikiran itu, Hinata benar-benar melakukan hal serupa. Menciptakan sepercik rasa senang di hati si Uzumaki.
Hinata tiba-tiba menoleh dan menatapnya, tersenyum cerah sembari melambaikan tangan. Menarik perhatiab beberapa karyawan kantor yang sedang berkunjung. Jadi, Naruto segera menghampiri agar tak lebih banyak perhatian yang datang.
"Apa yang kau lakukan di kantorku?" tanya Naruto segera. Bahkan sebelum dia menarik kursi.
Namun, netra indah Hinata justru mengarah penuh makna pada tas bekal bawaan Naruto. Sebaris senyum simpul, sukses dia sembunyikan.
"Istrimu baik sekali. Contoh istri idaman yang membuatkan bekal untuk suaminya bekerja."
Naruto mengabaikan. Mendudukkan dirinya di kursi depan Hinata. Segera menyiapkan sajian makan siangnya.
"Tunggu!" tahan Hinata cepat. "Kau mau langsung makan? Aku bahkan belum memesan apa-apa."
"Kalau begitu cepat urus dirimu sendiri."
"Naruto~~" rengek Hinata manja.
Tanpa disadari siapa pun, cengkraman Naruto pada sumpitnya mengerat. "Baiklah, ambil makananmu sekarang, aku akan menunggu."
Wajah Hinata cerah. "Menurutmu makanan apa yang enak di sini?"
"Semuanya enak."
"Kau menyuruhku makan semuanya?"
Kesabaran Naruto terbatas. Bukan karena amarahnya, tetapi karena hal lain. Dia mengembus napas sekali sebelum melihat menu yang terpajang pada banner kecil di bagian depan konter makanan.
"Sup miso rasanya enak. Atau ... dendeng daging sapi juga boleh dicoba."
"Oke," jawab Hinata semangat. Dia segera berdiri dan berjalan menuju konter.
Selama proses pengambilan makanan, Naruto tak bisa mengendalikan safir birunya untuk tak mengikuti.
Namun, lagi-lagi dia tersadar jika ini salah. Tak seharusnya dia masih memerhatikan wanita lain saat dia sudah menikah.
Ketika Hinata telah selesai dan kembali, ponsel Naruto berdering. Membuatnya mengangkat panggilan itu segera.
Panggilan itu berasal dari rekannya, menanyakan beberapa file dan urusan pekerjaan. Naruto serius menanggapi. Harusnya ... begitu.
Alisnya bertaut ketika Hinata yang telah kembali duduk di depannya menatap dengan tersenyum. Sengaja mengedipkan mata beberapa kali dengan pelan. Bermaksud menggoda.
Mau tak mau, Naruto memiringkan tubuh untuk menghadap yang lain, dan mengabaikan Hinata. Dia berbicara beberapa saat lagi sebelum akhirnya panggilan berakhir.
Naruto kembali menyimpan ponselnya dan berbalik untuk makan. Namun ... di hadapannya kini adalah paket makan siang lengkap dari cafetaria ini, bukan bekal buatan sang istri.
Dia memandang ke depan dan tercengang, menatap Hinata yang terlihat senang menyantap telur gulung dari kotak makan rumahan itu.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Naruto ragu.
"Makan. Kau juga harus makan."
"... Itu milikku."
Hinata memasang ekspresi polos, lalu berpikir. Sedetik kemudian, dia pura-pura terkejut. "Naruto, apa kau ingin memakan makanan yang telah aku makan? Ya ampun. Ini masakan istrimu, tapi kau ingin memakannya bersama wanita lain?"
Perempatan muncul di dahi si laki-laki. Tiba-tiba saja, dia menyadari sesuatu. Hinata sengaja menggodanya tadi untuk membuatnya berbalik, lalu dengan diam-diam menukar makanan mereka.
"Terserah kau saja. Makan itu jika kau mau," ujar Naruto mengalah. Dia meraih sendok di depannya untuk meraup nasi dari mangkuk yang tersedia. Mengunyah sebentar sebelum juga mengambil beberapa sendok sup dari mangkuk berbeda.
Tawa, tiba-tiba terdengar dari depannya, tetapi Naruto mengabaikan.
"Makanan itu juga sudah aku cicipi tadi."
Uhuk uhuk uhuk
Naruto tersedak seketika. Dia meraih botol minumannya dan segera meneguk beberapa kali. Setelah itu, baru dia sedikit tenang.
"Aku ... juga sudah meminum dari sana sebelum ini."
"..." Naruto terdiam.
Bekal makan, botol minum, bahkan makanan yang diambil dari cafetaria pun ... sudah Hinata cicipi. Tak peduli darimana melihatnya, dia makan dan minum dari sesuatu yang telah tersentuh bibir manis nan merah menggoda wanita di depannya.
Bibir yang dulu sering dia sentuh. Kini, hanya dengan sentuhan tak langsung ... Naruto merasakan bibirnya kesemutan.
Tersiksa antara keinginan dan kenyataan.
Kenapa wanita ini selalu begitu mudah mengacaukan hidupnya?
Saat jatuh cinta, Hinata mengacaukan hatinya dengan rasa bahagia.
Ketika wanita itu meninggalkannya, Hinata mengacaukan perasaannya dengan derita.
Sekarang dia kembali, dan mengacaukan kewarasannya dengan kegilaan yang tak bisa diraih.
"Kau sengaja melakukan ini?" tanya Naruto putus asa.
Hinata menjukkan senyum menawan sembari mengangguk. "Ya, aku sengaja."
"Kenapa? Aku sudah menikah, kau juga sudah pernah menikah. Hidup kita sudah masing-masing."
Senyum Hinata memudar, tatapannya menajam. "Aku tidak suka dengan hal itu. Aku tidak suka dengan semua kenyataan yang terjadi antara kita."
"Apa?"
"Kau milikku. Aku akan merebutmu dengan segala cara agar kau meninggalkan dia dan kembali padaku."
Tangannya Naruto terkepal. "Lalu kenapa kau meninggalkanku waktu itu?"
Tatapan Hinata menyendu. "Maaf, Naruto. Aku salah. Aku yang salah," ujarnya lirih.
Naruto kehilangan dirinya. Tanpa sadar, tangannya bergerak. Ingin menyentuh pipi gembil Hinata, dan mengelus kepala berambut indigo halus di sana.
Namun, sebelum tangannya bahkan bergerak tiga centimeter, panggilan lain datang penuh dengan nada keterkejutan.
"Apa yang kalian berdua lakukan?"
~~~~ to be continued ~~~~
A/n :
Chizu : Akun wp ku IndomieJahe. Pelakor yang sah juga ada di sana.
Akun satu nama mi, aku lain mi juga :"D
Banyak yang bilang nggak suka tema pelakor, tapi karena itu Hinata, jadi dimaafkan. Karena itulah aku berani eksekusi :"D
Makasih yang udah do'ain aku biar sehat. Aamiin, semoga aku diberi kesehatan biar tetap melanjutkan ff ini.
Sorry kalau updatenya lama, aku berusaha di tengah kerjaan duta. #eeeaaakkk.
Sebenernya aku lagi garap novel ori. Siapa tau bisa terbit. :D
Udah ah, sekian dari aku.
Semoga terhibur dengan godaan-godaan Hinata yang membuat Naruto depresi.
Salam, Rameen.
