Previous chap:
Hujan semakin berat. Alucard menyesali keputusannya meninggalkan smartphone miliknya di rumah. Dan lagi, tak ada orang yang melihat mereka bahkan sepintas pun.
Di tengah semi kesadaran Harith, ia mencermati wajah Alucard yang bersusah payah menolong dirinya. Bibir Harith gemetar, ingin mengucapkan terimakasih. Tapi tak lama kemudian ia kembali tak sadarkan diri.
Mobile Legends Bang Bang (c) Moonton
WARNING!
YAOI, OOC yang keterlaluan, AU, LEMON, Typo(s)
Hanya untuk kaum FUJODANSHI, Don't Like? Don't Read.
"Uh..." Harith perlahan membuka mata. Sebilas cahaya matahari yang menerobos masuk ruangan menyilaukan pandangannya, tetapi dia mendengar dengan jelas seseorang menyebut namanya.
"Harith, syukurlah. Aku sangat khawatir. Kau butuh sesuatu?" Zilong menghampiri Harith yang masih mengumpulkan seluruh kesadarannya.
Mata Harith nenyapu ke segala arah dan sedikit tertegun mendengar irama elektrokadiagram. Harith yakin satu hal, sebuah keajaiban bahwa dia masih hidup.
Zilong mengusap kepala Harith selembut mungkin. Mimik mukanya tidak bercanda tentang kekhawatiran yang ia sematkan pada Harith. "Harith, kau butuh sesuatu?" Zilong mengulang pertanyaannya.
Harith menatap Zilong tak berdaya. "Ya, air mineral..." ucap Harith lirih.
Zilong bergegas mengambil sebotol air mineral yang sudah ia siapkan dalam ranselnya. Sementara Harith masih memandang sekeliling, berharap ada sosok pemuda yang telah menyelamatkannya dalam ruang itu.
Zilong membantu Harith duduk dengan hati-hati. Ia membuka botol mineral itu lalu mengulurkan pada Harith. "Minumlah, pelan-pelan." Zilong memegang botol air mineral dan mengarahkan ke mulut Harith.
Seperkian detik Harith menegak air mineral itu memuaskan dahaganya. Belum pernah sekalipun Harith merasa begitu haus seperti saat ini.
"Aku sudah menghubungi polisi. Mereka akan datang meminta keterangan. Apa kau tidak apa-apa?" Zilong duduk di sisi kasur Harith.
Harith mengangguk.
"Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan memanggil dokter." baru saja Zilong hendak beranjak, Harith menarik ujung bajunya.
"Dimana... dia?" Zilong langsung tahu siapa yang Harith maksud.
"Pemuda itu... dia pergi sesaat aku tiba. Tapi, tenang saja! Aku akan mencari tahu lebih detil tentangnya. Sekarang, kau harus memikirkan keadaanmu dulu. Setelah itu, kita akan mencarinya bersama. Setuju?" Zilong menuntun tubuh Harith kembali berbaring. Harith hanya melenguh.
Zilong membenahi selimut Harith sebelum ia pergi menelusuri koridor rumah sakit. Dahinya mengernyit mengingat selintas pertemuannya dengan pemuda surai pirang itu.
11.45 PM, malam itu.
Zilong lari tergopoh-gopoh menuju ruang ICU Harith. Tidak peduli dengan tatapan para staff rumah sakit karena kegaduhannya. Yang ia peduli sekarang adalah Harith. Seorang pemuda berambut pirang tengah duduk di ruang tunggu ICU. Pemuda itu tertunduk dan sebuah handuk kecil bertengger di kepalanya. Hanya ada pemuda itu disana, sendiri.
Zilong yakin pemuda itu yang telah menolong Harith, seperti yang dikatakan staff rumah sakit. Zilong berdiri di hadapan pemuda itu lalu membungkuk. "Terimakasih, Anda telah menyelamatkan Harith!"
Pemuda itu hanya mengangguk kemudian bangkit dari duduknya. Zilong dapat melihat noda darah Harith yang di pakaian pemuda itu. "Tunggu sebentar, Tuan." Zilong menyentuh pundak si pemuda. 'Bajunya juga masih basah, bagaimana mungkin dia tidak peduli tentang dirinya sekarang?'
