Pelakor yang Sah by Rameen
[U. Naruto x H. Hinata]
.
Jangan Membuatku Tertawa
.
Dalam suasana yang hampir membuat perasaan larut, satu suara datang menginterupsi.
"Apa yang kalian berdua lakukan?"
Keduanya menoleh, dan menatap seorang laki-laki berambut merah sedang menatap menyipit.
Ekspresi Naruto dingin ketika melihatnya. Itu adalah laki-laki yang tadi pagi bersama Hinata.
"Sasori-kun? Urusanmu sudah selesai?" ucap Hinata dengan nada riang. Sukses mengerutkan dahi si Uzumaki.
Tangannya yang tadi ingin meraih sang wanita, kini terkepal dengan penuh kekesalan. Naruto tahu kalau dia tak seharusnya merasa kesal dengan suasana ini. Namun, menghilangkan kebiasaan bukanlah suatu hal yang mudah.
Dia sudah bersama Hinata selama 20 tahun. Sudah berpacaran bertahun-tahun. Biasa baginya untuk merasa cemburu dan kesal akan keberadaan laki-laki lain di samping wanita itu.
Hal yang lebih menyebalkannya ... dulu dia bisa bertindak jelas, menunjukkan kalau Hinata adalah miliknya. Kini ...
"Aku akan kembali."
Dia berdiri dan langsung melangkah pergi. Tak memedulikan panggilan Hinata, atau pun kotak bekalnya.
Sasori baru saja duduk di tempat Naruto sebelumnya, ketika melihat tatapan tajam Hinata yang mengarah padanya. Tanpa bisa melakukan apa-apa, dia menghela napas.
"Kenapa kau mengganggu kami? Itu tadi suasana yang bagus."
"Ya, ya. Aku yang salah." Sasori tak ingin memperpanjang. Tangannya bergerak untuk meraih minuman di meja, tetapi Hinata segera mengambilnya.
"Ambil minum lain, ini milikku."
"Huh! Setauku itu minumannya."
"Sasori-kun, semua makanan dan minuman di sini sudah dicicipi. Kau ingin makan bekas orang?"
"Bagaimana denganmu? Kau ingin makan bekas orang?"
"Selama milik Naruto, berarti juga mililku."
Sasori tak bisa berkata-kata lagi. Dia baru kenal beberapa bulan dengan wanita ini, tetapi merasa sudah lelah jika mereka sudah membahas mantan kekasihnya itu.
"Bagaimana dengan bekal itu? Kau akan mengabiskannya juga?"
"Tentu saja!" jawab Hinata cepat. "Ini adalah makanan yang dimasak penuh cinta untuk sang suami. Sangat sayang kalau tidak dimakan."
Sasori sakit kepala. "Sampai kapan kau akan bertindak seperti ini?"
Alis Hinata naik sebelah. "Aku baru saja memulainya semalam. Kau sudah bertanya sampai kapan?"
"Kau belum mengatakan itu kepadanya?"
"Jika aku sudah mengatakannya, apa kau pikir dia masih akan menghindariku?"
"Kapan kau akan mengatakannya?"
Hinata melambaikan tangannya santai. Menyuruh untuk tak terburu-buru. "Aku ingin menikmati proses perebutan ini. Tenang saja. Aku tidak berniat balas dendam dengan mudah."
Tatapan mata pria itu tak terbaca, mengarah lurus kepada wanita di depannya. Mengingat saat pertama kali mereka bertemu. Ekspresi tertekan dan depresi begitu kentara. Menunjukkan betapa wanita itu ingin mengamuk melampiaskan semua amarah dan ketidakadilan atas hidupnya. Hanya bisa bertahan dan menjalani semuanya di bawah ancaman.
Keputusan Sasori untuk membantunya juga bukanlah atas tindakan iseng semata. Apalagi itu juga karena permintaan juniornya yang sudah menjadi teman akrab.
"Oh ya, urusanmu sudah selesai?"
Sasori memutuskan ingatannya dan mengangguk. "Jadi cepat selesaikan makanmu agar kita bisa pergi."
"Ke mana?"
"Cari makan."
"Kau bisa makan di sini."
"Sambil melihatmu memakan semua makanan sisa itu?"
"Ini bukan makanan sisa!" Hinata ngotot.
Menggeleng pelan, Sasori berdiri. "Aku akan tunggu di mobil. Kebetulan Deidara sudah menunggu di restaurant biasa."
.
Waktu menunjukkan pukul 07:30 malam saat Naruto menginjakkan kaki di teras rumahnya dan mengetuk pintu.