"Baju Anda kotor dan Anda bisa jatuh sakit jika memakai baju basah terlalu lama. Lagipula, di luar masih hujan. Biarkan kami mengganti baju Anda lalu mengantar Anda pulang." Zilong buru-buru membuka ranselnya.
"Tidak apa-apa. Rumahku ada di sekitaran sini." pemuda itu segera melanjutkan langkahnya, namun Zilong menahannya lagi.
"Ah, Tuan! Kalau begitu, izinkan kami untuk mengetahui nama Anda. Sungguh tidak sopan bagi kami bila mengabaikan nama orang baik seperti Anda!" seruan Zilong cukup menghentikan pemuda itu sebentar.
"Namaku Alucard."
Pemuda itupun melengos pergi begitu saja. Meninggalkan Zilong yang menatapnya berjalan dengan lunglai.
"Muda-mudi di zaman ini cukup aneh, tapi kuakui pemuda itu cukup membuatku terkesima." ucap Zilong.
Gusion terdiam di kelas saat jam istirahat. Alucard tidak masuk hari ini. Aneh, biasanya Alucard selalu mengabarinya. Namun mengingat kejadian tadi malam membuatnya kembali gundah.
Satu hari di sekolah tanpa seorang Alucard cukup membosankan, jika boleh berkata jujur, itu yang dirasakan Gusion. Dia merasa lega kegiatan sekolah hari ini baik-baik saja. Tapi dia cemas pada hal lain. Alucard.
"Butuh tumpangan?" decitan lagam sepeda motor berhenti di samping Gusion.
Gusion terhenyak. "Chou?"
Chou melepas kaca mata hitamnya. "Naiklah!" ibu jari Chou menunjuk ke belakang.
Gusion mengiyakan tanpa bertanya-tanya dalam hati mengapa belakangan ini dia sering tak sengaja berjumpa dengan Chou karena isi kepalanya hanya ada Alucard. Ya, Alucard yang dia katakan benci.
Di perjalanan, Gusion tak mengucapkan sepata kata pun. Chou berinisiatif mengarahkan spion motornya mengarah Gusion. Alisnya terangkat.
"Aneh rasanya melihatmu pulang sekolah seorang diri. Dimana si Bodoh Pirang itu? Biasanya dia selalu jadi ekormu kemanapun kau pergi." Chou memecah keheningan.
Gusion mengulum bibir. "Dia... tidak ada hari ini."
Chou melihat wajah Gusion menjadi lebih murung dari semalam. Berarti masalah mereka belum juga selesai.
"Wah, itu aneh. Tak biasanya dia melewatkan kesempatan bersamamu," Chou berniat untuk bercanda, namun lagi-lagi saat ia melihat Gusion, Gusion semakin murung. 'Wah, wah... sepertinya aku salah bicara.' Chou mendapat sebuah ide.
"Baiklah, sudah sampai!" Chou menghentikan sepeda motornya.
"Ta-tapi ini... rumah Alucard." timpal Gusion.
"Eh? Kupikir kau mau berkunjung rumahnya karena saat kau jalan tadi, kau mengarah ke rumah Alucard." Chou memanipulasi pikiran Gusion yang sedang kacau.
"Benarkah?" Gusion semakin bingung.
"Jadi kau ingin pulang saja? Baiklah, akan aku antar." Chou menyalakan motornya kembali.
"Baiklah, sudah sampai disini. Ada baiknya jika aku menemuinya." Gusion berkata dengan cepat.
Senang karena ide manipulatifnya berhasil, Chou tersenyum sumringah. "Baiklah, mau kutunggu?" tawar Chou. Gusion menggeleng.
"Tidak usah. Mungkin aku sedikit lama, pasti ada hal lain yang harus kau lakukan," Gusion turun dari motor, "Terimakasih, Chou." Gusion melambaikan tangan.
Chou hanya memberikan salam dua jari pada Gusion lalu mengendarai sepeda motornya menjauhi orang yang ia cintai memperjuangkan cintanya pada orang lain.
"Haha, aku sangat menyedihkan." gumam Chou.
Kembali pada Gusion yang termenung di gerbang kediaman Alucard. Terus saja ada keraguan dalam dirinya. Bisa dikatakan, ini kali pertama perasaan Gusion memenangkan egonya. Tanpa dia sadari, tangannya sudah menekan bel. Bahkan Gusion sendiri kaget. Tak perlu waktu yang terbuang sia-sia karena memerangi diri sendiri, seseorang datang membuka gerbang.
"Ah, Tigreal-san!" Gusion langsung menyapa ketika dia sadar ada di hadapannya sekarang adalah ayah Alucard.
"Oh, Gusion-kun. Ayo, silahkan masuk. Alucard sedang di kamarnya. Dia demam." Tigreal menyambut kedatangan Gusion dengan hangat.
'Dia demam?' benak Gusion bertanya-tanya.
Setelah Tigreal meminta Natalia membuat teh dan kudapan untuk Gusion, pria itu menuntun Gusion ke kamar Alucard.
"Tadi malam dia pulang kehujanan dengan baju yang bernoda darah. Awalnya kami pikir dia habis berkelahi dengan sekumpulan orang. Saat kami ingin bertanya, dia jatuh pingsan. Syukurlah, tidak ada luka memar di badannya." Tigreal menjelaskan apa yang terjadi pada pemuda surai coklat yang berjapan di belakangnya.
Gusion hanya menyimak penjelasan Tigreal.
'Apa yang aku pikirkan? Aku pikir dia pergi dengan beberapa orang gadis tadi malam.' Gusion seakan ingin menghantam kepalanya sendiri sebab telah berprasangka buruk terhadap Alucard.
Tigreal membuka pintu kamar Alucard. Nampaklah seorang yang membuat darah Gusion berdesir terkulai lemas di depannya.
"Masuklah, nak. Dia hanya bangun sebentar tadi." Tigreal mempersilahkan Gusion.
Gusion mendekati Alucard yang sedang tertidur. Deru napas Alucard terdengar berat. Sama halnya dengan sesak di dada Gusion.
"Aku pamit sebentar," Tigreal membiarkan sejoli itu hanyut dalam perasaan kalut.
Gusion tahu tidur Alucard nampak tak nyenyak. Dia begitu merasa bersalah.
"Alucard, ini aku. Aku... aku minta maaf," suara Gusion menjadi parau. Belum sempat Gusion melanjutkan permohonan maafnya, Natalia datang membawa nampan teh dan cemilan untuk Gusion.
Natalia meletakkan nampan itu di samping Gusion. "Alucard sangat memprihatinkan tadi malam. Untunglah, dokter keluarga kami dapat menanganinya dengan cepat." Natalia mengecek suhu badan Alucard.
"Sion-kun, tolong temani Alucard sebentar, ya."
Gusion tersenyum lalu mengangguk.
Kini, mereka benar-benar berdua. Gusion dan Alucard. Cukup lama Gusion memperhatikan wajah Alucard yang memerah karena demam tinggi. Gusion merasa seperti sesuatu yang mengganjal di kerongkongannya. Dia menyentuh dahi Alucard kemudian mendekatkan wajahnya hingga ujung hidung mereka bersentuhan. Gusion menatap Alucard dalam-dalam.
"Pain, pain, go away..." Gusion mulai bersenandung. Irama melodi ajaib yang dulu mereka yakini dapat menghilangkan rasa sakit, Gusion tak percaya dia menyanyikan lagu itu lagi. Dalam benaknya muncul Alucard kecil tertawa riang setelah dia menyanyikan lagu itu untuknya.
Gusion tidak tahu tangan Alucard meraih kepalanya. Menariknya ke dalam kecupan syahdu. Gusion terhenyak beberapa saat, sampai akhirnya dia menerima sentuhan lidah Alucard yang menggerayangi mulutnya.
Tangan Gusion mencengkram bahu Alucard tatkala surai pirang itu menggerayangi leher jenjangnya. Alucard memutar balik posisi mereka. Sekarang, Gusion terkunci di antara dua lengan kekar Alucard. Gusion menatap wajah Alucard yang sendu. Surai pirang itu terengah-engah dengan wajah yang merah. Bulir-bulir keringat menggantung di ujung rambut Alucard.