Tak butuh waktu lama hingga seseorang membuka dari dalam dengan perlahan.
"Tadaima," ucap Naruto dengan senyum.
Wanita di hadapannya mengangguk. "Okaeri."
"Lihat!" Naruto mengangkat tangannya yang memegang bungkusan plastik berwarna hitam. Mencetak bentuk kotak persegi dari benda di dalamnya. "Aku membeli makanan kesukaanmu. Kita makan bersama, ya?"
Netra Shion tersenyum ketika menerima bungkusan itu. "Ayo masuk."
Keduanya berjalan ke bagian dalam rumah setelah menutup pintu. Melewati dapur yang bersisian dengan kamar mereka.
"Makan malam sudah siap. Kau mau mandi atau langsung makan?"
"Aku akan mandi dengan cepat. Setelah itu baru kita makan bersama."
Shion mengangguk atas jawaban suaminya. Saat Naruto akan melangkah menuju kamar, dia memanggil.
"Ya?"
"Mana tas bekalmu, aku akan membawanya ke dapur sekalian."
Naruto berkedip tanpa suara. Safir birunya sedikit bergerak ragu saat dia menggaruk kepalanya pelan. "Itu ... aku tidak biasa membawa bekal. Jadi itu ketinggalan di kantor."
"Ketinggalan?" Alis Shion bertaut.
Naruto mengangguk. "Ya, ketinggalan. Besok akan aku taruh di dekat tas kerjaku agar tidak terlupa."
"Hm, baiklah."
Naruto tersenyum dan berbalik, meneruskan langkahnya menuju kamar, sementara Shion melangkah ke dapur.
Namun, ketukan lain terdengar, membuat wanita berambut pirang pucat itu menoleh dan kembali berjalan untuk membuka pintu.
Tangannya memutar kunci pelan sebelum menarik pintu ke dalam agar terbuka. Ketika melihat siapa yang berdiri di hadapannya, ekspresi Shion menegang.
Berbanding terbalik dengan sang tamu yang justru menoleh santai dan tersenyum lebar. "Hai, akhirnya kita bertemu." Tamu itu-Hinata, melambaikan tangan untuk menyapa.
Genggaman Shion mengerat pada gagang pintu tanpa mengeluarkan ekspresi di wajah. "Apa yang kau lakukan di sini?"
"Jangan membuat wajah menyeramkan begitu. Tenanglah! Aku tidak akan mengatakan rahasia-rahasia penting kepada Naruto sekarang."
Hinata mengangkat tangannya yang memegang tas berisi kotak bekal ke hadapan Shion. Sedikit mengayunnya dengan ceria. "Aku hanya ingin mengembalikan ini."
Mata Shion menyusut. Dia menarik tas itu dengan kasar. Pandangan matanya tajam mengarah pada wanita di depannya.
Menghela nafas, Hinata memahami, lalu menjelaskan. "Tadi Naruto langsung pergi tanpa membawanya, jadi aku berbaik hati untuk mengantarkan setelah menikmati isinya. Bukankah aku baik?"
"Kau yang memakan?" Nada pertanyaan Shion penuh keraguan yang dibalut ketidakpercayaan.
"Hm. Aku tidak suka melihat Naruto memakan masakan wanita lain di depanku. Jadi aku yang memakan semuanya. Ah, itu sangat enak. Ternyata kau juga pandai dalam hal-hal baik."
Shion mendengkus. "Sebenarnya apa yang kau inginkan? Tiba-tiba kembali dan merusak kehidupan orang lain."
"Kau bertanya, tapi sudah menjawabnya." Hinata berpangku tangan sambil menggeleng dramatis. "Benar! Aku kembali untuk merusak kehidupanmu dan mengambil kembali Naruto."
"Kau tidak bisa!"
"Aku bisa!" Hinata menjawab cepat. "Jadi persiapkan dirimu."
Shion geram. "Dia suamiku!" teriaknya tertahan.
Wajah Hinata berubah, menunjukkan ekspresi terkejut yang begitu disengaja. "Benar! Kalian sudah menikah." Dia tertawa dua detik sebelum mengubah wajahnya menjadi dingin dalam sekejap.
Pandangannya tajam langsung menusuk ke netra yang hampir mirip dengannya.
Membuat Shion tersentak diam.
"Jangan membuatku tertawa." Hinata berucap dingin. "Itu tidak lucu."
Tanpa menunggu adanya tanggapan lain, wanita Hyuuga itu berbalik dan melangkah pergi. Meninggalkan Shion yang semakin diam menahan emosi.
To be continued
.
.
Salam, Rameen.