Tak perlu banyak kata yang terucap, Gusion memahami setiap perkataan Alucard dari sorot mata biru safir itu. Gusion mengalungkan tangannya ke pundak Alucard lalu menyilari setiap inci bibir pucat Alucard. Alucard tak mau kalah. Ia menggigit bibir Gusion dengan gemas sampai si surai coklat mengerang pelan.
Dua pemuda yang digelora asmara sedang terhanyut gairah. Alucard menanggalkan kancing-kancing seragam Gusion lalu menyibakkannya sembarang arah. Terlihat puting Gusion yang menggiurkan birahi Alucard.
Gusion tak tinggal diam. Dia membelai tubuh kekar Alucard yang didambakan para gadis. Menelusuri sela-sela lekukan otot abdominis milik Alucard yang merangsang panca indera.
"Ah..." Gusion menahan suaranya ketika putingnya dilumat Alucard.
Alucard meraih tangan Gusion, mengarahkan pada kejantanannya yang sudah mengeras sedari tadi. Gusion telah kehilangan akal. Dia melakukan apa yang inginkan Alucard. Tangan Gusion menyelip ke dalam celana piyama Alucard, menyentuh benda diantara pangkal paha Alucard. Alucard meleguh sementara lidahnya terus menari di puting Gusion.
Gusion menggerakkan tangannya naik-turun. Alucard semakin terangsang. Ia menggigit dada bidang Gusion lalu mengecapnya hingga muncul tanda kemerahan disana. Gusion berusaha agar tidak bersuara. Kepalanya mengadah sambil memejamkan mata. Tangannya terkepal upaya menutup mulutnya, dia dimabuk sensasi cumbuan Alucard.
Alucard menjilati Gusion dari atas ke bawah. Sampailah matanya tertuju pada gundukkan Gusion. Alucard melucuti celana Gusion. Ia menatap kagum kejantanan Gusion tegak berdiri Alucard mengulum benda keras itu, semakin bergejolak hasratnya untuk menyeret pemuda surai coklat ke surga duniawi.
"Jangan... itu kotor..." Gusion berbisik.
Alucard menghiraukan Gusion. Lidahnya memijit kejantannya Gusion. Menghisap benda keras itu lebih dalam. Gusion menggigit tangannya sendiri tak kuasa menahan sensasi nikmat yang diberikan Alucard. Alucard melirik tubuh Gusion yang mengejang. Jemari dibasahi saliva lalu menggenggam kejantanan Gusion.
"Uh... ah... ngh!" lantunan desah Gusion menambah gairah Alucard. Seakan menstimulasi Gusion lebih jauh dalam rangsangannya. Alucard menggoyangkan kejantanan Gusion. Sesekali ia mengulum testis Gusion.
"Alu... ah!" Gusion mengerutkan dahi saat dia menyadari jari-jari Alucard pindah ke bokongnya. Gusion belum sempat untuk protes, Alucard sudah menanamkan jari-jarinya ke dalam lubang birahi.
Alucard membekap Gusion. "Sssh..."
Alucard memutar-mutar jarinya dalam lubang senggama itu seolah sebuah drill yang membuat lubang di tanah. Gusion meremas rambut Alucard. Dia tidak tahu lagi bagaimana Alucard bisa menyeretnya dalam hasrat yang membara.
Alucard menghentikan permainannya, ada sedikit rasa kecewa dalam Gusion karena merasa tanggung. Alucard mengeluarkan penisnya, menuju bokong Gusion yang sudah basah.
Kejantanan Alucard mengitari lubang Gusion, mempermainkan kesabaran si surai coklat. Sedetik Alucard menekan kepala kejantanannya, Gusion melenguh. Ia terdiam beberapa saat melihat Gusion. Gusion membalas tatapan safir biru seakan bertanya apa yang ia tunggu.
Namun Alucard tak ingin memberikan kepuasan cuma-cuma. Ia meraih dagu Gusion. "Siapa aku bagimu?"
Gusion menelan ludah. Kenapa di saat seperti ia bertanya begitu? Wajah Gusion memerah. Bukankah sudah jelas bagi Alucard? Dia tak akan membiarkan Alucard menikmati tubuhnya jikalau memang sosok surai pirang itu tak berarti bagi Gusion.
Alucard mengecup bibir Gusion. Lebih lembut dari yang tadi. Kamudian ia memandang Gusion dengan nanar dan mengulang pertanyaan yang sama, "Siapa aku bagimu?"
Tangan Gusion begetar mencoba mendekap Alucard. Matanya berkaca-kaca. Wajahnya merona. Dia menganga, "Kau... kekasihku."
Alucard tersenyum sembari berlinangan air mata. Ia meraih tangan Gusion lalu mengecupnya.
"Aku mencintaimu, Gusion. Sungguh... sangat mencintaimu," Alucard mengusap kepala Gusion.
Gusion terbawa suasana. Dia tak lagi mampu membohongi hati. Gusion langsung memeluk erat Alucard dengan segenap jiwa. "Aku juga... aku juga mencintaimu, Alucard."
Alucard bahagia. Ia membalas dekapan hangat sang kekasih. Perlahan ia memulai kembali permainan ranjang yang mereka mulai. Dengan sangat hati-hati, Alucard memasukkan penisnya ke dalam anus Gusion. Setiap dorongan yang menerobos masuk ke dalam lubangnya, Gusion semakin erat memeluk Alucard.
"Sebut namaku, sebut namaku, Gusion..." bisikan Alucard menggelitik bulu roma Gusion.
"Alu... uh... Alu..." Gusion menghayati gempuran Alucard yang menggesek dinding-dinding senggamanya.
Deru napas mereka saling menyahut, Gusion menggelinjang nikmat begitu kejantannya juga dimanjakan oleh tangan Alucard. Alucard ingin segalanya terasa lebih lama. Dengan ritme pelan dan gerakan maju mundur yang sensasional, ia mampu meruntuhkan imej Gusion yang dingin menjadi seseorang pecandu bara asmara seperti dirinya.
Alucard sangat menyukai wajah Gusion yang bersemu merah. Bahkan saking nikmatnya, Gusion seperti ingin menangis.
"Ah! Ah! Ah! Alu... aku... akan keluar! Ah!" Gusion merenggangkan kakinya ke udara.
"Ngh, aku juga..."
Alucard mempercepat gerakan pinggulnya meskipun ia kesulitan untuk tidak menimbulkan suara berisik. Batas limit Alucard maupun Gusion sudah diambang-ambang. Alucard menghentakkan kejantannya sebelum mereka berdua terbang melayang ke langit ketujuh.
"Aaah!"
"Ngh!"
Alucard membenamkan cairan benih lebih dalam di rongga senggama itu sementara cairan milik Gusion menyembur ke wajah Alucard. Gusion panik, "Alu, maaf. Tidak sengaja." Gusion hendak mengelap cairan benih miliknya, namun segera berhenti ketika dia melihat Alucard menyeka cairan kental itu lalu menjilat setiap jarinya.
Slurp...
Wajah Gusion mendidih. Terlepas dari rasa senang yang tersembunyi, dia merasa malu. Gusion mengambil bantal kemudian melempar sekuat tenaga ke kepala Gusion.
"Si bodoh!" teriak Gusion yang diiringi gelak tawa Alucard.
Mereka sibuk dimabuk cinta tanpa menyadari Natalia yang tertegun di balik ambang pintu kamar Alucard. Tangannya mengatup seakan rahangnya akan jatuh. Matanya terbelalak menahan tangis. Tak percaya dengan apa yang ditemukannya. Tanpa sengaja ia mengetahui segalanya. Sebagai seorang ibu, Natalia sangat terguncang. Hatinya begitu hancur sekaligus kecewa. Ia berdiri mematung. Berharap yang terjadi barusan hanya sebuah mimpi.
"Tidak mungkin... anakku..."
to be continued...
Hai, Kyu disini. Ehem, akhirnya setelah setahun chapter 7 publish juga, hahaha :'D
Entahlah, kalau dilihat dari prosesnya bisa jadi tamatnya 10-15 tahun kemudian? :'D
RnR, please?
